By Kurnia · Published September 30, 2026 · Revised October 29, 2026 · Version 3 · 24 min read
Susut tegangan: rumus, batas, dan contoh
Bab ini menjelaskan penyebab susut tegangan pada kabel, rumus satu fasa dan tiga fasa menurut PUIL 2020 Bagian 5-52 Lampiran G, dan dua acuan batasnya: 4 % normatif di Bagian 2, 2.2.3.1, dan Tabel G.52.1 yang informatif. Susut saat asut motor dipisahkan dari batas 4 %, lalu dibedakan akibatnya pada torsi motor dan pada kontaktor yang terpasang di PHB. Contoh kerja menghitung kabel 60 m ke pompa 5,5 kW dalam kondisi jalan dan kondisi asut. Rumus sistem berumbung busbar hanya menjadi pembanding, dan semua angka contoh adalah ilustrasi. Catatan tambahan membedakan batas itu dari 5 % SNI 03-3985-2000 untuk kabel alarm kebakaran, yang diukur dari panel ke titik terjauh.
This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.
Di ruang produksi laundry komersial pada jam sibuk, mesin cuci besar baru dinyalakan, pompa air bekerja penuh, dan setrika uap aktif bersamaan. Kontaktor penggerak motor bergetar, lampu di sudut ruangan meredup, dan mesin cuci tidak mau berputar penuh, padahal setelah diperiksa motor dan kontaktornya dalam kondisi baik. Akar masalahnya adalah tegangan yang sampai di ujung instalasi sudah terlalu rendah. Susut tegangan (voltage drop; istilah PUIL 2020: drop voltase) adalah penurunan tegangan di sepanjang konduktor ketika arus beban mengalir melalui resistansi dan reaktansinya, dan ia sering luput dari pemeriksaan rutin.
Batas pembahasan
Bab ini membahas instalasi tegangan rendah 230/400 V, 50 Hz, dengan kabel tembaga berisolasi, dari terminal pelanggan dan papan hubung bagi (PHB; PUIL 2020 juga memakai istilah PSDK) utama sampai peralatan akhir. Kemampuan hantar arus di Bab 27 menjaga kabel tidak terlalu panas sehingga isolasi tidak rusak, sedangkan bab ini memastikan tegangan di peralatan cukup agar peralatan bekerja sebagaimana dirancang; keduanya harus dipenuhi bersamaan, dan lolos satu syarat tidak berarti lolos syarat lainnya. Jaringan tegangan menengah dan transformator distribusi di luar cakupan; mutu tegangan dari operator jaringan ada di Bab 13 tentang sistem suplai tegangan rendah, susut pada sumber saat asut, termasuk genset, di Bab 53 tentang metode pengasutan motor, dan rumus sistem berumbung busbar (SBB, busway) PUIL 2020 Bagian 5-513 hanya pembanding. Angka pada contoh dan latihan adalah ilustrasi.
Penyebab susut tegangan
Arus yang mengalir melalui resistansi dan reaktansi konduktor menurunkan tegangan di sepanjangnya menurut hukum Ohm yang diperluas untuk arus bolak-balik (Bab 6 tentang daya AC). Reaktansi induktif timbul dari fluks magnet berubah-ubah di antara konduktor pergi dan pulang, yang menginduksi gaya gerak listrik lawan; pada penampang kecil resistansi jauh lebih dominan, tetapi pada penampang besar reaktansi tidak dapat diabaikan.
Pada 70 °C, suhu kerja kabel berisolasi PVC, resistansi tembaga sekitar 20 % lebih besar daripada pada 20 °C. Resistivitas layanan normal (resistivity in normal service) adalah resistivitas konduktor yang bekerja menurut PUIL 2020 Bagian 5-52 Lampiran G, yaitu 1,25 kali resistivitas pada 20 °C: 0,0225 Ω·mm²/m untuk tembaga dan 0,036 Ω·mm²/m untuk aluminium.
Reaktansi bergantung pada frekuensi, geometri pemasangan, dan jarak antarkonduktor; Lampiran G memakai 0,08 mΩ/m bila tidak ada data lain. Karena impedansi kabel adalah kombinasi fasor resistansi dan reaktansi (Bab 5 tentang reaktansi dan impedansi), susut ditentukan komponen arus sefase dikali resistansi ditambah komponen tergeser 90° dikali reaktansi, bukan besar arus dikali resistansi. Motor pompa dan penggerak drum di laundry umumnya berfaktor daya sekitar 0,75 sampai 0,90 saat jalan dan sekitar 0,3 sampai 0,4 saat asut; nilai pastinya dibaca dari lembar data motor.
Rumus susut tegangan
PUIL 2020 Bagian 5-52 Ayat 525 merujuk ke Tabel G.52.1, dan Lampiran G (informatif) memberi rumus yang memuat resistansi, reaktansi, arus, panjang, dan faktor daya:
dengan susut tegangan (V), susut relatif (%), koefisien rangkaian, resistivitas layanan normal (Ω·mm²/m), panjang sebenarnya jalur kabel satu arah (m), luas penampang konduktor (mm²), reaktansi per meter satu konduktor (Ω/m; PUIL menulisnya , bukan faktor daya), arus desain (A), dan tegangan fasa-netral (230 V). Suku adalah resistansi per meter satu konduktor, , bukan resistansi total kabel bolak-balik; nilainya juga dapat dibaca dari tabel pabrikan kabel, asalkan pada suhu kerja konduktor, bukan resistansi DC 20 °C. Bila rincian beban tidak diketahui, Lampiran G mengambil ().
Pada sistem satu fasa 230 V, , karena arus pergi melalui konduktor fasa dan kembali melalui netral dengan besar yang sama; sirkit tiga fasa yang bebannya sepenuhnya satu fasa dihitung sebagai satu fasa. Pada sistem tiga fasa 400 V berbeban seimbang, , karena arus netral nol dan susut per fasa hanya terjadi pada konduktor fasa, dihitung terhadap . Susut antarfasa adalah kali susut fasa-netral (Bab 8 tentang sistem tiga fasa), sehingga bentuk buku teks
dibagi 400 V memberi persentase yang sama dengan bentuk PUIL dibagi 230 V, untuk beban seimbang pada 50 Hz.
Rumus ini adalah pendekatan komponen memanjang yang mengabaikan komponen susut tegak lurus terhadap tegangan. Pendekatan ini teliti bila susutnya kecil, seperti pada kondisi jalan; saat asut, faktor daya rendah dan kabel yang resistif membuat susut sebenarnya sedikit lebih besar (Contoh 2). Persentase hasil rumus inilah yang dibandingkan dengan batas PUIL 2020.
Untuk SBB, PUIL 2020 Bagian 5-513 Lampiran C.5130 (informatif) memberi bentuk antarfasa , dengan dan rerata per meter dari pabrikan dan faktor distribusi beban bernilai 1 untuk beban di ujung jalur atau untuk beban merata di cabang.
Batas PUIL 2020 dan tabel informatif G.52.1
PUIL 2020 memuat dua acuan. Pertama, Bagian 2, 2.2.3.1, menyatakan bahwa susut tegangan antara terminal pelanggan dan sembarang titik instalasi tidak boleh melebihi 4 % dari tegangan pengenal di terminal pelanggan; kata "tidak boleh" menjadikannya persyaratan normatif yang harus dipenuhi perancang. Arus hitungnya kebutuhan maksimum menurut 2.3.1 untuk sirkit utama dan cabang dan menurut 2.3.5 untuk sirkit akhir, yang tidak perlu melebihi beban tersambung atau arus pengenal gawai proteksinya, seperti dirinci di Bab 19 tentang perencanaan instalasi. Ketentuan itu berlaku untuk arus kontinu dan secara eksplisit tidak untuk start motor, penutupan solenoid, dan operasi lain berarus transien tinggi. Untuk instalasi rumah, susut sirkit akhir yang jalurnya tidak lebih dari 25 m boleh diabaikan, dan sirkit yang lebih panjang dihitung dengan 50 % arus pengenal gawai proteksinya. Batas 4 % ini menggantikan 5 % PUIL 2000, yang tidak dipakai lagi (Bab 3 tentang membaca norma kelistrikan).
| Acuan | Penerangan | Penggunaan lain | Sifat |
|---|---|---|---|
| Bagian 2, 2.2.3.1: dari terminal pelanggan ke sembarang titik | 4 % | 4 % | Normatif |
| Tabel G.52.1 jenis A: disuplai langsung dari jaringan tegangan rendah publik | 3 % | 5 % | Informatif |
| Tabel G.52.1 jenis B: disuplai dari suplai tegangan rendah privat | 6 % | 8 % | Informatif |
Kedua, Tabel G.52.1 informatif: Ayat 525 hanya menyatakan bahwa susut antara awal instalasi dan peralatan sebaiknya tidak lebih besar dari nilai tabel itu, bila tidak ada pertimbangan lain. Nilainya susut total dari awal instalasi sampai titik beban menurut jenis suplai, jaringan publik (misalnya PLN) atau suplai privat. Catatan tabel menganjurkan agar susut sirkit akhir instalasi jenis B sedapat mungkin tidak melebihi nilai jenis A, dan bila perkawatan utama lebih panjang dari 100 m, nilai tabel boleh ditambah 0,005 % per meter di atas 100 m, paling banyak 0,5 %. Bagian 5-52 sendiri diadopsi dari IEC 60364-5-52, yang memuat lampiran padanannya.
Kedua acuan ini sering dicampur di lapangan: 4 % adalah batas yang tidak boleh dilampaui dalam desain untuk semua jenis beban, sedangkan Tabel G.52.1 adalah anjuran yang hanya berguna bila lebih ketat, yaitu 3 % untuk penerangan dan anjuran sirkit akhir pada instalasi jenis B. Angka 5 % dan 8 % tidak dapat dipakai untuk melonggarkan 4 %. Dalam praktik, anggaran 4 % dibagi antara kabel utama ke PHB cabang dan kabel akhir dari PHB cabang ke peralatan, sehingga akumulasi seluruh rantai tidak melebihi 4 %.
Kabel sistem deteksi dan alarm kebakaran memakai batas dan titik ukur lain. SNI 03-3985-2000 pasal 12.2.7.9 meminta penampang kabel dipilih sehingga pada beban kerja maksimum susut tegangan di titik terjauh dari panel kontrol tidak lebih dari 5 %, seperti diuraikan di Bab 21 · Bangunan & Fasilitas tentang rangkaian dan perkabelan alarm kebakaran. Lingkupnya kabel yang dicatu panel, misalnya sirkit sounder 24 V DC (Contoh 6), sedangkan kabel 230 V pencatu panel tetap diperiksa terhadap 4 % dari terminal pelanggan, sehingga kedua angka tidak saling membatalkan dan tidak satu pun dipakai untuk melonggarkan yang lain; Bab 21 · Bangunan & Fasilitas menambahkan batas pabrik bila lebih ketat. SNI itu masih merujuk PUIL 2000, sehingga status pasalnya terhadap PUIL 2020 belum dapat dipastikan.
Susut tegangan saat asut motor dan dampaknya
Asut adalah kondisi susut paling berat. Pada asut langsung (direct-on-line, DOL), arus asut umumnya sekitar 4 sampai 8 kali arus pengenal, bergantung pada jenis dan ukuran motor, dan nilainya dibaca dari lembar data (Bab 40 tentang motor induksi tiga fasa); dengan faktor daya asut yang rendah, susutnya jauh lebih besar daripada saat operasi normal. Karena itulah 2.2.3.1 mengecualikan start motor dari batas 4 %, dan catatan Ayat 525 serta Tabel G.52.1 menerima susut yang lebih besar selama start asalkan variasi tegangan tetap di dalam batas standar peralatan yang bersangkutan.
Susut di kabel motor, antara PHB dan terminal motor, hanya dirasakan motor itu, sedangkan susut di sumber dan kabel hulu sampai PHB dirasakan semua beban di PHB itu, termasuk kontaktor; susut sumber, termasuk genset, dihitung dari perbandingan impedansi motor saat asut dengan impedansi sumber (Bab 53).
Kontaktor harus menutup pada 85 sampai 110 % tegangan kendali pengenal, dan kontaktor yang sudah menutup baru melepas di suatu titik antara 75 % dan 20 % tegangan pengenal koil AC (Bab 5 tentang reaktansi dan impedansi). Jika tegangan koil saat asut turun di bawah 85 %, penarikan tidak dijamin: gerak jangkar dapat tidak tuntas atau kontaktor bergetar (chattering), dan setiap buka-tutup yang tidak sempurna menimbulkan busur api kecil yang bertahap merusak permukaan kontak dan memperpendek umur kontaktor. Kontaktor biasanya terpasang di PHB dengan koil dari sirkit kendali PHB itu, sehingga tegangan koilnya ditentukan susut sumber dan kabel hulu, bukan susut kabel motor. Bab ini, seperti Bab 53, memakai kriteria tegangan koil tidak turun di bawah 85 % selama arus asut mengalir, dan getaran kontaktor yang sudah menutup menandakan susut yang dalam, di bawah 75 %. Susut pada kabel kendali yang panjang menambah penurunan ini (Bab 51 tentang logika kendali dasar).
Seluruh kurva torsi motor induksi sebanding dengan kuadrat tegangan di terminal motor (Bab 43 tentang memilih motor untuk beban): tegangan yang turun 10 % membuat torsi pada setiap kecepatan kali torsi pada tegangan pengenal. Waktu asut memanjang dan motor dapat gagal mencapai putaran penuh, terutama pada beban bertorsi tetap atau bertorsi lepas diam tinggi seperti drum mesin cuci penuh muatan; pompa sentrifugal, yang torsinya naik kira-kira dengan kuadrat kecepatan, umumnya lebih mudah diasut walaupun waktu asutnya ikut memanjang. Motor yang gagal mencapai putaran penuh terus menarik arus mendekati arus asut, sehingga belitannya panas berlebih dan, bila berlangsung cukup lama tanpa proteksi beban lebih yang memadai, isolasinya dapat rusak permanen. Karena itu waktu asut dan proteksi termal dihitung bersama susut tegangan, seperti di Bab 43 dan Bab 47 tentang proteksi motor.
Cara menurunkan susut tegangan
Cara berikut paling baik digabung pada tahap perencanaan, karena perubahan setelah instalasi terpasang jauh lebih mahal dan rumit. PUIL 2020 Bagian 8-1 (efisiensi energi) menganjurkan sumber dan panel dekat pusat berat beban serta rute kabel yang optimal untuk mengurangi rugi energi, yang juga menghindari pembesaran kabel hanya demi batas susut tegangan.
Perbesar penampang kabel. Resistansi per meter berbanding terbalik dengan luas penampang: kabel tembaga 4 mm² beresistansi kali kabel 2,5 mm². Reaktansi hampir tidak berubah dengan penampang, sehingga pada penampang besar manfaat tiap kenaikan ukuran makin kecil, sedangkan biaya, berat, serta ukuran terminal dan gland ikut naik.
Dekatkan PHB ke beban. Karena berpangkat satu, memotong panjang sebuah ruas setengahnya memotong susut ruas itu setengahnya. Penyulang ke PHB baru tetap bersusut, tetapi karena penampangnya besar dan arusnya dipakai bersama, susut totalnya biasanya lebih kecil daripada banyak kabel akhir yang panjang, dan untuk instalasi skala menengah ini sering solusi paling efisien biaya.
Bagi sirkit secara tepat. Beban besar di sirkit tersendiri tidak mengalirkan arusnya di kabel beban lain, dan sirkit motor yang terpisah dari penerangan mengurangi kedipan lampu saat motor diasut, karena kedipan itu susut pada impedansi bersama. Susut di sumber atau kabel hulu bersama tidak hilang dengan pemisahan sirkit dan ditangani dengan metode asut (Bab 53).
Kapasitor bank mengurangi komponen reaktif arus di hulu titik pemasangannya, tetapi komponen aktifnya tetap karena daya aktif beban tetap; pada kabel berpenampang kecil, yang susutnya ditentukan terutama komponen aktif pada resistansi, perbaikan faktor daya hampir tidak mengubah susut, dan penurunan nyata hanya terjadi pada jalur yang reaktansinya besar, seperti trafo atau kabel besar yang panjang (Bab 6; perancangan kapasitor bank di Bab 7 tentang perbaikan faktor daya). Pemilihan antara memperbesar kabel dan memindahkan PHB mempertimbangkan biaya total: untuk sekelompok beban yang jauh, memindahkan PHB sering lebih ekonomis; untuk satu beban, memperbesar penampang satu atau dua ukuran lebih praktis.
Contoh kerja
Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya.
Contoh 1: kabel 60 m ke pompa 5,5 kW tiga fasa pada kondisi jalan. Motor pompa -M1 tiga fasa 5,5 kW, 400 V, efisiensi 90 %, faktor daya jalan 0,84 dan asut 0,35, arus asut 7 kali arus pengenal, diasut langsung oleh kontaktor -Q1 di PHB area cuci melalui kabel -W1 tembaga berisolasi PVC mm² sepanjang 60 m, dengan mΩ/m dan mΩ/m dari Lampiran G. Susut dari terminal pelanggan sampai PHB pada arus kebutuhan maksimum sudah dihitung 1,2 %. Arus desainnya adalah arus pengenal motor, dari daya masukan W:
Untuk kondisi jalan, yang dibatasi 2.2.3.1, dan suku dalam kurung Ω/m; dengan :
Total dari terminal pelanggan %, di bawah 4 % normatif dan 5 % Tabel G.52.1, sehingga kabel 4 mm² memenuhi syarat susut untuk operasi normal; KHA diperiksa terpisah menurut Bab 27.
Contoh 2: pompa yang sama saat diasut. Arus asut A; untuk faktor daya 0,35, dan suku dalam kurung Ω/m:
Hitungan fasor penuh memberi sedikit lebih besar karena komponen tegak lurus cukup besar saat asut: 10,2 V (4,4 %) dengan arus asut tetap, atau 9,7 V (4,2 %) dengan motor sebagai impedansi tetap seperti di Bab 53. Terminal motor menerima sekitar 96 % tegangan PHB, sehingga torsi asutnya sekitar kali torsi pada tegangan PHB; dari torsi rotor terkunci tersisa sekitar , jauh di atas kebutuhan pompa sentrifugal saat diam. Susut asut sekitar 4 % ini tidak dinilai terhadap batas 4 %, karena 2.2.3.1 mengecualikan start motor; yang dinilai akibatnya. Susut di -W1 juga tidak mengurangi tegangan koil -Q1 di PHB: penarikan -Q1 dan kontaktor lain ditentukan tegangan PHB saat 73,5 A mengalir melalui sumber dan kabel hulu, dan menurut kriteria bab ini tegangan koil, yaitu tegangan PHB dikurangi susut kabel kendalinya, tidak boleh turun di bawah 85 % tegangan pengenal koil. Penampang tidak perlu dinaikkan; penarikan kontaktor diperiksa dari tegangan PHB, yang datanya tidak tersedia di contoh ini.
Contoh 3: penerangan koridor hotel. Sirkit penerangan koridor hotel yang disuplai jaringan tegangan rendah PLN (jenis A) memikul 8 A pada faktor daya 0,9 di ujung kabel tembaga 2,5 mm² sepanjang 40 m, dengan susut hulu sampai PHB lantai 1,2 %. Dengan dan :
Totalnya 3,46 %: lolos 4 % normatif, tetapi di atas anjuran 3 % untuk penerangan. Kabel 4 mm² memberi 3,26 V atau 1,42 %, total 2,62 %, sehingga anjuran 3 % juga terpenuhi.
Contoh 4: jalur utama panjang di rumah sakit. Rumah sakit bertrafo sendiri (jenis B) mempunyai perkawatan utama 160 m. Catatan Tabel G.52.1 membolehkan tambahan %, di bawah batas 0,5 %, sehingga anjuran penggunaan lain menjadi 8,3 %. Hitungan perancang memberi 4,6 % ke pompa di ujung gedung. Angka 8,3 % tidak menolongnya: batas normatif 2.2.3.1 tetap 4 %, sehingga penampang atau letak PHB diubah.
Contoh 5: kontaktor pompa hotel bergetar. Pompa transfer air hotel diasut langsung oleh kontaktor berkoil 230 V di PHB pompa. Personel kompeten dengan alat berkategori ukur sesuai dan APD mencatat tegangan fasa-netral PHB 228 V sebelum asut dan 192 V selama asut. Terhadap tegangan pengenal koil, %, di bawah kriteria 85 %, sehingga penarikan kontaktor tidak dijamin, sesuai gejala getarnya, sedangkan kontaktor lain yang sudah menutup bertahan karena 83,5 % di atas 75 %. Batas 4 % tidak dipakai di sini, dan memperbesar kabel motor tidak menolong koil; susut sumber dan kabel hulu ditangani lewat metode asut (Bab 53).
Contoh 6: sirkit sounder alarm kebakaran 24 V. Angka sirkit ini berasal dari Bab 21 · Bangunan & Fasilitas tentang rangkaian dan perkabelan alarm kebakaran: sounder berarus total 0,8 A, dianggap terkumpul di ujung, berada 60 m dari panel pada kabel tembaga 1,5 mm². Untuk sirkit DC, rumus satu fasa dipakai dengan dan , dan 5 % dari 24 V hanya 1,2 V:
Kabel 1,5 mm² melampaui 5 % SNI 03-3985-2000, sedangkan kabel 2,5 mm² memberi 0,86 V atau 3,6 %.
Kondisi berhenti
Pengukuran pada instalasi bertegangan hanya dilakukan personel kompeten dengan alat berkategori ukur sesuai dan APD, dan isolasi serta verifikasi bebas tegangan mengikuti Bab 2 · Keselamatan. Hentikan pekerjaan dan serahkan keputusannya kepada personel kompeten yang bertanggung jawab atas instalasi itu jika:
- Susut dari terminal pelanggan ke suatu titik, dihitung pada arus kebutuhan maksimum, melebihi 4 % (2.2.3.1). Penampang, letak PHB, atau pembagian sirkit diubah; angka 5 % dan 8 % Tabel G.52.1 tidak dipakai untuk melonggarkannya.
- Kontaktor bergetar saat motor diasut, tanda tegangan koilnya di bawah 85 %, atau di bawah 75 % bila kontaktor itu sudah menutup. Asut tidak diulang sampai tegangan PHB saat asut diperiksa; susut sumber dan kabel hulu ditangani dengan metode asut (Bab 53), bukan dengan memperbesar kabel motor.
- Motor tidak mencapai putaran penuh saat diasut. Motor itu terus menarik arus mendekati arus asut dan harus diputus relai beban lebih sebelum belitannya rusak (Bab 47).
Salah tafsir yang sering terjadi
Guess what’s wrong first, then open the explanation.
Common misconception
Susut tegangan cukup dihitung dari resistansi kali arus kali panjang.
Why is it wrong?
Keliru, kecuali untuk beban resistif murni. Untuk beban motor dengan dan nilai Lampiran G, hasilnya sekitar 24 % terlalu besar pada kabel 4 mm², hampir tepat pada 95 mm², dan sekitar 24 % terlalu kecil pada 240 mm², sehingga desain kabel besar yang tampak memenuhi syarat dapat ternyata melampaui batas.
Common misconception
Panjang di rumus adalah panjang kabel pergi dan pulang.
Why is it wrong?
Keliru. Faktor 2 rumus satu fasa dan atau pada tiga fasa sudah memuat geometri rangkaian, sehingga panjang bolak-balik menggandakan hasil; sebaliknya, rumus satu fasa tanpa faktor 2 memberi separuh susut sebenarnya.
Common misconception
Batas 4 % juga berlaku saat motor diasut.
Why is it wrong?
Keliru. 2.2.3.1 mengecualikan start motor; saat asut yang diperiksa adalah tegangan di koil kontaktor (minimal 85 % tegangan pengenal koil) dan tegangan di terminal motor untuk torsi asut, di dua tempat yang berbeda.
Common misconception
PUIL 2020 mengizinkan susut 5 % untuk motor.
Why is it wrong?
Keliru. Nilai 5 % berasal dari Tabel G.52.1 yang informatif dan khusus untuk suplai dari jaringan publik; batas normatif yang mengikat tetap 4 %.
Common misconception
Susut tegangan sama dengan toleransi tegangan suplai, jadi diatasi dengan menaikkan tegangan trafo distribusi.
Why is it wrong?
Keliru, walaupun satu buku ajar instalasi menyamakan susut dengan toleransi +10 %/−15 %, memakai rumus tanpa faktor 2 atau dan tanpa faktor daya, dan menyebut kabel panas karena tegangan turun. Toleransi suplai urusan operator jaringan, susut adalah selisih di dalam instalasi yang diatasi di kabel dan tata letak instalasi sendiri, dan panas kabel ditentukan arus dan resistansi.
Hubungan dengan bab lain
Pada sirkit sepanjang beberapa puluh meter atau lebih, syarat susut tegangan sering menentukan penampang, bukan KHA dari Bab 27 tentang kemampuan hantar arus. Kabel suplai mesin laundry diperiksa terhadap keduanya di Bab 73 tentang pemasangan lapangan mesin, dan proteksi kabel di Bab 23 tentang proteksi arus lebih. Ambang kontaktor dipakai lagi di Bab 46 tentang komponen kendali, asut langsung dan bintang-segitiga dirangkai di Bab 52 tentang kontrol motor, pengasut lunak ada di Bab 57 tentang soft starter, dan pengukuran tegangan di dua titik untuk membedakan susut sisi suplai dari susut instalasi ada di Bab 80 tentang diagnosis instalasi.
Latihan dan pembahasan
Try to answer first, then open the worked solution.
Pemanas satu fasa 2.200 W, 230 V, , disuplai kabel tembaga 25 m dengan resistansi 9,18 mΩ/m dan reaktansi 0,08 mΩ/m per konduktor. Hitung susutnya dalam volt dan persen, lalu bandingkan dengan batas PUIL 2020.
See the worked solution
Arus A dan , sehingga komponen reaktif tidak berperan; V, atau %. Sirkit ini sendiri di bawah 4 %, tetapi batas 2.2.3.1 berlaku dari terminal pelanggan, sehingga instalasi memenuhi syarat hanya bila susut hulu sampai PHB pemanas tidak lebih dari %.
Motor tiga fasa 7,5 kW, 400 V, , efisiensi 88 %, disuplai kabel tembaga 6 mm² sepanjang 45 m dengan mΩ/m dan mΩ/m. Hitung arus operasi dan susut relatifnya; apakah memenuhi batas 4 %?
See the worked solution
Daya masukan W, sehingga A. Dengan , suku dalam kurung Ω/m dan V atau 0,90 %; kabel ini jauh di bawah 4 %, tetapi kesimpulan akhirnya bergantung pada susut hulu.
Pada Soal 2, arus asut 6 kali arus pengenal pada faktor daya 0,32, dan kontaktor -Q1 berkoil 400 V terpasang di PHB, di awal kabel. Hitung susut kabel saat asut dan torsi relatif di terminal motor; cukupkah hasil ini untuk menyimpulkan bahwa -Q1 akan menarik dengan andal?
See the worked solution
Arus asut A dan , sehingga suku dalam kurung Ω/m dan V atau 2,2 %; terminal motor menerima sekitar 97,8 % tegangan PHB, dan torsinya kali torsi pada tegangan PHB. Hasil ini tidak cukup untuk menilai -Q1, karena koil di awal kabel tidak merasakan susut kabel ini: penarikannya dinilai dari tegangan PHB saat 90 A mengalir melalui sumber dan kabel hulu, dengan kriteria 85 %, dan jawaban "kontaktor menarik karena 97,8 %" salah tempat pengukurannya.
Teknisi sebuah bengkel bersuplai privat menyatakan bahwa instalasi motornya boleh bersusut sampai 8 % menurut Tabel G.52.1. Benarkah? Jelaskan hubungan tabel informatif itu dengan 2.2.3.1 yang normatif.
See the worked solution
Tidak benar. Tabel G.52.1 memang mencantumkan 8 % untuk penggunaan selain penerangan pada instalasi jenis B, tetapi tabel itu informatif dan Ayat 525 hanya menyatakan susut "sebaiknya" tidak melebihinya, sedangkan 2.2.3.1 yang normatif menyatakan susut dari terminal pelanggan ke titik mana pun tidak boleh melebihi 4 %. Untuk suplai privat, yang terminal pelanggannya tidak didefinisikan PUIL 2020, bab ini memakai awal instalasi tegangan rendah, misalnya terminal sekunder trafo sendiri.
Pompa tiga fasa 4 kW, 400 V, 8,3 A, , berada 80 m dari PHB dengan kabel tembaga 2,5 mm² (nilai Lampiran G), dan susut dari terminal pelanggan sampai PHB sudah 2,5 %. Hitung susut total, sebutkan dua cara menurunkannya ke bawah 4 %, dan tentukan ukuran kabel bila jarak ke PHB tidak dapat dikurangi.
See the worked solution
Dengan 2,5 mm², suku dalam kurung Ω/m dan V atau 2,09 %, sehingga total % melampaui 4 %. Dua cara: memperbesar penampang kabel pompa, atau memasang PHB cabang dekat pompa dengan penyulang berpenampang besar atau menurunkan susut hulu itu. Bila jarak dan susut hulu tetap, anggaran kabel tinggal 1,5 %: 4 mm² memberi 0,004548 Ω/m, 3,02 V atau 1,31 %, total 3,81 %, lolos, dan 6 mm² (total 3,38 %) memberi cadangan lebih.
Motor 400 V menerima 360 V saat asut. Berapa persen torsi yang tersedia dibanding pada tegangan pengenal, dan apa akibatnya pada pompa sentrifugal dan pada drum mesin cuci penuh muatan?
See the worked solution
Rasio tegangan , sehingga torsi pada setiap kecepatan menjadi kali torsi pada tegangan pengenal, atau 81 %; dari torsi rotor terkunci tersisa . Pompa sentrifugal menuntut torsi kecil saat kecepatan rendah, sehingga biasanya tetap terasut, hanya lebih lambat dan lebih panas. Drum penuh muatan menuntut torsi hampir tetap sejak diam; bila torsi minimum motor selama akselerasi setelah dikali 0,81 mendekati torsi beban, motor dapat tertahan di kecepatan rendah dengan arus mendekati arus asut sampai relai beban lebih memutus, atau belitan rusak bila proteksinya lambat.
Referensi
External sources
- IEC 60364-5-52:2009+AMD1:2024 CSV (edisi 3.1), Low-voltage electrical installations, Part 5-52: Wiring systems, pratinjau resmicdn.standards.iteh.ai
- BSN, SNI 03-3985-2000, Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedungpesta.bsn.go.id
Revision history
| Date | Version | Change |
|---|---|---|
| October 29, 2026 | 3 | Revised to the chapter standard |
| October 20, 2026 | 2 | Expanded in wave R10: worked examples, stop conditions, and cross-chapter references |
| September 30, 2026 | 1 | First published |
How to cite
Kurnia (2026). Susut tegangan: rumus, batas, dan contoh. ARSTEMA Academy. Revised October 29, 2026. arstema.com/academy/konsep/susut-tegangan-rumus-batas-dan-contoh
Self-check · 3 questions
Check your understanding before moving on
Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.
Pemanas satu fasa 2.200 W, 230 V, , disuplai kabel tembaga 25 m dengan resistansi 9,18 mΩ/m dan reaktansi 0,08 mΩ/m per konduktor. Hitung susutnya dalam volt dan persen, lalu bandingkan dengan batas PUIL 2020.
Motor tiga fasa 7,5 kW, 400 V, , efisiensi 88 %, disuplai kabel tembaga 6 mm² sepanjang 45 m dengan mΩ/m dan mΩ/m. Hitung arus operasi dan susut relatifnya; apakah memenuhi batas 4 %?
Pada Soal 2, arus asut 6 kali arus pengenal pada faktor daya 0,32, dan kontaktor -Q1 berkoil 400 V terpasang di PHB, di awal kabel. Hitung susut kabel saat asut dan torsi relatif di terminal motor; cukupkah hasil ini untuk menyimpulkan bahwa -Q1 akan menarik dengan andal?
Nearby chapters
Reading order by shelf: Electrical & Control · Chapter 29.
Reading order by shelf: Electrical & Control · Chapter 27.