By Kurnia · Published September 30, 2026 · Revised October 29, 2026 · Version 3 · 24 min read
Kendali motor dengan PLC: interlock perangkat keras dan masukan gagal-aman
Kesalahan paling berbahaya dalam kendali motor dengan PLC adalah memindahkan fungsi keselamatan ke program. Dibahas pengawatan NC untuk masukan stop dan beban lebih, interlock perangkat keras antarkontaktor, stop darurat di luar PLC, umpan balik kontak cermin untuk mendeteksi kontak lengket, program DOL, pembalik dengan jeda, dan bintang-segitiga dalam Structured Text, serta perilaku saat PLC STOP, saat suplai kembali, dan saat masukan putus. Contoh kerja meninjau program bintang-segitiga yang salah dari sebuah buku ajar, lalu menghitung waktu bintang, jeda peralihan, dan waktu pantau umpan balik untuk kipas 11 kW. Tingkat kinerja dan validasi fungsi keselamatan dibahas pada bab lain; angka contoh adalah ilustrasi.
This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.
This material involves real hazards. A concept explanation doesn’t replace site procedures, competency, energy isolation, the latest SDS, or a work permit.
Mesin cuci industri di sebuah laundry komersial berhenti mendadak di tengah siklus bilas. Teknisi menemukan kabel masukan PLC terlepas dari terminal; masukan itu izin jalan berkontak NC, sehingga PLC membacanya sebagai logika 0 dan program menahan keluaran kontaktor: motor berhenti karena syarat di program, bukan karena rangkaian daya terputus, dan sejauh ini tampak aman. Namun ketika kabel disambung kembali, motor langsung berputar karena memori jalan di program tidak pernah direset; masukan itu hanya memblok keluaran. Tidak ada yang menekan start. Kejadian ilustrasi itu muncul karena fungsi keselamatan diserahkan kepada program PLC, padahal program bergantung pada masukan, suplai, dan perangkat keras yang semuanya bisa gagal.
Batas pembahasan
Bab ini menerapkan logika program Bab 64 tentang pemrograman PLC pada motor induksi tiga fasa dengan asut langsung (direct on-line, DOL), pembalik arah, dan bintang-segitiga: interlock perangkat keras dan prinsip gagal-aman pada kabel masukan dipasang bersama logika program, bukan diganti olehnya. Rangkaian kontaknya ada di Bab 52 dan Bab 51 tentang logika kendali dasar. Soft starter ada di Bab 57, motor DC di Bab 45, VFD dan fungsi safe torque off di Bab 67 sampai Bab 69, dan tingkat kinerja (performance level, PL) serta di Bab 70 tentang keselamatan fungsional mesin.
IEC 60204-1:2016+AMD1:2021 mengatur perlengkapan listrik mesin, termasuk klausul 9.4 tentang fungsi kendali saat terjadi kegagalan, 9.2.2 tentang kategori fungsi stop, 9.3.4 tentang interlock untuk gerak berlawanan, dan 7.5 tentang terputusnya suplai dan pemulihannya.
ISO 13849-1:2023 mengatur prinsip desain bagian sistem kendali yang berkaitan dengan keselamatan, dan IEC 61131-3:2025 mendefinisikan bahasa pemrograman PLC, termasuk Structured Text (ST) untuk contoh kode.
Menurut PUIL 2020 Bagian 1, 11.3 k), PUIL tidak berlaku untuk peralatan listrik pada mesin; untuk motor instalasi, misalnya pompa, prinsip yang sama ada di 5100.5.7.6. Kode referensi mengikuti Bab 50: -Q1 kontaktor utama (pembalik: maju), -Q2 bintang (pembalik: mundur), -Q3 segitiga, -F1 relai beban lebih, -S1 start, -S2 stop, -S3 stop darurat, -S4 reset, -S5 dan -S6 maju dan mundur, -K1 relai keselamatan, -K2 PLC, dan -M1 motor. Uji fungsi pada panel bertegangan dilakukan personel kompeten dengan alat berkategori ukur sesuai dan APD; isolasi dan verifikasi bebas tegangan mengikuti Bab 2 · Keselamatan.
Prinsip gagal-aman: stop dan beban lebih diawatkan NC
Gagal-aman (fail-safe) pada pengawatan masukan PLC berarti keadaan aman tercapai dengan sendirinya ketika terjadi kegagalan, bukan hanya ketika perangkat dioperasikan dengan benar. Tombol stop karena itu dihubungkan ke masukan PLC melalui kontak NC (Bab 2), sehingga kabel putus terbaca logika 0, sama dengan tombol stop ditekan, dan motor berhenti. IEC 60204-1 meminta fungsi stop mengesampingkan fungsi start yang terkait, dan 9.4 meminta kegagalan di perlengkapan listrik tidak menimbulkan keadaan berbahaya.
| Keadaan | Stop diawatkan NC | Stop diawatkan NO |
|---|---|---|
| Kabel utuh, tombol tidak ditekan | Logika 1, motor boleh jalan | Logika 0, motor boleh jalan |
| Tombol ditekan | Logika 0, motor berhenti | Logika 1, motor berhenti |
| Kabel putus | Logika 0, motor berhenti | Logika 0, perintah stop tidak pernah sampai |
Di program, masukan NC itu ditulis sebagai kontak NO atau variabel yang bernilai TRUE dalam keadaan normal, seperti pada program kedua Contoh 1. Relai beban lebih memerlukan dua jalur. Pemutusannya tetap lewat kontak 95-96 yang seri dengan koil kontaktor (Bab 47 dan Bab 63). Program juga harus tahu bahwa relai trip supaya memori jalannya ikut direset; kalau tidak, motor menyala sendiri ketika relai di-reset manual, keadaan yang dilarang 5100.5.4.8 untuk motor instalasi. Bila relai mempunyai kontak NC kedua atau blok kontak tambahan, kontak NC itulah yang masuk ke PLC, sehingga kabel putus terbaca sebagai trip. Bila hanya tersedia 97-98 (NO, menutup saat trip), seperti pada contoh Bab 63, putusnya kabel masukan itu tidak terlihat, dan pemantauan umpan balik kontaktor di bawah yang menjamin memori jalan direset. Stop darurat yang diawatkan NO ke PLC melanggar prinsip ini, dan NC ke PLC pun tidak cukup; alasannya ada pada bagian stop darurat di bawah.
Interlock perangkat keras antarkontaktor
Interlock perangkat keras adalah kontak bantu NC dari satu kontaktor yang dipasang seri di jalur koil kontaktor lain, sehingga kedua kontaktor tidak dapat bekerja bersamaan meskipun program PLC memerintahkan keduanya sekaligus. Kontaktor maju (-Q1) dan mundur (-Q2) yang menutup bersamaan membentuk hubung pendek antarfasa di dalam panel. Interlock program memang dapat mencegah keadaan ini, tetapi program dapat mengandung kesalahan, CPU dapat berhenti, dan keluaran PLC dapat gagal tertutup: kontak relai keluaran terlas atau transistor keluaran terhubung singkat (Bab 63).
Bab 51 membedakan tiga lapis interlock: kontak bantu NC di jalur koil lawan, interlock tombol, dan interlock mekanis; dengan PLC, interlock program menjadi lapis keempat. Interlock perangkat keras bekerja tanpa perangkat lunak, sehingga menjadi lapis pertama yang wajib, sejalan dengan 9.3.4 IEC 60204-1. Interlock program mencegah dua perintah berlawanan, mengatur jeda, dan memberi pesan diagnosis.
Pada bintang-segitiga, interlock serupa dipasang dua arah: NC -Q2 di jalur koil -Q3 dan NC -Q3 di jalur koil -Q2. Bila keduanya menutup bersamaan, kontaktor bintang yang menyatukan ujung belitan dan kontaktor segitiga yang menyambung ujung itu ke fasa lain membentuk hubung pendek antarfasa langsung (Bab 48). Interlock dua arah mencegah dua kontaktor menutup bersamaan, tetapi tidak menjamin busur di kontaktor yang baru membuka sudah padam; jaminan itu datang dari jeda peralihan di Contoh 2.
Stop darurat di luar PLC
Stop darurat adalah fungsi keselamatan yang dimulai satu tindakan manusia dan mendahului semua fungsi lain; sifat gawainya (kontak pembuka paksa, penguncian mekanis, reset manual) ada di Bab 49 tentang tombol dan stop darurat, dan IEC 60204-1 membolehkannya berupa kategori stop 0 atau 1. PLC standar tidak dirancang sebagai perangkat keselamatan: kegagalan I/O, CPU yang berhenti, dan perubahan program dapat meniadakan perintah berhenti tanpa terlihat (Bab 49). Stop darurat karena itu memutus energi ke kontaktor tanpa menunggu siklus PLC.
ISO 13849-1:2023 berlaku untuk bagian kendali yang berkaitan dengan keselamatan apa pun teknologinya, termasuk perancangan perangkat lunaknya, dan tidak menetapkan PL yang diperlukan untuk aplikasi tertentu. Persoalannya bukan "elektronik terprogram dilarang", melainkan PLC standar dengan program biasa tidak dibuktikan untuk PL yang diminta penilaian risiko, sedangkan relai keselamatan dan PLC keselamatan dibuktikan untuk tugas itu.
Dua susunan lazim dipakai (Bab 49). Pertama, kontak NC pembuka paksa stop darurat -S3 dipasang seri di jalur suplai koil semua kontaktor, di luar jalur keluaran PLC (kategori 0), sehingga kontaktor tidak dapat berenergi walaupun PLC masih memerintahkan keluaran. Kedua, -S3 menjadi masukan relai keselamatan -K1 yang kontak keluarannya seri di jalur koil kontaktor, dengan reset manual lewat -S4 dan kontak cermin kontaktor pada sirkit umpan baliknya. Status stop darurat boleh masuk ke PLC untuk pesan dan catatan kejadian, tetapi masukan ini bukan jalan penghentian; bahkan bila PLC mati atau programnya salah, -S3 tetap menghentikan motor. Setelah reset, program kembali ke keadaan awal dan menunggu start baru, karena reset hanya mengizinkan start.
Umpan balik kontaktor dan deteksi kontak lengket
Kontak utama kontaktor dapat terlas oleh arus hubung pendek atau tugas menyambung berat seperti plugging (AC-4), atau mekanismenya macet sehingga tidak membuka sempurna (Bab 46). -Q1 yang tetap tertutup tanpa perintah membuat motor berputar di luar kendali program. Bila -Q2 (bintang) terlas, program yang menunggu umpan balik -Q2 tidak memerintahkan -Q3, dan program tanpa syarat itu ditahan interlock perangkat keras; motor tetap dalam hubungan bintang dengan torsi sekitar sepertiga sampai pemantauan umpan balik melepas -Q1 atau relai beban lebih trip.
Kontak cermin (mirror contact) adalah kontak bantu NC yang menurut IEC 60947-4-1 dijamin tidak menutup selama ada kontak utama yang masih tertutup (Bab 46); kontak cermin setiap kontaktor menjadi umpan balik ke masukan PLC tersendiri. Saat -Q1 bekerja, umpan baliknya berubah dari 1 ke 0. Kabel umpan balik yang putus terbaca 0, seolah kontaktor tertutup; saat perintah OFF, keadaan itu terbaca kontak lengket dan start ditolak, jadi arah gagalnya aman.
| Keadaan | Perintah | Umpan balik (NC) | Tindakan program |
|---|---|---|---|
| Normal | ON / OFF | 0 / 1 | Operasi dilanjutkan |
| Kontaktor gagal menutup | ON | tetap 1 | Memori jalan direset, pesan gangguan, start baru diperlukan |
| Kontak lengket atau kabel umpan balik putus | OFF | tetap 0 | Alarm kritis, start diblok sampai diperiksa |
| Kontaktor lepas tanpa perintah | ON | berubah ke 1 | Memori jalan direset, start baru diperlukan |
Baris terakhir menangkap trip 95-96, stop darurat, dan jatuhnya tegangan koil, sehingga memori jalan tidak pernah tertinggal menyala. Waktu pantau adalah waktu yang diizinkan antara perubahan perintah dan perubahan umpan balik; nilainya harus melebihi jumlah semua tunda di jalurnya, tetapi cukup pendek untuk mendeteksi kegagalan sebelum start berikutnya:
dengan waktu scan maksimum terukur, tunda penyaring masukan, waktu kerja atau lepas relai keluaran PLC, dan waktu menutup atau melepas kontaktor terlama menurut lembar data, semuanya dalam ms. Dua suku scan berasal dari penulisan keluaran di akhir siklus dan pembacaan umpan balik pada siklus berikutnya, seperti waktu tanggap di Bab 63; arah menutup dan melepas diperiksa, dan nilai terbesar dipakai.
Program DOL, pembalik dengan jeda, dan bintang-segitiga
Pada program DOL, tepi naik start (-S1, NO) men-set -Q1, sedangkan stop (-S2, NC), beban lebih (NC), dan pemantauan umpan balik me-reset-nya. Variabel ST yang tidak diberi nilai mempertahankan nilainya, sehingga dua pernyataan IF berfungsi sebagai penahan diri; reset ditulis sesudah set, jadi stop selalu menang.
Pada pembalik, -Q1 (maju) tidak dapat bekerja bila -Q2 (mundur) sedang bekerja, dan sebaliknya. Jeda antara satu arah lepas dan arah lain masuk ditentukan waktu henti beban, bukan waktu tanggap kontaktor: untuk drum cuci ilustrasi, Bab 48 memberi jeda terpendek 3,54 s ditambah 0,05 s, dan Bab 54 menyetelnya 5 s. Selang keluaran pewaktu PLC dapat lebih pendek satu scan, jadi syaratnya
dan 5 s memenuhinya. Jeda baru dihitung setelah kedua kontaktor terbukti lepas, dan pergantian arah memerlukan stop lebih dulu.
Pewaktu PLC hilang saat PLC mati, seperti relai tunda-lepas biasa, sehingga program selalu mulai dari jeda setelah suplai pulih, sama dengan rangkaian Bab 54; jeda berbasis bukti putaran memakai sakelar kecepatan nol dari Bab 55 tentang pengereman motor.
Program bintang-segitiga mengikuti urutan Bab 52 dan Bab 53 tentang metode pengasutan: (1) -Q1 (utama) dan -Q2 (bintang) bekerja; (2) waktu bintang habis; (3) -Q2 lepas; (4) jeda peralihan sampai kontak -Q2 terbuka dan busurnya padam; (5) -Q3 (segitiga) bekerja. Urutan ini tidak boleh dibalik atau dipersingkat. Setiap blok pewaktu dipanggil pada setiap siklus supaya waktunya diperbarui, dan syarat stop diperiksa di luar CASE sehingga berlaku di semua keadaan, termasuk selama bintang. Keluaran dihitung dari nomor keadaan sesudah CASE, seperti di Bab 64, sehingga kembali ke keadaan 0 langsung mematikan semua kontaktor.
Perilaku saat PLC STOP, saat suplai kembali, dan saat masukan putus
Saat PLC beralih ke mode STOP karena perintah operator, kesalahan program, atau gangguan CPU, umumnya keluaran lalu dimatikan dan motor berhenti, tetapi perilaku ini bergantung pada konfigurasi modul dan diverifikasi saat komisioning. Bila PLC dikonfigurasi mempertahankan keluaran terakhir saat STOP (hold last output), motor dapat terus berputar tanpa ada program yang mengendalikannya. Peralihan kembali dari STOP ke RUN diperlakukan seperti suplai kembali.
Saat suplai kembali setelah padam. Motor tidak boleh start sendiri. Untuk peralatan mesin hal ini diatur IEC 60204-1 7.5, dan untuk motor instalasi PUIL 2020 5100.5.7.6 meminta start kembali otomatis yang berbahaya dicegah. Setelah PLC hidup, semua keluaran OFF dan start baru hanya terjadi setelah operator menekan tombol start: memori jalan dan variabel keadaan dideklarasikan tidak bertahan (bukan RETAIN), dan variabel siklus pertama xAwal (nilai awal TRUE, dihapus di akhir siklus) memaksa semuanya ke keadaan awal. Bit PLC yang bertahan saat padam tidak lupa, sehingga tidak mencegah start ulang, seperti relai bistabil di Bab 51.
Pada kedip tegangan, koil kontaktor 230 V dapat lepas, sedangkan PLC yang dicatu 24 V DC tetap bekerja karena catunya menyimpan energi beberapa puluh milidetik. Keluaran tetap ON, dan saat tegangan pulih kontaktor langsung menutup lagi tanpa start baru. Bit siklus pertama tidak menolong karena PLC tidak pernah mulai ulang; pemantauan umpan balik yang menangkapnya dan mereset memori jalan saat kontaktor lepas tanpa perintah. Kedip yang lebih singkat dari waktu pantau tidak terdeteksi, dan kontaktor menutup lagi pada motor yang masih berputar.
Saat masukan putus. Kabel masukan NC (stop, beban lebih) yang putus terbaca logika 0, dan program menghentikan motor. Kabel start (NO) yang putus membuat motor tidak dapat dihidupkan, keadaan yang aman, tetapi bila kabel itu putus saat motor berjalan, motor tetap berjalan sampai ada perintah stop karena keadaan jalan dipertahankan memori program. Pada skenario pembuka, kesalahannya adalah izin yang hanya memblok keluaran tanpa mereset memori jalan.
Contoh kerja
Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya. Setiap setelan baru diuji dulu dengan kabel motor dilepas, dan uji pada panel bertegangan mengikuti syarat di Batas pembahasan.
Contoh 1: meninjau dua program bintang-segitiga dari buku ajar. Kipas buang 11 kW dari contoh Bab 48 akan diasut bintang-segitiga dengan PLC -K2, dan dua program dari satu buku ajar instalasi motor ditinjau. Program pertama, soal program mnemonik untuk motor 3 pk, menulis tombol stop, relai beban lebih, dan tombol darurat sebagai AND NOT, jadi ketiganya diawatkan NO ke masukan PLC, termasuk stop darurat. Pewaktu #050 dan #055 bersatuan 0,1 s membuat keluaran 2 bekerja hanya antara 5,0 s dan 5,5 s dan keluaran 3 sesudah 5,5 s: bila keluaran 2 adalah bintang, belitan tidak tersambung selama 5 s pertama dan hanya mendapat 0,5 s bintang, lalu keluaran 2 lepas dan keluaran 3 masuk pada siklus yang sama, tanpa jeda dan tanpa interlock. Premis soal bahwa motor 3 pk harus bintang-segitiga agar belitan tidak terbakar juga keliru, karena metode ini membatasi arus asut dan susut tegangan (Bab 53). Program kedua, diagram tangga di buku yang sama, mengawatkan stop dan beban lebih NC lalu memakainya sebagai kontak NO, tetapi interlock bintang-segitiga hanya di program (perangkat keras disebut pilihan untuk "berkreasi sendiri"), pewaktu bintang 30 s, kontak NC dan NO pewaktu yang sama melepas bintang dan menyalakan segitiga pada akhir siklus yang sama, dan menurut uraiannya trip beban lebih pun hanya bekerja lewat program.
| Masalah | Keadaan berbahaya | Perbaikan |
|---|---|---|
| Stop, beban lebih, dan stop darurat NO ke PLC (program pertama) | Kabel putus meniadakan perintah berhenti | Stop NC ke PLC; 95-96 seri koil; stop darurat lewat -K1 di luar PLC |
| Interlock hanya di program | Keluaran gagal tertutup menyalakan -Q2 dan -Q3 bersamaan | NC -Q2 di jalur koil -Q3 dan NC -Q3 di jalur koil -Q2 |
| Tidak ada jeda peralihan | Hubung pendek antarfasa lewat busur -Q2 | Jeda 80 ms (Contoh 2) dan syarat FB_Q2 |
| Waktu bintang 5,0 s atau 30 s | Asut hampir langsung, atau panas rotor berkepanjangan | 12 s (Contoh 2), dipastikan dengan rekaman arus |
| Tidak ada umpan balik kontaktor | Kontak lengket tidak terdeteksi | Kontak cermin ke masukan tersendiri, waktu pantau 200 ms |
| Memori jalan tanpa penanganan siklus pertama | Start sendiri setelah padam | Variabel tidak bertahan, xAwal, dan start dengan tepi naik |
Contoh 2: waktu bintang, jeda peralihan, dan waktu pantau untuk kipas Contoh 1. Data dari Bab 48: inersia total 1,6 kg·m², torsi kipas 60,0 N·m pada 1.412 rpm, batas bawah waktu bintang 7,7 s, yaitu waktu motor mencapai kecepatan yang torsinya seimbang dengan beban, dan waktu lepas kontaktor ditambah padam busur 50 ms sebagai batas atas. Data PLC dari ilustrasi Bab 63: waktu scan maksimum 20 ms, penyaring 3 ms, dan relai keluaran bekerja 10 ms. Relai keluaran lepas 5 ms dan kontaktor menutup paling lama 30 ms. Pewaktu PLC memerlukan cadangan satu scan, relai waktu cadangan toleransinya:
Setelan awal 12 s seperti Bab 48 dipastikan dengan merekam arus asut oleh personel kompeten dengan tang ampere berkategori ukur sesuai dan APD. Setelan 30 s kira-kira 3,9 kali batas bawah dan hanya menambah panas rotor; batas atasnya waktu asut yang diizinkan dan kelas trip relai beban lebih (Bab 47 dan Bab 48).
Kontak utama -Q3 tidak boleh menutup sebelum busur -Q2 padam. Selang antara penulisan OFF -Q2 dan ON -Q3 dapat lebih pendek dari sebesar satu scan, sehingga dengan waktu kerja relai keluaran dan waktu menutup -Q3 dianggap nol (kasus terburuk)
dengan waktu lepas kontaktor ditambah padam busur dan waktu lepas relai keluaran, keduanya dalam ms. Dipilih 80 ms. Celah terkecil di kontak, dan karena selama jeda motor tidak bertorsi, selang terlama (selang keluaran ditambah dua scan, relai keluaran, dan waktu menutup -Q3) beserta penurunan kecepatannya menurut rumus Bab 48 adalah
atau 4,1 % dari 147,9 rad/s (1.412 rpm), di antara 1,5 % pada 60 ms dan 7,6 % pada 300 ms di bab itu, sehingga jeda 80 ms cukup panjang untuk busur dan cukup pendek untuk kipas. Waktu pantau harus melebihi tunda normal di kedua arah:
sehingga dipilih 200 ms, cukup di atas 98 ms untuk sebaran lembar data dan tegangan koil yang rendah, tetapi jauh di bawah waktu antara dua start.
Perbaikan belum selesai sebelum diuji dari sisi kegagalannya. Setelah PLC hidup, start baru hanya terjadi dengan tepi naik -S1. Uji logika dilakukan dulu di simulator, lalu pada panel dengan kabel motor dilepas: kabel stop dicabut, kontak cermin disimulasikan lengket, suplai kendali diputus singkat di setiap keadaan, dan -S3 ditekan selama bintang. Motor baru disambung setelah semua butir tabel Contoh 1 lulus, sesuai urutan uji fungsi di Bab 74.
Contoh 3: memendekkan jeda pembalik drum, laundry hotel. Pemilik meminta jeda pembalik 5 s dipendekkan, dan PLC mesin itu bertolok ms:
Setelan 4 s diterima, sedangkan 3,6 s ditolak karena hanya menyisakan 3,57 s. Angka 3,59 s hanya berlaku bila drum mesin itu memang sesuai ilustrasi Bab 48.
Contoh 4: HMI baru menambah waktu scan, kipas buang dapur hotel. Setelah HMI dipasang, program bintang-segitiga kipas 11 kW naik dari 20 ms menjadi 40 ms:
Jeda 80 ms kini memberi celah −15 ms, jadi dinaikkan ke 100 ms (celah 5 ms). Selang terlama dan penurunan kecepatannya menjadi
sekitar 5,6 % dari 147,9 rad/s, masih di bawah 7,6 % pada 300 ms.
Contoh 5: waktu pantau dan waktu bintang pada kipas yang sama. Dengan scan 40 ms,
sehingga waktu pantau 200 ms masih memenuhi dengan sisa 62 ms, dan batas bawah waktu bintang jauh di bawah setelan 12 s. Perubahan perangkat keras atau komunikasi memicu hitung ulang ketiga waktu ini, lalu uji fungsi ulang.
Contoh 6: kedip tegangan pada pompa DOL, rumah sakit. Pompa air bersih memakai program DOL bab ini dengan waktu pantau 200 ms. Pada kedip 300 ms, kontak cermin terbaca lepas lebih lama dari 200 ms, memori jalan direset, dan pompa menunggu start baru. Pada kedip 150 ms, kontaktor menutup lagi sebelum pewaktu habis, pada motor yang masih berputar. Waktu pantau tidak boleh di bawah tunda normal (98 ms pada Contoh 2), sehingga kedip sesingkat itu selalu lolos dari pemantauan. Apakah penutupan ulang itu dapat diterima ditetapkan dalam penilaian risiko pada Bab 70 tentang keselamatan fungsional mesin, bukan oleh teknisi di lapangan.
Kondisi berhenti
Motor tidak dijalankan, atau pekerjaan dihentikan dan penanganannya diserahkan kepada personel kompeten, bila:
- Program mengandalkan PLC untuk stop darurat, interlock pembalik, atau interlock bintang-segitiga tanpa perangkat keras. Program itu tidak diuji pada motor sebelum diperbaiki.
- Motor atau kontaktor menyala tanpa start baru ketika suplai pulih, ketika PLC kembali ke RUN, ketika stop darurat atau relai beban lebih di-reset, atau ketika kabel masukan disambung kembali.
- Perilaku keluaran saat PLC STOP tidak diketahui, atau keluaran ternyata dipertahankan saat STOP.
- Umpan balik menunjukkan kontaktor lengket, atau peralihan bintang-segitiga disertai hentakan ganda, busur, atau pengaman trip. Pemeriksaan dilakukan dengan panel diisolasi.
- Keluaran dipaksa atau program diubah secara daring pada mesin yang bagian bergeraknya dapat dijangkau orang, seperti diuraikan kondisi berhenti Bab 63.
Salah tafsir yang sering terjadi
Guess what’s wrong first, then open the explanation.
Common misconception
Interlock di program sudah cukup.
Why is it wrong?
Program dapat salah, CPU dapat berhenti, dan keluaran dapat gagal tertutup, sehingga interlock perangkat keras adalah lapis tersendiri yang wajib ada bersama interlock program, bukan diganti olehnya.
Common misconception
Stop darurat cukup dibaca PLC.
Why is it wrong?
Bila PLC dalam mode STOP atau programnya macet, masukan tidak diproses; stop darurat memutus jalur koil kontaktor langsung atau lewat relai keselamatan, tanpa melewati program.
Common misconception
Pengawatan NO lebih mudah dipahami.
Why is it wrong?
Logikanya memang lebih intuitif saat komisioning, tetapi prinsip gagal-aman menilai rangkaian dari perilakunya saat kabel putus atau suplai hilang.
Common misconception
PLC STOP berarti motor pasti berhenti.
Why is it wrong?
Hasilnya bergantung pada konfigurasi keluaran saat STOP, yang diverifikasi dan didokumentasikan saat komisioning.
Common misconception
Pemeriksaan stop harus ditulis paling atas di program.
Why is it wrong?
Di ST nilai terakhir dalam satu siklus yang ditulis ke keluaran, jadi reset di atas lalu set tanpa syarat stop di bawahnya justru membuat start menang. Stop menang bila reset ditulis sesudah set, atau bila syarat start memuat syarat stop seperti penahan diri stop dominan di Bab 51.
Hubungan dengan bab lain
Bab 2 memberi kontak NO/NC, Bab 52 rangkaian motor dan komisioning, Bab 51 penahan diri dan lapis interlock, Bab 48 dan Bab 54 jeda dan waktu bintang, Bab 46 kontak cermin, Bab 49 stop darurat, dan Bab 63 siklus scan. Bab 31 membahas start ulang pada instalasi, Bab 70 PL dan interlock pintu, dan Bab 66 komunikasi dengan VFD.
Latihan dan pembahasan
Try to answer first, then open the worked solution.
Baris
IF xS2_Stop THEN xQ1 := FALSE; END_IF;dipakai dengan tombol stop diawatkan NO. Apa akibatnya bila kabel masukan terlepas saat motor berjalan, dan mengapa berbahaya?See the worked solution
Kabel putus membuat xS2_Stop tetap FALSE, sehingga baris itu tidak pernah mematikan xQ1 dan motor terus berjalan tanpa tanda apa pun. Kegagalan kabel tidak menyebabkan penghentian, berlawanan dengan prinsip gagal-aman; dengan kontak NC, kabel putus terbaca sebagai stop.
Program bintang-segitiga dengan interlock NC dua arah memakai jeda 40 ms; scan maksimum 15 ms, relai keluaran lepas 5 ms, dan lepas kontaktor bintang ditambah padam busur paling lama 50 ms. Hitung jeda minimum dan celah terkecil di kontak. Apakah interlock NC saja membuat peralihan aman?
See the worked solution
ms, dan dengan 40 ms celah terkecil ms, sehingga -Q3 dapat menutup saat busur -Q2 belum padam. Interlock NC menahan -Q3 sampai kontak bantu -Q2 berpindah dan memblok -Q3 bila -Q2 terlas, tetapi tidak menunggu busur padam, jadi jeda dinaikkan sekurangnya 70 ms, misalnya 80 ms, lalu penurunan kecepatan selama jeda diperiksa.
IEC 60204-1 meminta fungsi stop mengesampingkan start. Bagaimana prinsip ini diwujudkan dalam urutan pernyataan ST, dan urutan apa yang salah?
See the worked solution
Nilai terakhir dalam siklus yang ditulis ke keluaran, jadi set dari tepi start ditulis lebih dulu dan reset karena stop sesudahnya, seperti program DOL bab ini; bila keduanya aktif, xQ1 berakhir FALSE. Urutan sebaliknya, reset di atas lalu set tanpa syarat stop, membuat motor tetap jalan selama start ditekan walaupun stop juga ditekan.
Scan maksimum 10 ms, penyaring 5 ms, relai keluaran bekerja 8 ms dan lepas 4 ms, kontaktor menutup paling lama 40 ms dan melepas paling lama 60 ms. Hitung waktu pantau minimum. Bila Q1 := TRUE diperintah tetapi setelah 200 ms umpan balik NC -Q1 masih TRUE, apa kesimpulan dan tindakannya?
See the worked solution
Menutup ms dan melepas ms, jadi waktu pantau harus di atas 89 ms dan 200 ms memenuhi. Umpan balik NC yang tetap TRUE setelah 200 ms berarti kontaktor tidak menutup: jalur koil terbuka (stop darurat, 95-96, interlock), koil putus, atau keluaran PLC rusak. Tindakan: alarm, Q1 := FALSE, dan start diblok sampai diperiksa dengan panel diisolasi, atau diukur personel kompeten dengan alat berkategori ukur sesuai dan APD.
Kontak keluaran relai keselamatan -K1 untuk stop darurat dipasang seri di jalur suplai koil -Q1. Mengapa ini lebih baik daripada membaca stop darurat lewat masukan PLC?
See the worked solution
Perintah berhenti lewat masukan PLC dapat hilang tanpa terlihat bila PLC berhenti, programnya macet atau diubah, atau keluarannya gagal tertutup, sedangkan kontak -K1 seri di jalur koil membuat -S3 memutus suplai koil -Q1 tanpa melewati PLC. Relai keselamatan juga memantau salurannya, menuntut reset manual, dan menolak reset bila kontak cermin -Q1 menunjukkan kontak terlas.
Susun logika yang mencegah motor start sendiri setelah suplai padam atau kedip, dengan variabel yang diperiksa dan syarat sebelum start diizinkan.
See the worked solution
Memori jalan dan variabel keadaan tidak bertahan, sehingga pada siklus pertama semuanya kembali ke keadaan awal dan semua keluaran OFF. Untuk kedip yang tidak memulai ulang PLC, pemantauan umpan balik mereset memori jalan bila kontaktor lepas tanpa perintah. Start diizinkan hanya bila xAwal sudah FALSE, xS2_StopOK dan xF1_OK TRUE, relai keselamatan sudah di-reset, semua umpan balik menunjukkan kontaktor lepas, tidak ada gangguan tersimpan, dan tepi naik start muncul setelah semua syarat itu terpenuhi.
Referensi
External sources
- IEC 60204-1:2016+AMD1:2021 CSV (Ed. 6.1), Safety of machinery, Electrical equipment of machines, Part 1: General requirementswebstore.iec.ch
- IEC 60204-1:2016, pratinjau resmi (daftar isi: 7.5, 9.2.2, 9.3.4, 9.4)cdn.standards.iteh.ai
- ISO 13849-1:2023 (Ed. 4), Safety of machinery, Safety-related parts of control systems, Part 1: General principles for designiso.org
- IEC 61131-3:2025 (Ed. 4.0), Programmable controllers, Part 3: Programming languageswebstore.iec.ch
- EN/IEC 60204-1 klausul 9, Control circuits and control functions (sekunder)gt-engineering.it
- ISO 13850:2015 (Ed. 3), Safety of machinery, Emergency stop function, Principles for designiso.org
Revision history
| Date | Version | Change |
|---|---|---|
| October 29, 2026 | 3 | Revised to the chapter standard |
| October 20, 2026 | 2 | Expanded in wave R10: worked examples, stop conditions, and cross-chapter references |
| September 30, 2026 | 1 | First published |
How to cite
Kurnia (2026). Kendali motor dengan PLC: interlock perangkat keras dan masukan gagal-aman. ARSTEMA Academy. Revised October 29, 2026. arstema.com/academy/konsep/kendali-motor-dengan-plc-interlock-perangkat-keras-dan-masukan-gagal-aman
Self-check · 3 questions
Check your understanding before moving on
Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.
Safety limits still apply. This quiz tests reasoning; it doesn’t authorize mixing, adjusting, dismantling, live measurement, or field action.
Baris IF xS2_Stop THEN xQ1 := FALSE; END_IF; dipakai dengan tombol stop diawatkan NO. Apa akibatnya bila kabel masukan terlepas saat motor berjalan, dan mengapa berbahaya?
Program bintang-segitiga dengan interlock NC dua arah memakai jeda 40 ms; scan maksimum 15 ms, relai keluaran lepas 5 ms, dan lepas kontaktor bintang ditambah padam busur paling lama 50 ms. Hitung jeda minimum dan celah terkecil di kontak. Apakah interlock NC saja membuat peralihan aman?
IEC 60204-1 meminta fungsi stop mengesampingkan start. Bagaimana prinsip ini diwujudkan dalam urutan pernyataan ST, dan urutan apa yang salah?
Nearby chapters
Reading order by shelf: Electrical & Control · Chapter 66.
Reading order by shelf: Electrical & Control · Chapter 64.