Skip to content

Search ARSTEMA

Type a chapter, term, symptom, or tool.

    Back to the atlas
    Water & Water Treatment · Chapter 26Quantitative

    By Kurnia · Published October 17, 2026 · Revised October 30, 2026 · Version 2 · 18 min read

    Sistem klorinasi: kebutuhan dan dosis klor, klor bebas dan terikat, titik patah, waktu kontak dan CT, larutan hipoklorit dan pompa dosis, deklorinasi, dan keselamatan

    Sebuah hotel memakai air sumur yang diklorinasi dengan pompa dosis. Tamu di lantai bawah mengeluh bau kaporit, sedangkan air di lantai atas tidak mengandung sisa klor dan sampel kerannya gagal uji bakteri. Di laundry, membran RO rusak dalam setahun. Bab ini menjelaskan sistem klorinasi dari sisi dosis dan peralatan: kebutuhan klor, dosis, dan sisa; klor bebas dan terikat serta titik patah; waktu kontak dan CT; kekuatan larutan hipoklorit dan penurunannya; menghitung setelan pompa dosis; titik injeksi; deklorinasi sebelum RO dan sebelum dibuang; pemantauan; dan keselamatan menangani klorin.

    This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.

    High-risk material

    This material involves real hazards. A concept explanation doesn’t replace site procedures, competency, energy isolation, the latest SDS, or a work permit.

    Section you’re reading: Chapter opening

    Sebuah hotel memakai air sumur bor yang dipompa ke tangki bawah, diklorinasi dengan pompa dosis larutan natrium hipoklorit, lalu dinaikkan ke tangki atap. Tamu di kamar lantai bawah mengeluh bau kaporit di kamar mandi. Air di lantai atas justru tidak mengandung sisa klor sama sekali, dan sampel dari kerannya gagal uji bakteri. Di laundry hotel yang sama, membran RO untuk air bilas akhir rusak dalam setahun.

    Teknisi utilitas menemukan beberapa hal. Pompa dosis hanya bekerja ketika pompa sumur hidup, dan setelannya tidak pernah diubah selama setahun. Drum larutan hipoklorit disimpan di bawah atap seng yang panas selama tiga bulan. Sisa klor hanya diukur sebagai klor total di keran dekat tangki bawah. Air ke unit RO tidak dideklorinasi. Bab ini menjelaskan sistem klorinasi dari sisi dosis dan peralatan, sehingga teknisi dapat menghitung setelan, membaca hasil uji sisa klor, dan mengenali kapan klorinasi berbahaya.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas klorinasi air bersih gedung, air sumur, dan efluen dari sisi dosis, peralatan, pemantauan, dan keselamatan. Cara kerja klorin terhadap mikroba, asam hipoklorit dan ion hipoklorit terhadap pH, serta klor bebas dan terikat dari sisi biologi ada di Bab 4 · Biologi & Mikrobiologi tentang disinfektan dan cara kerjanya; pengujian mikroba dan sisa klor di titik pakai di Bab 6 · Biologi & Mikrobiologi tentang mikroba air dan pengujiannya; klorin tersedia dan titrasi redoks di Bab 17 · Kimia tentang redoks lanjut; disinfeksi pipa saat komisioning di Bab 14 · Bangunan & Fasilitas tentang pengujian dan komisioning instalasi plumbing; desinfeksi dalam alur pengolahan air di Bab 3 tentang koagulasi, pemisahan, filtrasi, dan desinfeksi; prapengolahan RO di Bab 8 tentang prapengolahan membran RO; reaktivitas dan campuran berbahaya di Bab 25 · Kimia tentang reaktivitas dan ketidakcocokan bahan kimia; dan lembar data keselamatan di Bab 6 · Keselamatan tentang bahan kimia di pekerjaan teknisi.

    Sisa klor wajib di air minum, batas klor di efluen, dan syarat izin mengikuti peraturan yang berlaku; bab ini tidak menyalin angkanya.

    Untuk apa klorinasi dan di mana dilakukan

    Klorinasi (chlorination) adalah pemberian klor ke air. Kegunaan utama klorinasi adalah disinfeksi. Klorin juga mengoksidasi besi, mangan, dan hidrogen sulfida, serta menekan lendir di tangki dan pipa. Keunggulan utamanya dibanding ultraviolet dan ozon adalah sisa klor (chlorine residual), yaitu klor yang tetap ada di pipa dan tangki sesudah titik injeksi. Kelemahan ultraviolet untuk disinfeksi adalah tidak meninggalkan sisa di jaringan pipa.

    Tempat klorinasi juga dibedakan. Prakhlorinasi (pre-chlorination) biasanya dilakukan di titik masuk air baku, dan pascaklorinasi (post-chlorination) adalah pemberian klor sesudah proses pengolahan lain. Di gedung, susunan yang umum adalah klorinasi sesudah filter dan sebelum tangki, sehingga tangki memberi waktu kontak. Air untuk RO, mesin kopi, dan beberapa proses laundry kemudian dideklorinasi di titik pakainya.

    Kebutuhan klor, dosis, dan sisa

    Klor yang dimasukkan ke air tidak semuanya tersisa. Kebutuhan klor (chlorine demand) adalah bagian klor yang habis bereaksi dengan zat organik, besi, mangan, sulfida, dan amonia. Hubungannya:

    Dosis=Kebutuhan+Sisa\text{Dosis} = \text{Kebutuhan} + \text{Sisa}

    semuanya dalam mg/L. Kebutuhan klor berubah bila mutu air berubah, misalnya air sumur yang keruh sesudah hujan atau besi yang naik. Karena itu setelan pompa dosis tidak pernah "selesai"; setelan diperiksa dengan mengukur sisa di titik yang menentukan.

    Massa klor per hari dihitung dari debit dan dosis. Dosis 1 mg/L sama dengan 1 g/m³:

    mklor=Q×Dm_\text{klor} = Q \times D

    dengan QQ dalam m³/hari dan DD dalam g/m³, sehingga mm dalam g/hari. Klorin yang ditambahkan ke suatu proses harus terukur jumlahnya, dan untuk mencari massa per hari, dosis klor harus ditentukan lebih dulu.

    Klor bebas, klor terikat, dan titik patah

    Klor bebas (free chlorine) adalah klor yang berada sebagai asam hipoklorit dan ion hipoklorit, sedangkan klor terikat (combined chlorine) adalah kloramin yang terbentuk dengan amonia dan senyawa nitrogen, seperti dijelaskan di Bab 4 · Biologi & Mikrobiologi tentang disinfektan dan cara kerjanya. Klor bebas juga didefinisikan sebagai klorin dalam bentuk cair atau gas, dalam arti klor yang belum bereaksi menjadi senyawa terikat.

    Bila klor ditambahkan sedikit demi sedikit ke air yang mengandung amonia, sisa klor total mula-mula naik sebagai kloramin, lalu turun ketika klor tambahan menguraikan kloramin itu, dan baru naik lagi sebagai klor bebas sesudah melewati titik patah. Titik patah (breakpoint) adalah titik pada kurva klorinasi itu ketika sisa klor mulai naik lagi sebagai klor bebas; pada kurva, air akhirnya mencapai titik itu. Secara stoikiometri, titik patah memerlukan sekitar 7,6 mg klorin per mg nitrogen amonia; dalam praktik lebih besar karena kebutuhan lain.

    Akibat praktisnya:

    1. Bau kaporit yang tajam sering menandakan kloramin, bukan klor bebas yang berlebih. Dosis klor yang tinggi dapat menimbulkan masalah rasa dan bau.
    2. Klor total yang tinggi belum tentu cukup. Kloramin jauh lebih lemah sebagai disinfektan, sehingga air dapat berbau klor tetapi tetap gagal uji bakteri.
    3. Yang diukur adalah klor bebas dan klor total. Selisihnya adalah klor terikat. Tersedia beberapa metode untuk menguji sisa klor; di lapangan yang lazim adalah komparator DPD dengan pereaksi terpisah untuk klor bebas dan klor total, seperti di Bab 6 · Biologi & Mikrobiologi tentang mikroba air dan pengujiannya.

    Waktu kontak dan CT

    Disinfeksi memerlukan konsentrasi dan waktu. Nilai CT (CT value) adalah ukurannya, yaitu hasil kali sisa klor bebas dan waktu kontak:

    CT=C×t10\text{CT} = C \times t_{10}

    dengan CC sisa klor bebas di akhir kontak dalam mg/L dan t10t_{10} waktu ketika 10 persen air sudah keluar dari tangki kontak, dalam menit. Waktu tinggal sebenarnya adalah bagian T dari nilai CT. Waktu tinggal rata-rata V/QV/Q terlalu optimistis karena air di tangki tanpa sekat mengalir pintas. Faktor sekat (baffling factor) adalah perbandingan t10/(V/Q)t_{10}/(V/Q); nilainya sekitar 0,1 untuk tangki tanpa sekat dan sekitar 0,5 sampai 0,7 untuk tangki bersekat baik. CT yang dibutuhkan bergantung pada mikroba sasaran, suhu, dan pH; nilai yang berlaku diambil dari pedoman. Virus tertentu tahan terhadap klorinasi biasa, sehingga CT yang cukup untuk bakteri belum tentu cukup untuk semua patogen.

    pH ikut menentukan. Seperti ditunjukkan di Bab 4 · Biologi & Mikrobiologi, pada pH 8 bagian asam hipoklorit jauh lebih kecil daripada pada pH 7. Air sumur yang basa memerlukan CT lebih besar untuk hasil yang sama.

    Larutan hipoklorit, kalsium hipoklorit, dan klorin gas

    Sumber klor di gedung hampir selalu natrium hipoklorit cair atau kalsium hipoklorit padat. Kadar klorin tersedia larutan natrium hipoklorit niaga sekitar 10 sampai 12 persen untuk kemasan industri dan sekitar 5 persen untuk pemutih rumah tangga; kalsium hipoklorit sekitar 65 sampai 70 persen. Cara menghitung klorin tersedia ada di Bab 17 · Kimia tentang redoks lanjut.

    Larutan natrium hipoklorit terurai seiring waktu, lebih cepat pada suhu tinggi, cahaya, dan kadar awal tinggi. Drum yang disimpan di bawah atap seng yang panas selama berbulan-bulan, seperti di kasus pembuka, kehilangan sebagian kekuatannya, sehingga setelan pompa yang sama memberi dosis lebih kecil. Larutan disimpan di tempat sejuk dan gelap, dibeli secukupnya, dan kadarnya diperiksa bila sisa klor turun tanpa sebab lain.

    Instalasi besar memakai klorin gas: klorin dimasukkan ke wadah sebagai cairan, klorin gas lebih berat dari udara dengan kerapatan uap sekitar 2,5, dan tabung klorin tidak boleh dipanasi dengan api langsung. Pembangkitan klorin di lokasi kini sudah praktis, dan klorin dioksida adalah gas sintetis kuning kehijauan berbau menyengat seperti klorin yang dibuat di lokasi pemakaian. Klorin gas dan klorin dioksida ditangani oleh instalasi dengan peralatan dan pelatihan khusus; bab ini tidak memberi prosedurnya.

    Pompa dosis, titik injeksi, dan pemantauan sisa klor

    Pompa umpan kimia dikalibrasi dalam mililiter per menit. Setelan pompa dihitung dari debit air saat pompa dosis bekerja:

    qlarutan=Q×Dctersediaq_\text{larutan} = \frac{Q \times D}{c_\text{tersedia}}

    dengan QQ debit air dalam m³/jam, DD dosis dalam g/m³, dan ctersediac_\text{tersedia} klorin tersedia larutan dalam g/L, sehingga qq dalam L/jam. Pompa klorin dapat mendosis larutan pemutih, dan pada cara pengendalian lain aliran diklorinasi sampai sisa klor mencapai batas atas yang ditetapkan.

    Hal yang menentukan apakah dosis sampai ke air:

    1. Sinyal pompa dosis. Pompa dosis yang hanya hidup bersama pompa sumur memberi dosis sebanding debit sumur. Bila air juga masuk dari sumber lain, misalnya sambungan PDAM ke tangki yang sama, air itu tidak terklorinasi.
    2. Titik injeksi dan pencampuran. Injeksi di pipa masuk tangki dengan aliran yang cukup bercampur lebih baik daripada injeksi ke permukaan tangki yang diam.
    3. Udara dan gas di kepala pompa. Larutan hipoklorit melepaskan gas yang dapat mengunci pompa diafragma, seperti dibahas untuk gelembung di pompa dosis di Bab 6 · Fluida & Termal tentang udara dan gas di jalur cairan.
    4. Katup injeksi dan kerak. Ujung injeksi tersumbat kerak kalsium bila air sadah bertemu larutan basa.

    Setelan di panel pompa dosis belum tentu sama dengan keluaran nyatanya. Pompa diafragma kehilangan keluaran karena katup bola yang aus atau kotor, gas di kepala pompa, dan tekanan balik di titik injeksi. Cara memeriksanya adalah kalibrasi dengan tabung ukur di sisi isap: pompa mengisap dari tabung bergaris selama waktu tertentu, lalu volume yang turun dibagi waktu memberi laju nyata dalam mL/menit. Cara kedua, yang dapat dilakukan setiap minggu, adalah membandingkan volume larutan yang terpakai dari drum dengan volume air yang tercatat di meteran. Bila keduanya menghasilkan dosis yang jauh dari rencana, pompa diperiksa sebelum setelannya diubah.

    Laju penurunan sisa klor di tangki dan pipa berlangsung terus. Pendekatan orde pertama yang umum adalah C=C0 e−ktC = C_0 \, e^{-k t}, dengan kk bergantung pada mutu air, suhu, dan bahan pipa. Tangki atap besar yang airnya lama diam dapat menghabiskan sisa klor sebelum air sampai ke kamar terjauh, seperti di kasus pembuka. Susunan tangki dan pipa gedung ada di Bab 5 · Bangunan & Fasilitas tentang sistem penyediaan air bersih gedung.

    Karena itu sisa klor dipantau di beberapa titik, bukan hanya dekat titik injeksi. Rencana pemantauan klorinasi gedung yang sederhana, disesuaikan dengan pedoman yang berlaku:

    1. Titik ukur: sesudah tangki kontak, di tangki atap, dan di keran terjauh atau yang paling jarang dipakai.
    2. Yang diukur: klor bebas dan klor total, pH, dan bila perlu suhu.
    3. Catatan: setelan pompa dosis, volume larutan terpakai, dan tanggal pembelian larutan, sehingga dosis nyata dapat dihitung dari pemakaian.
    4. Tindakan: bila sisa klor bebas di titik terjauh di bawah target, periksa dulu pemakaian larutan dan kekuatannya, lalu titik injeksi, baru setelan pompa.

    Deklorinasi sebelum RO dan sebelum dibuang

    Deklorinasi (dechlorination) adalah penghilangan klor sisa dari air sebelum air itu dipakai atau dibuang. Membran RO poliamida rusak oleh klor bebas, sehingga air umpan RO dideklorinasi, seperti dibahas di Bab 8 tentang prapengolahan membran RO. Adsorpsi karbon aktif granular dan filtrasi membran sebelum disinfeksi dipakai untuk mengurangi zat pembentuk hasil samping disinfeksi; karbon aktif juga menyisihkan klor bebas, seperti di Bab 20 tentang filtrasi media dan karbon aktif. Cara kimianya adalah natrium bisulfit atau natrium tiosulfat, dengan kebutuhan teoretis sekitar 1,46 mg natrium bisulfit per mg klorin ditambah faktor keamanan.

    Efluen IPAL yang diklorinasi juga mungkin harus dideklorinasi sebelum dibuang, karena klor sisa meracuni kehidupan air; batasnya mengikuti izin pembuangan dan dipantau seperti di Bab 23 tentang pemantauan efluen dan operasi harian IPAL.

    Keselamatan menangani klorin

    Bahaya terbesar di gedung adalah mencampur hipoklorit dengan asam, misalnya pembersih kerak atau asam untuk menurunkan pH, yang melepaskan gas klorin, dan mencampurnya dengan amonia yang membentuk kloramin, seperti dijelaskan di Bab 25 · Kimia tentang reaktivitas dan ketidakcocokan bahan kimia. Larutan hipoklorit pekat juga merusak mata dan kulit. Akibat praktisnya:

    1. Wadah hipoklorit dan wadah asam disimpan terpisah dan diberi label, dengan alat penuang masing-masing.
    2. Penggantian drum dan pembersihan pompa dosis memakai pelindung mata dan sarung tangan yang sesuai lembar data keselamatan, seperti di Bab 6 · Keselamatan tentang bahan kimia di pekerjaan teknisi dan Bab 5 · Keselamatan tentang alat pelindung diri.
    3. Ruang pompa dosis berventilasi, karena gas klorin lebih berat dari udara dan berkumpul di bagian bawah.
    4. Tumpahan diencerkan dan ditangani menurut lembar data, bukan dinetralkan dengan asam.

    Contoh kerja

    Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya.

    Contoh 1: setelan pompa dosis. Pompa sumur mengalirkan 6 m³/jam, dosis 1,8 mg/L, dan larutan 100 g/L. Laju larutan 6×1,8/100=0,1086 \times 1{,}8/100 = 0{,}108 L/jam, yaitu 108 mL/jam atau 1,8 mL/menit.

    Contoh 2: titik patah. Air sumur mengandung nitrogen amonia 0,5 mg/L. Untuk melewati titik patah diperlukan sekitar 0,5×7,6=3,80{,}5 \times 7{,}6 = 3{,}8 mg/L klorin, ditambah kebutuhan lain dan sisa bebas yang dituju. Dosis 1,8 mg/L di Contoh 1 tidak cukup, sehingga sisanya berupa kloramin yang berbau tetapi lemah.

    Contoh 3: CT tangki kontak. Tangki 10 m³ dengan debit 20 m³/jam memiliki waktu tinggal rata-rata 10/20×60=3010/20 \times 60 = 30 menit. Tanpa sekat, dengan faktor 0,3, t10=0,3×30=9t_{10} = 0{,}3 \times 30 = 9 menit. Dengan sisa klor bebas 0,5 mg/L, CT=0,5×9=4,5\text{CT} = 0{,}5 \times 9 = 4{,}5 mg·menit/L. Bila sasaran 15 mg·menit/L, sisa klor, waktu kontak, atau sekat harus ditambah.

    Contoh 4: larutan yang melemah. Larutan dibeli 12 persen dan setelah tiga bulan di tempat panas tinggal 9 persen. Dosis yang sampai ke air hanya 9/12=0,759/12 = 0{,}75 kali dosis rencana, sehingga setelan pompa harus dinaikkan 12/9=1,3312/9 = 1{,}33 kali, atau larutannya diganti dan disimpan di tempat sejuk.

    Contoh 5: penurunan sisa di tangki atap. Sisa klor bebas keluar tangki bawah 0,8 mg/L, dan air rata-rata 2 jam di tangki atap dan pipa dengan k=0,5k = 0{,}5 per jam. Sisa di keran 0,8×e−0,5×2=0,8×e−1=0,290{,}8 \times e^{-0{,}5 \times 2} = 0{,}8 \times e^{-1} = 0{,}29 mg/L. Pada jam sepi dengan waktu tinggal lebih lama, sisanya mendekati nol.

    Contoh 6: deklorinasi umpan RO. Air umpan RO 2 m³/jam dengan sisa klor 0,5 mg/L memerlukan natrium bisulfit teoretis 0,5×1,46=0,730{,}5 \times 1{,}46 = 0{,}73 mg/L. Dengan faktor keamanan 2, dosisnya 1,46 mg/L, yaitu 2×1,46=2,922 \times 1{,}46 = 2{,}92 g/jam atau sekitar 58 g per 20 jam operasi.

    Kondisi berhenti

    Hentikan pekerjaan dan serahkan kepada orang berwenang bila:

    1. Tercium bau klorin yang menyengat di ruang pompa dosis atau ruang tangki, atau ada orang yang batuk dan sesak.
    2. Hipoklorit tertukar atau tercampur dengan asam atau amonia.
    3. Pekerjaan memerlukan pembukaan tabung klorin gas atau peralatan klorin dioksida.
    4. Sisa klor di titik terjauh nol dan sampel gagal uji bakteri; air dialihkan dari pemakaian minum menurut prosedur sampai sumbernya diperbaiki.
    5. Tangki kontak atau tangki bawah harus dimasuki, seperti di Bab 11 · Keselamatan tentang ruang terbatas.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    Guess what’s wrong first, then open the explanation.

    Common misconception

    Bau kaporit berarti air aman.

    Why is it wrong?

    Bau tajam sering berasal dari kloramin yang lemah. Kloramin jauh lebih lemah sebagai disinfektan, sehingga air dapat berbau klor tetapi tetap gagal uji bakteri.

    Common misconception

    Klor total sama dengan klor bebas.

    Why is it wrong?

    Selisihnya adalah klor terikat. Karena itu keduanya diukur dengan pereaksi terpisah, dan klor total yang tinggi belum tentu cukup untuk disinfeksi.

    Common misconception

    Setelan pompa dosis tetap selamanya, dan larutan hipoklorit awet.

    Why is it wrong?

    Kebutuhan klor dan kekuatan larutan berubah. Larutan terurai, terutama di tempat panas dan terang; pada Contoh 4, larutan yang turun dari 12 menjadi 9 persen hanya memberi 0,75 kali dosis rencana pada setelan yang sama.

    Common misconception

    Waktu tinggal tangki sama dengan waktu kontak.

    Why is it wrong?

    Aliran pintas membuat waktu kontak efektif jauh lebih pendek. Pada Contoh 3, waktu tinggal rata-rata 30 menit hanya memberi t10t_{10} 9 menit.

    Common misconception

    Klor bebas tidak berbahaya untuk RO karena kadarnya kecil.

    Why is it wrong?

    Paparan terus-menerus merusak membran poliamida. Karena itu air umpan RO dideklorinasi dengan karbon aktif atau natrium bisulfit, seperti pada Contoh 6.

    Common misconception

    Hipoklorit boleh dicampur pembersih apa pun.

    Why is it wrong?

    Campuran dengan asam atau amonia melepaskan gas beracun. Asam melepaskan gas klorin dan amonia membentuk kloramin, sehingga wadah hipoklorit dan wadah asam disimpan terpisah dengan alat penuang masing-masing.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 4 · Biologi & Mikrobiologi tentang disinfektan dan cara kerjanya serta Bab 6 · Biologi & Mikrobiologi tentang mikroba air dan pengujiannya membahas disinfektan dan pengujian mikroba. Klorin tersedia dihitung di Bab 17 · Kimia tentang redoks lanjut, disinfeksi pipa dibahas di Bab 14 · Bangunan & Fasilitas tentang pengujian dan komisioning instalasi plumbing, dan desinfeksi dalam alur pengolahan di Bab 3 tentang koagulasi, pemisahan, filtrasi, dan desinfeksi. Prapengolahan RO ada di Bab 8 tentang prapengolahan membran RO, dan karbon aktif di Bab 20 tentang filtrasi media dan karbon aktif. Pemantauan efluen ada di Bab 23 tentang pemantauan efluen dan operasi harian IPAL, dan sistem air bersih gedung di Bab 5 · Bangunan & Fasilitas tentang sistem penyediaan air bersih gedung.

    Sisi keselamatan bersambung ke Bab 25 · Kimia tentang reaktivitas dan ketidakcocokan bahan kimia, Bab 6 · Keselamatan tentang bahan kimia di pekerjaan teknisi, Bab 5 · Keselamatan tentang alat pelindung diri, dan Bab 11 · Keselamatan tentang ruang terbatas. Gas di pompa dosis dibahas di Bab 6 · Fluida & Termal tentang udara dan gas di jalur cairan. Bab 27 tentang air tanah dan sumur bor membahas air sumur yang menjadi sumber air banyak gedung.

    Latihan dan pembahasan

    Try to answer first, then open the worked solution.

    1. Debit 40 m³/hari dengan dosis 1,5 mg/L dan larutan 120 g/L. Berapa gram klorin dan berapa liter larutan per hari?

      See the worked solution

      40×1,5=6040 \times 1{,}5 = 60 g klorin per hari, dan larutannya 60/120=0,560/120 = 0{,}5 L per hari. Hitungan ini langsung karena dosis 1 mg/L sama dengan 1 g/m³, sehingga debit dalam m³/hari dikali dosis memberi gram per hari.

    2. Kebutuhan klor 0,9 mg/L dan sisa yang dituju 0,4 mg/L. Berapa dosisnya?

      See the worked solution

      0,9+0,4=1,30{,}9 + 0{,}4 = 1{,}3 mg/L, karena dosis harus memenuhi kebutuhan dan menyisakan sisa yang dituju. Bila mutu air berubah dan kebutuhan klor naik, dosis yang sama memberi sisa yang lebih kecil, sehingga sisa diukur ulang.

    3. Debit 4 m³/jam, dosis 2 mg/L, dan larutan 50 g/L. Berapa setelan pompa dalam mL/menit?

      See the worked solution

      4×2/50=0,164 \times 2/50 = 0{,}16 L/jam, yaitu 160 mL/jam atau sekitar 2,7 mL/menit. Angka ini setelan rencana; setelan di panel belum tentu sama dengan keluaran nyata, sehingga pompa dikalibrasi dengan tabung ukur di sisi isap.

    4. Sisa klor bebas 0,6 mg/L dan t10t_{10} 15 menit. Berapa CT?

      See the worked solution

      0,6×15=90{,}6 \times 15 = 9 mg·menit/L, dibandingkan dengan CT yang disyaratkan pedoman untuk mikroba sasaran. Waktu yang dipakai adalah t10t_{10}, bukan waktu tinggal rata-rata, karena aliran pintas memperpendek waktu kontak efektif.

    5. Air berbau kaporit tajam tetapi gagal uji bakteri. Apa penjelasan yang mungkin, dan apa yang diukur?

      See the worked solution

      Klor bereaksi dengan amonia menjadi kloramin yang berbau tetapi lemah, sehingga klor bebasnya rendah walaupun klor totalnya tinggi. Yang diukur adalah klor bebas dan klor total; dosis dinaikkan sampai melewati titik patah atau sumber amonia dicari.

    6. Mengapa air umpan RO dan efluen yang diklorinasi perlu dideklorinasi?

      See the worked solution

      Klor bebas merusak membran RO poliamida, dan klor sisa di efluen meracuni kehidupan air serta dibatasi izin pembuangan. Karbon aktif atau natrium bisulfit menghilangkannya, dengan dosis bisulfit dihitung dari sisa klor seperti pada Contoh 6.

    Revision history

    DateVersionChange
    October 30, 20262Revised to the chapter standard
    October 17, 20261First published

    How to cite

    Kurnia (2026). Sistem klorinasi: kebutuhan dan dosis klor, klor bebas dan terikat, titik patah, waktu kontak dan CT, larutan hipoklorit dan pompa dosis, deklorinasi, dan keselamatan. ARSTEMA Academy. Revised October 30, 2026. arstema.com/academy/konsep/sistem-klorinasi-kebutuhan-dan-dosis-klor-klor-bebas-dan-terikat-titik-patah-waktu-kontak-dan-ct-larutan-hipoklorit-dan-pompa-dosis-deklorinasi-dan-keselamatan

    Self-check · 3 questions

    Check your understanding before moving on

    Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.

    0/3rated

    Safety limits still apply. This quiz tests reasoning; it doesn’t authorize mixing, adjusting, dismantling, live measurement, or field action.

    1

    Debit 40 m³/hari dengan dosis 1,5 mg/L dan larutan 120 g/L. Berapa gram klorin dan berapa liter larutan per hari?

    2

    Kebutuhan klor 0,9 mg/L dan sisa yang dituju 0,4 mg/L. Berapa dosisnya?

    3

    Debit 4 m³/jam, dosis 2 mg/L, dan larutan 50 g/L. Berapa setelan pompa dalam mL/menit?

    Self-assessment progress0%

    Nearby chapters