Skip to content

Search ARSTEMA

Type a chapter, term, symptom, or tool.

    Back to the atlas
    Chemical Dispensing · Chapter 1Applied

    By Kurnia · Published September 30, 2026 · Revised October 29, 2026 · Version 3 · 24 min read

    Dispenser peristaltik: instalasi, sinyal pemicu, kalibrasi, dan verifikasi dosis

    Dispenser terprogram mengubah formula di atas kertas menjadi volume bahan kimia yang benar-benar masuk ke mesin cuci. Bab ini menjelaskan cara kerja pompa peristaltik dan selangnya, susunan instalasi dari jeriken sampai titik injeksi, sinyal pemicu dari mesin, serta hubungan antara laju alir, waktu pompa, dan dosis. Contoh kerja memperlihatkan cara menghitung laju alir dari kalibrasi, menilai deviasi hasil verifikasi terhadap toleransi, dan merekonsiliasi catatan dispenser dengan pemakaian jeriken. Pembaca juga belajar mengenali penyimpangan dosis yang terjadi perlahan, membedakan kesalahan alat dari kesalahan formula, dan menerapkan kondisi berhenti saat menangani bahan kimia pekat dan perangkat bertegangan.

    This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.

    High-risk material

    This material involves real hazards. A concept explanation doesn’t replace site procedures, competency, energy isolation, the latest SDS, or a work permit.

    Section you’re reading: Chapter opening

    Sebuah laundry hotel memakai formula yang sama selama berbulan-bulan. Pada bulan ketiga, supervisor mencatat seprai putih mulai tampak abu-abu dan pembelian cairan alkali naik, padahal jumlah beban harian tidak banyak berubah. Layar dispenser menunjukkan setiap program berjalan lengkap dan total pemakaian alkali sesuai perkiraan, sedangkan petugas gudang mencatat jeriken alkali habis lebih cepat daripada angka di layar. Kedua catatan tidak mungkin sama-sama menggambarkan volume yang benar-benar keluar.

    Angka di layar dihitung dari lama pompa berjalan dan laju alir yang pernah dikalibrasi, bukan dari volume yang diukur ulang setiap siklus. Ketika selang aus, sambungan bocor, atau kondisi isap berubah, angka itu tetap tampak rapi sementara volume nyata bergeser.

    Batas pembahasan

    Bab ini mengikuti jalur bahan kimia dari jeriken sampai titik injeksi pada dispenser peristaltik laundry dengan tiga pertanyaan: berapa volume yang seharusnya keluar, berapa yang benar-benar keluar, dan bukti apa yang membedakan keduanya. Laundry sebagai sistem dibahas di Bab 1 · Laundry, kalibrasi dan ketidakpastian di Bab 1 · Data & Pengukuran, dan penskalaan dosis terhadap beban di Bab 12 · Laundry.

    Angka volume, waktu, dan laju alir di sini bukan setelan pabrikan, dosis produk, atau batas kerja perangkat tertentu. Formula dan dosis nyata mengikuti rekomendasi pemasok bahan kimia, manual mesin cuci, dan manual dispenser yang dipakai di lokasi. Bab ini tidak memberi resep mencampur bahan kimia. Setiap bahan dipompa melalui selangnya sendiri; pada sistem yang membawa bahan kimia dengan air melalui manifold, bahan pekat dapat bertemu di manifold atau di selang bersama bila pembilasan jalur tidak cukup, sehingga urutan injeksi dan air bilas jalur harus mengikuti manual dispenser. Dispenser menangani bahan kimia pekat dan bekerja dengan listrik jala-jala, dan dua bahaya itu menentukan bagian Kondisi berhenti.

    Dosis sebagai hasil kali laju alir dan waktu

    Dispenser peristaltik yang umum di laundry tidak mengukur volume secara langsung. Perangkat menyimpan laju alir (flow rate), yaitu volume yang dipindahkan pompa per satuan waktu, lalu menghitung berapa lama pompa harus berjalan agar volume yang diminta formula tercapai:

    V=Q×tV = Q \times t

    Di sini VV adalah volume yang dikeluarkan dalam mililiter, QQ laju alir dalam mililiter per detik, dan tt lama pompa berjalan dalam detik. Rumus ini menganggap laju alir tetap, anggapan yang cukup dekat untuk pompa yang sudah terisi penuh (primed) tetapi tidak berlaku pada detik-detik awal ketika selang isap masih berisi udara.

    Karena dispenser menyimpan QQ dan menghitung tt, kesalahan pada QQ menjadi kesalahan dosis dengan persentase yang sama, sementara layar tetap menampilkan volume yang diminta; karena itu, kalibrasi diulang berkala selama dispenser dipakai, tidak berhenti pada hari pemasangan. Dosis juga dibaca terhadap beban, karena formula disusun untuk massa beban kering acuan lalu diskalakan terhadap beban aktual (Contoh 6).

    Pompa peristaltik dan selangnya

    Pompa peristaltik (peristaltic pump) adalah pompa yang mendorong cairan dengan meremas selang elastis. Rotor membawa beberapa rol atau sepatu yang menekan selang ke dinding rumah pompa; setiap rol menjepit selang hingga tertutup dan mendorong kantong cairan di depannya, lalu selang kembali bulat dan menarik cairan baru dari sisi isap. Cairan hanya menyentuh bagian dalam selang, sehingga pompa tidak memiliki katup atau perapat poros yang bersentuhan dengan bahan kimia, dan karena itu lazim dipakai untuk bahan korosif dengan dosis kecil.

    Satu putaran rotor memindahkan volume yang kira-kira tetap, yaitu volume satu kantong di antara dua rol dikalikan jumlah rol, sehingga laju alir sebanding dengan kecepatan putar:

    Q=Vr×n60Q = V_r \times \frac{n}{60}

    Dengan VrV_r volume per putaran dalam mililiter dan nn kecepatan putar dalam putaran per menit, QQ diperoleh dalam mililiter per detik. Rumus ini juga menjelaskan mengapa laju alir nyata bergeser: selang yang mulai lelah kembali bulat lebih lambat, cairan yang lebih kental mengisi selang lebih lambat, dan kebocoran udara kecil di sisi isap membuat sebagian kantong berisi udara. Ketiganya menurunkan VrV_r sementara motor tetap berputar, sehingga layar tidak memberi tanda apa pun; kecepatan nn sendiri dapat berubah bila tegangan suplai turun atau motor aus. Jepitan rol juga menahan cairan ketika pompa berhenti, dan menjadi tidak rapat bila selang, rol, atau rumah pompa aus atau selang terpasang tidak pada posisinya.

    Selang di dalam kepala pompa (squeeze tube) adalah komponen yang paling cepat aus, karena ditekan dan dilepas ribuan kali setiap hari sambil berisi bahan kimia pekat. Silikon lentur dan tahan lenturan berulang, tetapi kurang tahan terhadap bahan yang sangat basa, sangat asam, atau oksidator kuat. Selang elastomer termoplastik tahan kimia lebih kaku, tetapi jauh lebih tahan terhadap alkali pekat, pemutih, dan sebagian pelarut, sehingga dianjurkan untuk jalur alkali dan pemutih. Pilihan bahan selang tidak boleh diputuskan dari nama produk kimia, tetapi dari komposisi pada lembar data keselamatan (safety data sheet, SDS), yang cara membacanya dibahas di Bab 10 · Kimia, dan tabel kecocokan dari produsen selang atau dispenser.

    Selang yang mulai rusak biasanya memberi tanda sebelum pecah: laju alir hasil kalibrasi turun, permukaannya kusam, retak halus, atau lengket, selang terasa lebih keras, atau ada rembesan di sekitar kepala pompa. Patokan praktiknya adalah penggantian preventif setiap 6 sampai 12 bulan, tergantung intensitas pemakaian dan jenis bahan, tetapi tren laju alir pada catatan kalibrasi memberi dasar yang lebih kuat untuk menentukan kapan selang di lokasi tertentu perlu diganti.

    Instalasi dari jeriken sampai titik injeksi

    Permukaan cairan di jeriken diletakkan lebih rendah daripada dispenser dan titik injeksi, sehingga gravitasi tidak mendorong cairan menuju mesin ketika pompa berhenti. Yang menentukan sifon adalah beda tinggi antara permukaan cairan dan ujung keluaran, bukan posisi dispenser: bila titik injeksi lebih rendah daripada permukaan cairan, jepitan rol yang aus tetap dapat membuat cairan tersifon walaupun jeriken berada di bawah dispenser. Lubang tutup tempat selang masuk harus rapat untuk mencegah penguapan dan masuknya kotoran atau uap bahan lain, dan baki penampung di bawah jeriken menahan rembesan sebelum mencapai lantai kerja.

    Ujung selang isap di dalam jeriken dipasangi foot valve, yaitu katup satu arah dengan saringan. Katup ini menahan cairan tetap di selang ketika pompa berhenti, sehingga dosis berikutnya tidak mulai dari selang kosong, sedangkan saringannya menahan kotoran yang dapat mengganggu jepitan rol. Foot valve yang bocor atau tersumbat menurunkan laju alir walaupun pompa tidak rusak, sehingga katup ini diperiksa lebih dahulu ketika hasil kalibrasi menurun. Selang isap dibuat lurus dan pendek agar selang pompa terisi penuh pada setiap langkah.

    Dispenser dipasang pada dinding yang kokoh, mudah dijangkau untuk perawatan, dan jauh dari panas pengering, sinar matahari langsung, serta percikan air. Sumber listriknya sebaiknya terpisah dari peralatan berdaya besar dan berpentanahan baik, dengan penstabil tegangan untuk melindungi papan kendali dari lonjakan dan penurunan tegangan.

    Jalur keluaran dibuat sependek mungkin, tanpa tekukan tajam, dan tidak menanjak jauh di atas pompa, karena hambatan jalur yang panjang dan menanjak membuat laju alir saat operasi berbeda dari saat kalibrasi. Patokan praktiknya adalah jarak dispenser ke mesin tidak lebih dari sekitar 2 m, dengan selang keluaran 1/4 inci atau berdiameter dalam 6 mm dan diameter luar 9 mm; bila lebih jauh, bahan kimia dibawa dengan bantuan air melalui flush manifold. Selang keluaran dibuat melingkar (looping) untuk menahan kolom bahan kimia ketika pompa berhenti, sehingga cairan tidak mengalir balik dan jalur tetap terisi tanpa udara. Setiap selang diberi label isinya pada kedua ujung.

    Titik injeksi dipilih sesuai petunjuk pabrikan mesin cuci, biasanya kompartemen sabun atau manifold khusus yang dibilas air masuk, agar bahan pekat segera terencerkan dan tidak tertahan pada logam mesin. Selang tidak boleh diarahkan untuk menyemprotkan bahan pekat langsung ke drum atau ke linen kering; pemutih pekat yang mengenai kain sebelum terencerkan dapat meninggalkan kerusakan setempat yang tidak dapat diperbaiki. Bila dispenser memakai air untuk membilas jalur, sambungan airnya sekurang-kurangnya dipasangi check valve agar bahan kimia tidak mengalir balik ke jaringan air bersih. Peraturan air setempat dapat mensyaratkan pemutus aliran balik yang lebih tinggi, misalnya celah udara, sehingga persyaratan lokal perlu diperiksa.

    Sinyal pemicu dan pemetaan pompa

    Mesin cuci mengirim sinyal ketika memasuki tahap tertentu, dan dispenser menjalankan pompa yang dipetakan ke sinyal itu, sehingga bahan kimia diinjeksikan bertahap sesuai tahap siklus. Manual sebagian mesin menamai keluaran pemicunya dengan kode supply atau chemical bernomor, dan kontroler sebagian mesin dapat menahan hitungan waktu langkah untuk menunggu penambahan bahan kimia.

    Bentuk sinyalnya bergantung pada mesin: tegangan, misalnya 24 V DC atau tegangan AC, kontak kering berupa penutupan relai, atau komunikasi serial pada mesin yang lebih baru. Masukan dispenser harus sesuai dengan jenis dan besar tegangan keluaran mesin, dan lazimnya dipisahkan secara listrik dari rangkaian mesin melalui komponen isolasi seperti optocoupler (Bab 2 · Kelistrikan & Kendali membahas sensor, sinyal, dan relai). Salah membaca jenis sinyal dapat merusak masukan dispenser atau keluaran mesin, sehingga penyambungan mengikuti skema kedua perangkat. Bahan kimia seharusnya masuk ketika ada air di drum atau air sedang diisi, dan sinyal yang tertahan atau bergetar saat relai berpindah dapat terbaca sebagai dua pemicu, sehingga penundaan dan penguncian ulang dispenser disesuaikan dengan perilaku sinyal mesin.

    Pemetaan pompa (pump mapping) adalah penetapan satu bahan kimia untuk setiap pompa, misalnya pompa 1 selalu alkali dan pompa 2 deterjen, beserta kombinasi pompa yang dipanggil setiap sinyal; satu jenis dispenser, misalnya, menyimpan sepuluh program formula untuk jenis linen yang berbeda. Bila selang alkali dan penetral tertukar di sisi jeriken, dispenser tetap melaporkan setiap pompa bekerja normal, sementara linen menerima penetral di cuci utama dan alkali di bilas akhir. Karena itu, pemetaan diverifikasi secara fisik: telusuri setiap selang dari jeriken ke pompa, cocokkan label, uji setiap pompa dengan pemicu manual, dan periksa pH cairan yang keluar dengan kertas indikator, karena pompa yang berputar hanya membuktikan sinyalnya, sedangkan pH membuktikan isi selangnya.

    Kalibrasi laju alir

    Kalibrasi laju alir adalah penetapan laju alir nyata setiap pompa dengan bahan kimia yang benar-benar dipakai. Penampungan bahan kimia pekat memerlukan alat pelindung diri (APD) dan persiapan pada Kondisi berhenti 9. Prosedurnya tiga langkah. Pertama, jalankan fungsi prime atau uji sampai selang isap dan keluaran terisi penuh tanpa gelembung. Kedua, arahkan ujung selang keluaran ke gelas ukur bersih, dengan ujung selang dijaga sedekat mungkin dengan ketinggian kerjanya. Ketiga, jalankan pompa dari menu kalibrasi dan hentikan tepat ketika cairan mencapai garis volume sasaran, misalnya 100 mL; dispenser menghitung laju alir dari waktunya, atau tanpa menu itu waktu diukur dengan pencatat waktu dan Q=V/tQ = V/t dihitung sendiri. Pada sistem flush manifold, cairan di ujung jalur sudah bercampur air pembilas, sehingga kalibrasi dilakukan pada keluaran pompa sebelum manifold atau dengan tabung kalibrasi di sisi isap.

    Dengan gelas ukur yang sama, kesalahan membaca garis dan menghentikan pompa kira-kira tetap besarnya berapa pun volume yang ditampung, sehingga pada volume kecil kesalahan itu menjadi persentase yang besar (Latihan 4; cara menyatakan ketidakpastian dibahas di Bab 1 · Data & Pengukuran). Volume minimal yang dipakai adalah 100 mL.

    Kalibrasi dilakukan dengan bahan kimia yang sama pada suhu ruang kerja biasa, karena kekentalan berubah terhadap suhu dan berbeda antarproduk. Kalibrasi diulang setiap kali selang pompa diganti, produk kimia berganti, atau jalur isap dan keluaran diubah, serta berkala; verifikasi dianjurkan mingguan sampai bulanan, dan tren catatan kalibrasi menunjukkan perlu tidaknya jadwal itu dirapatkan.

    Verifikasi dengan pemicu manual

    Kalibrasi mengukur laju alir, sedangkan verifikasi (verification) memeriksa volume total yang keluar untuk satu tahap program. Teknisi menekan tombol tahap yang diuji, misalnya cuci utama, pada perangkat pemicu manual yang meniru sinyal mesin cuci, menampung seluruh cairan yang keluar, lalu membandingkan volumenya dengan volume program. Toleransinya ±5 persen; di luar itu pompa dikalibrasi ulang.

    δ=Vukur−VprogramVprogram×100%\delta = \frac{V_{ukur} - V_{program}}{V_{program}} \times 100\%

    Deviasi δ\delta dihitung dari volume tampungan VukurV_{ukur} dan volume program VprogramV_{program}, keduanya dalam mililiter; nilai negatif berarti dosis kurang, dan positif berarti dosis lebih. Bila gelas ukur yang sesuai tidak tersedia, massa tampungan ditimbang dan diubah menjadi volume dengan densitas produk dari SDS bagian sifat fisika, V=m/ρV = m/\rho. Menganggap densitas alkali pekat sama dengan air, 1 g/mL, membuat hasil verifikasi meleset sebesar selisih densitasnya dan dapat menutupi penyimpangan yang sebenarnya. Verifikasi yang lulus juga belum membuktikan formula benar: ketepatan volume untuk beban, air sadah, atau kotoran berat adalah pertanyaan formula dan mutu hasil, yang dibahas di Bab 12 · Laundry tentang desain program dan Bab 18 · Laundry tentang mutu cucian.

    Penyimpangan dosis yang terjadi perlahan

    Penyimpangan bertahap (drift) adalah perubahan perlahan pada perilaku alat ukur atau alat dosis, sehingga hasilnya menjauh dari kondisi saat kalibrasi. Pada dispenser peristaltik, penyebabnya adalah selang yang lelah, foot valve yang bocor atau tersumbat, sambungan isap yang menarik udara, perubahan kekentalan atau kecepatan motor, dan perubahan tinggi cairan di jeriken ketika isinya berkurang. Pada jalur pemutih klorin dan peroksida, gas yang terlepas dari larutan dapat membentuk kantong udara di selang isap dan ikut menurunkan laju alir.

    Penyimpangan yang paling menyulitkan tidak drastis: dosis bergeser sedikit demi sedikit, dan hasil cucian masih tampak aman selama penyimpangannya kecil. Dalam proses yang diulang ratusan kali per bulan, penyimpangan kecil yang searah menjadi selisih pemakaian yang besar dan perubahan mutu yang lambat, dan menanggapinya dengan menambah dosis atau menaikkan suhu makin menyembunyikan sumbernya. Penyimpangan dikenali dari log kalibrasi yang memuat tanggal, pompa, bahan kimia, laju alir, dan nama pelaksana: laju alir yang turun dari bulan ke bulan menunjukkan selang atau jalur isap memburuk, deviasi verifikasi yang selalu bertanda sama menunjukkan kesalahan sistematis, dan selisih antara layar dan jeriken menunjukkan bahan kimia yang bergerak di luar perhitungan dispenser.

    Contoh kerja

    Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya. Penampungan bahan kimia selalu mengikuti APD dan Kondisi berhenti 9.

    Contoh 1: dari laju alir ke waktu pompa. Sebuah pompa alkali dikalibrasi dengan gelas ukur 250 mL dan berjalan 96 detik sampai cairan mencapai garis 250 mL:

    Q=Vt=25096≈2,604 mL/sQ = \frac{V}{t} = \frac{250}{96} \approx 2{,}604\ \text{mL/s}

    Dispenser menyimpan 2,60 mL/s dan untuk formula 350 mL alkali menghitung waktu pompa t=V/Q=350/2,60≈134,6t = V/Q = 350/2{,}60 \approx 134{,}6 detik. Tiga bulan kemudian selang telah lelah dan laju alir nyata tinggal 2,35 mL/s, sementara dispenser masih menyimpan 2,60 mL/s. Pompa tetap berjalan 134,6 detik, sehingga volume yang keluar 2,35×134,6≈316,32{,}35 \times 134{,}6 \approx 316{,}3 mL, kurang sekitar 33,7 mL atau 9,6 persen, sedangkan layar tetap menampilkan 350 mL.

    Contoh 2: merekonsiliasi layar dengan jeriken. Selama satu bulan, dispenser laundry hotel pada pembuka melaporkan pemakaian alkali 42,0 L. Catatan gudang menunjukkan stok awal 0 L, dua jeriken berisi 25 L dibuka, dan sisa akhir bulan 1,0 L, sehingga pemakaian fisiknya 2×25−1,0=49,02 \times 25 - 1{,}0 = 49{,}0 L dan selisih relatifnya

    49,0−42,042,0×100%≈+16,7%\frac{49{,}0 - 42{,}0}{42{,}0} \times 100\% \approx +16{,}7\%

    Satuan isi jeriken dipastikan lebih dahulu: bila jeriken berisi 25 kg dan densitas produk 1,25 g/mL, setiap jeriken hanya berisi 20 L, pemakaian fisiknya 2×20−1,0=39,02 \times 20 - 1{,}0 = 39{,}0 L, dan tanda selisihnya berbalik. Bila isi 25 L sudah pasti, setiap hipotesis memprediksi bukti yang berbeda (Bab 3 · Sistem, Diagram & Diagnosis tentang hipotesis). Laju alir nyata yang lebih besar, misalnya karena selang baru tanpa kalibrasi ulang, memberi deviasi positif pada verifikasi. Rembesan atau aliran saat pompa berhenti meninggalkan cairan di kepala pompa, sambungan, atau baki, dan menurunkan tinggi cairan jeriken semalam tanpa program berjalan. Penambahan manual untuk cuci ulang membuat selisih berkaitan dengan hari atau giliran tertentu. Volume prime, kalibrasi, dan verifikasi yang tidak dihitung sebagai dosis mendekati catatan perawatan (Contoh 5), dan catatan gudang yang keliru tertutup oleh hitung ulang stok.

    Laju alir berlebih saja kurang cocok dengan keluhan mutu, karena dosis alkali berlebih lebih sering tampak sebagai residu atau kerak mineral pada air sadah, bukan sebagai daya cuci yang kurang. Kekurangan dosis di drum memerlukan mekanisme tambahan, misalnya selang aus yang menurunkan volume per putaran sekaligus tidak lagi menjepit rapat, dengan rembesan terbuang ke lantai atau saluran. Penalaran ini belum membuktikan apa pun, tetapi menetapkan urutan pemeriksaan: inspeksi kebocoran, tinggi cairan jeriken semalam, dan verifikasi pompa alkali, sebelum formula atau suhu diubah.

    Contoh 3: dua penyebab, satu laju alir. Pompa alkali di laundry sebuah rumah sakit bervolume 1,5 mL per putaran dan berputar 100 rpm:

    Q=Vr×n60=1,5×10060=2,5 mL/sQ = V_r \times \frac{n}{60} = 1{,}5 \times \frac{100}{60} = 2{,}5\ \text{mL/s}

    Kalibrasi tiga bulan kemudian memberi 2,3 mL/s, turun 8 persen. Selang yang lelah dapat menurunkan VrV_r menjadi 1,38 mL, dan tegangan yang turun dapat menurunkan nn menjadi 92 rpm; keduanya menghasilkan Q=2,3Q = 2{,}3 mL/s, sehingga kalibrasi saja tidak membedakannya. Pembedanya kecepatan putar: bila nn tetap 100 rpm, selang, foot valve, dan sambungan isap diperiksa; bila nn turun, tegangan suplai dan motor. Laju alir baru disimpan sesudah penyebabnya diperbaiki dan pompa dikalibrasi ulang.

    Contoh 4: layar dan jeriken sama-sama naik. Laundry sebuah hotel mencatat 280 bilas akhir dalam sebulan dengan program penetral 140 mL, sehingga rencananya 280×140 mL=39,2280 \times 140\ \text{mL} = 39{,}2 L. Layar menunjukkan 43,1 L dan jeriken turun 42,9 L: kedua catatan sepakat, tetapi sama-sama sekitar 10 persen di atas rencana. Laju alir yang bergeser tidak menjelaskan pola ini, karena layar menghitung dari laju alir tersimpan; yang cocok adalah pompa yang berjalan lebih lama atau lebih sering, misalnya karena formula diubah atau pemicu ganda. Untuk pemicu ganda:

    43,1−39,20,140≈28 kali tambahan\frac{43{,}1 - 39{,}2}{0{,}140} \approx 28\ \text{kali tambahan}

    atau sekitar 10 persen siklus, masing-masing dengan deviasi +100 persen. Verifikasi dengan pemicu manual akan lulus karena tombol uji memberi sinyal bersih, sehingga yang diperiksa adalah perilaku sinyal mesin serta setelan penundaan dan penguncian ulang dispenser.

    Contoh 5: volume perawatan dalam rekonsiliasi. Pada Contoh 2, selisih jeriken terhadap layar 49,0−42,0=7,049{,}0 - 42{,}0 = 7{,}0 L. Catatan perawatan bulan itu memuat empat kalibrasi 250 mL, empat verifikasi cuci utama 350 mL, dan dua kali prime 150 mL setelah jeriken diganti. Bila semua cairan itu keluar dari jeriken tanpa dihitung sebagai dosis:

    Vrawat=4×250+4×350+2×150=2 700 mLV_\text{rawat} = 4 \times 250 + 4 \times 350 + 2 \times 150 = 2\,700\ \text{mL}

    Volume perawatan menjelaskan 2,7 L, atau 39 persen selisih. Sisa 4,3 L, sekitar 10 persen dari angka layar, masih memerlukan hipotesis lain, sehingga inspeksi kebocoran dan verifikasi pompa alkali tetap dijalankan; volume perawatan sebaiknya dicatat di log kalibrasi.

    Contoh 6: dispenser akurat, rasio salah. Laundry sebuah rumah sakit memakai program alkali 350 mL untuk beban acuan 70 kg, dan verifikasi pompanya lulus dengan deviasi +2 persen. Pada giliran malam, mesin yang sama diisi 35 kg linen dengan program yang sama:

    350 mL70 kg=5 mL/kg,350 mL35 kg=10 mL/kg\frac{350\ \text{mL}}{70\ \text{kg}} = 5\ \text{mL/kg}, \qquad \frac{350\ \text{mL}}{35\ \text{kg}} = 10\ \text{mL/kg}

    Linen menerima dua kali bahan per kilogram walaupun dispenser bekerja benar; bila mesin menurunkan level air menurut beban, konsentrasi di bak juga naik. Memotong dosis separuh pun belum tentu benar, karena sebagian dosis membangun konsentrasi di air (Bab 12 · Laundry tentang penskalaan dosis), sehingga keputusannya ada pada formula dan program per ukuran muatan, bukan pada kalibrasi pompa.

    Kondisi berhenti

    Bila salah satu keadaan 1 sampai 6 ditemukan, hentikan pekerjaan dan amankan area; butir 7 sampai 9 menyebut tindakannya sendiri. Penanganan lanjutan dilakukan oleh personel berwenang menurut SDS produk dan prosedur lokasi.

    1. Tercium bau klorin atau uap tajam di sekitar dispenser.
    2. Ada tetesan pada kepala pompa, sambungan, atau lantai di bawah jeriken.
    3. Selang pompa tampak retak, menggelembung, atau berubah warna.
    4. Label jalur hilang atau tidak cocok dengan isi jeriken.
    5. Selang keluaran terlepas dari titik injeksi.
    6. Bahan kimia terus mengalir atau menetes setelah pompa berhenti, tanda jepitan rol yang tidak rapat dan sifon. Dengan APD, hentikan atau tampung tetesan dengan aman dan turunkan jeriken sampai permukaan cairannya berada di bawah titik injeksi; selang dan rol diperiksa, lalu pompa dikalibrasi ulang sebelum dipakai.
    7. Jangan menjalankan pompa dengan ujung keluaran tertutup, terjepit, atau tertekuk. Pompa peristaltik terus mendorong cairan tanpa katup pelepas tekanan, sehingga tekanan naik sampai selang atau sambungan pecah dan menyemburkan bahan pekat.
    8. Rumah dispenser atau terminal sinyal perlu dibuka. Isolasi energi dan uji ketiadaan tegangan dilakukan lebih dulu pada dispenser dan mesin cuci, karena kabel sinyal dari mesin cuci dapat tetap bertegangan, termasuk tegangan jala-jala, walaupun dispenser sudah dicabut dari stopkontak. Penyambungan dan perbaikan kabel sinyal hanya dikerjakan oleh orang yang berwenang, mengikuti prosedur isolasi energi yang berlaku di lokasi; energi tersimpan dan isolasinya dibahas di Bab 1 · Keselamatan.
    9. Kalibrasi atau verifikasi akan dimulai, padahal APD sesuai SDS setiap produk (Bab 10 · Kimia), sekurang-kurangnya sarung tangan tahan kimia, pelindung mata, dan celemek tahan kimia, belum dipakai, atau pencuci mata darurat dan penampung tumpahan belum tersedia: jangan mulai. Pakai gelas ukur berlabel khusus untuk setiap bahan, atau bilas tuntas sebelum dipakai untuk bahan lain. Tangani hasil tampungan sesuai SDS dan prosedur lokasi, dan jangan pernah menuangnya ke jeriken bahan lain.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    Guess what’s wrong first, then open the explanation.

    Common misconception

    Volume di layar adalah volume yang diukur.

    Why is it wrong?

    Layar menampilkan hasil perhitungan dari waktu dan laju alir tersimpan, dan angka itu akurat hanya selama laju alir nyata sama dengan yang tersimpan (Contoh 1).

    Common misconception

    Kalibrasi saat pemasangan berlaku selamanya.

    Why is it wrong?

    Selang pompa berubah sifat sejak hari pertama dipakai, sehingga laju alir bergeser tanpa pesan galat.

    Common misconception

    Mutu cucian turun, jadi dosis program dinaikkan.

    Why is it wrong?

    Bila penyebabnya pompa yang mengeluarkan kurang dari yang diminta, menaikkan angka program hanya menambal gejala dan membuat formula tercatat tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika selang diganti dan laju alir kembali normal, dosis nyata melonjak melebihi kebutuhan.

    Common misconception

    Beberapa bahan kimia boleh ditampung atau dicampur di satu wadah karena semuanya nanti bertemu di mesin juga.

    Why is it wrong?

    Di mesin, bahan masuk ke air proses dan terencerkan; di wadah, bahan pekat bertemu bahan pekat. Campuran pemutih klorin dengan bahan asam dapat melepaskan gas klorin, dan peroksida pekat dengan alkali pekat dapat bereaksi keras dengan panas dan gas.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 8 · Kimia tentang konsentrasi menjelaskan arti volume dosis di air proses, Bab 10 · Kimia tentang SDS mendasari pemilihan selang, APD, dan densitas, dan Bab 1 · Fluida & Termal tentang tekanan dan debit menjelaskan beda tinggi dan hambatan selang. Di rak Laundry, bab ini berpasangan dengan Bab 6 · Laundry tentang kimia pembersih, Bab 9 · Laundry tentang pH sepanjang siklus, Bab 12 · Laundry tentang penskalaan dosis, Bab 20 · Laundry tentang konsistensi operasi, dan Bab 2 dan Bab 3 tentang dispenser venturi dan kontroler dispenser.

    Latihan dan pembahasan

    Untuk setiap soal, tuliskan rumus, satuan, dan asumsi yang dipakai.

    Try to answer first, then open the worked solution.

    1. Pompa deterjen dikalibrasi dengan menampung 200 mL dalam 64 detik. Hitung laju alirnya, lalu waktu pompa untuk dosis 280 mL.

      See the worked solution

      Laju alirnya Q=V/t=200/64=3,125Q = V/t = 200/64 = 3{,}125 mL/s, sehingga waktu pompa untuk 280 mL adalah t=V/Q=280/3,125=89,6t = V/Q = 280/3{,}125 = 89{,}6 detik. Sebagai pemeriksaan kewajaran, 280 mL adalah 1,4 kali 200 mL, sehingga waktunya 1,4×64=89,61{,}4 \times 64 = 89{,}6 detik.

    2. Dispenser menyimpan laju alir 3,00 mL/s untuk pompa pelembut, tetapi kalibrasi ulang menunjukkan 2,70 mL/s. Program meminta 160 mL. Berapa volume yang benar-benar keluar sebelum kalibrasi diperbarui, dan berapa deviasinya?

      See the worked solution

      Dispenser menghitung waktu dari laju alir tersimpan, t=160/3,00≈53,3t = 160/3{,}00 \approx 53{,}3 detik, sehingga volume nyatanya 2,70×53,3≈1442{,}70 \times 53{,}3 \approx 144 mL. Deviasinya (144−160)/160×100%=−10%(144 - 160)/160 \times 100\% = -10\%, di luar toleransi ±5 persen; tanda negatifnya mengikuti arah turunnya laju alir, sehingga kalibrasi diperbarui dan selang atau foot valve diperiksa.

    3. Verifikasi pompa penetral dengan timbangan menghasilkan 150 g untuk program 140 mL, dan SDS mencantumkan densitas 1,05 g/mL. Hitung volume nyata dan deviasinya. Apa kesimpulannya bila densitas dianggap 1 g/mL?

      See the worked solution

      Volume nyatanya V=m/ρ=150/1,05≈142,9V = m/\rho = 150/1{,}05 \approx 142{,}9 mL, dan deviasinya (142,9−140)/140×100%≈+2,0%(142{,}9 - 140)/140 \times 100\% \approx +2{,}0\%, masih di dalam toleransi. Bila densitas dianggap 1 g/mL, volume terbaca 150 mL dan deviasinya +7,1%+7{,}1\%, sehingga pompa yang sebenarnya baik dinilai gagal; densitas harus diambil dari SDS.

    4. Pada kalibrasi dengan gelas ukur yang sama, pembacaan dapat meleset 3 mL. Bandingkan ketidakpastian relatif bila kalibrasi memakai 100 mL dan 300 mL, dan jelaskan mengapa volume yang lebih besar lebih baik.

      See the worked solution

      Dengan 100 mL, ketidakpastian relatifnya 3/100=3%3/100 = 3\%, dan dengan 300 mL, 3/300=1%3/300 = 1\%. Kesalahan baca pada gelas ukur yang sama kira-kira tetap, sehingga volume besar membuatnya menjadi bagian yang lebih kecil dari hasil; ketidakpastian 3 persen sudah memakai lebih dari separuh toleransi ±5 persen.

    5. Dispenser terus meneteskan pemutih dari ujung keluaran selama beberapa menit setelah pompa berhenti. Jeriken berada di rak setinggi dada, dengan permukaan cairan lebih tinggi daripada titik injeksi. Jelaskan dua penyebab yang mungkin dan tindakan pertama.

      See the worked solution

      Penyebab yang mungkin adalah jepitan rol yang tidak rapat karena selang atau rol aus, dan permukaan cairan jeriken yang lebih tinggi daripada titik injeksi, sehingga cairan tersifon melewati jepitan yang bocor; keduanya saling memperkuat. Tindakan pertama adalah menghentikan penggunaan, mengenakan APD, menghentikan atau menampung tetesan dengan aman, dan menurunkan jeriken sampai permukaan cairannya berada di bawah titik injeksi. Setelah itu selang dan rol diperiksa, lalu pompa dikalibrasi ulang sebelum dipakai.

    6. Selama sebulan, layar dispenser mencatat pemakaian pelembut 30,0 L, sedangkan pemakaian fisik jeriken 26,4 L. Hitung selisih relatifnya, lalu susun dua hipotesis beserta satu bukti pembeda untuk masing-masing.

      See the worked solution

      Selisih relatifnya (26,4−30,0)/30,0×100%=−12%(26{,}4 - 30{,}0)/30{,}0 \times 100\% = -12\%, jadi jeriken mengeluarkan lebih sedikit daripada angka layar. Hipotesis pertama, laju alir nyata lebih kecil daripada yang tersimpan, dibedakan dengan verifikasi yang berdeviasi negatif. Hipotesis kedua, program tercatat berjalan tetapi pompa tidak mengalirkan cairan karena selang isap kosong atau foot valve tersumbat, dibedakan dengan memeriksa jalur isap dan mengamati aliran saat sinyal bilas akhir datang.

    Revision history

    DateVersionChange
    October 29, 20263Revised to the chapter standard
    October 20, 20262Expanded in wave R10: worked examples, stop conditions, and cross-chapter references
    September 30, 20261First published

    How to cite

    Kurnia (2026). Dispenser peristaltik: instalasi, sinyal pemicu, kalibrasi, dan verifikasi dosis. ARSTEMA Academy. Revised October 29, 2026. arstema.com/academy/konsep/dispenser-peristaltik-instalasi-kalibrasi-dan-verifikasi-dosis

    Self-check · 3 questions

    Check your understanding before moving on

    Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.

    0/3rated

    Safety limits still apply. This quiz tests reasoning; it doesn’t authorize mixing, adjusting, dismantling, live measurement, or field action.

    1

    Pompa deterjen dikalibrasi dengan menampung 200 mL dalam 64 detik. Hitung laju alirnya, lalu waktu pompa untuk dosis 280 mL.

    2

    Dispenser menyimpan laju alir 3,00 mL/s untuk pompa pelembut, tetapi kalibrasi ulang menunjukkan 2,70 mL/s. Program meminta 160 mL. Berapa volume yang benar-benar keluar sebelum kalibrasi diperbarui, dan berapa deviasinya?

    3

    Verifikasi pompa penetral dengan timbangan menghasilkan 150 g untuk program 140 mL, dan SDS mencantumkan densitas 1,05 g/mL. Hitung volume nyata dan deviasinya. Apa kesimpulannya bila densitas dianggap 1 g/mL?

    Self-assessment progress0%

    Nearby chapters