Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Biologi & Mikrobiologi · Bab 20Terapan

    Patogen bawaan makanan di dapur hotel: infeksi dan intoksikasi, Salmonella, Campylobacter, Escherichia coli, stafilokokus, Clostridium perfringens, Bacillus cereus, Listeria, botulisme, norovirus, hepatitis A, protozoa, dan pengendaliannya

    Kurang dari enam jam setelah makan siang resepsi pernikahan di sebuah hotel, puluhan tamu muntah dan kram perut, padahal ruang pendingin bekerja normal dan lauk sudah dipanaskan ulang. Bab ini membedakan infeksi dan intoksikasi bawaan makanan, menjelaskan mengapa sebagian toksin tidak rusak oleh pemanasan ulang, dan menyajikan tabel patogen pangan utama menurut OpenStax: sumber khas, masa inkubasi, gejala umum, sifat toksin terhadap panas, spora, dan pencegahan pokok. Bab membahas Salmonella, Campylobacter, kelompok Escherichia coli, Shigella, Staphylococcus aureus, Clostridium perfringens, Bacillus cereus, Listeria, botulisme, norovirus, hepatitis A, dan protozoa, lalu penjamah makanan yang sakit dan cara melaporkan dugaan keracunan pangan. Suhu, HACCP, dan verifikasi dirujuk ke Bab 7, dan bab ini tidak memberi anjuran pengobatan.

    22 menit
    Materi berisiko tinggi

    Materi ini menyentuh bahaya nyata. Penjelasan konsep tidak menggantikan prosedur lokasi, kompetensi, isolasi energi, SDS terbaru, atau izin kerja.

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Sebuah hotel kota melayani resepsi pernikahan untuk 400 tamu (angka latihan) dengan prasmanan pukul 12.00 sampai 13.00: nasi kuning, ayam goreng, telur balado, dan salad bermayones. Mulai pukul 14.00 sampai 18.00, 46 tamu (angka latihan) mual, muntah, dan kram perut; sebagian besar membaik esok harinya. Manajer dapur menduga ruang pendingin rusak dan memanggil teknisi, tetapi pencatat suhunya normal sepanjang malam. Catatan produksi menunjukkan hal lain: telur balado dimasak pukul 07.00 lalu dibiarkan di meja, nasi kuning dimasak pukul 05.00 di penanak yang dimatikan, seorang juru masak bekerja dengan luka bernanah di jari, dan lauk hanya "dipanaskan sebentar". Gejala yang muncul kurang dari enam jam setelah makan menunjuk ke racun yang sudah terbentuk di makanan, dan racun seperti itu tidak selalu rusak oleh pemanasan ulang.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas patogen bawaan makanan dari sisi dapur hotel: infeksi dan intoksikasi, toksin dan panas, spora, masa inkubasi, gejala umum, sumber khas, dosis infektif yang disebut OpenStax, penjamah makanan yang sakit, dan pelaporan dugaan keracunan pangan. Sumber fakta utamanya OpenStax Microbiology subbab 15.2, 15.3, dan 24.1 sampai 24.5. Batas suhu, HACCP, sanitasi, kontaminasi silang, cuci tangan, dan verifikasi ada di Bab 7 tentang sanitasi dapur. Tabel dosis infektif dan rantai penularan ada di Bab 11, norovirus dan hepatitis A sebagai virus di Bab 18, angka serangan dan kurva epidemi di Bab 19, dan model pertumbuhan di Bab 1. Data epidemiologi OpenStax adalah data Amerika Serikat. Bab ini tidak memberi diagnosis atau anjuran obat; orang sakit diarahkan ke fasilitas kesehatan, dan penyebab ditetapkan dokter, laboratorium, dan dinas kesehatan.

    Infeksi dan intoksikasi

    Penyakit bawaan makanan (foodborne illness) adalah infeksi atau intoksikasi yang berawal dari patogen atau toksin yang tertelan bersama makanan atau air yang tercemar. Menurut OpenStax, pembedanya adalah tempat toksin dibuat.

    Infeksi bawaan makanan (foodborne infection) adalah penyakit yang timbul ketika mikroba yang tertelan menempati usus, berbiak, lalu membuat toksin atau merusak sel inang. Intoksikasi bawaan makanan (foodborne intoxication) adalah penyakit yang timbul karena bakteri sudah membuat toksin di dalam makanan sebelum makanan dimakan.

    Pada keduanya toksin biasanya merusak sel yang melapisi usus besar, sehingga timbul diare dan kram perut; mual dan muntah adalah cara tubuh membuang bahan beracun. Disentri (dysentery) adalah diare berair yang disertai darah dan lendir berlebih karena sel epitel usus besar rusak. Kebanyakan penyakit ini singkat dan sembuh sendiri, tetapi diare berat dapat menyebabkan dehidrasi yang pada sebagian kasus fatal tanpa perawatan yang tepat.

    Akibat praktisnya bagi dapur (penalaran editorial dari OpenStax):

    1. Intoksikasi muncul dalam hitungan jam karena racunnya sudah ada, sedangkan infeksi memerlukan waktu berbiak di usus (Contoh 1).
    2. Pada intoksikasi bakteri tidak perlu hidup lagi; keracunan stafilokokus dipastikan dengan menemukan toksin di contoh makanan, muntahan, atau tinja.
    3. Intoksikasi dicegah dengan mencegah bakteri tumbuh di makanan; infeksi dicegah juga dengan membunuh mikroba dan memutus pencemaran.

    Toksin, panas, dan spora

    Endotoksin (endotoxin) adalah lipopolisakarida pada membran luar bakteri Gram negatif, dengan lipid A sebagai bagian yang beracun. Eksotoksin (exotoxin) adalah protein beracun yang dikeluarkan bakteri hidup, terutama bakteri Gram positif. Perbandingan OpenStax:

    SifatEndotoksinEksotoksin
    BahanLipid AProtein
    Ketahanan panasTahan; perlu 121 °C selama 45 menitKebanyakan tidak tahan, banyak yang rusak di atas 41 °C, sebagian tahan panas
    LD50Tinggi, 0,24 mg/kgRendah; toksin botulinum 0,000001 mg/kg

    Enterotoksin Staphylococcus aureus tahan asam lambung dan tidak rusak oleh perebusan pada 100 °C, sehingga toksinnya saja sudah menyebabkan muntah dan diare walaupun bakterinya mati. E. coli enterotoksigenik (ETEC) membuat enterotoksin tahan panas, dan Vibrio parahaemolyticus dari makanan laut membuat hemolisin tahan panas. Toksin botulinum justru tidak tahan panas: menurut CDC yang dikutip OpenStax, perebusan sekitar 10 menit menonaktifkannya.

    Endospora (endospore) adalah bentuk istirahat bakteri berdinding tebal yang tahan panas, kering, dan banyak disinfektan, seperti di Bab 2. Menurut OpenStax, spora Bacillus cereus selamat dari pemasakan lalu bakterinya membuat enterotoksin di makanan sesudah dipanaskan, spora Clostridium perfringens berkecambah cepat di makanan atau usus, dan spora C. botulinum baru mati pada sekurang-kurangnya 116 °C, suhu yang hanya tercapai di panci bertekanan. OpenStax tidak menyebut apakah toksin B. cereus tahan panas, sehingga sifat itu belum dapat dipastikan dari sumber bab ini per 21 Oktober 2026.

    Jadi pemanasan ulang membunuh sel vegetatif, sebagian besar spora bertahan, dan toksin tahan panas tetap ada (penalaran editorial; Contoh 4). Batas suhu penghangatan dan pemanasan ulang ada di Bab 7.

    Tabel patogen bakteri

    Tabel merangkum OpenStax 24.3, 15.3, 9.4, 13.2, dan 26.2. "Tidak dirinci" berarti OpenStax tidak memberi masa inkubasi umum. Kolom pencegahan memadukan OpenStax dengan langkah Bab 7; butir penalaran editorial dicatat di peta sumber.

    PatogenSumber khasMasa inkubasiGejala utamaToksin dan panasSporaPencegahan pokok
    SalmonellaTelur mentah dan kulitnya, unggas mentahTidak dirinci; sakit beberapa hari sampai semingguDemam, mual, kram, muntah, diareSebagian galur membuat enterotoksinTidakMasak matang, cuci tangan; tahan beku
    Campylobacter jejuniUnggas, susu tanpa pasteurisasi, airTidak dirinciDemam, diare, kram, muntahToksin CDT dan hemolisinTidakPisahkan ayam mentah
    E. coli EHEC (O157:H7)Makanan atau air tercemar, antarorangTidak dirinciDiare berdarah, kram berat, tanpa demam; dapat HUSToksin mirip ShigaTidakMasak matang, cegah pencemaran silang
    ShigellaTangan ke mulut, makanan, airTidak dirinciDemam, diare dengan nanah, lendir, atau darahToksin Shiga pada S. dysenteriae tipe 1TidakCuci tangan; penjamah diare tidak bekerja
    V. parahaemolyticusMakanan laut tercemarTidak dirinciDiare berair, mual, demam, kramHemolisin tahan panasTidakPisahkan dan dinginkan makanan laut
    S. aureusTangan, talenan, daging olahan, produk susu1 sampai 6 jam; pulih 24 sampai 48 jamMual, diare, kram, muntahEnterotoksin tahan panasTidakJangan biarkan di bawah 60 °C; tutup luka
    C. perfringensDaging kurang matangTidak dirinciKram dan diare, umumnya ringanEnterotoksinYaDinginkan cepat; masak cukup panas
    B. cereusNasi dan makanan siap saji di suhu ruangBeberapa jamMual, kram; satu toksin diare, satu muntahDibuat di makanan setelah dipanaskanYaJangan biarkan nasi di suhu ruang
    Listeria monocytogenesDaging olahan, keju lunak, susu mentah, ikan asap, sayurTidak dirinciDapat menyebar ke darah dan selaput otak; bahaya bagi janinListeriolisin OTidakRotasi stok, bersihkan biofilm alat
    C. botulinumMakanan kaleng berasam rendah yang diproses salahTidak dirinciPenglihatan kabur, sulit menelan, kelumpuhan lemasNeurotoksin sangat kuat, tidak tahan panasYa, 116 °CTolak kaleng kembung

    Sindrom uremik hemolitik (hemolytic uremic syndrome, HUS) adalah keadaan serius ketika sel darah yang rusak menumpuk di ginjal dan dapat menyebabkan gagal ginjal. Menurut OpenStax, ID50 kelompok E. coli yang tidak tercantum di Bab 11 adalah 10.000.000 sampai 10.000.000.000 untuk ETEC dan EPEC dan 200 sampai 5.000 untuk EIEC, dan ID50 V. parahaemolyticus 100.000.000. Batas bawah ETEC seratus ribu kali batas atas EHEC yang 10 sampai 100. Angka itu nilai tengah, dosis nyata sangat bervariasi, dan dosis infektif tidak sama dengan keparahan.

    Bakteri yang menginfeksi usus

    Salmonella adalah bagian mikrobiota unggas, sehingga telur dan unggas mentah menaikkan risiko; cuci tangan dan memasak sampai matang sangat menurunkan penularan. Serotipe Typhi menyebabkan demam tifoid dengan angka kematian 10 persen bila tidak diobati, dan sebagian orang membawanya tanpa gejala sambil terus mengeluarkannya di tinja. Campylobacter jejuni terutama datang dari unggas yang tercemar saat penyembelihan, dan penanganan ayam mentah mencemari permukaan, alat, dan makanan lain.

    Dari kelompok E. coli patogen, EHEC paling berbahaya karena dapat menimbulkan wabah. Toksin Shiga Shigella dysenteriae tipe 1 dan toksin mirip Shiga EHEC menyerang pembuluh darah kecil usus dan dapat mencapai ginjal; gen toksin EHEC berasal dari Shigella lewat virus bakteri. Pemilihan obat untuk penyakit ini wewenang dokter.

    Bakteri yang meracuni lewat makanan

    S. aureus sering ada di tangan dan berpindah ke makanan karena cuci tangan yang buruk dan talenan yang tercemar. Banyak orang membawanya di hidung tanpa gejala, seperti dibahas untuk infeksi kulit di Bab 21. Menurut OpenStax, risiko terbesar ada pada makanan yang dibiarkan di bawah 60 °C, dan makanan masak umumnya dipanaskan ulang sekurang-kurangnya 60 °C, mengikuti gambar USDA. Telur balado dan luka juru masak pada kasus pembuka cocok dengan pola ini, tetapi penyebabnya tetap ditetapkan laboratorium.

    B. cereus hidup di tanah, dan penyakitnya sering muncul setelah makan nasi atau makanan siap saji yang terlalu lama di suhu ruang. C. perfringens adalah bakteri anaerob pembentuk endospora yang tahan suhu tinggi dan rendah; pencegahannya pemasakan yang benar dan pendinginan cepat pada suhu yang cukup rendah.

    Botulisme (botulism) adalah penyakit yang jarang tetapi sering fatal karena neurotoksin botulinum, yang menghambat pelepasan asetilkolin sampai otot napas lumpuh. Di antara bentuk intoksikasi, yang paling sering adalah botulisme bawaan makanan, ketika toksin dibuat di makanan lalu tertelan. OpenStax mencatat wabah di Ohio tahun 2015 dari salad kentang berbahan kentang kaleng buatan rumah yang kemungkinan diproses dengan air mendidih; menurut CDC, wabah itu yang terbesar di Amerika Serikat dalam hampir 40 tahun. Kaleng yang tercemar menggembung karena gas, dan nitrit ditambahkan pada daging olahan untuk menghentikan perkecambahan spora. Sterilisasi komersial mengandaikan 101210^{12} spora per kaleng dan menurunkannya sampai 1 spora (Contoh 6), seperti dibahas di Bab 22 tentang sterilisasi.

    Listeria dan suhu dingin

    Listeria monocytogenes adalah batang Gram positif yang tidak membentuk spora, ditemukan di tanah, air, dan makanan. Berbeda dengan kebanyakan patogen pangan, Listeria tumbuh pada 0 sampai 50 °C, sehingga tetap tumbuh di makanan yang didinginkan; subbab lain menyebutnya berbiak pada suhu lemari pendingin 4 sampai 10 °C dan tahan garam sampai 10 persen natrium klorida. Pencemaran pangan komersial sering berasal dari biofilm di peralatan yang kurang bersih, yang pembersihannya ada di Bab 5.

    Kelompok berisiko adalah orang hamil, bayi baru lahir, lansia, dan orang dengan kekebalan lemah. Angka kematian di OpenStax berbeda antarsubbab, sekitar 20 persen di subbab 9.4 dan sampai 16 persen menurut CDC di subbab 26.2; yang pasti, listeriosis infeksi berat. Lemari pendingin yang menahan suhunya memperlambat pertumbuhan (Contoh 8), tetapi tidak menggantikan rotasi stok dan pembersihan; peralatan pendingin ada di Bab 9 · Utilitas.

    Virus dan protozoa bawaan makanan

    PatogenSumber khasMasa inkubasiGejala utamaBentuk tahanPencegahan pokok
    NorovirusKontak langsung, permukaan, makanan12 sampai 48 jamDiare berair, kram, demam, kadang muntah menyemburTidak mati oleh disinfektan berkadar biasa untuk bakteriCuci tangan, persiapan cermat
    Virus hepatitis AFekal-oral, kontak dekat, air atau makanan15 sampai 50 hari, rata-rata 30Lesu, urin gelap, nyeri perut kanan atas, kuningVirus tidak beramplopVaksin tersedia; penjamah sakit dilaporkan
    Giardia lambliaMakanan, air, antarorang1 sampai 3 mingguDiare, kram, gas, tinja berminyakKista tahan dingin dan klorinasiAir minum disaring
    CryptosporidiumAir, makanan, hewanTidak dirinci; pulih dalam sebulanDiare berair, mual, muntah, demamCangkang tahan klorinAir layak minum
    Cyclospora cayetanensisMakanan dan air, produk segar impor7 sampai 10 hariDiare berair menyembur, demam, kembungOokistaCuci sayur dan buah

    Isi tabel dari OpenStax 24.4, 24.5, dan 13.3. Norovirus sangat menular dan terkenal menimbulkan wabah di ruang tertutup seperti kapal pesiar, dan risikonya tetap tinggi walaupun sudah dibersihkan. Pemilihan disinfektan untuk virus ini ada di Bab 18 dan Bab 4. Virus hepatitis E juga ditularkan lewat daging kurang matang dan kerang, dan amebiasis dapat ditimbulkan oleh hanya 10 kista Entamoeba histolytica. Kista Giardia bertahan terhadap klorinasi air kota sehingga air harus disaring; uji air ada di Bab 6.

    Penjamah makanan yang sakit dan pembawa

    Penjamah makanan (food handler) adalah orang yang menyentuh bahan, makanan, atau alat makan selama penyiapan dan penyajian. Menurut OpenStax, orang yang pulih dari diare dapat terus mengeluarkan patogen di tinja dan menularkannya lewat benda atau makanan. Kasus juru masak pembawa demam tifoid Mary Mallon di Amerika Serikat awal abad ke-20 diberi dua angka: 51 kasus dan tiga kematian di subbab 24.3, dan sekurang-kurangnya 122 kasus dengan lima kematian di subbab 16.3.

    Tiga keluhan penjamah yang paling penting (penalaran editorial dari OpenStax):

    1. Diare atau muntah: norovirus, Shigella, dan Salmonella menular lewat tangan dan makanan; ID50 norovirus 1 sampai 10 partikel, seperti di Bab 11.
    2. Luka bernanah atau bisul di tangan: S. aureus masuk ke makanan, lalu tumbuh dan membuat toksin bila makanan dibiarkan.
    3. Kuning atau urin gelap: tanda hepatitis yang perlu diperiksa dokter; masa inkubasi hepatitis A panjang, sehingga penularan dapat terjadi sebelum gejala.

    Pekerja dengan keluhan itu dilaporkan dan tidak menangani makanan siap saji sampai diizinkan, seperti di Bab 7. Aturan Indonesia tentang pemeriksaan kesehatan penjamah belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 21 Oktober 2026. Pencarian menemukan Permenkes Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga, tetapi basis data peraturan BPK mencatatnya dicabut oleh Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 tentang kesehatan lingkungan, yang sendiri dicatat dicabut sebagian oleh peraturan tahun 2026. Isi pengganti tentang penjamah belum dibaca, sehingga hotel mengikuti prosedur pengelola dan dinas kesehatan setempat.

    Melapor dan menjaga bukti

    Menurut teks Permenkes Nomor 2 Tahun 2013 yang terlihat di cuplikan pencarian, kejadian luar biasa keracunan pangan (foodborne disease outbreak) adalah kejadian ketika dua orang atau lebih menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan, dan analisis epidemiologi membuktikan pangan sebagai sumbernya. Status berlaku dan batas waktu pelaporannya belum dapat dipastikan per 21 Oktober 2026. Dugaan keracunan pangan dilaporkan menurut prosedur hotel kepada pengelola, lalu kepada dinas kesehatan.

    OpenStax mencatat bahwa toksin stafilokokus dicari di contoh makanan dan B. cereus dapat diisolasi dari makanan yang belum dimakan. Akibatnya bagi teknisi dan dapur (penalaran editorial):

    1. Sisa makanan, wadah, dan label produksi tidak dibuang sebelum ada keputusan pengelola atau petugas kesehatan.
    2. Rekaman suhu pendingin, penghangat, dan bilasan mesin cuci piring disalin dan diserahkan, seperti catatan verifikasi di Bab 7.
    3. Alat yang diduga terlibat tidak diperbaiki, disetel ulang, atau dibersihkan sebelum keadaannya dicatat, kecuali untuk mencegah bahaya langsung.
    4. Teknisi tidak menyimpulkan penyebab; urutan waktu makan dan gejala diserahkan ke tim penyelidik, dan cara menyusunnya ada di Bab 19.

    Contoh kerja

    Contoh 1: membaca masa inkubasi. Tamu makan sekitar pukul 12.30 (angka latihan), gejala pertama pukul 14.00, terakhir pukul 18.00. Selangnya 1,5 sampai 5,5 jam, di dalam 1 sampai 6 jam untuk keracunan stafilokokus dan cocok dengan "beberapa jam" untuk B. cereus. Bila penyebabnya norovirus dengan 12 sampai 48 jam, gejala pertama baru muncul sekitar pukul 00.30 dan bisa sampai pukul 12.30 dua hari kemudian. Pola itu mengarah ke intoksikasi; penyebab tetap ditetapkan laboratorium.

    Contoh 2: telur balado di meja. Model Bab 1 adalah N=N0⋅2t/gN = N_0 \cdot 2^{t/g}, dengan N0N_0 jumlah awal per gram, tt waktu, dan gg waktu pelipatan. Telur balado berisi 100 S. aureus per gram (angka latihan) dibiarkan pukul 07.00 sampai 12.00, yaitu 300 menit, dengan g=30g = 30 menit (angka latihan). Terjadi 300/30=10300/30 = 10 pelipatan, dan N=100×210=102.400N = 100 \times 2^{10} = 102.400 per gram.

    Contoh 3: nasi semalam. Nasi dimasak pukul 19.00 dan dibiarkan di suhu ruang sampai pukul 06.00, yaitu 11 jam. Bila spora yang selamat berkecambah dan sel berlipat setiap 30 menit (angka latihan), terjadi 660/30=22660/30 = 22 pelipatan, dan 10 sel per gram menjadi 10×222=41.943.04010 \times 2^{22} = 41.943.040, sekitar 4,2×1074{,}2 \times 10^{7} per gram. Menggoreng nasi itu pagi hari tidak mengembalikan keamanannya.

    Contoh 4: sel mati, toksin tetap. Lauk berisi 10610^{6} S. aureus per gram dipanaskan ulang dengan reduksi 6 log (angka latihan). Selnya tinggal 106/106=110^{6}/10^{6} = 1 per gram, tetapi enterotoksin yang sudah terbentuk tidak berkurang karena tidak rusak pada 100 °C. Hitung kuman yang rendah sesudah pemanasan tidak membuktikan makanan bebas toksin.

    Contoh 5: kekuatan toksin botulinum. Rasio LD50 endotoksin terhadap toksin botulinum 0,24/0,000001=240.0000{,}24/0{,}000001 = 240.000. OpenStax subbab 26.2 memberi dosis letal 0,2 sampai 10 ng per kg. Untuk orang 60 kg (angka latihan), 0,2×60=120{,}2 \times 60 = 12 sampai 10×60=60010 \times 60 = 600 ng, dan 600 ng sama dengan 0,0006 mg. Karena itu kaleng kembung tidak dibuka, dicium, atau dicicipi (penalaran editorial).

    Contoh 6: pengalengan komersial. Penurunan dari 101210^{12} menjadi 1 spora per kaleng adalah reduksi 12 log. Bila dicapai dalam 2,52 menit pada 121 °C, nilai D tersiratnya 2,52/12=0,212{,}52/12 = 0{,}21 menit menurut definisi Bab 3. Air mendidih berada 116−100=16116 - 100 = 16 °C di bawah suhu minimum untuk spora C. botulinum, sehingga merebus tidak menggantikan proses bertekanan pabrik.

    Contoh 7: jendela paparan hepatitis A. Seorang staf mulai kuning pada 20 Oktober 2026 (angka latihan). Dengan masa inkubasi 15 sampai 50 hari, paparan terjadi antara 31 Agustus dan 5 Oktober 2026, dan rata-rata 30 hari menunjuk sekitar 20 September. Penelusuran hepatitis A melihat ke belakang berminggu-minggu, sedangkan keracunan stafilokokus beberapa jam.

    Contoh 8: Listeria di lemari dingin. Ikan asap berisi 10 Listeria per gram (angka latihan) disimpan 9 hari. Dengan pelipatan 1,5 hari pada suhu lemari yang benar (angka latihan), terjadi 9/1,5=69/1{,}5 = 6 pelipatan, menjadi 10×26=64010 \times 2^{6} = 640 per gram. Bila lemari terlalu hangat dan pelipatan 0,75 hari (angka latihan), terjadi 12 pelipatan dan 10×212=40.96010 \times 2^{12} = 40.960 per gram, 64 kali lebih banyak.

    Contoh 9: nampan prasmanan. Lauk tanpa penghangat berada pada suhu tumbuh 3 jam dengan pelipatan setiap 20 menit (angka latihan). Faktornya 29=5122^{9} = 512, sehingga 100 sel per gram menjadi 51.200. Bila nampan diganti setiap jam, faktornya paling banyak 23=82^{3} = 8, atau 800 per gram, 64 kali lebih kecil. Batas waktu dan suhu yang sah ditetapkan rencana HACCP di Bab 7.

    Kondisi berhenti

    Hentikan penyajian atau pekerjaan dan serahkan kepada penyelia dapur, pengelola, dokter, atau dinas kesehatan bila:

    1. Dua orang atau lebih sakit dengan gejala serupa setelah makan dari dapur yang sama; ikuti prosedur dugaan keracunan pangan dan jangan membuang sisa makanan.
    2. Penjamah makanan diare, muntah, kuning, atau mempunyai luka bernanah di tangan.
    3. Kaleng menggembung, bocor, atau tutup stoples terangkat; jangan dibuka atau dicicipi.
    4. Makanan masak berada di suhu tumbuh lebih lama dari batas rencana, walaupun akan dipanaskan ulang.
    5. Pendingin atau penghangat tidak menahan suhunya, atau pencatat suhunya mati.
    6. Air atau es untuk makanan diduga tidak layak minum.
    7. Ada permintaan untuk menyatakan makanan aman atau menetapkan penyebab sakit; keputusan itu wewenang laboratorium, dokter, dan dinas kesehatan.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    1. "Makanan yang dipanaskan ulang sampai mendidih pasti aman." Enterotoksin S. aureus tidak rusak pada 100 °C, dan spora B. cereus serta C. perfringens selamat dari pemasakan.
    2. "Gejala dua jam setelah makan berarti makanan itu baru tercemar kuman." Gejala secepat itu lebih cocok dengan toksin yang sudah terbentuk berjam-jam sebelum makanan disajikan.
    3. "Lemari pendingin menghentikan bakteri." Listeria tumbuh pada 0 sampai 50 °C, sehingga dingin hanya memperlambatnya.
    4. "Juru masak yang sudah tidak diare boleh langsung memegang makanan." Orang yang pulih dari diare dapat terus mengeluarkan patogen; izin kembali bekerja mengikuti prosedur.
    5. "Disinfektan dapur yang biasa cukup untuk norovirus." Norovirus tidak mati oleh disinfektan berkadar baku untuk bakteri.

    Hubungan dengan bab lain

    Pengendalian semua patogen di bab ini bertumpu pada suhu, HACCP, dan verifikasi di Bab 7. Bab 11 memberi ID50, Bab 18 virus, Bab 19 kurva epidemi, Bab 1 model pertumbuhan, Bab 16 kebutuhan tumbuh, Bab 14 keragaman bakteri, Bab 2 spora, Bab 3 nilai D, Bab 4 disinfektan, Bab 22 sterilisasi, Bab 9 · Utilitas peralatan pendingin, Bab 5 biofilm, Bab 6 mikroba air, dan Bab 21 infeksi kulit penjamah.

    Latihan dan pembahasan

    1. Jelaskan beda infeksi dan intoksikasi bawaan makanan, dan mengapa keracunan stafilokokus dipastikan dengan mencari toksin.
    2. Tamu makan malam pukul 19.00, lalu diare berair dan muntah menyembur muncul antara pukul 07.00 esok hari dan pukul 01.00 lusa. Patogen mana yang paling cocok?
    3. Salad berisi 50 sel per gram dibiarkan 150 menit pada suhu tumbuh dengan pelipatan setiap 25 menit. Berapa jumlahnya?
    4. Mengapa perebusan menolong terhadap toksin botulinum tetapi tidak terhadap enterotoksin S. aureus?
    5. Seorang juru masak datang dengan bisul bernanah di ibu jari. Apa risikonya, dan apa yang dilakukan penyelia?
    6. Seorang tamu mulai kuning pada 10 November 2026. Kapan jendela paparan hepatitis A-nya?

    Kunci jawaban beralasan

    1. Pada infeksi mikroba berbiak di usus lalu membuat toksin, sedangkan pada intoksikasi toksin sudah dibuat di makanan sebelum dimakan. Bakteri stafilokokus tidak perlu hidup untuk menimbulkan gejala, sehingga toksin di contoh makanan atau muntahan menjadi bukti yang menentukan.
    2. Selangnya 12 sampai 30 jam setelah makan, di dalam 12 sampai 48 jam untuk norovirus, dan muntah menyembur adalah ciri yang disebut OpenStax. Keracunan stafilokokus tidak cocok karena gejalanya muncul 1 sampai 6 jam, tetapi penyebab tetap ditetapkan laboratorium.
    3. Ada 150/25=6150/25 = 6 pelipatan, sehingga jumlahnya 50×26=3.20050 \times 2^{6} = 3.200 sel per gram. Bila bakterinya pembuat toksin tahan panas, pemanasan ulang tidak dapat diandalkan untuk memperbaikinya.
    4. Toksin botulinum tidak tahan panas, dan perebusan sekitar 10 menit menonaktifkannya. Enterotoksin S. aureus tahan panas dan tidak rusak pada 100 °C, sehingga makanan yang sudah bertoksin tetap berbahaya walaupun bakterinya mati.
    5. S. aureus dari luka dapat masuk ke makanan, tumbuh bila makanan dibiarkan, dan membuat toksin tahan panas. Penyelia mencatat keluhan, memindahkan juru masak dari makanan siap saji menurut prosedur, dan mengarahkannya ke klinik untuk penanganan luka.
    6. Jendela paparannya 15 sampai 50 hari sebelum 10 November, yaitu 21 September sampai 26 Oktober 2026, dan rata-rata 30 hari menunjuk sekitar 11 Oktober. Penelusuran makanan dan air untuk rentang itu dilakukan dinas kesehatan.

    Referensi

    Sumber luar

    • OpenStax: Microbiologyopenstax.org
    • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023peraturan.bpk.go.id
    • bn372 2011peraturan.go.id
    • bn127 2013peraturan.go.id

    Bab terkait

    Uji diri · 3 soal

    Cek pemahaman sebelum berpindah bab

    Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.

    0/3dinilai

    Batas keselamatan tetap berlaku. Kuis ini menguji penalaran, bukan memberi izin melakukan pencampuran, penyetelan, pembongkaran, pengukuran berenergi, atau tindakan lapangan.

    1

    Jelaskan beda infeksi dan intoksikasi bawaan makanan, dan mengapa keracunan stafilokokus dipastikan dengan mencari toksin.

    2

    Tamu makan malam pukul 19.00, lalu diare berair dan muntah menyembur muncul antara pukul 07.00 esok hari dan pukul 01.00 lusa. Patogen mana yang paling cocok?

    3

    Salad berisi 50 sel per gram dibiarkan 150 menit pada suhu tumbuh dengan pelipatan setiap 25 menit. Berapa jumlahnya?

    Progres penilaian mandiri0%

    Bab terdekat