Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Biologi & Mikrobiologi · Bab 13Kuantitatif

    Ketahanan mikroba terhadap disinfektan dan antibiotik: ketahanan bawaan dan didapat, mekanisme, toleransi biofilm, dosis kurang, mitos rotasi disinfektan, resistensi antimikroba, dan artinya bagi prosedur pembersihan

    Petugas laundry hotel mengencerkan disinfektan dua kali lebih encer supaya hemat, keluhan bau dari troli, karet pintu mesin, dan handuk naik, lalu penyelia mengusulkan mengganti merek setiap bulan karena bakterinya dianggap sudah kebal. Bab ini membedakan ketahanan bawaan, ketahanan didapat, dan toleransi, lalu menjelaskan mekanisme resistensi dan perpindahan gen menurut OpenStax, toleransi biofilm, dan mengapa disinfektan yang cara kerjanya kurang spesifik jarang memicu resistensi. Bab menghitung akibat dosis kurang, pengenceran salah, dan waktu kontak pendek, menjelaskan uji pengenceran pakai dan uji pemakaian, dan menempatkan rotasi disinfektan pada batas sumbernya. Bab ditutup dengan angka resistensi antimikroba WHO tahun 2019 dan artinya bagi prosedur pembersihan teknisi.

    22 menit

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Laundry sebuah hotel memakai disinfektan amonium kuaterner untuk menyeka troli, meja lipat, dan karet pintu mesin cuci, dan untuk merendam kain lap. Takaran di labelnya 90 mL per 5 L air untuk disinfeksi, sama dengan takaran 400 ppm pada sebuah panduan kerja dapur yang dikumpulkan Arstema. Seorang petugas mulai memakai 45 mL "supaya hemat", dan kebiasaan itu menyebar ke giliran lain. Enam minggu kemudian keluhan bau apek dari troli dan karet pintu naik, dan dua tamu mengeluhkan handuk yang berbau. Penyelia menyimpulkan bahwa "bakterinya sudah kebal" dan mengusulkan mengganti merek setiap bulan. Teknisi yang diminta memeriksa dispenser dan cara membuat larutan menemukan bahwa masalahnya lebih sederhana: kadar larutan setengah dari seharusnya, ember dipakai sepanjang hari, dan permukaan tidak dibersihkan dulu. Bab ini menjelaskan cara membedakan resistensi sejati dari dosis kurang dan toleransi, dan mengapa jawabannya sering ada di prosedur.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas ketahanan mikroba terhadap disinfektan dan antibiotik dari sisi prosedur pembersihan: ketahanan bawaan dan didapat, mekanisme dan perpindahan gen, toleransi biofilm, dosis kurang, uji keampuhan disinfektan, rotasi disinfektan, dan resistensi antimikroba sebagai masalah kesehatan. Urutan ketahanan kelompok mikroba ada di Bab 2; reduksi log, nilai D, dan CT di Bab 3; cara kerja dan pelemahan tiap disinfektan di Bab 4; tahap dan pembersihan biofilm di Bab 5; uji permukaan dan tren di Bab 8; kalibrasi dispenser di Bab 10 · Dispensing Kimia; disinfeksi linen di Bab 14 · Laundry; diagnosis bau linen di Bab 19 · Laundry. Pengobatan dengan antibiotik adalah wewenang tenaga medis dan tidak dibahas; antibiotik disebut untuk menjelaskan mekanisme yang sama.

    Ketahanan bawaan dan ketahanan didapat

    Ketahanan bawaan (intrinsic resistance) adalah ketahanan yang dimiliki suatu kelompok mikroba karena susunan atau sifat alaminya, tanpa perubahan genetik baru. Contoh dari OpenStax:

    MikrobaKetahanan bawaanAkibat untuk pembersihan
    Bakteri gram-negatifVankomisin tidak dapat menembus membran luarnyaContoh dari antibiotik: obat yang tidak sampai ke sasaran tidak bekerja
    Bakteri penghasil katalase atau peroksidaseToleransi bawaan terhadap hidrogen peroksida kadar rendahKadar dan waktu label dipatuhi
    EndosporaAmonium kuaterner tidak berpengaruh; alkohol tidak sporisidaPerlu agen sporisida dan waktu cukup
    CryptosporidiumCangkang luar membuatnya tahan disinfektan berklorinPenyaringan atau cara lain
    Mycobacterium tuberculosis dan virus tidak berselubungKlorheksidin kurang efektifAgen dipilih menurut sasaran
    PrionSangat tahan panas, bahan kimia, dan radiasiDi luar kemampuan prosedur biasa

    Urutan ketahanan kelompok mikroba yang lebih lengkap ada di Bab 2. OpenStax membagi germisida menurut tingkat: tingkat tinggi membunuh sel vegetatif, jamur, virus, dan endospora; tingkat menengah kurang efektif terhadap endospora dan virus tertentu; tingkat rendah hanya membunuh sel vegetatif dan virus berselubung tertentu. Ketahanan bawaan bukan kegagalan disinfektan; ia berarti agen yang dipilih tidak cocok untuk sasarannya.

    Ketahanan didapat (acquired resistance) adalah ketahanan yang muncul pada galur yang semula peka melalui mutasi atau penerimaan gen dari mikroba lain. OpenStax menegaskan bahwa resistensi antimikroba bukan gejala baru: di alam, mikroba terus berevolusi melawan senyawa antimikroba dari mikroba lain, dan pemakaian obat oleh manusia menambah tekanan seleksi.

    Mekanisme dan perpindahan gen resistensi

    OpenStax merangkum mekanisme umum resistensi obat:

    MekanismeCara kerjaContoh
    Modifikasi atau inaktivasi obatEnzim mengubah atau memecah obatBeta-laktamase memutus cincin beta-laktam
    Mencegah obat masuk atau memompanya keluarPerubahan porin pada bakteri gram-negatif; pompa efluksPseudomonas aeruginosa mengurangi porin pintu masuk karbapenem
    Modifikasi sasaranSasaran berubah sehingga obat tidak terikatMRSA mendapat protein pengikat penisilin baru berafinitas rendah
    Produksi sasaran berlebih atau jalur pintasSasaran dibuat lebih banyak, atau reaksi dilewatiAntimetabolit kehilangan daya
    Peniruan sasaranProtein menghalangi obat terikat ke sasaranProtein MfpA pada M. tuberculosis

    Pompa efluks (efflux pump) adalah protein membran yang memompa zat antimikroba keluar dari sel sebelum mencapai sasarannya di dalam sel. OpenStax mencatat bahwa satu pompa efluks sering dapat mengeluarkan banyak jenis antimikroba. Resistensi silang (cross-resistance) adalah keadaan ketika satu mekanisme resistensi memberi resistensi terhadap banyak obat. Mikroba yang resisten terhadap banyak obat disebut mikroba multiresisten atau superbug.

    Resistensi didapat menyebar dengan dua cara. Mutasi kromosom yang memberi resistensi diturunkan secara vertikal ke generasi berikutnya dan dapat mendominasi populasi yang berulang kali terpapar antimikroba. Transfer gen horizontal (horizontal gene transfer) adalah perpindahan bahan genetik dari satu organisme ke organisme lain dalam generasi yang sama. OpenStax menguraikan tiga mekanismenya pada prokariot: transformasi, yaitu DNA bebas diambil dari lingkungan; transduksi, yaitu gen dibawa virus bakteri; dan konjugasi, yaitu DNA dipindahkan lewat pilus.

    Plasmid R (R plasmid) adalah plasmid yang membawa gen resistensi antimikroba bersama gen pengatur konjugasi dan pemindahannya. Menurut OpenStax, plasmid R dapat berpindah antarsel satu spesies maupun antarspesies, satu plasmid R sering membawa beberapa gen resistensi sekaligus, dan transposon memindahkan gen resistensi antara plasmid dan kromosom. Gen beta-laktamase spektrum luas biasanya ada pada plasmid bergerak yang juga membawa gen resistensi kelas obat lain. Inilah sebabnya pemakaian satu antimikroba dapat ikut menyeleksi resistensi terhadap antimikroba lain.

    Toleransi biofilm

    Toleransi (tolerance) adalah kemampuan mikroba bertahan sementara terhadap antimikroba karena keadaan fisiologis atau lingkungannya, tanpa perubahan genetik yang diwariskan (nilai literatur umum). Bedanya dengan resistensi: sel yang toleran kembali peka bila dilepas dari keadaan itu, sedangkan galur yang resisten tetap memerlukan kadar lebih tinggi walaupun dibiakkan sebagai sel bebas.

    OpenStax mencatat bahwa patogen di dalam biofilm lebih tahan antibiotik daripada sel bebas, dengan beberapa dugaan penyebab: sel di lapisan dalam tidak aktif secara metabolik, matriks memperlambat difusi antibiotik dan antiseptik, sel biofilm mengubah sifatnya termasuk memperbanyak pompa efluks, dan biofilm menjadi tempat yang ideal untuk pertukaran DNA di luar kromosom yang sering membawa gen resistensi. Sel persister (persister cell) adalah sel bermetabolisme lambat yang bertahan dari antibiotik dan terkait infeksi kronis seperti tuberkulosis.

    Bagi teknisi, "disinfektan yang kalah" di karet pintu, wastafel, dan pipa sering berupa toleransi biofilm, bukan resistensi genetik (penalaran editorial). OpenStax mengutip laporan Pseudomonas aeruginosa yang masih ditemukan di wastafel rumah sakit 10 tahun setelah wabah, keadaan yang dibahas sebagai reservoir di Bab 11. Jawabannya adalah pelepasan fisik ditambah kimia seperti di Bab 5, bukan disinfektan yang berbeda.

    Mengapa disinfektan jarang memicu resistensi

    Kutipan paling penting untuk bab ini berasal dari pembahasan triklosan di OpenStax. Triklosan menghambat satu enzim dalam jalur pembuatan asam lemak bakteri, dan bakteri mudah menjadi resisten lewat perubahan satu gen yang menyandi enzim itu. Buku itu melanjutkan: "Other disinfectants with a less specific mode of action are much less prone to engendering resistance because it would take much more than a single genetic change," yaitu disinfektan lain yang cara kerjanya kurang spesifik jauh lebih jarang memicu resistensi karena diperlukan jauh lebih banyak daripada satu perubahan genetik. Pemakaian triklosan yang luas sudah meningkatkan galur yang resisten, termasuk Salmonella enterica.

    Oksidator seperti klorin dan peroksida merusak banyak bagian sel sekaligus, seperti di Bab 4, sehingga satu mutasi tidak cukup untuk melawannya (penalaran editorial dari kutipan itu; Contoh 5). Ada dua catatan. Pertama, OpenStax menulis bahwa P. aeruginosa dapat menjadi resisten terhadap klorheksidin pada paparan berulang, dengan merujuk penelitian tentang pengaruh kadar sisa. Kedua, ada bukti bahwa logam berat seperti perak pada kateter dan pembalut juga memperkuat seleksi resistensi antibiotik. Jadi paparan berulang pada kadar rendah adalah keadaan yang paling perlu dihindari (penalaran editorial).

    Triklosan juga contoh antimikroba yang manfaat tambahannya tidak terbukti: menurut OpenStax, penelitian FDA lebih dari 40 tahun tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa sabun bertriklosan lebih bermanfaat daripada sabun biasa, dan pada 2016 FDA melarang triklosan dan 18 bahan lain dalam sabun antiseptik bebas, diperbarui pada 2019 menjadi 28 bahan.

    Dosis kurang, pengenceran salah, dan waktu kontak pendek

    OpenStax menyebut pemakaian berlebihan dan salah, pemakaian yang tidak tepat, dosis di bawah dosis terapi, dan pengobatan yang tidak dituntaskan sebagai faktor yang mempercepat resistensi. Kadar hambat minimum (minimum inhibitory concentration, MIC) adalah kadar obat terendah yang menghambat pertumbuhan yang terlihat. Kadar bunuh minimum (minimum bactericidal concentration, MBC) adalah kadar obat terendah yang membunuh sekurang-kurangnya 99,9 persen inokulum awal. Untuk mengobati infeksi, kadar obat dalam serum umumnya dijaga sekurang-kurangnya 3 sampai 5 kali MIC. Disinfektan juga mempunyai beda kadar menghambat dan membunuh: klorheksidin bersifat bakteriostatik pada kadar rendah dan bakterisida pada kadar tinggi.

    Keampuhan disinfektan bergantung pada lama paparan, kadar, suhu, dan pH, dan karena kematian mikroba bersifat logaritmik, muatan yang tinggi memerlukan waktu lebih lama; bahan organik dan biofilm menaikkan waktu atau intensitas yang diperlukan. Bab 3 merumuskannya sebagai CT, dengan CC kadar sisa dan tt waktu kontak nyata. Tiga kesalahan prosedur menurunkan keduanya:

    1. Pengenceran salah: takaran dikurangi, dispenser menyedot udara, atau tip pengukur salah (Contoh 1). Bab 10 · Dispensing Kimia membahas uji isap dan rasio aktual dispenser.
    2. Waktu kontak pendek: permukaan diseka lalu langsung kering atau dilap (Contoh 3).
    3. Kadar habis di ember: kotoran, air sadah, sisa deterjen anionik, dan lap katun menurunkan kadar aktif, seperti di Bab 4 tentang amonium kuaterner. Panduan kerja dapur yang sama meminta larutan sanitasi diganti bila kotor atau sekurang-kurangnya setiap 4 jam.

    Panduan yang sama membedakan tiga kadar amonium kuaterner: sekitar 200 ppm untuk sanitasi, 400 ppm untuk disinfeksi, dan 800 ppm untuk menghilangkan bau, dengan takaran 45, 90, dan 180 mL per 5 L. Pada kasus pembuka, takaran 45 mL mengubah larutan disinfeksi menjadi larutan sanitasi. Menurut sumber sekunder dari industri farmasi, pemakaian rutin sanitan pada dosis atau waktu kontak di bawah yang efektif telah memunculkan anggapan keliru bahwa mikroba menjadi resisten.

    Uji keampuhan disinfektan

    Uji pengenceran pakai (use-dilution test) adalah uji keampuhan disinfektan yang memakai silinder baja tahan karat yang dicelup biakan mikroba sasaran, dikeringkan, lalu dicelup larutan disinfektan pada beberapa kadar selama waktu tertentu. Silinder lalu dipindah ke medium tanpa disinfektan; medium yang keruh menandakan mikroba bertahan. Menurut OpenStax, AOAC International, organisasi nirlaba penyusun banyak standar protokol, menetapkan sekurang-kurangnya 59 dari 60 ulangan tanpa pertumbuhan untuk lulus, hasilnya harus dapat diulang pada batch dan hari yang berbeda, dan pabrik melakukan uji ini untuk memvalidasi klaim produknya sesuai ketentuan EPA (Contoh 6). Artinya, klaim label hanya terbukti pada kadar, waktu kontak, dan sasaran yang diuji (penalaran editorial).

    Uji pemakaian (in-use test) adalah uji yang memeriksa apakah larutan disinfektan yang sedang dipakai tercemar mikroba hidup. Menurut OpenStax, 1 mL larutan bekas diencerkan ke dalam 9 mL kaldu steril yang berisi penetral disinfektan; sepuluh tetes atau sekitar 0,2 mL campuran itu ditanam pada dua cawan; satu cawan diinkubasi pada 37 °C selama 3 hari dan satu pada suhu ruang selama 7 hari; lima koloni atau lebih pada salah satu cawan menandakan larutan tercemar (Contoh 7). Adanya uji ini menunjukkan bahwa larutan yang sedang dipakai dapat tercemar, sehingga ember dan botol semprot dapat menjadi sumber pencemaran.

    OpenStax juga mencatat kasus enterobakteri resisten karbapenem yang bertahan di dalam duodenoskop walaupun staf mengikuti protokol pabrik dengan teliti, dengan angka kematian infeksi 40 sampai 50 persen. Rancangan alat yang sulit dibersihkan dapat mengalahkan prosedur yang benar; keputusan tentang alat seperti itu ada pada pabrik dan tim pencegahan infeksi.

    Rotasi disinfektan: mitos dan batasnya

    Rotasi disinfektan (disinfectant rotation) adalah praktik mengganti jenis disinfektan secara berkala menurut jadwal untuk mencegah mikroba menjadi resisten. Sumber yang tercatat untuk bab ini seluruhnya sumber sekunder dan seluruhnya tentang industri farmasi steril:

    1. Lampiran 1 pedoman cara pembuatan obat yang baik Uni Eropa untuk produk steril dilaporkan menyatakan bahwa bila disinfektan dipakai, lebih dari satu jenis harus dipakai, dengan pemantauan berkala untuk mendeteksi galur resisten.
    2. Bab umum 1072 farmakope Amerika Serikat (USP) dilaporkan berpendapat bahwa resistensi terhadap disinfektan lebih kecil kemungkinannya daripada terhadap antibiotik, karena disinfektan dipakai pada kadar tinggi terhadap populasi kecil, dan menyarankan uji kepekaan isolat secara berkala, bukan rotasi rutin.
    3. Sebuah dokumen panduan GMP menyebut manfaat sementara rotasi bila permukaan dikolonisasi populasi yang secara alami tahan, misalnya pembentuk spora yang memerlukan sporisida berkala.
    4. Menurut sumber sekunder, sebuah komentar tahun 2022 di jurnal Communications Medicine menyatakan bahwa pemakaian disinfektan dapat memicu resistensi antimikroba dan menyerukan pemakaian semua antimikroba, termasuk disinfektan, secara bijak dan berbasis bukti.

    Teks asli Lampiran 1 dan bab umum 1072 USP tidak dibaca untuk bab ini. Pandangan resmi pedoman layanan kesehatan tentang rotasi disinfektan di rumah sakit, hotel, dan dapur belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 18 Oktober 2026. Penalaran editorial bab ini: di hotel, laundry, dan dapur, mengganti merek atau jenis setiap bulan tidak menggantikan kadar yang benar, waktu kontak, pembersihan sebelum disinfeksi, dan larutan segar. Alasan masuk akal untuk menambah agen lain hanya dua: sasaran yang secara bawaan tahan, misalnya spora yang memerlukan sporisida, atau temuan uji yang menunjukkan agen sekarang tidak bekerja pada prosedur yang benar.

    Resistensi antimikroba sebagai masalah kesehatan

    Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance, AMR) adalah kemampuan mikroba bertahan dan tumbuh pada kadar antimikroba yang semula membunuh atau menghambatnya (nilai literatur umum). Menurut lembar fakta WHO, resistensi antimikroba bakteri secara langsung bertanggung jawab atas 1,27 juta kematian di dunia pada 2019 dan berkontribusi pada 4,95 juta kematian, berdasarkan analisis sistematis yang terbit di The Lancet tahun 2022. Kedua angka itu berbeda jenis dan tidak dijumlahkan (Contoh 8).

    OpenStax mencatat beberapa fakta yang menyangkut fasilitas:

    1. Kelompok patogen ESKAPE, yaitu Enterococcus faecium, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumannii, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterobacter, lolos dari banyak terapi dan menyebabkan banyak infeksi rumah sakit.
    2. Lebih dari 90 persen isolat klinis S. aureus resisten penisilin, menurut kajian tahun 2003 yang dikutip modul.
    3. Enterococcus resisten vankomisin menyebar antarpasien lewat kontak dengan petugas, permukaan, dan alat yang tercemar.
    4. Data CDC yang diakses modul pada 2016 menyebut lebih dari 2 juta infeksi dan sekurang-kurangnya 23.000 kematian per tahun di Amerika Serikat akibat mikroba multiresisten; angka ini sudah tua.
    5. Pemakaian antimikroba di peternakan intensif dapat menyeleksi bakteri yang resisten silang dengan obat manusia, dan bakteri resisten di air dan tanah sekitarnya menjadi reservoir gen bergerak.
    6. Triklosan dari cuci tangan masuk ke air limbah, dapat menghambat bakteri pengurai di sistem septik, dan sebuah studi CDC menemukannya pada urin 75 persen dari 2.517 orang pada 2003 sampai 2004.

    Butir ketiga menempatkan pembersihan permukaan sebagai pemutus penyebaran bakteri resisten. OpenStax juga mencatat bahwa protokol untuk pasien pembawa bakteri resisten mencakup disinfeksi semua benda yang bersentuhan, yang mengandaikan bahwa disinfektan pada prosedur yang benar tetap mematikan bakteri itu (penalaran editorial).

    Artinya bagi prosedur pembersihan

    Fakta di atas menghasilkan aturan kerja berikut (penalaran editorial):

    1. Ikuti label: kadar, waktu kontak, suhu, dan sasaran yang tertulis; klaim label hanya terbukti pada kondisi uji.
    2. Bersihkan dulu, lalu disinfeksi: kotoran dan biofilm menghabiskan dan menghalangi disinfektan.
    3. Ukur, jangan menebak: takaran dengan gelas ukur atau dispenser yang diuji, kadar dengan kertas uji bila tersedia.
    4. Larutan segar dan wadah bersih: ganti bila kotor atau sekurang-kurangnya setiap 4 jam, dan cuci serta keringkan ember dan botol semprot.
    5. Jangan mencampur: satu disinfektan untuk satu tugas, dan asam tidak dicampur dengan klorin.
    6. Pilih menurut sasaran yang paling tahan, seperti di Bab 2, bukan menurut jadwal rotasi.
    7. Nilai dengan data: uji permukaan dan tren di Bab 8, uji pemakaian bila diminta, dan catatan pengenceran dispenser.

    Contoh kerja

    Contoh 1: pengenceran dua kali lebih encer. Label pada kasus pembuka, disamakan dengan panduan dapur tadi, menetapkan 90 mL per 5 L untuk 400 ppm. Kadar pekatan yang tersirat 400×5.000/90=22.222400 \times 5.000/90 = 22.222 ppm, sekitar 2,2 persen. Dengan 45 mL per 5 L, kadarnya 22.222×45/5.000=20022.222 \times 45/5.000 = 200 ppm, yaitu tingkat sanitasi, bukan disinfeksi. Penghematannya 45 mL per ember; dengan 6 ember sehari (angka latihan), 6×45=2706 \times 45 = 270 mL sehari, ditukar dengan hilangnya klaim disinfeksi.

    Contoh 2: waktu lebih lama tidak menutup kadar yang kurang. Misalkan label meminta 400 ppm selama 10 menit (angka latihan), yaitu 400×10=4.000400 \times 10 = 4.000 ppm·menit. Hitungan CT seolah menyarankan 200 ppm selama 4.000/200=204.000/200 = 20 menit. Kesimpulan itu tidak sah: CT di Bab 3 berlaku dalam rentang yang sudah diuji, dan klaim label hanya divalidasi pada kadar label. Pada kadar rendah, sebagian disinfektan hanya menghambat, seperti klorheksidin.

    Contoh 3: waktu kontak terpotong. Label meminta permukaan basah 10 menit, tetapi larutan kering dalam 3 menit (angka latihan). CT nyata 400×3=1.200400 \times 3 = 1.200 ppm·menit, 1.200/4.000=301.200/4.000 = 30 persen dari yang diminta. Dengan larutan 200 ppm, 200×3=600200 \times 3 = 600 ppm·menit, hanya 15 persen.

    Contoh 4: kotoran menghabiskan klorin. Ember larutan klorin diberi dosis 200 ppm, tetapi kotoran dari permukaan yang tidak dibersihkan dulu memakai 120 ppm (angka latihan). Dengan rumus Bab 4, klorin sisa 200−120=80200 - 120 = 80 ppm, yaitu 40 persen dosis. Membersihkan dulu mengurangi kebutuhan klorin itu.

    Contoh 5: satu perubahan genetik dan banyak perubahan. Misalkan peluang satu sel mendapat satu mutasi tertentu 10−810^{-8} dan permukaan membawa 10610^{6} sel (angka latihan). Untuk agen yang kalah oleh satu mutasi, harapan jumlah mutan 106×10−8=10−210^{6} \times 10^{-8} = 10^{-2}. Bila diperlukan dua perubahan bebas sekaligus, peluangnya 10−8×10−8=10−1610^{-8} \times 10^{-8} = 10^{-16} dan harapannya 106×10−16=10−1010^{6} \times 10^{-16} = 10^{-10}, seratus juta kali lebih kecil. Inilah arti kutipan triklosan dalam angka (penalaran editorial).

    Contoh 6: syarat uji pengenceran pakai. Batas lulus 59 dari 60 ulangan adalah 59/60=98,359/60 = 98{,}3 persen ulangan tanpa pertumbuhan. Hasil 58 dari 60, yaitu 96,7 persen, tidak lulus. Bila diuji pada tiga batch, diperlukan sedikitnya 3×59=1773 \times 59 = 177 dari 3×60=1803 \times 60 = 180 silinder bersih, dengan setiap batch lulus sendiri.

    Contoh 7: membaca uji pemakaian. Pengenceran 1 mL ke dalam 9 mL memberi faktor 10, jadi 0,2 mL campuran mewakili 0,2/10=0,020{,}2/10 = 0{,}02 mL larutan asli. Lima koloni berarti sekitar 5/0,02=2505/0{,}02 = 250 satuan pembentuk koloni per mL larutan (penalaran editorial). Bila cawan suhu ruang tumbuh 7 koloni, kira-kira 7/0,02=3507/0{,}02 = 350 per mL, dan larutan dinyatakan tercemar: buang, cuci dan keringkan wadah, dan periksa cara pembuatannya.

    Contoh 8: dua angka WHO. Angka 1,27 juta adalah kematian yang langsung disebabkan resistensi, sedangkan 4,95 juta adalah kematian yang ikut disumbang olehnya, sehingga 1,27 juta termasuk di dalamnya (penalaran editorial). Menjumlahkan keduanya menjadi 6,22 juta keliru. Perbandingannya 4,95/1,27=3,94{,}95/1{,}27 = 3{,}9, dan 1,27 juta setahun setara 1,27×106/365=3.4791{,}27 \times 10^{6}/365 = 3.479 kematian per hari.

    Contoh 9: menilai hasil perbaikan. Sebelum perbaikan, 9 dari 20 titik usap di laundry gagal, yaitu 45 persen (angka latihan). Setelah takaran dikembalikan ke 90 mL per 5 L, permukaan dibersihkan dulu, dan larutan diganti setiap 4 jam, tanpa mengganti merek, hasil empat minggu berikutnya 2 dari 20 titik gagal, yaitu 10 persen. Penurunan itu menunjukkan bahwa penyebabnya dosis dan prosedur, bukan resistensi.

    Kondisi berhenti

    Hentikan pekerjaan dan serahkan kepada penyelia, pabrik bahan kimia, tim pencegahan infeksi, atau laboratorium bila:

    1. Label atau lembar data disinfektan tidak tersedia, atau kadarnya tidak diketahui.
    2. Keluaran dispenser menyimpang dari takaran label dan kalibrasinya bukan wewenang teknisi.
    3. Ada perintah mencampur dua disinfektan, atau asam dengan klorin.
    4. Ada usulan mengganti jenis disinfektan di area pasien tanpa persetujuan tim pencegahan infeksi.
    5. Uji pemakaian positif, atau uji permukaan tetap gagal walaupun kadar, waktu kontak, dan pembersihan sudah benar.
    6. Ada dugaan wabah oleh pembentuk spora atau bakteri multiresisten, karena pilihan agen dan prosedurnya ditetapkan tim pencegahan infeksi.
    7. Alat tidak dapat dibersihkan menurut prosedur pabrik.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    1. "Bakterinya sudah kebal, ganti merek." Sebelum menduga resistensi, periksa dosis, waktu kontak, kotoran, dan biofilm; menurut sumber sekunder dari industri farmasi, dosis dan waktu kontak yang kurang sering disangka resistensi.
    2. "Larutan yang lebih encer tetap membunuh, hanya lebih lambat." Klaim label hanya terbukti pada kadar label, dan pada kadar rendah sebagian disinfektan hanya menghambat.
    3. "Rotasi disinfektan setiap bulan mencegah resistensi." Sumber yang tercatat hanya sumber sekunder untuk industri farmasi steril, dan pandangan resmi untuk fasilitas layanan belum dapat dipastikan.
    4. "Biofilm yang tidak mati berarti bakterinya resisten." Biofilm terutama menunjukkan toleransi yang dipecahkan dengan pembersihan fisik ditambah kimia.
    5. "Resistensi antibiotik bukan urusan teknisi." Bakteri resisten menyebar lewat permukaan dan alat, sehingga pembersihan yang benar ikut memutus penyebarannya.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 2 memberi urutan ketahanan yang dipakai untuk memilih agen, Bab 3 rumus CT, Bab 4 cara kerja dan pelemahan disinfektan, dan Bab 5 cara membersihkan biofilm. Bab 8 menjelaskan uji permukaan untuk menilai prosedur, Bab 10 · Dispensing Kimia kalibrasi dispenser, Bab 14 · Laundry disinfeksi linen, Bab 19 · Laundry diagnosis bau linen, dan Bab 11 rantai penularan di fasilitas kesehatan.

    Latihan dan pembahasan

    1. Bedakan ketahanan bawaan, ketahanan didapat, dan toleransi, masing-masing dengan satu contoh.
    2. Mengapa triklosan lebih mudah memicu resistensi daripada klorin?
    3. Larutan 400 ppm dibuat dari 90 mL per 5 L. Petugas memakai 60 mL per 5 L. Berapa kadarnya, dan apakah masih tingkat disinfeksi?
    4. Pada uji pemakaian, cawan 37 °C tumbuh 3 koloni dan cawan suhu ruang 6 koloni. Bagaimana tafsirnya?
    5. Penyelia mengusulkan rotasi disinfektan bulanan. Apa yang diperiksa lebih dulu?
    6. Mengapa angka 1,27 juta dan 4,95 juta dari WHO tidak dijumlahkan?

    Kunci jawaban beralasan

    1. Ketahanan bawaan adalah sifat alami, misalnya endospora yang tidak terpengaruh amonium kuaterner. Ketahanan didapat muncul lewat mutasi atau gen pindahan, misalnya MRSA, sedangkan toleransi adalah bertahan sementara karena keadaan, misalnya sel di dalam biofilm yang kembali peka setelah dilepas.
    2. Triklosan bekerja pada satu enzim, sehingga satu perubahan gen sudah cukup untuk melawannya. Klorin merusak banyak bagian sel sekaligus, sehingga diperlukan banyak perubahan genetik bersamaan, peristiwa yang jauh lebih jarang.
    3. Kadarnya 400×60/90=267400 \times 60/90 = 267 ppm, di bawah 400 ppm untuk disinfeksi. Larutan itu berada di antara tingkat sanitasi dan disinfeksi, sehingga klaim disinfeksi label tidak berlaku dan takarannya dikembalikan ke 90 mL.
    4. Larutan dinyatakan tercemar karena salah satu cawan tumbuh lima koloni atau lebih. Larutan dibuang, wadah dicuci dan dikeringkan, dan cara pembuatan serta lama pemakaiannya diperiksa.
    5. Yang diperiksa lebih dulu adalah takaran dan keluaran dispenser, waktu kontak nyata, pembersihan sebelum disinfeksi, umur larutan, dan sasaran yang paling tahan. Rotasi tidak didukung sumber resmi untuk fasilitas layanan, dan masalah prosedur akan tetap ada walaupun mereknya diganti.
    6. Angka 1,27 juta adalah kematian yang langsung disebabkan resistensi, dan angka itu sudah termasuk dalam 4,95 juta kematian yang terkait resistensi. Menjumlahkannya menghitung kematian yang sama dua kali.

    Referensi

    Uji diri · 3 soal

    Cek pemahaman sebelum berpindah bab

    Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.

    0/3dinilai
    1

    Bedakan ketahanan bawaan, ketahanan didapat, dan toleransi, masing-masing dengan satu contoh.

    2

    Mengapa triklosan lebih mudah memicu resistensi daripada klorin?

    3

    Larutan 400 ppm dibuat dari 90 mL per 5 L. Petugas memakai 60 mL per 5 L. Berapa kadarnya, dan apakah masih tingkat disinfeksi?

    Progres penilaian mandiri0%

    Bab terdekat