Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Biologi & Mikrobiologi · Bab 23Dasar

    Cara mikroba membuat sakit: faktor virulensi, menempel dan menembus jaringan, eksotoksin, endotoksin, dan enterotoksin, serta artinya bagi pembersihan dan penanganan pangan

    Dalam satu minggu, tim pencegahan infeksi sebuah rumah sakit menerima tiga laporan: wastafel berlendir hanya disemprot disinfektan, linen pasien dengan infeksi kateter Staphylococcus epidermidis dianggap aman karena bakterinya bakteri kulit biasa, dan kacang tanah berjamur hendak disangrai supaya jamurnya mati. Bab ini menjelaskan cara mikroba menimbulkan penyakit menurut OpenStax: patogenisitas dan virulensi, patogen primer dan oportunistik, postulat Koch dan postulat Koch molekuler, ID50 dan LD50, serta tahap paparan, perlekatan, invasi, dan infeksi. Bab menguraikan faktor virulensi seperti adhesin, biofilm, kapsul, eksoenzim, dan variasi antigen, lalu membedakan endotoksin, eksotoksin, enterotoksin, dan mikotoksin. Bagian akhir menerjemahkan mekanisme itu menjadi aturan kerja untuk pembersihan, linen, dan penanganan pangan.

    22 menit

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Rapat mingguan tim pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) sebuah rumah sakit membahas tiga laporan. Petugas kebersihan ruang rawat intensif menyemprot lubang buangan wastafel yang licin berlendir dengan disinfektan lalu pergi tanpa menyikat, karena label produk menulis "membunuh kuman dalam satu menit". Petugas laundry tidak memisahkan linen pasien yang kateternya terinfeksi Staphylococcus epidermidis, dengan alasan bakteri itu ada di kulit semua orang. Juru masak dapur gizi menemukan sekarung kacang tanah berjamur dan ingin menyangrainya lebih lama supaya jamurnya mati. Ketiganya menganggap bahaya mikroba sebanding dengan jumlah mikroba hidup yang tersisa. Bab ini menunjukkan bahwa sakit ditentukan oleh kemampuan mikroba menempel, menembus jaringan, menghindari pertahanan, dan membuat racun, serta oleh keadaan tubuh yang dimasukinya. Kasus ini ilustrasi penyusun.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas mekanisme patogenisitas menurut OpenStax Microbiology subbab 15.1 sampai 15.4. Rantai penularan dan tabel dosis infektif patogen pangan ada di Bab 11 tentang rantai penularan infeksi; gejala dan pencegahan tiap patogen pangan di Bab 20 tentang patogen bawaan makanan; norovirus di Bab 18 tentang virus; disinfektan di Bab 4; biofilm di Bab 5; linen infeksius di Bab 14 · Laundry tentang higiene linen; dan batas suhu pangan di Bab 7 tentang sanitasi dapur. Pertahanan tubuh dibahas di Bab 24 tentang pertahanan bawaan dan Bab 25 tentang pertahanan adaptif, dan perpindahan gen virulensi di Bab 30 tentang pertukaran gen bakteri.

    Bab ini tidak memberi diagnosis atau anjuran obat; orang yang sakit diarahkan ke fasilitas kesehatan. Dosis infektif manusia di OpenStax berasal dari rujukan FDA dan diperlakukan sebagai data AS. Sumber setiap klaim ada di peta sumber bab.

    Patogenisitas, virulensi, dan keadaan inang

    Patogenisitas (pathogenicity) adalah kemampuan agen mikroba menimbulkan penyakit. Virulensi (virulence) adalah derajat kemampuan suatu organisme menimbulkan penyakit. Menurut OpenStax, virulensi adalah rentang: patogen yang sangat virulen hampir selalu menimbulkan penyakit, sedangkan yang bervirulensi rendah mungkin hanya menimbulkan demam ringan atau tanpa gejala.

    Keadaan inang sama menentukannya. Patogen primer (primary pathogen) adalah patogen yang dapat menimbulkan penyakit pada inang tanpa bergantung pada mikrobiota dan sistem kekebalan inang. Patogen oportunistik (opportunistic pathogen) adalah patogen yang hanya menimbulkan penyakit bila pertahanan inang terganggu, misalnya penghalang pelindung, sistem kekebalan, atau mikrobiota normal.

    MikrobaBiasanyaMenimbulkan penyakit bilaContoh menurut OpenStax
    E. coli enterohemoragik (EHEC)Patogen primerTertelan, juga oleh orang sehatDiare berdarah dan gagal ginjal karena toksin Shiga
    Staphylococcus epidermidisMikrobiota kulit, umumnya avirulenMembentuk biofilm pada kateter atau implanInfeksi nosokomial, termasuk endokarditis
    E. coli usus besarPenghuni normal ususMasuk ke kandung kemihInfeksi saluran kemih
    CandidaPenghuni kulit, mulut, usus, vaginaBakteri penghambatnya mati oleh obat antibakteri, atau kekebalan lemahSariawan jamur, kandidiasis kulit

    Penyakit nosokomial (nosocomial disease) adalah penyakit yang didapat di lingkungan rumah sakit. OpenStax menyebut S. epidermidis salah satu penyebabnya yang paling sering, dan mencatat bahwa patogen di rumah sakit berpindah lewat alat, sprei, gagang pintu, dan tangan petugas, sementara banyak pasien berkekebalan lemah. Jadi "bakteri kulit biasa" pada linen pasien berkateter menyangkut pasien berikutnya dan pekerja yang tangannya luka (penalaran editorial).

    Postulat Koch dan postulat Koch molekuler

    Dokter Robert Koch (1843 sampai 1910) menerbitkan empat postulat pada 1884:

    1. Patogen yang dicurigai ditemukan pada setiap kasus penyakit dan tidak pada individu sehat.
    2. Patogen dapat diisolasi dan ditumbuhkan dalam biakan murni.
    3. Subjek uji sehat yang diinfeksi patogen itu menunjukkan tanda dan gejala yang sama.
    4. Patogen diisolasi lagi dari inang baru dan identik dengan patogen pada postulat 2.

    Menurut OpenStax, tiga anggapan Koch sering tidak benar. Patogen juga ada pada orang sehat: diperkirakan lebih dari 50 persen manusia membawa Helicobacter pylori sejak kecil, sebagian besar tanpa pernah sakit (Contoh 8). Tidak semua orang sama rentan. Tidak semua patogen dapat dibiakkan murni; virus hanya tumbuh di dalam sel inang, dan HIV hanya menyebabkan penyakit pada manusia sehingga postulat 3 terbentur etika.

    Postulat Koch molekuler (molecular Koch's postulates) adalah kriteria yang dikemukakan Stanley Falkow pada 1988 untuk menunjukkan bahwa suatu gen membuat organisme menjadi patogen.

    Postulat molekulerPenerapan pada EHEC
    Fenotipe penyakit hanya terkait galur patogenEHEC menyebabkan radang usus dan diare; galur nonpatogen tidak
    Menonaktifkan gen yang dicurigai menurunkan patogenisitasMenonaktifkan gen toksin Shiga mengurangi kemampuan menimbulkan penyakit
    Mengembalikan gen memulihkan fenotipe penyakitGen toksin yang dimasukkan lagi lewat fag atau plasmid memulihkannya

    Menurut OpenStax, ETEC dan EHEC muncul karena E. coli yang semula tidak berbahaya mendapat gen baru. Bagi pembaca laporan laboratorium, nama spesies saja belum menentukan bahaya; galur dan gen virulensinya yang menentukan (penalaran editorial). Peran E. coli sebagai indikator ada di Bab 14 tentang keragaman bakteri.

    Mengukur virulensi: ID50 dan LD50

    Dosis infektif median (median infectious dose, ID50) adalah jumlah sel patogen atau virion yang diperlukan untuk menimbulkan infeksi aktif pada 50 persen hewan yang diinokulasi. Dosis letal median (median lethal dose, LD50) adalah jumlah sel patogen, virion, atau banyaknya toksin yang membunuh 50 persen hewan yang diinfeksi. Persentase hewan yang terinfeksi atau mati diplot terhadap dosis; pada grafik hipotetis OpenStax, LD50 terbaca 10410^{4} sel atau virion. Makin kecil ID50 atau LD50, makin virulen patogennya.

    Bila dua dosis uji mengapit 50 persen, nilai tengahnya dapat ditaksir dengan interpolasi pada skala logaritma (penalaran editorial; laboratorium memakai metode statistik yang lebih lengkap):

    log⁡10D50=log⁡10D1+50−P1P2−P1(log⁡10D2−log⁡10D1)\log_{10} D_{50} = \log_{10} D_1 + \frac{50 - P_1}{P_2 - P_1}\left(\log_{10} D_2 - \log_{10} D_1\right)

    dengan D1D_1 dan D2D_2 dosis uji yang lebih kecil dan lebih besar (sel, virion, atau mg/kg), P1P_1 dan P2P_2 persentase hewan yang terinfeksi atau mati pada kedua dosis (persen), dan D50D_{50} taksiran ID50 atau LD50 dalam satuan yang sama.

    OpenStax mengingatkan bahwa ID50 manusia adalah nilai tengah; dosis nyata bergantung pada jalur masuk, umur, kesehatan, kekebalan, dan kepekaan patogen terhadap asam lambung, dan dosis infektif tidak sama dengan keparahan. Galur dalam satu spesies dapat berbeda jauh: ID50 E. coli enterohemoragik (EHEC O157) 10 sampai 100 sel, enteroinvasif (EIEC) 200 sampai 5.000 sel, sedangkan enteropatogenik (EPEC) dan enterotoksigenik (ETEC) 10710^{7} sampai 101010^{10} sel. LD50 toksin dibahas di Contoh 4.

    Tahap patogenesis: paparan, perlekatan, invasi, dan infeksi

    OpenStax membagi patogenesis menjadi paparan, perlekatan, invasi, dan infeksi; siklusnya lengkap bila patogen keluar dan berpindah ke inang baru.

    Pintu masuk (portal of entry) adalah bagian tubuh yang dilalui patogen untuk masuk ke jaringan inang. Selaput lendir saluran napas, cerna, dan kemih-kelamin adalah pintu masuk terpenting. Jalur parenteral (parenteral route) adalah jalan masuk patogen melalui kulit atau selaput lendir yang penghalangnya rusak, misalnya karena luka, gigitan, atau tusukan jarum.

    Adhesin (adhesin) adalah molekul di permukaan patogen yang mengikat reseptor tertentu pada sel inang. Adhesin terdapat pada fimbria dan flagel bakteri, silia protozoa, dan kapsid atau membran virus; kapsul dan lapisan lendir juga membantu menempel. Biofilm (biofilm) adalah komunitas bakteri yang melekat pada permukaan dengan bantuan zat ekstrapolimer (EPS) buatan bakteri sendiri. Menurut OpenStax, EPS menyulitkan tubuh menyingkirkan bakteri secara fisik, melindunginya dari sistem kekebalan dan antibiotik, dan sebagian sel di dalamnya tumbuh lambat sehingga kurang terpengaruh antibiotik.

    Invasi (invasion) adalah penyebaran patogen ke jaringan setempat atau ke seluruh tubuh, dengan bantuan eksoenzim dan toksin. Sebagian patogen berbiak di dalam sel; Listeria merobek fagosom, sedangkan Mycobacterium tuberculosis dan Legionella mencegah fagosom menyatu dengan lisosom.

    Infeksi (infection) adalah keadaan ketika mikroorganisme masuk ke inang lalu berbiak di dalamnya. Infeksi dapat lokal, misalnya bisul S. aureus di folikel rambut; fokal, misalnya streptokokus mulut yang masuk ke darah setelah gusi tergores alat; atau sistemik, misalnya cacar air. Orang yang pulih dari diare dapat tetap mengeluarkan patogen lewat tinja.

    TahapYang diperlukan mikrobaTitik putus dalam pekerjaan (penalaran editorial)
    PaparanKontak lewat tangan, makanan, alat, udaraPembersihan, pemisahan bersih dan kotor, kebersihan tangan
    MasukPintu masuk; luka membuka jalur parenteralMenutup luka, sarung tangan sesuai tugas
    PerlekatanAdhesin, kapsul, biofilmGosokan dan sikat sebelum disinfeksi
    Invasi dan infeksiEksoenzim, toksin, hidup di dalam selMengenali tanda, melapor, ditangani tenaga kesehatan
    PenularanKeluar lewat tinja, sekret, darahPekerja sakit tidak menangani makanan atau pasien rentan

    Faktor virulensi untuk menempel, menembus, dan menghindar

    Faktor virulensi (virulence factor) adalah produk patogen yang membantu kemampuannya menimbulkan infeksi dan penyakit. Faktor virulensi disandi gen; bila gennya dinonaktifkan, virulensi turun. Contoh adhesin menurut OpenStax: fimbria tipe 1 ETEC mengikat sel usus, hemaglutinin virus influenza mengikat asam sialat, dan gp120 HIV mengikat CD4.

    Eksoenzim (exoenzyme) adalah enzim yang dikeluarkan mikroba dan meningkatkan kemampuannya menembus sel dan jaringan inang.

    KelasContohKerja
    GlikohidrolaseHialuronidase S. aureusMengurai asam hialuronat, perekat antarsel
    NukleaseDNase S. aureusMengurai jaring DNA yang menjerat bakteri
    FosfolipaseFosfolipase C Bacillus anthracisMerusak membran sel dan membran fagosom
    ProteaseKolagenase Clostridium perfringensMengurai kolagen; bersama toksin menimbulkan gangren gas

    Koagulase (coagulase) adalah enzim yang mengaktifkan fibrinogen menjadi fibrin sehingga darah menggumpal. Koagulase S. aureus membungkus bakteri dengan bekuan yang melindunginya dari fagosit, sedangkan stafilokinase dan streptokinase mencerna bekuan sehingga bakteri lolos dan menyebar.

    Untuk menghindar, kapsul mencegah fagosit menempel dan menelan bakteri; galur Streptococcus pneumoniae berkapsul lebih virulen daripada yang tidak berkapsul. Sebagian bakteri membuat protease yang mencerna antibodi, protein M streptokokus menghalangi komplemen, dan asam mikolat M. tuberculosis menahan sebagian mekanisme pembunuhan di dalam fagosit. Variasi antigen (antigenic variation) adalah perubahan antigen permukaan sehingga patogen tidak lagi dikenali sistem kekebalan inang. Menurut OpenStax, variasi antigen virus influenza menjadi alasan utama vaksin influenza diberikan tiap tahun; vaksin dibahas di Bab 26.

    Endotoksin: racun dari dinding bakteri Gram negatif

    Endotoksin (endotoxin) adalah komponen lipid A dari lipopolisakarida (LPS) pada membran luar bakteri Gram negatif. Menurut OpenStax, endotoksin dilepas ketika sel mati dan membrannya hancur, atau ketika bakteri membelah. Lipid A relatif sama pada berbagai genus Gram negatif dan memicu respons peradangan; kadar rendah menjadi pertahanan yang efektif, tetapi kadar tinggi di darah memicu peradangan berlebihan, penurunan tekanan darah yang parah, kegagalan banyak organ, dan kematian.

    Menurut OpenStax, faktor nekrosis tumor dari fagosit membuat kapiler bocor, sehingga tekanan darah dapat turun sampai berbahaya. Syok (shock) adalah penurunan tekanan darah yang mengancam jiwa, dengan tekanan sistolik di bawah 90 mm Hg, sehingga sel dan organ kekurangan oksigen dan nutrien.

    Endotoksin stabil pada suhu tinggi; menurut OpenStax inaktivasinya memerlukan pemanasan 121 °C selama 45 menit. Akibatnya (penalaran editorial): membunuh bakteri Gram negatif tidak menghilangkan endotoksinnya, karena sel yang mati justru melepasnya. Kebebasan alat medis dari endotoksin ditentukan proses tervalidasi dan pabrik, seperti pembuktian sterilisasi di Bab 22. Peran LPS dalam demam ada di Bab 24 tentang peradangan.

    Eksotoksin, enterotoksin, dan mikotoksin

    Toksigenisitas (toxigenicity) adalah kemampuan patogen membuat toksin untuk merusak sel inang. Eksotoksin (exotoxin) adalah toksin protein yang dibuat berbagai bakteri patogen yang hidup. Menurut OpenStax, kebanyakan eksotoksin dibuat bakteri Gram positif, menyasar reseptor tertentu pada sel tertentu, dan tidak tahan panas; banyak yang terdenaturasi di atas 41 °C (106 °F), tetapi sebagian tahan panas. Perbandingan lengkap endotoksin dan eksotoksin ada di Bab 20.

    GolonganCara kerjaContoh
    Toksin A-B, penyasar bagian dalam selSubunit B mengikat reseptor; subunit A masuk dan mengganggu satu fungsi selToksin kolera, tetanus, botulinum, difteri
    Perusak membranMembentuk pori atau mengurai fosfolipid membranStreptolisin, pneumolisin, toksin alfa S. aureus, toksin alfa C. perfringens
    SuperantigenMerangsang sel imun berlebihan dan tidak spesifikToksin sindrom syok toksik S. aureus, toksin pirogenik streptokokus

    Eksotoksin A-B (A-B exotoxin) adalah eksotoksin yang subunit B-nya mengikat reseptor sel inang dan subunit A-nya masuk ke sel lalu mengganggu kegiatan sel. Toksin botulinum, zat paling beracun secara akut yang diketahui, menghambat pelepasan asetilkolin sehingga otot lumpuh lemas dan napas dapat berhenti; toksin tetanus menghambat pelepasan glisin dan GABA sehingga otot terus berkontraksi. Badai sitokin (cytokine storm) adalah pelepasan sitokin berlebihan yang biasanya dipicu superantigen, dengan akibat demam tinggi, tekanan darah rendah, syok, dan kematian.

    Enterotoksin (enterotoxin) adalah toksin yang bekerja pada usus. Toksin kolera, enterotoksin V. cholerae, tersusun atas satu subunit A dan lima subunit B. Subunit B mengikat sel epitel usus halus; subunit A mengaktifkan protein G dan adenilat siklase sehingga kadar cAMP naik, lalu sel usus mengeluarkan cairan dan elektrolit berlebihan dan timbul diare berat. Bab 20 mencatat dari OpenStax bahwa enterotoksin S. aureus tahan asam lambung dan tidak rusak oleh perebusan pada 100 °C, ETEC membuat enterotoksin tahan panas, sedangkan toksin botulinum rusak oleh perebusan sekitar 10 menit.

    Mikotoksin (mycotoxin) adalah produk jamur patogen yang aktif secara biologis dan menimbulkan perubahan merugikan pada sel inang. Aflatoksin dari Aspergillus bersifat mutagen dan karsinogen, dikaitkan dengan kanker hati, dan dapat melewati plasenta. Lembar fakta WHO tentang mikotoksin menyatakan bahwa sebagian besar mikotoksin stabil secara kimia dan bertahan melewati pengolahan pangan. Menurut cuplikan pencarian dokumen WHO Environmental Health Criteria 11 tentang mikotoksin, pemasakan biasa hampir tidak merusak aflatoksin; penyangraian kacang tanah menurunkan kadarnya, tetapi cuplikan tidak menyatakan aflatoksin hilang.

    Artinya bagi pembersihan, linen, dan penanganan pangan

    Aturan kerja berikut adalah penalaran editorial dari mekanisme di atas:

    1. Lepaskan dulu, baru bunuh. Adhesin dan EPS membuat mikroba bertahan di permukaan, sehingga biofilm dilepas dengan sikat dan bilasan sebelum disinfektan diberi waktu kontak sesuai label, seperti di Bab 4 tentang disinfektan dan Bab 5 tentang biofilm.
    2. Mati belum tentu aman. Endotoksin dilepas saat bakteri mati, sebagian enterotoksin tahan panas, dan mikotoksin bertahan melewati pengolahan; pangan yang diduga tercemar toksin tidak diselamatkan dengan pemanasan ulang, seperti di Bab 20.
    3. Mikrobiota normal berbahaya di tempat yang salah. Linen pasien berkateter atau berluka ditangani menurut prosedur rumah sakit di Bab 14 · Laundry.
    4. Dosis kecil cukup untuk sebagian patogen. Kebersihan tangan dan larangan bekerja bagi penjamah yang sakit menentukan, seperti di Bab 11 tentang kewaspadaan standar dan Bab 7 tentang sanitasi dapur.
    5. Bahan berjamur ditolak, tidak diolah. Bahan itu dipisahkan, diberi label, dan diputuskan penanggung jawab mutu bersama pemasok.

    Untuk kasus pembuka: wastafel disikat dengan APD lalu didisinfeksi (Contoh 6); linen pasien berkateter mengikuti prosedur linen rumah sakit karena S. epidermidis patogen oportunistik pembentuk biofilm; dan kacang berjamur tidak disangrai, karena penyangraian tidak dinyatakan menghilangkan aflatoksin.

    Contoh kerja

    Contoh 1: membandingkan virulensi dari ID50. Soal OpenStax memberi ID50 patogen A 50 partikel, B 1.000 partikel, dan C 1×1061 \times 10^{6} partikel. Patogen A paling virulen. Menurut ukuran ini A 1.000/50=201.000/50 = 20 kali lebih virulen daripada B dan 106/50=20.00010^{6}/50 = 20.000 kali daripada C, tanpa menyatakan penyakit mana yang lebih berat.

    Contoh 2: satu spesies, banyak galur. ID50 EHEC 10 sampai 100 sel dan ETEC 10710^{7} sampai 101010^{10} sel. Selisih terkecil 107/100=10510^{7}/100 = 10^{5}, yaitu 100.000 kali, dan selisih terbesar 1010/10=10910^{10}/10 = 10^{9}. Laporan yang hanya menulis "E. coli" belum memberi tahu galurnya.

    Contoh 3: membaca LD50 dari data kelompok. Dari 10 hewan yang diberi 10310^{3} sel, 2 mati (20 persen); dari 10 hewan yang diberi 10410^{4} sel, 6 mati (60 persen) (angka latihan). Maka log⁡10D50=3+50−2060−20(4−3)=3,75\log_{10} D_{50} = 3 + \frac{50 - 20}{60 - 20}(4 - 3) = 3{,}75, sehingga D50=103,75≈5.600D_{50} = 10^{3{,}75} \approx 5.600 sel. Dengan 10 hewan per kelompok taksiran ini kasar.

    Contoh 4: satuan LD50 toksin. LD50 endotoksin 0,24 mg/kg sama dengan 0,24×106=240.0000{,}24 \times 10^{6} = 240.000 ng/kg, dan LD50 toksin botulinum 0,000001 mg/kg sama dengan 1 ng/kg; rasionya 240.000, sesuai OpenStax. Untuk hewan uji 0,02 kg (angka latihan), dosisnya 0,24×0,02=0,00480{,}24 \times 0{,}02 = 0{,}0048 mg atau 4,8 µg endotoksin, dan 1×0,02=0,021 \times 0{,}02 = 0{,}02 ng toksin botulinum. Angka hewan bukan takaran manusia.

    Contoh 5: suhu yang merusak toksin. Dengan TF=95TC+32T_F = \frac{9}{5}T_C + 32 (pengetahuan umum), 121 °C menjadi 95×121+32=249,8\frac{9}{5} \times 121 + 32 = 249{,}8 °F dan 41 °C menjadi 105,8105{,}8 °F, cocok dengan pembulatan OpenStax 250 °F dan 106 °F. Air bilasan 82 °C (angka latihan) di atas 41 °C, tetapi 121−82=39121 - 82 = 39 °C di bawah suhu inaktivasi endotoksin dan tidak menjamin rusaknya enterotoksin tahan panas (penalaran editorial).

    Contoh 6: wastafel berbiofilm pada kasus pembuka. Bagian yang diusap memuat 10610^{6} bakteri, disinfektan menurunkan sel di dalam biofilm hanya 2 log, dan penyikatan melepas 3 log (angka latihan; reduksi log ada di Bab 3 tentang kinetika kematian mikroba). Tanpa sikat tersisa 106×10−2=10410^{6} \times 10^{-2} = 10^{4} bakteri; dengan sikat lalu disinfeksi tersisa 106×10−3×10−2=1010^{6} \times 10^{-3} \times 10^{-2} = 10, yaitu 1.000 kali lebih sedikit. Klaim "satu menit" pada label tidak dapat diandalkan untuk sel yang terlindung EPS (penalaran editorial).

    Contoh 7: makanan yang dibiarkan. Salad tercemar 100 CFU/g S. aureus dari luka di tangan dan dibiarkan pada suhu ruang dengan waktu generasi 30 menit (angka latihan). Kenaikan 1.000 kali memerlukan n=log⁡21.000≈9,97n = \log_{2} 1.000 \approx 9{,}97, dibulatkan 10 generasi atau sekitar 5 jam, dengan N=N0×2nN = N_0 \times 2^{n} dari Bab 1 tentang pertumbuhan mikroba. Hasilnya 100×210=102.400100 \times 2^{10} = 102.400 CFU/g. OpenStax tidak memberi ambang pembentukan toksin; contoh ini menunjukkan mengapa batas waktu di Bab 7 tentang sanitasi dapur ketat.

    Contoh 8: pembawa sehat dan postulat pertama. Bila 240 pekerja dapur (angka latihan) mempunyai proporsi pembawa H. pylori seperti perkiraan OpenStax, yaitu lebih dari 50 persen, lebih dari 0,5×240=1200{,}5 \times 240 = 120 orang membawanya, sebagian besar tanpa sakit. Menemukannya pada satu pekerja yang sakit perut belum membuktikan penyebab; diagnosis wewenang dokter.

    Contoh 9: toksin A-B dengan subunit A rusak. Toksin kolera tersusun atas 1 subunit A dan 5 subunit B, jadi 6 subunit. Bila mutasi membuat subunit A tidak dapat berinteraksi dengan protein inang, kelima subunit B masih mengikat reseptor sehingga toksin tetap masuk ke sel usus, tetapi cAMP tidak naik dan diare tidak terjadi (penalaran dari soal berpikir kritis OpenStax). Subunit B menentukan sasaran; subunit A menentukan kerusakan.

    Kondisi berhenti

    Hentikan pekerjaan dan serahkan kepada penanggung jawab, tim PPI, atau tenaga kesehatan bila:

    1. Ditemukan bahan pangan berjamur, kaleng menggembung, atau pangan yang diduga tercemar toksin; jangan diolah atau dicicipi, pisahkan, beri label, dan laporkan menurut Bab 7 dan Bab 20 tentang keamanan pangan.
    2. Dua orang atau lebih sakit dengan gejala serupa setelah makan dari dapur yang sama; ikuti prosedur pelaporan dugaan keracunan pangan di Bab 20.
    3. Pekerja diare, muntah, atau mempunyai luka bernanah di tangan; ia melapor dan tidak menangani makanan siap saji sampai diizinkan.
    4. Teknisi tertusuk atau tergores benda yang mungkin tercemar darah atau cairan tubuh; lakukan pertolongan pertama menurut prosedur pascapajanan dan lapor segera seperti di Bab 11.
    5. Lendir cepat kembali di wastafel ruang pasien rentan; pembongkaran saluran dikoordinasikan dengan tim PPI.
    6. Teknisi diminta menyatakan alat atau linen steril atau bebas endotoksin; keputusan itu milik proses tervalidasi dan unit sterilisasi.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    1. "Kalau bakterinya sudah mati, makanan atau alat itu aman." Endotoksin dilepas saat bakteri Gram negatif mati, sebagian enterotoksin tahan perebusan, dan mikotoksin bertahan melewati pengolahan.
    2. "Bakteri kulit normal tidak mungkin menyebabkan infeksi." S. epidermidis adalah penghuni kulit yang menurut OpenStax termasuk penyebab infeksi nosokomial yang paling sering, terutama lewat biofilm pada kateter.
    3. "Semua E. coli sama berbahayanya." ID50 galur E. coli berkisar dari 10 sel sampai 101010^{10} sel, dan galur patogen berbeda karena gen virulensi yang didapatnya.
    4. "Dosis infektif yang kecil berarti penyakitnya pasti berat." Menurut OpenStax, satu sel serovar Typhimurium dapat menginfeksi tetapi kematiannya kurang dari 1 persen pada orang dewasa sehat.
    5. "LD50 hewan dapat dipakai sebagai takaran berbahaya untuk manusia." LD50 adalah hasil uji kelompok hewan, bukan takaran yang dapat dihitung ulang di lapangan.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 11 dan Bab 20 melanjutkan bab ini ke rantai penularan dan patogen pangan, Bab 18 ke virus, Bab 14 ke keragaman bakteri, dan Bab 30 ke perpindahan gen. Dasar pembersihannya ada di Bab 3 tentang reduksi log, Bab 4 tentang disinfektan, Bab 5 tentang biofilm, Bab 14 · Laundry tentang linen, dan Bab 7 tentang dapur. Pertahanan tubuh ada di Bab 24 dan Bab 25, dan vaksin di Bab 26.

    Latihan dan pembahasan

    Coba jawab dulu, lalu buka pembahasannya.

    1. Patogen X mempunyai ID50 200 sel dan patogen Y 20.000 sel. Mana yang lebih virulen menurut ID50, dan berapa kali?

      Lihat pembahasan

      Patogen X lebih virulen karena memerlukan lebih sedikit sel untuk menginfeksi separuh kelompok. Menurut ukuran ini X 20.000/200=10020.000/200 = 100 kali lebih virulen, tetapi angka itu tidak menyatakan keparahan penyakitnya.

    2. Kelompok hewan yang diberi 10210^{2} sel menunjukkan 10 persen mati, 10310^{3} sel 40 persen, dan 10410^{4} sel 80 persen (angka latihan). Taksir LD50-nya.

      Lihat pembahasan

      Nilai 50 persen terapit oleh 10310^{3} (40 persen) dan 10410^{4} (80 persen), sehingga log⁡10D50=3+50−4080−40=3,25\log_{10} D_{50} = 3 + \frac{50 - 40}{80 - 40} = 3{,}25. Taksirannya 103,25≈1.80010^{3{,}25} \approx 1.800 sel, dengan ketelitian yang bergantung pada jumlah hewan per kelompok.

    3. Juru masak berkata, "Kaldu ini sudah direbus, jadi bakteri dan racunnya hilang." Apa jawaban yang tepat?

      Lihat pembahasan

      Perebusan membunuh banyak bakteri, tetapi enterotoksin S. aureus tidak rusak pada 100 °C dan endotoksin baru rusak pada 121 °C selama 45 menit. Kaldu yang diduga tercemar toksin tidak diselamatkan dengan perebusan, dan keputusannya mengikuti Bab 20 dan Bab 7.

    4. Sebuah toksin berupa protein, dibuat bakteri Gram positif, mengikat reseptor tertentu pada neuron, dan rusak oleh panas. Golongkan toksin itu.

      Lihat pembahasan

      Toksin itu eksotoksin, karena berupa protein, dibuat bakteri hidup, menyasar reseptor tertentu, dan tidak tahan panas. Karena mengikat reseptor neuron lalu bekerja di dalam sel, golongannya toksin A-B seperti toksin botulinum dan tetanus.

    5. Petugas sortir linen kotor mempunyai luka gores di jarinya. Pintu masuk apa yang terbuka, dan apa yang dilakukan?

      Lihat pembahasan

      Luka membuka jalur parenteral, sehingga mikroba dari linen dapat langsung mencapai jaringan di bawah kulit. Luka dicuci dan ditutup, sarung tangan dipakai sesuai tugas, kejadiannya dilaporkan, dan tanda radang dipantau seperti di Bab 24.

    6. Mengapa S. epidermidis aman di kulit petugas tetapi berbahaya bagi pasien berkateter?

      Lihat pembahasan

      Di kulit sehat S. epidermidis umumnya avirulen karena penghalang kulit utuh dan mikrobiota seimbang. Pada pasien berkateter bakteri ini membentuk biofilm pada alat, terlindung dari kekebalan dan antibiotik, dan dapat menyebabkan infeksi nosokomial seperti endokarditis.

    Referensi

    Sumber luar

    • OpenStax: Microbiologyopenstax.org
    • Mycotoxinswho.int
    • Environmental Health Criteria 11 MYCOTOXINSiris.who.int

    Bab terkait

    Uji diri · 3 soal

    Cek pemahaman sebelum berpindah bab

    Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.

    0/3dinilai
    1

    Patogen X mempunyai ID50 200 sel dan patogen Y 20.000 sel. Mana yang lebih virulen menurut ID50, dan berapa kali?

    2

    Kelompok hewan yang diberi 10210^{2} sel menunjukkan 10 persen mati, 10310^{3} sel 40 persen, dan 10410^{4} sel 80 persen (angka latihan). Taksir LD50-nya.

    3

    Juru masak berkata, "Kaldu ini sudah direbus, jadi bakteri dan racunnya hilang." Apa jawaban yang tepat?

    Progres penilaian mandiri0%

    Bab terdekat