Vaksin dan kekebalan kelompok: jenis vaksin, cara vaksin melatih sistem imun, ambang kekebalan kelompok, keamanan dan efek samping, vaksin untuk pekerja, dan klaim keliru tentang vaksin
Seorang teknisi baru rumah sakit menolak imunisasi hepatitis B karena pesan berantai menyebut vaksin menyebabkan autisme dan karena sembilan dari sepuluh rekannya sudah divaksin. Bab ini menjelaskan cara vaksin melatih sistem imun, jenis vaksin beserta untung ruginya menurut OpenStax, kekebalan kelompok dan ambang cakupan dengan rumus satu dikurangi satu per R0, serta batas rumus itu. Bab membahas keamanan dan kejadian ikutan pasca imunisasi, program imunisasi dan imunisasi pekerja rumah sakit di Indonesia sejauh dapat dipastikan dari sumber resmi per 22 Oktober 2026, dan klaim keliru tentang vaksin beserta sumber bantahannya. Bab tidak menganjurkan vaksin tertentu untuk orang tertentu; keputusannya ada pada dokter, unit kesehatan kerja, dan fasilitas kesehatan.
Sebuah rumah sakit menerima dua belas teknisi dan petugas laundry baru, dan unit kesehatan kerja menjadwalkan skrining serta imunisasi hepatitis B (kasus latihan). Seorang teknisi menolak dengan dua alasan dari pesan berantai: vaksin menyebabkan autisme, dan sembilan dari sepuluh staf sudah divaksin sehingga ia terlindungi kekebalan kelompok. Kepala teknisi lalu bertanya apakah teknisi itu boleh tetap memperbaiki saluran di ruang isolasi. Alasan pertama sudah dibantah tinjauan bukti WHO. Alasan kedua salah paham: Bab 11 tentang rantai penularan mencatat virus hepatitis B sebagai salah satu patogen yang paling dikhawatirkan pada luka tusuk benda tajam, dan paparan itu datang dari darah pasien, bukan dari rekan kerja, sehingga kekebalan rekan tidak memutus jalur itu. Penempatan kerja diputuskan unit kesehatan kerja dan dokter, bukan kepala teknisi.
Batas pembahasan
Antigen, antibodi, sel memori, serta respons primer dan sekunder ada di Bab 25 tentang pertahanan tubuh adaptif, dan tidak diulang. Bab ini membahas jenis vaksin, cara vaksin memakai memori imun, kekebalan kelompok dan ambang cakupannya, keamanan, imunisasi pekerja, dan klaim keliru. Insidens, prevalensi, dan penularan berantai ada di Bab 19 tentang epidemiologi wabah, rantai penularan dan prosedur pascapajanan di Bab 11, uji titer di Bab 27 tentang uji diagnostik, dan infeksi saluran napas di Bab 28.
Sumber utamanya OpenStax Microbiology subbab 18.5, 16.1, 16.3, dan 16.4, serta OpenStax Biology 2e subbab 42.2. Rumus ambang kekebalan kelompok, nilai R0, aturan Indonesia, dan tinjauan keamanan WHO berasal dari cuplikan pencarian dengan status yang dicatat di peta sumber. Bab ini tidak menganjurkan vaksin tertentu untuk orang tertentu. Pertanyaan tentang imunisasi seseorang dibawa ke dokter, puskesmas, atau unit kesehatan kerja.
Cara vaksin melatih sistem imun
Vaksinasi (vaccination) adalah pemberian sengaja antigen dari patogen yang dikenal untuk membangkitkan kekebalan aktif buatan tanpa infeksi alami. Menurut OpenStax, vaksin merangsang pembentukan sel memori seperti pada respons primer, sehingga saat bertemu patogen yang sebenarnya tubuh langsung memberi respons sekunder yang kuat tanpa lebih dulu menderita infeksi. Ajuvan (adjuvant) adalah komponen tambahan yang diberikan bersama antigen vaksin untuk membantu merangsang respons imun, menurut Biology 2e. Karena setiap paparan ulang menambah sel memori dan sebagian sel memori mati, sebagian vaksin memerlukan dosis penguat; Biology 2e mencontohkan penguat tetanus setiap sepuluh tahun dengan alasan sel memori hanya hidup selama itu. Jadwal penguat untuk seseorang ditetapkan tenaga kesehatan menurut pedoman yang berlaku.
Variolasi (variolation) adalah inokulasi sengaja dengan bahan dari koreng atau nanah penderita cacar untuk mencegah cacar yang lebih berat. Menurut OpenStax, praktik ini tampaknya bermula di Tiongkok pada abad ke-10. Infeksinya biasanya lebih ringan, tetapi dapat berat atau mematikan dan dapat memicu wabah. Edward Jenner pada 1796 memakai bahan dari luka cacar sapi, penyakit yang mirip tetapi lebih ringan; nama vaksinasi berasal dari kata Latin vacca, sapi. Vaksin Jenner bekerja karena virus cacar sapi berkerabat secara genetik dan antigenik dengan virus variola. Program vaksinasi WHO yang dimulai pertengahan 1960-an menghasilkan pemberantasan cacar sedunia pada 1980.
Biology 2e mencatat bahwa vaksin suntik merangsang imunitas sistemik tetapi berpengaruh kecil pada imunitas mukosa, sedangkan vaksin lewat mukosa membangkitkan keduanya; contoh yang disebut adalah vaksin influenza lewat hidung serta vaksin polio dan tifoid lewat mulut.
Jenis vaksin dan untung ruginya
Vaksin yang ideal tidak menimbulkan efek samping berat dan tidak berisiko menularkan penyakit yang dicegahnya. Ringkasan tabel OpenStax:
| Jenis | Isi | Keunggulan | Kelemahan | Contoh dari OpenStax |
|---|---|---|---|---|
| Hidup dilemahkan | Galur patogen utuh yang dilemahkan | Imunitas seluler dan humoral; tahan lama; dapat menular ke kontak | Sulit disimpan dan diangkut; berisiko pada orang dengan gangguan kekebalan; dapat kembali ganas | Cacar air, campak, gondongan, rubela, tuberkulosis, demam tifoid, demam kuning |
| Inaktif | Patogen utuh yang dimatikan dengan panas, bahan kimia, atau radiasi | Mudah disimpan; tidak berisiko infeksi aktif berat | Imunitas lebih lemah, umumnya humoral saja; dosis lebih tinggi dan lebih banyak penguat | Kolera, hepatitis A, influenza, pes, rabies |
| Subunit | Antigen kunci saja | Risiko efek samping lebih rendah | Daya tahan terbatas; beberapa dosis; tidak melindungi dari variasi antigen | Antraks, hepatitis B, influenza, meningitis, papiloma, pneumonia pneumokokus, batuk rejan |
| Toksoid | Toksin bakteri yang diinaktifkan | Antibodi yang menetralkan toksin | Tidak mencegah infeksi | Botulisme, difteri, pertusis, tetanus |
| Konjugat | Polisakarida kapsul yang digabung protein | Respons bergantung sel T terhadap kapsul; lebih baik pada anak kecil | Mahal dibuat; dapat mengganggu vaksin lain | Meningitis oleh Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis |
Vaksin konjugat menjawab masalah yang dibahas di Bab 25: polisakarida kapsul adalah antigen yang tidak bergantung sel T, dan anak di bawah dua tahun tidak menanggapi vaksin polisakarida dengan baik; protein yang digabungkan membuat respons bergantung sel T terhadap kapsul. Vaksin DNA memasukkan gen antigen dalam plasmid rekombinan sehingga sel penerima membuat dan menyajikan antigennya; menurut OpenStax kebanyakan vaksin DNA untuk manusia masih dikembangkan. Edisi OpenStax yang dipakai belum membahas vaksin mRNA, dan bab ini tidak menambahkan klaim tentangnya dari luar sumber.
Kekebalan kelompok dan ambang cakupan
Kekebalan kelompok (herd immunity) adalah perlindungan bagi individu yang rentan karena jumlah individu rentan dalam populasi terlalu sedikit untuk menyebarkan penyakit secara efektif. OpenStax menegaskan bahwa kekebalan kelompok tidak berhubungan dengan kemampuan seseorang membentuk respons imun, dan bahwa program vaksinasi harus berjalan terus karena orang baru selalu masuk ke populasi, misalnya lewat kelahiran atau perpindahan.
Angka reproduksi dasar (basic reproduction number, R0) adalah rata-rata jumlah infeksi baru yang ditimbulkan satu orang yang menular bila masuk ke populasi yang seluruhnya rentan. Menurut ulasan Core Concept yang diarsipkan di PubMed Central, ambang kekebalan kelompok secara matematis adalah:
dengan proporsi populasi yang harus kebal (tanpa satuan) dan angka reproduksi dasar (tanpa satuan). Rumus itu menganggap vaksinasi tersebar acak dan semua orang bercampur merata. Asal rumusnya: bila tiap kasus rata-rata menulari kali proporsi orang rentan , rantai berhenti tumbuh saat , yaitu saat (penalaran editorial; bandingkan rasio antargelombang di Bab 19).
Nilai yang dipakai di bab ini, semuanya dengan atribusi:
| Penyakit | Nilai | Sumber dan status |
|---|---|---|
| Campak | R0 sering dikutip 12 sampai 18 | Tinjauan sistematis R0 campak, cuplikan pencarian |
| Campak | Kekebalan kelompok memerlukan sekitar 95 persen populasi divaksin | Tanya jawab WHO, cuplikan pencarian |
| Polio | Ambang sekitar 80 persen | Tanya jawab WHO, cuplikan pencarian |
Vaksin yang efektivitasnya di bawah 100 persen memerlukan cakupan lebih tinggi daripada . Hubungan yang lazim dipakai adalah , dengan cakupan yang diperlukan dan efektivitas vaksin sebagai pecahan (pengetahuan umum; Contoh 3). OpenStax mencatat contoh bahwa sebagian anak hanya menerima satu dosis vaksin MMR dari dua yang dianjurkan.
Batas yang sering terlupa (penalaran editorial dari OpenStax): kekebalan kelompok hanya memutus penularan dari orang ke orang. Clostridium tetani bertahan di tanah sebagai endospora, sehingga tetanus didapat dari lingkungan dan setiap orang hanya terlindung oleh kekebalannya sendiri. Paparan hepatitis B yang dikhawatirkan Bab 11 pada pekerja rumah sakit datang lewat darah pasien pada luka tusuk, sehingga persentase rekan yang sudah divaksin tidak melindungi teknisi yang belum kebal.
Keamanan, efek samping, dan KIPI
Menurut OpenStax, vaksin seperti obat lain dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, dan risikonya mungkin sangat rendah dibandingkan risiko infeksinya. Vaksin hidup dilemahkan dapat menimbulkan gejala, terutama pada orang dengan gangguan kekebalan, dan berisiko kembali ganas; vaksin inaktif dapat menimbulkan reaksi radang di tempat suntikan tetapi tidak berisiko menimbulkan infeksi aktif berat; vaksin subunit berisiko efek samping lebih rendah.
Kejadian ikutan pasca imunisasi (adverse event following immunization, KIPI) adalah kejadian medik yang diduga berhubungan dengan imunisasi, menurut portal keamanan vaksin Kementerian Kesehatan. Menurut buku ajar imunisasi terbitan Kementerian Kesehatan tahun 2015, KIPI mencakup reaksi vaksin, reaksi suntikan, efek farmakologis, kesalahan prosedur, koinsidensi, dan kejadian yang hubungan sebabnya belum dapat ditentukan. Koinsidensi berarti kejadian yang kebetulan muncul sesudah imunisasi tetapi disebabkan hal lain (pengetahuan umum). Petunjuk teknis Bulan Imunisasi Anak Sekolah 2022 menyebut KIPI yang umum pada vaksin HPV dan Td berupa reaksi lokal bengkak, kemerahan, dan nyeri di tempat suntikan, menyarankan kompres dingin dan tidak memijat bagian itu, serta berobat ke puskesmas bila reaksi lokal tidak membaik dalam 3 hari. Menurut halaman Kementerian Kesehatan tentang pemantauan KIPI, Komite Nasional PP KIPI ditetapkan Menteri Kesehatan dan komite daerah ditetapkan gubernur; portal keamanan vaksin menyebut komite nasional mengevaluasi laporan KIPI dan membuat rekomendasi tindak lanjut. Semua butir ini dibaca dari cuplikan pencarian per 22 Oktober 2026, sehingga pedoman lengkap tetap dibaca di sumber aslinya.
Pembagian KIPI menjelaskan mengapa "sakit sesudah divaksin" belum berarti "sakit karena vaksin": di antara banyak orang yang diimunisasi, sebagian pasti jatuh sakit oleh sebab lain dalam minggu yang sama (Contoh 7). Penilaian sebab akibat adalah pekerjaan komite pengkaji, bukan atasan atau rekan kerja.
Program imunisasi di Indonesia per 22 Oktober 2026
Yang dapat dipastikan dari pencarian terbatas di situs Kementerian Kesehatan per 22 Oktober 2026:
- Rilis Kementerian Kesehatan tahun 2022 menyebut tiga jenis vaksin ditambahkan ke imunisasi rutin, salah satunya HPV; cuplikan pencarian menyebut jumlah antigen imunisasi rutin anak naik dari 11 menjadi 14, dengan PCV untuk mencegah radang paru dan rotavirus untuk mencegah diare berat.
- Cuplikan halaman Kementerian Kesehatan tentang imunisasi bayi menyebut jadwal rutin dimulai dengan hepatitis B (HB0) sebelum umur 24 jam, serta BCG dan polio tetes pertama sebelum umur 1 bulan.
- Vaksin HPV diberikan kepada siswa lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah menurut petunjuk teknisnya.
- Jumlah dosis rotavirus berbeda antarartikel Kementerian Kesehatan yang muncul di pencarian: dua kali di artikel AYO SEHAT dan tiga kali di sumber Kementerian Kesehatan lain. Karena itu jadwal lengkap untuk seorang anak ditanyakan ke posyandu, puskesmas, atau dokter, bukan disalin dari artikel lama.
Data jadwal di OpenStax adalah data Amerika Serikat. Contohnya, menurut OpenStax jadwal AS saat itu memberikan vaksin konjugat meningokokus pada umur 11 sampai 12 tahun dengan penguat pada umur 16, dan CDC menerbitkan jadwal vaksin di AS. Angka itu tidak dipakai sebagai jadwal Indonesia.
Vaksin dan pemeriksaan untuk pekerja
Untuk rumah sakit, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016 tentang keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit, menurut cuplikan pencarian, menetapkan bahwa kegiatan preventif paling sedikit meliputi imunisasi, pemeriksaan kesehatan, surveilans lingkungan kerja, dan surveilans medik, dan bahwa imunisasi dilakukan bagi tenaga kesehatan, tenaga nonkesehatan, dan SDM rumah sakit lain yang berisiko. Lampirannya menyebut perlindungan khusus lewat imunisasi bagi pekerja di area berisiko, antara lain tifoid, hepatitis, influenza, dan kanker leher rahim. Peraturan itu juga meminta pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, berkala, dan khusus menurut risiko pekerjaan. Status berlakunya tanpa perubahan belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 22 Oktober 2026.
Kementerian Kesehatan menyatakan tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai kelompok prioritas penerima imunisasi hepatitis B gratis. Menurut cuplikan halaman itu, imunisasinya tiga dosis dengan selang minimal satu bulan antara dosis pertama dan kedua serta lima bulan antara dosis kedua dan ketiga, dan didahului skrining HBsAg dan anti-HBs; imunisasi hanya diberikan bila keduanya nonreaktif. Bab 21 · Laundry tentang K3 laundry menganjurkan pekerja area kotor diikutkan program vaksinasi yang berlaku, termasuk hepatitis B. OpenStax menulis bahwa pemeriksaan titer MMR sering menjadi syarat sebelum bekerja bagi tenaga kesehatan yang sering kontak dengan anak kecil atau pasien dengan gangguan kekebalan; uraian itu menggambarkan praktik dalam konteks buku tersebut, bukan aturan Indonesia.
Aturan imunisasi khusus untuk pekerja hotel, laundry umum, atau dapur di luar rumah sakit belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 22 Oktober 2026. Pekerja di tempat itu bertanya kepada dokter perusahaan atau puskesmas.
Klaim keliru tentang vaksin dan sumbernya
- Vaksin menyebabkan autisme. OpenStax menyebut hubungan itu sudah dibantah secara menyeluruh. Komite Penasihat Global WHO untuk Keamanan Vaksin pada Desember 2025 meninjau bukti terbitan Januari 2010 sampai Agustus 2025 dan menegaskan kembali tidak ada bukti hubungan sebab akibat antara vaksin dan autisme. Menurut WHO, dari 31 studi primer dan 5 meta-analisis, 20 studi primer, termasuk yang metodenya paling ketat, dan kelima meta-analisis tidak menemukan hubungan; studi yang melaporkan hubungan dinilai berbukti sangat lemah dan berisiko bias tinggi. Menurut tinjauan di jurnal yang diarsipkan PubMed Central, makalah Wakefield tahun 1998 yang memulai klaim ini ditarik karena ketidakpatutan dalam perekrutan subjek dan konflik kepentingan keuangan.
- Kekebalan kelompok sudah melindungi saya. Kekebalan kelompok hanya bertahan bila cukup banyak orang divaksin; OpenStax, dalam konteks AS, mencatat bahwa bertambahnya orang yang tidak divaksin diyakini memicu wabah baru batuk rejan dan campak. Wabah campak 2014 di sebuah taman hiburan California menjangkiti 134 orang di 24 negara bagian dalam 4 bulan dan mungkin dipermudah rendahnya cakupan vaksinasi di beberapa komunitas (data AS).
- Lebih dari satu vaksin sekaligus menyebabkan kematian. Kementerian Kesehatan menerbitkan bantahan berjudul "Imunisasi Lebih dari Satu Jenis Vaksin Tidak Sebabkan Kematian". Isi lengkapnya tidak terbaca dari cuplikan, sehingga bab ini hanya mengutip judulnya.
- Vaksin menularkan penyakit yang dicegahnya. Untuk vaksin inaktif, subunit, dan toksoid tidak ada patogen hidup yang utuh, dan OpenStax menyebut vaksin inaktif tidak berisiko infeksi aktif berat. Vaksin hidup dilemahkan memang dapat menular ke kontak sebagai infeksi subklinis dan berisiko kembali ganas; itulah sebabnya status kekebalan penerima dinilai dokter sebelum vaksin semacam itu diberikan (penalaran editorial).
- Kekebalan dari sakit lebih baik daripada vaksin. Vaksin memberi memori tanpa harus menderita infeksi pertama. Campak, misalnya, menurut OpenStax dapat berakibat radang paru, radang otak, dan kematian, dengan angka kematian sampai 10 sampai 15 persen pada infeksi berat oleh galur yang sangat ganas, dan lebih dari 145.000 kematian campak sedunia pada 2013 menurut WHO.
Contoh kerja
Contoh 1: ambang campak. Dengan R0 12 sampai 18 dari tinjauan sistematis, dan , yaitu 91,7 sampai 94,4 persen. Angka sekitar 95 persen dari WHO sedikit di atas ujung atas rentang itu.
Contoh 2: membalik rumus. Ambang 80 persen setara , dan ambang 95 persen setara . Hitungan ini hanya aljabar; R0 nyata sebuah penyakit diambil dari kajian epidemiologi, bukan dari ambang program (penalaran editorial).
Contoh 3: efektivitas vaksin. Untuk dan efektivitas (angka latihan), , yaitu 96,5 persen. Bila , , lebih dari 100 persen, sehingga ambang tidak dapat dicapai dengan efektivitas itu saja. Untuk R0 18 dan , .
Contoh 4: rantai penularan. Dengan R0 12 dan 95 persen populasi kebal, tiap kasus rata-rata menulari orang, sehingga 10 kasus menjadi 6, lalu 3,6, lalu 2,2 dan rantai mereda. Bila yang kebal 85 persen, angkanya , sehingga 10 kasus menjadi 18, lalu 32,4, lalu 58,3 (angka latihan; penalaran editorial). Pola ini sama dengan rasio antargelombang di Bab 19.
Contoh 5: kantong rentan. Laundry 100 orang dengan 98 persen kebal dan dapur 50 orang dengan 80 persen kebal (angka latihan). Totalnya , di atas 91,7 persen, tetapi dapur hanya 80 persen. Karena orang lebih sering bercampur di dalam bagiannya sendiri, dapur tetap dapat menjadi tempat penularan; rumus ambang menganggap semua orang bercampur merata.
Contoh 6: pergantian staf. Hotel dengan 400 staf, 368 kebal atau 92 persen (angka latihan). Dalam setahun 40 staf keluar secara acak, sekitar di antaranya kebal, dan 40 staf baru masuk dengan 70 persen kebal, yaitu 28 orang. Yang kebal menjadi , atau persen, turun di bawah 91,7 persen. Inilah sebabnya OpenStax menyebut program vaksinasi harus berjalan terus.
Contoh 7: koinsidensi. Seribu pekerja diimunisasi dalam satu minggu, dan angka latar belakang suatu penyakit 2 kasus per 1.000 orang per minggu (angka latihan). Tanpa pengaruh vaksin pun diharapkan kasus pada minggu sesudah imunisasi. Kasus itu tetap dilaporkan, lalu dikaji apakah termasuk koinsidensi.
Contoh 8: selang minimal hepatitis B. Bila dosis pertama 2 November 2026 (angka latihan), dengan selang minimal dari cuplikan Kementerian Kesehatan dosis kedua paling cepat 2 Desember 2026 dan dosis ketiga paling cepat 2 Mei 2027, sehingga rangkaian paling singkat bulan. Jadwal sebenarnya untuk seseorang ditetapkan petugas setelah skrining.
Contoh 9: membaca data luar negeri. Menurut OpenStax, wabah campak di Filipina menjangkiti lebih dari 58.000 orang dan menewaskan 110, yaitu persen. Wabah California menjangkiti 134 orang di 24 negara bagian, rata-rata per negara bagian atau per bulan, sedangkan AS biasanya mencatat kurang dari 200 kasus campak setahun. Semua angka ini data Filipina dan AS, bukan data Indonesia.
Kondisi berhenti
Hentikan dan serahkan kepada dokter, unit kesehatan kerja, tim pencegahan infeksi, atau puskesmas bila:
- Teknisi atau atasan diminta memutuskan vaksin apa yang dibutuhkan, boleh, atau tidak boleh diterima seseorang.
- Muncul reaksi sesudah imunisasi yang berat, atau reaksi lokal yang tidak membaik dalam 3 hari seperti dalam petunjuk teknis BIAS; bawa ke fasilitas kesehatan dan laporkan.
- Teknisi diminta menyimpan, memindahkan, atau mengatur lemari pendingin vaksin di luar prosedur dan pengawasan petugas kesehatan.
- Pekerja yang hamil atau mempunyai gangguan kekebalan ditawari vaksin; keputusan ada pada dokter, dan OpenStax mencatat risiko vaksin hidup dilemahkan pada orang dengan gangguan kekebalan.
- Teknisi diminta bekerja di ruang isolasi atau area berisiko tanpa persyaratan kesehatan kerja yang ditetapkan fasilitas.
- Terjadi luka tusuk atau percikan darah; jalankan prosedur pascapajanan di Bab 11 tentang rantai penularan, apa pun status vaksinnya.
- Ada permintaan menyebarkan informasi vaksin dari pesan berantai; periksa dulu ke sumber resmi seperti Kementerian Kesehatan atau WHO.
Salah tafsir yang sering terjadi
Tebak dulu di mana kelirunya, lalu buka penjelasannya.
Anggapan keliru
Ambang 95 persen berlaku untuk semua penyakit.
Mengapa keliru?
Ambang bergantung pada R0; menurut WHO ambang polio sekitar 80 persen, campak sekitar 95 persen.
Anggapan keliru
Bila cakupan di atas ambang, semua orang pasti aman.
Mengapa keliru?
Rumus menganggap pencampuran merata; kantong rentan di satu bagian tetap dapat menularkan (Contoh 5).
Anggapan keliru
Bengkak dan nyeri di tempat suntikan berarti vaksin berbahaya.
Mengapa keliru?
Petunjuk teknis BIAS menyebutnya KIPI yang umum; reaksi yang tidak membaik atau berat dibawa ke puskesmas dan dilaporkan.
Anggapan keliru
Sakit sesudah diimunisasi pasti disebabkan vaksin.
Mengapa keliru?
KIPI mencakup koinsidensi, dan penilaian sebabnya dilakukan komite pengkaji.
Anggapan keliru
Vaksin inaktif dapat menimbulkan penyakitnya.
Mengapa keliru?
Patogennya sudah dimatikan; OpenStax menyebut tidak ada risiko infeksi aktif berat.
Anggapan keliru
Jadwal vaksin di buku AS berlaku di Indonesia.
Mengapa keliru?
Jadwal OpenStax adalah jadwal AS; jadwal Indonesia ditetapkan Kementerian Kesehatan dan dijelaskan petugas kesehatan.
Hubungan dengan bab lain
Bab 25 menjelaskan memori imun yang dipakai vaksin, Bab 19 penularan berantai dan rasio antargelombang, Bab 11 jalur penularan lewat benda tajam dan prosedur pascapajanan, Bab 21 · Laundry program vaksinasi pekerja laundry, Bab 27 uji titer dan antibodi, dan Bab 28 infeksi saluran napas di hotel dan rumah sakit.
Latihan dan pembahasan
Coba jawab dulu, lalu buka pembahasannya.
Sebuah penyakit mempunyai R0 = 6 (angka latihan). Berapa ambang kekebalan kelompoknya?
Lihat pembahasan
, yaitu sekitar 83,3 persen populasi harus kebal. Rumus ini menganggap pencampuran merata, sehingga kantong rentan tetap perlu diperhatikan.
Untuk penyakit pada soal 1, berapa cakupan yang diperlukan bila efektivitas vaksin 90 persen (angka latihan)?
Lihat pembahasan
, yaitu sekitar 92,6 persen. Cakupan harus lebih tinggi daripada ambang karena sebagian orang yang divaksin tetap tidak terlindung.
Golongkan menurut OpenStax: (a) toksin tetanus diolah kimia; (b) antigen permukaan virus hepatitis B dibuat ragi hasil rekayasa; (c) virus influenza dari telur ayam yang dimatikan; (d) virus influenza lemah yang disemprotkan ke hidung.
Lihat pembahasan
(a) toksoid dan (b) subunit, karena keduanya hanya memuat toksin atau antigen kunci; (c) inaktif karena patogen utuhnya dimatikan; (d) hidup dilemahkan karena virusnya masih menimbulkan infeksi ringan di hidung.
Mengapa kekebalan kelompok tidak melindungi seseorang dari tetanus?
Lihat pembahasan
Clostridium tetani bertahan di tanah sebagai endospora, dan tetanus tidak menular dari orang ke orang (pengetahuan umum). Karena sumbernya lingkungan, kekebalan orang lain tidak mengurangi paparan, dan setiap orang hanya terlindung oleh kekebalannya sendiri.
Dua hari sesudah imunisasi seorang pekerja demam; pada minggu yang sama dua rekan yang tidak diimunisasi juga demam. Apa yang dilakukan?
Lihat pembahasan
Laporkan kepada petugas imunisasi, puskesmas, atau unit kesehatan kerja dan bawa pekerja ke fasilitas kesehatan bila perlu. Demam pada rekan yang tidak diimunisasi menunjukkan kemungkinan koinsidensi, tetapi penilaiannya dilakukan komite pengkaji KIPI.
Pada kasus pembuka, apakah argumen "sembilan dari sepuluh rekan sudah divaksin" cukup untuk menempatkan teknisi yang menolak di ruang isolasi?
Lihat pembahasan
Tidak cukup, karena paparan hepatitis B yang dikhawatirkan pada pekerja rumah sakit datang dari darah pasien lewat benda tajam, bukan dari rekan kerja. Penempatan di ruang isolasi diputuskan unit kesehatan kerja dan dokter menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016 dan prosedur fasilitas.
Referensi
Sumber luar
- OpenStax: Microbiologyopenstax.org
- OpenStax: Biology 2eopenstax.org
- Coronavirus disease (COVID-19): Herd immunity, lockdowns and COVID-19who.int
- Core Concept: Herd immunity is an important - and often misunderstood - public health phenomenonpmc.ncbi.nlm.nih.gov
- The basic reproduction number (R0) of measles: a systematic reviewpubmed.ncbi.nlm.nih.gov
- Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, Salah Satunya HPVsehatnegeriku.kemkes.go.id
- Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)kms.kemkes.go.id
- Sudah Lengkap? Ini Daftar Imunisasi untuk Bayi Baru Lahirayosehat.kemkes.go.id
- Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)kemkes.go.id
- Buku Ajar imunisasirepositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id
- Imunisasi Lebih dari Satu Jenis Vaksin Tidak Sebabkan Kematiankemkes.go.id
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016peraturan.bpk.go.id
- Tenaga Kesehatan dan Medis Jadi Kelompok Prioritas Penerima Imunisasi Hepatitis B, Gratis!kemkes.go.id
- Statement of the WHO Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) on vaccines and autismwho.int
- The MMR Vaccine and Autismpmc.ncbi.nlm.nih.gov
- KIPI - Keamanan Vaksin - Kementerian Kesehatankeamananvaksin.kemkes.go.id
Bab terkait
- Pertahanan tubuh adaptif: antigen dan antibodi, sel B dan sel T, respons primer dan sekunder, memori imun, serta kekebalan aktif dan pasifBiologi & Mikrobiologi · Bab 25
- Rantai penularan infeksi dan kewaspadaan standar untuk teknisi: agen, reservoir, cara penularan, inang rentan, kebersihan tangan, APD, benda tajam, tumpahan cairan tubuh, dan bekerja di area pasien dan dapurBiologi & Mikrobiologi · Bab 11
- Epidemiologi wabah untuk teknisi: insidens dan prevalensi, angka serangan, kurva epidemi, sumber bersama dan penularan berantai, melacak sumber, pelaporan, dan peran teknisi saat wabah di hotel atau rumah sakitBiologi & Mikrobiologi · Bab 19
- K3 laundry: bahaya kimia, biologis, fisik, ergonomi, dan tanggap daruratLaundry · Bab 21
- Uji diagnostik imunologi: aglutinasi, ELISA, uji cepat antigen dan antibodi, sensitivitas dan spesifisitas, nilai duga positif dan negatif, dan membaca hasil uji pekerjaBiologi & Mikrobiologi · Bab 27
- Infeksi saluran napas di hotel dan rumah sakit: tuberkulosis, influenza, COVID-19, Legionella, dan pneumonia, cara penularan lewat udara, dan peran teknisi gedungBiologi & Mikrobiologi · Bab 28
Uji diri · 3 soal
Cek pemahaman sebelum berpindah bab
Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.
Sebuah penyakit mempunyai R0 = 6 (angka latihan). Berapa ambang kekebalan kelompoknya?
Untuk penyakit pada soal 1, berapa cakupan yang diperlukan bila efektivitas vaksin 90 persen (angka latihan)?
Golongkan menurut OpenStax: (a) toksin tetanus diolah kimia; (b) antigen permukaan virus hepatitis B dibuat ragi hasil rekayasa; (c) virus influenza dari telur ayam yang dimatikan; (d) virus influenza lemah yang disemprotkan ke hidung.
Bab terdekat
Urutan baca menurut rak: Biologi & Mikrobiologi · Bab 27.
Urutan baca menurut rak: Biologi & Mikrobiologi · Bab 25.
Bab lain dalam Biologi dan Mikrobiologi.