Skip to content

Search ARSTEMA

Type a chapter, term, symptom, or tool.

    Back to the atlas
    Chemistry · Chapter 20Advanced

    By Kurnia · Published October 16, 2026 · Revised October 29, 2026 · Version 2 · 21 min read

    Kimia organik untuk teknisi: hidrokarbon, gugus fungsi, pelarut, asam lemak, ester, amina, dan membaca SDS

    Label produk pembersih penuh nama organik seperti isopropanol, etanolamina, asam lemak, eter glikol, dan senyawa amonium kuaterner, dan satu nama itu sudah memberi tahu banyak hal tentang kelarutan, keasaman, sifat mudah terbakar, dan campuran yang harus dihindari. Bab ini membahas karbon sebagai kerangka molekul organik, hidrokarbon jenuh, tak jenuh, dan aromatik, gugus fungsi dan deret homolog, membaca rumus dan nama, alkohol, eter, dan glikol, aldehida dan keton, asam karboksilat, ester, lemak, dan sabun, amina, amida, dan amonium kuaterner, senyawa halogen organik, hubungan gugus fungsi dengan sifat, serta membaca SDS dengan kacamata gugus fungsi. Enam contoh kerja dan enam latihan dengan kunci beralasan menutup bab.

    This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.

    Section you’re reading: Chapter opening

    Seorang teknisi laundry diminta membandingkan tiga produk dari tiga pemasok. Produk pertama mencantumkan "alkohol etoksilat" dan "etanolamina". Produk kedua mencantumkan "senyawa amonium kuaterner" dan "isopropanol". Produk ketiga, penghilang noda minyak, mencantumkan "eter glikol" dan "ester asam lemak". Di gudang, seorang operator berencana mencampur sisa produk kedua dengan pemutih untuk "menambah daya bunuh kuman", dan teknisi lain menyemprot pembersih kontak berbasis pelarut ke dalam panel listrik yang tertutup rapat.

    Ketiga produk itu berisi senyawa organik, yaitu senyawa karbon. Nama-nama di label tampak asing, tetapi sebagian besar dibangun dari beberapa potongan yang berulang, yaitu gugus fungsi. Sekali potongan itu dikenali, teknisi dapat menebak apakah suatu zat larut dalam air, bersifat asam atau basa, mudah menguap dan terbakar, atau berbahaya bila dicampur dengan oksidator. Bab ini memberi kerangka itu, tanpa menuntut hafalan reaksi sintesis.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas karbon dan kerangka molekul organik, hidrokarbon, gugus fungsi dan deret homolog, membaca rumus dan nama, alkohol, eter, glikol, aldehida, keton, asam karboksilat, ester, lemak, sabun, amina, amida, amonium kuaterner, senyawa halogen organik, hubungan gugus fungsi dengan sifat, dan membaca SDS.

    Rumus molekul, rumus empiris, dan tata nama senyawa anorganik dibahas di Bab 6 tentang rumus kimia dan tata nama, gaya antarmolekul di Bab 5 tentang gaya antarmolekul, dan pKa di Bab 15 tentang asam-basa lanjut. Kerja surfaktan dan pengkelat dalam pencucian dibahas di Bab 6 · Laundry tentang kimia pembersih, oksidator dan campuran berbahaya di Bab 8 · Laundry tentang oksidator dan penyelesai, dan cara membaca SDS di Bab 10 tentang SDS. Batas paparan pelarut di udara tidak disalin; angka itu diambil dari SDS dan peraturan yang berlaku. Titik didih, titik nyala, dan batas mudah terbakar yang disebut di bab ini adalah nilai pendekatan.

    Karbon dan kerangka molekul organik

    Senyawa organik (organic compound) adalah senyawa karbon; golongan senyawa molekuler yang penting ini mempunyai sistem tata namanya sendiri. Keistimewaan karbon adalah kemampuannya membentuk empat ikatan kovalen dan berikatan dengan sesama karbon menjadi rantai lurus, rantai bercabang, dan cincin, dengan ikatan tunggal, rangkap dua, atau rangkap tiga. Karena itu jumlah senyawa organik jauh lebih banyak daripada senyawa anorganik.

    Senyawa organik ditulis dengan beberapa cara. Rumus molekul seperti C2H6O\text{C}_2\text{H}_6\text{O} hanya menyebut jumlah atom. Rumus struktur ringkas seperti CH3CH2OH\text{CH}_3\text{CH}_2\text{OH} menunjukkan urutan atom dan langsung memperlihatkan gugus −OH-\text{OH}. Rumus kerangka menggambar rantai karbon sebagai garis zig-zag tanpa menulis atom karbon dan hidrogennya. Bagi teknisi, rumus struktur ringkas paling berguna karena gugus fungsinya terlihat.

    Isomer (isomer) adalah senyawa-senyawa yang rumus molekulnya sama tetapi strukturnya berbeda. C2H6O\text{C}_2\text{H}_6\text{O} dapat berupa etanol, CH3CH2OH\text{CH}_3\text{CH}_2\text{OH}, yang mendidih sekitar 78 °C, atau dimetil eter, CH3OCH3\text{CH}_3\text{OCH}_3, yang mendidih sekitar −24-24 °C. Perbedaan sebesar itu muncul karena etanol memiliki gugus −OH-\text{OH} yang membentuk ikatan hidrogen, sedangkan dimetil eter tidak. Ini adalah pelajaran pertama bab ini: sifat ditentukan oleh struktur, terutama gugus fungsi, dan bukan hanya oleh rumus molekul.

    Hidrokarbon: alkana, alkena, dan aromatik

    Hidrokarbon (hydrocarbon) adalah senyawa yang hanya berisi karbon dan hidrogen. Alkana (alkane) adalah hidrokarbon yang hanya memiliki ikatan tunggal; alkana disebut jenuh, sedangkan alkena dan alkuna disebut tak jenuh. Alkana kurang reaktif, tidak polar, dan tidak larut dalam air; contohnya gas LPG, bensin, minyak tanah, dan parafin. Alkena memiliki ikatan rangkap dua; alkena lebih reaktif daripada alkana dan mengalami reaksi adisi dengan brom, hidrogen, dan uap air, dan alkena memudarkan warna ungu larutan kalium permanganat berasam sedangkan alkana tidak. Uji warna itu adalah cara klasik membedakan senyawa jenuh dan tak jenuh.

    Hidrokarbon aromatik (aromatic hydrocarbon) adalah hidrokarbon yang berisi cincin benzena, cincin enam karbon dengan elektron yang tersebar merata di seluruh cincin. Benzena sendiri adalah hidrokarbon aromatik tak jenuh. Walaupun tak jenuh, cincin aromatik jauh lebih stabil daripada alkena dan tidak mudah mengalami adisi. Toluena dan xilena adalah pelarut aromatik yang dulu umum dalam pengencer cat dan pembersih, dan kini dibatasi karena bahaya kesehatannya.

    Derajat ketakjenuhan (double bond equivalent, DBE) adalah jumlah ikatan rangkap dan cincin dalam suatu molekul, yang dapat dihitung dari rumus molekulnya:

    DBE=2C+2+N−H−X2\text{DBE} = \frac{2C + 2 + N - H - X}{2}

    dengan CC, HH, NN, dan XX jumlah atom karbon, hidrogen, nitrogen, dan halogen. Oksigen tidak dihitung. Setiap ikatan rangkap dua atau cincin menyumbang 1, dan setiap ikatan rangkap tiga 2. Benzena C6H6\text{C}_6\text{H}_6 memberi (12+2−6)/2=4(12 + 2 - 6)/2 = 4, yaitu satu cincin dan tiga ikatan rangkap; Latihan 2 memakai rumus yang sama untuk xilena.

    Gugus fungsi, deret homolog, dan nama senyawa

    Gugus fungsi (functional group) adalah susunan atom yang menentukan sebagian besar sifat kimia suatu molekul. Rantai hidrokarbon adalah kerangka yang relatif tidak aktif, sedangkan gugus fungsi adalah bagian yang bereaksi. Deret homolog (homologous series) adalah kelompok senyawa dengan gugus fungsi yang sama dan panjang rantai yang bertambah satu CH2\text{CH}_2 demi satu, misalnya metanol, etanol, propanol, dan butanol. Jumlah isomer dalam satu deret homolog bertambah cepat ketika jumlah atom bertambah.

    Gugus fungsi yang paling sering muncul di label produk teknik:

    GolonganGugusContoh di lapangan
    Alkohol−OH-\text{OH} pada karbon jenuhetanol, isopropanol, alkohol lemak
    Eter−O−-\text{O}- di antara dua karboneter glikol pada pembersih minyak
    Aldehida−CHO-\text{CHO}formaldehida, glutaraldehida
    Keton>C=O>\text{C=O} di tengah rantaiaseton, metil etil keton
    Asam karboksilat−COOH-\text{COOH}asam asetat, asam sitrat, asam lemak
    Ester−COO−-\text{COO}-etil asetat, minyak dan lemak
    Amina−NH2-\text{NH}_2, −NHR-\text{NHR}, −NR2-\text{NR}_2etanolamina, amina lemak
    Amida−CONH2-\text{CONH}_2protein, nilon
    Amonium kuaterner−NR4+-\text{NR}_4^+sanitaiser dan pelembut kain
    Halida organik−Cl-\text{Cl}, −Br-\text{Br}, −F-\text{F}pelarut terklorinasi, refrigeran

    Langkah pertama membaca nama organik adalah mengenali akhirannya, karena akhiran menunjukkan gugus fungsi atau deret homolognya. Akhiran -ana berarti alkana, -ena alkena, -ol alkohol, -al aldehida, -on keton, dan asam -oat asam karboksilat. Awalan menunjukkan panjang rantai: met- satu karbon, et- dua, prop- tiga, but- empat, pent- lima, heks- enam, dan seterusnya. Angka di depan menunjukkan letak gugus pada rantai. Jadi propan-2-ol, yang di label disebut isopropanol atau isopropil alkohol, adalah rantai tiga karbon dengan gugus −OH-\text{OH} pada karbon tengah.

    Ester dinamai dengan cara berbeda. Nama ester diturunkan dari alkohol dan asam karboksilat pembentuknya dan terdiri atas dua bagian, dibaca mulai dari bagian alkohol. Etil asetat (etil etanoat) adalah ester dari etanol dan asam asetat. Nama dagang dan nama lama masih sering dipakai di label, sehingga nomor CAS di SDS adalah cara paling pasti untuk memastikan identitas zat.

    Alkohol, eter, glikol, aldehida, dan keton

    Alkohol memiliki gugus −OH-\text{OH} yang membentuk ikatan hidrogen, sehingga alkohol pendek seperti metanol, etanol, dan isopropanol larut sempurna dalam air. Etanol adalah salah satu senyawa organik yang paling dikenal. Ketika rantai karbon makin panjang, bagian tak polar makin dominan, sehingga butanol hanya larut sebagian dan oktanol hampir tidak larut. Alkohol rantai panjang dari lemak adalah bahan dasar surfaktan, misalnya alkohol etoksilat di produk pertama kasus pembuka.

    Alkohol pendek juga mudah menguap dan mudah terbakar. Pembakaran etanol melepaskan kalor besar sehingga etanol cocok sebagai bahan bakar. Titik nyala (flash point) adalah suhu cairan ketika uap di atasnya sudah dapat menyala. Titik nyala etanol, isopropanol, dan aseton berada di bawah suhu ruang (angka pastinya di SDS), artinya uapnya di atas cairan sudah dapat menyala pada suhu kamar. Contoh 4 menunjukkan betapa cepatnya ruang tertutup kecil mencapai batas bawah mudah terbakar.

    Eter (ether) adalah senyawa organik dengan atom oksigen di antara dua karbon. Eter tidak memiliki −OH-\text{OH} sehingga tidak membentuk ikatan hidrogen dengan sesamanya dan mudah menguap. Eter glikol, yang memiliki gugus eter dan gugus alkohol sekaligus, larut baik dalam air maupun minyak, sehingga dipakai sebagai pelarut penghubung di pembersih minyak. Glikol seperti etilena glikol dan propilena glikol memiliki dua gugus −OH-\text{OH}, mendidih tinggi, dan dipakai sebagai cairan antibeku pada sirkuit pendingin.

    Aldehida dan keton sama-sama memiliki gugus karbonil (carbonyl group), yaitu gugus >C=O>\text{C=O}. Pada aldehida, karbonil berada di ujung rantai dengan satu hidrogen; pada keton, karbonil berada di tengah rantai. Aldehida direduksi menjadi alkohol primer, dan sebaliknya alkohol primer dapat dioksidasi menjadi aldehida lalu asam karboksilat. Isopropanol dan aseton berbeda dua atom hidrogen: oksidasi alkohol sekunder menghasilkan keton. Hubungan oksidasi ini menjelaskan mengapa alkohol tidak boleh dicampur dengan oksidator kuat.

    Formaldehida dan glutaraldehida adalah aldehida yang dipakai sebagai disinfektan dan pengawet. Formaldehida dalam kadar rendah di udara dapat menyebabkan kantuk, mual, sakit kepala, dan gangguan pernapasan lain. Aseton dan metil etil keton adalah keton yang menjadi pelarut kuat untuk cat, lem, dan banyak plastik. Kemampuan melarutkan plastik itu juga berarti keton dapat merusak selang, gasket, dan rumah alat dari plastik tertentu, seperti dibahas di Bab 22 tentang polimer dan elastomer.

    Asam karboksilat, ester, lemak, dan sabun

    Asam karboksilat memiliki gugus −COOH-\text{COOH} yang dapat melepas H+\text{H}^+. Asam organik (organic acid) adalah asam yang tergolong senyawa organik. Asam karboksilat umumnya asam lemah dengan pKa sekitar 4 sampai 5; asam asetat pKa-nya 4,76. Seperti di Bab 15 tentang asam-basa lanjut, bentuk asam dan bentuk ionnya ditentukan oleh pH larutan (Contoh 1). Asam sitrat, dengan tiga gugus karboksil dan satu gugus hidroksil, dipakai sebagai pelarut kerak dan pengkelat ringan.

    Asam lemak (fatty acid) adalah asam organik dengan rantai karbon panjang, lebih dari sepuluh karbon. Asam lemak jenuh, seperti asam stearat, tidak memiliki ikatan rangkap pada rantainya; asam lemak tak jenuh, seperti asam oleat, memiliki satu atau lebih.

    Ester (ester) adalah senyawa yang terbentuk dari reaksi asam karboksilat dengan alkohol, dengan melepaskan air. Di industri, ester dipakai sebagai pelarut untuk cat, plastik, dan lem, dan ester sederhana berupa cairan tidak berwarna pada suhu ruang. Lemak dan minyak adalah trigliserida. Trigliserida (triglyceride) adalah triester gliserol dengan tiga asam lemak. Biodiesel, yaitu metil ester asam lemak, dibuat melalui transesterifikasi trigliserida dengan metanol.

    Ester dapat dihidrolisis kembali. Dalam basa kuat, hidrolisis trigliserida menghasilkan gliserol dan garam asam lemak, yaitu sabun:

    trigliserida+3 NaOH→gliserol+3 RCOONa\text{trigliserida} + 3\,\text{NaOH} \rightarrow \text{gliserol} + 3\,\text{RCOONa}

    Penyabunan atau saponifikasi (saponification) adalah nama reaksi hidrolisis lemak dalam basa kuat ini. Inilah sebabnya deterjen basa kuat melepaskan noda minyak dan lemak makanan: sebagian lemak diubah menjadi sabun yang larut. Jumlah basa yang dibutuhkan dinyatakan dengan bilangan penyabunan. Bilangan penyabunan (saponification value) adalah miligram KOH untuk menyabunkan satu gram lemak (Contoh 2). Kerja sabun sebagai surfaktan dibahas di Bab 21 tentang surfaktan, koloid, dan emulsi.

    Amina, amida, dan senyawa amonium kuaterner

    Amina (amine) adalah turunan amonia dengan satu atau lebih hidrogen diganti gugus karbon. Amina digolongkan menjadi primer, sekunder, dan tersier menurut jumlah gugus alkil yang terikat pada nitrogen. Seperti amonia, amina adalah basa lemah. Etanolamina, yang memiliki gugus amina dan gugus alkohol, dipakai di deterjen sebagai penyangga basa dan di industri untuk menyerap karbon dioksida; penyerapan CO2\text{CO}_2 itu memakai larutan monoetanolamina yang kemudian diregenerasi. Contoh 6 menghitung pH larutannya.

    Amida (amide) adalah senyawa yang terbentuk dari asam karboksilat dan amina. Ikatan amida adalah ikatan yang menyusun protein dan nilon. Enzim protease dalam deterjen memutus ikatan amida pada noda protein.

    Senyawa amonium kuaterner (quaternary ammonium compound) adalah senyawa dengan nitrogen yang mengikat empat gugus karbon dan bermuatan positif tetap, tidak bergantung pH. Rantai panjangnya membuat senyawa ini bersifat surfaktan kationik. Senyawa ini dipakai sebagai sanitaiser permukaan dan pelembut kain, karena muatan positifnya melekat pada permukaan bakteri dan serat yang bermuatan negatif. Muatan positif itu juga membuatnya mengendap atau kehilangan daya bila bertemu surfaktan anionik dari deterjen, sehingga bilasan di antara keduanya penting.

    Amina primer dan sekunder, amonia, dan garam amonium tidak boleh dicampur dengan pemutih hipoklorit, karena ikatan N-H-nya bereaksi membentuk kloramin yang beracun. Amonium kuaterner tidak memiliki ikatan N-H, tetapi rencana operator di kasus pembuka tetap berbahaya: hipoklorit bereaksi dengan isopropanol di produk itu membentuk senyawa terklorinasi seperti kloroform. Tidak ada campuran sanitaiser yang boleh dibuat di luar petunjuk pemasok, dan Bab 8 · Laundry tentang oksidator dan penyelesai membahas campuran berbahaya.

    Senyawa halogen organik dan pelarut terklorinasi

    Halida organik (organic halide) adalah senyawa organik yang satu atau lebih hidrogennya diganti klor, brom, atau fluor. Pelarut terklorinasi seperti diklorometana, trikloroetilena, dan tetrakloroetilena tidak mudah terbakar dan sangat kuat melarutkan minyak, sehingga dulu banyak dipakai untuk membersihkan logam dan untuk cuci kering. Larutan halogen dalam air membentuk dua lapisan bila dicampur dengan 1,1,1-trikloroetana, tanda bahwa pelarut itu tidak bercampur dengan air dan lebih rapat daripada air.

    Sifat tidak mudah terbakar itu tidak berarti aman. Banyak pelarut terklorinasi berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, dan pada suhu tinggi atau di dekat nyala dapat terurai menjadi gas asam yang beracun. CFC untuk pemakaian komersial dan industri akhirnya terlepas ke atmosfer, dan karena itulah CFC telah dilarang. Pelarut terklorinasi juga dapat bereaksi hebat dengan logam reaktif seperti aluminium dan magnesium dalam bentuk serbuk.

    Dari gugus fungsi ke sifat dan ke SDS

    Empat pertanyaan dapat dijawab dari gugus fungsi sebelum membuka tabel data:

    1. Polaritas dan kelarutan. Gugus −OH-\text{OH}, −COOH-\text{COOH}, −NH2-\text{NH}_2, dan gugus bermuatan membuat molekul suka air. Rantai hidrokarbon panjang membuatnya suka minyak. Perbandingan keduanya menentukan kelarutan, seperti dibahas di Bab 5 tentang gaya antarmolekul. Molekul yang memiliki keduanya pada ujung berbeda adalah surfaktan.
    2. Keasaman dan kebasaan. Asam karboksilat bersifat asam lemah, fenol lebih asam daripada alkohol, dan amina bersifat basa lemah. Fenol terbukti lebih asam daripada metanol. Alkohol, eter, keton, dan ester praktis netral.
    3. Mudah menguap dan terbakar. Molekul kecil tanpa ikatan hidrogen, seperti eter, keton, ester pendek, dan hidrokarbon ringan, mudah menguap dan mudah terbakar. Molekul dengan banyak gugus −OH-\text{OH} seperti glikol dan gliserol mendidih tinggi. Halida organik yang banyak mengandung klor umumnya tidak mudah terbakar.
    4. Reaktivitas berbahaya. Alkohol, aldehida, dan amina dapat dioksidasi, sehingga tidak boleh dicampur dengan oksidator kuat. Amina dan amonia membentuk kloramin dengan hipoklorit, dan alkohol serta keton dapat membentuk kloroform dengannya. Ester dan amida terhidrolisis dalam asam atau basa kuat. Ikatan rangkap dapat bereaksi adisi.

    Bab 10 tentang SDS menjelaskan bagian-bagian SDS. Dengan pengetahuan gugus fungsi, bagian komposisi SDS menjadi lebih bermakna. Untuk setiap komponen yang tercantum, teknisi dapat bertanya: gugus fungsi apa yang ada di namanya, apa artinya bagi kelarutan, pH, dan sifat mudah terbakarnya, dan dengan golongan apa zat itu tidak boleh dicampur. Jawaban itu kemudian dicocokkan dengan bagian bahaya, penyimpanan, dan ketidakcocokan di SDS yang sama. Bila tebakan dari gugus fungsi berbeda dari isi SDS, SDS yang dipakai, dan perbedaannya dicatat untuk ditanyakan ke pemasok.

    Pada kasus pembuka, produk pertama berisi alkohol etoksilat (surfaktan nonionik) dan etanolamina (basa lemah), sehingga basa dan tidak boleh dicampur dengan asam kuat atau hipoklorit. Produk kedua berisi amonium kuaterner dan isopropanol, sehingga mudah terbakar, kehilangan daya bila bertemu surfaktan anionik, dan tidak boleh dicampur dengan hipoklorit. Produk ketiga berisi eter glikol dan ester, sehingga berupa pelarut yang dapat melunakkan sebagian plastik dan karet. Penyemprotan pelarut ke panel tertutup adalah risiko kebakaran yang nyata (Contoh 4).

    Contoh kerja

    Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya.

    Contoh 1: asam asetat pada dua pH. Dengan pKa 4,76, pada pH 7,0 perbandingan [A−]/[HA]=102,24=174[\text{A}^-]/[\text{HA}] = 10^{2{,}24} = 174, sehingga 99,4 persen berupa ion asetat. Pada pH 3,0 perbandingannya 10−1,76=0,017410^{-1{,}76} = 0{,}0174, sehingga hanya 1,7 persen terionisasi. Di bilasan asam, asam asetat sebagian besar tetap dalam bentuk molekul yang berbau dan mudah menguap.

    Contoh 2: bilangan penyabunan tristearin. Tristearin C57H110O6\text{C}_{57}\text{H}_{110}\text{O}_6: 57×12,011+110×1,008+6×15,999=891,557 \times 12{,}011 + 110 \times 1{,}008 + 6 \times 15{,}999 = 891{,}5 g/mol. Setiap mol memerlukan 3 mol KOH: bilangan penyabunan 3×56,11×1.000/891,5=1893 \times 56{,}11 \times 1.000/891{,}5 = 189 mg KOH per g. Dengan NaOH, 1 kg tristearin memerlukan 3×40,00×1.000/891,5=134,63 \times 40{,}00 \times 1.000/891{,}5 = 134{,}6 g NaOH dan menghasilkan 92,09×1.000/891,5=10392{,}09 \times 1.000/891{,}5 = 103 g gliserol.

    Contoh 3: kapasitas pengkelat EDTA. Tetranatrium EDTA (M=380,2M = 380{,}2 g/mol) mengikat ion kalsium 1 : 1 melalui gugus karboksilat dan amina. Satu gram mengikat 1/380,2=2,631/380{,}2 = 2{,}63 mmol kalsium, setara 2,63×100,09=2632{,}63 \times 100{,}09 = 263 mg CaCO3\text{CaCO}_3. Air 10 L dengan kesadahan 200 mg/L sebagai CaCO3\text{CaCO}_3 membawa 2.000 mg, sehingga memerlukan 2.000/263=7,62.000/263 = 7{,}6 g tetranatrium EDTA murni.

    Contoh 4: uap isopropanol di ruang tertutup. Isopropanol 10 mL (massa jenis 0,786 g/mL) bermassa 7,86 g, yaitu 7,86/60,10=0,1317{,}86/60{,}10 = 0{,}131 mol, atau 0,131×24,5=3,200{,}131 \times 24{,}5 = 3{,}20 L uap pada 25 °C. Di ruang 20 m³ (20.000 L) kadarnya 3,20/20.000=1603{,}20/20.000 = 160 ppm volume. Di dalam panel tertutup 0,10 m³ (100 L), kadarnya 3,2 persen volume, di atas batas bawah mudah terbakar isopropanol sekitar 2 persen volume.

    Contoh 5: pembakaran etanol. C2H5OH+3 O2→2 CO2+3 H2O\text{C}_2\text{H}_5\text{OH} + 3\,\text{O}_2 \rightarrow 2\,\text{CO}_2 + 3\,\text{H}_2\text{O}. Satu kilogram etanol adalah 21,7 mol dan memerlukan 65,1 mol oksigen, yaitu 2,08 kg. Dengan fraksi massa oksigen di udara 23,2 persen, udara yang diperlukan 2,08/0,232=8,982{,}08/0{,}232 = 8{,}98 kg. Dengan kalor pembakaran 1.367 kJ/mol, kalornya 21,7×1.367=29.70021{,}7 \times 1.367 = 29.700 kJ, sekitar 29,7 MJ per kg.

    Contoh 6: pH larutan etanolamina. pKa ion etanolamonium 9,50, sehingga Kb=10−4,50=3,16×10−5K_b = 10^{-4{,}50} = 3{,}16 \times 10^{-5}. Untuk larutan 0,10 M: [OH−]=3,16×10−5×0,10=1,78×10−3[\text{OH}^-] = \sqrt{3{,}16 \times 10^{-5} \times 0{,}10} = 1{,}78 \times 10^{-3} M, pOH 2,75, pH 11,25. Larutan NaOH 0,10 M ber-pH 13,0, sehingga etanolamina adalah basa jauh lebih lemah.

    Kondisi berhenti

    Hentikan pekerjaan dan laporkan kepada pengawas atau penanggung jawab peralatan bila:

    1. Produk berisi amina, amonia, atau senyawa amonium akan dicampur dengan pemutih hipoklorit, atau dua produk yang komposisinya belum dibaca akan dicampur. Ikuti Bab 8 · Laundry tentang oksidator dan campuran berbahaya.
    2. Pelarut mudah terbakar akan disemprotkan atau dituang di ruang tertutup, di dalam panel bertegangan, atau di dekat sumber api dan permukaan panas. Matikan dan isolasi listrik, buka ventilasi, dan ikuti Bab 1 · Keselamatan tentang kondisi berhenti.
    3. Pelarut terklorinasi akan dipanaskan, dipakai di dekat nyala atau pengelasan, atau dipakai pada serbuk aluminium dan magnesium.
    4. Identitas zat di label tidak dapat dipastikan dengan nama kimia atau nomor CAS di SDS.
    5. Pelarut atau keton akan dipakai pada selang, gasket, atau rumah alat dari plastik yang kecocokannya belum diperiksa.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    Guess what’s wrong first, then open the explanation.

    Common misconception

    Organik berarti alami dan aman.

    Why is it wrong?

    Dalam kimia, organik berarti senyawa karbon. Formaldehida, pelarut terklorinasi, dan bensin adalah senyawa organik.

    Common misconception

    Rumus molekul yang sama berarti sifat yang sama.

    Why is it wrong?

    Etanol dan dimetil eter memiliki rumus C2H6O\text{C}_2\text{H}_6\text{O}, tetapi titik didihnya berbeda lebih dari 100 °C.

    Common misconception

    Pelarut yang tidak mudah terbakar pasti aman.

    Why is it wrong?

    Pelarut terklorinasi tidak mudah terbakar tetapi dapat beracun dan terurai menjadi gas asam.

    Common misconception

    Alkohol hanya menguap dan tidak berbahaya.

    Why is it wrong?

    Uap alkohol di ruang tertutup kecil dapat melampaui batas bawah mudah terbakar (Contoh 4).

    Common misconception

    Semua sanitaiser dapat dicampur untuk menambah daya bunuh.

    Why is it wrong?

    Amina atau amonia dengan hipoklorit membentuk kloramin beracun, dan alkohol dengan hipoklorit dapat membentuk kloroform.

    Common misconception

    Asam organik selalu lemah sehingga aman.

    Why is it wrong?

    Asam organik umumnya lemah, tetapi pada kadar tinggi tetap korosif, dan sebagian, seperti asam format, merusak kulit dan mata.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 6 tentang rumus kimia dan tata nama memberi dasar rumus dan nama senyawa, Bab 5 tentang gaya antarmolekul memberi hubungan struktur dengan titik didih dan kelarutan, dan Bab 15 tentang asam-basa lanjut memberi pKa dan pH. Bab 6 · Laundry tentang kimia pembersih membahas surfaktan, pengkelat, dan saponifikasi dalam pencucian, Bab 8 · Laundry tentang oksidator dan penyelesai membahas campuran berbahaya, Bab 10 membahas cara membaca SDS, dan Bab 1 · Keselamatan tentang energi tersimpan dan kondisi berhenti membahas kondisi berhenti. Bab 11 tentang stoikiometri gas memberi ppm volume dan batas mudah terbakar. Bab 21 tentang surfaktan, koloid, dan emulsi serta Bab 22 tentang polimer dan elastomer melanjutkan pembahasan gugus fungsi.

    Latihan dan pembahasan

    Untuk setiap soal, tuliskan rumus, hitungan, atau alasannya.

    Try to answer first, then open the worked solution.

    1. Berapa massa molar etil asetat, C4H8O2\text{C}_4\text{H}_8\text{O}_2?

      See the worked solution

      4×12,011+8×1,008+2×15,999=88,114 \times 12{,}011 + 8 \times 1{,}008 + 2 \times 15{,}999 = 88{,}11 g/mol, dari jumlah atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Cara yang sama memberi etanol, C2H6O\text{C}_2\text{H}_6\text{O}, 46,07 g/mol dan isopropanol, C3H8O\text{C}_3\text{H}_8\text{O}, 36,033+8,064+15,999=60,1036{,}033 + 8{,}064 + 15{,}999 = 60{,}10 g/mol, yang dipakai di Contoh 5 dan Contoh 4.

    2. Berapa derajat ketakjenuhan xilena, C8H10\text{C}_8\text{H}_{10}, dan apa artinya?

      See the worked solution

      (16+2−10)/2=4(16 + 2 - 10)/2 = 4, sesuai satu cincin benzena dengan tiga ikatan rangkap, sehingga xilena adalah senyawa aromatik. Xilena tidak mengandung nitrogen atau halogen, sehingga hanya C=8C = 8 dan H=10H = 10 yang masuk rumus, dan hasilnya sama dengan benzena di bagian hidrokarbon.

    3. Berapa persen asam asetat terionisasi pada pH 5,76?

      See the worked solution

      pH lebih tinggi 1,00 dari pKa, sehingga [A−]/[HA]=10[\text{A}^-]/[\text{HA}] = 10 dan bagian terionisasi 10/11=9110/11 = 91 persen. Perbandingan itu adalah 10pH−pKa10^{\text{pH} - \text{p}K_a}, cara yang sama dengan Contoh 1 untuk pH 7,0 dan 3,0.

    4. Berapa gram NaOH diperlukan untuk menyabunkan 500 g tristearin?

      See the worked solution

      0,500×134,6=67,30{,}500 \times 134{,}6 = 67{,}3 g NaOH, karena satu mol tristearin (891,5 g) memerlukan tiga mol NaOH. Angka 134,6 g NaOH per kilogram tristearin berasal dari Contoh 2, yaitu 3×40,00×1.000/891,53 \times 40{,}00 \times 1.000/891{,}5.

    5. Mengapa etanol larut sempurna dalam air, sedangkan oktanol hampir tidak larut?

      See the worked solution

      Pada etanol, gugus −OH-\text{OH} yang membentuk ikatan hidrogen dengan air mendominasi rantai dua karbon; pada oktanol, rantai delapan karbon yang tak polar mendominasi satu gugus −OH-\text{OH}. Karena itu alkohol pendek larut sempurna, butanol hanya larut sebagian, dan oktanol hampir tidak larut.

    6. Mengapa pembersih berbasis amonia atau etanolamina tidak boleh dicampur dengan pemutih hipoklorit?

      See the worked solution

      Amonia dan amina yang memiliki ikatan N-H bereaksi dengan hipoklorit membentuk kloramin, uap beracun yang mengiritasi saluran napas, sekaligus menghabiskan klorin aktifnya. Karena itu Kondisi berhenti 1 menghentikan pekerjaan sebelum campuran semacam itu dibuat.

    Revision history

    DateVersionChange
    October 29, 20262Revised to the chapter standard
    October 16, 20261First published

    How to cite

    Kurnia (2026). Kimia organik untuk teknisi: hidrokarbon, gugus fungsi, pelarut, asam lemak, ester, amina, dan membaca SDS. ARSTEMA Academy. Revised October 29, 2026. arstema.com/academy/konsep/kimia-organik-untuk-teknisi-hidrokarbon-gugus-fungsi-pelarut-asam-lemak-ester-amina-dan-membaca-sds

    Self-check · 3 questions

    Check your understanding before moving on

    Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.

    0/3rated
    1

    Berapa massa molar etil asetat, C4H8O2\text{C}_4\text{H}_8\text{O}_2?

    2

    Berapa derajat ketakjenuhan xilena, C8H10\text{C}_8\text{H}_{10}, dan apa artinya?

    3

    Berapa persen asam asetat terionisasi pada pH 5,76?

    Self-assessment progress0%

    Nearby chapters