By Kurnia · Published October 22, 2026 · Revised October 30, 2026 · Version 2 · 18 min read
Vaksin dan kekebalan kelompok: jenis vaksin, cara vaksin melatih sistem imun, ambang kekebalan kelompok, keamanan dan efek samping, vaksin untuk pekerja, dan klaim keliru tentang vaksin
Seorang teknisi baru rumah sakit menolak imunisasi hepatitis B karena pesan berantai menyebut vaksin menyebabkan autisme dan karena sembilan dari sepuluh rekannya sudah divaksin. Bab ini menjelaskan cara vaksin melatih sistem imun, jenis vaksin beserta untung ruginya, kekebalan kelompok dan ambang cakupan dengan rumus satu dikurangi satu per R0, serta batas rumus itu. Bab membahas keamanan dan kejadian ikutan pasca imunisasi, program imunisasi dan imunisasi pekerja rumah sakit di Indonesia sejauh dapat dipastikan dari sumber resmi per 22 Oktober 2026, dan klaim keliru tentang vaksin beserta sumber bantahannya. Bab tidak menganjurkan vaksin tertentu untuk orang tertentu; keputusannya ada pada dokter, unit kesehatan kerja, dan fasilitas kesehatan.
This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.
Misalkan sebuah rumah sakit menerima dua belas teknisi dan petugas laundry baru, dan unit kesehatan kerja menjadwalkan skrining serta imunisasi hepatitis B. Seorang teknisi menolak dengan dua alasan dari pesan berantai: vaksin menyebabkan autisme, dan sembilan dari sepuluh staf sudah divaksin sehingga ia terlindungi kekebalan kelompok. Kepala teknisi lalu bertanya apakah teknisi itu boleh tetap memperbaiki saluran di ruang isolasi. Alasan pertama sudah dibantah tinjauan bukti WHO. Alasan kedua salah paham: Bab 11 tentang rantai penularan mencatat virus hepatitis B sebagai salah satu patogen yang paling dikhawatirkan pada luka tusuk benda tajam, dan paparan itu datang dari darah pasien, bukan dari rekan kerja, sehingga kekebalan rekan tidak memutus jalur itu. Penempatan kerja diputuskan unit kesehatan kerja dan dokter, bukan kepala teknisi.
Batas pembahasan
Antigen, antibodi, sel memori, serta respons primer dan sekunder ada di Bab 25 tentang pertahanan tubuh adaptif, dan tidak diulang. Bab ini membahas jenis vaksin, cara vaksin memakai memori imun, kekebalan kelompok dan ambang cakupannya, keamanan, imunisasi pekerja, dan klaim keliru. Insidens, prevalensi, dan penularan berantai ada di Bab 19 tentang epidemiologi wabah, rantai penularan dan prosedur pascapajanan di Bab 11 tentang rantai penularan, uji titer di Bab 27 tentang uji diagnostik, dan infeksi saluran napas di Bab 28.
Vaksin mRNA tidak dibahas di bab ini. Bab ini tidak menganjurkan vaksin tertentu untuk orang tertentu. Pertanyaan tentang imunisasi seseorang dibawa ke dokter, puskesmas, atau unit kesehatan kerja.
Cara vaksin melatih sistem imun
Vaksinasi (vaccination) adalah pemberian sengaja antigen dari patogen yang dikenal untuk membangkitkan kekebalan aktif buatan tanpa infeksi alami. Vaksin merangsang pembentukan sel memori seperti pada respons primer, sehingga saat bertemu patogen yang sebenarnya tubuh langsung memberi respons sekunder yang kuat tanpa lebih dulu menderita infeksi. Ajuvan (adjuvant) adalah komponen tambahan yang diberikan bersama antigen vaksin untuk membantu merangsang respons imun. Karena setiap paparan ulang menambah sel memori dan sebagian sel memori mati, sebagian vaksin memerlukan dosis penguat; satu buku ajar mencontohkan penguat tetanus setiap sepuluh tahun dengan alasan sel memori hanya hidup selama itu. Jadwal penguat untuk seseorang ditetapkan tenaga kesehatan menurut pedoman yang berlaku.
Variolasi (variolation) adalah inokulasi sengaja dengan bahan dari koreng atau nanah penderita cacar untuk mencegah cacar yang lebih berat. Praktik ini tampaknya bermula di Tiongkok pada abad ke-10. Infeksinya biasanya lebih ringan, tetapi dapat berat atau mematikan dan dapat memicu wabah. Edward Jenner pada 1796 memakai bahan dari luka cacar sapi, penyakit yang mirip tetapi lebih ringan; nama vaksinasi berasal dari kata Latin vacca, sapi. Vaksin Jenner bekerja karena virus cacar sapi berkerabat secara genetik dan antigenik dengan virus variola. Program vaksinasi WHO yang dimulai pertengahan 1960-an menghasilkan pemberantasan cacar sedunia pada 1980.
Vaksin suntik merangsang imunitas sistemik tetapi berpengaruh kecil pada imunitas mukosa, sedangkan vaksin lewat mukosa membangkitkan keduanya; contohnya vaksin influenza lewat hidung serta vaksin polio dan tifoid lewat mulut.
Jenis vaksin dan untung ruginya
Vaksin yang ideal tidak menimbulkan efek samping berat dan tidak berisiko menularkan penyakit yang dicegahnya. Lima jenis vaksin dirangkum di tabel berikut:
| Jenis | Isi | Keunggulan | Kelemahan | Contoh |
|---|---|---|---|---|
| Hidup dilemahkan | Galur patogen utuh yang dilemahkan | Imunitas seluler dan humoral; tahan lama; dapat menular ke kontak | Sulit disimpan dan diangkut; berisiko pada orang dengan gangguan kekebalan; dapat kembali ganas | Cacar air, campak, gondongan, rubela, tuberkulosis, demam tifoid, demam kuning |
| Inaktif | Patogen utuh yang dimatikan dengan panas, bahan kimia, atau radiasi | Mudah disimpan; tidak berisiko infeksi aktif berat | Imunitas lebih lemah, umumnya humoral saja; dosis lebih tinggi dan lebih banyak penguat | Kolera, hepatitis A, influenza, pes, rabies |
| Subunit | Antigen kunci saja | Risiko efek samping lebih rendah | Daya tahan terbatas; beberapa dosis; tidak melindungi dari variasi antigen | Antraks, hepatitis B, influenza, meningitis, papiloma, pneumonia pneumokokus, batuk rejan |
| Toksoid | Toksin bakteri yang diinaktifkan | Antibodi yang menetralkan toksin | Tidak mencegah infeksi | Botulisme, difteri, pertusis, tetanus |
| Konjugat | Polisakarida kapsul yang digabung protein | Respons bergantung sel T terhadap kapsul; lebih baik pada anak kecil | Mahal dibuat; dapat mengganggu vaksin lain | Meningitis oleh Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis |
Vaksin konjugat menjawab masalah yang dibahas di Bab 25 tentang pertahanan adaptif: polisakarida kapsul adalah antigen yang tidak bergantung sel T, dan anak di bawah dua tahun tidak menanggapi vaksin polisakarida dengan baik; protein yang digabungkan membuat respons bergantung sel T terhadap kapsul. Vaksin DNA memasukkan gen antigen dalam plasmid rekombinan sehingga sel penerima membuat dan menyajikan antigennya; kebanyakan vaksin DNA untuk manusia disebut masih dikembangkan.
Kekebalan kelompok dan ambang cakupan
Kekebalan kelompok (herd immunity) adalah perlindungan bagi individu yang rentan karena jumlah individu rentan dalam populasi terlalu sedikit untuk menyebarkan penyakit secara efektif. Kekebalan kelompok tidak berhubungan dengan kemampuan seseorang membentuk respons imun, dan program vaksinasi harus berjalan terus karena orang baru selalu masuk ke populasi, misalnya lewat kelahiran atau perpindahan.
Angka reproduksi dasar (basic reproduction number, R0) adalah rata-rata jumlah infeksi baru yang ditimbulkan satu orang yang menular bila masuk ke populasi yang seluruhnya rentan. Ambang kekebalan kelompok secara matematis adalah:
dengan proporsi populasi yang harus kebal (tanpa satuan) dan angka reproduksi dasar (tanpa satuan). Rumus itu menganggap vaksinasi tersebar acak dan semua orang bercampur merata. Asal rumusnya: bila tiap kasus rata-rata menulari kali proporsi orang rentan , rantai berhenti tumbuh saat , yaitu saat ; bandingkan rasio antargelombang di Bab 19 tentang epidemiologi wabah.
Nilai yang dipakai di bab ini:
| Penyakit | Nilai | Asal |
|---|---|---|
| Campak | R0 sering dikutip 12 sampai 18 | Tinjauan sistematis R0 campak |
| Campak | Kekebalan kelompok memerlukan sekitar 95 persen populasi divaksin | Tanya jawab WHO |
| Polio | Ambang sekitar 80 persen | Tanya jawab WHO |
Vaksin yang efektivitasnya di bawah 100 persen memerlukan cakupan lebih tinggi daripada . Hubungan yang lazim dipakai adalah , dengan cakupan yang diperlukan dan efektivitas vaksin sebagai pecahan (Contoh 2). Contohnya, sebagian anak hanya menerima satu dosis vaksin MMR dari dua yang dianjurkan.
Batas yang sering terlupa: kekebalan kelompok hanya memutus penularan dari orang ke orang. Clostridium tetani bertahan di tanah sebagai endospora, sehingga tetanus didapat dari lingkungan dan setiap orang hanya terlindung oleh kekebalannya sendiri. Paparan hepatitis B yang dikhawatirkan Bab 11 tentang rantai penularan pada pekerja rumah sakit datang lewat darah pasien pada luka tusuk, sehingga persentase rekan yang sudah divaksin tidak melindungi teknisi yang belum kebal.
Keamanan, efek samping, dan KIPI
Vaksin seperti obat lain dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, dan risikonya mungkin sangat rendah dibandingkan risiko infeksinya. Vaksin hidup dilemahkan dapat menimbulkan gejala, terutama pada orang dengan gangguan kekebalan, dan berisiko kembali ganas; vaksin inaktif dapat menimbulkan reaksi radang di tempat suntikan tetapi tidak berisiko menimbulkan infeksi aktif berat; vaksin subunit berisiko efek samping lebih rendah.
Kejadian ikutan pasca imunisasi (adverse event following immunization, KIPI) adalah kejadian medik yang diduga berhubungan dengan imunisasi, menurut Kementerian Kesehatan; komite nasional mengevaluasi laporan KIPI dan membuat rekomendasi tindak lanjut. Menurut buku ajar imunisasi terbitan Kementerian Kesehatan tahun 2015, KIPI mencakup reaksi vaksin, reaksi suntikan, efek farmakologis, kesalahan prosedur, koinsidensi, dan kejadian yang hubungan sebabnya belum dapat ditentukan. Koinsidensi berarti kejadian yang kebetulan muncul sesudah imunisasi tetapi disebabkan hal lain.
Petunjuk teknis Bulan Imunisasi Anak Sekolah 2022 menyebut KIPI yang umum pada vaksin HPV dan Td berupa reaksi lokal bengkak, kemerahan, dan nyeri di tempat suntikan, menyarankan kompres dingin dan tidak memijat bagian itu, serta berobat ke puskesmas bila reaksi lokal tidak membaik dalam 3 hari. Menurut Kementerian Kesehatan, Komite Nasional PP KIPI ditetapkan Menteri Kesehatan dan komite daerah ditetapkan gubernur. Butir-butir tentang KIPI ini adalah ringkasan per 22 Oktober 2026, sehingga pedoman lengkap tetap dibaca di sumber aslinya.
Pembagian KIPI menjelaskan mengapa "sakit sesudah divaksin" belum berarti "sakit karena vaksin": di antara banyak orang yang diimunisasi, sebagian pasti jatuh sakit oleh sebab lain dalam minggu yang sama (Contoh 5). Penilaian sebab akibat adalah pekerjaan komite pengkaji, bukan atasan atau rekan kerja.
Program imunisasi di Indonesia per 22 Oktober 2026
Yang sejauh ini dapat dipastikan dari situs Kementerian Kesehatan per 22 Oktober 2026:
- Rilis Kementerian Kesehatan tahun 2022 menyebut tiga jenis vaksin ditambahkan ke imunisasi rutin, salah satunya HPV; jumlah antigen imunisasi rutin anak disebut naik dari 11 menjadi 14, dengan PCV untuk mencegah radang paru dan rotavirus untuk mencegah diare berat.
- Halaman Kementerian Kesehatan tentang imunisasi bayi menyebut jadwal rutin dimulai dengan hepatitis B (HB0) sebelum umur 24 jam, serta BCG dan polio tetes pertama sebelum umur 1 bulan.
- Vaksin HPV diberikan kepada siswa lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah menurut petunjuk teknisnya.
- Jumlah dosis rotavirus berbeda antarartikel Kementerian Kesehatan: dua kali di artikel yang lebih lama dan tiga kali di sumber Kementerian Kesehatan lain. Karena itu jadwal lengkap untuk seorang anak ditanyakan ke posyandu, puskesmas, atau dokter, bukan disalin dari artikel lama.
Jadwal vaksin dalam buku ajar dari Amerika Serikat adalah data negara itu. Contohnya, jadwal AS saat itu memberikan vaksin konjugat meningokokus pada umur 11 sampai 12 tahun dengan penguat pada umur 16, dan CDC menerbitkan jadwal vaksin di AS. Angka itu tidak dipakai sebagai jadwal Indonesia.
Vaksin dan pemeriksaan untuk pekerja
Untuk rumah sakit, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016 tentang keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit, menurut keterangan ringkas di hasil pencarian, menetapkan bahwa kegiatan preventif paling sedikit meliputi imunisasi, pemeriksaan kesehatan, surveilans lingkungan kerja, dan surveilans medik, dan bahwa imunisasi dilakukan bagi tenaga kesehatan, tenaga nonkesehatan, dan SDM rumah sakit lain yang berisiko. Lampirannya menyebut perlindungan khusus lewat imunisasi bagi pekerja di area berisiko, antara lain tifoid, hepatitis, influenza, dan kanker leher rahim. Peraturan itu juga meminta pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, berkala, dan khusus menurut risiko pekerjaan. Status berlakunya tanpa perubahan belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 22 Oktober 2026.
Kementerian Kesehatan menyatakan tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai kelompok prioritas penerima imunisasi hepatitis B gratis. Menurut pengumuman yang sama, imunisasinya tiga dosis dengan selang minimal satu bulan antara dosis pertama dan kedua serta lima bulan antara dosis kedua dan ketiga, dan didahului skrining HBsAg dan anti-HBs; imunisasi hanya diberikan bila keduanya nonreaktif. Bab 21 · Laundry tentang K3 laundry menganjurkan pekerja area kotor diikutkan program vaksinasi yang berlaku, termasuk hepatitis B. Pemeriksaan titer MMR disebut sering menjadi syarat sebelum bekerja bagi tenaga kesehatan yang sering kontak dengan anak kecil atau pasien dengan gangguan kekebalan; uraian itu berasal dari buku ajar asing dan menggambarkan praktik dalam konteks buku tersebut, bukan aturan Indonesia.
Aturan imunisasi khusus untuk pekerja hotel, laundry umum, atau dapur di luar rumah sakit belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 22 Oktober 2026. Pekerja di tempat itu bertanya kepada dokter perusahaan atau puskesmas.
Klaim keliru tentang vaksin dan sumbernya
-
Vaksin menyebabkan autisme. Hubungan itu sudah dibantah secara menyeluruh. Komite Penasihat Global WHO untuk Keamanan Vaksin pada Desember 2025 meninjau bukti terbitan Januari 2010 sampai Agustus 2025 dan menegaskan kembali tidak ada bukti hubungan sebab akibat antara vaksin dan autisme. Menurut WHO, dari 31 studi primer dan 5 meta-analisis, 20 studi primer, termasuk yang metodenya paling ketat, dan kelima meta-analisis tidak menemukan hubungan; studi yang melaporkan hubungan dinilai berbukti sangat lemah dan berisiko bias tinggi.
Menurut satu tinjauan jurnal, makalah Wakefield tahun 1998 yang memulai klaim ini ditarik karena ketidakpatutan dalam perekrutan subjek dan konflik kepentingan keuangan.
-
Kekebalan kelompok sudah melindungi saya. Kekebalan kelompok hanya bertahan bila cukup banyak orang divaksin; di AS, bertambahnya orang yang tidak divaksin diyakini memicu wabah baru batuk rejan dan campak. Wabah campak 2014 di sebuah taman hiburan California menjangkiti 134 orang di 24 negara bagian dalam 4 bulan dan mungkin dipermudah rendahnya cakupan vaksinasi di beberapa komunitas (data AS).
-
Lebih dari satu vaksin sekaligus menyebabkan kematian. Kementerian Kesehatan menerbitkan bantahan berjudul "Imunisasi Lebih dari Satu Jenis Vaksin Tidak Sebabkan Kematian". Bab ini hanya mengutip judulnya, karena isi lengkapnya belum terbaca.
-
Vaksin menularkan penyakit yang dicegahnya. Untuk vaksin inaktif, subunit, dan toksoid tidak ada patogen hidup yang utuh, dan vaksin inaktif tidak berisiko infeksi aktif berat. Vaksin hidup dilemahkan memang dapat menular ke kontak sebagai infeksi subklinis dan berisiko kembali ganas; itulah sebabnya status kekebalan penerima dinilai dokter sebelum vaksin semacam itu diberikan.
-
Kekebalan dari sakit lebih baik daripada vaksin. Vaksin memberi memori tanpa harus menderita infeksi pertama. Campak, misalnya, dapat berakibat radang paru, radang otak, dan kematian, dengan angka kematian sampai 10 sampai 15 persen pada infeksi berat oleh galur yang sangat ganas, dan lebih dari 145.000 kematian campak sedunia pada 2013 menurut WHO.
Contoh kerja
Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya.
Contoh 1: ambang campak. Dengan R0 12 sampai 18 dari tinjauan sistematis, dan , yaitu 91,7 sampai 94,4 persen. Angka sekitar 95 persen dari WHO sedikit di atas ujung atas rentang itu.
Contoh 2: efektivitas vaksin. Untuk dan efektivitas , , yaitu 96,5 persen. Bila , , lebih dari 100 persen, sehingga ambang tidak dapat dicapai dengan efektivitas itu saja. Untuk R0 18 dan , .
Contoh 3: kantong rentan. Laundry 100 orang dengan 98 persen kebal dan dapur 50 orang dengan 80 persen kebal. Totalnya , di atas 91,7 persen, tetapi dapur hanya 80 persen. Karena orang lebih sering bercampur di dalam bagiannya sendiri, dapur tetap dapat menjadi tempat penularan; rumus ambang menganggap semua orang bercampur merata.
Contoh 4: pergantian staf. Hotel dengan 400 staf, 368 kebal atau 92 persen. Dalam setahun 40 staf keluar secara acak, sekitar di antaranya kebal, dan 40 staf baru masuk dengan 70 persen kebal, yaitu 28 orang. Yang kebal menjadi , atau persen, turun di bawah 91,7 persen. Inilah sebabnya program vaksinasi harus berjalan terus.
Contoh 5: koinsidensi. Seribu pekerja diimunisasi dalam satu minggu, dan angka latar belakang suatu penyakit 2 kasus per 1.000 orang per minggu. Tanpa pengaruh vaksin pun diharapkan kasus pada minggu sesudah imunisasi. Kasus itu tetap dilaporkan, lalu dikaji apakah termasuk koinsidensi.
Contoh 6: selang minimal hepatitis B. Bila dosis pertama 2 November 2026, dengan selang minimal dari Kementerian Kesehatan dosis kedua paling cepat 2 Desember 2026 dan dosis ketiga paling cepat 2 Mei 2027, sehingga rangkaian paling singkat bulan. Jadwal sebenarnya untuk seseorang ditetapkan petugas setelah skrining.
Kondisi berhenti
Hentikan dan serahkan kepada dokter, unit kesehatan kerja, tim pencegahan infeksi, atau puskesmas bila:
- Teknisi atau atasan diminta memutuskan vaksin apa yang dibutuhkan, boleh, atau tidak boleh diterima seseorang.
- Muncul reaksi sesudah imunisasi yang berat, atau reaksi lokal yang tidak membaik dalam 3 hari seperti dalam petunjuk teknis BIAS; bawa ke fasilitas kesehatan dan laporkan.
- Teknisi diminta menyimpan, memindahkan, atau mengatur lemari pendingin vaksin di luar prosedur dan pengawasan petugas kesehatan.
- Pekerja yang hamil atau mempunyai gangguan kekebalan ditawari vaksin; keputusan ada pada dokter, dan vaksin hidup dilemahkan berisiko pada orang dengan gangguan kekebalan.
- Teknisi diminta bekerja di ruang isolasi atau area berisiko tanpa persyaratan kesehatan kerja yang ditetapkan fasilitas.
- Terjadi luka tusuk atau percikan darah; jalankan prosedur pascapajanan di Bab 11 tentang rantai penularan, apa pun status vaksinnya.
- Ada permintaan menyebarkan informasi vaksin dari pesan berantai; periksa dulu ke sumber resmi seperti Kementerian Kesehatan atau WHO.
Salah tafsir yang sering terjadi
Guess what’s wrong first, then open the explanation.
Common misconception
Ambang 95 persen berlaku untuk semua penyakit.
Why is it wrong?
Ambang bergantung pada R0; menurut WHO ambang polio sekitar 80 persen, campak sekitar 95 persen.
Common misconception
Bila cakupan di atas ambang, semua orang pasti aman.
Why is it wrong?
Rumus menganggap pencampuran merata; kantong rentan di satu bagian tetap dapat menularkan (Contoh 3).
Common misconception
Bengkak dan nyeri di tempat suntikan berarti vaksin berbahaya.
Why is it wrong?
Petunjuk teknis BIAS menyebutnya KIPI yang umum; reaksi yang tidak membaik atau berat dibawa ke puskesmas dan dilaporkan.
Common misconception
Sakit sesudah diimunisasi pasti disebabkan vaksin.
Why is it wrong?
KIPI mencakup koinsidensi, dan penilaian sebabnya dilakukan komite pengkaji.
Common misconception
Vaksin inaktif dapat menimbulkan penyakitnya.
Why is it wrong?
Patogennya sudah dimatikan, dan vaksin inaktif tidak berisiko infeksi aktif berat.
Common misconception
Jadwal vaksin di buku AS berlaku di Indonesia.
Why is it wrong?
Jadwal dalam buku AS adalah jadwal AS; jadwal Indonesia ditetapkan Kementerian Kesehatan dan dijelaskan petugas kesehatan.
Hubungan dengan bab lain
Bab 25 menjelaskan memori imun yang dipakai vaksin, Bab 19 penularan berantai dan rasio antargelombang, Bab 11 jalur penularan lewat benda tajam dan prosedur pascapajanan, Bab 21 · Laundry program vaksinasi pekerja laundry, Bab 27 uji titer dan antibodi, dan Bab 28 infeksi saluran napas di hotel dan rumah sakit.
Latihan dan pembahasan
Angka di soal 1 dan 2 disusun untuk latihan.
Try to answer first, then open the worked solution.
Sebuah penyakit mempunyai R0 = 6. Berapa ambang kekebalan kelompoknya?
See the worked solution
, yaitu sekitar 83,3 persen populasi harus kebal. Rumus ini menganggap pencampuran merata, sehingga kantong rentan tetap perlu diperhatikan.
Untuk penyakit pada soal 1, berapa cakupan yang diperlukan bila efektivitas vaksin 90 persen?
See the worked solution
, yaitu sekitar 92,6 persen. Cakupan harus lebih tinggi daripada ambang karena sebagian orang yang divaksin tetap tidak terlindung.
Golongkan jenis vaksinnya: (a) toksin tetanus diolah kimia; (b) antigen permukaan virus hepatitis B dibuat ragi hasil rekayasa; (c) virus influenza dari telur ayam yang dimatikan; (d) virus influenza lemah yang disemprotkan ke hidung.
See the worked solution
(a) toksoid dan (b) subunit, karena keduanya hanya memuat toksin atau antigen kunci; (c) inaktif karena patogen utuhnya dimatikan; (d) hidup dilemahkan karena virusnya masih menimbulkan infeksi ringan di hidung.
Mengapa kekebalan kelompok tidak melindungi seseorang dari tetanus?
See the worked solution
Clostridium tetani bertahan di tanah sebagai endospora, dan tetanus tidak menular dari orang ke orang. Karena sumbernya lingkungan, kekebalan orang lain tidak mengurangi paparan, dan setiap orang hanya terlindung oleh kekebalannya sendiri.
Dua hari sesudah imunisasi seorang pekerja demam; pada minggu yang sama dua rekan yang tidak diimunisasi juga demam. Apa yang dilakukan?
See the worked solution
Laporkan kepada petugas imunisasi, puskesmas, atau unit kesehatan kerja dan bawa pekerja ke fasilitas kesehatan bila perlu. Demam pada rekan yang tidak diimunisasi menunjukkan kemungkinan koinsidensi, tetapi penilaiannya dilakukan komite pengkaji KIPI.
Pada kasus pembuka, apakah argumen "sembilan dari sepuluh rekan sudah divaksin" cukup untuk menempatkan teknisi yang menolak di ruang isolasi?
See the worked solution
Tidak cukup, karena paparan hepatitis B yang dikhawatirkan pada pekerja rumah sakit datang dari darah pasien lewat benda tajam, bukan dari rekan kerja. Penempatan di ruang isolasi diputuskan unit kesehatan kerja dan dokter menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016 dan prosedur fasilitas.
Referensi
External sources
- OpenStax: Microbiologyopenstax.org
- OpenStax: Biology 2eopenstax.org
- Coronavirus disease (COVID-19): Herd immunity, lockdowns and COVID-19who.int
- Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)kms.kemkes.go.id
- Buku Ajar imunisasirepositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016peraturan.bpk.go.id
- Tenaga Kesehatan dan Medis Jadi Kelompok Prioritas Penerima Imunisasi Hepatitis B, Gratis!kemkes.go.id
- Statement of the WHO Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) on vaccines and autismwho.int
- KIPI - Keamanan Vaksin - Kementerian Kesehatankeamananvaksin.kemkes.go.id
Revision history
| Date | Version | Change |
|---|---|---|
| October 30, 2026 | 2 | Revised to the chapter standard |
| October 22, 2026 | 1 | First published |
How to cite
Kurnia (2026). Vaksin dan kekebalan kelompok: jenis vaksin, cara vaksin melatih sistem imun, ambang kekebalan kelompok, keamanan dan efek samping, vaksin untuk pekerja, dan klaim keliru tentang vaksin. ARSTEMA Academy. Revised October 30, 2026. arstema.com/academy/konsep/vaksin-dan-kekebalan-kelompok-jenis-vaksin-cara-vaksin-melatih-sistem-imun-ambang-kekebalan-kelompok-keamanan-dan-efek-samping-vaksin-untuk-pekerja-dan-klaim-keliru-tentang-vaksin
Self-check · 3 questions
Check your understanding before moving on
Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.
Sebuah penyakit mempunyai R0 = 6. Berapa ambang kekebalan kelompoknya?
Untuk penyakit pada soal 1, berapa cakupan yang diperlukan bila efektivitas vaksin 90 persen?
Golongkan jenis vaksinnya: (a) toksin tetanus diolah kimia; (b) antigen permukaan virus hepatitis B dibuat ragi hasil rekayasa; (c) virus influenza dari telur ayam yang dimatikan; (d) virus influenza lemah yang disemprotkan ke hidung.
Nearby chapters
Reading order by shelf: Biology & Microbiology · Chapter 27.
Reading order by shelf: Biology & Microbiology · Chapter 25.
Bab lain dalam Biologi dan Mikrobiologi.