By Kurnia · Published October 20, 2026 · Revised October 30, 2026 · Version 2 · 19 min read
Metalurgi daerah las: siklus termal dan laju pendinginan, zona lebur sebagai coran kecil, zona terpengaruh panas, karbon ekuivalen dan pemanasan awal, retak hidrogen, retak panas, las baja tahan karat dan aluminium, dan perlakuan panas pasca las
Poros baja paduan penggerak kipas mesin pengering di sebuah laundry dilas penambahan untuk mengganti alur pasak yang aus, lalu patah beberapa minggu kemudian tepat di batas las. Bab ini menjelaskan apa yang dialami logam ketika busur lewat: siklus termal dan laju pendinginan, zona lebur sebagai coran kecil, subzona daerah terpengaruh panas pada baja, karbon ekuivalen dengan tiga rumus dan pemanasan awal, retak hidrogen dan retak panas, angka ferit pada las baja tahan karat, oksida dan pori hidrogen pada las aluminium, serta perlakuan panas pasca las. Bab ini menegaskan bahwa las pada bejana tekan, komponen angkat, dan komponen keselamatan memerlukan prosedur yang dikualifikasi dan juru las bersertifikat. Enam contoh kerja menghitung pengenceran, karbon ekuivalen, masukan panas, ekuivalen kromium dan nikel, dan pori hidrogen aluminium.
This chapter is still in Indonesian. Its English edition will follow.
This material involves real hazards. A concept explanation doesn’t replace site procedures, competency, energy isolation, the latest SDS, or a work permit.
Misalkan poros penggerak kipas sebuah mesin pengering di laundry hotel aus di alur pasaknya, dan puli mulai oblak. Gambar komponen menyebut baja kromium-molibdenum yang dicelup dan ditemper. Bengkel luar menawarkan jalan cepat: alur lama diisi las penambahan dengan elektroda baja biasa tanpa pemanasan awal, poros dibubut, lalu alur pasak baru dibuat di sisi lain. Poros berputar normal. Lima minggu kemudian poros patah tepat di batas antara logam las dan logam induk, dan permukaan patahnya menunjukkan retak lelah yang tumbuh dari retak halus di bawah manik.
Las penambahan itu meninggalkan tiga hal di poros: logam las yang membeku seperti coran kecil, logam induk yang berubah fase lalu didinginkan cepat, dan hidrogen yang ikut larut. Bab ini menjelaskan ketiganya dengan fisika dan kimia, dan mengapa bagian berputar, bertekanan, atau penahan beban tidak diperbaiki begini tanpa prosedur yang dikualifikasi.
Batas pembahasan
Bab ini membahas apa yang terjadi pada logam setelah busur lewat. Fisika busur dan sumber hidrogen ada di Bab 13 tentang busur las; proses las, cacat, keselamatan kerja panas, dan batas wewenang di Bab 13 · Mekanikal & Mekatronika tentang sambungan las; karbon ekuivalen dasar di Bab 2 tentang besi dan baja; sensitisasi di Bab 3 tentang baja tahan karat; paduan aluminium di Bab 4; pelepasan tegangan di Bab 6 tentang perlakuan panas; penggetasan hidrogen di Bab 7; kelelahan di Bab 10 · Mekanikal & Mekatronika tentang kekuatan komponen; diagram besi-karbon di Bab 10; kurva CCT di Bab 11; pembekuan di Bab 12 tentang pengecoran; dan pemeriksaan retak di Bab 18 tentang uji tak merusak.
Rumus waktu pendinginan dari standar las Eropa tidak dimuat karena belum dapat diverifikasi dari teks standarnya per 18 Oktober 2026; bab ini menjelaskan konsepnya saja. Komposisi dan parameter di bab ini adalah angka contoh untuk berhitung; angka pekerjaan diambil dari prosedur las, sertifikat bahan, dan lembar data pabrik.
Siklus termal dan laju pendinginan
Siklus termal las (weld thermal cycle) adalah riwayat suhu terhadap waktu yang dialami satu titik logam ketika busur mendekat, lewat, dan menjauh. Makin dekat ke garis lebur, makin tinggi suhu puncaknya. Pendinginan terutama lewat konduksi ke logam dingin di sekitarnya; benda kerja sendiri adalah penyerap panas yang jauh lebih efektif daripada udara.
Ukuran yang banyak dipakai adalah waktu pendinginan dari 800 ke 500 °C, rentang tempat austenit pada baja umumnya bertransformasi. Kekerasan daerah terpengaruh panas makin tinggi bila waktu itu makin pendek, dan aliran panas dianggap dua dimensi pada pelat tipis dan tiga dimensi pada pelat tebal. Hubungan laju pendinginan dengan fase yang terbentuk dibaca di kurva CCT pada Bab 11 tentang transformasi fase.
Arah pengaruhnya: masukan panas lebih besar, pemanasan awal, dan penampang lebih tipis memperpanjang waktu pendinginan; pelat tebal dan las pendek memperpendeknya. Di awal dan akhir jalur las laju pendinginan dapat dua kali lebih cepat daripada di tengah jalur yang panjang. Karena itu retak sering mulai di ujung las dan di las ikat pendek. Manik pendek pada poros tebal yang dingin, seperti di kasus pembuka, adalah keadaan pendinginan paling cepat.
Zona lebur dan zona terpengaruh panas
Zona lebur (fusion zone) adalah bagian sambungan yang pernah mencair seluruhnya lalu membeku menjadi logam las. Zona ini adalah coran kecil dengan tiga perbedaan dari coran di cetakan: volumenya kecil, gradien suhunya sangat curam, dan cetakannya adalah logam induk sendiri, sehingga pembekuan tidak memerlukan nukleasi baru. Pembekuan epitaksial (epitaxial solidification) adalah pertumbuhan kristal logam las yang langsung meneruskan butir logam induk di garis lebur dengan orientasi yang sama. Butir lalu tumbuh kolumnar searah aliran panas menuju garis tengah manik. Nukleasi dan dendrit dijelaskan di Bab 12 tentang pembekuan logam.
Besi murni mempunyai titik beku lebih tinggi daripada paduan besi-karbon. Akibatnya bagian yang membeku pertama lebih murni, dan cairan terakhir di garis tengah manik diperkaya karbon, belerang, dan fosfor. Pengenceran (dilution) adalah bagian logam induk yang ikut melebur dan bercampur ke dalam logam las. Pada las penambahan baja paduan, karbon logam induk masuk ke lapisan pertama, sehingga elektroda berkarbon rendah tidak menjamin logam las berkarbon rendah (Contoh 1). Gas yang ditolak saat membeku menjadi pori; porositas (porosity) adalah gelembung gas yang terperangkap dalam logam las yang membeku.
Zona terpengaruh panas (heat-affected zone, HAZ) adalah logam induk di samping zona lebur yang tidak mencair tetapi struktur mikronya berubah oleh siklus termal las. Baja mengubah struktur kristalnya ketika dipanaskan, dan martensit terbentuk tanpa difusi sehingga komposisinya sama dengan austenit asalnya. HAZ baja dibagi menurut suhu puncak; batas suhunya dibaca di diagram besi-karbon Bab 10 dan nasib austenitnya di Bab 11 tentang martensit.
| Subzona, dari garis lebur ke luar | Suhu puncak | Yang terjadi | Akibat |
|---|---|---|---|
| Butir kasar | Jauh di atas batas austenit | Butir austenit tumbuh besar, mampu keras naik | Bila dingin cepat menjadi martensit keras; tempat retak hidrogen |
| Butir halus | Sedikit di atas batas austenit | Austenit terbentuk ulang berbutir halus, mirip normalisasi | Umumnya tangguh |
| Interkritis | Di dalam daerah dua fase | Sebagian berubah menjadi austenit | Campuran; pulau kecil dapat keras |
| Subkritis | Di bawah batas bawah daerah dua fase | Tidak berubah fase, tetapi tertemper | Baja yang dicelup dan ditemper dapat melunak |
Logam lain mempunyai peta HAZ sendiri: paduan aluminium 6xxx-T6 melunak di dekat las seperti di Bab 4 dan Bab 6, baja tahan karat austenitik mengalami sensitisasi pada sekitar 450 sampai 850 °C, dan baja tahan karat feritik mengalami pertumbuhan butir, seperti di Bab 3. Pada poros di kasus pembuka, butir kasar yang keras berada tepat di batas las dan daerah subkritis di sebelahnya lebih lunak; batas las menjadi pertemuan daerah keras, daerah lunak, dan konsentrasi tegangan, awal retak lelah seperti di Bab 10 · Mekanikal & Mekatronika.
Karbon ekuivalen dan pemanasan awal
Bab 2 memberi karbon ekuivalen IIW dan pedoman kasarnya. Untuk retak hidrogen dipakai juga rumus lain (setiap unsur dalam persen massa):
| Rumus | Bentuk | Dipakai di |
|---|---|---|
| CE IIW | Bab 2; Metode A di lampiran standar las Eropa | |
| Pcm (Ito-Bessyo) | kalkulator karbon ekuivalen lembaga las Australia | |
| CET | pedoman standar las Eropa |
Ito dan Bessyo meneliti 200 jenis baja sebelum menetapkan rumus Pcm. Pcm dirancang untuk baja paduan mikro berkarbon rendah, umumnya bila karbon sekitar 0,11 persen atau kurang, walaupun asal batas itu belum dapat dipastikan. Satu baja memberi angka berbeda pada tiap rumus (Latihan 2) karena tiap rumus punya skala batasnya sendiri; pedoman 0,4 dan 0,6 di Bab 2 tidak dipakai untuk Pcm atau CET.
Pemanasan awal (preheat) adalah pemanasan logam induk di sekitar sambungan sampai suhu tertentu sebelum dan selama pengelasan. Fisikanya tiga: waktu pendinginan memanjang sehingga HAZ kurang keras, hidrogen punya waktu berdifusi keluar sebelum logam dingin, dan gradien suhu serta tegangan berkurang. Pemanasan awal juga sedikit menurunkan tegangan sisa. Kenaikan CET sekitar 0,01 menaikkan suhu pemanasan awal sekitar 7,5 °C; angka itu perlu dicek ke teks standar sebelum dipakai untuk prosedur. Suhu pemanasan awal ditetapkan prosedur dan diukur di benda kerja, tidak ditebak dari warna atau lamanya nyala (Latihan 3).
Retak hidrogen
Retak hidrogen (hydrogen cracking) adalah retak di logam las atau daerah terpengaruh panas yang timbul setelah lasan dingin karena hidrogen difusibel bertemu struktur mikro yang rentan di bawah tegangan tarik. Retak jenis ini juga disebut retak bawah manik atau retak tertunda. Empat syarat bertemu:
- Hidrogen difusibel cukup banyak, dari elektroda lembap, karat, minyak, atau udara, seperti di Bab 13 tentang sumber hidrogen.
- Struktur mikro rentan, biasanya martensit keras di butir kasar HAZ.
- Tegangan tarik dari susut las dan kekangan; perhatian khusus harus diberikan pada kekangan dari logam induk di sekitarnya.
- Suhu rendah, mendekati suhu ruang, setelah lasan dingin.
Atom hidrogen berdifusi cepat di baja bahkan pada suhu ruang; hukum difusinya ada di Bab 11 tentang hukum Fick. Hidrogen berkumpul di daerah bertegangan tinggi dan ujung takik, sehingga retak muncul beberapa jam sampai hari setelah las, sesudah lasan lolos pemeriksaan visual pertama. Mata ikan (fish eye) adalah cacat pada permukaan patahan las baja, dan cacat ini berkaitan dengan hidrogen.
Pencegahannya menghapus satu syarat: elektroda rendah hidrogen yang kering, permukaan bersih, pemanasan awal, masukan panas cukup, kekangan dikurangi, dan pemanasan pasca las bila prosedur meminta. Baja tahan karat austenitik jauh kurang rentan karena austenit melarutkan lebih banyak hidrogen dan tidak berubah menjadi martensit. Penggetasan hidrogen pada baut dan pegas ada di Bab 7.
Retak panas dan las baja tahan karat
Retak pembekuan (solidification cracking) adalah retak di logam las yang terjadi selama logam masih dalam rentang beku, ketika lapisan tipis cairan di antara butir tidak mampu menahan tegangan susut. Retak ini disebut juga retak panas dan biasanya membujur di garis tengah manik, tempat cairan terakhir yang kaya pengotor membeku. Belerang dan fosfor hampir tidak mengubah mode pembekuan, tetapi segregasinya adalah sebab utama retak panas. Rancangan sambungan memengaruhi kecenderungan retak garis tengah akibat bentuk manik, dan baja tahan karat austenitik pengerasan presipitasi paling sulit dilas karena retak panas. Manik yang dalam dan sempit lebih rentan daripada manik yang lebar.
Pada baja tahan karat austenitik, peramal utama retak panas adalah mode pembekuan. Logam las yang membeku dengan ferit sebagai fase pertama lebih tahan retak panas; batasnya sekitar rasio ekuivalen kromium terhadap ekuivalen nikel 1,5, dengan makalah lama memberi 1,48. Ekuivalen menurut diagram WRC-1992, setiap unsur dalam persen massa:
Diagram WRC-1992 adalah alat prediksi paling akurat yang tersedia, tetapi tidak memperhitungkan laju pendinginan dan kurang teliti pada kadar ferit tinggi. Rumus lain dengan koefisien berbeda juga beredar.
Angka ferit (ferrite number, FN) adalah ukuran kadar ferit dalam logam las baja tahan karat menurut cara ukur yang dibakukan. Untuk layanan umum disebut FN 5 sampai 10, dan FN rendah lebih tahan korosi tertentu tetapi sangat rentan retak panas; angka minimum lain yang beredar belum dapat dipastikan dari sumber resmi per 18 Oktober 2026. Target FN ditetapkan prosedur dan lembar data pengisi; pengisi berpaduan lebih tinggi tidak otomatis lebih baik (Contoh 4). Sensitisasi dan mutu L ada di Bab 3 tentang sensitisasi.
Las aluminium: oksida dan hidrogen
Aluminium menimbulkan dua masalah kimia. Pertama, aluminium oksida meleleh pada 2050 °C, sedangkan aluminium meleleh sekitar 660 °C, selisih 1.390 K. Oksida tidak ikut meleleh di kolam las; ia dibuang oleh pembersihan katodik seperti di Bab 13 tentang polaritas, dan oleh pembersihan sebelum dilas. Paduan aluminium tempa dibersihkan dengan cara berbeda dari paduan cetak tekan, jadi cara membersihkan mengikuti paduannya.
Kedua, hidrogen. Kelarutan hidrogen dalam aluminium padat kira-kira 20 kali lebih rendah daripada dalam cairan, sehingga hidrogen keluar dari larutan saat kolam membeku dan menjadi pori bila tidak sempat lolos; hidrogen itu berasal dari uap air atau kontaminasi hidrokarbon. Kelarutannya sekitar 0,7 ml per 100 g dalam aluminium cair pada 660 °C, dan proses yang sangat cepat memberi hidrogen lebih sedikit waktu untuk keluar. Gas larut pada coran dan hukum Sieverts ada di Bab 12 tentang porositas. Aluminium yang dilas setelah hujan, atau tanpa dibersihkan dari minyak dan embun, menghasilkan lasan berpori (Contoh 5).
Perlakuan panas pasca las
Perlakuan panas pasca las (post-weld heat treatment, PWHT) adalah pemanasan terkendali benda las setelah pengelasan, penahanan pada suhu tertentu, dan pendinginan terkendali untuk menurunkan tegangan sisa dan memperbaiki sifat daerah las. Kestabilan ukuran adalah alasan besar kedua pelepasan tegangan benda las. Bab 6 tentang perlakuan panas memberi suhu pelepasan tegangan baja sekitar 550 sampai 650 °C. Pada baja, PWHT juga menemper martensit HAZ dan mengeluarkan hidrogen.
Ada dua peringatan. Pada baja tahan karat austenitik biasa, suhu itu berada di dalam rentang sensitisasi Bab 3, sehingga PWHT tidak dilakukan tanpa keputusan perancang (Contoh 6). Pada paduan yang dikeraskan presipitasi, pemanasan merusak endapan, dan pemulihannya memerlukan perlakuan larutan dan penuaan penuh (Bab 6 tentang pengerasan presipitasi). Angka PWHT bejana tekan dan perpipaan ditetapkan kode yang berlaku.
Prosedur yang dikualifikasi dan batas wewenang
Las pada bejana tekan, pipa uap dan ketel, komponen angkat seperti kait, rantai, dan rangka derek, poros dan drum berputar, serta komponen keselamatan seperti rem dan interlock memerlukan prosedur las yang dikualifikasi dan juru las yang bersertifikat untuk prosedur itu. Spesifikasi prosedur las (welding procedure specification) adalah dokumen tertulis yang menetapkan bahan, logam pengisi, proses, parameter, pemanasan awal, suhu antarlapis, perlakuan pasca las, dan pemeriksaan untuk satu jenis sambungan. Prosedur dikualifikasi dengan membuat dan menguji sambungan contoh menurut kode yang berlaku.
Prosedur las dikembangkan insinyur atau teknisi las, bukan juru las; lasan struktural harus mengembangkan kekuatan penuh bagian yang disambungnya; dan lasan diperiksa terhadap spesifikasi. Ringkasan kuliah bukan prosedur sertifikasi untuk pengelasan atau peralatan bertekanan. Bab ini, seperti Bab 13 · Mekanikal & Mekatronika tentang batas wewenang, tidak menggantikan prosedur itu. Untuk poros di kasus pembuka, jalan yang benar adalah poros baru sesuai gambar.
Contoh kerja
Angka dalam contoh di bawah adalah angka latihan, kecuali disebut asalnya.
Contoh 1: pengenceran karbon. Lapisan pertama las penambahan pada poros 4140 dengan C 0,40 persen (komposisi sama dengan Bab 2) memakai pengisi C 0,08 persen. Dengan pengenceran 30 persen, karbon logam las persen; dengan 50 persen, persen. Arus lebih besar umumnya menaikkan pengenceran.
Contoh 2: logam las lawan HAZ. Dengan Mn 0,88, Cr 0,95, dan Mo 0,20 pada poros dan Mn 1,00 pada pengisi, logam las dengan pengenceran 30 persen berisi Mn 0,964, Cr 0,285, dan Mo 0,06 persen. CE IIW-nya , sedangkan poros , sama dengan Bab 2. Daerah paling berisiko adalah HAZ di logam induk.
Contoh 3: kecepatan las dan arah pendinginan. SMAW 23 V dan 130 A dengan memberi masukan panas J/mm pada 4 mm/s dan 1.196 J/mm pada 2 mm/s, dengan rumus masukan panas di Bab 13. Masukan panas dua kali lipat memperpanjang waktu pendinginan sehingga HAZ kurang keras, tetapi HAZ melebar dan butir kasarnya tumbuh; besar perubahan waktunya tidak dihitung di bab ini.
Contoh 4: dua pengisi baja tahan karat. Pengisi tipe 308L dengan Cr 20,0; Mo 0,2; Ni 10,0; C 0,02; N 0,06; Cu 0,10: , , rasio 1,69, ferit primer. Pengisi tipe 310 dengan Cr 25; Mo 0,1; Ni 20; C 0,10; N 0,05; Cu 0,1: , , rasio 1,02, austenit primer, rentan retak panas bila belerang dan fosfor tidak sangat rendah.
Contoh 5: pori hidrogen aluminium. Kolam las aluminium 10 g jenuh pada 0,7 ml per 100 g memuat 0,070 ml hidrogen pada keadaan standar; setelah membeku, dengan kelarutan sekitar 20 kali lebih rendah, hanya 0,0035 ml yang tetap larut. Kelebihan 0,0665 ml pada 660 °C dan 1 atm bervolume ml, sekitar 6 persen volume kolam cm³ bila semuanya terperangkap. Ini batas atas kasar karena sebagian gas lolos, tetapi menunjukkan mengapa sedikit embun cukup membuat lasan berpori.
Contoh 6: PWHT pada rakitan campuran. Rangka baja karbon dengan braket baja tahan karat 304 yang dilas akan diberi PWHT 600 °C. Suhu itu di dalam rentang 550 sampai 650 °C Bab 6, tetapi juga di dalam rentang sensitisasi 450 sampai 850 °C Bab 3. Keputusannya milik perancang, misalnya memasang braket dengan baut setelah PWHT.
Kondisi berhenti
Hentikan pekerjaan, pasang tanda, dan serahkan keputusan kepada pemilik peralatan, insinyur las, atau pabrik bila:
- Bagian adalah bejana tekan, pipa uap atau ketel, komponen angkat, poros atau drum berputar, rem, interlock, atau penahan beban, dan tidak ada prosedur las yang dikualifikasi serta juru las bersertifikat untuk prosedur itu.
- Komponen yang dikeraskan, dicelup dan ditemper, atau tidak diketahui mutunya diminta dilas penambahan.
- Karbon ekuivalen IIW di atas sekitar 0,4 atau prosedur meminta pemanasan awal, tetapi alat ukur suhu tidak ada.
- Retak ditemukan di samping atau di bawah manik setelah las; bagian tidak dipakai sampai diperiksa menurut Bab 18 tentang uji tak merusak.
- Baja tahan karat akan dilas dengan pengisi di luar prosedur, atau akan diberi PWHT.
- Komponen aluminium penahan beban dari paduan yang dikeraskan presipitasi diminta dilas.
- Bagian yang sama sudah pernah dilas dan retak lagi.
Salah tafsir yang sering terjadi
Guess what’s wrong first, then open the explanation.
Common misconception
Lasan yang lebih keras dari logam induk berarti lebih kuat.
Why is it wrong?
Kekerasan HAZ dari martensit berarti getas dan rentan retak hidrogen.
Common misconception
Elektroda berkarbon rendah menghasilkan logam las berkarbon rendah.
Why is it wrong?
Pengenceran membawa karbon logam induk ke dalam lapisan pertama.
Common misconception
Karbon ekuivalen 0,3 dari rumus mana pun berarti aman.
Why is it wrong?
Setiap rumus punya skala batas sendiri.
Common misconception
Kalau sore hari tidak retak, lasan aman.
Why is it wrong?
Retak hidrogen tertunda beberapa jam sampai hari.
Common misconception
Pengisi berpaduan lebih tinggi selalu lebih baik.
Why is it wrong?
Pengisi yang membeku sebagai austenit penuh lebih rentan retak panas.
Common misconception
PWHT selalu memperbaiki las.
Why is it wrong?
PWHT dapat menyensitisasi baja tahan karat austenitik dan merusak endapan paduan yang dikeraskan presipitasi.
Hubungan dengan bab lain
Bab 13 memberi masukan panas dan sumber hidrogen. Bab 13 · Mekanikal & Mekatronika memberi proses las dan batas wewenang; Bab 2 karbon ekuivalen dasar; Bab 3 sensitisasi; Bab 4 paduan aluminium; Bab 6 perlakuan panas; Bab 7 penggetasan hidrogen; Bab 10 · Mekanikal & Mekatronika kelelahan; Bab 11 · Fisika kalor jenis; Bab 10 sampai Bab 12 fase, transformasi, dan pembekuan; dan Bab 18 pemeriksaan retak.
Latihan dan pembahasan
Try to answer first, then open the worked solution.
Las penambahan pada baja 1045 (C 0,45 persen) memakai pengisi C 0,06 persen dengan pengenceran 40 persen. Berapa karbon logam lasnya?
See the worked solution
persen, jauh di atas karbon pengisi. Pengenceran membuat lapisan pertama mewarisi sebagian karbon logam induk, sehingga kekerasannya naik.
Hitung CE IIW, Pcm, dan CET untuk baja C 0,10; Si 0,25; Mn 1,20; Cr 0,05; Mo 0,01; Ni 0,05; Cu 0,10. Rumus mana yang paling sesuai?
See the worked solution
CE IIW ; Pcm ; CET . Karena karbon 0,10 persen di bawah sekitar 0,11 persen, Pcm paling sesuai, dan nilainya dibandingkan dengan batas Pcm.
Flens baja 3,0 kg dipanaskan awal 120 K. Berapa energi yang diperlukan, tanpa rugi?
See the worked solution
kJ dengan kalor jenis dari Bab 11 · Fisika. Energi nyata lebih besar karena panas mengalir ke bagian lain dan ke udara, jadi suhu diukur di benda kerja.
Pengisi tipe 316L berisi Cr 18,5; Mo 2,5; Ni 12,0; C 0,02; N 0,05; Cu 0,1. Hitung rasio ekuivalen WRC-1992 dan nilai mode pembekuannya.
See the worked solution
dan , rasio 1,53. Nilai itu sedikit di atas sekitar 1,5 sehingga ferit primer, tetapi dekat batas, jadi kadar belerang dan fosfor serta FN dari lembar data tetap diperiksa.
Mengapa poros di kasus pembuka lolos pemeriksaan sore hari tetapi menyimpan retak di bawah manik?
See the worked solution
Hidrogen dari elektroda dan permukaan perlu waktu untuk berdifusi dan berkumpul di martensit butir kasar yang bertegangan, sehingga retak tumbuh beberapa jam sampai hari setelah dingin. Tanpa pemanasan awal, poros tebal mendingin cepat dan keempat syarat retak hidrogen terpenuhi.
Braket aluminium 6061-T6 pada troli linen retak lalu dilas di tempat setelah hujan. Sebutkan dua perubahan metalurgi yang mungkin dan sikap yang benar.
See the worked solution
Daerah dekat las melunak karena endapan penguat T6 rusak, dan air serta oksida terhidrasi memberi hidrogen yang menjadi pori saat kolam membeku. Braket penahan beban seperti itu diganti atau dirancang ulang oleh pemasok, bukan dilas di tempat.
Referensi
External sources
- OpenStax: Chemistry 2eopenstax.org
- Carbon equivalent calculatorwelding.org.au
- Great Minds of Carbon Equivalent Part 2 Wang1ewi.org
- s40194 024 01878 3link.springer.com
- Independent welding consumables professionalthefabricator.com
- Avoiding Porosity When Welding Aluminiumtwi-global.com
Revision history
| Date | Version | Change |
|---|---|---|
| October 30, 2026 | 2 | Revised to the chapter standard |
| October 20, 2026 | 1 | First published |
How to cite
Kurnia (2026). Metalurgi daerah las: siklus termal dan laju pendinginan, zona lebur sebagai coran kecil, zona terpengaruh panas, karbon ekuivalen dan pemanasan awal, retak hidrogen, retak panas, las baja tahan karat dan aluminium, dan perlakuan panas pasca las. ARSTEMA Academy. Revised October 30, 2026. arstema.com/academy/konsep/metalurgi-daerah-las-siklus-termal-dan-laju-pendinginan-zona-lebur-sebagai-coran-kecil-zona-terpengaruh-panas-karbon-ekuivalen-dan-pemanasan-awal-retak-hidrogen-retak-panas-las-baja-tahan-karat-dan-aluminium-dan-perlakuan-panas-pasca-las
Self-check · 3 questions
Check your understanding before moving on
Write your answer in your own words, then compare it with the worked solution from this chapter’s exercises. The system doesn’t judge open answers as right or wrong; you decide which parts you’ve understood.
Safety limits still apply. This quiz tests reasoning; it doesn’t authorize mixing, adjusting, dismantling, live measurement, or field action.
Las penambahan pada baja 1045 (C 0,45 persen) memakai pengisi C 0,06 persen dengan pengenceran 40 persen. Berapa karbon logam lasnya?
Hitung CE IIW, Pcm, dan CET untuk baja C 0,10; Si 0,25; Mn 1,20; Cr 0,05; Mo 0,01; Ni 0,05; Cu 0,10. Rumus mana yang paling sesuai?
Flens baja 3,0 kg dipanaskan awal 120 K. Berapa energi yang diperlukan, tanpa rugi?
Nearby chapters
Reading order by shelf: Materials · Chapter 15.
Reading order by shelf: Materials · Chapter 13.