Penanganan noda (spotting): prosedur, uji tersembunyi, dan larangan
Spotting memakai bahan pekat langsung pada kain, sehingga risiko merusak kain dan paparan pekerja jauh lebih besar daripada pencucian di mesin. Bab ini membahas batas keselamatan termasuk penghilang karat yang dapat mengandung asam fluorida, kapan spotting dilakukan, urutan kerja baku dari identifikasi sampai pemeriksaan sebelum pengeringan, pilihan fungsi per kategori noda, urutan untuk noda campuran, alasan agen khusus didahulukan dari kimia laundry umum, larangan keras, dan pencatatan noda yang gagal. Contoh kerja menghitung pengenceran agen 1:50 dan 1:100 serta membandingkan konsentrasi klorin pada larutan spotting dengan bak pemutih.
Materi ini menyentuh bahaya nyata. Penjelasan konsep tidak menggantikan prosedur lokasi, kompetensi, isolasi energi, SDS terbaru, atau izin kerja.
Modul praktik laundry menyusun spotting dengan dua tingkat: prioritas pertama adalah agen spotting khusus yang diformulasikan untuk jenis noda tertentu, dan pilihan kedua, bila agen khusus tidak tersedia, adalah bahan kimia laundry umum dengan kehati-hatian ekstra. Urutan itu punya alasan teknis yang dapat dihitung. Bahan kimia laundry umum dirancang untuk diencerkan di bak berisi ratusan liter air; di atas satu noda, bahan yang sama bekerja pada konsentrasi yang, bahkan setelah diencerkan untuk spotting, masih puluhan sampai ratusan kali lebih tinggi.
Bab ini ada karena spotting memindahkan kimia dari mesin tertutup ke tangan pekerja dan ke satu titik kecil pada kain. Risiko kerusakan kain dan paparan pekerja karena itu lebih besar daripada pencucian di mesin. Bedanya dengan bab kotoran dan noda: bab itu menjelaskan kategori noda dan mekanisme lepasnya; bab ini adalah prosedur tangan per noda, sebelum atau sesudah mesin. Bedanya dengan bab katalog gejala nanti: bab itu membaca hasil cucian untuk mencari sebab; bab ini menangani noda yang sudah dikenali.
Batas pembahasan dan kondisi berhenti
Bab ini membahas spotting pada linen yang dapat dicuci air di laundry komersial. Pembersihan kering dengan pelarut di mesin khusus tidak dibahas. Agen ditulis menurut fungsi, dan setiap produk nyata dipakai menurut label dan lembar data keselamatannya (safety data sheet, SDS).
Spotting membawa empat kelompok bahaya.
- Bahan pekat korosif. Alkali, asam, dan pemutih pekat merusak kulit dan mata. Modul menetapkan alat pelindung diri (APD) minimum: sarung tangan tahan kimia dan kacamata pelindung.
- Penghilang karat. Sebagian penghilang karat mengandung asam fluorida. Satu SDS penghilang karat komersial, misalnya, mencantumkan asam fluorida 1–2,3%, dengan klasifikasi toksik bila kontak dengan kulit dan korosif bagi kulit dan mata. Asam fluorida menembus kulit, mengikat kalsium tubuh, dan dapat melukai jaringan di bawahnya; pada kadar rendah, nyeri dan luka bakar dapat baru muncul berjam-jam kemudian. Karena itu, produk seperti ini hanya dipakai oleh pekerja terlatih, dengan sarung tangan yang sesuai menurut SDS, dan dengan pertolongan pertama yang disyaratkan SDS tersedia di tempat, misalnya gel kalsium glukonat bila disebut. Penghilang karat lain memakai asam oksalat; asam oksalat beracun bila tertelan, berbahaya bagi kulit, dan dapat merusak mata, sehingga APD yang sama tetap dipakai. Sifat bahaya asam oksalat dicatat di peta sumber.
- Pelarut. Alkohol dan pelarut noda minyak mudah menguap dan sebagian mudah terbakar. Pelarut dipakai dalam jumlah kecil, jauh dari sumber api dan permukaan panas, di tempat berventilasi. Modul mensyaratkan area berventilasi baik, idealnya dengan ekstraksi lokal.
- Linen terkontaminasi cairan tubuh. Darah, feses, dan cairan tubuh lain pada linen rumah sakit atau linen kotor berat membawa bahaya biologis. Linen seperti ini tidak di-spotting dengan tangan sebelum melalui pencucian disinfeksi, mengikuti protokol pengendalian infeksi di bab higiene linen dan bab K3.
- Campuran. Agen yang berbeda tidak dicampur di satu wadah atau di satu titik kain tanpa pembilasan di antaranya. Pemandu penghilangan noda dari penyuluhan universitas menegaskan agar tidak pernah mencampur penghilang noda, terutama amonia dan pemutih, karena campurannya menghasilkan uap beracun, dan agar membilas tuntas di antara perlakuan. Klorin dengan asam, termasuk penghilang karat, melepaskan gas klorin, seperti dibahas di bab oksidator.
- Produk tidak berlabel atau SDS-nya tidak tersedia.
- Produk mengandung asam fluorida dan pekerja belum dilatih atau pertolongan pertama yang disyaratkan SDS tidak tersedia.
- Tercium bau klorin atau bau tajam lain di meja spotting: hentikan, tutup wadah bila aman, tambah ventilasi, dan tinggalkan area sampai bau hilang.
- Bahan terkena kulit atau mata: hentikan, bilas dengan air mengalir sekurang-kurangnya 15 menit, lalu ikuti SDS dan cari pertolongan medis. Untuk produk berasam fluorida, pertolongan medis dicari segera walaupun belum terasa nyeri.
- Kain mulai berubah warna, menipis, atau berlubang pada uji tersembunyi.
- Linen berlumur darah atau cairan tubuh dari sumber infeksius belum melalui pencucian disinfeksi.
Kapan spotting dilakukan
Sebelum cuci (pre-spotting). Untuk noda yang diketahui akan terfiksasi oleh proses, misalnya protein yang matang oleh panas, atau karat yang menjadi permanen bila bertemu klorin di tahap pemutih. Pre-spotting juga dipakai untuk noda yang tidak ditangani program standar, misalnya tinta.
Sesudah cuci pertama, sebelum pengeringan. Linen yang keluar dari mesin masih bernoda diperiksa sebelum masuk pengering. Pemandu penyuluhan menegaskan agar kain bernoda tidak dikeringkan dengan pengering atau disetrika sebelum noda dipastikan hilang. Panas pengering dapat memfiksasi sisa noda sehingga perlakuan berikutnya jauh lebih sulit. Titik ini murah dikendalikan karena linen masih basah dan belum menerima panas.
Sebagai perlakuan ulang. Linen yang ditolak di pemeriksaan akhir dikembalikan ke meja spotting dengan catatan jenis noda, lalu dicuci ulang dengan program perlakuan, seperti dibahas di bab sortir dan penskalaan dosis.
Meja dan perlengkapan
Prosedur yang baik gagal bila perlengkapannya tidak mendukung. Meja spotting ditempatkan di area berventilasi, jauh dari pengering dan sumber api, dengan air mengalir dan tempat cuci mata dalam jangkauan. Perlengkapan minimumnya:
- botol aplikasi yang diberi label fungsi dan tanggal pengenceran, satu botol untuk satu agen, tidak pernah diisi ulang dengan agen lain;
- gelas ukur dan penetes untuk mengencerkan dan mengoleskan secukupnya;
- kain penyerap bersih berwarna putih agar perpindahan noda dan luntur warna terlihat;
- sikat berbulu lembut dan spatula tumpul untuk menepuk dan mengerok;
- SDS setiap agen yang dapat dibaca di meja itu;
- lembar catatan noda gagal.
Agen yang tidak lagi dipakai, larutan yang sudah lewat masa pakainya menurut label, dan botol tanpa label dikeluarkan dari meja. Aturan ini sederhana, tetapi mencegah dua kecelakaan yang paling mudah terjadi di meja spotting: agen tertukar dan agen tercampur.
Urutan kerja baku
Modul pendamping menyusun prosedur langkah demi langkah, dan pemandu penyuluhan memberi teknik yang sejalan. Rak ini merangkumnya menjadi sembilan langkah.
- Identifikasi noda dan kain. Tentukan kategori noda, seperti di bab kotoran dan noda, serta jenis serat dan warna dari label perawatan atau pengetahuan linen. Noda yang tidak dikenal diperlakukan mulai dari cara yang paling lembut.
- Buang kelebihan. Kerok atau serap bagian noda yang padat atau basah tanpa menekannya lebih dalam.
- Uji di bagian tersembunyi. Oleskan sedikit agen pada jahitan dalam atau lipatan, tunggu beberapa menit sesuai waktu kontak, bilas, lalu periksa perubahan warna dan kekuatan kain.
- Pasang alas penyerap. Letakkan kain penyerap bersih di bawah noda, dengan sisi bernoda menghadap ke alas, agar noda yang larut berpindah ke alas, bukan menyebar.
- Aplikasikan dari sisi belakang. Agen diberikan dari sisi belakang kain agar noda terdorong keluar lewat jalan terpendek, bukan menembus seluruh tebal kain. Gunakan penetes atau kuas kecil dan jumlah secukupnya.
- Tepuk, jangan gosok. Tepuk ringan dengan sikat lembut atau tekan dengan kain penyerap. Menggosok mengasarkan permukaan serat dan menyebarkan noda. Modul menambahkan larangan menggosok keras pada kain lemah.
- Beri waktu kontak. Ikuti label produk. Agen berbasis enzim memerlukan waktu lebih lama.
- Bilas dan ratakan tepi. Bilas area dengan air bersih untuk membuang agen dan noda yang terlepas, lalu ratakan tepi area basah ke luar agar tidak terbentuk cincin.
- Periksa sebelum lanjut. Bila noda masih ada, ulangi atau pilih agen lain setelah membilas. Bila hilang, linen masuk proses cuci.
Setiap perpindahan dari satu agen ke agen lain didahului pembilasan, karena sisa agen pertama dapat bereaksi dengan agen kedua di atas kain.
Pilihan fungsi per kategori noda
Tabel berikut memakai kategori dari bab kotoran dan noda. Kolom fungsi menyebut jenis agen, bukan merek.
| Noda | Fungsi agen | Catatan kerja |
|---|---|---|
| Darah, telur, susu, feses | Air dingin, lalu larutan enzim protease | Jangan panas atau alkali kuat di awal; protein yang matang sulit lepas |
| Minyak, lemak, kosmetik | Pelarut noda minyak atau emulsifier | Lanjutkan dengan cuci utama bersuhu tinggi, modul menyebut 60 °C atau lebih, dalam batas kain |
| Kopi, teh, buah, anggur | Air dingin, lalu deterjen; pemutih oksigen bila perlu | Oksidasi memudarkan zat warna noda; panas 70–80 °C membantu pemutih oksigen menurut modul, dalam batas kain |
| Getah tanaman | Emulsifier dahulu, bilas, lalu pemutih oksigen | Urutan dari modul: pecah getah, lalu hilangkan warnanya |
| Karat | Penghilang karat berbasis asam | Jangan klorin: klorin membuat noda karat permanen; periksa kandungan asam fluorida di SDS |
| Tinta | Alkohol untuk melarutkan, lalu agen spotting umum untuk sisanya | Proses dua tahap menurut modul; jenis tinta menentukan cara |
| Permen karet | Es untuk mengeraskan, kerok, lalu pelarut | Perlakukan sisanya sebagai noda berminyak |
| Pewarna rambut, semir | Sangat sulit; pemutih sesuai jenis kain | Modul memakai pasta klorin dengan emulsifier hanya untuk kain putih dan menggosok searah; rak ini tetap memakai tepukan agar serat tidak rusak; risiko kerusakan tinggi |
Pewarna, termasuk pewarna rambut, adalah noda yang paling sulit dihilangkan menurut pemandu penyuluhan. Karena itu, pada linen berwarna atau kain lemah, keputusan yang wajar kadang adalah menerima noda dan mengeluarkan linen dari layanan, bukan terus menaikkan kekuatan agen.
Noda campuran dan urutan agen
Banyak noda nyata adalah campuran: saus berminyak berwarna, lipstik yang berisi minyak dan pewarna, atau darah yang bercampur lemak. Prinsip urutannya mengikuti mekanisme di bab kotoran dan noda.
- Singkirkan komponen berminyak lebih dahulu dengan pelarut atau emulsifier, karena lapisan minyak menghalangi air dan agen berbasis air menjangkau komponen lain.
- Tangani komponen protein dengan air dingin dan enzim sebelum ada panas.
- Tangani sisa warna dengan oksidasi paling akhir, karena pemutih bekerja pada zat warna yang sudah terbuka, dan sebagian pemutih mengganggu enzim bila diberikan bersamaan.
Urutan getah pada modul, emulsifier lalu bilas lalu pemutih oksigen, adalah contoh prinsip ini. Urutan ini adalah penalaran dari mekanisme dan dicatat di peta sumber sebagai derivasi editorial.
Agen khusus dan kimia laundry umum
Modul mendahulukan agen khusus dan menempatkan kimia laundry umum sebagai alternatif terakhir, karena kimia umum tanpa formulasi spotting menambah risiko pemudaran warna, pelemahan serat, atau residu yang sulit dihilangkan. Alasan teknisnya ada tiga.
Konsentrasi. Kimia laundry umum dirancang untuk konsentrasi setelah pengenceran di bak. Dioleskan langsung tanpa pengenceran, konsentrasinya ratusan sampai ribuan kali konsentrasi bak; setelah diencerkan untuk spotting pun masih puluhan sampai ratusan kali. Contoh kerja kedua menghitungnya untuk klorin.
Kecocokan. Agen khusus diformulasikan dengan pH, pelarut, dan waktu kontak yang cocok untuk satu kategori noda dan diuji pada kain. Kimia umum membawa bahan lain yang berguna di bak tetapi tidak di atas noda, misalnya pengkelat atau pencerah optik.
Residu. Bahan pekat yang tertinggal di satu titik tidak selalu terbuang oleh bilasan mesin biasa. Sisa alkali atau pemutih pekat dapat melemahkan kain di titik itu setelah pengeringan.
Bila kimia umum terpaksa dipakai, agen diencerkan lebih dahulu menurut petunjuk, diuji di bagian tersembunyi, dan dibilas tuntas sebelum linen masuk mesin.
Larangan keras
Larangan dari modul dan pemandu penyuluhan dirangkum sebagai berikut.
- Klorin hanya untuk kain putih murni yang tahan klorin, tidak untuk noda pada kain berwarna, dan tidak untuk karat.
- Tidak ada panas, baik pengering maupun setrika, sebelum noda dipastikan hilang.
- Pelarut tidak dipakai berlebihan, karena menimbulkan residu dan bau.
- Agen tidak dicampur, dan setiap pergantian agen didahului pembilasan.
- Kain lemah tidak digosok keras.
- Tidak ada agen yang dipakai tanpa uji di bagian tersembunyi.
Mencatat noda yang gagal
Setiap linen yang gagal dibersihkan dicatat: jenis noda, jenis kain, agen dan urutan yang dicoba, hasilnya, dan keputusan akhirnya, yaitu dicuci ulang, dikeluarkan dari layanan, atau dikembalikan ke pemilik dengan keterangan. Catatan ini punya dua fungsi. Pertama, pola noda yang gagal menunjukkan masalah di hulu, misalnya noda protein yang selalu matang karena pracuci terlalu panas. Kedua, catatan ini menjadi bahan bab mutu cucian dan katalog gejala, yang membaca gejala sebagai petunjuk sebab.
Contoh kerja: pengenceran 1:50 dan 1:100
Label agen menyebut pengenceran 1:50 untuk noda ringan dan 1:100 untuk pemakaian rutin. Satu sesi spotting memerlukan 500 mL larutan.
Rasio 1:50 dapat berarti dua hal: 1 bagian konsentrat dalam 50 bagian larutan jadi, atau 1 bagian konsentrat ditambah 50 bagian air. Arti pertama memberi:
Arti kedua memberi mL konsentrat dan 490,2 mL air. Untuk 1:100, kedua arti memberi 5,0 mL atau sekitar 4,95 mL konsentrat. Selisih sekitar 2% pada 1:50 dan 1% pada 1:100 ini kecil untuk agen biasa, tetapi label atau lembar data teknis yang menentukan arti mana yang dipakai, dan rak ini menuliskannya secara eksplisit di prosedur. Konsentrat dituang ke air, bukan air ke konsentrat, dan diukur dengan gelas ukur, bukan tutup botol.
Contoh kerja: klorin di meja spotting dan di bak
Larutan natrium hipoklorit berkadar klorin aktif 10% diencerkan 1:10, dalam arti 1 bagian dalam 10 bagian larutan jadi, untuk dioleskan pada noda di kain putih. Bila kadar dinyatakan dalam % massa per volume, 10% sama dengan 100 g/L atau 100.000 mg/L. Bila dinyatakan dalam % massa per massa, kadar dikalikan massa jenis larutan, sekitar 1,15 kg/L untuk larutan sepekat ini, sehingga sekitar 115.000 mg/L. Label juga sering menyebut kadar natrium hipoklorit, bukan klorin aktif; klorin aktif sedikit lebih kecil, sekitar 0,95 kali kadar natrium hipoklorit. Perhitungan berikut memakai angka % massa per volume.
Pedoman pemasok kimia yang dikutip di bab arsitektur program menyebut konsentrasi klorin 50–200 mg/L di bak pemutih selama siklus. Larutan spotting ini sekitar 50 sampai 200 kali lebih pekat daripada bak, dan produk yang dioleskan tanpa pengenceran sekitar 500 sampai 2.000 kali. Pada konsentrasi setinggi itu, reaksi dengan selulosa berjalan jauh lebih cepat, sehingga waktu kontak dijaga singkat, area dibilas tuntas, dan antiklor dipertimbangkan sebelum linen masuk mesin. Hitungan ini juga menjelaskan mengapa klorin pekat tidak pernah dipakai pada kain berwarna, wol, sutra, atau elastan, seperti ditetapkan di bab tekstil dan bab oksidator.
Contoh kerja lapangan
Contoh di bawah memakai rumus pengenceran dan konversi kadar dari dua contoh kerja di atas; angka keadaan yang bukan dari sumber ditandai angka latihan, dan hitungannya dicatat di peta sumber pengembangan. Semua pekerjaan dilakukan di meja spotting yang memenuhi syarat bab ini, dengan APD, SDS di tempat, dan kondisi berhenti di atas tetap berlaku.
Contoh 1: label hipoklorit dalam persen massa di laundry hotel. Label produk di laundry hotel menulis natrium hipoklorit 12% massa per massa (angka latihan). Produk diencerkan 1:20, dalam arti 1 bagian dalam 20 bagian larutan jadi, untuk noda pada handuk putih katun.
Larutan ini sekitar 33 sampai 131 kali lebih pekat daripada bak pemutih 50 sampai 200 mg/L. Membaca 12% langsung sebagai 120.000 mg/L memberi 6.000 mg/L, sekitar 9% terlalu rendah. Waktu kontak dijaga singkat, uji tersembunyi tetap dilakukan, dan area dibilas tuntas sebelum handuk masuk mesin.
Contoh 2: rasio 1:10 untuk serbet restoran berwarna. Serbet berwarna restoran hotel bernoda anggur. Setelah air dingin dan deterjen, agen pemutih oksigen dengan label 1:10 (angka latihan) disiapkan 300 mL.
Selisih kedua arti kini 10%, jauh di atas 2% pada 1:50; makin pekat rasionya, makin besar selisihnya, dan pada 1:5 mencapai 20%. Arti rasio ditanyakan ke lembar data teknis dan ditulis di prosedur. Karena serbetnya berwarna, uji di bagian tersembunyi menentukan apakah agen ini boleh dipakai.
Contoh 3: masa pakai larutan enzim di laundry rumah sakit. Meja spotting laundry rumah sakit memakai agen enzim protease 1:100 untuk sisa noda darah pada linen yang sudah melalui pencucian disinfeksi. Pemakaian sekitar 30 mL per hari, dan label membatasi larutan encer 7 hari (angka latihan). Botol 500 mL bertahan sekitar 17 hari, sehingga sekitar 290 mL terbuang setelah 7 hari. Botol 200 mL cukup:
Larutan bertahan sekitar 6,7 hari. Konsentrat 2 mL diukur dengan penetes atau gelas ukur kecil, dan botol diberi label fungsi serta tanggal pengenceran. Linen berlumur darah dari sumber infeksius yang belum melalui pencucian disinfeksi tidak masuk meja ini (kondisi berhenti butir 6).
Salah tafsir yang sering muncul
Salah tafsir pertama adalah menganggap agen yang lebih kuat selalu lebih baik. Kekuatan yang tidak cocok dengan mekanisme noda hanya menambah kerusakan kain.
Salah tafsir kedua adalah menggosok noda sampai hilang. Gosokan menyebarkan noda dan merusak permukaan serat.
Salah tafsir ketiga adalah memakai klorin untuk semua noda pada kain putih. Klorin membuat karat permanen, dan menurut modul klorin yang bertemu protein noda menimbulkan warna kuning.
Salah tafsir keempat adalah mengeringkan linen dulu lalu memeriksa noda. Panas pengering memfiksasi sisa noda.
Hubungan dengan bab lain
Bab 10 · Kimia memberi cara membaca SDS dan kelas fungsi produk. Bab 1 · Keselamatan memberi dasar bahaya dan kondisi berhenti. Bab 1 · Satuan & Matematika memberi dasar rasio dan pengenceran. Di rak Laundry, bab ini bersandar pada bab tekstil, kotoran dan noda, enzim, dan oksidator, serta menjadi dasar bab mutu cucian, katalog gejala, dan K3.
Latihan dan pembahasan
Tuliskan rumus, satuan, dan asumsi yang dipakai. Angka dalam soal adalah data latihan.
- Agen perlu diencerkan 1:25 dalam arti 1 bagian konsentrat dalam 25 bagian larutan jadi. Berapa konsentrat dan air untuk 750 mL larutan?
- Hipoklorit berkadar klorin aktif 12% (massa per volume) diencerkan 1:20, dalam arti 1 bagian dalam 20 bagian larutan jadi, untuk spotting. Perkirakan konsentrasinya dalam mg/L dan bandingkan dengan bak pemutih 150 mg/L.
- Seprai putih katun memiliki noda cokelat kemerahan setelah dicuci. Operator ingin memakai pasta klorin. Nilai keputusan ini dan susun urutan yang lebih aman.
- Sebuah laundry memakai penghilang karat baru. Apa yang diperiksa di SDS sebelum produk dipakai di meja spotting, dan apa yang harus tersedia di tempat?
- Taplak meja berwarna terkena lipstik dan saus. Susun urutan agen dan jelaskan alasannya.
- Selama sebulan, catatan noda gagal menunjukkan banyak noda darah yang tidak hilang pada linen rumah sakit. Susun dua hipotesis penyebab di hulu dan data pembedanya.
Kunci jawaban beralasan
- mL konsentrat dan 720 mL air. Konsentrat dituang ke air dan diukur dengan gelas ukur.
- 12% massa per volume sama dengan 120.000 mg/L; dibagi 20 menjadi sekitar 6.000 mg/L, atau sekitar 40 kali bak pemutih 150 mg/L. Bila 1:20 dibaca 1 bagian ditambah 20 bagian air, hasilnya mg/L, sekitar 38 kali. Bila kadar 12% ternyata massa per massa dengan massa jenis 1,15 kg/L, konsentrasi awal sekitar 138.000 mg/L dan larutan 1:20 sekitar 6.900 mg/L, sekitar 46 kali. Waktu kontak dijaga singkat, uji tersembunyi wajib, dan area dibilas tuntas.
- Noda cokelat kemerahan pada linen yang sudah dicuci patut dicurigai karat, terutama bila ada sumber besi seperti air atau logam mesin. Klorin membuat karat permanen, sehingga pasta klorin adalah keputusan yang salah bila noda itu karat. Urutan yang lebih aman: identifikasi dengan uji kecil penghilang karat berbasis asam oksalat, bukan asam fluorida, di sudut noda setelah uji di bagian tersembunyi; bila memudar, noda karat terkonfirmasi dan ditangani dengan penghilang karat sesuai SDS, lalu dibilas; bila tidak, pertimbangkan noda tanin atau protein yang teroksidasi dan tangani dengan agen yang sesuai. Klorin salah untuk kedua kemungkinan: membuat karat permanen dan menguningkan protein. Sumber besi dicari di hulu, seperti dibahas di bab air.
- Periksa kandungan asam, terutama asam fluorida dan kadarnya, klasifikasi bahaya, APD yang disyaratkan termasuk jenis sarung tangan, ventilasi, larangan pencampuran terutama dengan klorin, dan pertolongan pertama. Harus tersedia di tempat: APD yang sesuai, air mengalir atau tempat cuci mata, pertolongan pertama yang disebut SDS, misalnya gel kalsium glukonat bila disyaratkan untuk produk berasam fluorida, dan pekerja yang sudah dilatih. Bila salah satu tidak tersedia, produk tidak dipakai.
- Uji tersembunyi lebih dahulu karena kain berwarna. Tangani komponen berminyak lipstik dan saus dengan pelarut atau emulsifier, bilas; lalu komponen warna dengan air dingin dan deterjen; pemutih oksigen hanya bila uji menunjukkan warna taplak tahan. Klorin tidak dipakai karena kain berwarna. Periksa sebelum pengeringan.
- Hipotesis A: pracuci terlalu panas atau langsung beralkali kuat sehingga protein matang sebelum lepas. Data: suhu nyata pracuci dari log atau termometer, dan pH pracuci. Hipotesis B: linen terlalu lama tersimpan basah atau kering sebelum dicuci sehingga noda mengering. Data: waktu antara pengumpulan dan pencucian per batch, dibandingkan dengan angka noda gagal. Karena suhu pracuci mungkin sama untuk semua batch, pembanding A yang lebih kuat adalah mesin atau program yang berbeda suhunya, atau data sebelum dan sesudah perubahan program. Bila noda gagal lebih banyak pada mesin atau program dengan pracuci panas walaupun waktu tunggunya pendek, A menguat; bila meningkat pada batch yang lama menunggu walaupun suhunya benar, B menguat.
Referensi
Sumber luar
- Safety data sheet penghilang noda karat (mengandung asam fluorida)rochester-mn.safepersonnelsds.com
- Texas A&M AgriLife Extension, Removing stains from washable fabricagrilifeextension.tamu.edu
- Laundry Cycle Functionality (pemasok kimia): konsentrasi klorin di bak pemutihuschemical.com
Bab terkait
- SDS, kelas fungsi, dan batas perbandingan produkKimia · Bab 10
- Bahaya, risiko, energi tersimpan, dan kondisi berhentiKeselamatan · Bab 1
- Aritmetika teknik: angka, operasi, pecahan, persen, dan rasioSatuan & Matematika · Bab 1
Uji diri · 3 soal
Cek pemahaman sebelum berpindah bab
Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.
Batas keselamatan tetap berlaku. Kuis ini menguji penalaran, bukan memberi izin melakukan pencampuran, penyetelan, pembongkaran, pengukuran berenergi, atau tindakan lapangan.
Agen perlu diencerkan 1:25 dalam arti 1 bagian konsentrat dalam 25 bagian larutan jadi. Berapa konsentrat dan air untuk 750 mL larutan?
Hipoklorit berkadar klorin aktif 12% (massa per volume) diencerkan 1:20, dalam arti 1 bagian dalam 20 bagian larutan jadi, untuk spotting. Perkirakan konsentrasinya dalam mg/L dan bandingkan dengan bak pemutih 150 mg/L.
Seprai putih katun memiliki noda cokelat kemerahan setelah dicuci. Operator ingin memakai pasta klorin. Nilai keputusan ini dan susun urutan yang lebih aman.
Bab terdekat
Urutan baca menurut rak: Laundry · Bab 14.
Bab lain dalam Sistem Laundry.