Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Laundry · Bab 11Terapan

    Arsitektur program cuci: tahapan, peras antara, carry-over, dan bilasan bertahap

    Hasil cuci ditentukan oleh urutan tahap, bukan oleh satu tahap. Bab ini membahas tujuan setiap tahap dalam program standar, perbedaan angka waktu dan level antara modul dan sumber industri, model pengenceran carry-over dari bilasan ke bilasan, peran dan perdebatan peras antara, bilasan bertahap dan kejut termal, akibat memangkas tahap, serta penempatan enzim, alkali, pemutih, penetral, dan pelembut dalam urutan. Contoh kerja menghitung sisa alkali setelah bilasan dengan dan tanpa peras antara, kebutuhan penetral dari sisa itu, dan anggaran air serta waktu dua susunan program.

    22 menit

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Modul praktik laundry menuliskan program profesional dalam 12 langkah, dari pracuci sampai peras akhir, dan menandai satu langkah dengan huruf kapital: peras antara. Pedoman dari pemasok kimia laundry di Amerika Serikat justru menyatakan tidak menganjurkan peras antara sama sekali, kecuali untuk benda yang sangat menyerap seperti kain pel, karena peras antara dianggap menekan kotoran kembali ke serat. Panduan perencanaan dari pabrikan mesin mencatat keduanya dipakai: dulu empat bilasan menjadi aturan, sekarang tiga bilasan, atau dua bilasan ditambah peras antara, sama-sama umum.

    Perbedaan seperti ini tidak diselesaikan dengan memilih sumber yang paling meyakinkan. Perbedaan ini diselesaikan dengan memahami apa yang terjadi pada air dan kimia dari satu tahap ke tahap berikutnya. Bab ini ada untuk itu: hasil cuci ditentukan oleh urutan tahap, dan setiap tahap mewarisi sisa dari tahap sebelumnya.

    Bedanya dengan bab washer-extractor sebelumnya: bab itu membahas perangkat dan fisika di dalam drum, termasuk level air dan ekstraksi; bab ini membahas urutan kerja yang dijalankan perangkat itu. Bedanya dengan bab sortir dan penskalaan dosis sesudahnya: bab ini menyusun struktur program, sedangkan bab itu memilih program dan angka dosis untuk beban tertentu.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas program untuk mesin cuci-peras dengan tahap berurutan dalam satu drum. Mesin terowongan yang memakai aliran berlawanan arah disebut sebagai pembanding. Angka waktu, suhu, dan level pada tabel adalah acuan dari sumber yang disebut; program nyata disusun menurut jenis linen, derajat kotor, mesin, dan lembar data teknis kimia yang dipakai.

    Satu batas keselamatan berlaku untuk semua susunan program: pemutih klorin dan penetral asam tidak pernah berada di bak yang sama. Pengenceran tidak pernah menghapus klorin sepenuhnya, sehingga susunan program menurunkan klorin sampai tidak terdeteksi: sekurang-kurangnya dua bilasan yang tidak panas, pemeriksaan klorin sisa dengan kertas uji pada bilasan sebelum penetral, dan antiklor bila klorin masih terdeteksi, seperti dibahas di bab oksidator. Jalur atau manifold dispenser yang dipakai bersama juga dibilas di antara klorin dan penetral.

    Perubahan program yang menggeser atau menghapus bilasan antara tahap pemutih dan tahap penetral diperlakukan sebagai perubahan terkendali, bukan penyetelan harian: ada orang yang ditunjuk untuk menyetujui, versi program dicatat, dan pada siklus pertama setelah perubahan klorin sisa diperiksa sebelum penetral masuk.

    Tahapan standar dan tujuannya

    Tabel berikut menyandingkan program 12 langkah dari modul dengan pedoman fungsi siklus dari pemasok kimia. Keduanya dipakai karena berbeda di beberapa angka, dan perbedaannya mengajarkan sesuatu.

    TahapTujuanModul praktikPedoman pemasok
    Pembilasan awal / pracuciMembasahi, membuang kotoran larut air, menangani proteinLevel tinggi, 20–40 °C, 5–8 menitBilas awal level tinggi 1–3 menit tanpa kimia; pracuci level rendah 3–6 menit, hangat
    Cuci utamaMelepas kotoran utama, membangun pH 11–12Level rendah, 55–65 °C, pH 11–12, 10–15 menitLevel rendah, panas, 5–8 menit, tidak ada operasi lebih dari 8 menit
    PemutihMenghilangkan noda, membantu sanitasiMenurut jenis pemutihLevel rendah, 5–8 menit; klorin pH buang 10,2–10,8
    Peras antaraMemotong air bawaan sebelum bilasanPutaran sedang tanpa air, 2–3 menitTidak dianjurkan kecuali benda sangat menyerap
    BilasanMembuang kimia dan kotoranLevel tinggi, suhu turun bertahap, 3–5 menitLevel tinggi, hangat, 2–3 menit, umumnya dua kali
    Bilas akhirPenetral dan pelembutLevel tinggi, dingin, pH kain 6–7Level rendah, hangat, 4–5 menit, pH kain 5,5–6,5
    Peras akhirMembuang air sebelum pengeringPutaran tinggi, 5–8 menit3 menit seprai, 5 menit handuk

    Sumber: modul praktik dan pedoman fungsi siklus pemasok kimia.

    Tiga perbedaan layak dibaca. Pertama, waktu cuci utama 10–15 menit di modul dan paling lama 8 menit di pedoman pemasok. Waktu yang dibutuhkan bergantung pada laju naik suhu, jenis kimia, dan derajat kotor, seperti dibahas di bab lima faktor; rak ini tidak memilih satu angka dan menilai waktu dari hasil pada linen uji. Kedua, level bilas akhir. Level rendah menghemat pelembut karena konsentrasinya tercapai dengan dosis lebih kecil. Untuk penetral, bagian yang menetralkan sisa alkali bergantung pada massa alkali yang terbawa, bukan pada level air; hanya bagian yang mengatur pH air bilas yang ikut volume. Level tinggi memberi pengenceran tambahan bagi sisa yang belum terbuang. Pilihan yang masuk akal bergantung pada seberapa bersih bilasan sebelumnya, dan itu dapat diukur. Ketiga, target pH kain akhir 6–7 di modul dan 5,5–6,5 di pedoman pemasok. Rak ini memakai 6–7 sesuai modul, dengan catatan bahwa angka yang lebih rendah dipakai sebagian pemasok.

    Carry-over dan pengenceran bertahap

    Setiap kali bak dibuang, linen tidak ikut kering. Serat dan ruang di antara benang menahan larutan dari bak itu, dan larutan itu terbawa ke bak berikutnya. Inilah carry-over. Katun yang jenuh menahan sekitar 2,5 kg air per kilogram katun, sedangkan poliester sekitar 0,8 kg per kilogram. Setelah ekstraksi, kadar air sisa turun ke sekitar 50–70% tergantung mesin dan kain, seperti dibahas di bab washer-extractor.

    Bila larutan yang tertahan bercampur merata dengan air baru, setiap bilasan menyisakan sebagian kimia menurut faktor sisa:

    f=RR+Wf = \frac{R}{R + W}

    dengan RR air yang tertahan di linen dalam L/kg dan WW air baru yang ditambahkan per kilogram linen. Setelah nn bilasan dengan faktor sisa yang sama, konsentrasi sisa adalah Cn=C0fnC_n = C_0 f^n. Model ini diturunkan dari neraca massa dengan aritmetika rasio, dan dicatat di peta sumber.

    Model ini punya dua batas yang menentukan cara membacanya. Pertama, pencampuran tidak pernah sempurna. Bahan di dalam serat keluar melalui difusi, sehingga bilasan terlalu singkat mengencerkan lebih sedikit daripada hitungan. Karena itu, bilasan tetap diberi waktu gerak beberapa menit dan tidak dipangkas menjadi isi lalu buang. Kedua, bahan yang terikat pada serat, seperti pelembut kationik atau sabun kapur, tidak mengikuti model pengenceran. Bahan seperti ini dicegah terbentuk, bukan dibilas.

    Dari rumus itu terlihat dua cara menurunkan sisa kimia: menambah jumlah bilasan, atau menurunkan RR sebelum bilasan. Keduanya memakai air dan waktu dengan cara berbeda, dan itulah inti perdebatan peras antara.

    Peras antara: apa yang dipotong, dan apa risikonya

    Peras antara memutar drum pada putaran sedang tanpa air setelah bak dibuang. Tujuannya menurunkan RR dari tingkat jenuh ke tingkat terperas sebelum bilasan pertama. Dengan RR yang lebih kecil, faktor sisa ff bilasan pertama jauh lebih kecil, dan satu bilasan dapat dihemat untuk hasil pengenceran yang serupa. Contoh kerja pertama menghitung besarnya.

    Keberatan pedoman pemasok adalah bahwa peras antara menekan kotoran kembali ke serat dan menambah noda. Keberatan ini masuk akal secara mekanisme bila larutan yang diperas masih sangat kotor: saat larutan mengalir keluar menembus kain dengan gaya sentrifugal, partikel dapat tersaring oleh kain. Sumber itu tidak menyertakan data pengujian, sehingga besar pengaruhnya belum diketahui.

    Kedua pandangan dapat diuji di ruang cuci sendiri. Satu jalan tengah adalah menempatkan peras antara setelah bilasan pertama, ketika larutan sudah jauh lebih encer, bukan langsung setelah cuci utama yang kotor. Susunan ini adalah rekomendasi editor dengan keyakinan sedang, dan diuji dengan membandingkan keputihan dan residu linen uji dari kedua susunan, seperti dibahas di bab konsistensi operasi.

    Dua catatan tambahan. Peras antara menambah waktu siklus beberapa menit dan menambah satu kali putaran berbeban yang dapat memicu ketidakseimbangan. Pada beban yang sangat menyerap, seperti kain pel dan alas, peras antara paling bermanfaat karena RR jenuhnya paling besar.

    Bilasan bertahap dan kejut termal

    Modul menurunkan suhu bilasan secara bertahap, misalnya 40–50 °C pada bilasan pertama, untuk mencegah kejut termal. Bab tekstil sudah menetapkan pembagiannya: pendinginan cepat dari suhu tinggi menimbulkan lipatan permanen pada poliester dan campuran poliester, karena serat itu dibentuk ulang di atas suhu transisi kacanya. Klaim bahwa kejut termal membuat katun rapuh 30–50% tidak ditemukan rujukannya dan tidak dipakai.

    Bilasan hangat punya alasan kedua yang tidak berkaitan dengan kain: bahan kimia laundry mudah larut dan terbuang pada air 110–140 °F, atau sekitar 43–60 °C. Bilasan pertama yang hangat membantu membuang alkali dan surfaktan; bilasan berikutnya dapat lebih dingin. Pedoman pemasok juga memperingatkan bahwa suhu tinggi pada bilasan setelah pemutih klorin mengaktifkan kembali pemutihan, dan tanpa pH yang tepat klorin menjadi tidak stabil. Karena itu, bilasan setelah klorin tidak dibuat panas.

    Memangkas tahap memindahkan beban

    Setiap tahap yang dipangkas tidak menghilangkan pekerjaannya; pekerjaan itu pindah ke tahap berikutnya.

    Tanpa pembilasan awal atau pracuci. Kotoran larut air dan protein masuk ke cuci utama. Alkali terpakai lebih cepat, pH turun di tengah tahap, dan protein yang bertemu panas dan alkali kuat lebih sulit lepas, seperti dibahas di bab enzim dan bab kotoran dan noda.

    Satu bilasan dipangkas. Sisa alkali di bilas akhir naik. Penetral yang dibutuhkan bertambah, dan bila penetral tidak ditambah, pH kain akhir naik. Contoh kerja kedua menghitungnya.

    Waktu bilasan dipangkas. Pengenceran lebih kecil daripada hitungan karena difusi belum selesai.

    Peras akhir dipangkas. Air pindah ke pengering, seperti dihitung di bab washer-extractor.

    Program juga menentukan limbah. Alkali, surfaktan, dan penetral yang tidak dipakai efektif akhirnya dibuang ke saluran, dan susunan bilasan menentukan berapa banyak air yang membawanya. Bab limbah cair membahas akibatnya.

    Penempatan kimia dalam urutan

    Bab kimia pembersih, bab enzim, dan bab oksidator menetapkan kondisi kerja tiap kelompok kimia. Urutan program menempatkannya sebagai berikut.

    1. Enzim di pracuci atau awal cuci utama, sebelum suhu dan pH melewati jendela kerjanya, dan tidak bersamaan dengan pemutih klorin.
    2. Alkali, surfaktan, dan emulsifier di cuci utama pada level rendah, dengan suhu sesuai kategori linen.
    3. Pemutih di tahap pemutih atau akhir cuci utama, dengan pH diukur saat pemutih bekerja. Klorin hanya untuk linen putih yang tahan klorin.
    4. Bilasan membuang sisa alkali dan pemutih. Antiklor dipakai bila klorin berisiko tersisa.
    5. Penetral dan pelembut di bilas akhir, setelah klorin dipastikan terbilas. Pelembut membutuhkan waktu gerak beberapa menit untuk menempel; pedoman pemasok menyebut 4–5 menit.

    Satu aturan praktik dari catatan pemilik tetap berlaku: satu pemutih, satu pelembut, dan satu emulsifier per proses, agar sebab dan akibat setiap bahan dapat ditelusuri.

    Contoh kerja: sisa alkali dengan dan tanpa peras antara

    Cuci utama berakhir dengan konsentrasi natrium hidroksida 1,20 g/L. Linen katun dianggap menahan R=2,5R = 2{,}5 L/kg setelah pembuangan biasa, yaitu angka jenuh dari sumber, dan R=1,0R = 1{,}0 L/kg setelah peras antara, yaitu anggapan ilustrasi karena putaran sedang meninggalkan air lebih banyak daripada peras akhir. Setiap bilasan menambahkan W=3,0W = 3{,}0 L/kg air baru. Anggap pencampuran sempurna dan tidak ada alkali yang terikat.

    Faktor sisa bilasan dari pembuangan biasa:

    fb=2,52,5+3,0≈0,455f_{\text{b}} = \frac{2{,}5}{2{,}5 + 3{,}0} \approx 0{,}455

    Faktor sisa bilasan pertama setelah peras antara:

    fp=1,01,0+3,0=0,25f_{\text{p}} = \frac{1{,}0}{1{,}0 + 3{,}0} = 0{,}25

    Susunan A, tiga bilasan tanpa peras antara: C3=1,20×0,4553≈0,113C_3 = 1{,}20 \times 0{,}455^3 \approx 0{,}113 g/L.

    Susunan B, peras antara lalu dua bilasan: C2=1,20×0,25×0,455≈0,136C_2 = 1{,}20 \times 0{,}25 \times 0{,}455 \approx 0{,}136 g/L.

    Susunan C, peras antara lalu tiga bilasan: C3=1,20×0,25×0,4552≈0,062C_3 = 1{,}20 \times 0{,}25 \times 0{,}455^2 \approx 0{,}062 g/L.

    Susunan B menyisakan sekitar 20% lebih banyak daripada susunan A, tetapi dengan satu bilasan lebih sedikit; keduanya jauh lebih dekat satu sama lain daripada ke dua bilasan tanpa peras antara. Hasil ini sejalan dengan catatan pabrikan bahwa tiga bilasan, atau dua bilasan ditambah peras antara, sama-sama umum. Angka nyatanya lebih tinggi karena pencampuran tidak sempurna, sehingga model ini dipakai untuk membandingkan susunan, bukan untuk meramal pH akhir. pH akhir tetap diukur seperti di bab pH dan pengukuran.

    Contoh kerja: kebutuhan penetral dari sisa alkali

    Beban 50 kg. Sisa natrium hidroksida yang masuk bilas akhir dihitung dari konsentrasi bilasan terakhir dan air yang tertahan, R=2,5R = 2{,}5 L/kg.

    Susunan A: 0,113×2,5×50≈140{,}113 \times 2{,}5 \times 50 \approx 14 g NaOH. Susunan B: 0,136×2,5×50≈170{,}136 \times 2{,}5 \times 50 \approx 17 g NaOH. Bila satu bilasan dipangkas menjadi dua bilasan tanpa peras antara, konsentrasinya 1,20×0,4552≈0,2481{,}20 \times 0{,}455^2 \approx 0{,}248 g/L dan sisa yang masuk bilas akhir sekitar 0,248×2,5×50≈310{,}248 \times 2{,}5 \times 50 \approx 31 g NaOH.

    Dengan stoikiometri asam asetat, 60 g asam per 40 g NaOH, kebutuhan asam minimum secara stoikiometri untuk menetralkan sisa itu sekitar 21 g pada susunan A, 26 g pada susunan B, dan 47 g pada susunan yang dipangkas. Memangkas satu bilasan menambah kebutuhan penetral lebih dari dua kali lipat. Angka ini adalah batas bawah: asam asetat adalah asam lemah, sehingga titik ekuivalennya berada di atas pH 7 dan mencapai pH 6–7 memerlukan kelebihan asam; karbonat dan penyangga lain juga memakan asam; dan penetral komersial belum tentu asam asetat. Bila dosis penetral tidak diubah, pH kain akhir naik, dan gejalanya dapat berupa kain kaku, menguning, atau keluhan iritasi, seperti dibahas di bab oksidator dan bab pH dan pengukuran.

    Contoh kerja: anggaran air dan waktu

    Beban 50 kg dengan W=3,0W = 3{,}0 L/kg per bilasan. Satu bilasan memakai 3,0×50=1503{,}0 \times 50 = 150 L air. Bila pengisian, gerak 3 menit, dan pembuangan memakan sekitar 6 menit, sedangkan peras antara memakan sekitar 3 menit termasuk percepatan dan perlambatan, maka:

    • Susunan A (tiga bilasan): 450 L air bilasan, sekitar 18 menit.
    • Susunan B (peras antara dan dua bilasan): 300 L air bilasan, sekitar 15 menit.

    Susunan B menghemat 150 L dan sekitar 3 menit per beban dengan sisa alkali sekitar 20% di atas susunan A. Penghematan ini baru bernilai bila keputihan dan residu linen uji tidak memburuk. Bila uji menunjukkan noda bertambah, peras antara dipindah ke setelah bilasan pertama atau susunan kembali ke tiga bilasan. Angka waktu di sini ilustrasi dan diganti dengan waktu nyata dari mesin yang dipakai.

    Contoh kerja lapangan

    Contoh di bawah memakai model faktor sisa bab ini dengan pencampuran sempurna; angka keadaan yang bukan dari sumber ditandai angka latihan, dan hitungannya dicatat di peta sumber pengembangan. Seperti pada contoh kerja lama, model dipakai untuk membandingkan susunan, dan hasil nyata tetap diukur.

    Contoh 1: klorin sisa sebelum penetral di laundry rumah sakit. Program linen putih sebuah rumah sakit memakai pemutih klorin dengan klorin aktif 150 mg/L di bak pemutih (angka latihan), lalu dua bilasan yang tidak panas dengan R=2,5R = 2{,}5 L/kg dan W=3,0W = 3{,}0 L/kg.

    C2=150×(2,52,5+3,0)2≈150×0,4552≈31 mg/LC_2 = 150 \times \left(\frac{2{,}5}{2{,}5 + 3{,}0}\right)^2 \approx 150 \times 0{,}455^2 \approx 31\ \text{mg/L}

    Bahkan dengan pencampuran sempurna, dua bilasan masih menyisakan sekitar 31 mg/L, dan bilasan ketiga sekitar 14 mg/L. Karena itu, penetral tidak masuk sebelum kertas uji pada bilasan terakhir tidak mendeteksi klorin; bila masih terdeteksi, antiklor dipakai. Penambahan bilasan atau antiklor diperlakukan sebagai perubahan program terkendali.

    Contoh 2: seragam staf poliester di laundry hotel. Seragam staf hotel berbahan poliester menahan sekitar R=0,8R = 0{,}8 L/kg. Dengan C0=1,20C_0 = 1{,}20 g/L dan W=3,0W = 3{,}0 L/kg seperti contoh kerja pertama:

    f=0,80,8+3,0≈0,211,C2=1,20×0,2112≈0,053 g/Lf = \frac{0{,}8}{0{,}8 + 3{,}0} \approx 0{,}211, \qquad C_2 = 1{,}20 \times 0{,}211^2 \approx 0{,}053\ \text{g/L}

    Dua bilasan pada poliester menyisakan kurang dari separuh sisa tiga bilasan pada katun (0,113 g/L). Program seragam dapat diuji dengan dua bilasan, asalkan bilasan pertama tetap hangat dan suhu turun bertahap untuk mencegah lipatan permanen, dan pH akhir diukur seperti di bab pH dan pengukuran.

    Contoh 3: kain pel dari tata graha hotel. Kain pel jenuh dianggap menahan R=4,0R = 4{,}0 L/kg dan, setelah peras antara, R=1,0R = 1{,}0 L/kg seperti contoh kerja pertama (keduanya angka latihan).

    f=4,04,0+3,0≈0,571f = \frac{4{,}0}{4{,}0 + 3{,}0} \approx 0{,}571

    Tiga bilasan tanpa peras antara menyisakan 1,20×0,5713≈0,2241{,}20 \times 0{,}571^3 \approx 0{,}224 g/L; peras antara lalu dua bilasan menyisakan 1,20×0,25×0,571≈0,1711{,}20 \times 0{,}25 \times 0{,}571 \approx 0{,}171 g/L, sekitar 23% lebih rendah dengan satu bilasan lebih sedikit. Pada katun, susunan yang sama justru sekitar 20% lebih tinggi. Hasil ini sejalan dengan pengecualian kain pel pada pedoman pemasok dan dengan catatan bahwa peras antara paling bermanfaat pada beban yang RR jenuhnya besar.

    Salah tafsir yang sering muncul

    Salah tafsir pertama adalah menganggap jumlah bilasan menentukan kebersihan bilasan. Yang menentukan adalah hasil kali faktor sisa, yang bergantung pada air tertahan dan air baru.

    Salah tafsir kedua adalah menganggap peras antara selalu benar atau selalu salah. Manfaat dan risikonya bergantung pada letak dan jenis beban, dan dapat diuji.

    Salah tafsir ketiga adalah memangkas waktu bilasan tanpa mengurangi jumlahnya. Pengenceran bergantung pada difusi dari dalam serat.

    Salah tafsir keempat adalah menaikkan dosis penetral untuk menutup pH akhir yang tinggi tanpa memeriksa susunan bilasan.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 8 · Kimia memberi dasar konsentrasi dan pengenceran. Bab 1 · Sistem, Diagram & Diagnosis memberi cara berpikir batas sistem dan umpan balik yang dipakai untuk melihat program sebagai rangkaian. Di rak Laundry, bab ini bersandar pada bab kimia pembersih, enzim, oksidator, pH dan pengukuran, dan washer-extractor, serta menjadi dasar bab sortir dan penskalaan dosis, dispenser, limbah cair, dan katalog gejala.

    Latihan dan pembahasan

    Tuliskan rumus, satuan, dan asumsi yang dipakai. Angka dalam soal adalah data latihan.

    1. Linen poliester-katun menahan R=1,6R = 1{,}6 L/kg setelah pembuangan. Setiap bilasan menambah W=3,0W = 3{,}0 L/kg. Hitung faktor pengenceran dan konsentrasi sisa setelah dua bilasan bila C0=1,0C_0 = 1{,}0 g/L.
    2. Dengan data contoh kerja pertama, berapa bilasan tanpa peras antara yang diperlukan agar konsentrasi sisa di bawah 0,05 g/L?
    3. Ruang cuci ingin menghapus pembilasan awal untuk menghemat waktu pada linen restoran yang berlumur saus dan darah. Jelaskan pekerjaan apa yang pindah ke cuci utama dan data apa yang dipantau bila uji coba dilakukan.
    4. Dua ruang cuci memakai program yang sama, tetapi pH kain akhir di ruang cuci kedua selalu lebih tinggi. Ruang cuci kedua memakai beban handuk tebal, sedangkan yang pertama beban seprai. Jelaskan dengan konsep carry-over.
    5. Seorang supervisor ingin memasang peras antara langsung setelah cuci utama pada linen restoran yang sangat kotor. Sampaikan risiko yang perlu diuji dan susunan alternatifnya.
    6. Program lama memakai pemutih klorin, satu bilasan, lalu bilas akhir dengan penetral. Nilai susunan ini dari sisi keselamatan dan mutu.

    Kunci jawaban beralasan

    1. f=1,6/(1,6+3,0)≈0,348f = 1{,}6/(1{,}6 + 3{,}0) \approx 0{,}348; C2=1,0×0,3482≈0,121C_2 = 1{,}0 \times 0{,}348^2 \approx 0{,}121 g/L. Poliester-katun menahan lebih sedikit air daripada katun, sehingga faktor sisa per bilasan lebih kecil dan pembilasan lebih efektif.
    2. Perlu 1,20×0,455n<0,051{,}20 \times 0{,}455^n < 0{,}05, sehingga 0,455n<0,04170{,}455^n < 0{,}0417 dan n>ln⁡0,0417/ln⁡0,455≈4,03n > \ln 0{,}0417/\ln 0{,}455 \approx 4{,}03. Empat bilasan memberi 1,20×0,4554≈0,0511{,}20 \times 0{,}455^4 \approx 0{,}051 g/L, sedikit di atas batas, sehingga diperlukan lima bilasan, atau empat bilasan dengan satu peras antara (1,20×0,25×0,4553≈0,0281{,}20 \times 0{,}25 \times 0{,}455^3 \approx 0{,}028 g/L). Hasil empat bilasan ini bergantung pada pembulatan: dengan f=0,45f = 0{,}45, empat bilasan memberi 0,049 g/L, sedikit di bawah batas. Hasil yang berada di tepi batas diputuskan dengan pengukuran, karena pencampuran nyata juga tidak sempurna.
    3. Kotoran larut air dan protein darah masuk ke cuci utama. Alkali terpakai lebih cepat, dan protein yang langsung bertemu panas dan alkali kuat dapat mengeras dan menempel. Data yang dipantau: pH dan alkalinitas cuci utama di awal dan akhir tahap, noda protein yang tersisa pada linen uji, dan angka cuci ulang, dibandingkan dengan program lama pada beban sejenis.
    4. Handuk tebal menahan lebih banyak air per kilogram, sehingga RR lebih besar dan faktor sisa per bilasan lebih mendekati 1. Sisa alkali yang masuk bilas akhir lebih banyak, dan penetral yang sama tidak cukup. Hipotesis pesaingnya adalah perbedaan air: air baku ruang cuci kedua mungkin lebih basa atau alkalinitasnya lebih tinggi. Pembeda: ukur pH dan alkalinitas air masuk di kedua tempat; lalu, di satu ruang cuci dengan air yang sama dan faktor pengisian yang sama, ukur pH bilasan terakhir sebelum penetral pada beban handuk dan beban seprai. Bila handuk lebih tinggi pada air yang sama, carry-over terbukti, dan program handuk memerlukan bilasan atau peras antara tambahan, bukan hanya penetral lebih banyak.
    5. Risikonya kotoran dalam larutan pekat tersaring kembali ke kain saat diperas, menurut keberatan pedoman pemasok. Uji: bandingkan keputihan dan noda pada linen uji antara susunan peras antara setelah cuci utama dan setelah bilasan pertama. Alternatif: satu bilasan level tinggi lebih dahulu, lalu peras antara, lalu bilasan berikutnya.
    6. Satu bilasan setelah klorin berisiko meninggalkan klorin ketika penetral asam masuk, sehingga gas klorin dapat terbentuk, dan sisa klorin juga menguningkan dan melemahkan serat. Dengan model bab ini (R=2,5R = 2{,}5, W=3,0W = 3{,}0), satu bilasan menyisakan sekitar 45% konsentrasi bak pemutih, dan dua bilasan pun masih sekitar 21%. Susunan diperbaiki dengan sekurang-kurangnya dua bilasan yang tidak panas, pemeriksaan klorin sisa dengan kertas uji sebelum penetral, dan antiklor bila klorin masih terdeteksi. Perubahan ini dicatat sebagai versi program baru.

    Referensi

    Sumber luar

    • Laundry Cycle Functionality: a guide to the operations in the laundry cycle (pemasok kimia)uschemical.com
    • Sizing and planning a laundry (pabrikan mesin)milnor.com
    • Moisture retention and extraction (pemasok)edrocorp.com

    Bab terkait

    Uji diri · 3 soal

    Cek pemahaman sebelum berpindah bab

    Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.

    0/3dinilai
    1

    Linen poliester-katun menahan R=1,6R = 1{,}6 L/kg setelah pembuangan. Setiap bilasan menambah W=3,0W = 3{,}0 L/kg. Hitung faktor pengenceran dan konsentrasi sisa setelah dua bilasan bila C0=1,0C_0 = 1{,}0 g/L.

    2

    Dengan data contoh kerja pertama, berapa bilasan tanpa peras antara yang diperlukan agar konsentrasi sisa di bawah 0,05 g/L?

    3

    Ruang cuci ingin menghapus pembilasan awal untuk menghemat waktu pada linen restoran yang berlumur saus dan darah. Jelaskan pekerjaan apa yang pindah ke cuci utama dan data apa yang dipantau bila uji coba dilakukan.

    Progres penilaian mandiri0%

    Bab terdekat

    BerikutnyaSortir, desain program, dan penskalaan dosis

    Urutan baca menurut rak: Laundry · Bab 12.

    SebelumnyaWasher-extractor: muatan, level air, aksi mekanik, dan ekstraksi

    Urutan baca menurut rak: Laundry · Bab 10.

    Satu disiplinLaundry sebagai sistem air, energi, kimia, tekstil, dan manusia

    Bab lain dalam Sistem Laundry.