Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Kelistrikan & Kendali · Bab 89Kuantitatif

    Penguat operasional dan komparator di papan kendali: penguat pembalik dan tak pembalik, pengikut tegangan, penguat diferensial, komparator dan histeresis, pengondisian sinyal sensor, dan diagnosis

    Relai pemanas tangki air panas sebuah laundry mulai berdetak cepat setiap kali suhu air mendekati setelannya, dan kontaknya sudah dua kali diganti. Penyebabnya resistor umpan balik positif di komparator papan termostat yang sambungan solder kakinya retak, sehingga histeresis hilang dan derau kecil pada sinyal sensor cukup untuk membalik keluaran berulang kali. Bab ini menjelaskan penguat operasional di papan kendali: dua aturan rangkaian berumpan balik negatif, penguat tak pembalik, pengikut tegangan, penguat pembalik, penguat diferensial untuk resistor shunt, komparator dan histeresis, batas nyata seperti rel catu, saturasi, dan arus keluaran, pengondisian sinyal termistor dan 4 sampai 20 mA, serta cara mengukur tegangan kaki untuk menentukan apakah penguat, umpan balik, atau masukannya yang rusak.

    26 menit

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Tangki air panas 500 liter di sebuah laundry dikendalikan papan termostat elektronik dengan sensor termistor dan relai pemanas. Beberapa minggu terakhir, relai itu berdetak cepat, beberapa kali per detik, setiap kali suhu air mendekati 60 °C. Kontak relai sudah dua kali hangus dan diganti, dan gejalanya tetap. Di luar rentang itu, misalnya saat air masih dingin pagi hari, papan bekerja normal.

    Papan itu memakai komparator: tegangan dari pembagi termistor dibandingkan dengan tegangan acuan, dan keluarannya menggerakkan transistor relai. Sebuah resistor bernilai besar dari keluaran ke masukan komparator memberi histeresis, yaitu jarak antara titik mati dan titik nyala. Sambungan solder di salah satu kaki resistor itu retak. Tanpa histeresis, derau beberapa milivolt pada kabel sensor cukup untuk membalik keluaran setiap kali tegangan sensor berada di sekitar acuan. Bab ini menjelaskan penguat operasional dan komparator dari sisi teknisi papan, termasuk perhitungan yang menunjukkan berapa milivolt yang memisahkan relai yang tenang dari relai yang berdetak.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas penguat operasional dan komparator di papan kendali peralatan: rangkaian dasar, histeresis, batas nyata, pengondisian sinyal sensor, dan diagnosis dari tegangan kaki. Termistor dan perhitungan resistansinya ada di Bab 26 · Fisika; masukan analog dan pengubah analog ke digital di Bab 2 · Komputasional; sensor proses dan loop 4 sampai 20 mA di Bab 60; resistor dan kapasitor di Bab 83; dioda pelindung dan zener acuan di Bab 84; transistor penggerak dan resistor penarik di Bab 85; rel catu daya di Bab 86; osiloskop di Bab 87; solder dan sambungan retak di Bab 88; diferensial termostat dan kendali ON dan OFF di tingkat proses di Bab 58 dan Bab 62; kalibrasi instrumen di Bab 61; dan multimeter di Bab 15.

    Sumbernya adalah narasi Teknik Elektro dan Elektronika, terutama buku seni elektronika, buku elektronika praktis, buku panduan elektronika, manual perbaikan elektronik, buku analisis rangkaian, dan bahan ajar dasar elektronika berbahasa Indonesia, ditambah pengetahuan umum yang ditandai di peta sumber. Data penguat tertentu diambil dari lembar data pabrik; angka contoh adalah angka latihan.

    Penguat operasional

    Penguat operasional, sering disebut op-amp, punya dua masukan, yaitu masukan tak pembalik (+) dan masukan pembalik (−), satu keluaran, dan dua kaki catu. Buku teknik elektro ringkas dalam narasi menyebut op-amp sebagai sumber tegangan yang dikendalikan tegangan, dan buku seni elektronika mencatat bahwa sambungan catu daya biasanya dianggap ada dan tidak digambar pada skema op-amp dan perangkat logika. Di papan, kaki catu tetap harus diperiksa lebih dulu.

    Keluaran op-amp tanpa umpan balik adalah selisih kedua masukan dikalikan penguatan yang sangat besar. Buku elektronika praktis dalam narasi memberi contoh: bila keluaran berubah −2 V untuk perubahan masukan 1 mV, penguatannya −2.000. Penguatan sebesar itu tidak dipakai langsung untuk memperkuat sinyal, karena selisih masukan sekecil apa pun sudah membuat keluaran menempel ke rel catu. Penguatan itu dikendalikan dengan umpan balik.

    Dua aturan dengan umpan balik negatif

    Buku elektronika praktis dalam narasi menjelaskan bahwa umpan balik adalah cara memakai penguatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan bahwa umpan balik negatif memerlukan pengurangan sinyal di masukan. Bila sebagian keluaran dikembalikan ke masukan pembalik, berlaku dua aturan kerja (nilai literatur umum, dengan catatan sumber):

    1. Kedua masukan hampir sama tegangannya. Buku analisis rangkaian dalam narasi mencatat bahwa untuk op-amp ideal, beda potensial di antara kedua masukan praktis nol.
    2. Hampir tidak ada arus masuk ke kedua masukan. Buku panduan elektronika mencatat bahwa idealnya impedansi masukan op-amp tak terhingga, dan buku seni elektronika menyebut bahwa pada banyak kasus jalan termudah adalah memakai op-amp dengan arus masukan yang dapat diabaikan.

    Kedua aturan itu berlaku hanya selama keluaran belum menyentuh rel catu. Untuk diagnosis, aturan pertama yang paling berguna: pada penguat berumpan balik negatif yang sehat, tegangan kaki + dan kaki − hampir sama.

    Penguat tak pembalik dan pengikut tegangan

    Sinyal masuk ke kaki +, dan keluaran dikembalikan ke kaki − lewat pembagi RfR_f dan RgR_g ke 0 V:

    G=1+RfRgG = 1 + \frac{R_f}{R_g}

    Buku panduan elektronika dalam narasi mencatat bahwa aturan yang sama berlaku untuk penguat tak pembalik, dan buku elektronika praktis memberi contoh bahwa dengan penguatan 10, keluaran seharusnya 4,4 V. Penguat ini tidak membalik tanda dan impedansi masukannya sangat tinggi, sehingga cocok untuk sinyal sensor yang lemah.

    Pengikut tegangan adalah penguat tak pembalik dengan penguatan satu. Buku seni elektronika menjelaskan bahwa rangkaian itu adalah penguat tak pembalik dengan RgR_g tak terhingga dan RfR_f nol, dan buku panduan elektronika menunjukkan op-amp yang disambung sebagai pengikut tegangan. Gunanya menyangga titik berimpedansi tinggi, misalnya pembagi termistor, supaya tidak terbebani masukan pengubah analog ke digital.

    Penguat pembalik

    Sinyal masuk ke kaki − lewat RinR_{in}, kaki + di acuan, dan RfR_f menghubungkan keluaran ke kaki −:

    G=−RfRinG = -\frac{R_f}{R_{in}}

    Buku panduan elektronika dalam narasi mencatat bahwa penguatan tegangan kini mudah ditentukan dari perbandingan RfR_f terhadap RiR_i, dan buku seni elektronika menyebut bahwa rangkaian penguat pembalik berbeda dari tak pembalik dan harus dianalisis tersendiri. Tanda minus berarti keluaran bergerak ke arah berlawanan. Pada papan bercatu tunggal 0 sampai 5 V, keluaran tidak dapat menjadi negatif; buku seni elektronika mencatat bahwa untuk masukan negatif op-amp masuk ke saturasi negatif dan keluarannya berada di tanah. Karena itu, penguat pembalik di papan bercatu tunggal biasanya memakai acuan di tengah rentang, misalnya 2,5 V, di kaki +.

    Penguat diferensial dan penguat instrumen

    Penguat diferensial memperkuat selisih dua masukan dan menolak tegangan yang sama pada keduanya. Buku elektronika praktis dalam narasi mencatat bahwa pada rangkaian itu penguatan mode bersama praktis nol. Penerapan di papan kendali (nilai literatur umum):

    1. Resistor shunt arus: tegangan kecil di resistor bernilai rendah yang dialiri arus motor atau pemanas diperkuat menjadi sinyal untuk mikrokontroler, seperti di Contoh 5.
    2. Sensor jembatan, misalnya sensor tekanan dan sel beban, yang memberi selisih beberapa milivolt di atas tegangan bersama yang besar.

    Untuk sinyal yang sangat kecil dipakai penguat instrumen, yang impedansi masukannya tinggi di kedua sisi. Buku panduan elektronika menyebut penguat instrumen dua op-amp sebagai salah satu yang paling populer. Resistor penguat diferensial harus berpasangan dan teliti; selisih satu persen di antara resistor sudah merusak penolakan mode bersama.

    Komparator

    Komparator membandingkan dua tegangan dan memberi keluaran tinggi atau rendah. Buku panduan elektronika dalam narasi mencatat bahwa loop terbuka sangat cocok untuk komparator karena penguatannya yang tinggi, dan buku elektronika praktis memberi contoh masukan negatif komparator yang diatur dengan pembagi tegangan. Bila tegangan di kaki + lebih tinggi daripada di kaki −, keluaran tinggi; bila lebih rendah, keluaran rendah (nilai literatur umum).

    Di papan kendali, komparator dipakai untuk termostat sederhana, pendeteksi tegangan turun, pendeteksi level dari elektrode, dan pembatas arus. Buku proyek elektronika dalam narasi menjelaskan bahwa pada regulator, pembanding mengurangkan tegangan keluaran yang dicuplik dari tegangan acuan, dan buku seni elektronika menyebut bahwa op-amp dapat memberi penguatan untuk regulator tegangan berumpan balik. Komparator khusus sering berkeluaran kolektor terbuka, sehingga memerlukan resistor penarik ke atas seperti di Bab 85.

    Histeresis

    Tegangan sensor yang naik pelan melewati acuan tidak pernah mulus: ada derau dari kabel, riak catu, dan gangguan dari relai itu sendiri. Tanpa histeresis, keluaran membalik setiap kali derau melintasi acuan. Buku elektronika praktis dalam narasi memberi contoh rangkaian yang menyala pada 5 V dan mati pada 3 V, dan menyebut celah di antara keduanya sebagai histeresis. Buku panduan elektronika mencatat bahwa umpan balik positif pada op-amp dapat menerapkan teknik histeresis, dan bahwa umpan balik positif pada rangkaian itu disengaja. Buku seni elektronika menyebut prosedur rancangannya mudah untuk pemicu Schmitt dengan histeresis kecil.

    Untuk komparator tak pembalik dengan resistor masukan R1R_1 dan resistor umpan balik positif RfR_f dari keluaran ke kaki +, lebar histeresisnya kira-kira (nilai literatur umum):

    ΔV≈Vayun R1Rf\Delta V \approx V_{\text{ayun}} \, \frac{R_1}{R_f}

    dengan VayunV_{\text{ayun}} selisih tegangan keluaran tinggi dan rendah. Histeresis di papan adalah versi rangkaian dari diferensial termostat di tingkat proses, seperti di Bab 58 dan Bab 62. Bila resistor umpan balik itu putus, seperti di kasus pembuka, histeresisnya hilang tanpa ada komponen lain yang tampak rusak.

    Batas nyata op-amp

    Op-amp nyata punya batas yang sering menjelaskan gejala di lapangan (nilai literatur umum, dengan catatan sumber):

    1. Rel catu: keluaran tidak dapat melampaui tegangan catu, dan banyak op-amp tidak dapat mendekati rel lebih dari satu atau dua volt. Buku seni elektronika menunjukkan ayunan maksimum terhadap rel yang bergantung pada arus beban untuk op-amp keluaran rel ke rel, dan mencatat bahwa sebagian op-amp memang dirancang agar masukan dan keluarannya dapat mencapai rel negatif.
    2. Arus keluaran terbatas: bahan ajar dasar elektronika dalam narasi mencatat bahwa karena arus keluaran op-amp sangat terbatas, sering diperlukan rangkaian untuk memperbesarnya, misalnya transistor penggerak relai seperti di Bab 85.
    3. Galat ofset dan penguatan: buku panduan elektronika mencatat bahwa galat penguatan dan ofset adalah sumber ketidaktelitian utama, sehingga sinyal sensor dikalibrasi seperti di Bab 61.
    4. Lebar pita: buku elektronika praktis mencatat bahwa penguatan diperoleh dengan mengorbankan lebar pita.
    5. Masukan di luar rentang: tegangan masukan di atas rel catu dapat merusak op-amp, sehingga masukan dari luar papan dilindungi resistor seri dan dioda penjepit seperti di Bab 84.

    Pengondisian sinyal sensor di papan

    Jalur sinyal sensor yang lazim di papan kendali (nilai literatur umum):

    1. Termistor: pembagi tegangan dengan resistor tetap, seperti di Bab 26 · Fisika dan Bab 2 · Komputasional, lalu penyaring RC, pengikut tegangan bila impedansinya tinggi, dan masukan pengubah analog ke digital atau komparator. Buku elektronika praktis mencatat bahwa pada penyaring RC penguatannya selalu kurang dari satu.
    2. 4 sampai 20 mA: resistor ukur mengubah arus menjadi tegangan, misalnya 165 Ω menjadi 0,66 sampai 3,3 V, seperti di Bab 60.
    3. Sensor jembatan: penguat instrumen dan penyaring.
    4. Resistor shunt: penguat diferensial, seperti di Contoh 5.

    Sensor yang putus atau hubung singkat membuat tegangan masuk menempel ke salah satu rel; papan yang baik membacanya sebagai galat, seperti di Bab 2 · Komputasional.

    Mengukur dan mendiagnosis

    Manual perbaikan elektronik dalam narasi memberi istilah yang dipakai untuk penguat operasional, dan pengujiannya di papan dilakukan dengan multimeter pada papan bertegangan rendah yang menyala, dengan acuan di 0 V papan, seperti di Bab 15. Urutannya (nilai literatur umum):

    1. Catu: tegangan di kedua kaki catu op-amp sesuai, seperti di Bab 86.
    2. Penguat linear: kaki + dan kaki − hampir sama. Bila keduanya berbeda jauh dan keluaran menempel ke rel, umpan baliknya putus, beban keluaran terlalu berat, masukannya di luar rentang, atau op-amp rusak.
    3. Hitung keluaran yang seharusnya dari tegangan masukan dan resistor, lalu bandingkan dengan bacaan.
    4. Komparator: keluaran mengikuti tanda selisih kaki + dan kaki −. Keluaran yang tidak mengikuti tanda itu berarti komparator rusak, resistor penarik putus, atau keluaran dibebani dari luar.
    5. Derau dan histeresis: bila keluaran berganti cepat di sekitar ambang, sinyal dan keluaran dilihat dengan osiloskop, seperti di Bab 87, dan resistor umpan balik positif serta sambungan solder di sekitarnya diperiksa, seperti di Bab 88.

    Contoh kerja

    Contoh 1: pembagi termistor. Termistor NTC 10 kΩ pada 25 °C di sisi atas dan resistor 10 kΩ di sisi bawah dari catu 5 V memberi 5×10/(10+10)=2,505 \times 10/(10 + 10) = 2{,}50 V pada 25 °C. Dengan resistansi 2,98 kΩ pada 55 °C dan 2,49 kΩ pada 60 °C (angka latihan dari perhitungan B di Bab 26 · Fisika), tegangannya 5×10/12,98=3,855 \times 10/12{,}98 = 3{,}85 V dan 5×10/12,49=4,005 \times 10/12{,}49 = 4{,}00 V, sehingga kemiringannya di sekitar 60 °C kira-kira 0,15/5=0,0300{,}15/5 = 0{,}030 V per kelvin.

    Contoh 2: penguat tak pembalik. Sensor 0 sampai 0,5 V harus menjadi 0 sampai 3,3 V: G=3,3/0,5=6,6G = 3{,}3/0{,}5 = 6{,}6, sehingga Rf/Rg=5,6R_f/R_g = 5{,}6, misalnya Rg=10R_g = 10 kΩ dan Rf=56R_f = 56 kΩ.

    Contoh 3: penguat pembalik bercatu tunggal. Dengan Rin=10R_{in} = 10 kΩ dan Rf=100R_f = 100 kΩ, G=−10G = -10. Masukan 0,2 V seharusnya memberi −2 V, tetapi pada catu 0 sampai 5 V tanpa acuan tengah, keluaran hanya turun ke sekitar 0 V dan sinyalnya hilang.

    Contoh 4: saturasi di rel. Op-amp bercatu 5 V yang keluarannya hanya mampu sampai 3,5 V diberi masukan 0,5 V dengan penguatan 10. Keluaran seharusnya 5 V, tetapi tertahan di 3,5 V, sehingga mikrokontroler membaca nilai yang salah tanpa tanda galat.

    Contoh 5: resistor shunt. Shunt 0,1 Ω di sisi bawah pemanas yang mengalirkan 2 A menimbulkan 0,1×2=0,20{,}1 \times 2 = 0{,}2 V. Penguat diferensial dengan penguatan 10 memberi 2,0 V. Daya di shunt 22×0,1=0,42^2 \times 0{,}1 = 0{,}4 W, sehingga dipilih shunt 1 W atau lebih.

    Contoh 6: tegangan acuan komparator. Pembagi 10 kΩ ke 5 V dan 40 kΩ ke 0 V memberi acuan 5×40/50=4,05 \times 40/50 = 4{,}0 V, yaitu titik 60 °C menurut Contoh 1.

    Contoh 7: lebar histeresis. Dengan R1=10R_1 = 10 kΩ, Rf=820R_f = 820 kΩ, dan ayunan keluaran 5 V: ΔV≈5×10/820=0,061\Delta V \approx 5 \times 10/820 = 0{,}061 V, atau sekitar 0,061/0,030=20{,}061/0{,}030 = 2 K. Bila RfR_f putus, ΔV\Delta V menjadi nol, dan derau 20 mV puncak ke puncak, yang setara kurang dari 1 K, sudah cukup membalik keluaran berulang kali di sekitar 60 °C, seperti di kasus pembuka.

    Contoh 8: arus keluaran. Koil relai 5 V berresistansi 70 Ω menarik 5/70=715/70 = 71 mA, jauh di atas sekitar 20 mA yang biasanya dapat diberikan keluaran op-amp (nilai literatur umum). Relai digerakkan transistor seperti di Bab 85.

    Contoh 9: membaca tegangan kaki. Pada penguat tak pembalik Contoh 2, kaki + 0,30 V, kaki − 0,30 V, dan keluaran 1,98 V: 0,30×6,6=1,980{,}30 \times 6{,}6 = 1{,}98 V, sehingga penguat sehat. Pada papan lain, kaki + 0,30 V, kaki − 0,05 V, dan keluaran menempel di 3,5 V: aturan kaki yang sama tidak terpenuhi, sehingga umpan baliknya putus atau keluaran terbebani berlebih.

    Kondisi berhenti

    Hentikan pekerjaan dan serahkan kepada orang berwenang atau ganti papan bila:

    1. Papan termostat atau pembatas yang diperiksa adalah fungsi keselamatan, misalnya pembatas suhu lebih atau pendeteksi level rendah pemanas; papan diganti dengan suku cadang asli.
    2. Pengukuran harus dilakukan di bagian papan yang tersambung ke jala-jala atau sisi primer catu daya, seperti di Bab 86.
    3. Resistor acuan, histeresis, atau penguatan diusulkan diganti dengan nilai lain untuk "menyetel" suhu atau level tanpa dokumen pabrik.
    4. Sensor yang diganti tidak sama jenis dan karakteristiknya, misalnya termistor dengan nilai B berbeda.
    5. Kontak relai sudah hangus dan penyebab detaknya belum ditemukan.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    1. "Relai yang berdetak berarti relainya rusak." Komparator tanpa histeresis atau sinyal sensor yang berderau sering menjadi penyebab.
    2. "Penguat linear yang keluarannya di rel pasti rusak." Umpan balik yang putus, masukan di luar rentang, atau beban berlebih memberi gejala yang sama.
    3. "Op-amp dapat menggerakkan relai langsung." Arus keluarannya terbatas.
    4. "Penguat pembalik bekerja sama di catu tunggal." Tanpa acuan tengah, keluaran tidak dapat menjadi negatif.
    5. "Histeresis memperburuk ketelitian." Histeresis yang dirancang mencegah detak dan menjaga umur kontak; lebarnya diperhitungkan dalam rancangan.
    6. "Resistor bernilai besar tidak penting." Resistor umpan balik positif ratusan kilo-ohm menentukan histeresis.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab 26 · Fisika menjelaskan termistor, Bab 2 · Komputasional masukan analog, Bab 60 sensor dan 4 sampai 20 mA, Bab 83 komponen pasif, Bab 84 dioda pelindung, Bab 85 transistor penggerak, Bab 86 catu daya, Bab 87 osiloskop, Bab 88 solder, Bab 58 dan Bab 62 diferensial termostat dan kendali ON dan OFF, Bab 61 kalibrasi, dan Bab 15 multimeter.

    Latihan dan pembahasan

    1. Penguat tak pembalik dengan Rf=47R_f = 47 kΩ dan Rg=10R_g = 10 kΩ diberi 0,4 V. Berapa keluarannya?
    2. Penguat pembalik bercatu ganda dengan Rf=22R_f = 22 kΩ dan Rin=10R_{in} = 10 kΩ diberi −1 V. Berapa keluarannya?
    3. Komparator dengan ayunan keluaran 12 V, R1=10R_1 = 10 kΩ, dan Rf=1R_f = 1 MΩ. Berapa lebar histeresisnya?
    4. Pada pembagi Contoh 1, termistor bernilai 5,30 kΩ pada 40 °C. Berapa tegangannya?
    5. Arus 4 sampai 20 mA melewati resistor 165 Ω. Berapa rentang tegangannya, dan berapa tegangan pada 12 mA?
    6. Kaki + komparator 3,9 V dan kaki − 4,0 V, tetapi keluaran tinggi. Apa kemungkinannya?

    Kunci jawaban beralasan

    1. G=1+47/10=5,7G = 1 + 47/10 = 5{,}7, sehingga keluaran 0,4×5,7=2,280{,}4 \times 5{,}7 = 2{,}28 V, selama catu cukup tinggi.
    2. G=−22/10=−2,2G = -22/10 = -2{,}2, sehingga keluaran −2,2×(−1)=+2,2-2{,}2 \times (-1) = +2{,}2 V.
    3. ΔV≈12×10/1.000=0,12\Delta V \approx 12 \times 10/1.000 = 0{,}12 V.
    4. 5×10/(10+5,30)=3,275 \times 10/(10 + 5{,}30) = 3{,}27 V, di bawah acuan 4,0 V pada Contoh 6, sehingga keluaran komparator berada pada keadaan "belum panas" dan pemanas tetap menyala menurut logika papan.
    5. 0,004×165=0,660{,}004 \times 165 = 0{,}66 V sampai 0,020×165=3,30{,}020 \times 165 = 3{,}3 V; pada 12 mA, 0,012×165=1,980{,}012 \times 165 = 1{,}98 V.
    6. Keluaran seharusnya rendah karena kaki + lebih rendah daripada kaki −. Komparatornya rusak, kakinya tertukar dibaca, atau keluaran ditarik tinggi dari luar, misalnya karena transistor atau resistor penarik yang salah. Bacaan diulang di kaki yang benar menurut lembar data sebelum komparator diganti.

    Referensi

    Bab terkait

    Uji diri · 3 soal

    Cek pemahaman sebelum berpindah bab

    Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.

    0/3dinilai
    1

    Penguat tak pembalik dengan Rf=47R_f = 47 kΩ dan Rg=10R_g = 10 kΩ diberi 0,4 V. Berapa keluarannya?

    2

    Penguat pembalik bercatu ganda dengan Rf=22R_f = 22 kΩ dan Rin=10R_{in} = 10 kΩ diberi −1 V. Berapa keluarannya?

    3

    Komparator dengan ayunan keluaran 12 V, R1=10R_1 = 10 kΩ, dan Rf=1R_f = 1 MΩ. Berapa lebar histeresisnya?

    Progres penilaian mandiri0%

    Bab terdekat