Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Air & Pengolahan Air · Bab 32Kuantitatif

    Mutu air kolam renang dari sisi peralatan: klor bebas, terikat, dan total, kit uji DPD dan pH, jadwal uji, pengendali pH dan ORP, pompa dosis dan interlock aliran, klorinator garam, dan pelepasan gas klor

    Pada 2015 di sebuah kolam taman air di California, pengendali kimia yang gagal tetap menginjeksikan hipoklorit dan asam ke pipa resirkulasi saat pompa mati, dan gas klor terlepas ke kolam ketika pompa dinyalakan lagi; 34 dari sekitar 50 perenang mengalami muntah, batuk, atau iritasi mata. Bab ini membahas mutu air kolam dari sisi peralatan yang dirawat teknisi hotel: klor bebas, klor total, dan klor terikat, kit uji DPD dan pH, jadwal uji menurut Permenkes 2/2023 dan pembandingnya, pengendali otomatis pH dan ORP beserta probe dan kalibrasinya, kapasitas pompa dosis, interlock yang menghentikan pengumpan kimia saat aliran berhenti, klorinator garam, serta penyimpanan bahan kimia di ruang peralatan. Baku mutu Indonesia diambil dari Permenkes 2/2023; Model Aquatic Health Code dari CDC Amerika Serikat dipakai sebagai pembanding praktik, bukan kewajiban.

    22 menit
    Materi berisiko tinggi

    Materi ini menyentuh bahaya nyata. Penjelasan konsep tidak menggantikan prosedur lokasi, kompetensi, isolasi energi, SDS terbaru, atau izin kerja.

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Pada Juni 2015, petugas bahan berbahaya di Contra Costa, California, dipanggil ke kolam taman air milik kota. Sekitar 50 perenang berada di kolam ketika gejala muncul, dan 34 orang (68 persen) mengalami muntah, batuk, atau iritasi mata. Penyelidikan menemukan kegagalan peralatan dan kesalahan manusia: pengendali kimia yang rusak membuat larutan natrium hipoklorit dan asam muriatik terus diinjeksikan ke pipa resirkulasi utama saat pompa resirkulasi mati, lalu gas klor terlepas ke kolam ketika pompa dinyalakan lagi. Di kolam hotel, peralatan yang sama ada di ruang pompa: pompa dosis klor, pompa dosis asam, pengendali, dan sakelar aliran. Bab ini membahas cara peralatan itu mengukur dan menjaga mutu air, dan cara mencegah kejadian seperti di California.

    Batas pembahasan

    Bab ini membahas mutu air kolam renang dari sisi peralatan dan pengukuran: apa yang diukur, dengan alat apa, seberapa sering, bagaimana pengendali otomatis dan pompa dosis bekerja, apa fungsi interlock aliran, dan bagaimana merawat klorinator garam. Sumbernya Permenkes No. 2 Tahun 2023 untuk baku mutu Indonesia, Model Aquatic Health Code (MAHC) dari CDC Amerika Serikat dan formulir inspeksinya sebagai pembanding praktik, laporan MMWR CDC tentang cedera gas klor di kolam umum, pedoman kualitas air kolam satu pemerintah provinsi di Kanada, cuplikan manual pabrik klorinator garam dan pengendali kimia, serta manual filter dan pompa kolam dari folder Drive pemilik. Sebagian besar sumber luar dibaca dari cuplikan hasil pencarian, karena halaman aslinya tidak dapat dibuka utuh saat bab ini ditulis. Angka dari cuplikan ditulis dengan atribusi; sebelum dipakai untuk audit, periksa naskah aslinya.

    MAHC adalah kode model yang disusun CDC untuk diadopsi pemerintah daerah di Amerika Serikat. Di Indonesia, MAHC tidak mengikat. Bab ini memakainya karena MAHC menjelaskan alasan teknik di balik interlock, uji, dan batas yang tidak dirinci Permenkes. Yang mengikat di Indonesia adalah Permenkes 2/2023, dengan catatan status: basis data peraturan BPK mencatat Permenkes 2/2023 dicabut sebagian oleh Permenkes 3/2026 dengan pengecualian sejumlah pasal beserta Lampiran, dan status Lampiran yang memuat baku mutu kolam belum diperiksa ke naskah.

    Sirkulasi dan filter kolam dibahas di Bab 29, pompa di Bab 30, dan batas kimia air pompa kalor di Bab 31. Dosis klor, titik patah, CT, dan rumus pompa dosis dibahas di Bab 26, ORP dan klorin tersedia di Bab 17 · Kimia, pH dan alkalinitas di Bab 15 · Kimia, Indeks Kejenuhan Langelier di Bab 16 · Kimia, campuran hipoklorit dan asam di Bab 25 · Kimia, dan cara kerja klorin terhadap mikroba di Bab 4 · Biologi & Mikrobiologi. Gas klor dari campuran pemutih dan asam dihitung di Bab 11 · Kimia.

    Di luar wewenang teknisi hotel: merancang sistem dosis, mengubah logika interlock pada pengendali, memasang pipa injeksi, dan menyervis listrik pengendali. Pekerjaan itu milik kontraktor kolam atau agen pengendali. Teknisi hotel menguji air, mencatat, membandingkan hasil uji dengan tampilan pengendali, membersihkan dan mengkalibrasi probe menurut manual, menjalankan uji interlock bersama kontraktor, dan menghentikan sistem bila ada tanda bahaya.

    Tiga angka klor: bebas, total, dan terikat

    Klor bebas (free chlorine) adalah klorin yang berada sebagai asam hipoklorit dan ion hipoklorit, bentuk yang membunuh mikroba (Bab 4 · Biologi & Mikrobiologi). Klor terikat (combined chlorine) adalah klorin yang sudah bereaksi dengan amonia dan senyawa nitrogen menjadi kloramin, yang lemah sebagai disinfektan dan menimbulkan bau khas kolam (Bab 26). Klor total adalah jumlah keduanya. Kit uji mengukur klor bebas dan klor total; klor terikat dihitung sebagai selisihnya:

    Cterikat=Ctotal−CbebasC_\text{terikat} = C_\text{total} - C_\text{bebas}

    dengan semua besaran dalam mg/L. Untuk air encer, 1 ppm sama dengan sekitar 1 mg/L (pengetahuan umum), sehingga angka MAHC dalam ppm dapat dibandingkan langsung dengan angka Permenkes dalam mg/L.

    ParameterPermenkes 2/2023Formulir inspeksi MAHC, pembanding
    Klor bebas1 sampai 1,5 mg/L (kolam beratap atau tidak); 2 sampai 3 mg/L (kolam air panas dalam ruangan)minimal 1,0 ppm tanpa asam sianurat; minimal 2,0 ppm dengan asam sianurat; 3,0 ppm untuk spa
    Klor terikatpaling tinggi 3 mg/Ldi bawah 0,4 ppm
    Kekeruhanpaling tinggi 0,5 NTUtidak dibandingkan di bab ini
    pHangka tidak ditulis, karena salinan yang terbaca berbedasasaran 7,0 sampai 7,8; tutup bila di bawah 6,5 atau di atas 8,0
    Asam sianurattidak tercatat di sumber bab inipaling tinggi 90 ppm; tutup bila rasio asam sianurat terhadap klor bebas DPD di atas 45:1

    Perbedaan batas klor terikat sangat besar: 3 mg/L di Permenkes dan 0,4 ppm di MAHC. Kolam yang memenuhi Permenkes bisa saja masih berbau kloramin menurut ukuran MAHC. Teknisi mencatat angka klor terikat walaupun masih di bawah batas Permenkes, karena kenaikan klor terikat menandakan beban kotoran yang bertambah atau klor bebas yang kurang (penalaran editorial dari Bab 26).

    Asam sianurat (cyanuric acid) adalah penstabil yang mengikat sebagian klorin supaya tidak cepat terurai oleh sinar matahari. MAHC mencatat bahwa hasil uji DPD untuk klor bebas pada air berasam sianurat ikut menghitung klorin yang terikat sianurat, sehingga angka DPD sama dengan klor bebas tersedia hanya bila asam sianurat tidak ada. Pada kolam berasam sianurat, angka klor bebas yang sama memberi daya bunuh lebih kecil, dan itulah alasan batas klor bebas minimum MAHC naik menjadi 2,0 ppm.

    Manual filter dari folder Drive juga mencantumkan rentang kimia sebagai syarat peralatan: satu manual memberi klor bebas 1 sampai 3 ppm dan pH 7,2 sampai 7,6, dan manual lain melarang mode filter kecuali klor bebas 0,5 sampai 3,0 ppm dan pH 7,0 sampai 7,8 untuk kolam beton. Angka pabrik adalah syarat garansi peralatan, bukan baku mutu kesehatan (Bab 29).

    Kit uji DPD, pH, dan catatan harian

    DPD (N,N-diethyl-p-phenylenediamine) adalah pereaksi warna untuk membaca sisa klor, yang di lapangan dipakai dengan komparator dan pereaksi terpisah untuk klor bebas dan klor total (Bab 26). Formulir inspeksi MAHC meminta kit uji DPD yang disetujui menurut NSF/ANSI Standard 50. Standar itu tidak berlaku wajib di Indonesia, tetapi kebutuhannya jelas: kit harus mampu membaca klor bebas dan klor total secara terpisah, karena tanpa keduanya klor terikat tidak dapat dihitung.

    Jadwal uji menurut sumber:

    SumberJadwal
    Permenkes 2/2023sisa klor atau bromin diperiksa minimal 3 kali sehari untuk kolam berklorin; hasil pemeriksaan pH dan sisa klor dapat dilihat pengunjung
    Formulir inspeksi MAHCklor bebas dan pH diuji sebelum kolam dibuka dan setiap 4 jam pada kolam dengan pengumpan disinfektan otomatis

    Catatan uji harian sebaiknya memuat jam, klor bebas, klor total, klor terikat hasil hitung, pH, tampilan pengendali pada jam yang sama, setelan pompa dosis, dan nama penguji (penalaran editorial). Kolom tampilan pengendali penting: selisih yang tumbuh antara hasil kit dan tampilan pengendali adalah tanda awal probe kotor atau kalibrasi bergeser. Papan hasil uji untuk pengunjung yang diminta Permenkes diisi dari catatan yang sama.

    Pengendali otomatis pH dan ORP

    MAHC mendefinisikan pengendali otomatis (automated controller) sebagai sistem yang terdiri atas paling sedikit satu probe kimia, satu pengendali, dan komponen tambahan yang mengindera kadar satu atau lebih parameter air dan memberi sinyal ke peralatan lain untuk menjaga parameter dalam rentang yang ditetapkan pengguna. Di kolam hotel, probe pH mengendalikan pompa dosis asam, dan probe ORP atau probe klor mengendalikan pompa dosis klor.

    ORP (oxidation reduction potential) adalah potensial listrik larutan terhadap elektroda acuan yang menunjukkan seberapa mudah larutan menerima atau melepas elektron; ORP yang lebih tinggi menandakan larutan yang lebih oksidatif. Prinsip ORP dibahas di Bab 17 · Kimia. Pedoman pemerintah provinsi Nova Scotia di Kanada menulis dua batas penting: ORP tidak menggantikan pengujian klor bebas tersedia, dan hubungan ORP dengan kadar disinfektan tidak linear. Nilai ORP juga bergantung pada pH, suhu, jenis oksidator, dan keadaan permukaan elektrode (Bab 17 · Kimia). Karena itu pengendali ORP menjaga satu angka milivolt, sedangkan teknisi tetap mengukur klor bebas dengan kit. Angka ORP 720 mV yang sering dikutip dari pedoman WHO hanya terbaca dari kutipan tangan kedua dan belum dicek ke naskah WHO, jadi tidak dipakai di bab ini sebagai setelan.

    Perawatan probe menurut sumber pabrik dan panduan pihak ketiga:

    1. Probe pH dikalibrasi ulang setiap kali dibersihkan atau diganti (manual pabrik).
    2. Kalibrasi pH dua titik memakai buffer pH 7,0 untuk titik tengah dan buffer pH 4,0 untuk kemiringan (sumber sekunder).
    3. Saat membersihkan, pengendali dan pengumpan dimatikan, katup sel aliran ditutup, sensor dilepas dengan tangan, dan ujung sensor dijaga tetap basah (sumber sekunder).
    4. Frekuensi kalibrasi berbeda antarsumber: satu panduan menulis pH bulanan dan ORP triwulanan, sumber lain setiap 6 bulan atau lebih sering bila pembacaan menyimpang. Ikuti manual pengendali yang terpasang dan pakai selisih dengan kit uji sebagai pemicu.

    Sel aliran (flow cell) adalah wadah kecil tempat probe dicelupkan dalam aliran contoh air dari pipa sirkulasi. Panduan gangguan pabrik pengendali menulis alarm "tidak ada aliran" pada sel aliran disebabkan filter kotor, katup tertutup, atau prapenyaring sel aliran tersumbat, dan alarm batas waktu dosis berlebih disebabkan tangki bahan kimia kosong, titik injeksi tersumbat, atau pengumpan terlalu kecil. Probe yang tidak dialiri air tidak membaca kolam; ia membaca air diam di sel aliran.

    Pompa dosis, kapasitas, dan interlock aliran

    Laju larutan pompa dosis dihitung dengan rumus Bab 26:

    q=Q×Dctersediaq = \frac{Q \times D}{c_\text{tersedia}}

    dengan qq laju larutan dalam L/jam, QQ debit air yang menerima dosis dalam m³/jam, DD dosis dalam g/m³ atau mg/L, dan ctersediac_\text{tersedia} klorin tersedia larutan dalam g/L. Annex MAHC mencatat bahwa beberapa negara bagian di Amerika Serikat mensyaratkan pompa dosis klorin mampu memberi sampai 10 ppm klorin di pipa kembali ke kolam. Angka itu adalah syarat kapasitas, bukan setelan kerja; pompa yang selalu bekerja di kapasitas penuh menandakan kebutuhan klor yang tidak wajar (penalaran editorial).

    Interlock aliran (flow interlock) adalah kendali yang menghentikan pengumpan kimia secara otomatis bila aliran resirkulasi berhenti atau terlalu rendah. MAHC bagian 4.7.3.2.1.3 mengatur interlock dan penonaktifan pengumpan saat aliran tidak ada atau rendah, dan bagian 5.7.3.5.1.3 mensyaratkan peralatan tidak mampu mengumpankan bahan kimia bila aliran resirkulasi tidak ada. Alasannya ditulis di dokumen pendamping MAHC: gas klor beracun dapat terbentuk di dalam pipa bila aliran nol atau rendah sementara pengumpan kimia tetap berjalan. MAHC edisi 2024 menggolongkan ketiadaan interlock dan meter aliran, sakelar aliran, atau sakelar tekanan, atau interlock yang tidak bekerja, dinonaktifkan, atau dipintas, sebagai bahaya yang dapat menutup kolam.

    Interlock biasanya mengambil sinyal dari sakelar aliran, sakelar tekanan, atau kontak pompa resirkulasi. Menurut penalaran editorial, sinyal dari kontak pompa saja tidak cukup, karena pompa yang berputar dengan katup tertutup atau prapenyaring tersumbat tetap memberi sinyal "jalan" walaupun aliran nyaris nol. Sakelar aliran di pipa memberi bukti aliran yang lebih langsung. Hal yang sama berlaku untuk klorinator garam dan pompa kalor, yang juga memakai sakelar aliran (Bab 31).

    Pelajaran dari kejadian gas klor

    Laporan MMWR menelusuri catatan California 2008 sampai 2015 dan menemukan delapan kejadian pelepasan gas klor lain di kolam umum karena kegagalan peralatan atau kesalahan manusia, dengan 156 orang sakit. Rekomendasi laporan itu:

    1. Uji berkala fitur gagal-aman pengendali kimia, termasuk uji tantang interlock, misalnya mengukur berapa lama interlock memutus pengumpan setelah pompa berhenti.
    2. Latih staf fasilitas kolam.
    3. Ikuti kebijakan dan prosedur baku, termasuk mengevakuasi perenang dari kolam sebelum pompa resirkulasi dinyalakan ulang.

    Mekanismenya sederhana. Hipoklorit dan asam yang diinjeksikan ke pipa yang alirannya berhenti tidak diencerkan. Keduanya bertemu dalam kadar pekat dan melepaskan klorin (Bab 25 · Kimia dan Bab 11 · Kimia). Ketika pompa dinyalakan, gas dan larutan pekat itu terdorong ke kolam sekaligus. Prosedur hotel sebaiknya menulis urutan menyalakan ulang setelah pompa mati lama atau setelah gangguan: kolam dikosongkan dari perenang, pengumpan kimia dipastikan mati, pompa dinyalakan dan aliran dipastikan normal, baru pengumpan diaktifkan lagi (penalaran editorial dari rekomendasi MMWR).

    Klorinator garam

    Klorinator garam (salt chlorine generator) adalah alat yang membuat klorin di tempat dengan elektrolisis air kolam bergaram melalui sel elektroda di pipa sirkulasi. Garam hampir tidak habis terpakai, karena klorin yang dihasilkan kembali menjadi garam setelah bereaksi; garam berkurang terutama bersama air yang terbuang saat cuci balik, percikan, dan pengurasan (pengetahuan umum). Cuplikan manual satu pabrik memberi angka yang berbeda antarmodel:

    Model dalam manual pabrik yang samaKadar garam
    model baruideal 2.700 sampai 3.400 ppm, optimal 3.200 ppm
    model lain, panduan pelatihan2.800 sampai 4.500 ppm, ideal 3.200 ppm
    manual lama1.200 sampai 1.800 ppm, optimal 1.500 ppm

    Tabel itu menunjukkan bahwa kadar garam adalah milik model sel, bukan nilai umum. Garam ditambah menurut pelat dan manual sel yang terpasang.

    Pemeriksaan dan pembersihan sel menurut manual pabrik yang sama: sel diperiksa kira-kira setiap 3 bulan dan dibersihkan bila perlu; lampu periksa sel yang berkedip berarti efisiensi sel turun atau sudah waktunya pemeriksaan terjadwal; larutan pembersih dibuat 4 bagian air dan 1 bagian asam muriatik, dengan asam selalu ditambahkan ke air dan tidak sebaliknya; larutan tidak boleh menutupi tutup elektronik sel. Panduan gangguan pabrik itu juga mempunyai alarm "tidak ada aliran".

    Pembacaan garam pada pengendali bersifat tidak langsung. Sumber pihak ketiga mengingatkan bahwa pembacaan itu dibandingkan dengan uji kit atau meter, dan bahwa menambah garam tidak menaikkan klor bila masalahnya ada di sel atau setelan. Klor bebas tetap diuji dengan kit DPD, seperti pada kolam berpompa dosis hipoklorit.

    Bahan kimia di ruang peralatan

    Manual pompa kolam dari folder Drive menulis bahwa uap dan tumpahan bahan kimia melemahkan peralatan, dan bahan kimia kolam tidak boleh disimpan dekat peralatan. Hipoklorit dan asam adalah pasangan yang tidak boleh bertemu: wadah, tangki harian, selang hisap, dan titik injeksinya dipisah, dan tangki tidak diisi ulang dari wadah yang salah (Bab 25 · Kimia). Kesalahan mengisi tangki asam dengan hipoklorit, atau sebaliknya, menghasilkan reaksi yang sama dengan kejadian California, tetapi di ruang pompa. Isolasi bahan kimia sebelum membongkar selang atau pompa dosis dibahas di Bab 4 · Keselamatan.

    Contoh kerja

    Contoh 1: Menghitung klor terikat. Kit membaca klor total 2,4 mg/L dan klor bebas 1,2 mg/L (angka latihan). Klor terikat 2,4−1,2=1,22{,}4 - 1{,}2 = 1{,}2 mg/L. Klor bebas masuk rentang Permenkes 1 sampai 1,5 mg/L dan klor terikat di bawah 3 mg/L, tetapi klor terikat 1,2 mg/L sekitar 1,2/0,4=31{,}2/0{,}4 = 3 kali batas MAHC 0,4 ppm. Angka klor memenuhi Permenkes, dan catatan menandai klor terikat untuk diperhatikan.

    Contoh 2: Menaikkan klor bebas. Kolam 300 m³ (angka latihan) dengan klor bebas 0,6 mg/L akan dinaikkan ke 1,2 mg/L. Tanpa memperhitungkan kebutuhan klor, klorin tersedia yang diperlukan 300×(1,2−0,6)=180300 \times (1{,}2 - 0{,}6) = 180 g. Dengan larutan 100 g/L (angka latihan), volumenya 180/100=1,8180/100 = 1{,}8 L. Kebutuhan klor air kolam membuat jumlah sebenarnya lebih besar, jadi kenaikan diukur ulang dengan kit setelah air bercampur (Bab 26).

    Contoh 3: Kapasitas pompa dosis 10 ppm. Debit sirkulasi 60 m³/jam (angka latihan) dan syarat kapasitas 10 ppm di pipa kembali memberi q=60×10/100=6q = 60 \times 10/100 = 6 L/jam dengan larutan 100 g/L. Pompa berkapasitas 4 L/jam (angka latihan) hanya mampu 4×100/60=6,74 \times 100/60 = 6{,}7 ppm.

    Contoh 4: Jumlah uji per hari. Kolam buka pukul 07.00 sampai 21.00 (angka latihan). Permenkes meminta minimal 3 kali sehari. Pola MAHC, yaitu sebelum buka lalu setiap 4 jam, memberi uji pukul 07.00, 11.00, 15.00, dan 19.00, yaitu 1+⌊14/4⌋=41 + \lfloor 14/4 \rfloor = 4 kali.

    Contoh 5: Bahan kimia di pipa yang alirannya berhenti. Pompa dosis hipoklorit 5 L/jam dan pompa dosis asam 1 L/jam (angka latihan) tetap berjalan 30 menit setelah pompa resirkulasi mati karena interlock gagal. Di pipa terkumpul 5×0,5=2,55 \times 0{,}5 = 2{,}5 L hipoklorit dan 1×0,5=0,51 \times 0{,}5 = 0{,}5 L asam, tanpa air sirkulasi yang mengencerkan. Uji tantang mengukur berapa lama interlock memutus pengumpan setelah pompa berhenti; batas waktunya diambil dari manual pengendali dan kontraktor.

    Contoh 6: Rasio asam sianurat. Asam sianurat 60 ppm dan klor bebas DPD 1,2 ppm (angka latihan) memberi rasio 60/1,2=5060/1{,}2 = 50, di atas ambang penutupan MAHC 45:1. Supaya rasio tidak lebih dari 45, klor bebas paling sedikit 60/45=1,3360/45 = 1{,}33 ppm. Asam sianurat 60 ppm masih di bawah batas 90 ppm.

    Contoh 7: Menambah garam. Kolam 300 m³ (angka latihan) dengan kadar garam terukur 2.400 ppm dan sasaran 3.200 ppm menurut manual model yang terpasang memerlukan 300×(3.200−2.400)=240.000300 \times (3.200 - 2.400) = 240.000 g, yaitu 240 kg garam, dengan 1 ppm sekitar 1 g/m³. Sebelum menambah, kadar diuji dengan kit atau meter terpisah, karena pembacaan pengendali tidak langsung.

    Contoh 8: Larutan pembersih sel. Larutan 5 L dengan perbandingan 4 bagian air dan 1 bagian asam muriatik memerlukan 5×4/5=45 \times 4/5 = 4 L air dan 5×1/5=15 \times 1/5 = 1 L asam. Air dituang ke wadah lebih dulu, lalu asam ditambahkan pelan ke air.

    Contoh 9: Probe pH yang membaca terlalu tinggi. Setelan pH pengendali 7,5 (angka latihan). Kit membaca pH kolam 7,2 sementara pengendali menampilkan 7,5, jadi probe membaca 7,5−7,2=0,37{,}5 - 7{,}2 = 0{,}3 terlalu tinggi. Pengendali terus menambah asam sampai tampilannya 7,5, sehingga pH sebenarnya tertahan sekitar 7,2 dan cenderung turun bila probe makin menyimpang. Probe dibersihkan dan dikalibrasi ulang, dan dosis asam dihentikan sementara bila pH kit mendekati batas bawah.

    Kondisi berhenti

    1. Tercium bau klor yang tajam di ruang pompa atau di permukaan kolam, perenang batuk, atau mata perih bersamaan: keluarkan perenang, hentikan pengumpan kimia, ventilasi ruang pompa dari luar, dan hubungi kontraktor kolam dan petugas K3.
    2. Pompa resirkulasi mati lama atau baru diperbaiki: jangan menyalakan ulang sebelum kolam kosong dari perenang dan pengumpan kimia dipastikan mati.
    3. Interlock aliran dipintas, dimatikan, atau gagal dalam uji tantang: hentikan pengumpan kimia dan tutup kolam sampai interlock diperbaiki kontraktor.
    4. Hasil kit untuk klor bebas atau klor terikat di luar baku Permenkes, atau pH di luar rentang yang ditetapkan pengelola: kolam tidak dibuka sampai hasil kembali di rentang.
    5. Tangki asam dan tangki hipoklorit tertukar, bocor, atau tumpah bersama: jauhkan orang, jangan mencampur atau menyiram tanpa prosedur, dan hubungi petugas bahan berbahaya.
    6. Pengendali terus mendosis dan alarm batas waktu dosis berlebih muncul berulang: hentikan pompa dosis dan periksa tangki, titik injeksi, dan probe sebelum dijalankan lagi.
    7. Sel klorinator garam berkerak berat atau tutup elektroniknya basah: matikan dan putus listriknya, dan serahkan ke agen pabrik.

    Salah tafsir yang sering terjadi

    "Pengendali menampilkan ORP yang baik, jadi klor bebas pasti cukup." ORP tidak menggantikan pengujian klor bebas, dan hubungannya tidak linear.

    "Bau kaporit berarti klornya terlalu banyak." Bau khas kolam berasal dari klor terikat. Kolam berbau biasanya kekurangan klor bebas dibanding beban kotoran, dan kit membedakannya dengan klor total dan klor bebas (Bab 26).

    "Pompa resirkulasi berputar berarti air mengalir." Pompa dengan katup tertutup atau prapenyaring tersumbat dapat berputar tanpa aliran. Interlock yang baik mengambil sinyal dari sakelar aliran atau sakelar tekanan.

    "Kadar garam 3.200 ppm berlaku untuk semua klorinator." Kadar garam milik model; manual satu pabrik saja memuat tiga rentang berbeda.

    "Memenuhi MAHC sama dengan memenuhi aturan Indonesia." Baku Indonesia adalah Permenkes 2/2023; MAHC adalah pembanding praktik.

    Hubungan dengan bab lain

    Bab ini melengkapi Bab 29 tentang sirkulasi dan filter, Bab 30 tentang pompa, dan Bab 31 tentang pompa kalor. Dasar klorinasi dan pompa dosis ada di Bab 26, ORP di Bab 17 · Kimia, pH di Bab 15 · Kimia, keseimbangan kerak di Bab 16 · Kimia, dan campuran berbahaya di Bab 25 · Kimia.

    Latihan dan pembahasan

    1. Klor total 1,8 mg/L dan klor bebas 1,4 mg/L. Berapa klor terikat, dan bagaimana kedudukannya terhadap Permenkes dan MAHC?
    2. Mengapa pengendali ORP tidak membebaskan teknisi dari uji kit DPD?
    3. Debit sirkulasi 90 m³/jam dan larutan 120 g/L (angka latihan). Berapa kapasitas pompa dosis untuk 10 ppm di pipa kembali?
    4. Teknisi menemukan kabel sakelar aliran dijumper supaya pengendali tidak sering alarm. Apa risikonya dan apa tindakannya?
    5. Urutkan langkah menyalakan ulang sistem setelah pompa resirkulasi mati semalam karena listrik padam.
    6. Pembacaan garam pengendali 2.500 ppm, tetapi klor bebas kit sudah 1,4 mg/L. Apakah garam langsung ditambah?

    Kunci jawaban beralasan

    1. Klor terikat 1,8−1,4=0,41{,}8 - 1{,}4 = 0{,}4 mg/L, jauh di bawah batas Permenkes 3 mg/L. Angka itu tepat di batas MAHC yang mensyaratkan di bawah 0,4 ppm, jadi menurut pembanding itu klor terikat perlu diturunkan.
    2. ORP hanya menunjukkan sifat oksidatif air, bergantung pada pH, suhu, dan keadaan elektrode, dan hubungannya dengan kadar klor tidak linear. Baku Permenkes dinyatakan dalam mg/L klor bebas, sehingga hanya uji kit yang menunjukkan kepatuhan.
    3. q=90×10/120=7,5q = 90 \times 10/120 = 7{,}5 L/jam. Pompa harus mampu sedikitnya 7,5 L/jam; kerja sehari-hari jauh di bawah kapasitas itu.
    4. Dengan jumper, pengumpan tetap berjalan saat aliran berhenti, persis kondisi yang melepaskan gas klor di kejadian California. Jumper dilepas, pengumpan dihentikan, kolam ditutup, dan kontraktor memperbaiki penyebab alarm.
    5. Perenang dikeluarkan dari kolam dan pengumpan kimia dipastikan mati lebih dulu. Pompa dinyalakan, aliran dan sakelar aliran dipastikan normal, air diuji, lalu pengumpan diaktifkan dan kolam dibuka setelah hasil uji di rentang.
    6. Tidak langsung, karena klor bebas sudah memenuhi Permenkes dan pembacaan garam pengendali bersifat tidak langsung. Kadar garam diuji dengan kit atau meter terpisah dan dibandingkan dengan manual model sel sebelum garam ditambah.

    Referensi

    Sumber luar

    • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023peraturan.bpk.go.id
    • Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.pdfperaturan.bpk.go.id
    • 2024 Model Aquatic Health Code Code Language 5th Edition, December 2024cdc.gov
    • About Mini-MAHCscdc.gov
    • Cheat Sheet for Calculating Scores for the Aquatic Facility Inspection Formcdc.gov
    • Aquatic Facility Inspection Formcdc.gov
    • 2024 Annex to the Model Aquatic Health Code Scientific Rationalecdc.gov
    • Inhalational Chlorine Injuries at Public Aquatic Venues, California, 2008-2015cdc.gov
    • Section 6: Pool Water Quality Managementnovascotia.ca
    • Guidelines for safe recreational water environments. Volume 2, Swimming pools and similar environmentsiris.who.int

    Bab terkait

    Uji diri · 3 soal

    Cek pemahaman sebelum berpindah bab

    Tulis jawaban dengan kata-kata Anda sendiri, lalu bandingkan dengan pembahasan dari latihan asli bab ini. Sistem tidak menebak benar-salah jawaban terbuka; Anda yang menilai bagian mana yang sudah dipahami.

    0/3dinilai

    Batas keselamatan tetap berlaku. Kuis ini menguji penalaran, bukan memberi izin melakukan pencampuran, penyetelan, pembongkaran, pengukuran berenergi, atau tindakan lapangan.

    1

    Klor total 1,8 mg/L dan klor bebas 1,4 mg/L. Berapa klor terikat, dan bagaimana kedudukannya terhadap Permenkes dan MAHC?

    2

    Mengapa pengendali ORP tidak membebaskan teknisi dari uji kit DPD?

    3

    Debit sirkulasi 90 m³/jam dan larutan 120 g/L (angka latihan). Berapa kapasitas pompa dosis untuk 10 ppm di pipa kembali?

    Progres penilaian mandiri0%

    Bab terdekat