Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 4Lanjut

    Relasi, Pemetaan, dan Ekuivalensi

    Bab 4 dari 50 — Analisis Matematika dan Fondasi Rigor. Naskah draf lengkap dengan validasi terarah; belum telaah matematika independen seluruh buku.

    113 menit

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Draf lengkap — Bab 4 dari 50

    Validasi terarah dan integritas naskah telah diperiksa. Buku ini belum mendapat telaah matematika independen menyeluruh. Catatan status di dalam naskah merupakan riwayat versi.

    Unduh naskah lengkap asli (TXT) · Lihat sumber dan cakupan review

    Bab 4: Relasi, Kelas Ekuivalensi, dan Urutan Parsial

    Pasangan terurut memungkinkan kita menyatakan hubungan antara dua objek sebagai himpunan. Bab ini membangun bahasa relasi dari konstruksi tersebut, lalu menelaah dua bentuk hubungan: kesetaraan dan urutan. Kelas ekuivalensi memberi cara mengumpulkan objek yang setara tanpa memilih wakil secara sembarang. Urutan parsial menjelaskan ketergantungan tanpa memaksa semua objek dapat dibandingkan. Contoh kongruensi, keterbagian, dan penjadwalan memperlihatkan bagaimana definisi formal mengendalikan perhitungan dan gambar.

    4.1 Definisi Formal Relasi Biner

    Dalam matematika kita terus-menerus membicarakan hubungan antarobjek: xx lebih kecil daripada yy, garis ℓ\ell sejajar dengan garis mm, bilangan aa membagi bilangan bb. Setiap pernyataan seperti itu menyebut dua objek dalam peran yang berbeda. "2<52<5" benar, sedangkan "5<25<2" salah. Jadi urutan penyebutan membawa informasi.

    Daftar anggota suatu himpunan tidak membawa urutan penyebutan. Menurut ekstensionalitas, {2,5}={5,2}\{2,5\}=\{5,2\} karena kedua himpunan memiliki anggota yang sama. Karena itu kita tidak bisa sekadar menyimpan "pasangan 22 dan 55" sebagai himpunan {2,5}\{2,5\}. Bila begitu, informasi tentang objek yang disebut lebih dulu akan hilang.

    Unit ini menyelesaikan masalah tersebut dalam tiga langkah:

    1. membangun pasangan terurut dari himpunan biasa dan membuktikan sifat yang membuatnya berguna;
    2. membentuk produk Kartesius A×BA\times B sebagai himpunan yang keberadaannya dijamin aksioma;
    3. mendefinisikan relasi sebagai himpunan bagian dari produk Kartesius, lalu mempelajari empat sifat dasar relasi pada satu himpunan.

    Kita memakai hasil Bab 1–2 tentang kesamaan, implikasi, negasi, kuantifikator, dan kuantifikasi atas himpunan kosong. Dari Bab 3 kita memakai ekstensionalitas, aksioma pasangan, gabungan, himpunan kuasa, separasi, dan pembuktian kesamaan melalui dua inklusi. Bilangan bulat beserta urutan dan aritmetika elementernya hanya dipinjam sebagai sumber contoh. Konstruksinya baru dilakukan kemudian.

    Pasangan terurut

    Yang kita perlukan dari "pasangan terurut" hanyalah satu sifat: dua pasangan sama jika dan hanya jika komponen pertamanya sama dan komponen keduanya sama. Kita akan memilih satu kode konkret dalam bahasa himpunan, lalu membuktikan bahwa kode itu memiliki sifat tersebut.

    Definisi 4.1.1 (pasangan terurut). Untuk objek aa dan bb, didefinisikan

    (a,b):={{a},{a,b}}.(a,b):=\{\{a\},\{a,b\}\}.

    Objek aa disebut koordinat pertama dan bb koordinat kedua.

    Keberadaannya dijamin aksioma pasangan yang dipakai tiga kali. Penerapan pertama membentuk {a,b}\{a,b\}. Penerapan kedua membentuk {a}={a,a}\{a\}=\{a,a\}. Penerapan ketiga membentuk himpunan yang anggotanya tepat {a}\{a\} dan {a,b}\{a,b\}. Menurut ekstensionalitas, himpunan itu tunggal.

    Perlu dicatat kasus a=ba=b. Dalam kasus ini {a,b}={a}\{a,b\}=\{a\}, sehingga

    (a,a)={{a},{a}}={{a}}(a,a)=\{\{a\},\{a\}\}=\{\{a\}\}

    hanya memiliki satu anggota. Kasus inilah yang membuat bukti keunikan koordinat memerlukan perhatian lebih.

    Untuk himpunan tak kosong F\mathcal F, tulis ⋂F\bigcap\mathcal F untuk himpunan semua xx yang menjadi anggota setiap anggota F\mathcal F. Keberadaannya dijamin separasi: ambil sembarang F0∈FF_0\in\mathcal F dan bentuk {x∈F0:∀Y∈F  (x∈Y)}\{x\in F_0:\forall Y\in\mathcal F\;(x\in Y)\}. Menurut ekstensionalitas, hasilnya tidak bergantung pada pilihan F0F_0. Tulis pula ⋃F\bigcup\mathcal F untuk gabungan yang dijamin aksioma gabungan.

    Lema 4.1.2. Untuk setiap objek a,ba,b berlaku

    ⋂ (a,b)={a}dan⋃ (a,b)={a,b}.\bigcap\,(a,b)=\{a\}\qquad\text{dan}\qquad\bigcup\,(a,b)=\{a,b\}.

    Bukti. Himpunan (a,b)(a,b) tak kosong karena memuat {a}\{a\}, sehingga ⋂(a,b)\bigcap(a,b) terdefinisi. Anggota (a,b)(a,b) tepat {a}\{a\} dan {a,b}\{a,b\}. Untuk sembarang xx:

    x∈⋂(a,b)  ⟺  (x∈{a} ∧ x∈{a,b})  ⟺  (x=a ∧ (x=a∨x=b))  ⟺  x=a.x\in\bigcap(a,b)\iff\bigl(x\in\{a\}\ \land\ x\in\{a,b\}\bigr)\iff\bigl(x=a\ \land\ (x=a\lor x=b)\bigr)\iff x=a.

    Langkah terakhir berlaku karena x=ax=a sudah menjamin disjungsi x=a∨x=bx=a\lor x=b. Jadi ⋂(a,b)={a}\bigcap(a,b)=\{a\} menurut ekstensionalitas.

    Untuk gabungan,

    x∈⋃(a,b)  ⟺  (x∈{a} ∨ x∈{a,b})  ⟺  (x=a ∨ x=a ∨ x=b)  ⟺  x∈{a,b}.x\in\bigcup(a,b)\iff\bigl(x\in\{a\}\ \lor\ x\in\{a,b\}\bigr)\iff\bigl(x=a\ \lor\ x=a\ \lor\ x=b\bigr)\iff x\in\{a,b\}.

    Jadi ⋃(a,b)={a,b}\bigcup(a,b)=\{a,b\}. Perhitungan ini tidak memisahkan kasus a=ba=b dan a≠ba\ne b, sehingga berlaku untuk keduanya. ■\blacksquare

    Teorema 4.1.3 (sifat karakteristik pasangan terurut). Untuk setiap objek a,b,c,da,b,c,d,

    (a,b)=(c,d)  ⟺  (a=c ∧ b=d).(a,b)=(c,d)\iff\bigl(a=c\ \land\ b=d\bigr).

    Bukti. (⇐\Leftarrow) Jika a=ca=c dan b=db=d, substitusi pada ruas kanan Definisi 4.1.1 memberikan {{a},{a,b}}={{c},{c,d}}\{\{a\},\{a,b\}\}=\{\{c\},\{c,d\}\}, yaitu (a,b)=(c,d)(a,b)=(c,d).

    (⇒\Rightarrow) Misalkan (a,b)=(c,d)(a,b)=(c,d). Himpunan yang sama mempunyai irisan yang sama dan gabungan yang sama. Dengan Lema 4.1.2 diperoleh

    {a}={c}dan{a,b}={c,d}.\{a\}=\{c\}\qquad\text{dan}\qquad\{a,b\}=\{c,d\}.

    Koordinat pertama. Karena a∈{a}={c}a\in\{a\}=\{c\}, kita peroleh a=ca=c. Akibatnya kesamaan kedua dapat ditulis ulang menjadi {a,b}={a,d}\{a,b\}=\{a,d\}.

    Koordinat kedua. Kita pisahkan dua kasus yang mencakup semua kemungkinan.

    • Kasus b=ab=a. Maka {a,d}={a,b}={a}\{a,d\}=\{a,b\}=\{a\}. Karena d∈{a,d}d\in\{a,d\}, diperoleh d∈{a}d\in\{a\}, jadi d=ad=a. Dengan demikian b=a=db=a=d.
    • Kasus b≠ab\ne a. Karena b∈{a,b}={a,d}b\in\{a,b\}=\{a,d\}, berlaku b=ab=a atau b=db=d. Disjungsi pertama dikecualikan oleh hipotesis kasus, sehingga b=db=d.

    Pada kedua kasus b=db=d. Bersama a=ca=c, bukti selesai. ■\blacksquare

    Catatan 4.1.4 (mengapa kasus a=ba=b tidak boleh dilewati). Ada argumen yang tampak wajar tetapi keliru: "(a,b)(a,b) dan (c,d)(c,d) masing-masing berisi satu himpunan bertitik tunggal dan satu himpunan bertitik dua; cocokkan yang bertitik tunggal dengan yang bertitik tunggal." Argumen ini runtuh tepat ketika a=ba=b. Dalam kasus itu (a,a)={{a}}(a,a)=\{\{a\}\} tidak memuat himpunan bertitik dua sama sekali. Bukti di atas menghindari masalah ini karena memakai irisan dan gabungan, yang dihitung seragam dalam Lema 4.1.2, lalu memisahkan kasus hanya pada langkah terakhir.

    Catatan 4.1.5 (pasangan terurut bukan pasangan tak terurut). Dari Teorema 4.1.3, (1,2)=(2,1)(1,2)=(2,1) akan memaksa 1=21=2. Jadi (1,2)≠(2,1)(1,2)\ne(2,1), sedangkan {1,2}={2,1}\{1,2\}=\{2,1\}. Kode {{a},{a,b}}\{\{a\},\{a,b\}\} hanyalah satu pilihan yang sah di dalam ZF. Setelah Teorema 4.1.3 terbukti, kita tidak akan lagi memakai rincian kode itu. Pernyataan seperti "{a}∈(a,b)\{a\}\in(a,b)" memang benar untuk kode ini, tetapi hanyalah artefak pilihan kode dan tidak akan dipakai dalam argumen.

    Produk Kartesius

    Kita ingin membentuk "himpunan semua pasangan (a,b)(a,b) dengan a∈Aa\in A dan b∈Bb\in B". Komprehensi tanpa pembatas tidak diizinkan, jadi kita perlu sebuah himpunan yang sudah ada dan cukup besar untuk memuat semua pasangan tersebut. Himpunan itu disediakan oleh lema berikut.

    Lema 4.1.6. Jika a∈Aa\in A dan b∈Bb\in B, maka (a,b)∈P(P(A∪B))(a,b)\in\mathcal P(\mathcal P(A\cup B)).

    Bukti. Karena a∈A⊆A∪Ba\in A\subseteq A\cup B, berlaku {a}⊆A∪B\{a\}\subseteq A\cup B. Karena a,b∈A∪Ba,b\in A\cup B, berlaku pula {a,b}⊆A∪B\{a,b\}\subseteq A\cup B. Jadi {a}∈P(A∪B)\{a\}\in\mathcal P(A\cup B) dan {a,b}∈P(A∪B)\{a,b\}\in\mathcal P(A\cup B). Kedua anggota (a,b)(a,b) berada di P(A∪B)\mathcal P(A\cup B), artinya (a,b)⊆P(A∪B)(a,b)\subseteq\mathcal P(A\cup B), sehingga (a,b)∈P(P(A∪B))(a,b)\in\mathcal P(\mathcal P(A\cup B)). ■\blacksquare

    Definisi 4.1.7 (produk Kartesius). Untuk himpunan AA dan BB, didefinisikan dengan separasi

    A×B:={p∈P(P(A∪B)): ∃a∈A ∃b∈B  (p=(a,b))}.A\times B:=\bigl\{p\in\mathcal P(\mathcal P(A\cup B)):\ \exists a\in A\ \exists b\in B\ \ (p=(a,b))\bigr\}.

    Separasi diterapkan pada himpunan P(P(A∪B))\mathcal P(\mathcal P(A\cup B)), yang keberadaannya dijamin aksioma gabungan dan himpunan kuasa. Jadi A×BA\times B memang himpunan dan tunggal menurut ekstensionalitas.

    Proposisi 4.1.8 (keanggotaan produk).

    1. p∈A×Bp\in A\times B jika dan hanya jika ada a∈Aa\in A dan b∈Bb\in B dengan p=(a,b)p=(a,b).
    2. Untuk setiap objek x,yx,y: (x,y)∈A×B(x,y)\in A\times B jika dan hanya jika x∈Ax\in A dan y∈By\in B.
    3. Setiap p∈A×Bp\in A\times B mempunyai tepat satu koordinat pertama dan tepat satu koordinat kedua: jika p=(a,b)=(a′,b′)p=(a,b)=(a',b'), maka a=a′a=a' dan b=b′b=b'.

    Bukti. (1) Arah (⇒\Rightarrow) langsung dari syarat separasi. Untuk arah (⇐\Leftarrow), jika p=(a,b)p=(a,b) dengan a∈Aa\in A dan b∈Bb\in B, maka p∈P(P(A∪B))p\in\mathcal P(\mathcal P(A\cup B)) menurut Lema 4.1.6, dan pp memenuhi syarat separasi. Jadi p∈A×Bp\in A\times B.

    (2) Arah (⇐\Leftarrow) adalah kasus khusus dari (1). Untuk arah (⇒\Rightarrow), misalkan (x,y)∈A×B(x,y)\in A\times B. Menurut (1) ada a∈Aa\in A dan b∈Bb\in B dengan (x,y)=(a,b)(x,y)=(a,b). Teorema 4.1.3 memberikan x=ax=a dan y=by=b, sehingga x∈Ax\in A dan y∈By\in B.

    (3) Langsung dari Teorema 4.1.3. ■\blacksquare

    Butir (2) tampak remeh, tetapi buktinya memerlukan Teorema 4.1.3. Tanpa keunikan koordinat, (x,y)(x,y) bisa saja sama dengan suatu (a,b)(a,b) yang koordinatnya berada di AA dan BB, sementara xx sendiri tidak berada di AA. Butir (3) membenarkan ungkapan "koordinat pertama dari pp". Ungkapan ini akan dipakai di Bab 5 untuk mendefinisikan proyeksi, tetapi di sini cukup dicatat bahwa koordinat itu ada dan tunggal.

    Proposisi 4.1.9. Untuk setiap himpunan AA dan BB berlaku A×∅=∅A\times\varnothing=\varnothing dan ∅×B=∅\varnothing\times B=\varnothing.

    Bukti. Andaikan p∈A×∅p\in A\times\varnothing. Menurut Proposisi 4.1.8(1), ada b∈∅b\in\varnothing dengan p=(a,b)p=(a,b) untuk suatu a∈Aa\in A. Ini mustahil karena ∅\varnothing tidak beranggota. Jadi A×∅A\times\varnothing tidak beranggota, dan menurut ekstensionalitas A×∅=∅A\times\varnothing=\varnothing. Argumen untuk ∅×B\varnothing\times B sama, dengan peran koordinat pertama dan kedua dipertukarkan. ■\blacksquare

    Contoh 4.1.10.

    {1,2}×{3}={(1,3),(2,3)},{3}×{1,2}={(3,1),(3,2)}.\{1,2\}\times\{3\}=\{(1,3),(2,3)\},\qquad\{3\}\times\{1,2\}=\{(3,1),(3,2)\}.

    Kesamaan pertama dibuktikan dengan dua inklusi. Jika p∈{1,2}×{3}p\in\{1,2\}\times\{3\}, Proposisi 4.1.8(1) memberikan p=(a,b)p=(a,b) dengan a∈{1,2}a\in\{1,2\} dan b=3b=3, sehingga p=(1,3)p=(1,3) atau p=(2,3)p=(2,3). Sebaliknya, (1,3)(1,3) dan (2,3)(2,3) anggota produk menurut Proposisi 4.1.8(2). Kesamaan kedua dibuktikan dengan cara yang sama.

    Kedua himpunan ini berbeda. Andaikan (1,3)∈{3}×{1,2}(1,3)\in\{3\}\times\{1,2\}. Proposisi 4.1.8(2) akan memberikan 1∈{3}1\in\{3\}, yaitu 1=31=3, dan ini salah. Jadi kesamaan A×B=B×AA\times B=B\times A tidak berlaku untuk semua A,BA,B. Kesamaan itu tetap berlaku, misalnya, bila A=BA=B atau salah satunya kosong (Proposisi 4.1.9).

    Relasi biner

    Definisi 4.1.11 (relasi). Misalkan AA dan BB himpunan. Relasi dari AA ke BB adalah himpunan RR dengan R⊆A×BR\subseteq A\times B. Untuk sembarang objek x,yx,y kita menulis

    x R y:⟺(x,y)∈R,x\,R\,y\quad:\Longleftrightarrow\quad(x,y)\in R,

    dan menulis x̸ ⁣R yx\not\!R\,y bila (x,y)∉R(x,y)\notin R. Karena R⊆A×BR\subseteq A\times B, Proposisi 4.1.8(2) menjamin bahwa x R yx\,R\,y hanya mungkin bila x∈Ax\in A dan y∈By\in B. Relasi dari AA ke AA disebut relasi pada AA.

    Konvensi 4.1.12 (himpunan asal, kodomain, domain, jangkauan). Himpunan RR sendiri tidak menyimpan informasi tentang AA dan BB. Contohnya, ∅\varnothing adalah relasi dari setiap AA ke setiap BB. Karena itu, dalam buku ini frasa "RR relasi dari AA ke BB" selalu menyertakan AA dan BB sebagai bagian dari pernyataan. AA disebut himpunan asal dan BB disebut kodomain. Dari ketiga data tersebut kita membentuk, dengan separasi,

    dom⁡R:={x∈A:∃y∈B (x R y)},ran⁡R:={y∈B:∃x∈A (x R y)},\operatorname{dom}R:=\{x\in A:\exists y\in B\ (x\,R\,y)\},\qquad \operatorname{ran}R:=\{y\in B:\exists x\in A\ (x\,R\,y)\},

    yang masing-masing disebut domain dan jangkauan relasi. Domain dapat merupakan himpunan bagian sejati dari himpunan asal, dan jangkauan dapat merupakan himpunan bagian sejati dari kodomain. Bab 5 akan menambahkan syarat khusus untuk fungsi. Di sini konvensi ini hanya mencegah kita mencampuradukkan "himpunan yang dideklarasikan" dengan "himpunan koordinat yang benar-benar muncul".

    Contoh 4.1.13. Misalkan A={1,2}A=\{1,2\}, B={5,6}B=\{5,6\}, dan H={(1,5)}H=\{(1,5)\} sebagai relasi dari AA ke BB. Jika x H yx\,H\,y, maka (x,y)=(1,5)(x,y)=(1,5), sehingga x=1x=1 dan y=5y=5 menurut Teorema 4.1.3. Jadi dom⁡H={1}\operatorname{dom}H=\{1\} dan ran⁡H={5}\operatorname{ran}H=\{5\}. Karena 2≠12\ne1, berlaku {1}⊊A\{1\}\subsetneq A; karena 6≠56\ne5, berlaku {5}⊊B\{5\}\subsetneq B. Kodomainnya tetap BB.

    Ketergantungan pada himpunan yang dideklarasikan juga berlaku untuk sifat relasi. Ambil J={(1,1),(2,2)}J=\{(1,1),(2,2)\}. Sebagai relasi pada {1,2}\{1,2\}, relasi ini refleksif menurut Definisi 4.1.17 di bawah. Sebagai relasi pada {1,2,3}\{1,2,3\}, relasi yang sama tidak refleksif karena (3,3)∉J(3,3)\notin J. Jadi pertanyaan "apakah JJ refleksif?" tidak bermakna sebelum himpunan AA ditetapkan.

    Contoh 4.1.14 (tiga relasi baku pada AA).

    • Relasi kosong ∅⊆A×A\varnothing\subseteq A\times A. Untuk setiap x,yx,y, pernyataan x ∅ yx\,\varnothing\,y salah.
    • Relasi penuh A×AA\times A. Untuk setiap x,y∈Ax,y\in A, pernyataan x (A×A) yx\,(A\times A)\,y benar.
    • Diagonal ΔA:={p∈A×A:∃a∈A (p=(a,a))}\Delta_A:=\{p\in A\times A:\exists a\in A\ (p=(a,a))\}, dibentuk dengan separasi pada A×AA\times A.

    Proposisi 4.1.15. Untuk x,y∈Ax,y\in A berlaku x ΔA y  ⟺  x=yx\,\Delta_A\,y\iff x=y.

    Bukti. (⇐\Leftarrow) Jika x=yx=y, maka (x,y)=(x,x)(x,y)=(x,x) dengan x∈Ax\in A. Pasangan ini anggota A×AA\times A dan memenuhi syarat separasi dengan saksi a=xa=x. (⇒\Rightarrow) Jika (x,y)∈ΔA(x,y)\in\Delta_A, maka ada a∈Aa\in A dengan (x,y)=(a,a)(x,y)=(a,a). Teorema 4.1.3 memberikan x=ax=a dan y=ay=a, sehingga x=yx=y. ■\blacksquare

    Jadi ΔA\Delta_A adalah relasi kesamaan yang dibatasi pada AA. Kita juga meminjam dari aritmetika urutan biasa << dan ≤\le pada Z\mathbb Z sebagai relasi pada Z\mathbb Z. Sifat-sifat yang dipakai ialah: x≤xx\le x; x≮xx\not<x; jika x≤yx\le y dan y≤xy\le x maka x=yx=y; transitivitas << dan ≤\le; serta bahwa untuk x,y∈Zx,y\in\mathbb Z tidak mungkin x<yx<y dan y<xy<x sekaligus.

    Catatan 4.1.16 (tabel dan digraf). Jika AA berhingga dan kecil, relasi pada AA dapat disajikan sebagai tabel atau sebagai digraf.

    • Dalam tabel, baris xx dan kolom yy diberi tanda bila x R yx\,R\,y.
    • Dalam digraf, setiap anggota AA menjadi titik, dan dibuat panah dari xx ke yy bila x R yx\,R\,y. Panah dari xx ke xx disebut loop.

    Untuk relasi RR yang dibahas di bawah, tabelnya adalah

    RR123
    1✓✓
    2✓✓
    3✓

    Penyajian ini berguna untuk melihat pola dan menemukan calon saksi, tetapi tidak menggantikan bukti, karena tiga alasan:

    1. Tabel atau gambar berhingga yang menampilkan setiap anggota dan setiap pasangan hanya dapat memuat seluruh relasi pada himpunan berhingga. Relasi pada himpunan tak hingga dapat digambarkan secara skematis, tetapi gambar berhingga itu tidak memeriksa seluruh kasus. Klaim tentang relasi pada Z\mathbb Z, atau tentang semua relasi dengan sifat tertentu, memerlukan argumen umum.
    2. Membaca gambar sebagai bukti berarti melakukan pemeriksaan kasus. Pemeriksaan itu sah hanya bila semua kasus yang dituntut kuantifikator benar-benar diperiksa. Transitivitas, misalnya, menuntut pemeriksaan semua rangkaian x R yx\,R\,y, y R zy\,R\,z, bukan hanya rangkaian yang "terlihat".
    3. Gambar harus mencatat seluruh himpunan asal AA sebagai himpunan titik, termasuk titik tanpa panah. Jika titik semacam itu terlewat, gambar tidak lagi menyajikan seluruh data relasi pada AA.

    Karena itu, setiap klaim dalam unit ini tetap disertai argumen.

    Empat sifat relasi pada satu himpunan

    Definisi 4.1.17. Misalkan RR relasi pada AA, yaitu R⊆A×AR\subseteq A\times A. Relasi RR disebut

    refleksif jika ∀x∈A (x R x),simetris jika ∀x,y∈A (x R y⇒y R x),antisimetris jika ∀x,y∈A ((x R y∧y R x)⇒x=y),transitif jika ∀x,y,z∈A ((x R y∧y R z)⇒x R z).\begin{aligned} \textbf{refleksif}\ &\text{jika}\ \forall x\in A\ (x\,R\,x),\\ \textbf{simetris}\ &\text{jika}\ \forall x,y\in A\ (x\,R\,y\Rightarrow y\,R\,x),\\ \textbf{antisimetris}\ &\text{jika}\ \forall x,y\in A\ \bigl((x\,R\,y\land y\,R\,x)\Rightarrow x=y\bigr),\\ \textbf{transitif}\ &\text{jika}\ \forall x,y,z\in A\ \bigl((x\,R\,y\land y\,R\,z)\Rightarrow x\,R\,z\bigr). \end{aligned}

    Untuk perbandingan, RR disebut irrefleksif jika ∀x∈A (x̸ ⁣R x)\forall x\in A\ (x\not\!R\,x), dan asimetris jika ∀x,y∈A (x R y⇒y̸ ⁣R x)\forall x,y\in A\ (x\,R\,y\Rightarrow y\not\!R\,x).

    Membantah suatu sifat berarti membuktikan negasinya. Dengan aturan negasi kuantifikator dari Bab 2, negasi-negasi tersebut adalah sebagai berikut.

    RR tidak ...jika dan hanya jika ada ...
    refleksifx∈Ax\in A dengan x̸ ⁣R xx\not\!R\,x
    simetrisx,y∈Ax,y\in A dengan x R yx\,R\,y dan y̸ ⁣R xy\not\!R\,x
    antisimetrisx,y∈Ax,y\in A dengan x R yx\,R\,y, y R xy\,R\,x, dan x≠yx\ne y
    transitifx,y,z∈Ax,y,z\in A dengan x R yx\,R\,y, y R zy\,R\,z, dan x̸ ⁣R zx\not\!R\,z

    Bentuk saksi untuk transitivitas perlu diperhatikan. Kita harus menunjukkan tiga objek yang membuat kedua premis benar dan kesimpulan salah. Menunjukkan bahwa sebuah pasangan "tidak ada di RR" belum cukup.

    Setiap sifat dalam Definisi 4.1.17 berbentuk kuantifikasi universal atas anggota AA. Tiga di antaranya, yaitu simetris, antisimetris, dan transitif, juga berbentuk implikasi dengan premis yang memuat x R yx\,R\,y. Dua fakta dari Bab 2 akan sering dipakai:

    • implikasi dengan premis salah bernilai benar;
    • kuantifikasi universal atas himpunan kosong bernilai benar.

    Proposisi 4.1.18 (kesamaan). Untuk setiap himpunan AA, diagonal ΔA\Delta_A refleksif, simetris, antisimetris, dan transitif.

    Bukti. Gunakan Proposisi 4.1.15: untuk x,y∈Ax,y\in A, x ΔA yx\,\Delta_A\,y berarti x=yx=y.

    • Refleksif: x=xx=x untuk setiap x∈Ax\in A.
    • Simetris: dari x=yx=y diperoleh y=xy=x.
    • Antisimetris: premis x=y∧y=xx=y\land y=x sudah memuat kesimpulan x=yx=y.
    • Transitif: dari x=yx=y dan y=zy=z diperoleh x=zx=z dengan substitusi. ■\blacksquare

    Proposisi ini menunjukkan bahwa sebuah relasi bisa simetris dan antisimetris sekaligus. Kedua sifat itu bukan lawan satu sama lain. Hal ini dibahas lebih lanjut di bagian akhir.

    Proposisi 4.1.19 (relasi kosong). Misalkan AA himpunan.

    1. Relasi kosong pada AA bersifat simetris, antisimetris, transitif, irrefleksif, dan asimetris.
    2. Relasi kosong pada AA refleksif jika dan hanya jika A=∅A=\varnothing.
    3. Jika A=∅A=\varnothing, satu-satunya relasi pada AA adalah ∅\varnothing, dan relasi itu memiliki keempat sifat dalam Definisi 4.1.17.

    Bukti. (1) Untuk setiap x,y∈Ax,y\in A, pernyataan x ∅ yx\,\varnothing\,y salah. Pada sifat simetris, antisimetris, transitif, dan asimetris, premis setiap implikasi memuat suatu konjung berbentuk x ∅ yx\,\varnothing\,y. Premis itu salah, sehingga implikasinya benar untuk setiap pilihan x,y,zx,y,z. Sifat-sifat ini berlaku secara vakum. Irrefleksivitas berlaku karena x ∅ xx\,\varnothing\,x salah untuk setiap xx.

    (2) Jika A≠∅A\ne\varnothing, ambil a∈Aa\in A. Maka (a,a)∉∅(a,a)\notin\varnothing, sehingga aa menjadi saksi kegagalan refleksivitas. Jika A=∅A=\varnothing, pernyataan ∀x∈∅ (x ∅ x)\forall x\in\varnothing\ (x\,\varnothing\,x) benar secara vakum.

    (3) Menurut Proposisi 4.1.9, ∅×∅=∅\varnothing\times\varnothing=\varnothing. Jadi relasi RR pada ∅\varnothing memenuhi R⊆∅R\subseteq\varnothing, yang berarti R=∅R=\varnothing. Sifat simetris, antisimetris, dan transitif berlaku menurut (1), dan refleksif berlaku menurut (2). ■\blacksquare

    Butir (2) dan (3) membantah anggapan bahwa "refleksif berarti relasinya memuat sesuatu". Refleksivitas hanya menuntut x R xx\,R\,x untuk setiap xx yang ada di AA. Pada A=∅A=\varnothing, tuntutan itu kosong. Relasi pada ∅\varnothing juga sekaligus refleksif dan irrefleksif. Hal ini tidak kontradiktif, karena kedua klaim universal itu benar secara vakum.

    Proposisi 4.1.20 (relasi penuh). Relasi A×AA\times A refleksif, simetris, dan transitif. Relasi ini antisimetris jika dan hanya jika ∀x,y∈A (x=y)\forall x,y\in A\ (x=y), yaitu jika AA memiliki paling banyak satu anggota.

    Bukti. Setiap pernyataan x (A×A) yx\,(A\times A)\,y dengan x,y∈Ax,y\in A benar menurut Proposisi 4.1.8(2). Akibatnya kesimpulan pada definisi refleksif, simetris, dan transitif selalu benar.

    Untuk antisimetri, misalkan ∀x,y∈A (x=y)\forall x,y\in A\ (x=y). Maka kesimpulan x=yx=y pada definisi antisimetri selalu benar. Sebaliknya, jika ada a,b∈Aa,b\in A dengan a≠ba\ne b, maka a (A×A) ba\,(A\times A)\,b dan b (A×A) ab\,(A\times A)\,a benar. Jadi a,ba,b menjadi saksi kegagalan antisimetri. ■\blacksquare

    Contoh 4.1.21 (urutan pada Z\mathbb Z). Contoh berikut memakai fakta urutan yang dipinjam.

    • Relasi ≤\le refleksif, antisimetris, dan transitif. Relasi ini tidak simetris dengan saksi 0≤10\le1 tetapi 1≰01\not\le0.
    • Relasi << irrefleksif, transitif, dan asimetris. Asimetri berlaku karena x<yx<y dan y<xy<x tidak dapat terjadi bersamaan. Relasi ini juga antisimetris secara vakum: premis x<y∧y<xx<y\land y<x tidak pernah benar. Relasi ini tidak refleksif dengan saksi 0≮00\not<0, dan tidak simetris dengan saksi 0<10<1 tetapi 1≮01\not<0.

    Contoh pokok: relasi yang transitif melalui dua blok

    Tetapkan A={1,2,3}A=\{1,2,3\} dan

    R={(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1)}.R=\{(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1)\}.

    Ada klaim yang keliru dan mudah muncul tentang relasi ini: "RR tidak transitif, karena gabungan pasangan (1,2)(1,2) dan (2,1)(2,1), atau rangkaian lebih lanjut darinya, akan menghasilkan sesuatu di luar RR." Klaim ini salah. Dua bukti berikut menunjukkan bahwa RR transitif. Bukti pertama memeriksa semua kasus. Bukti kedua memperlihatkan struktur yang menjelaskan mengapa transitivitas berlaku.

    Proposisi 4.1.22. Relasi RR pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\} bersifat refleksif, simetris, dan transitif, tetapi tidak antisimetris.

    Bukti. Refleksif. Pasangan (1,1),(2,2),(3,3)(1,1),(2,2),(3,3) semuanya anggota RR.

    Simetris. Pasangan dengan koordinat sama adalah kebalikan dirinya sendiri. Dua pasangan lainnya, (1,2)(1,2) dan (2,1)(2,1), saling berkebalikan dan keduanya anggota RR. Jadi untuk setiap (x,y)∈R(x,y)\in R, kebalikannya (y,x)(y,x) juga anggota RR.

    Tidak antisimetris. Saksinya x=1x=1 dan y=2y=2: berlaku 1 R 21\,R\,2, 2 R 12\,R\,1, dan 1≠21\ne2.

    Transitif, bukti pertama: pemeriksaan semua rangkaian. Kita harus memeriksa setiap tripel (x,y,z)(x,y,z) dengan (x,y)∈R(x,y)\in R dan (y,z)∈R(y,z)\in R. Untuk tiap (x,y)∈R(x,y)\in R, daftarkan semua pasangan di RR yang koordinat pertamanya yy. Pasangan berkoordinat pertama 11 adalah (1,1),(1,2)(1,1),(1,2). Berkoordinat pertama 22 adalah (2,2),(2,1)(2,2),(2,1). Berkoordinat pertama 33 hanya (3,3)(3,3).

    (x,y)∈R(x,y)\in R(y,z)∈R(y,z)\in R yang mungkinkesimpulan (x,z)(x,z)di RR?
    (1,1)(1,1)(1,1)(1,1), (1,2)(1,2)(1,1)(1,1), (1,2)(1,2)ya, ya
    (1,2)(1,2)(2,2)(2,2), (2,1)(2,1)(1,2)(1,2), (1,1)(1,1)ya, ya
    (2,2)(2,2)(2,2)(2,2), (2,1)(2,1)(2,2)(2,2), (2,1)(2,1)ya, ya
    (2,1)(2,1)(1,1)(1,1), (1,2)(1,2)(2,1)(2,1), (2,2)(2,2)ya, ya
    (3,3)(3,3)(3,3)(3,3)(3,3)(3,3)ya

    Tabel ini memuat kesembilan rangkaian yang mungkin, dan setiap kesimpulannya berada di RR. Rangkaian yang tampak "berbahaya", yaitu 1 R 21\,R\,2 lalu 2 R 12\,R\,1, hanya menghasilkan (1,1)(1,1). Pasangan ini sudah ada di RR. Tidak ada rangkaian yang menghubungkan {1,2}\{1,2\} dengan 33, karena tidak ada pasangan di RR yang memuat 33 bersama 11 atau 22.

    Transitif, bukti kedua: dua blok. Tulis C={1,2}C=\{1,2\} dan D={3}D=\{3\}. Kita perlu dua fakta.

    Fakta pertama: R=(C×C)∪(D×D)R=(C\times C)\cup(D\times D). Dengan Proposisi 4.1.8, C×C={(1,1),(1,2),(2,1),(2,2)}C\times C=\{(1,1),(1,2),(2,1),(2,2)\} dan D×D={(3,3)}D\times D=\{(3,3)\}. Setiap anggota RR muncul di salah satu daftar ini, dan setiap anggota kedua daftar ini muncul di RR. Jadi kedua inklusi berlaku.

    Fakta kedua: C∩D=∅C\cap D=\varnothing, karena 3≠13\ne1 dan 3≠23\ne2.

    Sekarang misalkan x R yx\,R\,y dan y R zy\,R\,z. Ada blok K∈{C,D}K\in\{C,D\} dengan (x,y)∈K×K(x,y)\in K\times K, dan ada blok L∈{C,D}L\in\{C,D\} dengan (y,z)∈L×L(y,z)\in L\times L. Maka y∈Ky\in K dan y∈Ly\in L, sehingga y∈K∩Ly\in K\cap L. Andaikan K≠LK\ne L. Maka {K,L}={C,D}\{K,L\}=\{C,D\}, sehingga K∩L=C∩D=∅K\cap L=C\cap D=\varnothing, dan ini bertentangan dengan y∈K∩Ly\in K\cap L. Jadi K=LK=L. Akibatnya x∈Kx\in K dan z∈L=Kz\in L=K, sehingga (x,z)∈K×K⊆R(x,z)\in K\times K\subseteq R. ■\blacksquare

    Bukti kedua tidak memakai daftar rangkaian sama sekali. Yang dipakai hanyalah fakta bahwa RR merupakan gabungan "persegi" K×KK\times K atas blok-blok yang saling lepas. Satu-satunya cara rangkaian x R y R zx\,R\,y\,R\,z dapat berpindah blok adalah melalui anggota bersama yy. Karena blok-bloknya saling lepas, perpindahan seperti itu mustahil. Argumen ini berlaku untuk banyak relasi lain, dan polanya akan menjadi pusat pembahasan 4.2.

    Contoh 4.1.23 (relasi refleksif dan simetris yang sungguh tidak transitif). Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\} yang sama, definisikan

    T=R∪{(2,3),(3,2)}={(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1),(2,3),(3,2)}.T=R\cup\{(2,3),(3,2)\}=\{(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1),(2,3),(3,2)\}.
    • Refleksif: T⊇RT\supseteq R, dan RR memuat ketiga pasangan diagonal.
    • Simetris: pasangan diagonal adalah kebalikan dirinya sendiri. Pasangan selain diagonal muncul berpasangan dengan kebalikannya: (1,2)(1,2) dengan (2,1)(2,1), dan (2,3)(2,3) dengan (3,2)(3,2).
    • Tidak transitif: saksinya x=1x=1, y=2y=2, z=3z=3. Kedua premis 1 T 21\,T\,2 dan 2 T 32\,T\,3 benar, tetapi (1,3)∉T(1,3)\notin T.
    • Tidak antisimetris: saksi yang sama dengan saksi untuk RR.

    Mengapa argumen dua blok gagal untuk TT? Andaikan TT ditulis sebagai gabungan persegi K×KK\times K atas blok-blok yang saling lepas. Karena (1,2)∈T(1,2)\in T, ada blok yang memuat 11 dan 22. Karena (2,3)∈T(2,3)\in T, ada blok yang memuat 22 dan 33. Kedua blok itu sama-sama memuat 22, sehingga keduanya blok yang sama. Akibatnya (1,3)(1,3) berada di persegi blok itu, sehingga (1,3)∈T(1,3)\in T, padahal kenyataannya tidak. Jadi TT tidak berbentuk seperti itu.

    Yang berlaku justru

    T=({1,2}×{1,2})∪({2,3}×{2,3}).T=(\{1,2\}\times\{1,2\})\cup(\{2,3\}\times\{2,3\}).

    Kedua inklusi diperiksa dengan mendaftar: persegi pertama memuat (1,1),(1,2),(2,1),(2,2)(1,1),(1,2),(2,1),(2,2), persegi kedua memuat (2,2),(2,3),(3,2),(3,3)(2,2),(2,3),(3,2),(3,3), dan gabungan kedua daftar tepat ketujuh anggota TT. Kedua blok {1,2}\{1,2\} dan {2,3}\{2,3\} menutupi AA tetapi tumpang tindih di 22, dan di titik itulah transitivitas gagal (bandingkan Latihan 4.1.L7(b)).

    Ringkasan sifat pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\}. Kolom terakhir memuat relasi L={(1,2),(1,3),(2,3)}L=\{(1,2),(1,3),(2,3)\}, yaitu << yang dibatasi pada AA. Pembenarannya dikerjakan di Latihan 4.1.L4.

    sifatΔA\Delta_A∅\varnothingA×AA\times ARRTTLL
    refleksifyatidakyayayatidak
    simetrisyayayayayatidak
    antisimetrisyayatidaktidaktidakya
    transitifyayayayatidakya
    asimetristidakyatidaktidaktidakya

    Pembenaran setiap entri:

    • Kolom ΔA\Delta_A, ∅\varnothing, dan A×AA\times A mengikuti Proposisi 4.1.18–4.1.20. Asimetri gagal pada ΔA\Delta_A: premis asimetri benar untuk x=y=1x=y=1 karena 1 ΔA 11\,\Delta_A\,1, tetapi kesimpulan 1̸ ⁣ΔA 11\not\!\Delta_A\,1 salah. Asimetri gagal pada A×AA\times A dengan saksi yang sama, karena 1 (A×A) 11\,(A\times A)\,1.
    • Kolom RR dan TT mengikuti Proposisi 4.1.22 dan Contoh 4.1.23. Asimetri gagal pada keduanya dengan saksi x=y=1x=y=1, karena 1 R 11\,R\,1 dan 1 T 11\,T\,1.

    Antisimetris, tidak simetris, dan asimetris

    Tiga istilah ini sering tertukar karena namanya mirip. Isi logisnya berbeda.

    • Tidak simetris hanyalah negasi dari simetris: ada satu pasangan x R yx\,R\,y yang kebalikannya tidak berlaku.
    • Antisimetris adalah syarat universal: hubungan dua arah hanya boleh terjadi antara objek yang sama.
    • Asimetris adalah syarat universal yang lebih kuat: hubungan dua arah tidak boleh terjadi sama sekali, termasuk dari suatu objek ke dirinya sendiri.

    Hubungan antara ketiganya dirumuskan dalam proposisi berikut.

    Proposisi 4.1.24. Misalkan RR relasi pada AA.

    1. RR asimetris jika dan hanya jika RR antisimetris dan irrefleksif.
    2. RR simetris dan antisimetris jika dan hanya jika R⊆ΔAR\subseteq\Delta_A.

    Bukti. (1) Untuk arah (⇒\Rightarrow), misalkan RR asimetris.

    • Irrefleksif: ambil x∈Ax\in A dan andaikan x R xx\,R\,x. Asimetri dengan y=xy=x memberikan x̸ ⁣R xx\not\!R\,x, sebuah kontradiksi. Jadi x̸ ⁣R xx\not\!R\,x.
    • Antisimetris: premis x R y∧y R xx\,R\,y\land y\,R\,x tidak pernah benar, sebab x R yx\,R\,y memaksa y̸ ⁣R xy\not\!R\,x. Implikasinya benar secara vakum.

    Untuk arah (⇐\Leftarrow), misalkan RR antisimetris dan irrefleksif, dan misalkan x R yx\,R\,y. Andaikan y R xy\,R\,x. Antisimetri memberikan x=yx=y, sehingga x R xx\,R\,x, dan ini bertentangan dengan irrefleksivitas. Jadi y̸ ⁣R xy\not\!R\,x.

    (2) Untuk arah (⇒\Rightarrow), misalkan RR simetris dan antisimetris. Ambil p∈R⊆A×Ap\in R\subseteq A\times A. Menurut Proposisi 4.1.8(1), p=(x,y)p=(x,y) untuk suatu x,y∈Ax,y\in A. Simetri memberikan y R xy\,R\,x, lalu antisimetri memberikan x=yx=y. Jadi p=(x,x)∈ΔAp=(x,x)\in\Delta_A menurut Proposisi 4.1.15.

    Untuk arah (⇐\Leftarrow), misalkan R⊆ΔAR\subseteq\Delta_A. Jika x R yx\,R\,y, maka x=yx=y menurut Proposisi 4.1.15. Akibatnya:

    • Antisimetri: kesimpulan x=yx=y sudah diperoleh dari premis x R yx\,R\,y saja.
    • Simetri: (y,x)=(x,y)∈R(y,x)=(x,y)\in R dengan substitusi, sehingga y R xy\,R\,x. ■\blacksquare

    Contoh 4.1.25 (keempat kombinasi simetri dan antisimetri). Tulis S={(1,2)}S=\{(1,2)\} sebagai relasi pada {1,2}\{1,2\} dan U={(1,2),(2,1),(1,3)}U=\{(1,2),(2,1),(1,3)\} sebagai relasi pada {1,2,3}\{1,2,3\}.

    antisimetristidak antisimetris
    simetrisΔ{1,2}\Delta_{\{1,2\}}, juga ∅\varnothing{1,2}×{1,2}\{1,2\}\times\{1,2\}
    tidak simetrisSSUU

    Pembenaran setiap sel:

    • Sel kiri atas mengikuti Proposisi 4.1.24(2), karena kedua relasi termuat dalam diagonal.
    • Sel kanan atas mengikuti Proposisi 4.1.20.
    • Untuk SS: relasi ini tidak simetris karena 1 S 21\,S\,2 tetapi 2̸ ⁣S 12\not\!S\,1. Relasi ini antisimetris karena premisnya tidak pernah benar. Jika x S yx\,S\,y dan y S xy\,S\,x, maka (x,y)=(1,2)(x,y)=(1,2) dan (y,x)=(1,2)(y,x)=(1,2). Teorema 4.1.3 memberi y=2y=2 dari kesamaan pertama dan y=1y=1 dari kesamaan kedua, sehingga 1=21=2, mustahil.
    • Untuk UU: tidak simetris karena 1 U 31\,U\,3 tetapi 3̸ ⁣U 13\not\!U\,1. Tidak antisimetris karena 1 U 21\,U\,2, 2 U 12\,U\,1, dan 1≠21\ne2.

    Sel kanan bawah memakai tiga titik karena alasan berikut. Pada himpunan dua titik {1,2}\{1,2\}, kegagalan antisimetri memaksa (1,2)(1,2) dan (2,1)(2,1) keduanya ada di relasi. Akibatnya semua pasangan yang mungkin, yaitu dua pasangan itu dan pasangan diagonal, sudah memiliki kebalikan di relasi, sehingga relasi itu simetris. Latihan 4.1.L6 meminta pembuktian rinci fakta ini.

    Jadi "antisimetris" tidak berarti "tidak simetris", dan "tidak simetris" tidak berarti "antisimetris". Implikasi "antisimetris ⇒\Rightarrow tidak simetris" dibantah oleh sel kiri atas (Δ{1,2}\Delta_{\{1,2\}} antisimetris sekaligus simetris), dan implikasi "tidak simetris ⇒\Rightarrow antisimetris" dibantah oleh sel kanan bawah (UU).

    Di antara sifat-sifat ini, asimetris mengimplikasikan antisimetris dan irrefleksif (Proposisi 4.1.24(1)), tetapi kebalikan implikasi pertama gagal pada ΔA\Delta_A untuk setiap A≠∅A\ne\varnothing. Asimetris juga mengimplikasikan "tidak simetris" hanya bila R≠∅R\ne\varnothing. Memang, jika RR asimetris dan ada x R yx\,R\,y, simetri akan memberi y R xy\,R\,x sedangkan asimetri memberi y̸ ⁣R xy\not\!R\,x; jadi x,yx,y menjadi saksi bahwa RR tidak simetris. Sebaliknya, relasi kosong bersifat asimetris dan simetris sekaligus secara vakum (Proposisi 4.1.19). Jadi asimetri pun bukan negasi simetri.

    Latihan

    Latihan 4.1.L1. (a) Buktikan bahwa (a,b)=(b,a)(a,b)=(b,a) jika dan hanya jika a=ba=b. (b) Tentukan ⋂(2,2)\bigcap(2,2) dan ⋃(2,2)\bigcup(2,2), lalu periksa kecocokannya dengan Lema 4.1.2.

    Latihan 4.1.L2. Buktikan bahwa A×B=∅A\times B=\varnothing jika dan hanya jika A=∅A=\varnothing atau B=∅B=\varnothing.

    Latihan 4.1.L3 (relasi kosong dan kesamaan). (a) Daftarkan semua relasi pada A={1}A=\{1\}, lalu tentukan untuk masing-masing apakah relasi itu refleksif, simetris, antisimetris, transitif, dan asimetris. (b) Untuk A=∅A=\varnothing, apakah relasi kosong sama dengan ΔA\Delta_A? Jelaskan. (c) Buktikan bahwa jika A≠∅A\ne\varnothing, maka ΔA\Delta_A tidak asimetris.

    Latihan 4.1.L4. Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, selidiki sifat refleksif, irrefleksif, simetris, antisimetris, asimetris, dan transitif untuk

    L={(1,2),(1,3),(2,3)}danM={(1,1),(1,2),(2,3)}.L=\{(1,2),(1,3),(2,3)\}\qquad\text{dan}\qquad M=\{(1,1),(1,2),(2,3)\}.

    Untuk transitivitas, periksa semua rangkaian.

    Latihan 4.1.L5. Pada Z\mathbb Z definisikan x Q yx\,Q\,y jika x≤y+1x\le y+1. Tentukan apakah QQ refleksif, simetris, antisimetris, dan transitif. Berikan bukti atau saksi.

    Latihan 4.1.L6. Buktikan bahwa setiap relasi pada {1,2}\{1,2\} yang tidak antisimetris pasti simetris.

    Latihan 4.1.L7 (dua blok secara umum). Misalkan C,D⊆AC,D\subseteq A dengan C∩D=∅C\cap D=\varnothing dan C∪D=AC\cup D=A. Didefinisikan E=(C×C)∪(D×D)E=(C\times C)\cup(D\times D). (a) Buktikan bahwa EE refleksif, simetris, dan transitif pada AA. (b) Tunjukkan bahwa tanpa syarat C∩D=∅C\cap D=\varnothing, transitivitas dapat gagal. (c) Tunjukkan bahwa tanpa syarat C∪D=AC\cup D=A, refleksivitas dapat gagal.

    Pembahasan

    4.1.L1. (a) Menurut Teorema 4.1.3, (a,b)=(b,a)(a,b)=(b,a) jika dan hanya jika a=ba=b dan b=ab=a. Konjungsi ini setara dengan a=ba=b.

    (b) (2,2)={{2},{2}}={{2}}(2,2)=\{\{2\},\{2\}\}=\{\{2\}\}, sehingga himpunan ini hanya beranggota {2}\{2\}. Maka ⋂(2,2)={2}\bigcap(2,2)=\{2\} dan ⋃(2,2)={2}\bigcup(2,2)=\{2\}. Lema 4.1.2 memberikan {a}={2}\{a\}=\{2\} dan {a,b}={2,2}={2}\{a,b\}=\{2,2\}=\{2\}, jadi hasilnya cocok. Contoh ini memperlihatkan bahwa lema tetap berlaku ketika pasangan "runtuh" menjadi himpunan beranggota satu.

    4.1.L2. (⇐\Leftarrow) Ini adalah Proposisi 4.1.9. (⇒\Rightarrow) Kita buktikan kontraposisinya. Misalkan A≠∅A\ne\varnothing dan B≠∅B\ne\varnothing. Ambil a∈Aa\in A dan b∈Bb\in B. Menurut Proposisi 4.1.8(2), (a,b)∈A×B(a,b)\in A\times B, sehingga A×B≠∅A\times B\ne\varnothing.

    Perhatikan bahwa pengambilan aa dan bb di sini hanyalah eliminasi dua kuantor eksistensial, masing-masing satu kali. Tidak ada pemilihan tak hingga yang diperlukan.

    4.1.L3. (a) Karena {1}×{1}={(1,1)}\{1\}\times\{1\}=\{(1,1)\}, relasi pada {1}\{1\} adalah himpunan bagian dari {(1,1)}\{(1,1)\}. Jadi hanya ada dua relasi: ∅\varnothing dan E1={(1,1)}E_1=\{(1,1)\}.

    • Relasi ∅\varnothing. Menurut Proposisi 4.1.19, relasi ini tidak refleksif (saksinya 11) serta simetris, antisimetris, transitif, dan asimetris.
    • Relasi E1=Δ{1}E_1=\Delta_{\{1\}}. Menurut Proposisi 4.1.18, relasi ini refleksif, simetris, antisimetris, dan transitif. Relasi ini tidak asimetris, karena 1 E1 11\,E_1\,1 membuat premis asimetri benar untuk x=y=1x=y=1, tetapi kesimpulan 1̸ ⁣E1 11\not\!E_1\,1 salah.

    (b) Ya. Δ∅⊆∅×∅=∅\Delta_\varnothing\subseteq\varnothing\times\varnothing=\varnothing, sehingga Δ∅=∅\Delta_\varnothing=\varnothing. Pada himpunan kosong, relasi kesamaan dan relasi kosong adalah objek yang sama. Hal ini konsisten dengan Proposisi 4.1.19(3).

    (c) Ambil a∈Aa\in A. Maka a ΔA aa\,\Delta_A\,a. Asimetri dengan x=y=ax=y=a akan menuntut a̸ ⁣ΔA aa\not\!\Delta_A\,a, padahal itu salah. Jadi aa menjadi saksi bahwa ΔA\Delta_A tidak asimetris.

    4.1.L4. Relasi LL.

    • Tidak refleksif: (1,1)∉L(1,1)\notin L.
    • Irrefleksif: tidak ada pasangan diagonal di LL.
    • Tidak simetris: 1 L 21\,L\,2 tetapi (2,1)∉L(2,1)\notin L.
    • Asimetris: kebalikan setiap anggota LL, yaitu (2,1)(2,1), (3,1)(3,1), dan (3,2)(3,2), tidak ada di LL.
    • Antisimetris: mengikuti dari asimetri menurut Proposisi 4.1.24(1).
    • Transitif: rangkaian yang mungkin hanya yang pasangan keduanya berkoordinat pertama sama dengan koordinat kedua pasangan pertama. Untuk (1,2)(1,2), pasangan di LL yang berawal 22 hanya (2,3)(2,3), sehingga kesimpulannya (1,3)∈L(1,3)\in L. Untuk (1,3)(1,3) dan (2,3)(2,3), tidak ada pasangan di LL yang berawal 33. Jadi hanya ada satu rangkaian, dan kesimpulannya berada di LL.

    Relasi MM.

    • Tidak refleksif: (2,2)∉M(2,2)\notin M.
    • Tidak irrefleksif: 1 M 11\,M\,1.
    • Tidak simetris: 1 M 21\,M\,2 tetapi (2,1)∉M(2,1)\notin M.
    • Antisimetris: satu-satunya pasangan (x,y)∈M(x,y)\in M yang kebalikannya juga di MM adalah (1,1)(1,1), dan untuk pasangan itu x=yx=y. Kebalikan (1,2)(1,2) dan (2,3)(2,3) tidak ada di MM.
    • Tidak asimetris: 1 M 11\,M\,1 membuat premis asimetri benar untuk x=y=1x=y=1, sedangkan kesimpulannya salah.
    • Tidak transitif: saksinya x=1x=1, y=2y=2, z=3z=3. Premis 1 M 21\,M\,2 dan 2 M 32\,M\,3 benar, tetapi (1,3)∉M(1,3)\notin M. Satu saksi sudah cukup untuk membantah transitivitas, tetapi pemeriksaan lengkap memberi gambaran utuh. Rangkaian lainnya, yaitu (1,1)(1,1) lalu (1,1)(1,1) dan (1,1)(1,1) lalu (1,2)(1,2), menghasilkan (1,1)(1,1) dan (1,2)(1,2), keduanya di MM. Tidak ada pasangan di MM yang berawal 33, sehingga (2,3)(2,3) tidak memulai rangkaian. Jadi dari tiga rangkaian, hanya (1,2),(2,3)(1,2),(2,3) yang gagal.

    4.1.L5.

    • Refleksif: x≤x+1x\le x+1 untuk setiap x∈Zx\in\mathbb Z.
    • Tidak simetris: 0 Q 50\,Q\,5 karena 0≤60\le6, tetapi 5 Q 05\,Q\,0 salah karena 5≤15\le1 salah.
    • Tidak antisimetris: 0 Q 10\,Q\,1 karena 0≤20\le2, dan 1 Q 01\,Q\,0 karena 1≤11\le1, tetapi 0≠10\ne1.
    • Tidak transitif: 2 Q 12\,Q\,1 karena 2≤22\le2, dan 1 Q 01\,Q\,0 karena 1≤11\le1, tetapi 2 Q 02\,Q\,0 salah karena 2≤12\le1 salah.

    Relasi ini menunjukkan bahwa sedikit "kelonggaran" pada ≤\le merusak antisimetri dan transitivitas, walaupun refleksivitasnya tetap terjaga.

    4.1.L6. Misalkan VV relasi pada {1,2}\{1,2\} yang tidak antisimetris. Maka ada x,y∈{1,2}x,y\in\{1,2\} dengan x V yx\,V\,y, y V xy\,V\,x, dan x≠yx\ne y. Karena hanya ada dua anggota, {x,y}={1,2}\{x,y\}=\{1,2\}, sehingga (1,2)∈V(1,2)\in V dan (2,1)∈V(2,1)\in V.

    Sekarang buktikan simetri. Ambil (u,v)∈V(u,v)\in V. Karena u,v∈{1,2}u,v\in\{1,2\}, pasangan (u,v)(u,v) adalah salah satu dari (1,1),(2,2),(1,2),(2,1)(1,1),(2,2),(1,2),(2,1):

    • Jika u=vu=v (pasangan (1,1)(1,1) atau (2,2)(2,2)), maka (v,u)=(u,v)∈V(v,u)=(u,v)\in V.
    • Jika (u,v)=(1,2)(u,v)=(1,2), maka (v,u)=(2,1)∈V(v,u)=(2,1)\in V.
    • Jika (u,v)=(2,1)(u,v)=(2,1), maka (v,u)=(1,2)∈V(v,u)=(1,2)\in V.

    Keempat kemungkinan sudah tercakup, jadi VV simetris.

    4.1.L7. (a) Bagian ini dikerjakan per sifat.

    • Refleksif: ambil x∈A=C∪Dx\in A=C\cup D. Jika x∈Cx\in C, maka (x,x)∈C×C(x,x)\in C\times C. Jika x∈Dx\in D, maka (x,x)∈D×D(x,x)\in D\times D. Pada kedua kasus (x,x)∈E(x,x)\in E.
    • Simetris: jika (x,y)∈K×K(x,y)\in K\times K dengan K∈{C,D}K\in\{C,D\}, maka x,y∈Kx,y\in K, sehingga (y,x)∈K×K⊆E(y,x)\in K\times K\subseteq E.
    • Transitif: argumennya sama persis dengan bukti kedua Proposisi 4.1.22. Blok KK yang memuat x,yx,y dan blok LL yang memuat y,zy,z beririsan di yy. Karena C∩D=∅C\cap D=\varnothing, haruslah K=LK=L, sehingga (x,z)∈K×K⊆E(x,z)\in K\times K\subseteq E.

    Perhatikan kasus batas. Jika C=∅C=\varnothing, maka C×C=∅C\times C=\varnothing dan E=D×D=A×AE=D\times D=A\times A, sehingga argumen tetap berlaku. Jika A=∅A=\varnothing, maka C=D=∅C=D=\varnothing dan E=∅E=\varnothing, yang memiliki ketiga sifat menurut Proposisi 4.1.19.

    (b) Ambil A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, C={1,2}C=\{1,2\}, dan D={2,3}D=\{2,3\}. Maka C∪D=AC\cup D=A tetapi C∩D={2}C\cap D=\{2\}. Gabungan (C×C)∪(D×D)(C\times C)\cup(D\times D) tepat sama dengan relasi TT pada Contoh 4.1.23, yang tidak transitif dengan saksi 1,2,31,2,3.

    (c) Ambil A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, C={1,2}C=\{1,2\}, dan D=∅D=\varnothing. Maka C∩D=∅C\cap D=\varnothing, tetapi C∪D={1,2}≠AC\cup D=\{1,2\}\ne A. Di sini E={(1,1),(1,2),(2,1),(2,2)}E=\{(1,1),(1,2),(2,1),(2,2)\} dan (3,3)∉E(3,3)\notin E, sehingga refleksivitas pada AA gagal dengan saksi 33. Hasil ini sejalan dengan Konvensi 4.1.12: sifat refleksif bergantung pada himpunan AA yang dideklarasikan.

    Contoh RR dan TT memperlihatkan perbedaan yang menentukan. Relasi RR refleksif, simetris, dan transitif, dan ia tersusun dari dua blok {1,2}\{1,2\} dan {3}\{3\} yang saling lepas serta menutupi seluruh AA. Relasi TT refleksif dan simetris, tetapi blok-bloknya {1,2}\{1,2\} dan {2,3}\{2,3\} tumpang tindih, dan transitivitasnya gagal tepat di titik tumpang tindih itu.

    Latihan 4.1.L7 menunjukkan satu arah hubungan ini untuk dua blok. Unit 4.2 menjadikan hubungan ini hasil umum. Relasi yang refleksif, simetris, dan transitif disebut relasi ekuivalensi. Kita akan membuktikan bahwa relasi ekuivalensi pada AA berkorespondensi dengan cara membagi AA menjadi blok-blok tak kosong yang saling lepas, termasuk dalam kasus A=∅A=\varnothing. Kita juga akan membuktikan bahwa kedua konstruksi tersebut saling membalik.

    Untuk penyajian pembanding definisi relasi dan sifat-sifat dasarnya, lihat [R4-2].

    4.2 Relasi Ekuivalensi dan Partisi Himpunan

    Di 4.1 kita memeriksa relasi

    R={(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1)}R=\{(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1)\}

    pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\}. Relasi itu dapat ditulis sebagai R=(C×C)∪(D×D)R=(C\times C)\cup(D\times D) dengan C={1,2}C=\{1,2\} dan D={3}D=\{3\}. Jadi RR tidak lain adalah relasi "berada dalam kelompok yang sama", dengan kelompok CC dan DD. Unit ini menunjukkan bahwa bentuk itu bukan kebetulan. Setiap relasi yang refleksif, simetris, dan transitif membagi himpunannya menjadi kelompok yang saling lepas. Sebaliknya, setiap pembagian semacam itu menentukan relasi dengan ketiga sifat tersebut. Kedua cara pandang ini memuat informasi yang persis sama.

    Motivasinya datang dari kebiasaan mengelompokkan. Kita sering ingin menganggap dua objek "sama untuk keperluan tertentu", misalnya dua kata yang huruf pertamanya sama, atau dua kata yang panjangnya sama. Agar anggapan itu benar-benar menghasilkan kelompok, ada tiga tuntutan minimal:

    1. setiap objek sekelompok dengan dirinya sendiri;
    2. jika xx sekelompok dengan yy, maka yy sekelompok dengan xx;
    3. jika xx sekelompok dengan yy dan yy sekelompok dengan zz, maka xx sekelompok dengan zz.

    Tuntutan ketiga paling sering dilanggar dalam praktik. Relasi "mirip" atau "cukup dekat" biasanya memenuhi dua tuntutan pertama, tetapi rantai kemiripan dapat menyambungkan objek yang sama sekali tidak mirip. Akibat kegagalan itu kita lihat pada Contoh 4.2.8.

    Relasi ekuivalensi

    Definisi 4.2.1 (relasi ekuivalensi). Misalkan AA himpunan dan ∼  ⊆A×A\sim\;\subseteq A\times A. Relasi ∼\sim disebut relasi ekuivalensi pada AA jika ia refleksif, simetris, dan transitif pada AA dalam arti 4.1:

    ∀x∈A  (x∼x),∀x,y∈A  (x∼y⇒y∼x),∀x,y,z∈A  ((x∼y∧y∼z)⇒x∼z).\begin{aligned} &\forall x\in A\;(x\sim x),\\ &\forall x,y\in A\;(x\sim y\Rightarrow y\sim x),\\ &\forall x,y,z\in A\;((x\sim y\land y\sim z)\Rightarrow x\sim z). \end{aligned}

    Frasa "pada AA" bukan hiasan. Refleksivitas bergantung pada himpunan yang dinyatakan. Himpunan pasangan {(1,1),(2,2)}\{(1,1),(2,2)\} adalah relasi ekuivalensi pada {1,2}\{1,2\}. Sebagai relasi pada {1,2,3}\{1,2,3\}, himpunan yang sama tidak refleksif karena (3,3)(3,3) tidak termuat di dalamnya. Simetri dan transitivitas hanya membicarakan pasangan yang sudah ada dalam relasi, sehingga tidak terpengaruh oleh penggantian AA dengan himpunan yang lebih besar.

    Contoh 4.2.2.

    (a) Kesamaan. Untuk sebarang himpunan AA, bentuk dengan separasi pada A×AA\times A

    ΔA={p∈A×A:∃x (x∈A∧p=(x,x))}.\Delta_A=\{p\in A\times A:\exists x\,(x\in A\land p=(x,x))\}.

    Karakterisasi kesamaan pasangan dari 4.1 memberi (x,y)∈ΔA(x,y)\in\Delta_A jika dan hanya jika x,y∈Ax,y\in A dan x=yx=y. Ketiga sifat ekuivalensi menjadi sifat logika kesamaan dari Bab 1: x=xx=x; dari x=yx=y diperoleh y=xy=x; dari x=yx=y dan y=zy=z diperoleh x=zx=z.

    (b) Relasi penuh. A×AA\times A adalah ekuivalensi pada AA. Setiap pasangan anggota AA termuat di dalamnya, sehingga ketiga kesimpulan yang dituntut selalu benar.

    (c) Relasi RR dari 4.1. Di 4.1 sudah dibuktikan bahwa RR refleksif, simetris, dan transitif pada {1,2,3}\{1,2,3\}. Jadi RR relasi ekuivalensi. Kegagalan antisimetri (1R21R2, 2R12R1, 1≠21\ne2) tidak relevan bagi ekuivalensi.

    (d) Himpunan kosong. Karena ∅×∅=∅\varnothing\times\varnothing=\varnothing (4.1), satu-satunya relasi pada ∅\varnothing adalah ∅\varnothing. Relasi ini ekuivalensi secara vakum, sebab setiap kuantor universal di Definisi 4.2.1 berjalan atas pembatas kosong.

    (e) Bukan ekuivalensi. Relasi T=R∪{(2,3),(3,2)}T=R\cup\{(2,3),(3,2)\} dari 4.1 refleksif dan simetris, tetapi 1T21T2, 2T32T3, dan bukan 1T31T3. Jadi TT bukan ekuivalensi.

    Kelas ekuivalensi

    Definisi 4.2.3 (kelas). Misalkan ∼\sim relasi ekuivalensi pada AA dan a∈Aa\in A. Kelas ekuivalensi dari aa ialah

    [a]={x∈A:x∼a}.[a]=\{x\in A: x\sim a\}.

    Himpunan ini ada menurut aksioma separasi dengan pembatas AA. Bila perlu menegaskan relasinya, ditulis [a]∼[a]_\sim. Anggota aa disebut wakil dari kelas tersebut. Akibat 4.2.6(b) akan menunjukkan bahwa setiap anggota suatu kelas dapat berperan sebagai wakilnya.

    Kelas bergantung pada dua data, yaitu himpunan AA dan relasi ∼\sim. Lambang [a][a] saja tidak bermakna sebelum keduanya ditetapkan.

    Lemma 4.2.4. Misalkan ∼\sim ekuivalensi pada AA dan a∈Aa\in A. Maka: (a) untuk setiap xx: x∈[a]x\in[a] jika dan hanya jika x∈Ax\in A dan x∼ax\sim a; (b) [a]⊆A[a]\subseteq A; (c) a∈[a]a\in[a], sehingga [a]≠∅[a]\ne\varnothing.

    Bukti. Pernyataan (a) adalah bunyi aksioma separasi untuk himpunan pada Definisi 4.2.3. Pernyataan (b) langsung mengikuti (a). Untuk (c), a∈Aa\in A dan a∼aa\sim a menurut refleksivitas, sehingga a∈[a]a\in[a] menurut (a). ■\blacksquare

    Teorema berikut adalah inti unit ini. Ketiga sifat ekuivalensi dipakai di dalamnya, masing-masing pada langkah yang dapat ditunjuk.

    Teorema 4.2.5. Misalkan ∼\sim relasi ekuivalensi pada AA dan a,b∈Aa,b\in A. Ketiga pernyataan berikut setara:

    (i) a∼b,(ii) [a]=[b],(iii) [a]∩[b]≠∅.\text{(i) } a\sim b,\qquad \text{(ii) } [a]=[b],\qquad \text{(iii) } [a]\cap[b]\ne\varnothing.

    Bukti. Kita buktikan (i)⇒\Rightarrow(ii)⇒\Rightarrow(iii)⇒\Rightarrow(i).

    (i)⇒\Rightarrow(ii). Misalkan a∼ba\sim b. Kesamaan [a]=[b][a]=[b] dibuktikan melalui dua inklusi, lalu ekstensionalitas.

    • [a]⊆[b][a]\subseteq[b]: ambil x∈[a]x\in[a]. Menurut Lemma 4.2.4(a), x∈Ax\in A dan x∼ax\sim a. Dari x∼ax\sim a dan a∼ba\sim b, transitivitas memberi x∼bx\sim b. Jadi x∈[b]x\in[b].
    • [b]⊆[a][b]\subseteq[a]: ambil x∈[b]x\in[b], jadi x∈Ax\in A dan x∼bx\sim b. Simetri dari a∼ba\sim b memberi b∼ab\sim a. Transitivitas pada x∼bx\sim b dan b∼ab\sim a memberi x∼ax\sim a. Jadi x∈[a]x\in[a].

    (ii)⇒\Rightarrow(iii). Misalkan [a]=[b][a]=[b]. Menurut Lemma 4.2.4(c), a∈[a]a\in[a], sehingga a∈[b]a\in[b] juga. Jadi a∈[a]∩[b]a\in[a]\cap[b], dan irisan itu tidak kosong.

    (iii)⇒\Rightarrow(i). Misalkan ada c∈[a]∩[b]c\in[a]\cap[b]. Maka c∈Ac\in A, c∼ac\sim a, dan c∼bc\sim b. Simetri memberi a∼ca\sim c. Transitivitas pada a∼ca\sim c dan c∼bc\sim b memberi a∼ba\sim b. ■\blacksquare

    Perhatikan pula jalan pintas (ii)⇒\Rightarrow(i): dari a∈[a]=[b]a\in[a]=[b] diperoleh langsung a∼ba\sim b. Arah sebaliknya, (i)⇒\Rightarrow(iii), juga singkat: jika a∼ba\sim b, maka aa sendiri adalah saksi di [a]∩[b][a]\cap[b], karena a∈[a]a\in[a] dan a∼ba\sim b berarti a∈[b]a\in[b].

    Akibat 4.2.6. Misalkan ∼\sim ekuivalensi pada AA. (a) Untuk setiap a,b∈Aa,b\in A, tepat satu dari dua hal berikut berlaku: [a]=[b][a]=[b], atau [a]∩[b]=∅[a]\cap[b]=\varnothing. (b) Jika a∈Aa\in A dan x∈[a]x\in[a], maka [x]=[a][x]=[a]. Jadi setiap anggota suatu kelas dapat menjadi wakilnya.

    Bukti. (a) Teorema 4.2.5 memberi: jika [a]∩[b]≠∅[a]\cap[b]\ne\varnothing, maka [a]=[b][a]=[b]. Jadi sekurang-kurangnya satu dari kedua hal berlaku. Keduanya tidak mungkin berlaku bersama: jika [a]=[b][a]=[b] dan [a]∩[b]=∅[a]\cap[b]=\varnothing, maka dengan substitusi [b][b] oleh [a][a] diperoleh [a]=[a]∩[a]=[a]∩[b]=∅[a]=[a]\cap[a]=[a]\cap[b]=\varnothing, bertentangan dengan a∈[a]a\in[a]. (b) Dari x∈[a]x\in[a] diperoleh x∈Ax\in A dan x∼ax\sim a, sehingga [x]=[a][x]=[a] menurut Teorema 4.2.5. ■\blacksquare

    Akibat 4.2.6 menunjukkan bahwa nama dan objek harus dibedakan. Lambang [a][a] dan [b][b] dengan a≠ba\ne b dapat menamai himpunan yang sama. Dua kelas yang berbeda saling lepas, tetapi dua wakil yang berbeda tidak menjamin kelasnya berbeda. Menghitung kelas dengan menghitung wakil adalah kekeliruan.

    Contoh 4.2.7 (kelas relasi RR). Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\} dengan RR seperti di atas, periksa setiap x∈Ax\in A:

    • [1]={x∈A:xR1}[1]=\{x\in A:xR1\}. Untuk x=1x=1: (1,1)∈R(1,1)\in R. Untuk x=2x=2: (2,1)∈R(2,1)\in R. Untuk x=3x=3: (3,1)∉R(3,1)\notin R. Jadi [1]={1,2}[1]=\{1,2\}.
    • [2]={x∈A:xR2}[2]=\{x\in A:xR2\}. Karena (1,2),(2,2)∈R(1,2),(2,2)\in R dan (3,2)∉R(3,2)\notin R, diperoleh [2]={1,2}[2]=\{1,2\}.
    • [3]={x∈A:xR3}[3]=\{x\in A:xR3\}. Satu-satunya pasangan di RR berkomponen kedua 3 adalah (3,3)(3,3), sehingga [3]={3}[3]=\{3\}.

    Ada tiga wakil, tetapi hanya dua kelas: [1]=[2]={1,2}[1]=[2]=\{1,2\} dan [3]={3}[3]=\{3\}. Sesuai Teorema 4.2.5, 1R21R2 dan [1]=[2][1]=[2]. Karena (1,3)∉R(1,3)\notin R, diperoleh [1]≠[3][1]\ne[3], dan memang [1]∩[3]=∅[1]\cap[3]=\varnothing.

    Contoh 4.2.8 (kesalahan: kemiripan yang tidak transitif). Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, bentuk dengan separasi pada A×AA\times A relasi "kemiripan" x≈yx\approx y jika ∣x−y∣≤1|x-y|\le1 (nilai mutlak bilangan bulat dipinjam sebagai aritmetika elementer). Pemeriksaan semua sembilan pasangan menunjukkan bahwa ≈\approx tepat sama dengan relasi TT dari 4.1:

    ≈  ={(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1),(2,3),(3,2)}=T.\approx\;=\{(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1),(2,3),(3,2)\}=T.

    Relasi ini refleksif (∣x−x∣=0|x-x|=0) dan simetris (∣x−y∣=∣y−x∣|x-y|=|y-x|). Ia tidak transitif: 1≈21\approx2, 2≈32\approx3, tetapi ∣1−3∣=2|1-3|=2.

    Separasi tetap mengizinkan pembentukan N(a)={x∈A:x≈a}N(a)=\{x\in A:x\approx a\} untuk setiap a∈Aa\in A. Keberadaan himpunan bukan masalahnya. Masalahnya terletak pada sifat himpunan-himpunan itu:

    N(1)={1,2},N(2)={1,2,3},N(3)={2,3}.N(1)=\{1,2\},\qquad N(2)=\{1,2,3\},\qquad N(3)=\{2,3\}.

    Ketiganya berbeda. Meski begitu, N(1)∩N(3)={2}≠∅N(1)\cap N(3)=\{2\}\ne\varnothing, dan N(1)∩N(2)≠∅N(1)\cap N(2)\ne\varnothing walaupun N(1)≠N(2)N(1)\ne N(2). Implikasi (iii)⇒\Rightarrow(i) di Teorema 4.2.5 runtuh tepat pada langkah transitivitas. Implikasi (i)⇒\Rightarrow(ii) juga runtuh: 1≈21\approx2 tetapi N(1)≠N(2)N(1)\ne N(2). Kelompok yang tumpang tindih seperti ini tidak dapat ditafsirkan sebagai pengelompokan. Pertanyaan "objek 2 masuk kelompok mana?" tidak mempunyai jawaban tunggal.

    Pola ini dapat muncul pada kriteria "selisih paling banyak ε\varepsilon" dengan ε>0\varepsilon>0: dua objek berdekatan, objek kedua dekat dengan objek ketiga, tetapi objek pertama dan ketiga belum tentu dekat. Contoh ini hanya menyatakan fakta tentang relasinya. Ia tidak menilai metode pengelompokan data tertentu.

    Partisi

    Definisi 4.2.9 (partisi). Misalkan AA himpunan. Himpunan Π\Pi disebut partisi dari AA jika Π⊆P(A)\Pi\subseteq\mathcal P(A) dan

    (P1)∀B∈Π  (B≠∅),(P2)⋃Π=A,(P3)∀B,C∈Π  (B≠C⇒B∩C=∅).\begin{aligned} &\text{(P1)}\quad \forall B\in\Pi\;(B\ne\varnothing),\\ &\text{(P2)}\quad \textstyle\bigcup\Pi=A,\\ &\text{(P3)}\quad \forall B,C\in\Pi\;(B\ne C\Rightarrow B\cap C=\varnothing). \end{aligned}

    Anggota Π\Pi disebut blok. Setiap blok adalah himpunan bagian dari AA, dan sekaligus anggota dari Π\Pi. Kedua hubungan ini, yaitu inklusi B⊆AB\subseteq A dan keanggotaan B∈ΠB\in\Pi, jangan dipertukarkan.

    Menurut aksioma gabungan dari Bab 3, ada himpunan ⋃Π\bigcup\Pi dengan sifat: untuk setiap xx, x∈⋃Πx\in\bigcup\Pi jika dan hanya jika ∃B∈Π (x∈B)\exists B\in\Pi\,(x\in B). Karena Π⊆P(A)\Pi\subseteq\mathcal P(A), inklusi ⋃Π⊆A\bigcup\Pi\subseteq A selalu berlaku. Jadi isi sebenarnya dari (P2) adalah inklusi A⊆⋃ΠA\subseteq\bigcup\Pi: setiap anggota AA termuat dalam suatu blok.

    Lemma 4.2.10. Jika Π\Pi partisi dari AA, maka untuk setiap x∈Ax\in A ada tepat satu B∈ΠB\in\Pi dengan x∈Bx\in B.

    Bukti. Keberadaan: dari (P2), x∈⋃Πx\in\bigcup\Pi, jadi ada B∈ΠB\in\Pi dengan x∈Bx\in B. Ketunggalan: jika x∈Bx\in B dan x∈Cx\in C dengan B,C∈ΠB,C\in\Pi, maka x∈B∩Cx\in B\cap C, sehingga B∩C≠∅B\cap C\ne\varnothing. Kontraposisi (P3) memberi B=CB=C. ■\blacksquare

    Contoh 4.2.11. Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, himpunan berikut adalah partisi:

    {{1,2,3}},{{1},{2,3}},{{2},{1,3}},{{3},{1,2}},{{1},{2},{3}}.\{\{1,2,3\}\},\quad \{\{1\},\{2,3\}\},\quad \{\{2\},\{1,3\}\},\quad \{\{3\},\{1,2\}\},\quad \{\{1\},\{2\},\{3\}\}.

    (Latihan 4.2.34 memeriksa bahwa kelimanya memang partisi dan bahwa tidak ada partisi lain.) Berikut contoh yang bukan partisi dan syarat yang dilanggarnya:

    • {{1,2},{2,3}}\{\{1,2\},\{2,3\}\}: kedua blok berbeda tetapi beririsan di 22, sehingga melanggar (P3);
    • {{1},{3}}\{\{1\},\{3\}\}: gabungannya {1,3}≠A\{1,3\}\ne A, sehingga melanggar (P2);
    • {{1,2},{3},∅}\{\{1,2\},\{3\},\varnothing\}: memuat blok kosong, sehingga melanggar (P1);
    • {{1,2,3},{4}}\{\{1,2,3\},\{4\}\}: {4}∉P(A)\{4\}\notin\mathcal P(A), sehingga keluarga ini bukan himpunan bagian dari P(A)\mathcal P(A).

    Contoh 4.2.12 (kasus batas A=∅A=\varnothing). Karena P(∅)={∅}\mathcal P(\varnothing)=\{\varnothing\}, calon partisi hanya ∅\varnothing dan {∅}\{\varnothing\}.

    • Π={∅}\Pi=\{\varnothing\} bukan partisi, karena satu-satunya bloknya kosong dan (P1) gagal.
    • Π=∅\Pi=\varnothing adalah partisi. (P1) dan (P3) berlaku secara vakum, sebab tidak ada blok. (P2) berlaku karena ⋃∅=∅=A\bigcup\varnothing=\varnothing=A.

    Jadi satu-satunya partisi dari ∅\varnothing adalah ∅\varnothing. Syarat (P1) menuntut setiap blok tak kosong. Ia tidak menuntut keluarga Π\Pi sendiri tak kosong. Sebaliknya, jika A≠∅A\ne\varnothing, keluarga ∅\varnothing bukan partisi dari AA, sebab ⋃∅=∅≠A\bigcup\varnothing=\varnothing\ne A.

    Dengan alasan yang sama, {A}\{A\} adalah partisi dari AA jika dan hanya jika A≠∅A\ne\varnothing. Untuk A≠∅A\ne\varnothing, ketiga syarat jelas berlaku. Untuk A=∅A=\varnothing, {A}={∅}\{A\}=\{\varnothing\} gagal di (P1).

    Dari ekuivalensi ke partisi

    Kita ingin mengumpulkan semua kelas ke dalam satu himpunan. Ungkapan {[a]:a∈A}\{[a]:a\in A\} belum dibenarkan oleh aksioma yang tersedia sejauh ini (Bab 3). Keluarga itu harus dipisahkan dari himpunan yang sudah ada, dan pembatas yang tepat adalah P(A)\mathcal P(A), sebab setiap kelas adalah himpunan bagian dari AA.

    Definisi 4.2.13 (keluarga kelas). Misalkan ∼\sim ekuivalensi pada AA. Definisikan dengan separasi pada P(A)\mathcal P(A):

    K∼={B∈P(A):∃a∈A  ∀x  (x∈B↔(x∈A∧x∼a))}.\mathcal K_\sim=\{B\in\mathcal P(A):\exists a\in A\;\forall x\;(x\in B\leftrightarrow(x\in A\land x\sim a))\}.

    Lemma 4.2.14. Untuk setiap himpunan BB: B∈K∼B\in\mathcal K_\sim jika dan hanya jika ada a∈Aa\in A dengan B=[a]B=[a].

    Bukti. (⇒\Rightarrow) Jika B∈K∼B\in\mathcal K_\sim, ada a∈Aa\in A sehingga untuk setiap xx, x∈Bx\in B setara dengan x∈A∧x∼ax\in A\land x\sim a. Menurut Lemma 4.2.4(a), syarat yang sama setara dengan x∈[a]x\in[a]. Jadi BB dan [a][a] beranggota sama, dan B=[a]B=[a] menurut ekstensionalitas. (⇐\Leftarrow) Jika B=[a]B=[a] dengan a∈Aa\in A, maka B⊆AB\subseteq A (Lemma 4.2.4(b)), sehingga B∈P(A)B\in\mathcal P(A). Rumus pemisahnya dipenuhi dengan saksi aa menurut Lemma 4.2.4(a). ■\blacksquare

    Teorema 4.2.15. Jika ∼\sim ekuivalensi pada AA, maka K∼\mathcal K_\sim adalah partisi dari AA.

    Bukti. Inklusi K∼⊆P(A)\mathcal K_\sim\subseteq\mathcal P(A) berlaku menurut konstruksi.

    (P1) Ambil B∈K∼B\in\mathcal K_\sim. Menurut Lemma 4.2.14, B=[a]B=[a] untuk suatu a∈Aa\in A, dan a∈[a]a\in[a], sehingga B≠∅B\ne\varnothing.

    (P2) Kita buktikan dua inklusi. Jika x∈⋃K∼x\in\bigcup\mathcal K_\sim, ada B∈K∼B\in\mathcal K_\sim dengan x∈Bx\in B. Karena B⊆AB\subseteq A, diperoleh x∈Ax\in A. Sebaliknya, jika x∈Ax\in A, maka x∈[x]x\in[x] dan [x]∈K∼[x]\in\mathcal K_\sim menurut Lemma 4.2.14, sehingga x∈⋃K∼x\in\bigcup\mathcal K_\sim.

    (P3) Ambil B,C∈K∼B,C\in\mathcal K_\sim dengan B≠CB\ne C. Tulis B=[a]B=[a] dan C=[b]C=[b] dengan a,b∈Aa,b\in A. Jika B∩C≠∅B\cap C\ne\varnothing, Teorema 4.2.5 memberi [a]=[b][a]=[b], yaitu B=CB=C, suatu kontradiksi. Jadi B∩C=∅B\cap C=\varnothing. ■\blacksquare

    Dari partisi ke ekuivalensi

    Arah sebaliknya meniru bentuk R=(C×C)∪(D×D)R=(C\times C)\cup(D\times D): dua anggota berelasi jika ada blok yang memuat keduanya.

    Definisi 4.2.16. Misalkan Π\Pi partisi dari AA. Definisikan dengan separasi pada A×AA\times A:

    ∼Π  ={p∈A×A:∃x ∃y ∃B (p=(x,y)∧B∈Π∧x∈B∧y∈B)}.\sim_\Pi\;=\{p\in A\times A:\exists x\,\exists y\,\exists B\,(p=(x,y)\land B\in\Pi\land x\in B\land y\in B)\}.

    Lemma 4.2.17. Untuk x,y∈Ax,y\in A: (x,y)∈  ∼Π(x,y)\in\;\sim_\Pi jika dan hanya jika ada B∈ΠB\in\Pi dengan x∈Bx\in B dan y∈By\in B.

    Bukti. (⇐\Leftarrow) Jika x,y∈B∈Πx,y\in B\in\Pi, maka (x,y)∈A×A(x,y)\in A\times A, dan rumus pemisah dipenuhi dengan saksi x,y,Bx,y,B. (⇒\Rightarrow) Jika (x,y)∈  ∼Π(x,y)\in\;\sim_\Pi, ada x′,y′,Bx',y',B dengan (x,y)=(x′,y′)(x,y)=(x',y'), B∈ΠB\in\Pi, x′∈Bx'\in B, dan y′∈By'\in B. Karakterisasi kesamaan pasangan berurutan dari 4.1 memberi x=x′x=x' dan y=y′y=y'. Jadi x,y∈Bx,y\in B. ■\blacksquare

    Langkah (⇒\Rightarrow) memakai karakterisasi kesamaan pasangan berurutan dari 4.1 untuk membaca kembali komponen xx dan yy dari pasangan pp. Karena syarat "x∈Bx\in B dan y∈By\in B" simetris dalam xx dan yy, keterurutan pasangan tidak berperan khusus di sini. Keterurutan menjadi penting untuk relasi yang tidak simetris, misalnya relasi urutan pada 4.4.

    Teorema 4.2.18. Jika Π\Pi partisi dari AA, maka ∼Π\sim_\Pi adalah relasi ekuivalensi pada AA.

    Bukti. Semua langkah memakai Lemma 4.2.17.

    Refleksif. Ambil x∈Ax\in A. Menurut (P2) ada B∈ΠB\in\Pi dengan x∈Bx\in B. Blok BB memuat xx dan xx, sehingga x∼Πxx\sim_\Pi x.

    Simetris. Jika x∼Πyx\sim_\Pi y, ada B∈ΠB\in\Pi dengan x,y∈Bx,y\in B. Blok yang sama menyaksikan y∼Πxy\sim_\Pi x.

    Transitif. Misalkan x∼Πyx\sim_\Pi y dan y∼Πzy\sim_\Pi z. Ada B∈ΠB\in\Pi dengan x,y∈Bx,y\in B dan ada C∈ΠC\in\Pi dengan y,z∈Cy,z\in C. Maka y∈B∩Cy\in B\cap C, sehingga B∩C≠∅B\cap C\ne\varnothing. Kontraposisi (P3) memberi B=CB=C. Jadi x,z∈Bx,z\in B dan x∼Πzx\sim_\Pi z. ■\blacksquare

    Bukti transitivitas memakai (P3) secara hakiki. Dua blok yang sama-sama memuat yy harus merupakan blok yang sama. Untuk keluarga yang bloknya tumpang tindih, relasi "ada blok yang memuat keduanya" dapat gagal transitif (Latihan 4.2.29). Refleksivitas memakai (P2). Syarat (P1) tidak dipakai di sini, tetapi diperlukan pada teorema berikut agar konstruksi bolak-balik kembali ke titik awal.

    Kedua konstruksi saling membalik

    Lemma 4.2.19. Misalkan Π\Pi partisi dari AA, B∈ΠB\in\Pi, dan a∈Ba\in B. Maka kelas aa terhadap ∼Π\sim_\Pi adalah BB:

    [a]∼Π=B.[a]_{\sim_\Pi}=B.

    Bukti. Perhatikan bahwa a∈Aa\in A karena B⊆AB\subseteq A. (⊆\subseteq) Jika x∈[a]∼Πx\in[a]_{\sim_\Pi}, maka x∈Ax\in A dan x∼Πax\sim_\Pi a. Jadi ada C∈ΠC\in\Pi dengan x,a∈Cx,a\in C. Karena a∈B∩Ca\in B\cap C, (P3) memberi C=BC=B, sehingga x∈Bx\in B. (⊇\supseteq) Jika x∈Bx\in B, maka x∈Ax\in A, dan blok BB memuat xx dan aa. Jadi x∼Πax\sim_\Pi a, yaitu x∈[a]∼Πx\in[a]_{\sim_\Pi}. ■\blacksquare

    Dari relasi menjadi partisiUntuk: Bab 4, Unit 4.2 (M04-01)

    Teorema 4.2.20 (korespondensi ekuivalensi–partisi). Misalkan AA himpunan. (a) Untuk setiap partisi Π\Pi dari AA: K∼Π=Π\mathcal K_{\sim_\Pi}=\Pi. (b) Untuk setiap ekuivalensi ∼\sim pada AA: ∼K∼  =  ∼\sim_{\mathcal K_\sim}\;=\;\sim.

    Bukti. (a) Ruas kiri terdefinisi karena ∼Π\sim_\Pi ekuivalensi (Teorema 4.2.18). Kita buktikan dua inklusi. (⊆\subseteq) Ambil D∈K∼ΠD\in\mathcal K_{\sim_\Pi}. Menurut Lemma 4.2.14, D=[a]∼ΠD=[a]_{\sim_\Pi} untuk suatu a∈Aa\in A. Menurut (P2), ada B∈ΠB\in\Pi dengan a∈Ba\in B. Lemma 4.2.19 memberi D=B∈ΠD=B\in\Pi. (⊇\supseteq) Ambil B∈ΠB\in\Pi. Menurut (P1), B≠∅B\ne\varnothing, jadi ada a∈Ba\in B. Lemma 4.2.19 memberi B=[a]∼ΠB=[a]_{\sim_\Pi}, dengan a∈Aa\in A. Menurut Lemma 4.2.14, B∈K∼ΠB\in\mathcal K_{\sim_\Pi}.

    (b) Ruas kiri terdefinisi karena K∼\mathcal K_\sim partisi (Teorema 4.2.15). Kedua relasi adalah himpunan bagian dari A×AA\times A, sehingga setiap anggotanya berbentuk (x,y)(x,y) dengan x,y∈Ax,y\in A. Cukup dibuktikan bahwa untuk x,y∈Ax,y\in A:

    x∼K∼y  ⟺  x∼y.x\sim_{\mathcal K_\sim}y\iff x\sim y.

    (⇐\Leftarrow) Jika x∼yx\sim y, maka x∈[y]x\in[y]. Juga y∈[y]y\in[y] dan [y]∈K∼[y]\in\mathcal K_\sim. Jadi blok [y][y] memuat keduanya. (⇒\Rightarrow) Jika ada B∈K∼B\in\mathcal K_\sim dengan x,y∈Bx,y\in B, tulis B=[a]B=[a] dengan a∈Aa\in A. Maka x∼ax\sim a dan y∼ay\sim a. Simetri memberi a∼ya\sim y, dan transitivitas memberi x∼yx\sim y. Kedua relasi beranggota sama, sehingga sama menurut ekstensionalitas. ■\blacksquare

    Teorema 4.2.20 menyatakan bahwa kedua konstruksi tidak kehilangan informasi. Partisi yang berbeda menghasilkan relasi yang berbeda, karena partisi dapat dibaca kembali dari relasinya menurut (a). Setiap ekuivalensi berasal dari suatu partisi, yaitu dari keluarga kelasnya sendiri menurut (b). Bahasa fungsi untuk menyebut korespondensi seperti ini secara ringkas baru dibangun pada Bab 5.

    Catatan 4.2.21 (tidak ada aksioma pilihan). Pada bukti (⊇\supseteq) di Teorema 4.2.20(a), kita "mengambil a∈Ba\in B". Ini adalah instansiasi eksistensial biasa di dalam bukti pernyataan berbentuk ∀B∈Π(⋯ )\forall B\in\Pi(\cdots). Untuk satu blok BB yang sedang ditinjau, ketakkosongan BB memberi suatu anggota, dan kesimpulan B∈K∼ΠB\in\mathcal K_{\sim_\Pi} tidak bergantung pada anggota mana yang diambil. Kita tidak pernah membentuk satu objek yang serentak memilih wakil dari setiap blok. Jaminan adanya pilihan wakil serentak untuk setiap keluarga sebarang dari himpunan tak kosong memerlukan aksioma pilihan (AC). Untuk keluarga tertentu, pilihan wakil dapat tersedia tanpa AC, misalnya bila wakil dapat ditentukan dengan suatu aturan eksplisit. Keluarga kelas K∼\mathcal K_\sim juga dibentuk tanpa pilihan, cukup dengan separasi pada P(A)\mathcal P(A). Seluruh unit ini berlangsung tanpa AC.

    Contoh 4.2.22 (bolak-balik untuk RR). Menurut Lemma 4.2.14, B∈KRB\in\mathcal K_R jika dan hanya jika B=[a]B=[a] untuk suatu a∈{1,2,3}a\in\{1,2,3\}. Contoh 4.2.7 memberi [1]=[2]={1,2}[1]=[2]=\{1,2\} dan [3]={3}[3]=\{3\}, sehingga menurut ekstensionalitas KR={{1,2},{3}}\mathcal K_R=\{\{1,2\},\{3\}\}, dengan [1]=[2]≠[3][1]=[2]\ne[3]. Ini partisi dari {1,2,3}\{1,2,3\}. Sekarang bentuk kembali ∼Π\sim_\Pi untuk Π={{1,2},{3}}\Pi=\{\{1,2\},\{3\}\}. Pasangan dengan kedua komponen di {1,2}\{1,2\} ada empat, yaitu (1,1),(1,2),(2,1),(2,2)(1,1),(1,2),(2,1),(2,2). Pasangan dengan kedua komponen di {3}\{3\} hanya (3,3)(3,3). Tidak ada pasangan lain yang komponennya termuat bersama dalam satu blok. Jadi

    ∼Π  ={(1,1),(1,2),(2,1),(2,2),(3,3)}=R,\sim_\Pi\;=\{(1,1),(1,2),(2,1),(2,2),(3,3)\}=R,

    sesuai Teorema 4.2.20(b) dan sesuai bentuk R=(C×C)∪(D×D)R=(C\times C)\cup(D\times D) di 4.1.

    Contoh 4.2.23 (kasus ekstrem).

    (a) A=∅A=\varnothing. Satu-satunya ekuivalensi adalah relasi kosong ∅\varnothing (Contoh 4.2.2(d)). Keluarga kelasnya

    K∅={B∈P(∅):∃a∈∅ (⋯ )}=∅,\mathcal K_\varnothing=\{B\in\mathcal P(\varnothing):\exists a\in\varnothing\,(\cdots)\}=\varnothing,

    karena tidak ada a∈∅a\in\varnothing yang dapat menjadi saksi. Hasil ini cocok dengan Contoh 4.2.12: satu-satunya partisi adalah ∅\varnothing, bukan {∅}\{\varnothing\}. Dari arah sebaliknya, ∼∅⊆∅×∅=∅\sim_\varnothing\subseteq\varnothing\times\varnothing=\varnothing. Di sini K∅\mathcal K_\varnothing dibentuk dari relasi kosong, sedangkan ∼∅\sim_\varnothing dibentuk dari partisi kosong. Kedua konstruksi saling membalik pada satu-satunya ekuivalensi (∅\varnothing) dan satu-satunya partisi (∅\varnothing) dari ∅\varnothing.

    (b) Kesamaan ΔA\Delta_A. Di sini [a]={x∈A:x=a}={a}[a]=\{x\in A:x=a\}=\{a\}, jadi setiap blok berupa singleton. Misalnya untuk A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, KΔA={{1},{2},{3}}\mathcal K_{\Delta_A}=\{\{1\},\{2\},\{3\}\}.

    (c) Relasi penuh A×AA\times A dengan A≠∅A\ne\varnothing. Untuk setiap a∈Aa\in A, [a]=A[a]=A, sehingga KA×A={A}\mathcal K_{A\times A}=\{A\}. Untuk A=∅A=\varnothing, relasi penuhnya adalah ∅\varnothing dan keluarga kelasnya ∅\varnothing, bukan {A}={∅}\{A\}=\{\varnothing\}. Kasus batas ini konsisten dengan Contoh 4.2.12.

    Penerapan: mengelompokkan data menurut kriteria yang eksplisit

    Bagian ini adalah model kecil yang dapat dihitung tangan. Ia tidak melaporkan sistem atau perangkat lunak tertentu. Misalkan data berupa himpunan enam kata

    A={apel, anggur, alpukat, belimbing, bayam, cabai}.A=\{\text{apel},\ \text{anggur},\ \text{alpukat},\ \text{belimbing},\ \text{bayam},\ \text{cabai}\}.

    Kriteria 1: huruf pertama sama. Bentuk dengan separasi pada A×AA\times A relasi x≡1yx\equiv_1 y jika huruf pertama xx sama dengan huruf pertama yy. Setiap kata di AA tak kosong, sehingga huruf pertamanya tertentu secara tunggal. Relasi ini ekuivalensi karena ketiga sifatnya diwarisi dari kesamaan huruf, seperti pada Contoh 4.2.2(a). Kelas-kelasnya:

    [apel]={apel,anggur,alpukat},[bayam]={belimbing,bayam},[cabai]={cabai}.[\text{apel}]=\{\text{apel},\text{anggur},\text{alpukat}\},\quad [\text{bayam}]=\{\text{belimbing},\text{bayam}\},\quad [\text{cabai}]=\{\text{cabai}\}.

    Ada enam wakil tetapi tiga kelas. Ketiga himpunan itu tak kosong, saling lepas, dan bergabung menjadi AA. Menurut Teorema 4.2.20(b), relasinya terdiri tepat dari pasangan yang kedua komponennya termuat dalam satu blok. Dengan mendaftar pasangan per blok diperoleh sembilan pasangan dari blok huruf a, empat dari blok huruf b, dan satu, yaitu (cabai,cabai)(\text{cabai},\text{cabai}), dari blok huruf c; seluruhnya 1414 pasangan.

    Kriteria berbentuk "nilai atribut tertentu sama" selalu menghasilkan ekuivalensi, asalkan setiap objek mempunyai tepat satu nilai atribut itu. Bab 5 akan merumuskan pola ini dengan bahasa fungsi.

    Kriteria 2: panjang kata sama. Panjang kata-kata tersebut berturut-turut 4,6,7,9,5,54,6,7,9,5,5. Relasi "panjangnya sama", juga dibentuk dengan separasi pada A×AA\times A, adalah ekuivalensi dengan partisi

    {{apel},{anggur},{alpukat},{belimbing},{bayam,cabai}}.\{\{\text{apel}\},\{\text{anggur}\},\{\text{alpukat}\},\{\text{belimbing}\},\{\text{bayam},\text{cabai}\}\}.

    Kriteria 3 (gagal): panjang berselisih paling banyak 1. Relasi ini refleksif dan simetris. Ia tidak transitif: apel (4) dan bayam (5) berselisih 1, bayam (5) dan anggur (6) berselisih 1, tetapi apel (4) dan anggur (6) berselisih 2. Seperti pada Contoh 4.2.8, "kelompok kemiripan" yang dibentuk kriteria ini tumpang tindih dan tidak membentuk partisi. Jika suatu pengelompokan tetap diinginkan, kriteria harus diganti dengan ekuivalensi yang dinyatakan eksplisit. Alternatifnya, pengguna harus menerima bahwa rantai kemiripan menyatukan objek yang tidak saling mirip (Latihan 4.2.31).

    Catatan: ekuivalensi yang antisimetri

    Proposisi 4.2.24. Jika ∼\sim ekuivalensi pada AA yang juga antisimetri, maka ∼  =ΔA\sim\;=\Delta_A.

    Bukti. Jika x∼yx\sim y, simetri memberi y∼xy\sim x, lalu antisimetri memberi x=yx=y. Jadi ∼  ⊆ΔA\sim\;\subseteq\Delta_A. Sebaliknya, refleksivitas memberi x∼xx\sim x untuk setiap x∈Ax\in A, sehingga ΔA⊆  ∼\Delta_A\subseteq\;\sim. ■\blacksquare

    Jadi pada AA, ΔA\Delta_A adalah satu-satunya relasi yang sekaligus refleksif, simetris, antisimetri, dan transitif. Relasi RR dari 4.1 gagal antisimetri justru karena ia menggabungkan 11 dan 22 ke dalam satu kelas. Unit 4.4 akan menempuh arah yang berlawanan: refleksivitas dan transitivitas dipertahankan, tetapi simetri diganti antisimetri. Relasi semacam itu akan disebut urutan parsial.

    Kesalahan umum

    1. Menghitung wakil sebagai kelas. [1][1] dan [2][2] pada Contoh 4.2.7 adalah satu objek, yaitu {1,2}\{1,2\}.
    2. Menganggap {∅}\{\varnothing\} sebagai partisi dari ∅\varnothing. Blok tidak boleh kosong. Partisi dari ∅\varnothing adalah ∅\varnothing.
    3. Hanya memeriksa (P1) dan (P2). Keluarga yang menutupi AA dengan blok tak kosong tetapi tumpang tindih bukan partisi, dan relasi turunannya bisa gagal transitif.
    4. Menyebut "kemiripan" sebagai ekuivalensi tanpa memeriksa transitivitas. Untuk membantahnya, tampilkan tiga objek dengan kedua premis benar dan kesimpulan salah.
    5. Menulis {[a]:a∈A}\{[a]:a\in A\} tanpa membatasi pada himpunan yang sudah ada. Keluarga kelas dibentuk dengan separasi pada P(A)\mathcal P(A) (Definisi 4.2.13).
    6. Mencampur anggota dan himpunan bagian. Blok BB memenuhi B∈ΠB\in\Pi dan B⊆AB\subseteq A. Pernyataan B∈AB\in A atau B⊆ΠB\subseteq\Pi tidak mengikuti definisi partisi.

    Latihan

    Latihan 4.2.25. Pada A={1,2,3,4}A=\{1,2,3,4\} diberikan

    S={(1,1),(2,2),(3,3),(4,4),(1,3),(3,1)}.S=\{(1,1),(2,2),(3,3),(4,4),(1,3),(3,1)\}.

    Buktikan bahwa SS ekuivalensi. Hitung [a][a] untuk setiap a∈Aa\in A, tentukan KS\mathcal K_S, lalu bentuk kembali ∼KS\sim_{\mathcal K_S} dan bandingkan dengan SS.

    Latihan 4.2.26. Pada A={1,2,3,4,5}A=\{1,2,3,4,5\} diberikan Π={{1,4},{2,3,5}}\Pi=\{\{1,4\},\{2,3,5\}\}. Periksa bahwa Π\Pi partisi. Tuliskan semua pasangan di ∼Π\sim_\Pi dan hitung banyaknya. Hitung [5]∼Π[5]_{\sim_\Pi} dan [1]∼Π[1]_{\sim_\Pi} langsung dari definisi kelas, lalu cocokkan dengan Lemma 4.2.19.

    Latihan 4.2.27. Misalkan ∼\sim ekuivalensi pada AA. Pada bukti Teorema 4.2.5, tunjukkan sifat mana (refleksif, simetris, transitif) yang dipakai di setiap implikasi. Untuk relasi TT dari 4.1, tentukan implikasi mana yang gagal, lengkap dengan saksinya.

    Latihan 4.2.28. Tentukan mana yang merupakan partisi dari A={1,2,3,4}A=\{1,2,3,4\}, dengan alasan: (a) {{1,2},{2,3},{4}}\{\{1,2\},\{2,3\},\{4\}\}; (b) {{1},{2,3}}\{\{1\},\{2,3\}\}; (c) {{1,2,3,4}}\{\{1,2,3,4\}\}; (d) {{1},{2},{3},{4},∅}\{\{1\},\{2\},\{3\},\{4\},\varnothing\}; (e) {{1,2},{3,4}}\{\{1,2\},\{3,4\}\}.

    Latihan 4.2.29. Untuk keluarga F={{1,2},{2,3},{4}}\mathcal F=\{\{1,2\},\{2,3\},\{4\}\} pada A={1,2,3,4}A=\{1,2,3,4\}, definisikan x ρ yx\,\rho\,y jika ada B∈FB\in\mathcal F dengan x,y∈Bx,y\in B. Tunjukkan bahwa ρ\rho refleksif dan simetris tetapi tidak transitif, lalu tunjukkan langkah bukti Teorema 4.2.18 yang gagal.

    Latihan 4.2.30. Misalkan ∼  ⊆A×A\sim\;\subseteq A\times A refleksif dan memenuhi

    ∀x,y,z∈A  ((x∼y∧x∼z)⇒y∼z).\forall x,y,z\in A\;((x\sim y\land x\sim z)\Rightarrow y\sim z).

    Buktikan bahwa ∼\sim ekuivalensi. Sebaliknya, buktikan bahwa setiap ekuivalensi memenuhi sifat ini.

    Latihan 4.2.31. Pada A={2,3,4,10}A=\{2,3,4,10\}, definisikan x≈yx\approx y jika ∣x−y∣≤1|x-y|\le1. (a) Tunjukkan bahwa ≈\approx refleksif dan simetris tetapi tidak transitif. (b) Hitung N(a)={x∈A:x≈a}N(a)=\{x\in A:x\approx a\} untuk setiap a∈Aa\in A, lalu jelaskan mengapa keluarga

    N={B∈P(A):∃a∈A  ∀x (x∈B↔(x∈A∧x≈a))}\mathcal N=\{B\in\mathcal P(A):\exists a\in A\;\forall x\,(x\in B\leftrightarrow(x\in A\land x\approx a))\}

    bukan partisi dari AA. (c) Tentukan partisi Π\Pi dari AA dengan blok sebanyak mungkin yang memenuhi syarat: setiap pasangan x≈yx\approx y termuat dalam satu blok Π\Pi.

    Latihan 4.2.32 (A kosong). Tentukan semua relasi pada ∅\varnothing dan semua himpunan bagian dari P(∅)\mathcal P(\varnothing). Tentukan mana yang ekuivalensi dan mana yang partisi, lalu periksa kedua bagian Teorema 4.2.20 secara langsung.

    Latihan 4.2.33 (anggota versus himpunan bagian). Misalkan A={∅}A=\{\varnothing\}. Daftarkan semua himpunan bagian dari P(A)\mathcal P(A) dan tentukan mana yang partisi dari AA. Daftarkan pula semua relasi pada AA dan tentukan mana yang ekuivalensi.

    Latihan 4.2.34. Buktikan bahwa partisi dari {1,2,3}\{1,2,3\} tepat lima buah, yaitu yang terdaftar di Contoh 4.2.11. Simpulkan banyak relasi ekuivalensi pada {1,2,3}\{1,2,3\}, dan tentukan partisi yang berpadanan dengan RR dari 4.1.

    Latihan 4.2.35. Misalkan ∼\sim ekuivalensi pada AA dan a,b∈Aa,b\in A dengan [a]≠[b][a]\ne[b]. Buktikan bahwa untuk setiap x∈[a]x\in[a] dan y∈[b]y\in[b] berlaku bukan x∼yx\sim y.

    Pembahasan

    4.2.25. Pasangan diagonal (1,1),…,(4,4)(1,1),\ldots,(4,4) termuat, sehingga SS refleksif. Pasangan nondiagonal hanya (1,3)(1,3) dan (3,1)(3,1), dan keduanya saling mencerminkan, sehingga SS simetris.

    Untuk transitivitas, misalkan xSyxSy dan ySzySz. Jika premis pertama diagonal, yaitu x=yx=y, maka kesimpulan xSzxSz sama dengan premis kedua. Hal serupa berlaku jika y=zy=z. Jika keduanya nondiagonal, maka (x,y)(x,y) dan (y,z)(y,z) berasal dari {(1,3),(3,1)}\{(1,3),(3,1)\} dengan komponen tengah yang sama. Kemungkinannya hanya (1,3),(3,1)(1,3),(3,1), yang memberi (1,1)∈S(1,1)\in S, atau (3,1),(1,3)(3,1),(1,3), yang memberi (3,3)∈S(3,3)\in S.

    Kelas-kelasnya: [1]={x∈A:xS1}={1,3}[1]=\{x\in A:xS1\}=\{1,3\}, [3]={x∈A:xS3}={1,3}[3]=\{x\in A:xS3\}=\{1,3\}, [2]={2}[2]=\{2\}, [4]={4}[4]=\{4\}. Ada empat wakil tetapi tiga kelas, dan menurut Lemma 4.2.14, KS={{1,3},{2},{4}}\mathcal K_S=\{\{1,3\},\{2\},\{4\}\}. Pasangan yang kedua komponennya termuat dalam satu blok adalah (1,1),(1,3),(3,1),(3,3)(1,1),(1,3),(3,1),(3,3) dari blok pertama, serta (2,2)(2,2) dan (4,4)(4,4). Hasilnya tepat SS, sesuai Teorema 4.2.20(b).

    4.2.26. Π⊆P(A)\Pi\subseteq\mathcal P(A), kedua blok tak kosong, gabungannya {1,2,3,4,5}=A\{1,2,3,4,5\}=A, dan {1,4}∩{2,3,5}=∅\{1,4\}\cap\{2,3,5\}=\varnothing. Jadi Π\Pi partisi. Menurut Lemma 4.2.17, pasangan di ∼Π\sim_\Pi tepat pasangan yang kedua komponennya termuat dalam satu blok:

    ∼Π={(1,1),(1,4),(4,1),(4,4), (2,2),(2,3),(2,5),(3,2),(3,3),(3,5),(5,2),(5,3),(5,5)},\sim_\Pi=\{(1,1),(1,4),(4,1),(4,4),\,(2,2),(2,3),(2,5),(3,2),(3,3),(3,5),(5,2),(5,3),(5,5)\},

    yaitu 4+9=134+9=13 pasangan.

    Untuk [5][5]: pasangan di ∼Π\sim_\Pi dengan komponen kedua 55 adalah (2,5),(3,5),(5,5)(2,5),(3,5),(5,5), sehingga [5]={2,3,5}[5]=\{2,3,5\}. Untuk [1][1]: pasangan dengan komponen kedua 11 adalah (1,1),(4,1)(1,1),(4,1), sehingga [1]={1,4}[1]=\{1,4\}. Keduanya adalah blok yang memuat wakilnya, sesuai Lemma 4.2.19.

    4.2.27. (i)⇒\Rightarrow(ii): inklusi [a]⊆[b][a]\subseteq[b] memakai transitivitas, sedangkan [b]⊆[a][b]\subseteq[a] memakai simetri dan transitivitas. (ii)⇒\Rightarrow(iii): refleksivitas, melalui a∈[a]a\in[a]. (iii)⇒\Rightarrow(i): simetri dan transitivitas.

    Untuk TT, refleksivitas dan simetri tersedia, sehingga (ii)⇒\Rightarrow(iii) tetap berlaku. Dengan N(a)={x∈A:xTa}N(a)=\{x\in A:xTa\} seperti di Contoh 4.2.8:

    • (i)⇒\Rightarrow(ii) gagal: 1T21T2, tetapi N(1)={1,2}≠{1,2,3}=N(2)N(1)=\{1,2\}\ne\{1,2,3\}=N(2). Saksinya 3∈N(2)∖N(1)3\in N(2)\setminus N(1). Pada langkah transitivitas, 3T23T2 dan 2T12T1 tidak memberi 3T13T1.
    • (iii)⇒\Rightarrow(i) gagal: 2∈N(1)∩N(3)2\in N(1)\cap N(3), tetapi bukan 1T31T3.

    4.2.28. (a) Bukan partisi: {1,2}≠{2,3}\{1,2\}\ne\{2,3\} tetapi irisannya {2}\{2\}, sehingga (P3) gagal. (b) Bukan partisi: 4∉⋃{{1},{2,3}}={1,2,3}4\notin\bigcup\{\{1\},\{2,3\}\}=\{1,2,3\}, sehingga (P2) gagal. (c) Partisi: satu blok tak kosong yang sama dengan AA, dan (P3) vakum karena tidak ada dua blok berbeda. (d) Bukan partisi: ∅\varnothing adalah blok, sehingga (P1) gagal, walaupun (P2) dan (P3) berlaku. (e) Partisi: kedua blok tak kosong, saling lepas, dan gabungannya AA.

    4.2.29. Setiap x∈Ax\in A termuat dalam suatu anggota F\mathcal F, sehingga xρxx\rho x. Simetri berlaku karena kondisi "x,y∈Bx,y\in B" simetris dalam xx dan yy. Transitivitas gagal: 1ρ21\rho2 melalui {1,2}\{1,2\} dan 2ρ32\rho3 melalui {2,3}\{2,3\}, tetapi tidak ada anggota F\mathcal F yang memuat 11 dan 33.

    Pada bukti Teorema 4.2.18, dari y=2∈B∩Cy=2\in B\cap C dengan B={1,2}B=\{1,2\} dan C={2,3}C=\{2,3\} kita menyimpulkan B=CB=C menggunakan (P3). Langkah itu gagal karena F\mathcal F tidak memenuhi (P3).

    4.2.30. Simetri. Misalkan x∼yx\sim y. Refleksivitas memberi x∼xx\sim x. Terapkan hipotesis pada x∼yx\sim y dan x∼xx\sim x, dengan z:=xz:=x, sehingga diperoleh y∼xy\sim x. Transitivitas. Misalkan x∼yx\sim y dan y∼zy\sim z. Simetri yang baru dibuktikan memberi y∼xy\sim x. Terapkan hipotesis pada y∼xy\sim x dan y∼zy\sim z, dengan peran (x,y,z)(x,y,z) diisi (y,x,z)(y,x,z), sehingga diperoleh x∼zx\sim z. Sebaliknya. Jika ∼\sim ekuivalensi, serta x∼yx\sim y dan x∼zx\sim z, maka simetri memberi y∼xy\sim x, dan transitivitas pada y∼xy\sim x, x∼zx\sim z memberi y∼zy\sim z.

    4.2.31. (a) ∣x−x∣=0≤1|x-x|=0\le1 dan ∣x−y∣=∣y−x∣|x-y|=|y-x|. Transitivitas gagal dengan saksi 2≈32\approx3, 3≈43\approx4, tetapi ∣2−4∣=2>1|2-4|=2>1.

    (b) N(2)={2,3}N(2)=\{2,3\}, N(3)={2,3,4}N(3)=\{2,3,4\}, N(4)={3,4}N(4)=\{3,4\}, N(10)={10}N(10)=\{10\}. Seperti pada Lemma 4.2.14, B∈NB\in\mathcal N jika dan hanya jika B=N(a)B=N(a) untuk suatu a∈Aa\in A. Jadi N={{2,3},{2,3,4},{3,4},{10}}\mathcal N=\{\{2,3\},\{2,3,4\},\{3,4\},\{10\}\}. Keluarga ini ada menurut separasi pada P(A)\mathcal P(A); yang gagal adalah syarat partisinya. Himpunan N(2)≠N(3)N(2)\ne N(3) tetapi N(2)∩N(3)={2,3}≠∅N(2)\cap N(3)=\{2,3\}\ne\varnothing, sehingga (P3) gagal.

    (c) Misalkan Π\Pi memenuhi syarat. Pasangan 2≈32\approx3 memaksa 22 dan 33 berada dalam satu blok BB. Pasangan 3≈43\approx4 memaksa 33 dan 44 berada dalam satu blok CC. Karena 3∈B∩C3\in B\cap C, (P3) memberi B=CB=C, sehingga {2,3,4}⊆B\{2,3,4\}\subseteq B. Partisi {{2,3,4},{10}}\{\{2,3,4\},\{10\}\} memenuhi syarat, sebab setiap pasangan ≈\approx termuat dalam salah satu bloknya. Partisi ini juga mempunyai blok sebanyak mungkin: setiap partisi yang memenuhi syarat menaruh 2,3,42,3,4 dalam satu blok, sehingga paling banyak ada dua blok. Pengelompokan yang konsisten dengan kemiripan ini memaksa 22 dan 44 sekelompok, walaupun keduanya tidak mirip.

    4.2.32. ∅×∅=∅\varnothing\times\varnothing=\varnothing, sehingga satu-satunya relasi pada ∅\varnothing adalah ∅\varnothing, dan relasi ini ekuivalensi secara vakum. P(∅)={∅}\mathcal P(\varnothing)=\{\varnothing\} mempunyai dua himpunan bagian, yaitu ∅\varnothing dan {∅}\{\varnothing\}. Menurut Contoh 4.2.12, hanya ∅\varnothing yang partisi.

    Pemeriksaan langsung Teorema 4.2.20(a): untuk partisi Π=∅\Pi=\varnothing, relasi ∼Π⊆∅×∅=∅\sim_\Pi\subseteq\varnothing\times\varnothing=\varnothing, jadi ∼Π\sim_\Pi adalah relasi kosong. Keluarga kelasnya kosong karena syarat pemisah menuntut saksi a∈∅a\in\varnothing. Jadi K∼Π=∅=Π\mathcal K_{\sim_\Pi}=\varnothing=\Pi.

    Pemeriksaan langsung Teorema 4.2.20(b): untuk relasi ∼  =∅\sim\;=\varnothing, keluarga kelas K∼=∅\mathcal K_\sim=\varnothing dengan alasan yang sama. Relasi yang dibentuk dari partisi kosong ini termuat dalam ∅×∅=∅\varnothing\times\varnothing=\varnothing, sehingga sama dengan relasi awal ∅\varnothing.

    4.2.33. P(A)={∅,{∅}}\mathcal P(A)=\{\varnothing,\{\varnothing\}\}, sehingga himpunan bagiannya ada empat: ∅\varnothing, {∅}\{\varnothing\}, {{∅}}\{\{\varnothing\}\}, {∅,{∅}}\{\varnothing,\{\varnothing\}\}.

    • ∅\varnothing: ⋃∅=∅≠A\bigcup\varnothing=\varnothing\ne A, sebab ∅∈A\varnothing\in A. Bukan partisi.
    • {∅}\{\varnothing\}: bloknya kosong. Bukan partisi.
    • {{∅}}\{\{\varnothing\}\}: satu blok {∅}=A\{\varnothing\}=A, tak kosong, dengan gabungan AA. Ini partisi.
    • {∅,{∅}}\{\varnothing,\{\varnothing\}\}: memuat blok kosong. Bukan partisi.

    Jadi satu-satunya partisi adalah {A}={{∅}}\{A\}=\{\{\varnothing\}\}. Objek ∅\varnothing di sini adalah anggota AA, dan sebagai blok ia ditolak oleh (P1). Selanjutnya, A×A={(∅,∅)}A\times A=\{(\varnothing,\varnothing)\}, sehingga relasi pada AA ada dua: ∅\varnothing, yang tidak refleksif karena A≠∅A\ne\varnothing, dan {(∅,∅)}\{(\varnothing,\varnothing)\}, yang ekuivalensi. Satu ekuivalensi berpadanan dengan satu partisi, sesuai Teorema 4.2.20.

    4.2.34. Misalkan Π\Pi partisi dari A={1,2,3}A=\{1,2,3\}. Menurut Lemma 4.2.10, ada tepat satu blok B1∈ΠB_1\in\Pi yang memuat 11. Karena 1∈B1⊆A1\in B_1\subseteq A, B1B_1 salah satu dari {1},{1,2},{1,3},{1,2,3}\{1\},\{1,2\},\{1,3\},\{1,2,3\}. Setiap blok C∈ΠC\in\Pi tak kosong menurut (P1). Jadi CC memuat suatu x∈Ax\in A, dan menurut Lemma 4.2.10, CC adalah blok tunggal yang memuat xx. Akibatnya Π\Pi ditentukan penuh oleh blok-blok yang memuat 11, 22, dan 33.

    • B1=AB_1=A: blok yang memuat 22 dan blok yang memuat 33 juga B1B_1, sehingga Π={A}\Pi=\{A\}.
    • B1={1,2}B_1=\{1,2\}: blok CC yang memuat 33 berbeda dari B1B_1 karena 3∉B13\notin B_1, sehingga C∩B1=∅C\cap B_1=\varnothing menurut (P3). Jadi C⊆{3}C\subseteq\{3\}, dan karena 3∈C3\in C, C={3}C=\{3\}. Maka Π={{1,2},{3}}\Pi=\{\{1,2\},\{3\}\}.
    • B1={1,3}B_1=\{1,3\}: secara serupa, Π={{1,3},{2}}\Pi=\{\{1,3\},\{2\}\}.
    • B1={1}B_1=\{1\}: blok CC yang memuat 22 berbeda dari B1B_1, sehingga saling lepas dengannya, dan C∈{{2},{2,3}}C\in\{\{2\},\{2,3\}\}. Jika C={2,3}C=\{2,3\}, maka Π={{1},{2,3}}\Pi=\{\{1\},\{2,3\}\}. Jika C={2}C=\{2\}, blok yang memuat 33 saling lepas dengan {1}\{1\} dan {2}\{2\}, sehingga sama dengan {3}\{3\}. Maka Π={{1},{2},{3}}\Pi=\{\{1\},\{2\},\{3\}\}.

    Sebaliknya, kelima keluarga ini memenuhi (P1)–(P3). Setiap bloknya tak kosong dan termuat dalam AA; gabungan blok-blok tiap keluarga adalah {1,2,3}\{1,2,3\}, seperti terlihat langsung dari daftarnya; dan blok-blok yang berbeda dalam satu keluarga tidak berbagi anggota. Kelima keluarga juga saling berbeda, karena blok yang memuat 11 atau blok yang memuat 22 berbeda di antara mereka. Jadi partisi dari {1,2,3}\{1,2,3\} tepat lima.

    Menurut Teorema 4.2.20, partisi yang berbeda menghasilkan ekuivalensi yang berbeda, dan setiap ekuivalensi berasal dari suatu partisi. Jadi ada tepat lima relasi ekuivalensi pada {1,2,3}\{1,2,3\}. Relasi RR berpadanan dengan {{1,2},{3}}\{\{1,2\},\{3\}\} (Contoh 4.2.22).

    4.2.35. Andaikan x∼yx\sim y untuk suatu x∈[a]x\in[a] dan y∈[b]y\in[b]. Akibat 4.2.6(b) memberi [x]=[a][x]=[a] dan [y]=[b][y]=[b]. Teorema 4.2.5 memberi [x]=[y][x]=[y]. Jadi [a]=[b][a]=[b], bertentangan dengan hipotesis.

    Teorema 4.2.15 memberi himpunan sah K∼⊆P(A)\mathcal K_\sim\subseteq\mathcal P(A) yang anggotanya adalah kelas-kelas, bukan wakil-wakilnya. Di 4.3 himpunan ini diberi nama himpunan kuosien dan dilambangkan A/∼A/{\sim}. Konstruksinya tidak perlu diulang, karena keberadaannya sudah dijamin oleh separasi pada P(A)\mathcal P(A). Aturan a↦[a]a\mapsto[a] dapat dipandang sebagai pratinjau fungsi: setiap aa menentukan tepat satu kelas, dan setiap kelas mempunyai sekurang-kurangnya satu wakil. Dari sini belum dapat disimpulkan adanya satu pilihan wakil serentak untuk semua kelas.

    Akibat 4.2.6 sekaligus memunculkan persoalan utama unit berikutnya. Karena satu kelas dapat mempunyai beberapa wakil, setiap aturan yang didefinisikan melalui wakil harus diperiksa agar hasilnya tidak bergantung pada wakil yang dipilih. Di 4.3 pemeriksaan ini disebut sifat terdefinisi dengan baik (well-defined). Contoh utamanya adalah kongruensi modulo bilangan bulat positif mm.

    4.3 Kelas Ekuivalensi dan Himpunan Kuosien

    Di 4.2 kita membuktikan bahwa relasi ekuivalensi ∼\sim pada himpunan AA memecah AA menjadi kelas-kelas yang saling lepas. Unit ini memakai pecahan itu untuk membentuk objek baru. Gagasannya adalah memperlakukan unsur-unsur yang setara sebagai satu objek. Dalam aritmetika jam, misalnya, kita tidak membedakan 33, 88, 1313, dan −2-2 jika yang penting hanya sisa pembagiannya oleh 55. Secara informal, kita juga tidak membedakan dua pecahan yang menyatakan rasio yang sama. Bilangan rasional belum dibangun dalam buku ini, jadi contoh ini hanya motivasi.

    Ada dua cara keliru untuk "mengidentifikasi". Cara pertama adalah berpura-pura bahwa 3=83=8. Ini salah, karena keduanya tetap bilangan bulat yang berbeda. Cara kedua adalah memilih satu nama untuk setiap golongan dan membuang sisanya. Cara ini memerlukan pemilihan wakil dari setiap golongan, dan pemilihan semacam itu tidak selalu dapat dibenarkan tanpa argumen tambahan. Cara yang sah lebih sederhana: objek barunya adalah kelas itu sendiri, yaitu himpunan semua unsur yang setara. Dua bilangan yang setara tidak menjadi sama. Yang sama adalah kelasnya, dan kesamaan kelas sudah dicirikan di 4.2:

    [a]=[b]  ⟺  a∼b.[a]=[b]\iff a\sim b .

    Himpunan kuosien

    Definisi 4.3.1 (himpunan kuosien). Misalkan ∼\sim relasi ekuivalensi pada himpunan AA. Himpunan kuosien AA oleh ∼\sim adalah

    A/∼  :=  {B∈P(A):∃a∈A  ∀x  (x∈B↔(x∈A∧x∼a))}.A/{\sim}\;:=\;\{B\in\mathcal P(A):\exists a\in A\;\forall x\;(x\in B\leftrightarrow(x\in A\land x\sim a))\}.

    Himpunan ini ada karena dibentuk dengan separasi pada himpunan kuasa P(A)\mathcal P(A), yang keberadaannya sudah dijamin di Bab 3. Ini adalah keluarga kelas K∼\mathcal K_\sim yang dibentuk di 4.2, sehingga A/∼=K∼A/{\sim}=\mathcal K_\sim. Kita memakai singkatan

    A/∼={[a]:a∈A},A/{\sim}=\{[a]:a\in A\},

    dengan pengertian bahwa B∈A/∼B\in A/{\sim} jika dan hanya jika B=[a]B=[a] untuk suatu a∈Aa\in A. Singkatan ini bukan komprehensi baru tanpa pembatas. Ia hanya cara lain menuliskan himpunan yang sudah dibatasi oleh P(A)\mathcal P(A).

    Ada dua hal yang perlu ditekankan.

    1. Anggota A/∼A/{\sim} adalah kelas-kelas yang merupakan himpunan bagian AA. Keanggotaan suatu kelas dalam AA tidak mengikuti definisi kuosien. Kalimat "[a]∈A/∼[a]\in A/{\sim}" benar untuk a∈Aa\in A. Kalimat "a∈A/∼a\in A/{\sim}" memerlukan pemeriksaan tersendiri dan bukan arti notasi kelas tersebut.
    2. Lambang [a][a] adalah nama kelas, dan satu kelas dapat mempunyai banyak nama. Jika a∼ba\sim b dan a≠ba\ne b, maka [a][a] dan [b][b] adalah dua nama untuk satu objek. Jadi banyaknya anggota kuosien tidak dapat dihitung dengan menghitung nama-nama wakil.

    Proposisi 4.3.2 (setiap anggota kelas mewakilinya). Misalkan C∈A/∼C\in A/{\sim} dan c∈Cc\in C. Maka C=[c]C=[c]. Akibatnya, jika c,c′∈Cc,c'\in C, maka c∼c′c\sim c'.

    Bukti. Karena C∈A/∼C\in A/{\sim}, ada a∈Aa\in A dengan C=[a]C=[a]. Dari c∈[a]c\in[a] diperoleh c∼ac\sim a. Menurut 4.2, c∼ac\sim a berakibat [c]=[a]=C[c]=[a]=C. Untuk bagian kedua, [c]=C=[c′][c]=C=[c'], sehingga c∼c′c\sim c', juga menurut 4.2. □\square

    Proposisi ini memberi isi pada ungkapan "ambil sembarang wakil". Setiap kelas tidak kosong karena a∈[a]a\in[a], jadi kita dapat mengambil satu unsur c∈Cc\in C. Unsur mana pun yang diambil, kelas yang ditentukannya tetap CC.

    Contoh 4.3.3. (a) Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\}, ambil relasi dari 4.1:

    R={(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1)}=(C×C)∪(D×D),C={1,2},  D={3}.R=\{(1,1),(2,2),(3,3),(1,2),(2,1)\}=(C\times C)\cup(D\times D),\qquad C=\{1,2\},\;D=\{3\}.

    Di 4.2 sudah diperiksa bahwa [1]=[2]={1,2}[1]=[2]=\{1,2\} dan [3]={3}[3]=\{3\}. Jadi

    A/R={{1,2},{3}}.A/R=\{\{1,2\},\{3\}\}.

    Himpunan ini mempunyai dua anggota, walaupun ada tiga nama wakil [1],[2],[3][1],[2],[3].

    (b) Pada A=∅A=\varnothing, relasi kosong adalah ekuivalensi. Syarat "∃a∈∅ (… )\exists a\in\varnothing\,(\dots)" selalu salah, sehingga ∅/∼=∅\varnothing/{\sim}=\varnothing. Hasilnya bukan {∅}\{\varnothing\}, karena ∅\varnothing bukan kelas dari unsur mana pun.

    Catatan 4.3.4 (proyeksi; pratinjau Bab 5). Aturan a↦[a]a\mapsto[a] disebut proyeksi dari AA ke A/∼A/{\sim}. Ada dua fakta tentangnya. Pertama, setiap a∈Aa\in A menentukan tepat satu kelas, yaitu [a][a]. Kedua, setiap kelas CC sama dengan [c][c] untuk suatu c∈Ac\in A, karena kelas tidak kosong dan Proposisi 4.3.2 berlaku. Grafik aturan ini, {(a,[a]):a∈A}\{(a,[a]):a\in A\}, dapat dibentuk dengan separasi pada A×(A/∼)A\times(A/{\sim}). Pembahasan fungsi secara resmi, termasuk istilah surjeksi, menunggu Bab 5.

    Yang tidak kita klaim adalah arah sebaliknya, yaitu adanya aturan yang memilih satu wakil tertentu dari setiap kelas sekaligus. Fakta "setiap kelas tak kosong" hanya mengizinkan kita mengambil wakil dari kelas yang sedang ditinjau. Fakta itu tidak memberi pilihan serentak untuk semua kelas. Unit ini tidak memerlukan pilihan serentak. Pada contoh modulo mm di bawah, pembagian Euclid justru memberi wakil kanonik yang didefinisikan secara eksplisit, sehingga tidak ada pemilihan yang perlu dibenarkan.

    Kongruensi modulo mm

    Bilangan bulat dan aritmetika elementernya (penjumlahan, perkalian, urutan <<, nilai mutlak, dan hukum-hukum yang biasa) dipinjam di sini sebagai bahan contoh. Konstruksinya dari teori himpunan dilakukan kemudian. Sepanjang bagian ini, mm adalah bilangan bulat dengan m>0m>0. Rumusan ini dipilih dengan sengaja. Kita tidak menulis m∈Nm\in\mathbb N, karena dengan konvensi buku N={0,1,2,…}\mathbb N=\{0,1,2,\ldots\} rumusan itu akan memasukkan m=0m=0.

    Definisi 4.3.5. Untuk m,t∈Zm,t\in\mathbb Z, tulis m∣tm\mid t (dibaca "mm membagi tt") jika ada k∈Zk\in\mathbb Z dengan t=mkt=mk. Bilangan kk disebut saksi. Untuk x,y∈Zx,y\in\mathbb Z dan m>0m>0 didefinisikan

    x≡y(modm):⟺m∣(x−y).x\equiv y\pmod m\quad:\Longleftrightarrow\quad m\mid(x-y).

    Sebagai himpunan, relasinya adalah {(x,y)∈Z×Z:m∣(x−y)}\{(x,y)\in\mathbb Z\times\mathbb Z: m\mid(x-y)\}, yang dibentuk dengan separasi pada Z×Z\mathbb Z\times\mathbb Z. Kelas xx terhadap relasi ini ditulis [x][x], atau [x]m[x]_m bila modulusnya perlu disebut. Kuosiennya ditulis Z/mZ\mathbb Z/m\mathbb Z. Lambang ini dibaca sebagai satu nama untuk Z/≡m\mathbb Z/{\equiv_m}. Alasan penamaannya terlihat dari Proposisi 4.3.7, dengan mZ:=0+mZ=[0]m\mathbb Z:=0+m\mathbb Z=[0].

    Proposisi 4.3.6. Untuk setiap bilangan bulat m>0m>0, relasi ≡(modm)\equiv\pmod m adalah relasi ekuivalensi pada Z\mathbb Z.

    Bukti. Ambil sembarang x,y,z∈Zx,y,z\in\mathbb Z.

    Refleksif. x−x=0=m⋅0x-x=0=m\cdot 0. Saksi k=0k=0 menunjukkan m∣(x−x)m\mid(x-x), jadi x≡xx\equiv x.

    Simetris. Misalkan x≡yx\equiv y, yaitu x−y=mkx-y=mk untuk suatu k∈Zk\in\mathbb Z. Maka y−x=−(x−y)=m(−k)y-x=-(x-y)=m(-k), dan −k∈Z-k\in\mathbb Z. Jadi y≡xy\equiv x.

    Transitif. Misalkan x≡yx\equiv y dan y≡zy\equiv z, yaitu x−y=mkx-y=mk dan y−z=mℓy-z=m\ell untuk suatu k,ℓ∈Zk,\ell\in\mathbb Z. Maka

    x−z=(x−y)+(y−z)=mk+mℓ=m(k+ℓ),x-z=(x-y)+(y-z)=mk+m\ell=m(k+\ell),

    dan k+ℓ∈Zk+\ell\in\mathbb Z. Jadi x≡zx\equiv z. □\square

    Bukti ini tidak memakai pembagian Euclid. Bukti ini juga tidak memakai syarat m>0m>0. Syarat itu baru diperlukan saat kita menghitung kelas (lihat Catatan 4.3.13).

    Proposisi 4.3.7 (deskripsi kelas). Untuk r∈Zr\in\mathbb Z didefinisikan, dengan separasi pada Z\mathbb Z,

    r+mZ:={x∈Z:∃k∈Z  (x=r+mk)},r+m\mathbb Z:=\{x\in\mathbb Z:\exists k\in\mathbb Z\;(x=r+mk)\},

    yang biasa ditulis {r+mk:k∈Z}\{r+mk:k\in\mathbb Z\}. Maka

    [r]={x∈Z:m∣(x−r)}=r+mZ.[r]=\{x\in\mathbb Z:m\mid(x-r)\}=r+m\mathbb Z .

    Bukti. Kesamaan pertama adalah definisi kelas: x∈[r]x\in[r] jika dan hanya jika x∈Zx\in\mathbb Z dan x≡rx\equiv r, yaitu m∣(x−r)m\mid(x-r). Kesamaan kedua dibuktikan dengan dua inklusi.

    (⊆\subseteq) Jika x∈[r]x\in[r], ada k∈Zk\in\mathbb Z dengan x−r=mkx-r=mk. Maka x=r+mkx=r+mk, sehingga x∈r+mZx\in r+m\mathbb Z.

    (⊇\supseteq) Jika x∈r+mZx\in r+m\mathbb Z, ada k∈Zk\in\mathbb Z dengan x=r+mkx=r+mk. Maka x−r=mkx-r=mk, sehingga m∣(x−r)m\mid(x-r) dan x∈[r]x\in[r]. □\square

    Bentuk r+mZr+m\mathbb Z adalah deskripsi lain dari himpunan yang keberadaannya sudah dijamin. Ia bukan cara kedua untuk membentuk objek tersebut.

    Pembagian Euclid sebagai prasyarat yang dinyatakan

    Untuk membuktikan bahwa ada tepat mm kelas, kita perlu dua fakta. Pertama, setiap bilangan bulat setara dengan salah satu dari 0,1,…,m−10,1,\ldots,m-1. Kedua, bilangan-bilangan itu tidak saling setara. Fakta pertama memerlukan suatu sifat bilangan bulat yang belum kita buktikan, jadi kita menyatakannya secara terbuka.

    Lemma 4.3.8. Misalkan m>0m>0, t∈Zt\in\mathbb Z, m∣tm\mid t, dan ∣t∣<m|t|<m. Maka t=0t=0.

    Bukti. Tulis t=mkt=mk dengan k∈Zk\in\mathbb Z. Andaikan k≠0k\ne0. Bilangan bulat tak nol memenuhi ∣k∣≥1|k|\ge1; ini sifat aritmetika Z\mathbb Z yang dipinjam. Maka ∣t∣=m∣k∣≥m|t|=m|k|\ge m, yang bertentangan dengan ∣t∣<m|t|<m. Jadi k=0k=0 dan t=0t=0. □\square

    Teorema 4.3.9 (pembagian Euclid; dipinjam). Untuk setiap x∈Zx\in\mathbb Z dan setiap bilangan bulat m>0m>0, ada tepat satu pasangan q,r∈Zq,r\in\mathbb Z dengan

    x=mq+rdan0≤r<m.x=mq+r\qquad\text{dan}\qquad 0\le r<m .

    Status teorema ini. Hasil ini dipinjam dari aritmetika bilangan bulat. Bukti di bawah memakai prinsip urutan baik untuk N\mathbb N: setiap himpunan bagian tak kosong dari N\mathbb N mempunyai unsur terkecil. Prinsip ini baru dikembangkan di Bab 7. Jadi bukti ini sah dengan syarat prinsip tersebut diterima. Selain urutan baik, bukti memakai sifat-sifat Z\mathbb Z yang dipinjam: N⊆Z\mathbb N\subseteq\mathbb Z, bilangan bulat positif paling sedikit 11, dan hasil kali dua bilangan bulat tak nol tidak nol. Bukti ini tidak memakai fungsi lantai, karena keberadaannya belum dijamin di buku ini.

    Bukti (dengan prasyarat urutan baik).

    Keberadaan. Bentuk dengan separasi pada N\mathbb N:

    S:={n∈N:∃q∈Z  (n=x−mq)}.S:=\{n\in\mathbb N:\exists q\in\mathbb Z\;(n=x-mq)\}.

    Himpunan SS tidak kosong. Ambil q=−∣x∣q=-|x|, sehingga x−mq=x+m∣x∣x-mq=x+m|x|. Karena m≥1m\ge1 dan ∣x∣≥0|x|\ge0, berlaku x+m∣x∣≥x+∣x∣≥0x+m|x|\ge x+|x|\ge0. Jadi bilangan ini anggota N\mathbb N dan anggota SS. Menurut urutan baik, SS mempunyai unsur terkecil rr. Tulis r=x−mq0r=x-mq_0 untuk suatu q0∈Zq_0\in\mathbb Z. Karena r∈Nr\in\mathbb N, berlaku r≥0r\ge0. Andaikan r≥mr\ge m. Maka r−m∈Nr-m\in\mathbb N dan

    r−m=x−m(q0+1),r-m=x-m(q_0+1),

    sehingga r−m∈Sr-m\in S dan r−m<rr-m<r. Ini bertentangan dengan pemilihan rr sebagai unsur terkecil. Jadi 0≤r<m0\le r<m, dan x=mq0+rx=mq_0+r.

    Ketunggalan. Misalkan x=mq+r=mq′+r′x=mq+r=mq'+r' dengan 0≤r,r′<m0\le r,r'<m. Maka r′−r=m(q−q′)r'-r=m(q-q'), sehingga m∣(r′−r)m\mid(r'-r). Dari 0≤r,r′<m0\le r,r'<m diperoleh −m<r′−r<m-m<r'-r<m, yaitu ∣r′−r∣<m|r'-r|<m. Menurut Lemma 4.3.8, r′−r=0r'-r=0, jadi r=r′r=r'. Akibatnya m(q−q′)=0m(q-q')=0. Karena m≠0m\ne0 dan hasil kali dua bilangan bulat tak nol tidak nol, berlaku q−q′=0q-q'=0, yaitu q=q′q=q'. □\square

    Tepat mm kelas

    Teorema 4.3.10. Untuk setiap bilangan bulat m>0m>0:

    (a) Z/mZ={[0],[1],…,[m−1]}\mathbb Z/m\mathbb Z=\{[0],[1],\ldots,[m-1]\};

    (b) untuk 0≤r,s<m0\le r,s<m, jika [r]=[s][r]=[s] maka r=sr=s. Dengan kata lain, kelas-kelas pada daftar (a) berbeda satu sama lain, dan menurut 4.2 dua kelas yang berbeda saling lepas.

    Di sini {[0],…,[m−1]}\{[0],\ldots,[m-1]\} menyingkat {C∈Z/mZ:∃r∈Z (0≤r<m∧C=[r])}\{C\in\mathbb Z/m\mathbb Z:\exists r\in\mathbb Z\,(0\le r<m\land C=[r])\}, yang dibentuk dengan separasi. Jadi kuosien terdiri dari tepat mm kelas, yaitu [0],…,[m−1][0],\ldots,[m-1]. Selain itu, setiap kelas memuat tepat satu bilangan rr dengan 0≤r<m0\le r<m. Bilangan itu disebut wakil kanonik kelas tersebut.

    Bukti. (a) Kedua inklusi dibuktikan terpisah.

    (⊇\supseteq) Ambil r∈Zr\in\mathbb Z dengan 0≤r<m0\le r<m. Maka [r]∈Z/mZ[r]\in\mathbb Z/m\mathbb Z.

    (⊆\subseteq) Ambil C∈Z/mZC\in\mathbb Z/m\mathbb Z, jadi C=[x]C=[x] untuk suatu x∈Zx\in\mathbb Z. Menurut Teorema 4.3.9, ada q,rq,r dengan x=mq+rx=mq+r dan 0≤r<m0\le r<m. Maka x−r=mqx-r=mq, sehingga x≡rx\equiv r dan [x]=[r][x]=[r] menurut 4.2. Jadi CC ada pada daftar.

    (b) Jika [r]=[s][r]=[s], maka r≡sr\equiv s, yaitu m∣(r−s)m\mid(r-s). Karena 0≤r,s<m0\le r,s<m, berlaku ∣r−s∣<m|r-s|<m. Menurut Lemma 4.3.8, r−s=0r-s=0.

    Wakil kanonik. Setiap CC memuat suatu rr dengan 0≤r<m0\le r<m: menurut (a), C=[r]C=[r] untuk suatu rr seperti itu, dan r∈[r]=Cr\in[r]=C. Jika r,s∈Cr,s\in C dengan 0≤r,s<m0\le r,s<m, Proposisi 4.3.2 memberi r≡sr\equiv s, jadi [r]=[s][r]=[s], dan menurut (b) r=sr=s. □\square

    Ada tiga catatan tentang bukti ini.

    • Bagian (a) hanya memakai keberadaan dalam Teorema 4.3.9. Bagian (b) tidak memakai teorema itu, hanya Lemma 4.3.8. Isi bagian (b) sebenarnya adalah ketunggalan sisa.
    • Wakil kanonik suatu kelas CC dapat didefinisikan secara eksplisit sebagai satu-satunya r∈Cr\in C dengan 0≤r<m0\le r<m. Karena itu, modulo mm kita mempunyai pemilihan wakil yang serentak tanpa aksioma pilihan, karena pemilihan itu ditentukan oleh rumus. Pemilihan itu tetap bergantung pada Teorema 4.3.9 yang dipinjam. Kelebihan ini khusus untuk contoh ini dan tidak berlaku untuk sembarang ekuivalensi.
    • Ungkapan "tepat mm" di sini berarti dua hal: daftar pada (a) menghabiskan kuosien, dan suku-suku daftar itu saling berbeda. Perumusan resmi tentang banyaknya unsur, melalui korespondensi satu-satu dengan {0,…,m−1}\{0,\ldots,m-1\}, memerlukan bahasa fungsi di Bab 5 dan induksi di Bab 7.

    Peringatan. Kuosien Z/5Z\mathbb Z/5\mathbb Z tidak boleh disamakan dengan {0,1,2,3,4}\{0,1,2,3,4\}. Anggota {0,1,2,3,4}\{0,1,2,3,4\} adalah bilangan bulat, yaitu wakil kanonik. Anggota Z/5Z\mathbb Z/5\mathbb Z adalah kelas, yaitu himpunan bagian Z\mathbb Z seperti [0]={x∈Z:5∣(x−0)}[0]=\{x\in\mathbb Z:5\mid(x-0)\}, yang memuat 0,5,−5,10,…0,5,-5,10,\ldots. Hubungan yang benar antara keduanya adalah korespondensi r↦[r]r\mapsto[r], bukan kesamaan. Perlakukan setiap pernyataan tentang kelas sebagai pernyataan tentang himpunan, bukan tentang satu bilangan.

    Contoh 4.3.11 (m=5m=5). Kelima kelasnya adalah

    [0]={…,−10,−5,0,5,10,…},[1]={…,−9,−4,1,6,11,…},[2]={…,−8,−3,2,7,12,…},[3]={…,−7,−2,3,8,13,…},[4]={…,−6,−1,4,9,14,…}.\begin{aligned} [0]&=\{\ldots,-10,-5,0,5,10,\ldots\}, & [1]&=\{\ldots,-9,-4,1,6,11,\ldots\},\\ [2]&=\{\ldots,-8,-3,2,7,12,\ldots\}, & [3]&=\{\ldots,-7,-2,3,8,13,\ldots\},\\ [4]&=\{\ldots,-6,-1,4,9,14,\ldots\}. \end{aligned}

    Penulisan dengan elipsis di atas hanya ilustrasi. Definisi resminya adalah [r]={x∈Z:5∣(x−r)}[r]=\{x\in\mathbb Z:5\mid(x-r)\}. Misalnya [3]={x∈Z:5∣(x−3)}[3]=\{x\in\mathbb Z:5\mid(x-3)\}. Beberapa perhitungan:

    • −7=5⋅(−2)+3-7=5\cdot(-2)+3 dengan 0≤3<50\le3<5, sehingga [−7]=[3][-7]=[3]. Pemeriksaan langsung: −7−3=−10=5⋅(−2)-7-3=-10=5\cdot(-2).
    • Persamaan −7=5⋅(−1)+(−2)-7=5\cdot(-1)+(-2) juga benar, tetapi −2-2 bukan sisa Euclid karena −2<0-2<0. Persamaan itu tetap menunjukkan −7≡−2-7\equiv-2. Ini konsisten dengan [−2]=[3][-2]=[3], sebab −2=5⋅(−1)+3-2=5\cdot(-1)+3.
    • 13=5⋅2+313=5\cdot2+3, sehingga [13]=[3]=[−7][13]=[3]=[-7]. Jadi 33, 1313, dan −7-7 adalah tiga nama untuk satu kelas.
    • −1=5⋅(−1)+4-1=5\cdot(-1)+4, sehingga [−1]=[4][-1]=[4]. Juga −10=5⋅(−2)+0-10=5\cdot(-2)+0, sehingga [−10]=[0][-10]=[0].

    Contoh 4.3.12 (m=1m=1). Untuk setiap x,y∈Zx,y\in\mathbb Z berlaku x−y=1⋅(x−y)x-y=1\cdot(x-y), jadi 1∣(x−y)1\mid(x-y). Maka [x]=Z[x]=\mathbb Z untuk setiap xx, dan

    Z/1Z={Z}={[0]}.\mathbb Z/1\mathbb Z=\{\mathbb Z\}=\{[0]\}.

    Kuosien ini mempunyai satu anggota, sesuai dengan Teorema 4.3.10 untuk m=1m=1: satu-satunya sisa dengan 0≤r<10\le r<1 adalah r=0r=0.

    Catatan 4.3.13 (mengapa m=0m=0 dikeluarkan, dan mm negatif tidak diperlukan).

    Kasus m=0m=0. Definisi 0∣t0\mid t tetap bermakna, dan berarti t=0⋅k=0t=0\cdot k=0. Jika rumus Definisi 4.3.5 diterapkan pada m=0m=0, maka x≡y(mod0)x\equiv y\pmod 0 jika dan hanya jika x=yx=y, yaitu relasi kesamaan. Bukti Proposisi 4.3.6 tetap berlaku, sehingga relasi ini masih ekuivalensi, dengan kelas [x]={x}[x]=\{x\}. Klaim "tepat mm kelas" gagal untuk m=0m=0. Pertama, Z≠∅\mathbb Z\ne\varnothing, sehingga kuosiennya memuat paling sedikit satu kelas, yaitu {0}\{0\}, padahal klaim itu menyatakan tidak ada kelas sama sekali. Alasan ini sudah cukup untuk membantah klaim tersebut. Kedua, kelas-kelas {0},{1},{2},…\{0\},\{1\},\{2\},\ldots saling berbeda. Secara intuitif, tidak ada daftar berhingga yang dapat menghabiskannya, tetapi perumusan resmi "berhingga" dan "tak hingga" menunggu Bab 7. Pembagian Euclid juga gagal pada m=0m=0, karena syarat 0≤r<00\le r<0 mustahil dipenuhi.

    Kasus m<0m<0. Karena t=mkt=mk jika dan hanya jika t=(−m)(−k)t=(-m)(-k), berlaku m∣t  ⟺  (−m)∣tm\mid t\iff(-m)\mid t. Jadi modulus mm dan −m-m menghasilkan relasi yang sama. Membuang modulus negatif tidak menghilangkan satu pun relasi kongruensi: setiap relasi modulo m<0m<0 sudah muncul sebagai relasi modulo −m>0-m>0. Yang benar-benar dikeluarkan hanyalah m=0m=0, yaitu relasi kesamaan, dengan alasan di atas. Syarat m>0m>0 juga membuat syarat sisa 0≤r<m0\le r<m bermakna.

    Aturan pada kelas dan syarat well-defined

    Kita ingin menjumlahkan kelas dengan aturan [a]+[b]=[a+b][a]+[b]=[a+b]. Masalahnya, ruas kanan dihitung dari wakil aa dan bb, sedangkan ruas kiri seharusnya hanya bergantung pada kelas. Sebuah kelas mempunyai banyak wakil. Jika wakil yang berbeda menghasilkan kelas hasil yang berbeda, aturan itu tidak menentukan apa pun. Pemeriksaan bahwa hasilnya tidak bergantung pada wakil disebut pemeriksaan well-defined. Pemeriksaan ini wajib dilakukan sebelum aturan dipakai.

    Proposisi 4.3.14 (kriteria umum). Misalkan ∼\sim ekuivalensi pada AA, dan misalkan suatu aturan memberi setiap a∈Aa\in A tepat satu objek f(a)f(a) di himpunan YY. Maka dua pernyataan berikut setara:

    1. untuk setiap C∈A/∼C\in A/{\sim} ada tepat satu y∈Yy\in Y sehingga y=f(c)y=f(c) untuk setiap c∈Cc\in C;
    2. untuk setiap a,a′∈Aa,a'\in A: a∼a′⇒f(a)=f(a′)a\sim a'\Rightarrow f(a)=f(a'), dengan kesamaan di YY.

    Bukti. (2 ⇒ 1) Ambil C∈A/∼C\in A/{\sim}. Kelas itu tidak kosong, jadi ambil satu c0∈Cc_0\in C dan tetapkan y=f(c0)y=f(c_0). Untuk sembarang c∈Cc\in C, Proposisi 4.3.2 memberi c∼c0c\sim c_0, sehingga f(c)=f(c0)=yf(c)=f(c_0)=y menurut (2). Nilai yy tunggal karena setiap y′y' yang memenuhi syarat harus sama dengan f(c0)f(c_0).

    (1 ⇒ 2) Misalkan a∼a′a\sim a'. Maka a,a′∈[a]a,a'\in[a]. Menurut (1), ada yy dengan f(a)=y=f(a′)f(a)=y=f(a'). □\square

    Hal terpenting di sini adalah bahwa jenis kesamaan yang diperiksa ditentukan oleh himpunan sasaran YY. Jika Y=ZY=\mathbb Z, yang diperiksa adalah kesamaan bilangan. Jika Y=Z/mZY=\mathbb Z/m\mathbb Z, yang diperiksa adalah kesamaan kelas, yaitu kongruensi wakil-wakilnya. Proposisi ini hanya pratinjau. Bahasa fungsi yang resmi ada di Bab 5.

    Lemma 4.3.15 (kompatibilitas). Misalkan m>0m>0 dan a,a′,b,b′∈Za,a',b,b'\in\mathbb Z memenuhi a≡a′a\equiv a' dan b≡b′(modm)b\equiv b'\pmod m. Maka

    a+b≡a′+b′danab≡a′b′(modm).a+b\equiv a'+b'\qquad\text{dan}\qquad ab\equiv a'b'\pmod m .

    Bukti. Tulis a−a′=mka-a'=mk dan b−b′=mℓb-b'=m\ell dengan k,ℓ∈Zk,\ell\in\mathbb Z.

    Penjumlahan:

    (a+b)−(a′+b′)=(a−a′)+(b−b′)=mk+mℓ=m(k+ℓ).(a+b)-(a'+b')=(a-a')+(b-b')=mk+m\ell=m(k+\ell).

    Perkalian: dengan menambah dan mengurangkan a′ba'b,

    ab−a′b′=(ab−a′b)+(a′b−a′b′)=(a−a′)b+a′(b−b′)=mkb+a′mℓ=m(kb+a′ℓ).ab-a'b'=(ab-a'b)+(a'b-a'b')=(a-a')b+a'(b-b')=mkb+a'm\ell=m(kb+a'\ell).

    Karena k+ℓk+\ell dan kb+a′ℓkb+a'\ell bilangan bulat, kedua selisih habis dibagi mm. □\square

    Definisi 4.3.16 (penjumlahan dan perkalian kelas). Untuk C,D∈Z/mZC,D\in\mathbb Z/m\mathbb Z, definisikan C⊕DC\oplus D sebagai satu-satunya E∈Z/mZE\in\mathbb Z/m\mathbb Z sehingga E=[a+b]E=[a+b] untuk suatu a∈Ca\in C dan b∈Db\in D. Definisikan C⊙DC\odot D dengan cara yang sama memakai [ab][ab].

    Definisi ini sah karena dua alasan.

    Keberadaan. CC dan DD tidak kosong. Ambil satu a∈Ca\in C dan satu b∈Db\in D; ini dua pengambilan dari dua himpunan tertentu, bukan pemilihan serentak. Maka E=[a+b]E=[a+b] memenuhi syarat.

    Ketunggalan. Misalkan E=[a+b]E=[a+b] dan E′=[a′+b′]E'=[a'+b'] dengan a,a′∈Ca,a'\in C dan b,b′∈Db,b'\in D. Menurut Proposisi 4.3.2, a≡a′a\equiv a' dan b≡b′b\equiv b'. Menurut Lemma 4.3.15, a+b≡a′+b′a+b\equiv a'+b', sehingga E=E′E=E' menurut 4.2. Argumen yang sama, dengan bagian perkalian Lemma 4.3.15, berlaku untuk ⊙\odot.

    Akibatnya aturan [a]⊕[b]=[a+b][a]\oplus[b]=[a+b] dan [a]⊙[b]=[ab][a]\odot[b]=[ab] berlaku untuk setiap pilihan wakil. Kita tidak akan mengembangkan sifat-sifat aljabar operasi ini (asosiatif, distributif, dan seterusnya) di bab ini.

    Contoh 4.3.17 (modulo 5). [8]⊕[−7]=[8+(−7)]=[1][8]\oplus[-7]=[8+(-7)]=[1]. Karena 8=5⋅1+38=5\cdot1+3 dan −7=5⋅(−2)+3-7=5\cdot(-2)+3, wakil kanonik kedua kelas adalah 33 dan 33. Dengan wakil itu, [3]⊕[3]=[6][3]\oplus[3]=[6], dan 6=5⋅1+16=5\cdot1+1, sehingga [6]=[1][6]=[1]. Hasilnya sama.

    [8]⊙[−7]=[−56][8]\odot[-7]=[-56], dan −56=5⋅(−12)+4-56=5\cdot(-12)+4, sehingga hasilnya [4][4]. Dengan wakil 3,33,3 diperoleh [9][9], dan 9=5⋅1+49=5\cdot1+4, sehingga [9]=[4][9]=[4]. Hasilnya sama.

    Contoh 4.3.18 (aturan yang gagal: "ambil wakilnya"). Misalkan kita mencoba mendefinisikan aturan FF dari Z/mZ\mathbb Z/m\mathbb Z ke Z\mathbb Z dengan F([a])=aF([a])=a. Sasarannya Z\mathbb Z, jadi yang harus diperiksa adalah kesamaan bilangan. Untuk m>0m>0 berlaku m−0=m⋅1m-0=m\cdot1, sehingga [0]=[m][0]=[m]. Aturan itu memberi F([0])=0F([0])=0 dan F([m])=mF([m])=m untuk kelas yang sama, padahal 0≠m0\ne m. Syarat (2) Proposisi 4.3.14 gagal, sehingga "FF" tidak menetapkan nilai. Kegagalan ini tidak bertentangan dengan adanya wakil kanonik. Aturan "kirim CC ke satu-satunya r∈Cr\in C dengan 0≤r<m0\le r<m" sah, karena aturan itu tidak bergantung pada nama [a][a] yang dipakai.

    Contoh 4.3.19 (relasi yang gagal: urutan pada kelas modulo 2). Misalkan kita mencoba mendefinisikan "[a]≺[b][a]\prec[b] jika a<ba<b" pada Z/2Z\mathbb Z/2\mathbb Z. Dengan wakil 00 dan 11 berlaku 0<10<1, jadi [0]≺[1][0]\prec[1]. Tetapi [0]=[2][0]=[2], karena 2−0=2⋅12-0=2\cdot1, dan dengan wakil 22 dan 11 berlaku 2≮12\not<1. Jadi kebenaran "[0]≺[1][0]\prec[1]" bergantung pada wakil yang dipilih. Aturan ini tidak mendefinisikan relasi pada kelas.

    Ada dua cara yang tampak wajar untuk memperbaiki aturan itu, tetapi keduanya tidak memuaskan.

    • Versi "untuk suatu wakil", yaitu C≺DC\prec D jika ada a∈Ca\in C dan b∈Db\in D dengan a<ba<b, memang mendefinisikan suatu himpunan, tetapi hasilnya trivial. Untuk C=[a]C=[a] dan D=[b]D=[b], bilangan b′=b+2(∣a−b∣+1)b'=b+2(|a-b|+1) anggota DD, karena b′−b=2(∣a−b∣+1)b'-b=2(|a-b|+1), dan memenuhi b′≥b+(a−b)+2>ab'\ge b+(a-b)+2>a. Jadi C≺DC\prec D untuk semua C,DC,D, termasuk [0]≺[0][0]\prec[0].
    • Versi "untuk semua wakil", yaitu C≺DC\prec D jika a<ba<b untuk setiap a∈Ca\in C dan b∈Db\in D, tidak pernah berlaku. Untuk sembarang C=[a]C=[a] dan D=[b]D=[b], wakil a′=a+2(∣a−b∣+1)∈Ca'=a+2(|a-b|+1)\in C memenuhi a′≥a+(b−a)+2>ba'\ge a+(b-a)+2>b, sehingga syarat "a′<ba'<b" gagal.

    Urutan << pada Z\mathbb Z tidak dapat diturunkan ke kuosien begitu saja.


    Latihan

    Latihan 4.3.20. Tentukan A/RA/R untuk A={1,2,3}A=\{1,2,3\} dan RR seperti di Contoh 4.3.3. Tentukan juga kuosien relasi kosong pada ∅\varnothing. Untuk masing-masing, bandingkan banyaknya nama wakil [a][a] dengan banyaknya kelas, dan jelaskan kapan keduanya berbeda.

    Latihan 4.3.21. Buktikan Z/1Z={Z}\mathbb Z/1\mathbb Z=\{\mathbb Z\} tanpa memakai Teorema 4.3.10.

    Latihan 4.3.22. Modulo 5, tentukan qq dan sisa Euclid rr untuk x=−1,−13,−25,23x=-1,-13,-25,23. Tuliskan kelas masing-masing sebagai salah satu dari [0],…,[4][0],\ldots,[4], dan periksa jawabanmu dengan definisi 5∣(x−r)5\mid(x-r).

    Latihan 4.3.23. Buktikan secara langsung bahwa Z/4Z={[0],[1],[2],[3]}\mathbb Z/4\mathbb Z=\{[0],[1],[2],[3]\} dan bahwa keempat kelas itu saling berbeda. Apakah [2]=[−1][2]=[-1]?

    Latihan 4.3.24. Modulo 3, buktikan dengan dua inklusi bahwa [−2]=1+3Z[-2]=1+3\mathbb Z.

    Latihan 4.3.25. Buktikan bahwa aturan −[a]:=[−a]-[a]:=[-a] well-defined pada Z/mZ\mathbb Z/m\mathbb Z. Simpulkan bahwa [a]⊖[b]:=[a−b][a]\ominus[b]:=[a-b] juga well-defined.

    Latihan 4.3.26. (a) Tunjukkan bahwa aturan h([a]5)=[a]3h([a]_5)=[a]_3 dari Z/5Z\mathbb Z/5\mathbb Z ke Z/3Z\mathbb Z/3\mathbb Z tidak well-defined. (b) Tunjukkan bahwa g([a]6)=[a]3g([a]_6)=[a]_3 dari Z/6Z\mathbb Z/6\mathbb Z ke Z/3Z\mathbb Z/3\mathbb Z well-defined.

    Latihan 4.3.27. Untuk wakil a∈Za\in\mathbb Z dan wakil eksponen b∈Nb\in\mathbb N dengan b≥1b\ge1, usulkan aturan "[a][b]=[ab][a]^{[b]}=[a^b]" modulo 5. Tunjukkan dengan contoh terhitung bahwa aturan ini tidak well-defined terhadap wakil eksponen.

    Latihan 4.3.28. Tentukan kelas-kelas relasi yang diperoleh dengan menerapkan rumus Definisi 4.3.5 pada m=0m=0. Jelaskan mengapa Teorema 4.3.10 tidak dapat diperluas ke m=0m=0. Tunjukkan juga bahwa rumus yang sama untuk m=−5m=-5 menghasilkan relasi yang sama dengan modulo 55.

    Latihan 4.3.29. Misalkan seseorang menyatakan: "Z/5Z\mathbb Z/5\mathbb Z mempunyai lebih dari lima anggota, sebab [0],[5],[10],[3],[−7],[1],[2],[4][0],[5],[10],[3],[-7],[1],[2],[4] semuanya anggotanya." Temukan kesalahannya, dan hitung banyaknya kelas yang sebenarnya muncul dalam daftar itu.


    Pembahasan

    4.3.20. Pada A={1,2,3}A=\{1,2,3\} berlaku 1R21R2, sehingga [1]=[2]={1,2}[1]=[2]=\{1,2\}. Unsur 33 hanya berelasi dengan dirinya sendiri, sehingga [3]={3}[3]=\{3\}. Jadi A/R={{1,2},{3}}A/R=\{\{1,2\},\{3\}\}. Ada tiga nama [1],[2],[3][1],[2],[3], tetapi hanya dua objek, karena [1][1] dan [2][2] menamai himpunan yang sama.

    Pada ∅\varnothing, anggota kuosien adalah himpunan B∈P(∅)={∅}B\in\mathcal P(\varnothing)=\{\varnothing\} yang memenuhi "∃a∈∅(… )\exists a\in\varnothing(\dots)". Syarat ini salah untuk setiap BB, sehingga kuosiennya ∅\varnothing. Khususnya, ∅\varnothing sendiri bukan anggota kuosien: setiap kelas memuat wakilnya, sehingga tidak ada kelas yang kosong. Pada kasus ini banyaknya nama dan banyaknya kelas sama-sama nol. Perbedaan baru muncul jika ada dua wakil berbeda yang setara, seperti 11 dan 22 di atas.

    4.3.21. Untuk sembarang x∈Zx\in\mathbb Z, kita tunjukkan [x]=Z[x]=\mathbb Z. Inklusi [x]⊆Z[x]\subseteq\mathbb Z berlaku menurut definisi. Untuk inklusi sebaliknya, ambil y∈Zy\in\mathbb Z. Maka y−x=1⋅(y−x)y-x=1\cdot(y-x), sehingga 1∣(y−x)1\mid(y-x) dan y∈[x]y\in[x].

    Sekarang buktikan Z/1Z={Z}\mathbb Z/1\mathbb Z=\{\mathbb Z\} dengan dua inklusi. (⊆\subseteq) Setiap anggota kuosien berbentuk [x][x], dan [x]=Z[x]=\mathbb Z. (⊇\supseteq) Z=[0]\mathbb Z=[0] adalah anggota kuosien.

    4.3.22.

    • −1=5⋅(−1)+4-1=5\cdot(-1)+4, jadi q=−1q=-1, r=4r=4, dan [−1]=[4][-1]=[4]. Pemeriksaan: −1−4=−5=5⋅(−1)-1-4=-5=5\cdot(-1).
    • −13=5⋅(−3)+2-13=5\cdot(-3)+2, jadi q=−3q=-3, r=2r=2, dan [−13]=[2][-13]=[2]. Pemeriksaan: −13−2=−15=5⋅(−3)-13-2=-15=5\cdot(-3).
    • −25=5⋅(−5)+0-25=5\cdot(-5)+0, jadi q=−5q=-5, r=0r=0, dan [−25]=[0][-25]=[0]. Pemeriksaan: −25−0=5⋅(−5)-25-0=5\cdot(-5).
    • 23=5⋅4+323=5\cdot4+3, jadi q=4q=4, r=3r=3, dan [23]=[3][23]=[3]. Pemeriksaan: 23−3=20=5⋅423-3=20=5\cdot4.

    Pada setiap kasus, 0≤r<50\le r<5. Persamaan seperti −13=5⋅(−2)+(−3)-13=5\cdot(-2)+(-3) juga benar, tetapi tidak memberi sisa Euclid karena −3<0-3<0.

    4.3.23. Untuk inklusi ⊇\supseteq: 0,1,2,3∈Z0,1,2,3\in\mathbb Z, jadi keempat kelas itu anggota kuosien. Untuk inklusi ⊆\subseteq: setiap anggota kuosien berbentuk [x][x]. Teorema 4.3.9 dengan m=4m=4 memberi x=4q+rx=4q+r dengan 0≤r<40\le r<4, sehingga x−r=4qx-r=4q dan [x]=[r][x]=[r] dengan r∈{0,1,2,3}r\in\{0,1,2,3\}.

    Untuk keberbedaan: jika [r]=[s][r]=[s] dengan 0≤r,s<40\le r,s<4, maka 4∣(r−s)4\mid(r-s) dan ∣r−s∣≤3<4|r-s|\le3<4. Lemma 4.3.8 memberi r=sr=s. Jadi keenam pasangan unsur berbeda dari {0,1,2,3}\{0,1,2,3\} menghasilkan kelas yang berbeda.

    Selanjutnya, −1=4⋅(−1)+3-1=4\cdot(-1)+3, sehingga [−1]=[3][-1]=[3]. Karena 2≠32\ne3 dan keduanya sisa yang sah, [3]≠[2][3]\ne[2]. Jadi [2]≠[−1][2]\ne[-1]. Ini juga dapat diperiksa langsung: 2−(−1)=32-(-1)=3, dan 4∣34\mid3 akan memberi 3=03=0 menurut Lemma 4.3.8, yang mustahil.

    4.3.24. (⊆\subseteq) Jika x∈[−2]x\in[-2], ada k∈Zk\in\mathbb Z dengan x+2=3kx+2=3k. Maka x=1+3(k−1)x=1+3(k-1) dan k−1∈Zk-1\in\mathbb Z, sehingga x∈1+3Zx\in1+3\mathbb Z.

    (⊇\supseteq) Jika x=1+3jx=1+3j untuk suatu j∈Zj\in\mathbb Z, maka x−(−2)=3+3j=3(j+1)x-(-2)=3+3j=3(j+1), sehingga x∈[−2]x\in[-2].

    Ini sesuai dengan −2=3⋅(−1)+1-2=3\cdot(-1)+1 dan Proposisi 4.3.7: [−2]=[1]=1+3Z[-2]=[1]=1+3\mathbb Z.

    4.3.25. Sasaran aturan −[a]:=[−a]-[a]:=[-a] adalah Z/mZ\mathbb Z/m\mathbb Z, jadi yang perlu diperiksa adalah kesamaan kelas. Misalkan a≡a′a\equiv a', yaitu a−a′=mka-a'=mk. Maka (−a)−(−a′)=−(a−a′)=m(−k)(-a)-(-a')=-(a-a')=m(-k), sehingga [−a]=[−a′][-a]=[-a']. Menurut Proposisi 4.3.14, aturan ini menetapkan tepat satu kelas untuk setiap kelas.

    Untuk pengurangan, tulis a−b=a+(−b)a-b=a+(-b). Jika a≡a′a\equiv a' dan b≡b′b\equiv b', maka −b≡−b′-b\equiv-b' menurut bagian sebelumnya. Lemma 4.3.15 (penjumlahan) kemudian memberi a+(−b)≡a′+(−b′)a+(-b)\equiv a'+(-b'). Jadi [a−b]=[a′−b′][a-b]=[a'-b']. Aturan ini melibatkan dua kelas, sehingga Proposisi 4.3.14 tidak langsung berlaku. Keberadaan dan ketunggalan hasil terbukti dengan argumen yang sama seperti pada Definisi 4.3.16, memakai kongruensi yang baru diperoleh sebagai pengganti Lemma 4.3.15.

    4.3.26. (a) Sasarannya Z/3Z\mathbb Z/3\mathbb Z. Kita mempunyai [0]5=[5]5[0]_5=[5]_5, karena 5−0=5⋅15-0=5\cdot1. Aturan hh memberi [0]3[0]_3 dan [5]3[5]_3 untuk kelas yang sama. Sekarang 5=3⋅1+25=3\cdot1+2, sehingga [5]3=[2]3[5]_3=[2]_3. Selain itu [2]3≠[0]3[2]_3\ne[0]_3: jika 3∣23\mid2, Lemma 4.3.8 memberi 2=02=0 karena ∣2∣<3|2|<3, yang mustahil. Jadi satu kelas modulo 5 diberi dua nilai berbeda, dan hh tidak well-defined.

    (b) Misalkan [a]6=[a′]6[a]_6=[a']_6, yaitu a−a′=6ka-a'=6k. Maka a−a′=3(2k)a-a'=3(2k) dan 2k∈Z2k\in\mathbb Z, sehingga [a]3=[a′]3[a]_3=[a']_3. Menurut Proposisi 4.3.14, gg well-defined. Inti perbedaannya dengan (a) adalah bahwa 3∣63\mid6, sedangkan 3∤53\nmid5.

    4.3.27. Modulo 5, [1]=[6][1]=[6] karena 6−1=56-1=5. Dengan wakil eksponen 11: [2][1]=[21]=[2][2]^{[1]}=[2^1]=[2]. Dengan wakil eksponen 66: [26]=[64][2^6]=[64], dan 64=5⋅12+464=5\cdot12+4, sehingga hasilnya [4][4]. Karena 0≤2,4<50\le2,4<5 dan 2≠42\ne4, Teorema 4.3.10(b) memberi [2]≠[4][2]\ne[4]. Jadi nilai aturan ini bergantung pada wakil eksponen, dan aturan ini tidak well-defined.

    Untuk eksponen tertentu yang ditulis eksplisit, misalnya b=2b=2 atau b=3b=3, penggantian wakil basis tidak menimbulkan masalah. Lemma 4.3.15 tinggal dipakai berulang sebanyak yang tertulis, misalnya a3=(a⋅a)⋅a≡(a′⋅a′)⋅a′a^3=(a\cdot a)\cdot a\equiv(a'\cdot a')\cdot a'. Pernyataan untuk semua b∈Nb\in\mathbb N dengan b≥1b\ge1 sekaligus memerlukan induksi (Bab 7). Yang gagal di soal ini adalah penggantian wakil eksponen.

    4.3.28. 0∣(x−y)0\mid(x-y) berarti x−y=0⋅k=0x-y=0\cdot k=0, yaitu x=yx=y. Jadi [x]={y∈Z:y=x}={x}[x]=\{y\in\mathbb Z:y=x\}=\{x\}, dan kuosiennya {{x}:x∈Z}\{\{x\}:x\in\mathbb Z\}. Teorema 4.3.10 tidak dapat diperluas ke kasus ini karena dua alasan.

    1. Teorema itu akan menyatakan adanya tepat 00 kelas, padahal {0}\{0\} adalah kelas. Bahkan {0}≠{1}\{0\}\ne\{1\} menurut ekstensionalitas, karena 0∈{0}0\in\{0\} tetapi 0∉{1}0\notin\{1\}. Jadi ada paling sedikit dua kelas.
    2. Buktinya bergantung pada Teorema 4.3.9, yang menuntut 0≤r<m0\le r<m. Untuk m=0m=0, syarat itu tidak dapat dipenuhi oleh bilangan apa pun.

    Untuk m=−5m=-5: jika x−y=(−5)kx-y=(-5)k, maka x−y=5(−k)x-y=5(-k); sebaliknya, jika x−y=5kx-y=5k, maka x−y=(−5)(−k)x-y=(-5)(-k). Jadi kedua relasi sama sebagai himpunan pasangan.

    4.3.29. Kesalahannya adalah menghitung nama sebagai objek. Dengan sisa Euclid:

    • [0]=[5]=[10][0]=[5]=[10], karena 5=5⋅1+05=5\cdot1+0 dan 10=5⋅2+010=5\cdot2+0;
    • [−7]=[3][-7]=[3], karena −7=5⋅(−2)+3-7=5\cdot(-2)+3.

    Jadi daftar itu hanya memuat kelas [0],[1],[2],[3],[4][0],[1],[2],[3],[4], yaitu lima kelas, yang menurut Teorema 4.3.10(b) saling berbeda. Delapan nama dalam daftar menamai lima objek, sesuai dengan Teorema 4.3.10.


    Relasi ekuivalensi bersifat simetris. Ketiga sifat ekuivalensi menjamin bahwa kelas-kelasnya membentuk partisi. Himpunan kuosien memakai kelas-kelas tersebut sebagai anggotanya. Contoh 4.3.19 memperlihatkan sisi lain: urutan << tidak dapat diturunkan ke kuosien, karena urutan memisahkan unsur-unsur yang oleh kongruensi dianggap setara. Jadi urutan memerlukan sifat lain, yaitu antisimetri: jika x⪯yx\preceq y dan y⪯xy\preceq x, maka x=yx=y. Antisimetri bukan negasi simetri (4.1). Kesamaan bersifat simetris sekaligus antisimetri. Namun pada relasi yang antisimetri, dua unsur berbeda tidak pernah saling berelasi dua arah, sehingga tidak ada yang dapat "dilebur". Relasi keterbagian ∣\mid yang dipakai di unit ini akan muncul lagi di 4.4 sebagai urutan pada bilangan bulat positif. Di sana akan diperiksa mengapa positivitas diperlukan untuk antisimetrinya, dan bagaimana strukturnya digambarkan dengan diagram Hasse.

    4.4 Relasi Urutan Parsial dan Diagram Hasse

    Unit 4.2 dan 4.3 membahas relasi yang menyamakan. Relasi ekuivalensi mengumpulkan objek ke dalam kelas. Simetri menjamin bahwa jika xx setara dengan yy, maka yy setara dengan xx. Unit ini membahas relasi yang mengurutkan: dua unsur berbeda tidak boleh saling berelasi dua arah. Jika xx berada "di bawah" yy dan yy berada "di bawah" xx, kita ingin menyimpulkan bahwa keduanya objek yang sama. Itulah peran antisimetri.

    Banyak urutan yang wajar tidak membandingkan setiap pasangan objek. Bilangan 22 dan 33 tidak saling membagi. Himpunan {1}\{1\} dan {2}\{2\} tidak saling memuat. Dua tugas dalam suatu proyek bisa saja tidak saling bergantung. Karena itu kita mulai dari urutan parsial, dan urutan total diperlakukan sebagai kasus khusus.

    Sepanjang unit ini, SS adalah himpunan. Sesuai Unit 4.1, relasi pada SS berarti himpunan bagian dari S×SS\times S. Untuk relasi yang dilambangkan ⪯\preceq, kita menulis x⪯yx\preceq y untuk (x,y)∈⪯(x,y)\in{\preceq}. Bilangan bulat dan aritmetika elementernya dipinjam sebagai contoh, seperti pada unit-unit sebelumnya.

    Urutan parsial

    Definisi 4.4.1 (urutan parsial, poset). Relasi ⪯\preceq pada SS disebut urutan parsial jika ia memenuhi tiga sifat berikut.

    refleksif: ∀x∈S  (x⪯x),antisimetri: ∀x,y∈S  ((x⪯y∧y⪯x)⇒x=y),transitif: ∀x,y,z∈S  ((x⪯y∧y⪯z)⇒x⪯z).\begin{aligned} \text{refleksif: }&\forall x\in S\;(x\preceq x),\\ \text{antisimetri: }&\forall x,y\in S\;((x\preceq y\land y\preceq x)\Rightarrow x=y),\\ \text{transitif: }&\forall x,y,z\in S\;((x\preceq y\land y\preceq z)\Rightarrow x\preceq z). \end{aligned}

    Pasangan (S,⪯)(S,\preceq) disebut himpunan terurut parsial atau poset.

    Definisi ini tidak mensyaratkan S≠∅S\neq\varnothing. Untuk S=∅S=\varnothing, satu-satunya relasi pada SS adalah ∅\varnothing, karena ∅×∅=∅\varnothing\times\varnothing=\varnothing. Menurut Unit 4.1, ketiga sifat di atas berlaku secara vakum. Jadi (∅,∅)(\varnothing,\varnothing) adalah poset, dan kita menyebutnya poset kosong.

    Contoh 4.4.2.

    (a) (Z,≤)(\mathbb Z,\le) adalah poset. Dari aritmetika yang dipinjam, berlaku x≤xx\le x. Jika x≤yx\le y dan y≤xy\le x, maka x=yx=y. Jika x≤yx\le y dan y≤zy\le z, maka x≤zx\le z.

    (b) Untuk himpunan XX, (P(X),⊆)(\mathcal P(X),\subseteq) adalah poset. Setiap A⊆XA\subseteq X memenuhi A⊆AA\subseteq A. Jika A⊆BA\subseteq B dan B⊆CB\subseteq C, setiap anggota AA adalah anggota BB, sehingga juga anggota CC. Antisimetri tidak lain adalah prinsip dua inklusi dari Bab 3: A⊆BA\subseteq B dan B⊆AB\subseteq A memberi A=BA=B melalui ekstensionalitas.

    (c) Keterbagian pada bilangan bulat positif adalah poset. Hal ini dibuktikan di bawah.

    Untuk a,b∈Za,b\in\mathbb Z, tulis a∣ba\mid b jika ada k∈Zk\in\mathbb Z dengan b=akb=ak. Ini perluasan rumusan Unit 4.3 ke pembagi aa sembarang.

    Proposisi 4.4.3. Misalkan P⊆{n∈Z:n>0}P\subseteq\{n\in\mathbb Z:n>0\}. Definisikan relasi pada PP dengan a⪯ba\preceq b jika dan hanya jika a∣ba\mid b. Maka (P,⪯)(P,\preceq) adalah poset. Selain itu, untuk a,b∈Pa,b\in P, a∣ba\mid b mengakibatkan a≤ba\le b.

    Bukti.

    Refleksif. Untuk a∈Pa\in P, berlaku a=a⋅1a=a\cdot 1. Jadi a∣aa\mid a.

    Transitif. Misalkan b=akb=ak dan c=bℓc=b\ell dengan k,ℓ∈Zk,\ell\in\mathbb Z. Maka c=a(kℓ)c=a(k\ell), dan kℓ∈Zk\ell\in\mathbb Z. Jadi a∣ca\mid c.

    Sebuah lema kecil. Misalkan a,b∈Pa,b\in P dan b=akb=ak. Maka k>0k>0. Seandainya k≤0k\le 0, maka ak≤0ak\le 0 karena a>0a>0. Ini bertentangan dengan ak=b>0ak=b>0. Akibatnya k≥1k\ge 1, sehingga b=ak≥ab=ak\ge a. Ini membuktikan klaim terakhir proposisi.

    Antisimetri. Misalkan b=akb=ak dan a=bℓa=b\ell. Menurut lema, k≥1k\ge1 dan ℓ≥1\ell\ge1. Dari kedua persamaan diperoleh a=a(kℓ)a=a(k\ell), sehingga a(kℓ−1)=0a(k\ell-1)=0. Karena a>0a>0, berlaku a≠0a\neq0, sehingga kℓ=1k\ell=1. Seandainya k≥2k\ge2, maka kℓ≥2ℓ≥2k\ell\ge 2\ell\ge2, suatu kontradiksi. Jadi k=1k=1 dan b=ab=a. ■\blacksquare

    Positivitas dipakai pada dua tempat. Pertama, pada lema, untuk menyimpulkan k>0k>0. Kedua, untuk menjamin a≠0a\neq0 pada langkah antisimetri. Positivitas tidak dapat dibuang. Pada seluruh Z\mathbb Z, keterbagian tetap refleksif dan transitif, karena bukti kedua sifat itu tidak memakai tanda. Namun antisimetri gagal. Dari −2=2⋅(−1)-2=2\cdot(-1) dan 2=(−2)⋅(−1)2=(-2)\cdot(-1) diperoleh 2∣−22\mid -2 dan −2∣2-2\mid 2, padahal 2≠−22\neq-2. Jadi keterbagian pada Z\mathbb Z bukan urutan parsial.

    Urutan ketat yang bersesuaian

    Dalam percakapan sehari-hari, "lebih kecil" sering berarti "lebih kecil dan tidak sama". Kita memformalkan pengertian ini.

    Definisi 4.4.4 (bagian ketat, diagonal). Misalkan (S,⪯)(S,\preceq) poset. Diagonal SS adalah

    ΔS={p∈S×S:∃x∈S  (p=(x,x))}.\Delta_S=\{p\in S\times S:\exists x\in S\;(p=(x,x))\}.

    Bagian ketat dari ⪯\preceq adalah

    ≺={p∈S×S:∃x,y∈S  (p=(x,y)∧x⪯y∧x≠y)}.{\prec}=\{p\in S\times S:\exists x,y\in S\;(p=(x,y)\land x\preceq y\land x\neq y)\}.

    Jadi x≺yx\prec y berarti x⪯yx\preceq y dan x≠yx\neq y.

    Kedua himpunan ini diperoleh dengan separasi pada S×SS\times S, sehingga keberadaannya terjamin. Menurut sifat pasangan berurutan dari Unit 4.1, (x,y)=(x′,x′)(x,y)=(x',x') jika dan hanya jika x=x′x=x' dan y=x′y=x'. Akibatnya, untuk x,y∈Sx,y\in S, berlaku (x,y)∈ΔS(x,y)\in\Delta_S jika dan hanya jika x=yx=y. Fakta ini akan dipakai berulang kali.

    Proposisi 4.4.5. Bagian ketat ≺\prec dari suatu urutan parsial memiliki tiga sifat berikut.

    • Irrefleksif: tidak ada x∈Sx\in S dengan x≺xx\prec x.
    • Transitif: jika x≺yx\prec y dan y≺zy\prec z, maka x≺zx\prec z.
    • Asimetris: tidak ada x,y∈Sx,y\in S dengan x≺yx\prec y dan y≺xy\prec x.

    Bukti.

    Irrefleksif. Pernyataan x≺xx\prec x mensyaratkan x≠xx\neq x, dan itu mustahil.

    Transitif. Misalkan x≺yx\prec y dan y≺zy\prec z. Dari x⪯yx\preceq y dan y⪯zy\preceq z, transitivitas ⪯\preceq memberi x⪯zx\preceq z. Tinggal ditunjukkan x≠zx\neq z. Seandainya x=zx=z, maka y⪯zy\preceq z berarti y⪯xy\preceq x. Bersama x⪯yx\preceq y, antisimetri memberi x=yx=y. Ini bertentangan dengan x≺yx\prec y.

    Asimetris. Jika x≺yx\prec y dan y≺xy\prec x, transitivitas memberi x≺xx\prec x, bertentangan dengan irrefleksivitas. ■\blacksquare

    Transitivitas bagian ketat bukan sekadar warisan dari transitivitas ⪯\preceq. Untuk menjamin kesimpulannya tetap ketat, antisimetri ikut diperlukan.

    Definisi 4.4.6 (urutan ketat). Relasi ⊏\sqsubset pada SS disebut urutan ketat jika ia irrefleksif dan transitif.

    Lambang ⊏\sqsubset dipakai untuk urutan ketat sembarang, agar tidak tertukar dengan << pada bilangan. Proposisi berikut menunjukkan bahwa urutan parsial dan urutan ketat adalah dua cara menyimpan informasi yang sama. Untuk berpindah dari yang ketat ke yang parsial, kita cukup menambahkan diagonal.

    Proposisi 4.4.7.

    (a) Jika ⪯\preceq urutan parsial pada SS dengan bagian ketat ≺\prec, maka ≺\prec adalah urutan ketat dan ⪯=≺∪ΔS{\preceq}={\prec}\cup\Delta_S.

    (b) Jika ⊏\sqsubset urutan ketat pada SS, maka ⊑:=⊏∪ΔS{\sqsubseteq}:={\sqsubset}\cup\Delta_S adalah urutan parsial pada SS, dan bagian ketatnya tepat ⊏\sqsubset.

    Bukti.

    (a) Proposisi 4.4.5 menunjukkan bahwa ≺\prec urutan ketat. Kesamaan himpunan dibuktikan dengan dua inklusi.

    • Misalkan x⪯yx\preceq y. Jika x=yx=y, maka (x,y)∈ΔS(x,y)\in\Delta_S. Jika x≠yx\neq y, maka x≺yx\prec y.
    • Sebaliknya, ≺⊆⪯{\prec}\subseteq{\preceq} menurut definisi, dan ΔS⊆⪯\Delta_S\subseteq{\preceq} karena ⪯\preceq refleksif.

    (b) Kita periksa tiga sifat, lalu bagian ketatnya.

    Refleksif. Untuk setiap x∈Sx\in S, berlaku (x,x)∈ΔS⊆⊑(x,x)\in\Delta_S\subseteq{\sqsubseteq}.

    Antisimetri. Misalkan x⊑yx\sqsubseteq y dan y⊑xy\sqsubseteq x, dan andaikan x≠yx\neq y. Maka (x,y)∉ΔS(x,y)\notin\Delta_S dan (y,x)∉ΔS(y,x)\notin\Delta_S. Akibatnya x⊏yx\sqsubset y dan y⊏xy\sqsubset x. Transitivitas memberi x⊏xx\sqsubset x, bertentangan dengan irrefleksivitas. Jadi x=yx=y.

    Transitif. Misalkan x⊑yx\sqsubseteq y dan y⊑zy\sqsubseteq z.

    • Jika x=yx=y, maka x⊑zx\sqsubseteq z tidak lain adalah y⊑zy\sqsubseteq z.
    • Jika y=zy=z, maka x⊑zx\sqsubseteq z tidak lain adalah x⊑yx\sqsubseteq y.
    • Jika x≠yx\ne y dan y≠zy\ne z, maka x⊏yx\sqsubset y dan y⊏zy\sqsubset z. Akibatnya x⊏zx\sqsubset z, sehingga x⊑zx\sqsubseteq z.

    Bagian ketat. Misalkan x⊑yx\sqsubseteq y dan x≠yx\neq y. Maka (x,y)∉ΔS(x,y)\notin\Delta_S, sehingga x⊏yx\sqsubset y. Sebaliknya, misalkan x⊏yx\sqsubset y. Maka x⊑yx\sqsubseteq y. Selain itu x≠yx\neq y, sebab x⊏xx\sqsubset x mustahil. ■\blacksquare

    Komparabilitas dan urutan total

    Definisi 4.4.8. Misalkan (S,⪯)(S,\preceq) poset. Dua unsur x,y∈Sx,y\in S sebanding jika x⪯yx\preceq y atau y⪯xy\preceq x. Jika tidak, keduanya tak sebanding, ditulis x∥yx\parallel y. Poset disebut terurut total (atau linear) jika setiap dua unsurnya sebanding.

    Beberapa contoh:

    • (Z,≤)(\mathbb Z,\le) terurut total.
    • Pada keterbagian bilangan positif, 2∥32\parallel3. Seandainya 3=2k3=2k, Proposisi 4.4.3 memaksa kk bulat positif. Namun k=1k=1 memberi 22, sedangkan k≥2k\ge2 memberi paling sedikit 44. Jadi 2∤32\nmid3. Selain itu 3∤23\nmid 2, karena 3>23>2 dan Proposisi 4.4.3.
    • Pada (P({1,2}),⊆)(\mathcal P(\{1,2\}),\subseteq), berlaku {1}∥{2}\{1\}\parallel\{2\}.

    Kata "parsial" berarti "tidak harus total", bukan "pasti tidak total". Setiap urutan total adalah urutan parsial.

    Minimal dan maksimal; terkecil dan terbesar

    Definisi 4.4.9. Misalkan (S,⪯)(S,\preceq) poset dan ≺\prec bagian ketatnya.

    • m∈Sm\in S minimal jika tidak ada y∈Sy\in S dengan y≺my\prec m.
    • m∈Sm\in S maksimal jika tidak ada y∈Sy\in S dengan m≺ym\prec y.
    • ℓ∈S\ell\in S terkecil jika ℓ⪯y\ell\preceq y untuk setiap y∈Sy\in S.
    • g∈Sg\in S terbesar jika y⪯gy\preceq g untuk setiap y∈Sy\in S.

    Kedua pasang pengertian ini berbeda secara mendasar. Unsur minimal hanya menjamin bahwa tidak ada unsur yang secara ketat berada di bawahnya. Ia tidak mengatakan apa pun tentang unsur yang tak sebanding dengannya. Unsur terkecil menuntut lebih banyak, yaitu ia berada di bawah semua unsur. Perbedaannya juga tampak pada kuantifikator. Minimalitas adalah pernyataan negatif "tidak ada yy", sedangkan keterkecilan adalah pernyataan universal "untuk setiap yy".

    Proposisi 4.4.10 (keunikan). Suatu poset memiliki paling banyak satu unsur terkecil dan paling banyak satu unsur terbesar.

    Bukti. Misalkan ℓ\ell dan ℓ′\ell' keduanya terkecil. Karena ℓ\ell terkecil dan ℓ′∈S\ell'\in S, berlaku ℓ⪯ℓ′\ell\preceq\ell'. Karena ℓ′\ell' terkecil, berlaku ℓ′⪯ℓ\ell'\preceq\ell. Antisimetri memberi ℓ=ℓ′\ell=\ell'. Argumen untuk terbesar sama, dengan arah dibalik. ■\blacksquare

    Karena keunikan ini, bila unsur terkecil ada, kita boleh menyebutnya unsur terkecil dengan kata sandang tentu. Untuk unsur minimal, keunikan semacam itu tidak berlaku, seperti diperlihatkan Contoh 4.4.13.

    Proposisi 4.4.11. Jika ℓ\ell unsur terkecil, maka ℓ\ell minimal, dan ℓ\ell adalah satu-satunya unsur minimal. Pernyataan serupa berlaku untuk unsur terbesar dan unsur maksimal.

    Bukti.

    ℓ\ell minimal. Misalkan ada y∈Sy\in S dengan y≺ℓy\prec\ell. Maka y⪯ℓy\preceq\ell. Karena ℓ\ell terkecil, juga ℓ⪯y\ell\preceq y. Antisimetri memberi y=ℓy=\ell, bertentangan dengan y≠ℓy\neq\ell.

    Satu-satunya. Misalkan mm minimal. Karena ℓ\ell terkecil, ℓ⪯m\ell\preceq m. Seandainya ℓ≠m\ell\neq m, maka ℓ≺m\ell\prec m, bertentangan dengan minimalitas mm. Jadi m=ℓm=\ell.

    Kasus terbesar diperoleh dengan membalik arah. ■\blacksquare

    Akibat 4.4.12. Jika suatu poset memiliki dua unsur minimal yang berbeda, maka ia tidak memiliki unsur terkecil. Hal yang sama berlaku untuk dua unsur maksimal yang berbeda dan unsur terbesar.

    Unsur minimal juga tidak selalu ada. (Z,≤)(\mathbb Z,\le) tidak memiliki unsur minimal, sebab untuk setiap mm berlaku m−1<mm-1<m.

    Pada poset kosong, keadaannya lebih ekstrem. Keempat definisi di atas menuntut adanya unsur m∈Sm\in S, sehingga tidak ada unsur minimal, maksimal, terkecil, maupun terbesar. Hal ini tetap benar meskipun aksioma urutan parsial berlaku secara vakum. Wajar untuk bertanya apakah setiap poset berhingga tak kosong memiliki unsur minimal. Namun buktinya memerlukan induksi, sehingga klaim tersebut tidak dipakai pada unit ini.

    Unit ini juga tidak membahas batas atas terkecil (supremum) suatu himpunan bagian. Supremum tidak selalu ada, dan bila ada belum tentu menjadi anggota himpunan bagian tersebut. Teori kelengkapan bukan materi bab ini.

    Contoh utama: keterbagian pada {2,3,6,12,18}\{2,3,6,12,18\}

    Contoh 4.4.13. Misalkan S={2,3,6,12,18}S=\{2,3,6,12,18\} dengan a⪯ba\preceq b jika dan hanya jika a∣ba\mid b. Menurut Proposisi 4.4.3, (S,⪯)(S,\preceq) adalah poset.

    Kita menghitung seluruh relasinya. Tabel berikut memuat tanda ✓ pada baris aa dan kolom bb tepat ketika a∣ba\mid b.

    a\ba\backslash b2361218
    2✓–✓✓✓
    3–✓✓✓✓
    6––✓✓✓
    12–––✓–
    18––––✓

    Setiap isi tabel dapat diperiksa sebagai berikut.

    Penutup, minimal, dan terkecilUntuk: Bab 4, Contoh utama keterbagian (M04-02)

    Tanda ✓. Setiap tanda ✓ disertai saksi eksplisit:

    • 6=2⋅36=2\cdot3, 12=2⋅612=2\cdot6, 18=2⋅918=2\cdot9;
    • 6=3⋅26=3\cdot2, 12=3⋅412=3\cdot4, 18=3⋅618=3\cdot6;
    • 12=6⋅212=6\cdot2, 18=6⋅318=6\cdot3;
    • diagonal: a=a⋅1a=a\cdot1.

    Tanda – di bawah diagonal. Pada posisi ini b<ab<a. Menurut Proposisi 4.4.3, a∣ba\mid b dengan a,b>0a,b>0 memaksa a≤ba\le b. Jadi a∣ba\mid b tidak mungkin terjadi.

    Tanda – di atas diagonal. Hanya ada dua posisi seperti ini. Pada keduanya, faktor kk harus bulat positif menurut Proposisi 4.4.3.

    • 2∤32\nmid 3: faktor k=1k=1 memberi 22, sedangkan k≥2k\ge2 memberi paling sedikit 44.
    • 12∤1812\nmid18: faktor k=1k=1 memberi 1212, sedangkan k≥2k\ge2 memberi paling sedikit 2424.

    Dari tabel diperoleh hal-hal berikut.

    • Relasi penuh memuat 4+4+3+1+1=134+4+3+1+1=13 pasangan. Lima di antaranya adalah pasangan diagonal (2,2),(3,3),(6,6),(12,12),(18,18)(2,2),(3,3),(6,6),(12,12),(18,18).
    • Bagian ketat memuat delapan pasangan:
    (2,6),(2,12),(2,18),(3,6),(3,12),(3,18),(6,12),(6,18).(2,6),(2,12),(2,18),(3,6),(3,12),(3,18),(6,12),(6,18).
    • Pasangan tak sebanding. Dari (52)=10\binom52=10 pasangan unsur berbeda, delapan sebanding. Dua sisanya tak sebanding, yaitu 2∥32\parallel3 dan 12∥1812\parallel18.
    • Minimal. Unsur mm minimal tepat ketika kolom mm hanya memuat ✓ pada diagonal. Hal ini terjadi untuk kolom 22 dan 33. Jadi unsur minimalnya adalah 22 dan 33. Unsur 66, 1212, dan 1818 tidak minimal karena 2≺62\prec 6, 2≺122\prec 12, dan 2≺182\prec 18.
    • Maksimal. Dengan cara yang sama, unsur mm maksimal tepat ketika baris mm hanya memuat ✓ pada diagonal. Jadi unsur maksimalnya adalah 1212 dan 1818. Unsur 22, 33, dan 66 tidak maksimal karena 2≺62\prec 6, 3≺63\prec 6, dan 6≺126\prec 12.
    • Tidak ada unsur terkecil maupun terbesar. Ada dua unsur minimal yang berbeda dan dua unsur maksimal yang berbeda, sehingga Akibat 4.4.12 berlaku. Hal ini juga terlihat langsung. Unsur terkecil harus membagi 22 dan 33, padahal kolom 22 dan kolom 33 tidak memiliki tanda ✓ pada baris yang sama. Unsur terbesar harus habis dibagi 1212 dan 1818, padahal baris 1212 dan baris 1818 tidak memiliki tanda ✓ pada kolom yang sama.

    Relasi penutup

    Tabel lengkap memuat banyak informasi yang berulang. Misalnya, 2≺122\prec12 sudah dapat disimpulkan dari 2≺62\prec6 dan 6≺126\prec12. Kita mencari pasangan "langkah terpendek" yang cukup untuk memulihkan seluruh relasi.

    Definisi 4.4.14 (penutup). Misalkan (S,⪯)(S,\preceq) poset. Unsur yy menutupi xx, ditulis x⋖yx\lessdot y, jika x≺yx\prec y dan tidak ada z∈Sz\in S dengan x≺zx\prec z dan z≺yz\prec y.

    Kedua ketaksamaan dalam syarat "tidak ada zz" harus ketat. Andaikan syarat itu ditulis "tidak ada z∈Sz\in S dengan x⪯z⪯yx\preceq z\preceq y". Untuk setiap x⪯yx\preceq y, pilihan z=xz=x sudah memenuhi x⪯x⪯yx\preceq x\preceq y. Akibatnya tidak ada pasangan x,yx,y dengan yy menutupi xx, dan relasi penutup yang dihasilkan selalu kosong.

    Perhatikan pula bahwa zz berkisar pada SS, sehingga relasi penutup bergantung pada himpunan yang dipakai. Dalam poset {2,12}\{2,12\} dengan keterbagian, berlaku 2⋖122\lessdot12, karena tidak ada unsur lain yang dapat menyela. Dalam SS di atas, 2⋖̸122\not\lessdot12 karena 66 menyela.

    Contoh 4.4.15 (penutup pada SS). Kita memeriksa kedelapan pasangan ketat dari Contoh 4.4.13. Untuk setiap pasangan (x,y)(x,y), kita mencari z∈Sz\in S dengan x≺z≺yx\prec z\prec y. Calon zz harus berada pada baris xx (di luar diagonal) sekaligus pada kolom yy (di luar diagonal).

    pasangan x≺yx\prec ypenyela zzpenutup?
    (2,6)(2,6)baris 2 di luar diagonal: 6,12,186,12,18; yang membagi 66 dan ≠6\neq6: tidak adaya
    (3,6)(3,6)baris 3 di luar diagonal: 6,12,186,12,18; yang membagi 66 dan ≠6\neq6: tidak adaya
    (6,12)(6,12)baris 6 di luar diagonal: 12,1812,18; yang membagi 1212 dan ≠12\neq12: tidak adaya
    (6,18)(6,18)baris 6 di luar diagonal: 12,1812,18; yang membagi 1818 dan ≠18\neq18: tidak adaya
    (2,12)(2,12)z=6z=6tidak
    (2,18)(2,18)z=6z=6tidak
    (3,12)(3,12)z=6z=6tidak
    (3,18)(3,18)z=6z=6tidak

    Jadi relasi penutup pada SS terdiri tepat dari empat pasangan:

    2⋖6,3⋖6,6⋖12,6⋖18.2\lessdot6,\qquad 3\lessdot6,\qquad 6\lessdot12,\qquad 6\lessdot18.

    Diagram Hasse untuk poset berhingga

    Definisi 4.4.16 (konvensi diagram Hasse). Misalkan (S,⪯)(S,\preceq) poset berhingga, artinya unsur-unsurnya dapat didaftar habis. Definisi formal keberhinggaan menyusul pada bab-bab berikutnya. Diagram Hasse untuk (S,⪯)(S,\preceq) dibuat sebagai berikut.

    1. Setiap unsur SS digambar sebagai satu titik.
    2. Untuk setiap x⋖yx\lessdot y, titik yy diletakkan lebih tinggi daripada titik xx, lalu keduanya dihubungkan dengan satu ruas garis.
    3. Tidak ada ruas garis lain.

    Karena arah selalu dibaca ke atas, ruas garis tidak perlu diberi panah. Ada dua jenis informasi yang sengaja dihilangkan.

    • Gelung (x,x)(x,x) dihilangkan, karena refleksivitas sudah diketahui.
    • Ruas yang dapat ditempuh lewat jalur naik, seperti 22 ke 1212, juga dihilangkan, karena ia dipulihkan oleh transitivitas.

    Pembatasan pada poset berhingga bukan sekadar soal kepraktisan menggambar. Pada (Q,≤)(\mathbb Q,\le), tidak ada unsur yang menutupi unsur lain (Latihan 4.4.30). "Diagram" yang dibuat dengan aturan yang sama hanya berupa titik-titik tanpa ruas, sehingga tidak menyimpan informasi apa pun tentang urutan.

    Proposisi 4.4.17 (rekonstruksi untuk poset berhingga; dengan prasyarat pinjaman). Misalkan (S,⪯)(S,\preceq) poset berhingga dan x,y∈Sx,y\in S. Maka x⪯yx\preceq y jika dan hanya jika salah satu dari dua hal berikut berlaku.

    • x=yx=y (bagian diagonal); atau
    • ada n≥1n\ge1 dan unsur z0,z1,…,zn∈Sz_0,z_1,\ldots,z_n\in S dengan z0=xz_0=x, zn=yz_n=y, dan zi−1⋖ziz_{i-1}\lessdot z_i untuk setiap i=1,…,ni=1,\ldots,n. Dengan kata lain, ada jalur naik dari xx ke yy dalam diagram.

    Prasyarat yang dipinjam. Bukti ini memakai induksi pada bilangan asli, termasuk bentuk induksi kuat, dan fakta dasar ukuran himpunan berhingga: jika BB himpunan bagian sejati dari himpunan berhingga CC, maka ∣B∣<∣C∣|B|<|C|. Keduanya diterima di sini sebagai prasyarat; fondasi umumnya belum dibangun dalam bab ini. Daftar berhingga dan penyambungannya juga dipakai dengan pengertian yang sama seperti pada uraian diagram.

    Bukti. Jika x=yx=y, refleksivitas memberi x⪯yx\preceq y. Jika terdapat jalur penutup dari xx ke yy dengan panjang n≥1n\ge1, kita buktikan x≺yx\prec y dengan induksi pada nn. Untuk n=1n=1, x⋖yx\lessdot y langsung memberi x≺yx\prec y. Untuk langkah induksi, misalkan z0⋖z1⋖⋯⋖zn+1z_0\lessdot z_1\lessdot\cdots\lessdot z_{n+1}. Hipotesis induksi pada nn ruas pertama memberi z0≺znz_0\prec z_n, sedangkan ruas terakhir memberi zn≺zn+1z_n\prec z_{n+1}. Transitivitas bagian ketat (Proposisi 4.4.5) memberi z0≺zn+1z_0\prec z_{n+1}. Jadi setiap jalur penutup berpanjang positif memberikan x≺yx\prec y, dan karena itu x⪯yx\preceq y.

    Sebaliknya, misalkan x⪯yx\preceq y. Kasus x=yx=y sudah memenuhi alternatif pertama, jadi cukup menangani x≺yx\prec y. Bentuk interval urutan dengan separasi pada SS:

    I(x,y):={u∈S:x⪯u ∧ u⪯y}.I(x,y):=\{u\in S:x\preceq u\ \land\ u\preceq y\}.

    Interval ini berhingga karena merupakan himpunan bagian dari SS, dan memuat dua unsur berbeda x,yx,y. Kita memakai induksi kuat pada k=∣I(x,y)∣≥2k=|I(x,y)|\ge2 untuk membuktikan bahwa setiap pasangan ketat dengan interval berukuran kk dapat dihubungkan oleh jalur penutup dalam poset (S,⪯)(S,\preceq).

    Dasar k=2k=2. Karena x,y∈I(x,y)x,y\in I(x,y) dan keduanya berbeda, I(x,y)={x,y}I(x,y)=\{x,y\}. Tidak ada z∈Sz\in S dengan x≺z≺yx\prec z\prec y: unsur semacam itu akan menjadi anggota ketiga interval. Jadi x⋖yx\lessdot y, dan satu ruas sudah menjadi jalur yang diminta.

    Langkah induksi. Misalkan k>2k>2, dan hasil berlaku untuk setiap pasangan ketat yang intervalnya berukuran kurang dari kk. Ambil x≺yx\prec y dengan ∣I(x,y)∣=k|I(x,y)|=k. Jika x⋖yx\lessdot y, selesai. Jika bukan, definisi penutup memberikan z∈Sz\in S dengan x≺z≺yx\prec z\prec y.

    Kita periksa ukuran kedua interval yang lebih pendek. Jika u∈I(x,z)u\in I(x,z), maka x⪯u⪯z⪯yx\preceq u\preceq z\preceq y; transitivitas memberi u∈I(x,y)u\in I(x,y). Jadi I(x,z)⊆I(x,y)I(x,z)\subseteq I(x,y). Akan tetapi, y∉I(x,z)y\notin I(x,z): jika y⪯zy\preceq z, bersama z⪯yz\preceq y antisimetri memberi y=zy=z, bertentangan dengan z≺yz\prec y. Karena y∈I(x,y)y\in I(x,y), inklusi tersebut sejati. Demikian pula, jika u∈I(z,y)u\in I(z,y), maka x⪯z⪯u⪯yx\preceq z\preceq u\preceq y, sehingga u∈I(x,y)u\in I(x,y). Unsur xx tidak berada dalam I(z,y)I(z,y), sebab z⪯xz\preceq x bersama x⪯zx\preceq z akan memberi z=xz=x, bertentangan dengan x≺zx\prec z. Maka I(z,y)⊊I(x,y)I(z,y)\subsetneq I(x,y) juga.

    Fakta ukuran berhingga yang dipinjam memberi

    ∣I(x,z)∣<kdan∣I(z,y)∣<k.|I(x,z)|<k\qquad\text{dan}\qquad |I(z,y)|<k.

    Hipotesis induksi menghasilkan jalur penutup dalam poset yang sama, dari xx ke zz dan dari zz ke yy. Sambungkan kedua daftar pada zz, dengan menuliskan zz sekali. Setiap ruas tetap merupakan pasangan penutup dalam SS, sehingga diperoleh jalur penutup dari xx ke yy. Induksi selesai, dan kedua arah terbukti. ■\blacksquare

    Contoh (Q,≤)(\mathbb Q,\le) menunjukkan bahwa hipotesis keberhinggaan tidak dapat dibuang. Pada contoh-contoh di unit ini, kedua arah kami periksa langsung dengan daftar lengkap, tanpa memakai Proposisi 4.4.17.

    Contoh 4.4.18 (diagram Hasse untuk S={2,3,6,12,18}S=\{2,3,6,12,18\}).

    Uraian lengkap diagram berikut tidak bergantung pada gambar.

    • Titik. Ada lima titik dalam tiga tingkat. Tingkat bawah memuat 22 dan 33. Tingkat tengah memuat 66. Tingkat atas memuat 1212 dan 1818.
    • Ruas. Ada tepat empat ruas: 22–66, 33–66, 66–1212, dan 66–1818. Pada setiap ruas, ujung yang lebih tinggi adalah unsur yang menutupi.
    • Tidak ada ruas lain. Khususnya, tidak ada ruas langsung 22–1212, 22–1818, 33–1212, atau 33–1818.
    Loading diagram...

    Rekonstruksi. Jalur naik dalam diagram dapat didaftar habis menurut titik awalnya:

    • dari 22: 22–66; 22–66–1212; 22–66–1818;
    • dari 33: 33–66; 33–66–1212; 33–66–1818;
    • dari 66: 66–1212; 66–1818;
    • dari 1212 dan 1818: tidak ada ruas naik.

    Pasangan (awal, akhir) dari delapan jalur ini tepat sama dengan delapan pasangan ketat dalam Contoh 4.4.13. Setiap jalur dengan dua ruas ditangani oleh satu kali transitivitas, misalnya 2∣62\mid6 dan 6∣126\mid12 memberi 2∣122\mid12. Menambahkan lima pasangan diagonal mengembalikan ketiga belas pasangan relasi penuh. Jadi diagram, bersama konvensi "diagonal ditambahkan", menyimpan relasi secara utuh.

    Tinggi saja tidak menentukan perbandingan. Titik 1212 dan 1818 sama tinggi, tetapi itu tidak berarti keduanya "setara": keduanya tak sebanding. Sebaliknya, "lebih tinggi" juga tidak berarti "lebih besar". Yang menentukan perbandingan hanyalah jalur naik. Latihan 4.4.25 memuat titik 44 yang digambar lebih tinggi daripada 33, padahal 3∥43\parallel4.

    Membaca sifat khusus dari diagram. Pada contoh ini, unsur minimal tepat titik-titik yang tidak memiliki ruas ke bawah, yaitu 22 dan 33. Unsur maksimal tepat titik-titik yang tidak memiliki ruas ke atas, yaitu 1212 dan 1818. Kedua hasil ini kita cocokkan langsung dengan tabel pada Contoh 4.4.13. Untuk poset berhingga umum, kriteria tersebut bergantung pada Proposisi 4.4.17.

    Penerapan: dependensi tugas dan graf berarah asiklik

    Bagian ini menyajikan model matematis, bukan laporan tentang proyek atau perangkat lunak tertentu.

    Misalkan sejumlah tugas harus dikerjakan, dan beberapa tugas mensyaratkan tugas lain selesai lebih dahulu. Data yang biasanya tersedia hanyalah prasyarat langsung, dan relasi prasyarat langsung umumnya tidak transitif. Akan kita lihat bahwa urutan parsial muncul dari keterjangkauan, bukan dari sisi langsung.

    Definisi 4.4.19 (graf berarah, lintasan, siklus, DAG).

    • Graf berarah adalah pasangan (V,K)(V,K) dengan VV himpunan dan K⊆V×VK\subseteq V\times V. Jadi KK adalah relasi pada VV, dan anggotanya disebut sisi. Kita menulis u→vu\to v untuk (u,v)∈K(u,v)\in K. Dalam model dependensi, u→vu\to v berarti uu prasyarat langsung bagi vv.
    • Lintasan berarah dengan panjang n≥1n\ge1 dari uu ke vv adalah daftar berhingga (v0,v1,…,vn)(v_0,v_1,\ldots,v_n) unsur VV dengan v0=uv_0=u, vn=vv_n=v, dan vi−1→viv_{i-1}\to v_i untuk setiap i=1,…,ni=1,\ldots,n.
    • Siklus berarah adalah lintasan berarah dengan panjang n≥1n\ge1 yang memenuhi vn=v0v_n=v_0. Gelung tunggal v→vv\to v adalah siklus dengan panjang 11.
    • DAG (graf berarah asiklik) adalah graf berarah yang tidak memuat siklus berarah apa pun.

    Kami memakai "daftar berhingga" secara informal, sebagai urutan objek yang ditulis berjajar. Perlakuan formalnya sebagai fungsi pada himpunan indeks menunggu Bab 5. Satu-satunya operasi yang dipakai di bawah ini adalah penyambungan. Jika (v0,…,vn)(v_0,\ldots,v_n) dan (w0,…,wk)(w_0,\ldots,w_k) adalah lintasan dengan vn=w0v_n=w_0, maka

    (v0,…,vn,w1,…,wk)(v_0,\ldots,v_n,w_1,\ldots,w_k)

    adalah lintasan dengan panjang n+k≥2n+k\ge2. Setiap dua suku berurutan di dalamnya membentuk sisi, karena masing-masing berasal dari salah satu lintasan asal atau berupa sambungan vn=w0→w1v_n=w_0\to w_1.

    Tanpa gelung tidak sama dengan asiklik. Pada V={t1,t2,t3}V=\{t_1,t_2,t_3\} dengan sisi t1→t2t_1\to t_2, t2→t3t_2\to t_3, dan t3→t1t_3\to t_1, tidak ada gelung tunggal. Namun (t1,t2,t3,t1)(t_1,t_2,t_3,t_1) adalah siklus dengan panjang tiga, sehingga graf ini bukan DAG.

    Sisi langsung umumnya tidak transitif. Dalam Contoh 4.4.22 di bawah, A→BA\to B dan B→DB\to D, tetapi A→DA\to D bukan sisi.

    Definisi 4.4.20 (keterjangkauan). Untuk graf berarah (V,K)(V,K), tulis u≺Kvu\prec_K v jika ada lintasan berarah dengan panjang positif dari uu ke vv.

    Relasi ≺K\prec_K adalah himpunan bagian dari V×VV\times V yang dipilih dengan separasi. Rumus pemilihnya berbicara tentang lintasan, yaitu daftar berhingga, yang dalam unit ini masih diperlakukan secara informal. Rumusan formalnya, sebagai fungsi pada himpunan indeks, menunggu Bab 5. Pada contoh utama DAG, pasangan keterjangkauan dan lintasan saksinya diperiksa secara eksplisit.

    Proposisi 4.4.21. Misalkan (V,K)(V,K) graf berarah.

    (a) ≺K\prec_K transitif.

    (b) ≺K\prec_K irrefleksif jika dan hanya jika (V,K)(V,K) adalah DAG.

    (c) Jika (V,K)(V,K) DAG, maka ⪯K:=≺K∪ΔV{\preceq_K}:={\prec_K}\cup\Delta_V adalah urutan parsial pada VV, dan bagian ketatnya tepat ≺K\prec_K.

    (d) Jika (V,K)(V,K) memuat siklus yang melewati dua simpul berbeda, maka ≺K∪ΔV{\prec_K}\cup\Delta_V tidak antisimetri.

    Bukti.

    (a) Jika ada lintasan dari uu ke vv dan lintasan dari vv ke ww, penyambungan keduanya adalah lintasan berpanjang positif dari uu ke ww.

    (b) Pernyataan v≺Kvv\prec_K v berarti ada lintasan berpanjang positif dari vv ke vv. Lintasan seperti itu tepat merupakan siklus yang dimulai di vv.

    • Jika graf tidak memuat siklus, maka tidak ada vv dengan v≺Kvv\prec_K v.
    • Sebaliknya, jika (v0,…,vn)(v_0,\ldots,v_n) adalah siklus, maka v0≺Kv0v_0\prec_K v_0.

    (c) Menurut (a) dan (b), ≺K\prec_K adalah urutan ketat. Kesimpulan mengikuti dari Proposisi 4.4.7(b).

    Antisimetri juga dapat dilihat langsung. Misalkan u≠vu\neq v dengan u≺Kvu\prec_K v dan v≺Kuv\prec_K u. Menyambung kedua lintasan menghasilkan siklus dari uu kembali ke uu, padahal graf adalah DAG.

    (d) Misalkan (v0,…,vn)(v_0,\ldots,v_n) siklus dengan vn=v0v_n=v_0, dan ada indeks jj dengan vj≠v0v_j\neq v_0. Maka j≠0j\neq0 dan j≠nj\neq n, sehingga 0<j<n0<j<n. Kedua penggalan berikut adalah lintasan berpanjang positif:

    • (v0,…,vj)(v_0,\ldots,v_j) dengan panjang jj, dari v0v_0 ke vjv_j;
    • (vj,…,vn)(v_j,\ldots,v_n) dengan panjang n−jn-j, dari vjv_j ke v0v_0.

    Jadi v0≺Kvjv_0\prec_K v_j dan vj≺Kv0v_j\prec_K v_0, padahal v0≠vjv_0\neq v_j. Ini melanggar antisimetri. ■\blacksquare

    Ringkasnya, keterjangkauan pada DAG adalah urutan ketat, dan dengan menambahkan diagonal kita memperoleh poset. Siklus merusak struktur ini. Siklus apa pun merusak irrefleksivitas, dan siklus yang melewati simpul berbeda merusak antisimetri.

    Contoh 4.4.22 (lima tugas). Misalkan V={A,B,C,D,E}V=\{A,B,C,D,E\}, dengan himpunan sisi KK yang memuat tepat

    A→B,A→C,B→D,C→D,D→E.A\to B,\quad A\to C,\quad B\to D,\quad C\to D,\quad D\to E.
    Loading diagram...

    Uraian lengkap gambar: AA adalah prasyarat langsung bagi BB dan CC. Keduanya, BB dan CC, adalah prasyarat langsung bagi DD. Lalu DD adalah prasyarat langsung bagi EE. Tidak ada sisi lain.

    Seluruh lintasan. Simpul EE tidak memiliki sisi keluar, dan setiap simpul lain hanya memiliki sisi keluar yang tercantum di atas. Karena itu semua lintasan dapat didaftar habis dengan memperpanjang setiap lintasan sejauh sisi keluar memungkinkan:

    • dari EE: tidak ada;
    • dari DD: (D,E)(D,E);
    • dari BB: (B,D)(B,D), (B,D,E)(B,D,E);
    • dari CC: (C,D)(C,D), (C,D,E)(C,D,E);
    • dari AA: (A,B)(A,B), (A,B,D)(A,B,D), (A,B,D,E)(A,B,D,E), (A,C)(A,C), (A,C,D)(A,C,D), (A,C,D,E)(A,C,D,E).

    Tidak satu pun lintasan berakhir di simpul awalnya, jadi graf ini DAG.

    Keterjangkauan. Dengan mengambil pasangan (awal, akhir) dari setiap lintasan, diperoleh tepat sembilan pasangan ketat:

    A≺KB, A≺KC, A≺KD, A≺KE, B≺KD, B≺KE, C≺KD, C≺KE, D≺KE.A\prec_K B,\ A\prec_K C,\ A\prec_K D,\ A\prec_K E,\ B\prec_K D,\ B\prec_K E,\ C\prec_K D,\ C\prec_K E,\ D\prec_K E.

    Lima pasangan adalah sisi asli. Empat pasangan lainnya, yaitu (A,D)(A,D), (A,E)(A,E), (B,E)(B,E), dan (C,E)(C,E), muncul dari transitivitas. Dengan menambahkan lima pasangan diagonal, Proposisi 4.4.21(c) memberi poset (V,⪯K)(V,\preceq_K) dengan 1414 pasangan.

    Penutup. Kita memeriksa setiap pasangan ketat.

    • (A,D)(A,D) disela BB. Pasangan (A,E)(A,E), (B,E)(B,E), dan (C,E)(C,E) masing-masing disela DD. Jadi keempatnya bukan penutup.
    • (A,B)(A,B) adalah penutup. Penyela zz harus memenuhi z≺KBz\prec_K B, padahal satu-satunya simpul yang menjangkau BB adalah AA, dan A≺KAA\prec_K A mustahil. Hal yang sama berlaku untuk (A,C)(A,C).
    • (B,D)(B,D) adalah penutup. Penyela zz harus memenuhi B≺KzB\prec_K z, sehingga z∈{D,E}z\in\{D,E\}, dan juga z≺KDz\prec_K D. Namun D≺KDD\prec_K D mustahil dan EE tidak menjangkau DD. Hal yang sama berlaku untuk (C,D)(C,D).
    • (D,E)(D,E) adalah penutup. Satu-satunya simpul yang dijangkau DD adalah EE sendiri, dan E≺KEE\prec_K E mustahil.

    Jadi penutupnya tepat kelima sisi asli. Diagram Hasse-nya menempatkan AA di bawah, BB dan CC sejajar di atasnya, lalu DD, dan EE paling atas. Ruasnya adalah AA–BB, AA–CC, BB–DD, CC–DD, dan DD–EE.

    Unsur khusus.

    • AA adalah unsur terkecil, karena A≺KvA\prec_K v untuk setiap v≠Av\neq A. Menurut Proposisi 4.4.11, AA juga satu-satunya unsur minimal.
    • EE adalah unsur terbesar dan satu-satunya unsur maksimal.
    • Satu-satunya pasangan tak sebanding adalah B∥CB\parallel C.

    Bandingkan dengan Contoh 4.4.13, yang tidak memiliki unsur terkecil maupun terbesar. Keberadaan unsur terkecil adalah sifat poset tertentu, bukan sifat semua poset.

    Contoh 4.4.23 (jadwal linear dan tingkat). Urutan pengerjaan linear adalah daftar semua tugas di VV, masing-masing tepat sekali, sedemikian sehingga u≺Kvu\prec_K v selalu mengakibatkan uu muncul sebelum vv.

    Dua kandidat. Daftar A,B,C,D,EA,B,C,D,E memenuhi syarat. Dengan posisi 11 sampai 55, setiap pasangan (u,v)(u,v) dari sembilan pasangan ketat memenuhi "posisi uu < posisi vv":

    • AA (posisi 1) mendahului semuanya;
    • BB (posisi 2) dan CC (posisi 3) mendahului DD (posisi 4) dan EE (posisi 5);
    • DD mendahului EE.

    Daftar A,C,B,D,EA,C,B,D,E juga memenuhi syarat dengan pemeriksaan yang sama. Pertukaran BB dan CC tidak melanggar apa pun karena B∥CB\parallel C.

    Tidak ada urutan lain. Kedua daftar ini adalah satu-satunya urutan yang memenuhi syarat.

    • AA harus mendahului keempat tugas lain, jadi AA berada di posisi 11.
    • EE harus didahului keempat tugas lain, jadi EE berada di posisi 55.
    • Posisi 22 sampai 44 diisi BB, CC, dan DD. Karena B≺KDB\prec_K D dan C≺KDC\prec_K D, tugas DD harus berada di posisi 44.
    • BB dan CC mengisi posisi 22 dan 33 dalam salah satu dari dua urutan.

    Tingkat. Kelompokkan tugas menjadi {A}\{A\}, {B,C}\{B,C\}, {D}\{D\}, {E}\{E\}. Dalam setiap kelompok, tidak ada tugas yang menjangkau tugas lain dalam kelompok yang sama. Karena itu BB dan CC boleh dikerjakan sejajar, bila sumber daya memungkinkan. Relasi urutan hanya memberi izin kesejajaran. Relasi itu tidak menjamin bahwa sumber daya tersedia.

    Perhitungan dengan hipotesis tambahan. Misalkan berlaku anggapan model berikut, yang bukan bagian dari relasi:

    • setiap tugas memerlukan tepat satu satuan waktu;
    • sebuah tugas baru boleh dimulai setelah semua prasyaratnya selesai;
    • setiap pelaksana mengerjakan paling banyak satu tugas pada satu waktu, dan tugas tidak dipecah.

    Di bawah anggapan ini, kita peroleh tiga hasil berikut.

    • Jadwal per tingkat dengan dua pelaksana. AA dikerjakan pada satuan waktu ke-1, BB dan CC bersamaan pada ke-2, DD pada ke-3, dan EE pada ke-4. Semua tugas selesai pada akhir satuan ke-4.
    • Batas bawah. Rantai A≺KB≺KD≺KEA\prec_K B\prec_K D\prec_K E memaksa empat tugas dikerjakan berurutan. AA selesai paling cepat di akhir satuan ke-1, BB di akhir ke-2, DD di akhir ke-3, dan EE di akhir ke-4. Jadi tidak ada jadwal yang selesai sebelum akhir satuan ke-4, berapa pun banyak pelaksananya. Jadwal per tingkat mencapai batas tersebut.
    • Dengan satu pelaksana. Pelaksana itu mengerjakan paling banyak satu tugas per satuan waktu, sehingga lima tugas tidak dapat selesai sebelum akhir satuan ke-5. Kedua urutan linear di atas mencapai angka itu.

    Kesimpulan ini sepenuhnya bergantung pada anggapan durasi dan pelaksana di atas. Dengan durasi berbeda, biaya, atau batasan sumber daya lain, relasi ⪯K\preceq_K saja tidak menentukan jadwal terbaik. Unit ini tidak membuat klaim apa pun tentang optimisasi umum.

    Contoh 4.4.24 (mengubah sisi). Tetap gunakan VV dan KK dari Contoh 4.4.22.

    (a) Menambah sisi berlebih. Misalkan K1=K∪{(A,D)}K_1=K\cup\{(A,D)\}. Tidak ada sisi di K1K_1 yang masuk ke AA. Akibatnya, setiap lintasan yang memakai sisi A→DA\to D harus dimulai di AA, sehingga lintasan baru hanyalah (A,D)(A,D) dan (A,D,E)(A,D,E). Keduanya hanya menghasilkan pasangan (A,D)(A,D) dan (A,E)(A,E), yang sudah ada. Siklus juga tidak mungkin melewati AA, karena siklus yang melewati AA harus kembali ke AA, padahal tidak ada sisi masuk ke AA. Jadi setiap siklus di K1K_1 tidak memakai sisi A→DA\to D dan merupakan siklus di KK, padahal KK tidak memuat siklus. Akibatnya (V,K1)(V,K_1) tetap DAG dan ≺K1=≺K{\prec_{K_1}}={\prec_K}. Poset keterjangkauannya sama persis. Sisi A→DA\to D bukan sisi Hasse, karena BB tetap menyela A≺K1B≺K1DA\prec_{K_1}B\prec_{K_1}D. Diagram Hasse, sebagai gambar relasi penutup, tidak menyimpan sisi berlebih semacam ini.

    (b) Menambah sisi balik. Misalkan K2=K∪{(E,A)}K_2=K\cup\{(E,A)\}. Maka (A,B,D,E,A)(A,B,D,E,A) adalah siklus. Menurut Proposisi 4.4.21(b), keterjangkauan tidak lagi irrefleksif, misalnya A≺K2AA\prec_{K_2}A. Lintasan (A,B,D,E)(A,B,D,E) dan (E,A)(E,A) memberi A≺K2EA\prec_{K_2}E dan E≺K2AE\prec_{K_2}A dengan A≠EA\neq E, sehingga antisimetri gagal, sesuai Proposisi 4.4.21(d). Graf (V,K2)(V,K_2) bukan DAG, dan ≺K2∪ΔV{\prec_{K_2}}\cup\Delta_V bukan urutan parsial pada himpunan simpul {A,B,C,D,E}\{A,B,C,D,E\}.

    Batas klaim. Kami tidak menyatakan bahwa setiap DAG memiliki simpul tanpa sisi masuk (sumber) atau tanpa sisi keluar (sink). Pada DAG kosong, misalnya, tidak ada simpul sama sekali. Untuk DAG berhingga dan tak kosong, pernyataan itu benar, tetapi buktinya memerlukan argumen keberhinggaan yang baru tersedia setelah induksi pada Bab 7. Hal yang sama berlaku untuk teorema umum bahwa setiap DAG berhingga memiliki urutan pengerjaan linear. Dalam contoh di atas, urutan seperti itu kami temukan dan periksa secara langsung.

    Latihan dan pembahasan

    Latihan 4.4.25. Misalkan T={1,2,3,4,6,12}T=\{1,2,3,4,6,12\} dengan keterbagian. (a) Hitung banyak pasangan ketat. (b) Daftarkan semua pasangan penutup. (c) Tentukan unsur minimal, maksimal, terkecil, dan terbesar. (d) Daftarkan semua pasangan tak sebanding.

    Pembahasan.

    (a) Proposisi 4.4.3 berlaku karena semua unsur positif. Pasangan ketat dihitung menurut unsur bawahnya:

    • 11 membagi kelima unsur lain;
    • 2∣4,6,122\mid4,6,12;
    • 3∣6,123\mid6,12;
    • 4∣124\mid12;
    • 6∣126\mid12.

    Jadi ada 5+3+2+1+1=125+3+2+1+1=12 pasangan ketat. Pasangan berurutan (a,b)(a,b) lainnya dengan a≠ba\ne b tidak termasuk relasi, karena alasan berikut:

    • jika a>ba>b, maka a∣ba\mid b mustahil menurut Proposisi 4.4.3;
    • 2∤32\nmid3, karena faktor bulat positif 11 memberi 22 dan faktor ≥2\ge2 memberi paling sedikit 44;
    • 3∤43\nmid4, karena 3⋅1<4<3⋅23\cdot1<4<3\cdot2;
    • 4∤64\nmid6, karena 4⋅1<6<4⋅24\cdot1<6<4\cdot2.

    (b) Pasangan penutupnya adalah

    1⋖2,1⋖3,2⋖4,2⋖6,3⋖6,4⋖12,6⋖12.1\lessdot2,\quad 1\lessdot3,\quad 2\lessdot4,\quad 2\lessdot6,\quad 3\lessdot6,\quad 4\lessdot12,\quad 6\lessdot12.

    Sebagai contoh pemeriksaan, untuk 2⋖62\lessdot6 calon penyelanya adalah unsur yang habis dibagi 22 dan membagi 66, selain 22 dan 66. Pembagi 66 lainnya di TT hanyalah 11 dan 33, dan keduanya tidak habis dibagi 22. Lima pasangan ketat sisanya bukan penutup:

    • 1≺41\prec4 disela 22;
    • 1≺61\prec6 disela 22;
    • 1≺121\prec12 disela 22;
    • 2≺122\prec12 disela 44;
    • 3≺123\prec12 disela 66.

    Jadi ada tujuh penutup dari dua belas pasangan ketat.

    (c) 11 adalah unsur terkecil karena 1∣b1\mid b untuk setiap bb. Menurut Proposisi 4.4.11, 11 juga satu-satunya unsur minimal. Dengan cara yang sama, 1212 adalah unsur terbesar dan satu-satunya unsur maksimal.

    (d) Ada (62)−12=3\binom62-12=3 pasangan tak sebanding, yaitu 2∥32\parallel3, 3∥43\parallel4, dan 4∥64\parallel6. Dalam diagram Hasse yang wajar, 33 berada di tingkat kedua dan 44 di tingkat ketiga. Titik 44 lebih tinggi daripada 33, tetapi tidak ada jalur naik dari 33 ke 44. Inilah contoh bahwa tinggi saja tidak menentukan perbandingan.

    Latihan 4.4.26. Misalkan S′={1,2,3,6,12,18}S'=\{1,2,3,6,12,18\} dengan keterbagian. Bandingkan dengan Contoh 4.4.13: apa yang berubah pada penutup, unsur minimal, dan unsur terkecil?

    Pembahasan. Penutup bertambah dua, yaitu 1⋖21\lessdot2 dan 1⋖31\lessdot3. Pasangan 1≺61\prec6, 1≺121\prec12, dan 1≺181\prec18 bukan penutup karena masing-masing disela 22. Penutup lama 2⋖62\lessdot6, 3⋖63\lessdot6, 6⋖126\lessdot12, dan 6⋖186\lessdot18 tetap penutup. Penyela harus berada secara ketat di atas unsur bawah pasangan, sedangkan 11 tidak berada di atas 22, 33, atau 66. Jadi kini ada enam penutup.

    Unsur 22 dan 33 tidak lagi minimal karena 1≺21\prec2 dan 1≺31\prec3. Unsur 11 adalah unsur terkecil, sekaligus satu-satunya unsur minimal. Di bagian atas tidak ada perubahan: 1212 dan 1818 tetap dua unsur maksimal yang berbeda, sehingga menurut Akibat 4.4.12 tidak ada unsur terbesar. Latihan ini menunjukkan bahwa menambah satu unsur dapat menciptakan unsur terkecil tanpa memengaruhi keberadaan unsur terbesar.

    Latihan 4.4.27. Seorang penulis mendefinisikan "yy menutupi xx" sebagai: x⪯yx\preceq y dan tidak ada z∈Sz\in S dengan x⪯z⪯yx\preceq z\preceq y. Tunjukkan bahwa menurut definisi ini, dalam poset apa pun, tidak ada pasangan x,yx,y dengan yy menutupi xx.

    Pembahasan. Misalkan x⪯yx\preceq y. Ambil z=xz=x. Refleksivitas memberi x⪯xx\preceq x, dan hipotesis memberi x⪯yx\preceq y. Jadi ada zz dengan x⪯z⪯yx\preceq z\preceq y, sehingga syarat "tidak ada zz" gagal. Jika x⪯̸yx\not\preceq y, syarat pertama sudah gagal. Dalam kedua kasus, yy tidak menutupi xx, sehingga relasi penutup menurut definisi ini selalu kosong. Definisi yang benar (Definisi 4.4.14) memakai x≺z≺yx\prec z\prec y, sehingga kedua ujung dikecualikan.

    Latihan 4.4.28. Misalkan X={1,2}X=\{1,2\} dan perhatikan poset (P(X),⊆)(\mathcal P(X),\subseteq). Daftarkan unsur-unsurnya, pasangan penutupnya, pasangan tak sebanding, serta unsur minimal, maksimal, terkecil, dan terbesar. Uraikan diagram Hasse-nya dengan kata-kata.

    Pembahasan. Unsurnya ada empat: ∅\varnothing, {1}\{1\}, {2}\{2\}, dan XX.

    Tulis A⊊BA\subsetneq B untuk bagian ketat dari ⊆\subseteq, yaitu A⊆BA\subseteq B dan A≠BA\neq B. Pasangan ketat ada lima:

    • ∅⊊{1}\varnothing\subsetneq\{1\}, ∅⊊{2}\varnothing\subsetneq\{2\}, ∅⊊X\varnothing\subsetneq X;
    • {1}⊊X\{1\}\subsetneq X, {2}⊊X\{2\}\subsetneq X.

    Pasangan ∅⊊X\varnothing\subsetneq X disela {1}\{1\}, sehingga bukan penutup. Empat pasangan lainnya adalah penutup. Sebagai contoh, penyela untuk ∅⊊{1}\varnothing\subsetneq\{1\} harus berupa himpunan bagian sejati tak kosong dari {1}\{1\}, dan tidak ada himpunan seperti itu.

    Satu-satunya pasangan tak sebanding adalah {1}∥{2}\{1\}\parallel\{2\}, karena 1∈{1}1\in\{1\} tetapi 1∉{2}1\notin\{2\}, dan sebaliknya untuk 22.

    ∅\varnothing adalah unsur terkecil, karena ∅⊆A\varnothing\subseteq A untuk setiap AA. XX adalah unsur terbesar. Menurut Proposisi 4.4.11, keduanya juga satu-satunya unsur minimal dan satu-satunya unsur maksimal.

    Diagram Hasse-nya berbentuk belah ketupat. ∅\varnothing berada di bawah, {1}\{1\} dan {2}\{2\} sejajar di tengah, dan XX di atas. Ada empat ruas: ∅\varnothing–{1}\{1\}, ∅\varnothing–{2}\{2\}, {1}\{1\}–XX, dan {2}\{2\}–XX.

    Latihan 4.4.29. Buktikan bahwa dalam poset terurut total, setiap unsur minimal adalah unsur terkecil. Simpulkan bahwa poset total memiliki paling banyak satu unsur minimal.

    Pembahasan. Misalkan mm minimal dan y∈Sy\in S. Karena urutannya total, m⪯ym\preceq y atau y⪯my\preceq m.

    • Jika m⪯ym\preceq y, selesai.
    • Jika y⪯my\preceq m dan y≠my\neq m, maka y≺my\prec m, bertentangan dengan minimalitas mm.
    • Jika y=my=m, maka m⪯ym\preceq y menurut refleksivitas.

    Dalam setiap kasus m⪯ym\preceq y, jadi mm terkecil. Jika mm dan m′m' keduanya minimal, keduanya terkecil, sehingga m=m′m=m' menurut Proposisi 4.4.10.

    Contoh 4.4.13 menunjukkan bahwa hipotesis "total" diperlukan: 22 dan 33 keduanya minimal, tetapi tak satu pun terkecil.

    Latihan 4.4.30. Tunjukkan bahwa dalam (Q,≤)(\mathbb Q,\le), untuk x<yx<y tidak pernah berlaku x⋖yx\lessdot y. Mengapa hal ini menjelaskan pembatasan diagram Hasse pada poset berhingga?

    Pembahasan. Misalkan x<yx<y di Q\mathbb Q, dan ambil z=x+y2∈Qz=\frac{x+y}{2}\in\mathbb Q dengan aritmetika rasional yang dipinjam. Dari x<yx<y diperoleh 2x<x+y<2y2x<x+y<2y, sehingga x<z<yx<z<y. Jadi zz menyela, dan yy tidak menutupi xx.

    Akibatnya relasi penutup pada Q\mathbb Q kosong. "Diagram" yang dibuat dengan aturan Definisi 4.4.16 hanya berupa titik tanpa ruas, sehingga tidak ada jalur naik sama sekali, padahal 0<10<1. Kesimpulan Proposisi 4.4.17 gagal untuk Q\mathbb Q. Jadi hipotesis keberhinggaan dalam fakta tersebut sungguh diperlukan.

    Latihan 4.4.31. Misalkan V={p,q,r,s}V=\{p,q,r,s\} dengan sisi p→qp\to q, q→rq\to r, p→rp\to r, dan r→sr\to s. (a) Tunjukkan bahwa graf ini DAG. (b) Hitung keterjangkauan. (c) Tentukan sisi yang bukan sisi Hasse. (d) Daftarkan semua urutan pengerjaan linear.

    Pembahasan.

    (a) Lintasan didaftar habis menurut simpul awal:

    • dari ss: tidak ada;
    • dari rr: (r,s)(r,s);
    • dari qq: (q,r)(q,r), (q,r,s)(q,r,s);
    • dari pp: (p,q)(p,q), (p,q,r)(p,q,r), (p,q,r,s)(p,q,r,s), (p,r)(p,r), (p,r,s)(p,r,s).

    Tidak ada lintasan yang kembali ke simpul awalnya, jadi graf ini DAG.

    (b) Pasangan ketatnya ada enam:

    p≺q, p≺r, p≺s, q≺r, q≺s, r≺s.p\prec q,\ p\prec r,\ p\prec s,\ q\prec r,\ q\prec s,\ r\prec s.

    Keenam pasangan ini mencakup semua (42)\binom42 pasangan simpul berbeda. Jadi poset keterjangkauannya terurut total.

    (c) Sisi langsung p→rp\to r bukan penutup, karena qq menyela p≺q≺rp\prec q\prec r. Sisi Hasse-nya adalah pp–qq, qq–rr, dan rr–ss. Membuang sisi p→rp\to r tidak mengubah keterjangkauan, karena pasangan p≺rp\prec r dan p≺sp\prec s tetap diperoleh melalui qq.

    (d) Karena urutannya total, posisi setiap tugas terpaksa:

    • pp mendahului ketiga tugas lain, jadi berada di posisi 11;
    • qq mendahului rr dan ss, jadi berada di posisi 22;
    • rr mendahului ss.

    Satu-satunya urutan adalah p,q,r,sp,q,r,s, dan tidak ada tugas yang boleh dikerjakan sejajar.

    Latihan 4.4.32. Misalkan V={t1,t2,t3}V=\{t_1,t_2,t_3\} dengan himpunan sisi KK yang memuat tepat t1→t2t_1\to t_2, t2→t3t_2\to t_3, dan t3→t1t_3\to t_1. (a) Apakah graf memuat gelung tunggal? (b) Apakah graf ini DAG? (c) Periksa irrefleksivitas ≺K\prec_K dan antisimetri ≺K∪ΔV{\prec_K}\cup\Delta_V.

    Pembahasan.

    (a) Tidak ada sisi berbentuk (v,v)(v,v), jadi tidak ada gelung tunggal.

    (b) (t1,t2,t3,t1)(t_1,t_2,t_3,t_1) adalah siklus dengan panjang tiga, jadi graf ini bukan DAG.

    (c) Siklus tersebut memberi t1≺Kt1t_1\prec_K t_1, sehingga ≺K\prec_K tidak irrefleksif. Penggalan (t1,t2)(t_1,t_2) dan (t2,t3,t1)(t_2,t_3,t_1) memberi t1≺Kt2t_1\prec_K t_2 dan t2≺Kt1t_2\prec_K t_1 dengan t1≠t2t_1\neq t_2. Jadi ≺K∪ΔV{\prec_K}\cup\Delta_V tidak antisimetri, sesuai Proposisi 4.4.21(d). Graf tanpa gelung tunggal belum tentu asiklik.

    Latihan 4.4.33. Periksa poset kosong (∅,∅)(\varnothing,\varnothing). (a) Mengapa ia poset? (b) Apakah ia terurut total? (c) Apakah ia memiliki unsur minimal atau unsur terkecil? (d) Apa diagram Hasse-nya?

    Pembahasan.

    (a) Ketiga aksioma berbentuk "untuk setiap x∈∅,…x\in\varnothing,\ldots", sehingga berlaku secara vakum.

    (b) Ya, secara vakum, karena tidak ada pasangan unsur yang perlu dibandingkan.

    (c) Tidak. Setiap pengertian dalam Definisi 4.4.9 menuntut adanya unsur m∈∅m\in\varnothing, dan tidak ada unsur seperti itu. Kontras ini penting. Pernyataan universal tentang ∅\varnothing benar secara vakum, sedangkan pernyataan keberadaan tentang ∅\varnothing salah.

    (d) Diagram tanpa titik dan tanpa ruas.

    Latihan 4.4.34. Misalkan ⊏\sqsubset urutan ketat pada SS. Buktikan bahwa ⊏\sqsubset asimetris. Lalu tunjukkan bahwa relasi R0={(1,2),(2,1)}R_0=\{(1,2),(2,1)\} pada {1,2}\{1,2\} simetris tetapi bukan urutan ketat.

    Pembahasan. Jika x⊏yx\sqsubset y dan y⊏xy\sqsubset x, transitivitas memberi x⊏xx\sqsubset x, bertentangan dengan irrefleksivitas. Jadi ⊏\sqsubset asimetris.

    Relasi R0R_0 simetris karena memuat (1,2)(1,2) beserta kebalikannya (2,1)(2,1). Dari 1R021R_02 dan 2R012R_01, transitivitas akan menuntut 1R011R_01, padahal (1,1)∉R0(1,1)\notin R_0. Jadi R0R_0 tidak transitif, sehingga bukan urutan ketat. Jika kita memaksakan transitivitas dengan menambahkan (1,1)(1,1), irrefleksivitas gagal. Secara umum, relasi simetris yang memuat pasangan (x,y)(x,y) dengan x≠yx\neq y tidak pernah menjadi urutan ketat, sebab ia akan melanggar asimetri.

    Penutup Bab 4

    Bab ini dimulai dari satu konstruksi, yaitu pasangan berurutan (a,b)={{a},{a,b}}(a,b)=\{\{a\},\{a,b\}\}. Konstruksi ini membuat hasil kali A×BA\times B dan relasi R⊆A×BR\subseteq A\times B menjadi himpunan yang sah. Dari sana muncul dua keluarga relasi dengan peran berbeda.

    • Relasi ekuivalensi (Unit 4.2–4.3) bersifat simetris. Relasi ini memecah himpunan menjadi kelas-kelas yang saling lepas, dan kelas-kelas itu membentuk himpunan kuosien. Aturan yang memakai wakil kelas hanya sah bila hasilnya tidak bergantung pada wakil yang dipilih.
    • Urutan parsial (unit ini) bersifat antisimetri. Relasi ini menyusun unsur dalam tingkatan tanpa memaksa setiap pasangan sebanding. Untuk poset berhingga, diagram Hasse menyimpan seluruh relasi melalui penutup. Pada graf dependensi, urutan parsial muncul dari keterjangkauan, asalkan graf tidak memuat siklus.

    Dalam bab ini beberapa kali muncul aturan yang dimaksudkan memasangkan setiap objek dengan tepat satu objek:

    • proyeksi a↦[a]a\mapsto[a] ke himpunan kuosien, yang memang memasangkan setiap aa dengan tepat satu kelas;
    • aturan pada kelas yang didefinisikan melalui wakil, seperti penjumlahan yang memasangkan setiap pasangan kelas dengan satu kelas hasil, dan sah setelah diperiksa tidak bergantung pada wakil;
    • penempatan setiap tugas pada satu posisi dalam urutan pengerjaan linear.

    Ketiganya adalah relasi dengan sifat khusus: setiap unsur domain berelasi dengan tepat satu unsur kodomain. Sebaliknya, "aturan" F([a])=aF([a])=a gagal memenuhi sifat ini, sebab untuk modulus m>0m>0, kelas [0]=[m][0]=[m] akan berelasi dengan dua bilangan berbeda, 00 dan mm.

    Bab 5 menjadikan sifat tersebut definisi fungsi. Di sana dibahas grafik fungsi sebagai himpunan pasangan, domain dan kodomain, injeksi dan surjeksi, serta peta maju dan peta balik. Dengan bahasa itu, pemeriksaan kesahan aturan pada kuosien dapat dibaca ulang sebagai pemeriksaan apakah suatu relasi memang fungsi. Daftar berhingga, yang dalam unit ini dipakai secara informal untuk lintasan dan urutan pengerjaan, memperoleh rumusan formalnya sebagai fungsi pada himpunan indeks.

    Rujukan Bab 4

    [R4-1] Richard Hammack. Book of Proof, edisi ketiga. Bagian 11.4 dan awal 11.5, halaman cetak 215–218. https://richardhammack.github.io/BookOfProof/Main.pdf

    [R4-2] Alexander Brandt. Discrete Structures for Computing, bagian 2.2, "Relations". https://www.csd.uwo.ca/~abrandt5/teaching/DiscreteStructures/Chapter2/relations.html

    [R4-3] Alexander Brandt. Discrete Structures for Computing, bagian 7.2, "Directed Graphs". https://www.csd.uwo.ca/~abrandt5/teaching/DiscreteStructures/Chapter7/directedgraphs.html

    Bab terdekat

    BerikutnyaFungsi sebagai Himpunan Pasangan Berurutan

    Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 5.

    SebelumnyaTeori Himpunan Aksiomatik dan Aljabar Himpunan

    Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 3.