Relasi, Pemetaan, dan Ekuivalensi
Bab 4 dari 50 — Analisis Matematika dan Fondasi Rigor. Naskah draf lengkap dengan validasi terarah; belum telaah matematika independen seluruh buku.
Validasi terarah dan integritas naskah telah diperiksa. Buku ini belum mendapat telaah matematika independen menyeluruh. Catatan status di dalam naskah merupakan riwayat versi.
Unduh naskah lengkap asli (TXT) · Lihat sumber dan cakupan reviewBab 4: Relasi, Kelas Ekuivalensi, dan Urutan Parsial
Pasangan terurut memungkinkan kita menyatakan hubungan antara dua objek sebagai himpunan. Bab ini membangun bahasa relasi dari konstruksi tersebut, lalu menelaah dua bentuk hubungan: kesetaraan dan urutan. Kelas ekuivalensi memberi cara mengumpulkan objek yang setara tanpa memilih wakil secara sembarang. Urutan parsial menjelaskan ketergantungan tanpa memaksa semua objek dapat dibandingkan. Contoh kongruensi, keterbagian, dan penjadwalan memperlihatkan bagaimana definisi formal mengendalikan perhitungan dan gambar.
4.1 Definisi Formal Relasi Biner
Dalam matematika kita terus-menerus membicarakan hubungan antarobjek: lebih kecil daripada , garis sejajar dengan garis , bilangan membagi bilangan . Setiap pernyataan seperti itu menyebut dua objek dalam peran yang berbeda. "" benar, sedangkan "" salah. Jadi urutan penyebutan membawa informasi.
Daftar anggota suatu himpunan tidak membawa urutan penyebutan. Menurut ekstensionalitas, karena kedua himpunan memiliki anggota yang sama. Karena itu kita tidak bisa sekadar menyimpan "pasangan dan " sebagai himpunan . Bila begitu, informasi tentang objek yang disebut lebih dulu akan hilang.
Unit ini menyelesaikan masalah tersebut dalam tiga langkah:
- membangun pasangan terurut dari himpunan biasa dan membuktikan sifat yang membuatnya berguna;
- membentuk produk Kartesius sebagai himpunan yang keberadaannya dijamin aksioma;
- mendefinisikan relasi sebagai himpunan bagian dari produk Kartesius, lalu mempelajari empat sifat dasar relasi pada satu himpunan.
Kita memakai hasil Bab 1–2 tentang kesamaan, implikasi, negasi, kuantifikator, dan kuantifikasi atas himpunan kosong. Dari Bab 3 kita memakai ekstensionalitas, aksioma pasangan, gabungan, himpunan kuasa, separasi, dan pembuktian kesamaan melalui dua inklusi. Bilangan bulat beserta urutan dan aritmetika elementernya hanya dipinjam sebagai sumber contoh. Konstruksinya baru dilakukan kemudian.
Pasangan terurut
Yang kita perlukan dari "pasangan terurut" hanyalah satu sifat: dua pasangan sama jika dan hanya jika komponen pertamanya sama dan komponen keduanya sama. Kita akan memilih satu kode konkret dalam bahasa himpunan, lalu membuktikan bahwa kode itu memiliki sifat tersebut.
Definisi 4.1.1 (pasangan terurut). Untuk objek dan , didefinisikan
Objek disebut koordinat pertama dan koordinat kedua.
Keberadaannya dijamin aksioma pasangan yang dipakai tiga kali. Penerapan pertama membentuk . Penerapan kedua membentuk . Penerapan ketiga membentuk himpunan yang anggotanya tepat dan . Menurut ekstensionalitas, himpunan itu tunggal.
Perlu dicatat kasus . Dalam kasus ini , sehingga
hanya memiliki satu anggota. Kasus inilah yang membuat bukti keunikan koordinat memerlukan perhatian lebih.
Untuk himpunan tak kosong , tulis untuk himpunan semua yang menjadi anggota setiap anggota . Keberadaannya dijamin separasi: ambil sembarang dan bentuk . Menurut ekstensionalitas, hasilnya tidak bergantung pada pilihan . Tulis pula untuk gabungan yang dijamin aksioma gabungan.
Lema 4.1.2. Untuk setiap objek berlaku
Bukti. Himpunan tak kosong karena memuat , sehingga terdefinisi. Anggota tepat dan . Untuk sembarang :
Langkah terakhir berlaku karena sudah menjamin disjungsi . Jadi menurut ekstensionalitas.
Untuk gabungan,
Jadi . Perhitungan ini tidak memisahkan kasus dan , sehingga berlaku untuk keduanya.
Teorema 4.1.3 (sifat karakteristik pasangan terurut). Untuk setiap objek ,
Bukti. () Jika dan , substitusi pada ruas kanan Definisi 4.1.1 memberikan , yaitu .
() Misalkan . Himpunan yang sama mempunyai irisan yang sama dan gabungan yang sama. Dengan Lema 4.1.2 diperoleh
Koordinat pertama. Karena , kita peroleh . Akibatnya kesamaan kedua dapat ditulis ulang menjadi .
Koordinat kedua. Kita pisahkan dua kasus yang mencakup semua kemungkinan.
- Kasus . Maka . Karena , diperoleh , jadi . Dengan demikian .
- Kasus . Karena , berlaku atau . Disjungsi pertama dikecualikan oleh hipotesis kasus, sehingga .
Pada kedua kasus . Bersama , bukti selesai.
Catatan 4.1.4 (mengapa kasus tidak boleh dilewati). Ada argumen yang tampak wajar tetapi keliru: " dan masing-masing berisi satu himpunan bertitik tunggal dan satu himpunan bertitik dua; cocokkan yang bertitik tunggal dengan yang bertitik tunggal." Argumen ini runtuh tepat ketika . Dalam kasus itu tidak memuat himpunan bertitik dua sama sekali. Bukti di atas menghindari masalah ini karena memakai irisan dan gabungan, yang dihitung seragam dalam Lema 4.1.2, lalu memisahkan kasus hanya pada langkah terakhir.
Catatan 4.1.5 (pasangan terurut bukan pasangan tak terurut). Dari Teorema 4.1.3, akan memaksa . Jadi , sedangkan . Kode hanyalah satu pilihan yang sah di dalam ZF. Setelah Teorema 4.1.3 terbukti, kita tidak akan lagi memakai rincian kode itu. Pernyataan seperti "" memang benar untuk kode ini, tetapi hanyalah artefak pilihan kode dan tidak akan dipakai dalam argumen.
Produk Kartesius
Kita ingin membentuk "himpunan semua pasangan dengan dan ". Komprehensi tanpa pembatas tidak diizinkan, jadi kita perlu sebuah himpunan yang sudah ada dan cukup besar untuk memuat semua pasangan tersebut. Himpunan itu disediakan oleh lema berikut.
Lema 4.1.6. Jika dan , maka .
Bukti. Karena , berlaku . Karena , berlaku pula . Jadi dan . Kedua anggota berada di , artinya , sehingga .
Definisi 4.1.7 (produk Kartesius). Untuk himpunan dan , didefinisikan dengan separasi
Separasi diterapkan pada himpunan , yang keberadaannya dijamin aksioma gabungan dan himpunan kuasa. Jadi memang himpunan dan tunggal menurut ekstensionalitas.
Proposisi 4.1.8 (keanggotaan produk).
- jika dan hanya jika ada dan dengan .
- Untuk setiap objek : jika dan hanya jika dan .
- Setiap mempunyai tepat satu koordinat pertama dan tepat satu koordinat kedua: jika , maka dan .
Bukti. (1) Arah () langsung dari syarat separasi. Untuk arah (), jika dengan dan , maka menurut Lema 4.1.6, dan memenuhi syarat separasi. Jadi .
(2) Arah () adalah kasus khusus dari (1). Untuk arah (), misalkan . Menurut (1) ada dan dengan . Teorema 4.1.3 memberikan dan , sehingga dan .
(3) Langsung dari Teorema 4.1.3.
Butir (2) tampak remeh, tetapi buktinya memerlukan Teorema 4.1.3. Tanpa keunikan koordinat, bisa saja sama dengan suatu yang koordinatnya berada di dan , sementara sendiri tidak berada di . Butir (3) membenarkan ungkapan "koordinat pertama dari ". Ungkapan ini akan dipakai di Bab 5 untuk mendefinisikan proyeksi, tetapi di sini cukup dicatat bahwa koordinat itu ada dan tunggal.
Proposisi 4.1.9. Untuk setiap himpunan dan berlaku dan .
Bukti. Andaikan . Menurut Proposisi 4.1.8(1), ada dengan untuk suatu . Ini mustahil karena tidak beranggota. Jadi tidak beranggota, dan menurut ekstensionalitas . Argumen untuk sama, dengan peran koordinat pertama dan kedua dipertukarkan.
Contoh 4.1.10.
Kesamaan pertama dibuktikan dengan dua inklusi. Jika , Proposisi 4.1.8(1) memberikan dengan dan , sehingga atau . Sebaliknya, dan anggota produk menurut Proposisi 4.1.8(2). Kesamaan kedua dibuktikan dengan cara yang sama.
Kedua himpunan ini berbeda. Andaikan . Proposisi 4.1.8(2) akan memberikan , yaitu , dan ini salah. Jadi kesamaan tidak berlaku untuk semua . Kesamaan itu tetap berlaku, misalnya, bila atau salah satunya kosong (Proposisi 4.1.9).
Relasi biner
Definisi 4.1.11 (relasi). Misalkan dan himpunan. Relasi dari ke adalah himpunan dengan . Untuk sembarang objek kita menulis
dan menulis bila . Karena , Proposisi 4.1.8(2) menjamin bahwa hanya mungkin bila dan . Relasi dari ke disebut relasi pada .
Konvensi 4.1.12 (himpunan asal, kodomain, domain, jangkauan). Himpunan sendiri tidak menyimpan informasi tentang dan . Contohnya, adalah relasi dari setiap ke setiap . Karena itu, dalam buku ini frasa " relasi dari ke " selalu menyertakan dan sebagai bagian dari pernyataan. disebut himpunan asal dan disebut kodomain. Dari ketiga data tersebut kita membentuk, dengan separasi,
yang masing-masing disebut domain dan jangkauan relasi. Domain dapat merupakan himpunan bagian sejati dari himpunan asal, dan jangkauan dapat merupakan himpunan bagian sejati dari kodomain. Bab 5 akan menambahkan syarat khusus untuk fungsi. Di sini konvensi ini hanya mencegah kita mencampuradukkan "himpunan yang dideklarasikan" dengan "himpunan koordinat yang benar-benar muncul".
Contoh 4.1.13. Misalkan , , dan sebagai relasi dari ke . Jika , maka , sehingga dan menurut Teorema 4.1.3. Jadi dan . Karena , berlaku ; karena , berlaku . Kodomainnya tetap .
Ketergantungan pada himpunan yang dideklarasikan juga berlaku untuk sifat relasi. Ambil . Sebagai relasi pada , relasi ini refleksif menurut Definisi 4.1.17 di bawah. Sebagai relasi pada , relasi yang sama tidak refleksif karena . Jadi pertanyaan "apakah refleksif?" tidak bermakna sebelum himpunan ditetapkan.
Contoh 4.1.14 (tiga relasi baku pada ).
- Relasi kosong . Untuk setiap , pernyataan salah.
- Relasi penuh . Untuk setiap , pernyataan benar.
- Diagonal , dibentuk dengan separasi pada .
Proposisi 4.1.15. Untuk berlaku .
Bukti. () Jika , maka dengan . Pasangan ini anggota dan memenuhi syarat separasi dengan saksi . () Jika , maka ada dengan . Teorema 4.1.3 memberikan dan , sehingga .
Jadi adalah relasi kesamaan yang dibatasi pada . Kita juga meminjam dari aritmetika urutan biasa dan pada sebagai relasi pada . Sifat-sifat yang dipakai ialah: ; ; jika dan maka ; transitivitas dan ; serta bahwa untuk tidak mungkin dan sekaligus.
Catatan 4.1.16 (tabel dan digraf). Jika berhingga dan kecil, relasi pada dapat disajikan sebagai tabel atau sebagai digraf.
- Dalam tabel, baris dan kolom diberi tanda bila .
- Dalam digraf, setiap anggota menjadi titik, dan dibuat panah dari ke bila . Panah dari ke disebut loop.
Untuk relasi yang dibahas di bawah, tabelnya adalah
| 1 | 2 | 3 | |
|---|---|---|---|
| 1 | ✓ | ✓ | |
| 2 | ✓ | ✓ | |
| 3 | ✓ |
Penyajian ini berguna untuk melihat pola dan menemukan calon saksi, tetapi tidak menggantikan bukti, karena tiga alasan:
- Tabel atau gambar berhingga yang menampilkan setiap anggota dan setiap pasangan hanya dapat memuat seluruh relasi pada himpunan berhingga. Relasi pada himpunan tak hingga dapat digambarkan secara skematis, tetapi gambar berhingga itu tidak memeriksa seluruh kasus. Klaim tentang relasi pada , atau tentang semua relasi dengan sifat tertentu, memerlukan argumen umum.
- Membaca gambar sebagai bukti berarti melakukan pemeriksaan kasus. Pemeriksaan itu sah hanya bila semua kasus yang dituntut kuantifikator benar-benar diperiksa. Transitivitas, misalnya, menuntut pemeriksaan semua rangkaian , , bukan hanya rangkaian yang "terlihat".
- Gambar harus mencatat seluruh himpunan asal sebagai himpunan titik, termasuk titik tanpa panah. Jika titik semacam itu terlewat, gambar tidak lagi menyajikan seluruh data relasi pada .
Karena itu, setiap klaim dalam unit ini tetap disertai argumen.
Empat sifat relasi pada satu himpunan
Definisi 4.1.17. Misalkan relasi pada , yaitu . Relasi disebut
Untuk perbandingan, disebut irrefleksif jika , dan asimetris jika .
Membantah suatu sifat berarti membuktikan negasinya. Dengan aturan negasi kuantifikator dari Bab 2, negasi-negasi tersebut adalah sebagai berikut.
| tidak ... | jika dan hanya jika ada ... |
|---|---|
| refleksif | dengan |
| simetris | dengan dan |
| antisimetris | dengan , , dan |
| transitif | dengan , , dan |
Bentuk saksi untuk transitivitas perlu diperhatikan. Kita harus menunjukkan tiga objek yang membuat kedua premis benar dan kesimpulan salah. Menunjukkan bahwa sebuah pasangan "tidak ada di " belum cukup.
Setiap sifat dalam Definisi 4.1.17 berbentuk kuantifikasi universal atas anggota . Tiga di antaranya, yaitu simetris, antisimetris, dan transitif, juga berbentuk implikasi dengan premis yang memuat . Dua fakta dari Bab 2 akan sering dipakai:
- implikasi dengan premis salah bernilai benar;
- kuantifikasi universal atas himpunan kosong bernilai benar.
Proposisi 4.1.18 (kesamaan). Untuk setiap himpunan , diagonal refleksif, simetris, antisimetris, dan transitif.
Bukti. Gunakan Proposisi 4.1.15: untuk , berarti .
- Refleksif: untuk setiap .
- Simetris: dari diperoleh .
- Antisimetris: premis sudah memuat kesimpulan .
- Transitif: dari dan diperoleh dengan substitusi.
Proposisi ini menunjukkan bahwa sebuah relasi bisa simetris dan antisimetris sekaligus. Kedua sifat itu bukan lawan satu sama lain. Hal ini dibahas lebih lanjut di bagian akhir.
Proposisi 4.1.19 (relasi kosong). Misalkan himpunan.
- Relasi kosong pada bersifat simetris, antisimetris, transitif, irrefleksif, dan asimetris.
- Relasi kosong pada refleksif jika dan hanya jika .
- Jika , satu-satunya relasi pada adalah , dan relasi itu memiliki keempat sifat dalam Definisi 4.1.17.
Bukti. (1) Untuk setiap , pernyataan salah. Pada sifat simetris, antisimetris, transitif, dan asimetris, premis setiap implikasi memuat suatu konjung berbentuk . Premis itu salah, sehingga implikasinya benar untuk setiap pilihan . Sifat-sifat ini berlaku secara vakum. Irrefleksivitas berlaku karena salah untuk setiap .
(2) Jika , ambil . Maka , sehingga menjadi saksi kegagalan refleksivitas. Jika , pernyataan benar secara vakum.
(3) Menurut Proposisi 4.1.9, . Jadi relasi pada memenuhi , yang berarti . Sifat simetris, antisimetris, dan transitif berlaku menurut (1), dan refleksif berlaku menurut (2).
Butir (2) dan (3) membantah anggapan bahwa "refleksif berarti relasinya memuat sesuatu". Refleksivitas hanya menuntut untuk setiap yang ada di . Pada , tuntutan itu kosong. Relasi pada juga sekaligus refleksif dan irrefleksif. Hal ini tidak kontradiktif, karena kedua klaim universal itu benar secara vakum.
Proposisi 4.1.20 (relasi penuh). Relasi refleksif, simetris, dan transitif. Relasi ini antisimetris jika dan hanya jika , yaitu jika memiliki paling banyak satu anggota.
Bukti. Setiap pernyataan dengan benar menurut Proposisi 4.1.8(2). Akibatnya kesimpulan pada definisi refleksif, simetris, dan transitif selalu benar.
Untuk antisimetri, misalkan . Maka kesimpulan pada definisi antisimetri selalu benar. Sebaliknya, jika ada dengan , maka dan benar. Jadi menjadi saksi kegagalan antisimetri.
Contoh 4.1.21 (urutan pada ). Contoh berikut memakai fakta urutan yang dipinjam.
- Relasi refleksif, antisimetris, dan transitif. Relasi ini tidak simetris dengan saksi tetapi .
- Relasi irrefleksif, transitif, dan asimetris. Asimetri berlaku karena dan tidak dapat terjadi bersamaan. Relasi ini juga antisimetris secara vakum: premis tidak pernah benar. Relasi ini tidak refleksif dengan saksi , dan tidak simetris dengan saksi tetapi .
Contoh pokok: relasi yang transitif melalui dua blok
Tetapkan dan
Ada klaim yang keliru dan mudah muncul tentang relasi ini: " tidak transitif, karena gabungan pasangan dan , atau rangkaian lebih lanjut darinya, akan menghasilkan sesuatu di luar ." Klaim ini salah. Dua bukti berikut menunjukkan bahwa transitif. Bukti pertama memeriksa semua kasus. Bukti kedua memperlihatkan struktur yang menjelaskan mengapa transitivitas berlaku.
Proposisi 4.1.22. Relasi pada bersifat refleksif, simetris, dan transitif, tetapi tidak antisimetris.
Bukti. Refleksif. Pasangan semuanya anggota .
Simetris. Pasangan dengan koordinat sama adalah kebalikan dirinya sendiri. Dua pasangan lainnya, dan , saling berkebalikan dan keduanya anggota . Jadi untuk setiap , kebalikannya juga anggota .
Tidak antisimetris. Saksinya dan : berlaku , , dan .
Transitif, bukti pertama: pemeriksaan semua rangkaian. Kita harus memeriksa setiap tripel dengan dan . Untuk tiap , daftarkan semua pasangan di yang koordinat pertamanya . Pasangan berkoordinat pertama adalah . Berkoordinat pertama adalah . Berkoordinat pertama hanya .
| yang mungkin | kesimpulan | di ? | |
|---|---|---|---|
| , | , | ya, ya | |
| , | , | ya, ya | |
| , | , | ya, ya | |
| , | , | ya, ya | |
| ya |
Tabel ini memuat kesembilan rangkaian yang mungkin, dan setiap kesimpulannya berada di . Rangkaian yang tampak "berbahaya", yaitu lalu , hanya menghasilkan . Pasangan ini sudah ada di . Tidak ada rangkaian yang menghubungkan dengan , karena tidak ada pasangan di yang memuat bersama atau .
Transitif, bukti kedua: dua blok. Tulis dan . Kita perlu dua fakta.
Fakta pertama: . Dengan Proposisi 4.1.8, dan . Setiap anggota muncul di salah satu daftar ini, dan setiap anggota kedua daftar ini muncul di . Jadi kedua inklusi berlaku.
Fakta kedua: , karena dan .
Sekarang misalkan dan . Ada blok dengan , dan ada blok dengan . Maka dan , sehingga . Andaikan . Maka , sehingga , dan ini bertentangan dengan . Jadi . Akibatnya dan , sehingga .
Bukti kedua tidak memakai daftar rangkaian sama sekali. Yang dipakai hanyalah fakta bahwa merupakan gabungan "persegi" atas blok-blok yang saling lepas. Satu-satunya cara rangkaian dapat berpindah blok adalah melalui anggota bersama . Karena blok-bloknya saling lepas, perpindahan seperti itu mustahil. Argumen ini berlaku untuk banyak relasi lain, dan polanya akan menjadi pusat pembahasan 4.2.
Contoh 4.1.23 (relasi refleksif dan simetris yang sungguh tidak transitif). Pada yang sama, definisikan
- Refleksif: , dan memuat ketiga pasangan diagonal.
- Simetris: pasangan diagonal adalah kebalikan dirinya sendiri. Pasangan selain diagonal muncul berpasangan dengan kebalikannya: dengan , dan dengan .
- Tidak transitif: saksinya , , . Kedua premis dan benar, tetapi .
- Tidak antisimetris: saksi yang sama dengan saksi untuk .
Mengapa argumen dua blok gagal untuk ? Andaikan ditulis sebagai gabungan persegi atas blok-blok yang saling lepas. Karena , ada blok yang memuat dan . Karena , ada blok yang memuat dan . Kedua blok itu sama-sama memuat , sehingga keduanya blok yang sama. Akibatnya berada di persegi blok itu, sehingga , padahal kenyataannya tidak. Jadi tidak berbentuk seperti itu.
Yang berlaku justru
Kedua inklusi diperiksa dengan mendaftar: persegi pertama memuat , persegi kedua memuat , dan gabungan kedua daftar tepat ketujuh anggota . Kedua blok dan menutupi tetapi tumpang tindih di , dan di titik itulah transitivitas gagal (bandingkan Latihan 4.1.L7(b)).
Ringkasan sifat pada . Kolom terakhir memuat relasi , yaitu yang dibatasi pada . Pembenarannya dikerjakan di Latihan 4.1.L4.
| sifat | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| refleksif | ya | tidak | ya | ya | ya | tidak |
| simetris | ya | ya | ya | ya | ya | tidak |
| antisimetris | ya | ya | tidak | tidak | tidak | ya |
| transitif | ya | ya | ya | ya | tidak | ya |
| asimetris | tidak | ya | tidak | tidak | tidak | ya |
Pembenaran setiap entri:
- Kolom , , dan mengikuti Proposisi 4.1.18–4.1.20. Asimetri gagal pada : premis asimetri benar untuk karena , tetapi kesimpulan salah. Asimetri gagal pada dengan saksi yang sama, karena .
- Kolom dan mengikuti Proposisi 4.1.22 dan Contoh 4.1.23. Asimetri gagal pada keduanya dengan saksi , karena dan .
Antisimetris, tidak simetris, dan asimetris
Tiga istilah ini sering tertukar karena namanya mirip. Isi logisnya berbeda.
- Tidak simetris hanyalah negasi dari simetris: ada satu pasangan yang kebalikannya tidak berlaku.
- Antisimetris adalah syarat universal: hubungan dua arah hanya boleh terjadi antara objek yang sama.
- Asimetris adalah syarat universal yang lebih kuat: hubungan dua arah tidak boleh terjadi sama sekali, termasuk dari suatu objek ke dirinya sendiri.
Hubungan antara ketiganya dirumuskan dalam proposisi berikut.
Proposisi 4.1.24. Misalkan relasi pada .
- asimetris jika dan hanya jika antisimetris dan irrefleksif.
- simetris dan antisimetris jika dan hanya jika .
Bukti. (1) Untuk arah (), misalkan asimetris.
- Irrefleksif: ambil dan andaikan . Asimetri dengan memberikan , sebuah kontradiksi. Jadi .
- Antisimetris: premis tidak pernah benar, sebab memaksa . Implikasinya benar secara vakum.
Untuk arah (), misalkan antisimetris dan irrefleksif, dan misalkan . Andaikan . Antisimetri memberikan , sehingga , dan ini bertentangan dengan irrefleksivitas. Jadi .
(2) Untuk arah (), misalkan simetris dan antisimetris. Ambil . Menurut Proposisi 4.1.8(1), untuk suatu . Simetri memberikan , lalu antisimetri memberikan . Jadi menurut Proposisi 4.1.15.
Untuk arah (), misalkan . Jika , maka menurut Proposisi 4.1.15. Akibatnya:
- Antisimetri: kesimpulan sudah diperoleh dari premis saja.
- Simetri: dengan substitusi, sehingga .
Contoh 4.1.25 (keempat kombinasi simetri dan antisimetri). Tulis sebagai relasi pada dan sebagai relasi pada .
| antisimetris | tidak antisimetris | |
|---|---|---|
| simetris | , juga | |
| tidak simetris |
Pembenaran setiap sel:
- Sel kiri atas mengikuti Proposisi 4.1.24(2), karena kedua relasi termuat dalam diagonal.
- Sel kanan atas mengikuti Proposisi 4.1.20.
- Untuk : relasi ini tidak simetris karena tetapi . Relasi ini antisimetris karena premisnya tidak pernah benar. Jika dan , maka dan . Teorema 4.1.3 memberi dari kesamaan pertama dan dari kesamaan kedua, sehingga , mustahil.
- Untuk : tidak simetris karena tetapi . Tidak antisimetris karena , , dan .
Sel kanan bawah memakai tiga titik karena alasan berikut. Pada himpunan dua titik , kegagalan antisimetri memaksa dan keduanya ada di relasi. Akibatnya semua pasangan yang mungkin, yaitu dua pasangan itu dan pasangan diagonal, sudah memiliki kebalikan di relasi, sehingga relasi itu simetris. Latihan 4.1.L6 meminta pembuktian rinci fakta ini.
Jadi "antisimetris" tidak berarti "tidak simetris", dan "tidak simetris" tidak berarti "antisimetris". Implikasi "antisimetris tidak simetris" dibantah oleh sel kiri atas ( antisimetris sekaligus simetris), dan implikasi "tidak simetris antisimetris" dibantah oleh sel kanan bawah ().
Di antara sifat-sifat ini, asimetris mengimplikasikan antisimetris dan irrefleksif (Proposisi 4.1.24(1)), tetapi kebalikan implikasi pertama gagal pada untuk setiap . Asimetris juga mengimplikasikan "tidak simetris" hanya bila . Memang, jika asimetris dan ada , simetri akan memberi sedangkan asimetri memberi ; jadi menjadi saksi bahwa tidak simetris. Sebaliknya, relasi kosong bersifat asimetris dan simetris sekaligus secara vakum (Proposisi 4.1.19). Jadi asimetri pun bukan negasi simetri.
Latihan
Latihan 4.1.L1. (a) Buktikan bahwa jika dan hanya jika . (b) Tentukan dan , lalu periksa kecocokannya dengan Lema 4.1.2.
Latihan 4.1.L2. Buktikan bahwa jika dan hanya jika atau .
Latihan 4.1.L3 (relasi kosong dan kesamaan). (a) Daftarkan semua relasi pada , lalu tentukan untuk masing-masing apakah relasi itu refleksif, simetris, antisimetris, transitif, dan asimetris. (b) Untuk , apakah relasi kosong sama dengan ? Jelaskan. (c) Buktikan bahwa jika , maka tidak asimetris.
Latihan 4.1.L4. Pada , selidiki sifat refleksif, irrefleksif, simetris, antisimetris, asimetris, dan transitif untuk
Untuk transitivitas, periksa semua rangkaian.
Latihan 4.1.L5. Pada definisikan jika . Tentukan apakah refleksif, simetris, antisimetris, dan transitif. Berikan bukti atau saksi.
Latihan 4.1.L6. Buktikan bahwa setiap relasi pada yang tidak antisimetris pasti simetris.
Latihan 4.1.L7 (dua blok secara umum). Misalkan dengan dan . Didefinisikan . (a) Buktikan bahwa refleksif, simetris, dan transitif pada . (b) Tunjukkan bahwa tanpa syarat , transitivitas dapat gagal. (c) Tunjukkan bahwa tanpa syarat , refleksivitas dapat gagal.
Pembahasan
4.1.L1. (a) Menurut Teorema 4.1.3, jika dan hanya jika dan . Konjungsi ini setara dengan .
(b) , sehingga himpunan ini hanya beranggota . Maka dan . Lema 4.1.2 memberikan dan , jadi hasilnya cocok. Contoh ini memperlihatkan bahwa lema tetap berlaku ketika pasangan "runtuh" menjadi himpunan beranggota satu.
4.1.L2. () Ini adalah Proposisi 4.1.9. () Kita buktikan kontraposisinya. Misalkan dan . Ambil dan . Menurut Proposisi 4.1.8(2), , sehingga .
Perhatikan bahwa pengambilan dan di sini hanyalah eliminasi dua kuantor eksistensial, masing-masing satu kali. Tidak ada pemilihan tak hingga yang diperlukan.
4.1.L3. (a) Karena , relasi pada adalah himpunan bagian dari . Jadi hanya ada dua relasi: dan .
- Relasi . Menurut Proposisi 4.1.19, relasi ini tidak refleksif (saksinya ) serta simetris, antisimetris, transitif, dan asimetris.
- Relasi . Menurut Proposisi 4.1.18, relasi ini refleksif, simetris, antisimetris, dan transitif. Relasi ini tidak asimetris, karena membuat premis asimetri benar untuk , tetapi kesimpulan salah.
(b) Ya. , sehingga . Pada himpunan kosong, relasi kesamaan dan relasi kosong adalah objek yang sama. Hal ini konsisten dengan Proposisi 4.1.19(3).
(c) Ambil . Maka . Asimetri dengan akan menuntut , padahal itu salah. Jadi menjadi saksi bahwa tidak asimetris.
4.1.L4. Relasi .
- Tidak refleksif: .
- Irrefleksif: tidak ada pasangan diagonal di .
- Tidak simetris: tetapi .
- Asimetris: kebalikan setiap anggota , yaitu , , dan , tidak ada di .
- Antisimetris: mengikuti dari asimetri menurut Proposisi 4.1.24(1).
- Transitif: rangkaian yang mungkin hanya yang pasangan keduanya berkoordinat pertama sama dengan koordinat kedua pasangan pertama. Untuk , pasangan di yang berawal hanya , sehingga kesimpulannya . Untuk dan , tidak ada pasangan di yang berawal . Jadi hanya ada satu rangkaian, dan kesimpulannya berada di .
Relasi .
- Tidak refleksif: .
- Tidak irrefleksif: .
- Tidak simetris: tetapi .
- Antisimetris: satu-satunya pasangan yang kebalikannya juga di adalah , dan untuk pasangan itu . Kebalikan dan tidak ada di .
- Tidak asimetris: membuat premis asimetri benar untuk , sedangkan kesimpulannya salah.
- Tidak transitif: saksinya , , . Premis dan benar, tetapi . Satu saksi sudah cukup untuk membantah transitivitas, tetapi pemeriksaan lengkap memberi gambaran utuh. Rangkaian lainnya, yaitu lalu dan lalu , menghasilkan dan , keduanya di . Tidak ada pasangan di yang berawal , sehingga tidak memulai rangkaian. Jadi dari tiga rangkaian, hanya yang gagal.
4.1.L5.
- Refleksif: untuk setiap .
- Tidak simetris: karena , tetapi salah karena salah.
- Tidak antisimetris: karena , dan karena , tetapi .
- Tidak transitif: karena , dan karena , tetapi salah karena salah.
Relasi ini menunjukkan bahwa sedikit "kelonggaran" pada merusak antisimetri dan transitivitas, walaupun refleksivitasnya tetap terjaga.
4.1.L6. Misalkan relasi pada yang tidak antisimetris. Maka ada dengan , , dan . Karena hanya ada dua anggota, , sehingga dan .
Sekarang buktikan simetri. Ambil . Karena , pasangan adalah salah satu dari :
- Jika (pasangan atau ), maka .
- Jika , maka .
- Jika , maka .
Keempat kemungkinan sudah tercakup, jadi simetris.
4.1.L7. (a) Bagian ini dikerjakan per sifat.
- Refleksif: ambil . Jika , maka . Jika , maka . Pada kedua kasus .
- Simetris: jika dengan , maka , sehingga .
- Transitif: argumennya sama persis dengan bukti kedua Proposisi 4.1.22. Blok yang memuat dan blok yang memuat beririsan di . Karena , haruslah , sehingga .
Perhatikan kasus batas. Jika , maka dan , sehingga argumen tetap berlaku. Jika , maka dan , yang memiliki ketiga sifat menurut Proposisi 4.1.19.
(b) Ambil , , dan . Maka tetapi . Gabungan tepat sama dengan relasi pada Contoh 4.1.23, yang tidak transitif dengan saksi .
(c) Ambil , , dan . Maka , tetapi . Di sini dan , sehingga refleksivitas pada gagal dengan saksi . Hasil ini sejalan dengan Konvensi 4.1.12: sifat refleksif bergantung pada himpunan yang dideklarasikan.
Menuju 4.2
Contoh dan memperlihatkan perbedaan yang menentukan. Relasi refleksif, simetris, dan transitif, dan ia tersusun dari dua blok dan yang saling lepas serta menutupi seluruh . Relasi refleksif dan simetris, tetapi blok-bloknya dan tumpang tindih, dan transitivitasnya gagal tepat di titik tumpang tindih itu.
Latihan 4.1.L7 menunjukkan satu arah hubungan ini untuk dua blok. Unit 4.2 menjadikan hubungan ini hasil umum. Relasi yang refleksif, simetris, dan transitif disebut relasi ekuivalensi. Kita akan membuktikan bahwa relasi ekuivalensi pada berkorespondensi dengan cara membagi menjadi blok-blok tak kosong yang saling lepas, termasuk dalam kasus . Kita juga akan membuktikan bahwa kedua konstruksi tersebut saling membalik.
Untuk penyajian pembanding definisi relasi dan sifat-sifat dasarnya, lihat [R4-2].
4.2 Relasi Ekuivalensi dan Partisi Himpunan
Di 4.1 kita memeriksa relasi
pada . Relasi itu dapat ditulis sebagai dengan dan . Jadi tidak lain adalah relasi "berada dalam kelompok yang sama", dengan kelompok dan . Unit ini menunjukkan bahwa bentuk itu bukan kebetulan. Setiap relasi yang refleksif, simetris, dan transitif membagi himpunannya menjadi kelompok yang saling lepas. Sebaliknya, setiap pembagian semacam itu menentukan relasi dengan ketiga sifat tersebut. Kedua cara pandang ini memuat informasi yang persis sama.
Motivasinya datang dari kebiasaan mengelompokkan. Kita sering ingin menganggap dua objek "sama untuk keperluan tertentu", misalnya dua kata yang huruf pertamanya sama, atau dua kata yang panjangnya sama. Agar anggapan itu benar-benar menghasilkan kelompok, ada tiga tuntutan minimal:
- setiap objek sekelompok dengan dirinya sendiri;
- jika sekelompok dengan , maka sekelompok dengan ;
- jika sekelompok dengan dan sekelompok dengan , maka sekelompok dengan .
Tuntutan ketiga paling sering dilanggar dalam praktik. Relasi "mirip" atau "cukup dekat" biasanya memenuhi dua tuntutan pertama, tetapi rantai kemiripan dapat menyambungkan objek yang sama sekali tidak mirip. Akibat kegagalan itu kita lihat pada Contoh 4.2.8.
Relasi ekuivalensi
Definisi 4.2.1 (relasi ekuivalensi). Misalkan himpunan dan . Relasi disebut relasi ekuivalensi pada jika ia refleksif, simetris, dan transitif pada dalam arti 4.1:
Frasa "pada " bukan hiasan. Refleksivitas bergantung pada himpunan yang dinyatakan. Himpunan pasangan adalah relasi ekuivalensi pada . Sebagai relasi pada , himpunan yang sama tidak refleksif karena tidak termuat di dalamnya. Simetri dan transitivitas hanya membicarakan pasangan yang sudah ada dalam relasi, sehingga tidak terpengaruh oleh penggantian dengan himpunan yang lebih besar.
Contoh 4.2.2.
(a) Kesamaan. Untuk sebarang himpunan , bentuk dengan separasi pada
Karakterisasi kesamaan pasangan dari 4.1 memberi jika dan hanya jika dan . Ketiga sifat ekuivalensi menjadi sifat logika kesamaan dari Bab 1: ; dari diperoleh ; dari dan diperoleh .
(b) Relasi penuh. adalah ekuivalensi pada . Setiap pasangan anggota termuat di dalamnya, sehingga ketiga kesimpulan yang dituntut selalu benar.
(c) Relasi dari 4.1. Di 4.1 sudah dibuktikan bahwa refleksif, simetris, dan transitif pada . Jadi relasi ekuivalensi. Kegagalan antisimetri (, , ) tidak relevan bagi ekuivalensi.
(d) Himpunan kosong. Karena (4.1), satu-satunya relasi pada adalah . Relasi ini ekuivalensi secara vakum, sebab setiap kuantor universal di Definisi 4.2.1 berjalan atas pembatas kosong.
(e) Bukan ekuivalensi. Relasi dari 4.1 refleksif dan simetris, tetapi , , dan bukan . Jadi bukan ekuivalensi.
Kelas ekuivalensi
Definisi 4.2.3 (kelas). Misalkan relasi ekuivalensi pada dan . Kelas ekuivalensi dari ialah
Himpunan ini ada menurut aksioma separasi dengan pembatas . Bila perlu menegaskan relasinya, ditulis . Anggota disebut wakil dari kelas tersebut. Akibat 4.2.6(b) akan menunjukkan bahwa setiap anggota suatu kelas dapat berperan sebagai wakilnya.
Kelas bergantung pada dua data, yaitu himpunan dan relasi . Lambang saja tidak bermakna sebelum keduanya ditetapkan.
Lemma 4.2.4. Misalkan ekuivalensi pada dan . Maka: (a) untuk setiap : jika dan hanya jika dan ; (b) ; (c) , sehingga .
Bukti. Pernyataan (a) adalah bunyi aksioma separasi untuk himpunan pada Definisi 4.2.3. Pernyataan (b) langsung mengikuti (a). Untuk (c), dan menurut refleksivitas, sehingga menurut (a).
Teorema berikut adalah inti unit ini. Ketiga sifat ekuivalensi dipakai di dalamnya, masing-masing pada langkah yang dapat ditunjuk.
Teorema 4.2.5. Misalkan relasi ekuivalensi pada dan . Ketiga pernyataan berikut setara:
Bukti. Kita buktikan (i)(ii)(iii)(i).
(i)(ii). Misalkan . Kesamaan dibuktikan melalui dua inklusi, lalu ekstensionalitas.
- : ambil . Menurut Lemma 4.2.4(a), dan . Dari dan , transitivitas memberi . Jadi .
- : ambil , jadi dan . Simetri dari memberi . Transitivitas pada dan memberi . Jadi .
(ii)(iii). Misalkan . Menurut Lemma 4.2.4(c), , sehingga juga. Jadi , dan irisan itu tidak kosong.
(iii)(i). Misalkan ada . Maka , , dan . Simetri memberi . Transitivitas pada dan memberi .
Perhatikan pula jalan pintas (ii)(i): dari diperoleh langsung . Arah sebaliknya, (i)(iii), juga singkat: jika , maka sendiri adalah saksi di , karena dan berarti .
Akibat 4.2.6. Misalkan ekuivalensi pada . (a) Untuk setiap , tepat satu dari dua hal berikut berlaku: , atau . (b) Jika dan , maka . Jadi setiap anggota suatu kelas dapat menjadi wakilnya.
Bukti. (a) Teorema 4.2.5 memberi: jika , maka . Jadi sekurang-kurangnya satu dari kedua hal berlaku. Keduanya tidak mungkin berlaku bersama: jika dan , maka dengan substitusi oleh diperoleh , bertentangan dengan . (b) Dari diperoleh dan , sehingga menurut Teorema 4.2.5.
Akibat 4.2.6 menunjukkan bahwa nama dan objek harus dibedakan. Lambang dan dengan dapat menamai himpunan yang sama. Dua kelas yang berbeda saling lepas, tetapi dua wakil yang berbeda tidak menjamin kelasnya berbeda. Menghitung kelas dengan menghitung wakil adalah kekeliruan.
Contoh 4.2.7 (kelas relasi ). Pada dengan seperti di atas, periksa setiap :
- . Untuk : . Untuk : . Untuk : . Jadi .
- . Karena dan , diperoleh .
- . Satu-satunya pasangan di berkomponen kedua 3 adalah , sehingga .
Ada tiga wakil, tetapi hanya dua kelas: dan . Sesuai Teorema 4.2.5, dan . Karena , diperoleh , dan memang .
Contoh 4.2.8 (kesalahan: kemiripan yang tidak transitif). Pada , bentuk dengan separasi pada relasi "kemiripan" jika (nilai mutlak bilangan bulat dipinjam sebagai aritmetika elementer). Pemeriksaan semua sembilan pasangan menunjukkan bahwa tepat sama dengan relasi dari 4.1:
Relasi ini refleksif () dan simetris (). Ia tidak transitif: , , tetapi .
Separasi tetap mengizinkan pembentukan untuk setiap . Keberadaan himpunan bukan masalahnya. Masalahnya terletak pada sifat himpunan-himpunan itu:
Ketiganya berbeda. Meski begitu, , dan walaupun . Implikasi (iii)(i) di Teorema 4.2.5 runtuh tepat pada langkah transitivitas. Implikasi (i)(ii) juga runtuh: tetapi . Kelompok yang tumpang tindih seperti ini tidak dapat ditafsirkan sebagai pengelompokan. Pertanyaan "objek 2 masuk kelompok mana?" tidak mempunyai jawaban tunggal.
Pola ini dapat muncul pada kriteria "selisih paling banyak " dengan : dua objek berdekatan, objek kedua dekat dengan objek ketiga, tetapi objek pertama dan ketiga belum tentu dekat. Contoh ini hanya menyatakan fakta tentang relasinya. Ia tidak menilai metode pengelompokan data tertentu.
Partisi
Definisi 4.2.9 (partisi). Misalkan himpunan. Himpunan disebut partisi dari jika dan
Anggota disebut blok. Setiap blok adalah himpunan bagian dari , dan sekaligus anggota dari . Kedua hubungan ini, yaitu inklusi dan keanggotaan , jangan dipertukarkan.
Menurut aksioma gabungan dari Bab 3, ada himpunan dengan sifat: untuk setiap , jika dan hanya jika . Karena , inklusi selalu berlaku. Jadi isi sebenarnya dari (P2) adalah inklusi : setiap anggota termuat dalam suatu blok.
Lemma 4.2.10. Jika partisi dari , maka untuk setiap ada tepat satu dengan .
Bukti. Keberadaan: dari (P2), , jadi ada dengan . Ketunggalan: jika dan dengan , maka , sehingga . Kontraposisi (P3) memberi .
Contoh 4.2.11. Pada , himpunan berikut adalah partisi:
(Latihan 4.2.34 memeriksa bahwa kelimanya memang partisi dan bahwa tidak ada partisi lain.) Berikut contoh yang bukan partisi dan syarat yang dilanggarnya:
- : kedua blok berbeda tetapi beririsan di , sehingga melanggar (P3);
- : gabungannya , sehingga melanggar (P2);
- : memuat blok kosong, sehingga melanggar (P1);
- : , sehingga keluarga ini bukan himpunan bagian dari .
Contoh 4.2.12 (kasus batas ). Karena , calon partisi hanya dan .
- bukan partisi, karena satu-satunya bloknya kosong dan (P1) gagal.
- adalah partisi. (P1) dan (P3) berlaku secara vakum, sebab tidak ada blok. (P2) berlaku karena .
Jadi satu-satunya partisi dari adalah . Syarat (P1) menuntut setiap blok tak kosong. Ia tidak menuntut keluarga sendiri tak kosong. Sebaliknya, jika , keluarga bukan partisi dari , sebab .
Dengan alasan yang sama, adalah partisi dari jika dan hanya jika . Untuk , ketiga syarat jelas berlaku. Untuk , gagal di (P1).
Dari ekuivalensi ke partisi
Kita ingin mengumpulkan semua kelas ke dalam satu himpunan. Ungkapan belum dibenarkan oleh aksioma yang tersedia sejauh ini (Bab 3). Keluarga itu harus dipisahkan dari himpunan yang sudah ada, dan pembatas yang tepat adalah , sebab setiap kelas adalah himpunan bagian dari .
Definisi 4.2.13 (keluarga kelas). Misalkan ekuivalensi pada . Definisikan dengan separasi pada :
Lemma 4.2.14. Untuk setiap himpunan : jika dan hanya jika ada dengan .
Bukti. () Jika , ada sehingga untuk setiap , setara dengan . Menurut Lemma 4.2.4(a), syarat yang sama setara dengan . Jadi dan beranggota sama, dan menurut ekstensionalitas. () Jika dengan , maka (Lemma 4.2.4(b)), sehingga . Rumus pemisahnya dipenuhi dengan saksi menurut Lemma 4.2.4(a).
Teorema 4.2.15. Jika ekuivalensi pada , maka adalah partisi dari .
Bukti. Inklusi berlaku menurut konstruksi.
(P1) Ambil . Menurut Lemma 4.2.14, untuk suatu , dan , sehingga .
(P2) Kita buktikan dua inklusi. Jika , ada dengan . Karena , diperoleh . Sebaliknya, jika , maka dan menurut Lemma 4.2.14, sehingga .
(P3) Ambil dengan . Tulis dan dengan . Jika , Teorema 4.2.5 memberi , yaitu , suatu kontradiksi. Jadi .
Dari partisi ke ekuivalensi
Arah sebaliknya meniru bentuk : dua anggota berelasi jika ada blok yang memuat keduanya.
Definisi 4.2.16. Misalkan partisi dari . Definisikan dengan separasi pada :
Lemma 4.2.17. Untuk : jika dan hanya jika ada dengan dan .
Bukti. () Jika , maka , dan rumus pemisah dipenuhi dengan saksi . () Jika , ada dengan , , , dan . Karakterisasi kesamaan pasangan berurutan dari 4.1 memberi dan . Jadi .
Langkah () memakai karakterisasi kesamaan pasangan berurutan dari 4.1 untuk membaca kembali komponen dan dari pasangan . Karena syarat " dan " simetris dalam dan , keterurutan pasangan tidak berperan khusus di sini. Keterurutan menjadi penting untuk relasi yang tidak simetris, misalnya relasi urutan pada 4.4.
Teorema 4.2.18. Jika partisi dari , maka adalah relasi ekuivalensi pada .
Bukti. Semua langkah memakai Lemma 4.2.17.
Refleksif. Ambil . Menurut (P2) ada dengan . Blok memuat dan , sehingga .
Simetris. Jika , ada dengan . Blok yang sama menyaksikan .
Transitif. Misalkan dan . Ada dengan dan ada dengan . Maka , sehingga . Kontraposisi (P3) memberi . Jadi dan .
Bukti transitivitas memakai (P3) secara hakiki. Dua blok yang sama-sama memuat harus merupakan blok yang sama. Untuk keluarga yang bloknya tumpang tindih, relasi "ada blok yang memuat keduanya" dapat gagal transitif (Latihan 4.2.29). Refleksivitas memakai (P2). Syarat (P1) tidak dipakai di sini, tetapi diperlukan pada teorema berikut agar konstruksi bolak-balik kembali ke titik awal.
Kedua konstruksi saling membalik
Lemma 4.2.19. Misalkan partisi dari , , dan . Maka kelas terhadap adalah :
Bukti. Perhatikan bahwa karena . () Jika , maka dan . Jadi ada dengan . Karena , (P3) memberi , sehingga . () Jika , maka , dan blok memuat dan . Jadi , yaitu .
Teorema 4.2.20 (korespondensi ekuivalensi–partisi). Misalkan himpunan. (a) Untuk setiap partisi dari : . (b) Untuk setiap ekuivalensi pada : .
Bukti. (a) Ruas kiri terdefinisi karena ekuivalensi (Teorema 4.2.18). Kita buktikan dua inklusi. () Ambil . Menurut Lemma 4.2.14, untuk suatu . Menurut (P2), ada dengan . Lemma 4.2.19 memberi . () Ambil . Menurut (P1), , jadi ada . Lemma 4.2.19 memberi , dengan . Menurut Lemma 4.2.14, .
(b) Ruas kiri terdefinisi karena partisi (Teorema 4.2.15). Kedua relasi adalah himpunan bagian dari , sehingga setiap anggotanya berbentuk dengan . Cukup dibuktikan bahwa untuk :
() Jika , maka . Juga dan . Jadi blok memuat keduanya. () Jika ada dengan , tulis dengan . Maka dan . Simetri memberi , dan transitivitas memberi . Kedua relasi beranggota sama, sehingga sama menurut ekstensionalitas.
Teorema 4.2.20 menyatakan bahwa kedua konstruksi tidak kehilangan informasi. Partisi yang berbeda menghasilkan relasi yang berbeda, karena partisi dapat dibaca kembali dari relasinya menurut (a). Setiap ekuivalensi berasal dari suatu partisi, yaitu dari keluarga kelasnya sendiri menurut (b). Bahasa fungsi untuk menyebut korespondensi seperti ini secara ringkas baru dibangun pada Bab 5.
Catatan 4.2.21 (tidak ada aksioma pilihan). Pada bukti () di Teorema 4.2.20(a), kita "mengambil ". Ini adalah instansiasi eksistensial biasa di dalam bukti pernyataan berbentuk . Untuk satu blok yang sedang ditinjau, ketakkosongan memberi suatu anggota, dan kesimpulan tidak bergantung pada anggota mana yang diambil. Kita tidak pernah membentuk satu objek yang serentak memilih wakil dari setiap blok. Jaminan adanya pilihan wakil serentak untuk setiap keluarga sebarang dari himpunan tak kosong memerlukan aksioma pilihan (AC). Untuk keluarga tertentu, pilihan wakil dapat tersedia tanpa AC, misalnya bila wakil dapat ditentukan dengan suatu aturan eksplisit. Keluarga kelas juga dibentuk tanpa pilihan, cukup dengan separasi pada . Seluruh unit ini berlangsung tanpa AC.
Contoh 4.2.22 (bolak-balik untuk ). Menurut Lemma 4.2.14, jika dan hanya jika untuk suatu . Contoh 4.2.7 memberi dan , sehingga menurut ekstensionalitas , dengan . Ini partisi dari . Sekarang bentuk kembali untuk . Pasangan dengan kedua komponen di ada empat, yaitu . Pasangan dengan kedua komponen di hanya . Tidak ada pasangan lain yang komponennya termuat bersama dalam satu blok. Jadi
sesuai Teorema 4.2.20(b) dan sesuai bentuk di 4.1.
Contoh 4.2.23 (kasus ekstrem).
(a) . Satu-satunya ekuivalensi adalah relasi kosong (Contoh 4.2.2(d)). Keluarga kelasnya
karena tidak ada yang dapat menjadi saksi. Hasil ini cocok dengan Contoh 4.2.12: satu-satunya partisi adalah , bukan . Dari arah sebaliknya, . Di sini dibentuk dari relasi kosong, sedangkan dibentuk dari partisi kosong. Kedua konstruksi saling membalik pada satu-satunya ekuivalensi () dan satu-satunya partisi () dari .
(b) Kesamaan . Di sini , jadi setiap blok berupa singleton. Misalnya untuk , .
(c) Relasi penuh dengan . Untuk setiap , , sehingga . Untuk , relasi penuhnya adalah dan keluarga kelasnya , bukan . Kasus batas ini konsisten dengan Contoh 4.2.12.
Penerapan: mengelompokkan data menurut kriteria yang eksplisit
Bagian ini adalah model kecil yang dapat dihitung tangan. Ia tidak melaporkan sistem atau perangkat lunak tertentu. Misalkan data berupa himpunan enam kata
Kriteria 1: huruf pertama sama. Bentuk dengan separasi pada relasi jika huruf pertama sama dengan huruf pertama . Setiap kata di tak kosong, sehingga huruf pertamanya tertentu secara tunggal. Relasi ini ekuivalensi karena ketiga sifatnya diwarisi dari kesamaan huruf, seperti pada Contoh 4.2.2(a). Kelas-kelasnya:
Ada enam wakil tetapi tiga kelas. Ketiga himpunan itu tak kosong, saling lepas, dan bergabung menjadi . Menurut Teorema 4.2.20(b), relasinya terdiri tepat dari pasangan yang kedua komponennya termuat dalam satu blok. Dengan mendaftar pasangan per blok diperoleh sembilan pasangan dari blok huruf a, empat dari blok huruf b, dan satu, yaitu , dari blok huruf c; seluruhnya pasangan.
Kriteria berbentuk "nilai atribut tertentu sama" selalu menghasilkan ekuivalensi, asalkan setiap objek mempunyai tepat satu nilai atribut itu. Bab 5 akan merumuskan pola ini dengan bahasa fungsi.
Kriteria 2: panjang kata sama. Panjang kata-kata tersebut berturut-turut . Relasi "panjangnya sama", juga dibentuk dengan separasi pada , adalah ekuivalensi dengan partisi
Kriteria 3 (gagal): panjang berselisih paling banyak 1. Relasi ini refleksif dan simetris. Ia tidak transitif: apel (4) dan bayam (5) berselisih 1, bayam (5) dan anggur (6) berselisih 1, tetapi apel (4) dan anggur (6) berselisih 2. Seperti pada Contoh 4.2.8, "kelompok kemiripan" yang dibentuk kriteria ini tumpang tindih dan tidak membentuk partisi. Jika suatu pengelompokan tetap diinginkan, kriteria harus diganti dengan ekuivalensi yang dinyatakan eksplisit. Alternatifnya, pengguna harus menerima bahwa rantai kemiripan menyatukan objek yang tidak saling mirip (Latihan 4.2.31).
Catatan: ekuivalensi yang antisimetri
Proposisi 4.2.24. Jika ekuivalensi pada yang juga antisimetri, maka .
Bukti. Jika , simetri memberi , lalu antisimetri memberi . Jadi . Sebaliknya, refleksivitas memberi untuk setiap , sehingga .
Jadi pada , adalah satu-satunya relasi yang sekaligus refleksif, simetris, antisimetri, dan transitif. Relasi dari 4.1 gagal antisimetri justru karena ia menggabungkan dan ke dalam satu kelas. Unit 4.4 akan menempuh arah yang berlawanan: refleksivitas dan transitivitas dipertahankan, tetapi simetri diganti antisimetri. Relasi semacam itu akan disebut urutan parsial.
Kesalahan umum
- Menghitung wakil sebagai kelas. dan pada Contoh 4.2.7 adalah satu objek, yaitu .
- Menganggap sebagai partisi dari . Blok tidak boleh kosong. Partisi dari adalah .
- Hanya memeriksa (P1) dan (P2). Keluarga yang menutupi dengan blok tak kosong tetapi tumpang tindih bukan partisi, dan relasi turunannya bisa gagal transitif.
- Menyebut "kemiripan" sebagai ekuivalensi tanpa memeriksa transitivitas. Untuk membantahnya, tampilkan tiga objek dengan kedua premis benar dan kesimpulan salah.
- Menulis tanpa membatasi pada himpunan yang sudah ada. Keluarga kelas dibentuk dengan separasi pada (Definisi 4.2.13).
- Mencampur anggota dan himpunan bagian. Blok memenuhi dan . Pernyataan atau tidak mengikuti definisi partisi.
Latihan
Latihan 4.2.25. Pada diberikan
Buktikan bahwa ekuivalensi. Hitung untuk setiap , tentukan , lalu bentuk kembali dan bandingkan dengan .
Latihan 4.2.26. Pada diberikan . Periksa bahwa partisi. Tuliskan semua pasangan di dan hitung banyaknya. Hitung dan langsung dari definisi kelas, lalu cocokkan dengan Lemma 4.2.19.
Latihan 4.2.27. Misalkan ekuivalensi pada . Pada bukti Teorema 4.2.5, tunjukkan sifat mana (refleksif, simetris, transitif) yang dipakai di setiap implikasi. Untuk relasi dari 4.1, tentukan implikasi mana yang gagal, lengkap dengan saksinya.
Latihan 4.2.28. Tentukan mana yang merupakan partisi dari , dengan alasan: (a) ; (b) ; (c) ; (d) ; (e) .
Latihan 4.2.29. Untuk keluarga pada , definisikan jika ada dengan . Tunjukkan bahwa refleksif dan simetris tetapi tidak transitif, lalu tunjukkan langkah bukti Teorema 4.2.18 yang gagal.
Latihan 4.2.30. Misalkan refleksif dan memenuhi
Buktikan bahwa ekuivalensi. Sebaliknya, buktikan bahwa setiap ekuivalensi memenuhi sifat ini.
Latihan 4.2.31. Pada , definisikan jika . (a) Tunjukkan bahwa refleksif dan simetris tetapi tidak transitif. (b) Hitung untuk setiap , lalu jelaskan mengapa keluarga
bukan partisi dari . (c) Tentukan partisi dari dengan blok sebanyak mungkin yang memenuhi syarat: setiap pasangan termuat dalam satu blok .
Latihan 4.2.32 (A kosong). Tentukan semua relasi pada dan semua himpunan bagian dari . Tentukan mana yang ekuivalensi dan mana yang partisi, lalu periksa kedua bagian Teorema 4.2.20 secara langsung.
Latihan 4.2.33 (anggota versus himpunan bagian). Misalkan . Daftarkan semua himpunan bagian dari dan tentukan mana yang partisi dari . Daftarkan pula semua relasi pada dan tentukan mana yang ekuivalensi.
Latihan 4.2.34. Buktikan bahwa partisi dari tepat lima buah, yaitu yang terdaftar di Contoh 4.2.11. Simpulkan banyak relasi ekuivalensi pada , dan tentukan partisi yang berpadanan dengan dari 4.1.
Latihan 4.2.35. Misalkan ekuivalensi pada dan dengan . Buktikan bahwa untuk setiap dan berlaku bukan .
Pembahasan
4.2.25. Pasangan diagonal termuat, sehingga refleksif. Pasangan nondiagonal hanya dan , dan keduanya saling mencerminkan, sehingga simetris.
Untuk transitivitas, misalkan dan . Jika premis pertama diagonal, yaitu , maka kesimpulan sama dengan premis kedua. Hal serupa berlaku jika . Jika keduanya nondiagonal, maka dan berasal dari dengan komponen tengah yang sama. Kemungkinannya hanya , yang memberi , atau , yang memberi .
Kelas-kelasnya: , , , . Ada empat wakil tetapi tiga kelas, dan menurut Lemma 4.2.14, . Pasangan yang kedua komponennya termuat dalam satu blok adalah dari blok pertama, serta dan . Hasilnya tepat , sesuai Teorema 4.2.20(b).
4.2.26. , kedua blok tak kosong, gabungannya , dan . Jadi partisi. Menurut Lemma 4.2.17, pasangan di tepat pasangan yang kedua komponennya termuat dalam satu blok:
yaitu pasangan.
Untuk : pasangan di dengan komponen kedua adalah , sehingga . Untuk : pasangan dengan komponen kedua adalah , sehingga . Keduanya adalah blok yang memuat wakilnya, sesuai Lemma 4.2.19.
4.2.27. (i)(ii): inklusi memakai transitivitas, sedangkan memakai simetri dan transitivitas. (ii)(iii): refleksivitas, melalui . (iii)(i): simetri dan transitivitas.
Untuk , refleksivitas dan simetri tersedia, sehingga (ii)(iii) tetap berlaku. Dengan seperti di Contoh 4.2.8:
- (i)(ii) gagal: , tetapi . Saksinya . Pada langkah transitivitas, dan tidak memberi .
- (iii)(i) gagal: , tetapi bukan .
4.2.28. (a) Bukan partisi: tetapi irisannya , sehingga (P3) gagal. (b) Bukan partisi: , sehingga (P2) gagal. (c) Partisi: satu blok tak kosong yang sama dengan , dan (P3) vakum karena tidak ada dua blok berbeda. (d) Bukan partisi: adalah blok, sehingga (P1) gagal, walaupun (P2) dan (P3) berlaku. (e) Partisi: kedua blok tak kosong, saling lepas, dan gabungannya .
4.2.29. Setiap termuat dalam suatu anggota , sehingga . Simetri berlaku karena kondisi "" simetris dalam dan . Transitivitas gagal: melalui dan melalui , tetapi tidak ada anggota yang memuat dan .
Pada bukti Teorema 4.2.18, dari dengan dan kita menyimpulkan menggunakan (P3). Langkah itu gagal karena tidak memenuhi (P3).
4.2.30. Simetri. Misalkan . Refleksivitas memberi . Terapkan hipotesis pada dan , dengan , sehingga diperoleh . Transitivitas. Misalkan dan . Simetri yang baru dibuktikan memberi . Terapkan hipotesis pada dan , dengan peran diisi , sehingga diperoleh . Sebaliknya. Jika ekuivalensi, serta dan , maka simetri memberi , dan transitivitas pada , memberi .
4.2.31. (a) dan . Transitivitas gagal dengan saksi , , tetapi .
(b) , , , . Seperti pada Lemma 4.2.14, jika dan hanya jika untuk suatu . Jadi . Keluarga ini ada menurut separasi pada ; yang gagal adalah syarat partisinya. Himpunan tetapi , sehingga (P3) gagal.
(c) Misalkan memenuhi syarat. Pasangan memaksa dan berada dalam satu blok . Pasangan memaksa dan berada dalam satu blok . Karena , (P3) memberi , sehingga . Partisi memenuhi syarat, sebab setiap pasangan termuat dalam salah satu bloknya. Partisi ini juga mempunyai blok sebanyak mungkin: setiap partisi yang memenuhi syarat menaruh dalam satu blok, sehingga paling banyak ada dua blok. Pengelompokan yang konsisten dengan kemiripan ini memaksa dan sekelompok, walaupun keduanya tidak mirip.
4.2.32. , sehingga satu-satunya relasi pada adalah , dan relasi ini ekuivalensi secara vakum. mempunyai dua himpunan bagian, yaitu dan . Menurut Contoh 4.2.12, hanya yang partisi.
Pemeriksaan langsung Teorema 4.2.20(a): untuk partisi , relasi , jadi adalah relasi kosong. Keluarga kelasnya kosong karena syarat pemisah menuntut saksi . Jadi .
Pemeriksaan langsung Teorema 4.2.20(b): untuk relasi , keluarga kelas dengan alasan yang sama. Relasi yang dibentuk dari partisi kosong ini termuat dalam , sehingga sama dengan relasi awal .
4.2.33. , sehingga himpunan bagiannya ada empat: , , , .
- : , sebab . Bukan partisi.
- : bloknya kosong. Bukan partisi.
- : satu blok , tak kosong, dengan gabungan . Ini partisi.
- : memuat blok kosong. Bukan partisi.
Jadi satu-satunya partisi adalah . Objek di sini adalah anggota , dan sebagai blok ia ditolak oleh (P1). Selanjutnya, , sehingga relasi pada ada dua: , yang tidak refleksif karena , dan , yang ekuivalensi. Satu ekuivalensi berpadanan dengan satu partisi, sesuai Teorema 4.2.20.
4.2.34. Misalkan partisi dari . Menurut Lemma 4.2.10, ada tepat satu blok yang memuat . Karena , salah satu dari . Setiap blok tak kosong menurut (P1). Jadi memuat suatu , dan menurut Lemma 4.2.10, adalah blok tunggal yang memuat . Akibatnya ditentukan penuh oleh blok-blok yang memuat , , dan .
- : blok yang memuat dan blok yang memuat juga , sehingga .
- : blok yang memuat berbeda dari karena , sehingga menurut (P3). Jadi , dan karena , . Maka .
- : secara serupa, .
- : blok yang memuat berbeda dari , sehingga saling lepas dengannya, dan . Jika , maka . Jika , blok yang memuat saling lepas dengan dan , sehingga sama dengan . Maka .
Sebaliknya, kelima keluarga ini memenuhi (P1)–(P3). Setiap bloknya tak kosong dan termuat dalam ; gabungan blok-blok tiap keluarga adalah , seperti terlihat langsung dari daftarnya; dan blok-blok yang berbeda dalam satu keluarga tidak berbagi anggota. Kelima keluarga juga saling berbeda, karena blok yang memuat atau blok yang memuat berbeda di antara mereka. Jadi partisi dari tepat lima.
Menurut Teorema 4.2.20, partisi yang berbeda menghasilkan ekuivalensi yang berbeda, dan setiap ekuivalensi berasal dari suatu partisi. Jadi ada tepat lima relasi ekuivalensi pada . Relasi berpadanan dengan (Contoh 4.2.22).
4.2.35. Andaikan untuk suatu dan . Akibat 4.2.6(b) memberi dan . Teorema 4.2.5 memberi . Jadi , bertentangan dengan hipotesis.
Menuju 4.3
Teorema 4.2.15 memberi himpunan sah yang anggotanya adalah kelas-kelas, bukan wakil-wakilnya. Di 4.3 himpunan ini diberi nama himpunan kuosien dan dilambangkan . Konstruksinya tidak perlu diulang, karena keberadaannya sudah dijamin oleh separasi pada . Aturan dapat dipandang sebagai pratinjau fungsi: setiap menentukan tepat satu kelas, dan setiap kelas mempunyai sekurang-kurangnya satu wakil. Dari sini belum dapat disimpulkan adanya satu pilihan wakil serentak untuk semua kelas.
Akibat 4.2.6 sekaligus memunculkan persoalan utama unit berikutnya. Karena satu kelas dapat mempunyai beberapa wakil, setiap aturan yang didefinisikan melalui wakil harus diperiksa agar hasilnya tidak bergantung pada wakil yang dipilih. Di 4.3 pemeriksaan ini disebut sifat terdefinisi dengan baik (well-defined). Contoh utamanya adalah kongruensi modulo bilangan bulat positif .
4.3 Kelas Ekuivalensi dan Himpunan Kuosien
Di 4.2 kita membuktikan bahwa relasi ekuivalensi pada himpunan memecah menjadi kelas-kelas yang saling lepas. Unit ini memakai pecahan itu untuk membentuk objek baru. Gagasannya adalah memperlakukan unsur-unsur yang setara sebagai satu objek. Dalam aritmetika jam, misalnya, kita tidak membedakan , , , dan jika yang penting hanya sisa pembagiannya oleh . Secara informal, kita juga tidak membedakan dua pecahan yang menyatakan rasio yang sama. Bilangan rasional belum dibangun dalam buku ini, jadi contoh ini hanya motivasi.
Ada dua cara keliru untuk "mengidentifikasi". Cara pertama adalah berpura-pura bahwa . Ini salah, karena keduanya tetap bilangan bulat yang berbeda. Cara kedua adalah memilih satu nama untuk setiap golongan dan membuang sisanya. Cara ini memerlukan pemilihan wakil dari setiap golongan, dan pemilihan semacam itu tidak selalu dapat dibenarkan tanpa argumen tambahan. Cara yang sah lebih sederhana: objek barunya adalah kelas itu sendiri, yaitu himpunan semua unsur yang setara. Dua bilangan yang setara tidak menjadi sama. Yang sama adalah kelasnya, dan kesamaan kelas sudah dicirikan di 4.2:
Himpunan kuosien
Definisi 4.3.1 (himpunan kuosien). Misalkan relasi ekuivalensi pada himpunan . Himpunan kuosien oleh adalah
Himpunan ini ada karena dibentuk dengan separasi pada himpunan kuasa , yang keberadaannya sudah dijamin di Bab 3. Ini adalah keluarga kelas yang dibentuk di 4.2, sehingga . Kita memakai singkatan
dengan pengertian bahwa jika dan hanya jika untuk suatu . Singkatan ini bukan komprehensi baru tanpa pembatas. Ia hanya cara lain menuliskan himpunan yang sudah dibatasi oleh .
Ada dua hal yang perlu ditekankan.
- Anggota adalah kelas-kelas yang merupakan himpunan bagian . Keanggotaan suatu kelas dalam tidak mengikuti definisi kuosien. Kalimat "" benar untuk . Kalimat "" memerlukan pemeriksaan tersendiri dan bukan arti notasi kelas tersebut.
- Lambang adalah nama kelas, dan satu kelas dapat mempunyai banyak nama. Jika dan , maka dan adalah dua nama untuk satu objek. Jadi banyaknya anggota kuosien tidak dapat dihitung dengan menghitung nama-nama wakil.
Proposisi 4.3.2 (setiap anggota kelas mewakilinya). Misalkan dan . Maka . Akibatnya, jika , maka .
Bukti. Karena , ada dengan . Dari diperoleh . Menurut 4.2, berakibat . Untuk bagian kedua, , sehingga , juga menurut 4.2.
Proposisi ini memberi isi pada ungkapan "ambil sembarang wakil". Setiap kelas tidak kosong karena , jadi kita dapat mengambil satu unsur . Unsur mana pun yang diambil, kelas yang ditentukannya tetap .
Contoh 4.3.3. (a) Pada , ambil relasi dari 4.1:
Di 4.2 sudah diperiksa bahwa dan . Jadi
Himpunan ini mempunyai dua anggota, walaupun ada tiga nama wakil .
(b) Pada , relasi kosong adalah ekuivalensi. Syarat "" selalu salah, sehingga . Hasilnya bukan , karena bukan kelas dari unsur mana pun.
Catatan 4.3.4 (proyeksi; pratinjau Bab 5). Aturan disebut proyeksi dari ke . Ada dua fakta tentangnya. Pertama, setiap menentukan tepat satu kelas, yaitu . Kedua, setiap kelas sama dengan untuk suatu , karena kelas tidak kosong dan Proposisi 4.3.2 berlaku. Grafik aturan ini, , dapat dibentuk dengan separasi pada . Pembahasan fungsi secara resmi, termasuk istilah surjeksi, menunggu Bab 5.
Yang tidak kita klaim adalah arah sebaliknya, yaitu adanya aturan yang memilih satu wakil tertentu dari setiap kelas sekaligus. Fakta "setiap kelas tak kosong" hanya mengizinkan kita mengambil wakil dari kelas yang sedang ditinjau. Fakta itu tidak memberi pilihan serentak untuk semua kelas. Unit ini tidak memerlukan pilihan serentak. Pada contoh modulo di bawah, pembagian Euclid justru memberi wakil kanonik yang didefinisikan secara eksplisit, sehingga tidak ada pemilihan yang perlu dibenarkan.
Kongruensi modulo
Bilangan bulat dan aritmetika elementernya (penjumlahan, perkalian, urutan , nilai mutlak, dan hukum-hukum yang biasa) dipinjam di sini sebagai bahan contoh. Konstruksinya dari teori himpunan dilakukan kemudian. Sepanjang bagian ini, adalah bilangan bulat dengan . Rumusan ini dipilih dengan sengaja. Kita tidak menulis , karena dengan konvensi buku rumusan itu akan memasukkan .
Definisi 4.3.5. Untuk , tulis (dibaca " membagi ") jika ada dengan . Bilangan disebut saksi. Untuk dan didefinisikan
Sebagai himpunan, relasinya adalah , yang dibentuk dengan separasi pada . Kelas terhadap relasi ini ditulis , atau bila modulusnya perlu disebut. Kuosiennya ditulis . Lambang ini dibaca sebagai satu nama untuk . Alasan penamaannya terlihat dari Proposisi 4.3.7, dengan .
Proposisi 4.3.6. Untuk setiap bilangan bulat , relasi adalah relasi ekuivalensi pada .
Bukti. Ambil sembarang .
Refleksif. . Saksi menunjukkan , jadi .
Simetris. Misalkan , yaitu untuk suatu . Maka , dan . Jadi .
Transitif. Misalkan dan , yaitu dan untuk suatu . Maka
dan . Jadi .
Bukti ini tidak memakai pembagian Euclid. Bukti ini juga tidak memakai syarat . Syarat itu baru diperlukan saat kita menghitung kelas (lihat Catatan 4.3.13).
Proposisi 4.3.7 (deskripsi kelas). Untuk didefinisikan, dengan separasi pada ,
yang biasa ditulis . Maka
Bukti. Kesamaan pertama adalah definisi kelas: jika dan hanya jika dan , yaitu . Kesamaan kedua dibuktikan dengan dua inklusi.
() Jika , ada dengan . Maka , sehingga .
() Jika , ada dengan . Maka , sehingga dan .
Bentuk adalah deskripsi lain dari himpunan yang keberadaannya sudah dijamin. Ia bukan cara kedua untuk membentuk objek tersebut.
Pembagian Euclid sebagai prasyarat yang dinyatakan
Untuk membuktikan bahwa ada tepat kelas, kita perlu dua fakta. Pertama, setiap bilangan bulat setara dengan salah satu dari . Kedua, bilangan-bilangan itu tidak saling setara. Fakta pertama memerlukan suatu sifat bilangan bulat yang belum kita buktikan, jadi kita menyatakannya secara terbuka.
Lemma 4.3.8. Misalkan , , , dan . Maka .
Bukti. Tulis dengan . Andaikan . Bilangan bulat tak nol memenuhi ; ini sifat aritmetika yang dipinjam. Maka , yang bertentangan dengan . Jadi dan .
Teorema 4.3.9 (pembagian Euclid; dipinjam). Untuk setiap dan setiap bilangan bulat , ada tepat satu pasangan dengan
Status teorema ini. Hasil ini dipinjam dari aritmetika bilangan bulat. Bukti di bawah memakai prinsip urutan baik untuk : setiap himpunan bagian tak kosong dari mempunyai unsur terkecil. Prinsip ini baru dikembangkan di Bab 7. Jadi bukti ini sah dengan syarat prinsip tersebut diterima. Selain urutan baik, bukti memakai sifat-sifat yang dipinjam: , bilangan bulat positif paling sedikit , dan hasil kali dua bilangan bulat tak nol tidak nol. Bukti ini tidak memakai fungsi lantai, karena keberadaannya belum dijamin di buku ini.
Bukti (dengan prasyarat urutan baik).
Keberadaan. Bentuk dengan separasi pada :
Himpunan tidak kosong. Ambil , sehingga . Karena dan , berlaku . Jadi bilangan ini anggota dan anggota . Menurut urutan baik, mempunyai unsur terkecil . Tulis untuk suatu . Karena , berlaku . Andaikan . Maka dan
sehingga dan . Ini bertentangan dengan pemilihan sebagai unsur terkecil. Jadi , dan .
Ketunggalan. Misalkan dengan . Maka , sehingga . Dari diperoleh , yaitu . Menurut Lemma 4.3.8, , jadi . Akibatnya . Karena dan hasil kali dua bilangan bulat tak nol tidak nol, berlaku , yaitu .
Tepat kelas
Teorema 4.3.10. Untuk setiap bilangan bulat :
(a) ;
(b) untuk , jika maka . Dengan kata lain, kelas-kelas pada daftar (a) berbeda satu sama lain, dan menurut 4.2 dua kelas yang berbeda saling lepas.
Di sini menyingkat , yang dibentuk dengan separasi. Jadi kuosien terdiri dari tepat kelas, yaitu . Selain itu, setiap kelas memuat tepat satu bilangan dengan . Bilangan itu disebut wakil kanonik kelas tersebut.
Bukti. (a) Kedua inklusi dibuktikan terpisah.
() Ambil dengan . Maka .
() Ambil , jadi untuk suatu . Menurut Teorema 4.3.9, ada dengan dan . Maka , sehingga dan menurut 4.2. Jadi ada pada daftar.
(b) Jika , maka , yaitu . Karena , berlaku . Menurut Lemma 4.3.8, .
Wakil kanonik. Setiap memuat suatu dengan : menurut (a), untuk suatu seperti itu, dan . Jika dengan , Proposisi 4.3.2 memberi , jadi , dan menurut (b) .
Ada tiga catatan tentang bukti ini.
- Bagian (a) hanya memakai keberadaan dalam Teorema 4.3.9. Bagian (b) tidak memakai teorema itu, hanya Lemma 4.3.8. Isi bagian (b) sebenarnya adalah ketunggalan sisa.
- Wakil kanonik suatu kelas dapat didefinisikan secara eksplisit sebagai satu-satunya dengan . Karena itu, modulo kita mempunyai pemilihan wakil yang serentak tanpa aksioma pilihan, karena pemilihan itu ditentukan oleh rumus. Pemilihan itu tetap bergantung pada Teorema 4.3.9 yang dipinjam. Kelebihan ini khusus untuk contoh ini dan tidak berlaku untuk sembarang ekuivalensi.
- Ungkapan "tepat " di sini berarti dua hal: daftar pada (a) menghabiskan kuosien, dan suku-suku daftar itu saling berbeda. Perumusan resmi tentang banyaknya unsur, melalui korespondensi satu-satu dengan , memerlukan bahasa fungsi di Bab 5 dan induksi di Bab 7.
Peringatan. Kuosien tidak boleh disamakan dengan . Anggota adalah bilangan bulat, yaitu wakil kanonik. Anggota adalah kelas, yaitu himpunan bagian seperti , yang memuat . Hubungan yang benar antara keduanya adalah korespondensi , bukan kesamaan. Perlakukan setiap pernyataan tentang kelas sebagai pernyataan tentang himpunan, bukan tentang satu bilangan.
Contoh 4.3.11 (). Kelima kelasnya adalah
Penulisan dengan elipsis di atas hanya ilustrasi. Definisi resminya adalah . Misalnya . Beberapa perhitungan:
- dengan , sehingga . Pemeriksaan langsung: .
- Persamaan juga benar, tetapi bukan sisa Euclid karena . Persamaan itu tetap menunjukkan . Ini konsisten dengan , sebab .
- , sehingga . Jadi , , dan adalah tiga nama untuk satu kelas.
- , sehingga . Juga , sehingga .
Contoh 4.3.12 (). Untuk setiap berlaku , jadi . Maka untuk setiap , dan
Kuosien ini mempunyai satu anggota, sesuai dengan Teorema 4.3.10 untuk : satu-satunya sisa dengan adalah .
Catatan 4.3.13 (mengapa dikeluarkan, dan negatif tidak diperlukan).
Kasus . Definisi tetap bermakna, dan berarti . Jika rumus Definisi 4.3.5 diterapkan pada , maka jika dan hanya jika , yaitu relasi kesamaan. Bukti Proposisi 4.3.6 tetap berlaku, sehingga relasi ini masih ekuivalensi, dengan kelas . Klaim "tepat kelas" gagal untuk . Pertama, , sehingga kuosiennya memuat paling sedikit satu kelas, yaitu , padahal klaim itu menyatakan tidak ada kelas sama sekali. Alasan ini sudah cukup untuk membantah klaim tersebut. Kedua, kelas-kelas saling berbeda. Secara intuitif, tidak ada daftar berhingga yang dapat menghabiskannya, tetapi perumusan resmi "berhingga" dan "tak hingga" menunggu Bab 7. Pembagian Euclid juga gagal pada , karena syarat mustahil dipenuhi.
Kasus . Karena jika dan hanya jika , berlaku . Jadi modulus dan menghasilkan relasi yang sama. Membuang modulus negatif tidak menghilangkan satu pun relasi kongruensi: setiap relasi modulo sudah muncul sebagai relasi modulo . Yang benar-benar dikeluarkan hanyalah , yaitu relasi kesamaan, dengan alasan di atas. Syarat juga membuat syarat sisa bermakna.
Aturan pada kelas dan syarat well-defined
Kita ingin menjumlahkan kelas dengan aturan . Masalahnya, ruas kanan dihitung dari wakil dan , sedangkan ruas kiri seharusnya hanya bergantung pada kelas. Sebuah kelas mempunyai banyak wakil. Jika wakil yang berbeda menghasilkan kelas hasil yang berbeda, aturan itu tidak menentukan apa pun. Pemeriksaan bahwa hasilnya tidak bergantung pada wakil disebut pemeriksaan well-defined. Pemeriksaan ini wajib dilakukan sebelum aturan dipakai.
Proposisi 4.3.14 (kriteria umum). Misalkan ekuivalensi pada , dan misalkan suatu aturan memberi setiap tepat satu objek di himpunan . Maka dua pernyataan berikut setara:
- untuk setiap ada tepat satu sehingga untuk setiap ;
- untuk setiap : , dengan kesamaan di .
Bukti. (2 ⇒ 1) Ambil . Kelas itu tidak kosong, jadi ambil satu dan tetapkan . Untuk sembarang , Proposisi 4.3.2 memberi , sehingga menurut (2). Nilai tunggal karena setiap yang memenuhi syarat harus sama dengan .
(1 ⇒ 2) Misalkan . Maka . Menurut (1), ada dengan .
Hal terpenting di sini adalah bahwa jenis kesamaan yang diperiksa ditentukan oleh himpunan sasaran . Jika , yang diperiksa adalah kesamaan bilangan. Jika , yang diperiksa adalah kesamaan kelas, yaitu kongruensi wakil-wakilnya. Proposisi ini hanya pratinjau. Bahasa fungsi yang resmi ada di Bab 5.
Lemma 4.3.15 (kompatibilitas). Misalkan dan memenuhi dan . Maka
Bukti. Tulis dan dengan .
Penjumlahan:
Perkalian: dengan menambah dan mengurangkan ,
Karena dan bilangan bulat, kedua selisih habis dibagi .
Definisi 4.3.16 (penjumlahan dan perkalian kelas). Untuk , definisikan sebagai satu-satunya sehingga untuk suatu dan . Definisikan dengan cara yang sama memakai .
Definisi ini sah karena dua alasan.
Keberadaan. dan tidak kosong. Ambil satu dan satu ; ini dua pengambilan dari dua himpunan tertentu, bukan pemilihan serentak. Maka memenuhi syarat.
Ketunggalan. Misalkan dan dengan dan . Menurut Proposisi 4.3.2, dan . Menurut Lemma 4.3.15, , sehingga menurut 4.2. Argumen yang sama, dengan bagian perkalian Lemma 4.3.15, berlaku untuk .
Akibatnya aturan dan berlaku untuk setiap pilihan wakil. Kita tidak akan mengembangkan sifat-sifat aljabar operasi ini (asosiatif, distributif, dan seterusnya) di bab ini.
Contoh 4.3.17 (modulo 5). . Karena dan , wakil kanonik kedua kelas adalah dan . Dengan wakil itu, , dan , sehingga . Hasilnya sama.
, dan , sehingga hasilnya . Dengan wakil diperoleh , dan , sehingga . Hasilnya sama.
Contoh 4.3.18 (aturan yang gagal: "ambil wakilnya"). Misalkan kita mencoba mendefinisikan aturan dari ke dengan . Sasarannya , jadi yang harus diperiksa adalah kesamaan bilangan. Untuk berlaku , sehingga . Aturan itu memberi dan untuk kelas yang sama, padahal . Syarat (2) Proposisi 4.3.14 gagal, sehingga "" tidak menetapkan nilai. Kegagalan ini tidak bertentangan dengan adanya wakil kanonik. Aturan "kirim ke satu-satunya dengan " sah, karena aturan itu tidak bergantung pada nama yang dipakai.
Contoh 4.3.19 (relasi yang gagal: urutan pada kelas modulo 2). Misalkan kita mencoba mendefinisikan " jika " pada . Dengan wakil dan berlaku , jadi . Tetapi , karena , dan dengan wakil dan berlaku . Jadi kebenaran "" bergantung pada wakil yang dipilih. Aturan ini tidak mendefinisikan relasi pada kelas.
Ada dua cara yang tampak wajar untuk memperbaiki aturan itu, tetapi keduanya tidak memuaskan.
- Versi "untuk suatu wakil", yaitu jika ada dan dengan , memang mendefinisikan suatu himpunan, tetapi hasilnya trivial. Untuk dan , bilangan anggota , karena , dan memenuhi . Jadi untuk semua , termasuk .
- Versi "untuk semua wakil", yaitu jika untuk setiap dan , tidak pernah berlaku. Untuk sembarang dan , wakil memenuhi , sehingga syarat "" gagal.
Urutan pada tidak dapat diturunkan ke kuosien begitu saja.
Latihan
Latihan 4.3.20. Tentukan untuk dan seperti di Contoh 4.3.3. Tentukan juga kuosien relasi kosong pada . Untuk masing-masing, bandingkan banyaknya nama wakil dengan banyaknya kelas, dan jelaskan kapan keduanya berbeda.
Latihan 4.3.21. Buktikan tanpa memakai Teorema 4.3.10.
Latihan 4.3.22. Modulo 5, tentukan dan sisa Euclid untuk . Tuliskan kelas masing-masing sebagai salah satu dari , dan periksa jawabanmu dengan definisi .
Latihan 4.3.23. Buktikan secara langsung bahwa dan bahwa keempat kelas itu saling berbeda. Apakah ?
Latihan 4.3.24. Modulo 3, buktikan dengan dua inklusi bahwa .
Latihan 4.3.25. Buktikan bahwa aturan well-defined pada . Simpulkan bahwa juga well-defined.
Latihan 4.3.26. (a) Tunjukkan bahwa aturan dari ke tidak well-defined. (b) Tunjukkan bahwa dari ke well-defined.
Latihan 4.3.27. Untuk wakil dan wakil eksponen dengan , usulkan aturan "" modulo 5. Tunjukkan dengan contoh terhitung bahwa aturan ini tidak well-defined terhadap wakil eksponen.
Latihan 4.3.28. Tentukan kelas-kelas relasi yang diperoleh dengan menerapkan rumus Definisi 4.3.5 pada . Jelaskan mengapa Teorema 4.3.10 tidak dapat diperluas ke . Tunjukkan juga bahwa rumus yang sama untuk menghasilkan relasi yang sama dengan modulo .
Latihan 4.3.29. Misalkan seseorang menyatakan: " mempunyai lebih dari lima anggota, sebab semuanya anggotanya." Temukan kesalahannya, dan hitung banyaknya kelas yang sebenarnya muncul dalam daftar itu.
Pembahasan
4.3.20. Pada berlaku , sehingga . Unsur hanya berelasi dengan dirinya sendiri, sehingga . Jadi . Ada tiga nama , tetapi hanya dua objek, karena dan menamai himpunan yang sama.
Pada , anggota kuosien adalah himpunan yang memenuhi "". Syarat ini salah untuk setiap , sehingga kuosiennya . Khususnya, sendiri bukan anggota kuosien: setiap kelas memuat wakilnya, sehingga tidak ada kelas yang kosong. Pada kasus ini banyaknya nama dan banyaknya kelas sama-sama nol. Perbedaan baru muncul jika ada dua wakil berbeda yang setara, seperti dan di atas.
4.3.21. Untuk sembarang , kita tunjukkan . Inklusi berlaku menurut definisi. Untuk inklusi sebaliknya, ambil . Maka , sehingga dan .
Sekarang buktikan dengan dua inklusi. () Setiap anggota kuosien berbentuk , dan . () adalah anggota kuosien.
4.3.22.
- , jadi , , dan . Pemeriksaan: .
- , jadi , , dan . Pemeriksaan: .
- , jadi , , dan . Pemeriksaan: .
- , jadi , , dan . Pemeriksaan: .
Pada setiap kasus, . Persamaan seperti juga benar, tetapi tidak memberi sisa Euclid karena .
4.3.23. Untuk inklusi : , jadi keempat kelas itu anggota kuosien. Untuk inklusi : setiap anggota kuosien berbentuk . Teorema 4.3.9 dengan memberi dengan , sehingga dan dengan .
Untuk keberbedaan: jika dengan , maka dan . Lemma 4.3.8 memberi . Jadi keenam pasangan unsur berbeda dari menghasilkan kelas yang berbeda.
Selanjutnya, , sehingga . Karena dan keduanya sisa yang sah, . Jadi . Ini juga dapat diperiksa langsung: , dan akan memberi menurut Lemma 4.3.8, yang mustahil.
4.3.24. () Jika , ada dengan . Maka dan , sehingga .
() Jika untuk suatu , maka , sehingga .
Ini sesuai dengan dan Proposisi 4.3.7: .
4.3.25. Sasaran aturan adalah , jadi yang perlu diperiksa adalah kesamaan kelas. Misalkan , yaitu . Maka , sehingga . Menurut Proposisi 4.3.14, aturan ini menetapkan tepat satu kelas untuk setiap kelas.
Untuk pengurangan, tulis . Jika dan , maka menurut bagian sebelumnya. Lemma 4.3.15 (penjumlahan) kemudian memberi . Jadi . Aturan ini melibatkan dua kelas, sehingga Proposisi 4.3.14 tidak langsung berlaku. Keberadaan dan ketunggalan hasil terbukti dengan argumen yang sama seperti pada Definisi 4.3.16, memakai kongruensi yang baru diperoleh sebagai pengganti Lemma 4.3.15.
4.3.26. (a) Sasarannya . Kita mempunyai , karena . Aturan memberi dan untuk kelas yang sama. Sekarang , sehingga . Selain itu : jika , Lemma 4.3.8 memberi karena , yang mustahil. Jadi satu kelas modulo 5 diberi dua nilai berbeda, dan tidak well-defined.
(b) Misalkan , yaitu . Maka dan , sehingga . Menurut Proposisi 4.3.14, well-defined. Inti perbedaannya dengan (a) adalah bahwa , sedangkan .
4.3.27. Modulo 5, karena . Dengan wakil eksponen : . Dengan wakil eksponen : , dan , sehingga hasilnya . Karena dan , Teorema 4.3.10(b) memberi . Jadi nilai aturan ini bergantung pada wakil eksponen, dan aturan ini tidak well-defined.
Untuk eksponen tertentu yang ditulis eksplisit, misalnya atau , penggantian wakil basis tidak menimbulkan masalah. Lemma 4.3.15 tinggal dipakai berulang sebanyak yang tertulis, misalnya . Pernyataan untuk semua dengan sekaligus memerlukan induksi (Bab 7). Yang gagal di soal ini adalah penggantian wakil eksponen.
4.3.28. berarti , yaitu . Jadi , dan kuosiennya . Teorema 4.3.10 tidak dapat diperluas ke kasus ini karena dua alasan.
- Teorema itu akan menyatakan adanya tepat kelas, padahal adalah kelas. Bahkan menurut ekstensionalitas, karena tetapi . Jadi ada paling sedikit dua kelas.
- Buktinya bergantung pada Teorema 4.3.9, yang menuntut . Untuk , syarat itu tidak dapat dipenuhi oleh bilangan apa pun.
Untuk : jika , maka ; sebaliknya, jika , maka . Jadi kedua relasi sama sebagai himpunan pasangan.
4.3.29. Kesalahannya adalah menghitung nama sebagai objek. Dengan sisa Euclid:
- , karena dan ;
- , karena .
Jadi daftar itu hanya memuat kelas , yaitu lima kelas, yang menurut Teorema 4.3.10(b) saling berbeda. Delapan nama dalam daftar menamai lima objek, sesuai dengan Teorema 4.3.10.
Menuju 4.4
Relasi ekuivalensi bersifat simetris. Ketiga sifat ekuivalensi menjamin bahwa kelas-kelasnya membentuk partisi. Himpunan kuosien memakai kelas-kelas tersebut sebagai anggotanya. Contoh 4.3.19 memperlihatkan sisi lain: urutan tidak dapat diturunkan ke kuosien, karena urutan memisahkan unsur-unsur yang oleh kongruensi dianggap setara. Jadi urutan memerlukan sifat lain, yaitu antisimetri: jika dan , maka . Antisimetri bukan negasi simetri (4.1). Kesamaan bersifat simetris sekaligus antisimetri. Namun pada relasi yang antisimetri, dua unsur berbeda tidak pernah saling berelasi dua arah, sehingga tidak ada yang dapat "dilebur". Relasi keterbagian yang dipakai di unit ini akan muncul lagi di 4.4 sebagai urutan pada bilangan bulat positif. Di sana akan diperiksa mengapa positivitas diperlukan untuk antisimetrinya, dan bagaimana strukturnya digambarkan dengan diagram Hasse.
4.4 Relasi Urutan Parsial dan Diagram Hasse
Unit 4.2 dan 4.3 membahas relasi yang menyamakan. Relasi ekuivalensi mengumpulkan objek ke dalam kelas. Simetri menjamin bahwa jika setara dengan , maka setara dengan . Unit ini membahas relasi yang mengurutkan: dua unsur berbeda tidak boleh saling berelasi dua arah. Jika berada "di bawah" dan berada "di bawah" , kita ingin menyimpulkan bahwa keduanya objek yang sama. Itulah peran antisimetri.
Banyak urutan yang wajar tidak membandingkan setiap pasangan objek. Bilangan dan tidak saling membagi. Himpunan dan tidak saling memuat. Dua tugas dalam suatu proyek bisa saja tidak saling bergantung. Karena itu kita mulai dari urutan parsial, dan urutan total diperlakukan sebagai kasus khusus.
Sepanjang unit ini, adalah himpunan. Sesuai Unit 4.1, relasi pada berarti himpunan bagian dari . Untuk relasi yang dilambangkan , kita menulis untuk . Bilangan bulat dan aritmetika elementernya dipinjam sebagai contoh, seperti pada unit-unit sebelumnya.
Urutan parsial
Definisi 4.4.1 (urutan parsial, poset). Relasi pada disebut urutan parsial jika ia memenuhi tiga sifat berikut.
Pasangan disebut himpunan terurut parsial atau poset.
Definisi ini tidak mensyaratkan . Untuk , satu-satunya relasi pada adalah , karena . Menurut Unit 4.1, ketiga sifat di atas berlaku secara vakum. Jadi adalah poset, dan kita menyebutnya poset kosong.
Contoh 4.4.2.
(a) adalah poset. Dari aritmetika yang dipinjam, berlaku . Jika dan , maka . Jika dan , maka .
(b) Untuk himpunan , adalah poset. Setiap memenuhi . Jika dan , setiap anggota adalah anggota , sehingga juga anggota . Antisimetri tidak lain adalah prinsip dua inklusi dari Bab 3: dan memberi melalui ekstensionalitas.
(c) Keterbagian pada bilangan bulat positif adalah poset. Hal ini dibuktikan di bawah.
Untuk , tulis jika ada dengan . Ini perluasan rumusan Unit 4.3 ke pembagi sembarang.
Proposisi 4.4.3. Misalkan . Definisikan relasi pada dengan jika dan hanya jika . Maka adalah poset. Selain itu, untuk , mengakibatkan .
Bukti.
Refleksif. Untuk , berlaku . Jadi .
Transitif. Misalkan dan dengan . Maka , dan . Jadi .
Sebuah lema kecil. Misalkan dan . Maka . Seandainya , maka karena . Ini bertentangan dengan . Akibatnya , sehingga . Ini membuktikan klaim terakhir proposisi.
Antisimetri. Misalkan dan . Menurut lema, dan . Dari kedua persamaan diperoleh , sehingga . Karena , berlaku , sehingga . Seandainya , maka , suatu kontradiksi. Jadi dan .
Positivitas dipakai pada dua tempat. Pertama, pada lema, untuk menyimpulkan . Kedua, untuk menjamin pada langkah antisimetri. Positivitas tidak dapat dibuang. Pada seluruh , keterbagian tetap refleksif dan transitif, karena bukti kedua sifat itu tidak memakai tanda. Namun antisimetri gagal. Dari dan diperoleh dan , padahal . Jadi keterbagian pada bukan urutan parsial.
Urutan ketat yang bersesuaian
Dalam percakapan sehari-hari, "lebih kecil" sering berarti "lebih kecil dan tidak sama". Kita memformalkan pengertian ini.
Definisi 4.4.4 (bagian ketat, diagonal). Misalkan poset. Diagonal adalah
Bagian ketat dari adalah
Jadi berarti dan .
Kedua himpunan ini diperoleh dengan separasi pada , sehingga keberadaannya terjamin. Menurut sifat pasangan berurutan dari Unit 4.1, jika dan hanya jika dan . Akibatnya, untuk , berlaku jika dan hanya jika . Fakta ini akan dipakai berulang kali.
Proposisi 4.4.5. Bagian ketat dari suatu urutan parsial memiliki tiga sifat berikut.
- Irrefleksif: tidak ada dengan .
- Transitif: jika dan , maka .
- Asimetris: tidak ada dengan dan .
Bukti.
Irrefleksif. Pernyataan mensyaratkan , dan itu mustahil.
Transitif. Misalkan dan . Dari dan , transitivitas memberi . Tinggal ditunjukkan . Seandainya , maka berarti . Bersama , antisimetri memberi . Ini bertentangan dengan .
Asimetris. Jika dan , transitivitas memberi , bertentangan dengan irrefleksivitas.
Transitivitas bagian ketat bukan sekadar warisan dari transitivitas . Untuk menjamin kesimpulannya tetap ketat, antisimetri ikut diperlukan.
Definisi 4.4.6 (urutan ketat). Relasi pada disebut urutan ketat jika ia irrefleksif dan transitif.
Lambang dipakai untuk urutan ketat sembarang, agar tidak tertukar dengan pada bilangan. Proposisi berikut menunjukkan bahwa urutan parsial dan urutan ketat adalah dua cara menyimpan informasi yang sama. Untuk berpindah dari yang ketat ke yang parsial, kita cukup menambahkan diagonal.
Proposisi 4.4.7.
(a) Jika urutan parsial pada dengan bagian ketat , maka adalah urutan ketat dan .
(b) Jika urutan ketat pada , maka adalah urutan parsial pada , dan bagian ketatnya tepat .
Bukti.
(a) Proposisi 4.4.5 menunjukkan bahwa urutan ketat. Kesamaan himpunan dibuktikan dengan dua inklusi.
- Misalkan . Jika , maka . Jika , maka .
- Sebaliknya, menurut definisi, dan karena refleksif.
(b) Kita periksa tiga sifat, lalu bagian ketatnya.
Refleksif. Untuk setiap , berlaku .
Antisimetri. Misalkan dan , dan andaikan . Maka dan . Akibatnya dan . Transitivitas memberi , bertentangan dengan irrefleksivitas. Jadi .
Transitif. Misalkan dan .
- Jika , maka tidak lain adalah .
- Jika , maka tidak lain adalah .
- Jika dan , maka dan . Akibatnya , sehingga .
Bagian ketat. Misalkan dan . Maka , sehingga . Sebaliknya, misalkan . Maka . Selain itu , sebab mustahil.
Komparabilitas dan urutan total
Definisi 4.4.8. Misalkan poset. Dua unsur sebanding jika atau . Jika tidak, keduanya tak sebanding, ditulis . Poset disebut terurut total (atau linear) jika setiap dua unsurnya sebanding.
Beberapa contoh:
- terurut total.
- Pada keterbagian bilangan positif, . Seandainya , Proposisi 4.4.3 memaksa bulat positif. Namun memberi , sedangkan memberi paling sedikit . Jadi . Selain itu , karena dan Proposisi 4.4.3.
- Pada , berlaku .
Kata "parsial" berarti "tidak harus total", bukan "pasti tidak total". Setiap urutan total adalah urutan parsial.
Minimal dan maksimal; terkecil dan terbesar
Definisi 4.4.9. Misalkan poset dan bagian ketatnya.
- minimal jika tidak ada dengan .
- maksimal jika tidak ada dengan .
- terkecil jika untuk setiap .
- terbesar jika untuk setiap .
Kedua pasang pengertian ini berbeda secara mendasar. Unsur minimal hanya menjamin bahwa tidak ada unsur yang secara ketat berada di bawahnya. Ia tidak mengatakan apa pun tentang unsur yang tak sebanding dengannya. Unsur terkecil menuntut lebih banyak, yaitu ia berada di bawah semua unsur. Perbedaannya juga tampak pada kuantifikator. Minimalitas adalah pernyataan negatif "tidak ada ", sedangkan keterkecilan adalah pernyataan universal "untuk setiap ".
Proposisi 4.4.10 (keunikan). Suatu poset memiliki paling banyak satu unsur terkecil dan paling banyak satu unsur terbesar.
Bukti. Misalkan dan keduanya terkecil. Karena terkecil dan , berlaku . Karena terkecil, berlaku . Antisimetri memberi . Argumen untuk terbesar sama, dengan arah dibalik.
Karena keunikan ini, bila unsur terkecil ada, kita boleh menyebutnya unsur terkecil dengan kata sandang tentu. Untuk unsur minimal, keunikan semacam itu tidak berlaku, seperti diperlihatkan Contoh 4.4.13.
Proposisi 4.4.11. Jika unsur terkecil, maka minimal, dan adalah satu-satunya unsur minimal. Pernyataan serupa berlaku untuk unsur terbesar dan unsur maksimal.
Bukti.
minimal. Misalkan ada dengan . Maka . Karena terkecil, juga . Antisimetri memberi , bertentangan dengan .
Satu-satunya. Misalkan minimal. Karena terkecil, . Seandainya , maka , bertentangan dengan minimalitas . Jadi .
Kasus terbesar diperoleh dengan membalik arah.
Akibat 4.4.12. Jika suatu poset memiliki dua unsur minimal yang berbeda, maka ia tidak memiliki unsur terkecil. Hal yang sama berlaku untuk dua unsur maksimal yang berbeda dan unsur terbesar.
Unsur minimal juga tidak selalu ada. tidak memiliki unsur minimal, sebab untuk setiap berlaku .
Pada poset kosong, keadaannya lebih ekstrem. Keempat definisi di atas menuntut adanya unsur , sehingga tidak ada unsur minimal, maksimal, terkecil, maupun terbesar. Hal ini tetap benar meskipun aksioma urutan parsial berlaku secara vakum. Wajar untuk bertanya apakah setiap poset berhingga tak kosong memiliki unsur minimal. Namun buktinya memerlukan induksi, sehingga klaim tersebut tidak dipakai pada unit ini.
Unit ini juga tidak membahas batas atas terkecil (supremum) suatu himpunan bagian. Supremum tidak selalu ada, dan bila ada belum tentu menjadi anggota himpunan bagian tersebut. Teori kelengkapan bukan materi bab ini.
Contoh utama: keterbagian pada
Contoh 4.4.13. Misalkan dengan jika dan hanya jika . Menurut Proposisi 4.4.3, adalah poset.
Kita menghitung seluruh relasinya. Tabel berikut memuat tanda ✓ pada baris dan kolom tepat ketika .
| 2 | 3 | 6 | 12 | 18 | |
|---|---|---|---|---|---|
| 2 | ✓ | – | ✓ | ✓ | ✓ |
| 3 | – | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| 6 | – | – | ✓ | ✓ | ✓ |
| 12 | – | – | – | ✓ | – |
| 18 | – | – | – | – | ✓ |
Setiap isi tabel dapat diperiksa sebagai berikut.
Tanda ✓. Setiap tanda ✓ disertai saksi eksplisit:
- , , ;
- , , ;
- , ;
- diagonal: .
Tanda – di bawah diagonal. Pada posisi ini . Menurut Proposisi 4.4.3, dengan memaksa . Jadi tidak mungkin terjadi.
Tanda – di atas diagonal. Hanya ada dua posisi seperti ini. Pada keduanya, faktor harus bulat positif menurut Proposisi 4.4.3.
- : faktor memberi , sedangkan memberi paling sedikit .
- : faktor memberi , sedangkan memberi paling sedikit .
Dari tabel diperoleh hal-hal berikut.
- Relasi penuh memuat pasangan. Lima di antaranya adalah pasangan diagonal .
- Bagian ketat memuat delapan pasangan:
- Pasangan tak sebanding. Dari pasangan unsur berbeda, delapan sebanding. Dua sisanya tak sebanding, yaitu dan .
- Minimal. Unsur minimal tepat ketika kolom hanya memuat ✓ pada diagonal. Hal ini terjadi untuk kolom dan . Jadi unsur minimalnya adalah dan . Unsur , , dan tidak minimal karena , , dan .
- Maksimal. Dengan cara yang sama, unsur maksimal tepat ketika baris hanya memuat ✓ pada diagonal. Jadi unsur maksimalnya adalah dan . Unsur , , dan tidak maksimal karena , , dan .
- Tidak ada unsur terkecil maupun terbesar. Ada dua unsur minimal yang berbeda dan dua unsur maksimal yang berbeda, sehingga Akibat 4.4.12 berlaku. Hal ini juga terlihat langsung. Unsur terkecil harus membagi dan , padahal kolom dan kolom tidak memiliki tanda ✓ pada baris yang sama. Unsur terbesar harus habis dibagi dan , padahal baris dan baris tidak memiliki tanda ✓ pada kolom yang sama.
Relasi penutup
Tabel lengkap memuat banyak informasi yang berulang. Misalnya, sudah dapat disimpulkan dari dan . Kita mencari pasangan "langkah terpendek" yang cukup untuk memulihkan seluruh relasi.
Definisi 4.4.14 (penutup). Misalkan poset. Unsur menutupi , ditulis , jika dan tidak ada dengan dan .
Kedua ketaksamaan dalam syarat "tidak ada " harus ketat. Andaikan syarat itu ditulis "tidak ada dengan ". Untuk setiap , pilihan sudah memenuhi . Akibatnya tidak ada pasangan dengan menutupi , dan relasi penutup yang dihasilkan selalu kosong.
Perhatikan pula bahwa berkisar pada , sehingga relasi penutup bergantung pada himpunan yang dipakai. Dalam poset dengan keterbagian, berlaku , karena tidak ada unsur lain yang dapat menyela. Dalam di atas, karena menyela.
Contoh 4.4.15 (penutup pada ). Kita memeriksa kedelapan pasangan ketat dari Contoh 4.4.13. Untuk setiap pasangan , kita mencari dengan . Calon harus berada pada baris (di luar diagonal) sekaligus pada kolom (di luar diagonal).
| pasangan | penyela | penutup? |
|---|---|---|
| baris 2 di luar diagonal: ; yang membagi dan : tidak ada | ya | |
| baris 3 di luar diagonal: ; yang membagi dan : tidak ada | ya | |
| baris 6 di luar diagonal: ; yang membagi dan : tidak ada | ya | |
| baris 6 di luar diagonal: ; yang membagi dan : tidak ada | ya | |
| tidak | ||
| tidak | ||
| tidak | ||
| tidak |
Jadi relasi penutup pada terdiri tepat dari empat pasangan:
Diagram Hasse untuk poset berhingga
Definisi 4.4.16 (konvensi diagram Hasse). Misalkan poset berhingga, artinya unsur-unsurnya dapat didaftar habis. Definisi formal keberhinggaan menyusul pada bab-bab berikutnya. Diagram Hasse untuk dibuat sebagai berikut.
- Setiap unsur digambar sebagai satu titik.
- Untuk setiap , titik diletakkan lebih tinggi daripada titik , lalu keduanya dihubungkan dengan satu ruas garis.
- Tidak ada ruas garis lain.
Karena arah selalu dibaca ke atas, ruas garis tidak perlu diberi panah. Ada dua jenis informasi yang sengaja dihilangkan.
- Gelung dihilangkan, karena refleksivitas sudah diketahui.
- Ruas yang dapat ditempuh lewat jalur naik, seperti ke , juga dihilangkan, karena ia dipulihkan oleh transitivitas.
Pembatasan pada poset berhingga bukan sekadar soal kepraktisan menggambar. Pada , tidak ada unsur yang menutupi unsur lain (Latihan 4.4.30). "Diagram" yang dibuat dengan aturan yang sama hanya berupa titik-titik tanpa ruas, sehingga tidak menyimpan informasi apa pun tentang urutan.
Proposisi 4.4.17 (rekonstruksi untuk poset berhingga; dengan prasyarat pinjaman). Misalkan poset berhingga dan . Maka jika dan hanya jika salah satu dari dua hal berikut berlaku.
- (bagian diagonal); atau
- ada dan unsur dengan , , dan untuk setiap . Dengan kata lain, ada jalur naik dari ke dalam diagram.
Prasyarat yang dipinjam. Bukti ini memakai induksi pada bilangan asli, termasuk bentuk induksi kuat, dan fakta dasar ukuran himpunan berhingga: jika himpunan bagian sejati dari himpunan berhingga , maka . Keduanya diterima di sini sebagai prasyarat; fondasi umumnya belum dibangun dalam bab ini. Daftar berhingga dan penyambungannya juga dipakai dengan pengertian yang sama seperti pada uraian diagram.
Bukti. Jika , refleksivitas memberi . Jika terdapat jalur penutup dari ke dengan panjang , kita buktikan dengan induksi pada . Untuk , langsung memberi . Untuk langkah induksi, misalkan . Hipotesis induksi pada ruas pertama memberi , sedangkan ruas terakhir memberi . Transitivitas bagian ketat (Proposisi 4.4.5) memberi . Jadi setiap jalur penutup berpanjang positif memberikan , dan karena itu .
Sebaliknya, misalkan . Kasus sudah memenuhi alternatif pertama, jadi cukup menangani . Bentuk interval urutan dengan separasi pada :
Interval ini berhingga karena merupakan himpunan bagian dari , dan memuat dua unsur berbeda . Kita memakai induksi kuat pada untuk membuktikan bahwa setiap pasangan ketat dengan interval berukuran dapat dihubungkan oleh jalur penutup dalam poset .
Dasar . Karena dan keduanya berbeda, . Tidak ada dengan : unsur semacam itu akan menjadi anggota ketiga interval. Jadi , dan satu ruas sudah menjadi jalur yang diminta.
Langkah induksi. Misalkan , dan hasil berlaku untuk setiap pasangan ketat yang intervalnya berukuran kurang dari . Ambil dengan . Jika , selesai. Jika bukan, definisi penutup memberikan dengan .
Kita periksa ukuran kedua interval yang lebih pendek. Jika , maka ; transitivitas memberi . Jadi . Akan tetapi, : jika , bersama antisimetri memberi , bertentangan dengan . Karena , inklusi tersebut sejati. Demikian pula, jika , maka , sehingga . Unsur tidak berada dalam , sebab bersama akan memberi , bertentangan dengan . Maka juga.
Fakta ukuran berhingga yang dipinjam memberi
Hipotesis induksi menghasilkan jalur penutup dalam poset yang sama, dari ke dan dari ke . Sambungkan kedua daftar pada , dengan menuliskan sekali. Setiap ruas tetap merupakan pasangan penutup dalam , sehingga diperoleh jalur penutup dari ke . Induksi selesai, dan kedua arah terbukti.
Contoh menunjukkan bahwa hipotesis keberhinggaan tidak dapat dibuang. Pada contoh-contoh di unit ini, kedua arah kami periksa langsung dengan daftar lengkap, tanpa memakai Proposisi 4.4.17.
Contoh 4.4.18 (diagram Hasse untuk ).
Uraian lengkap diagram berikut tidak bergantung pada gambar.
- Titik. Ada lima titik dalam tiga tingkat. Tingkat bawah memuat dan . Tingkat tengah memuat . Tingkat atas memuat dan .
- Ruas. Ada tepat empat ruas: –, –, –, dan –. Pada setiap ruas, ujung yang lebih tinggi adalah unsur yang menutupi.
- Tidak ada ruas lain. Khususnya, tidak ada ruas langsung –, –, –, atau –.
Rekonstruksi. Jalur naik dalam diagram dapat didaftar habis menurut titik awalnya:
- dari : –; ––; ––;
- dari : –; ––; ––;
- dari : –; –;
- dari dan : tidak ada ruas naik.
Pasangan (awal, akhir) dari delapan jalur ini tepat sama dengan delapan pasangan ketat dalam Contoh 4.4.13. Setiap jalur dengan dua ruas ditangani oleh satu kali transitivitas, misalnya dan memberi . Menambahkan lima pasangan diagonal mengembalikan ketiga belas pasangan relasi penuh. Jadi diagram, bersama konvensi "diagonal ditambahkan", menyimpan relasi secara utuh.
Tinggi saja tidak menentukan perbandingan. Titik dan sama tinggi, tetapi itu tidak berarti keduanya "setara": keduanya tak sebanding. Sebaliknya, "lebih tinggi" juga tidak berarti "lebih besar". Yang menentukan perbandingan hanyalah jalur naik. Latihan 4.4.25 memuat titik yang digambar lebih tinggi daripada , padahal .
Membaca sifat khusus dari diagram. Pada contoh ini, unsur minimal tepat titik-titik yang tidak memiliki ruas ke bawah, yaitu dan . Unsur maksimal tepat titik-titik yang tidak memiliki ruas ke atas, yaitu dan . Kedua hasil ini kita cocokkan langsung dengan tabel pada Contoh 4.4.13. Untuk poset berhingga umum, kriteria tersebut bergantung pada Proposisi 4.4.17.
Penerapan: dependensi tugas dan graf berarah asiklik
Bagian ini menyajikan model matematis, bukan laporan tentang proyek atau perangkat lunak tertentu.
Misalkan sejumlah tugas harus dikerjakan, dan beberapa tugas mensyaratkan tugas lain selesai lebih dahulu. Data yang biasanya tersedia hanyalah prasyarat langsung, dan relasi prasyarat langsung umumnya tidak transitif. Akan kita lihat bahwa urutan parsial muncul dari keterjangkauan, bukan dari sisi langsung.
Definisi 4.4.19 (graf berarah, lintasan, siklus, DAG).
- Graf berarah adalah pasangan dengan himpunan dan . Jadi adalah relasi pada , dan anggotanya disebut sisi. Kita menulis untuk . Dalam model dependensi, berarti prasyarat langsung bagi .
- Lintasan berarah dengan panjang dari ke adalah daftar berhingga unsur dengan , , dan untuk setiap .
- Siklus berarah adalah lintasan berarah dengan panjang yang memenuhi . Gelung tunggal adalah siklus dengan panjang .
- DAG (graf berarah asiklik) adalah graf berarah yang tidak memuat siklus berarah apa pun.
Kami memakai "daftar berhingga" secara informal, sebagai urutan objek yang ditulis berjajar. Perlakuan formalnya sebagai fungsi pada himpunan indeks menunggu Bab 5. Satu-satunya operasi yang dipakai di bawah ini adalah penyambungan. Jika dan adalah lintasan dengan , maka
adalah lintasan dengan panjang . Setiap dua suku berurutan di dalamnya membentuk sisi, karena masing-masing berasal dari salah satu lintasan asal atau berupa sambungan .
Tanpa gelung tidak sama dengan asiklik. Pada dengan sisi , , dan , tidak ada gelung tunggal. Namun adalah siklus dengan panjang tiga, sehingga graf ini bukan DAG.
Sisi langsung umumnya tidak transitif. Dalam Contoh 4.4.22 di bawah, dan , tetapi bukan sisi.
Definisi 4.4.20 (keterjangkauan). Untuk graf berarah , tulis jika ada lintasan berarah dengan panjang positif dari ke .
Relasi adalah himpunan bagian dari yang dipilih dengan separasi. Rumus pemilihnya berbicara tentang lintasan, yaitu daftar berhingga, yang dalam unit ini masih diperlakukan secara informal. Rumusan formalnya, sebagai fungsi pada himpunan indeks, menunggu Bab 5. Pada contoh utama DAG, pasangan keterjangkauan dan lintasan saksinya diperiksa secara eksplisit.
Proposisi 4.4.21. Misalkan graf berarah.
(a) transitif.
(b) irrefleksif jika dan hanya jika adalah DAG.
(c) Jika DAG, maka adalah urutan parsial pada , dan bagian ketatnya tepat .
(d) Jika memuat siklus yang melewati dua simpul berbeda, maka tidak antisimetri.
Bukti.
(a) Jika ada lintasan dari ke dan lintasan dari ke , penyambungan keduanya adalah lintasan berpanjang positif dari ke .
(b) Pernyataan berarti ada lintasan berpanjang positif dari ke . Lintasan seperti itu tepat merupakan siklus yang dimulai di .
- Jika graf tidak memuat siklus, maka tidak ada dengan .
- Sebaliknya, jika adalah siklus, maka .
(c) Menurut (a) dan (b), adalah urutan ketat. Kesimpulan mengikuti dari Proposisi 4.4.7(b).
Antisimetri juga dapat dilihat langsung. Misalkan dengan dan . Menyambung kedua lintasan menghasilkan siklus dari kembali ke , padahal graf adalah DAG.
(d) Misalkan siklus dengan , dan ada indeks dengan . Maka dan , sehingga . Kedua penggalan berikut adalah lintasan berpanjang positif:
- dengan panjang , dari ke ;
- dengan panjang , dari ke .
Jadi dan , padahal . Ini melanggar antisimetri.
Ringkasnya, keterjangkauan pada DAG adalah urutan ketat, dan dengan menambahkan diagonal kita memperoleh poset. Siklus merusak struktur ini. Siklus apa pun merusak irrefleksivitas, dan siklus yang melewati simpul berbeda merusak antisimetri.
Contoh 4.4.22 (lima tugas). Misalkan , dengan himpunan sisi yang memuat tepat
Uraian lengkap gambar: adalah prasyarat langsung bagi dan . Keduanya, dan , adalah prasyarat langsung bagi . Lalu adalah prasyarat langsung bagi . Tidak ada sisi lain.
Seluruh lintasan. Simpul tidak memiliki sisi keluar, dan setiap simpul lain hanya memiliki sisi keluar yang tercantum di atas. Karena itu semua lintasan dapat didaftar habis dengan memperpanjang setiap lintasan sejauh sisi keluar memungkinkan:
- dari : tidak ada;
- dari : ;
- dari : , ;
- dari : , ;
- dari : , , , , , .
Tidak satu pun lintasan berakhir di simpul awalnya, jadi graf ini DAG.
Keterjangkauan. Dengan mengambil pasangan (awal, akhir) dari setiap lintasan, diperoleh tepat sembilan pasangan ketat:
Lima pasangan adalah sisi asli. Empat pasangan lainnya, yaitu , , , dan , muncul dari transitivitas. Dengan menambahkan lima pasangan diagonal, Proposisi 4.4.21(c) memberi poset dengan pasangan.
Penutup. Kita memeriksa setiap pasangan ketat.
- disela . Pasangan , , dan masing-masing disela . Jadi keempatnya bukan penutup.
- adalah penutup. Penyela harus memenuhi , padahal satu-satunya simpul yang menjangkau adalah , dan mustahil. Hal yang sama berlaku untuk .
- adalah penutup. Penyela harus memenuhi , sehingga , dan juga . Namun mustahil dan tidak menjangkau . Hal yang sama berlaku untuk .
- adalah penutup. Satu-satunya simpul yang dijangkau adalah sendiri, dan mustahil.
Jadi penutupnya tepat kelima sisi asli. Diagram Hasse-nya menempatkan di bawah, dan sejajar di atasnya, lalu , dan paling atas. Ruasnya adalah –, –, –, –, dan –.
Unsur khusus.
- adalah unsur terkecil, karena untuk setiap . Menurut Proposisi 4.4.11, juga satu-satunya unsur minimal.
- adalah unsur terbesar dan satu-satunya unsur maksimal.
- Satu-satunya pasangan tak sebanding adalah .
Bandingkan dengan Contoh 4.4.13, yang tidak memiliki unsur terkecil maupun terbesar. Keberadaan unsur terkecil adalah sifat poset tertentu, bukan sifat semua poset.
Contoh 4.4.23 (jadwal linear dan tingkat). Urutan pengerjaan linear adalah daftar semua tugas di , masing-masing tepat sekali, sedemikian sehingga selalu mengakibatkan muncul sebelum .
Dua kandidat. Daftar memenuhi syarat. Dengan posisi sampai , setiap pasangan dari sembilan pasangan ketat memenuhi "posisi < posisi ":
- (posisi 1) mendahului semuanya;
- (posisi 2) dan (posisi 3) mendahului (posisi 4) dan (posisi 5);
- mendahului .
Daftar juga memenuhi syarat dengan pemeriksaan yang sama. Pertukaran dan tidak melanggar apa pun karena .
Tidak ada urutan lain. Kedua daftar ini adalah satu-satunya urutan yang memenuhi syarat.
- harus mendahului keempat tugas lain, jadi berada di posisi .
- harus didahului keempat tugas lain, jadi berada di posisi .
- Posisi sampai diisi , , dan . Karena dan , tugas harus berada di posisi .
- dan mengisi posisi dan dalam salah satu dari dua urutan.
Tingkat. Kelompokkan tugas menjadi , , , . Dalam setiap kelompok, tidak ada tugas yang menjangkau tugas lain dalam kelompok yang sama. Karena itu dan boleh dikerjakan sejajar, bila sumber daya memungkinkan. Relasi urutan hanya memberi izin kesejajaran. Relasi itu tidak menjamin bahwa sumber daya tersedia.
Perhitungan dengan hipotesis tambahan. Misalkan berlaku anggapan model berikut, yang bukan bagian dari relasi:
- setiap tugas memerlukan tepat satu satuan waktu;
- sebuah tugas baru boleh dimulai setelah semua prasyaratnya selesai;
- setiap pelaksana mengerjakan paling banyak satu tugas pada satu waktu, dan tugas tidak dipecah.
Di bawah anggapan ini, kita peroleh tiga hasil berikut.
- Jadwal per tingkat dengan dua pelaksana. dikerjakan pada satuan waktu ke-1, dan bersamaan pada ke-2, pada ke-3, dan pada ke-4. Semua tugas selesai pada akhir satuan ke-4.
- Batas bawah. Rantai memaksa empat tugas dikerjakan berurutan. selesai paling cepat di akhir satuan ke-1, di akhir ke-2, di akhir ke-3, dan di akhir ke-4. Jadi tidak ada jadwal yang selesai sebelum akhir satuan ke-4, berapa pun banyak pelaksananya. Jadwal per tingkat mencapai batas tersebut.
- Dengan satu pelaksana. Pelaksana itu mengerjakan paling banyak satu tugas per satuan waktu, sehingga lima tugas tidak dapat selesai sebelum akhir satuan ke-5. Kedua urutan linear di atas mencapai angka itu.
Kesimpulan ini sepenuhnya bergantung pada anggapan durasi dan pelaksana di atas. Dengan durasi berbeda, biaya, atau batasan sumber daya lain, relasi saja tidak menentukan jadwal terbaik. Unit ini tidak membuat klaim apa pun tentang optimisasi umum.
Contoh 4.4.24 (mengubah sisi). Tetap gunakan dan dari Contoh 4.4.22.
(a) Menambah sisi berlebih. Misalkan . Tidak ada sisi di yang masuk ke . Akibatnya, setiap lintasan yang memakai sisi harus dimulai di , sehingga lintasan baru hanyalah dan . Keduanya hanya menghasilkan pasangan dan , yang sudah ada. Siklus juga tidak mungkin melewati , karena siklus yang melewati harus kembali ke , padahal tidak ada sisi masuk ke . Jadi setiap siklus di tidak memakai sisi dan merupakan siklus di , padahal tidak memuat siklus. Akibatnya tetap DAG dan . Poset keterjangkauannya sama persis. Sisi bukan sisi Hasse, karena tetap menyela . Diagram Hasse, sebagai gambar relasi penutup, tidak menyimpan sisi berlebih semacam ini.
(b) Menambah sisi balik. Misalkan . Maka adalah siklus. Menurut Proposisi 4.4.21(b), keterjangkauan tidak lagi irrefleksif, misalnya . Lintasan dan memberi dan dengan , sehingga antisimetri gagal, sesuai Proposisi 4.4.21(d). Graf bukan DAG, dan bukan urutan parsial pada himpunan simpul .
Batas klaim. Kami tidak menyatakan bahwa setiap DAG memiliki simpul tanpa sisi masuk (sumber) atau tanpa sisi keluar (sink). Pada DAG kosong, misalnya, tidak ada simpul sama sekali. Untuk DAG berhingga dan tak kosong, pernyataan itu benar, tetapi buktinya memerlukan argumen keberhinggaan yang baru tersedia setelah induksi pada Bab 7. Hal yang sama berlaku untuk teorema umum bahwa setiap DAG berhingga memiliki urutan pengerjaan linear. Dalam contoh di atas, urutan seperti itu kami temukan dan periksa secara langsung.
Latihan dan pembahasan
Latihan 4.4.25. Misalkan dengan keterbagian. (a) Hitung banyak pasangan ketat. (b) Daftarkan semua pasangan penutup. (c) Tentukan unsur minimal, maksimal, terkecil, dan terbesar. (d) Daftarkan semua pasangan tak sebanding.
Pembahasan.
(a) Proposisi 4.4.3 berlaku karena semua unsur positif. Pasangan ketat dihitung menurut unsur bawahnya:
- membagi kelima unsur lain;
- ;
- ;
- ;
- .
Jadi ada pasangan ketat. Pasangan berurutan lainnya dengan tidak termasuk relasi, karena alasan berikut:
- jika , maka mustahil menurut Proposisi 4.4.3;
- , karena faktor bulat positif memberi dan faktor memberi paling sedikit ;
- , karena ;
- , karena .
(b) Pasangan penutupnya adalah
Sebagai contoh pemeriksaan, untuk calon penyelanya adalah unsur yang habis dibagi dan membagi , selain dan . Pembagi lainnya di hanyalah dan , dan keduanya tidak habis dibagi . Lima pasangan ketat sisanya bukan penutup:
- disela ;
- disela ;
- disela ;
- disela ;
- disela .
Jadi ada tujuh penutup dari dua belas pasangan ketat.
(c) adalah unsur terkecil karena untuk setiap . Menurut Proposisi 4.4.11, juga satu-satunya unsur minimal. Dengan cara yang sama, adalah unsur terbesar dan satu-satunya unsur maksimal.
(d) Ada pasangan tak sebanding, yaitu , , dan . Dalam diagram Hasse yang wajar, berada di tingkat kedua dan di tingkat ketiga. Titik lebih tinggi daripada , tetapi tidak ada jalur naik dari ke . Inilah contoh bahwa tinggi saja tidak menentukan perbandingan.
Latihan 4.4.26. Misalkan dengan keterbagian. Bandingkan dengan Contoh 4.4.13: apa yang berubah pada penutup, unsur minimal, dan unsur terkecil?
Pembahasan. Penutup bertambah dua, yaitu dan . Pasangan , , dan bukan penutup karena masing-masing disela . Penutup lama , , , dan tetap penutup. Penyela harus berada secara ketat di atas unsur bawah pasangan, sedangkan tidak berada di atas , , atau . Jadi kini ada enam penutup.
Unsur dan tidak lagi minimal karena dan . Unsur adalah unsur terkecil, sekaligus satu-satunya unsur minimal. Di bagian atas tidak ada perubahan: dan tetap dua unsur maksimal yang berbeda, sehingga menurut Akibat 4.4.12 tidak ada unsur terbesar. Latihan ini menunjukkan bahwa menambah satu unsur dapat menciptakan unsur terkecil tanpa memengaruhi keberadaan unsur terbesar.
Latihan 4.4.27. Seorang penulis mendefinisikan " menutupi " sebagai: dan tidak ada dengan . Tunjukkan bahwa menurut definisi ini, dalam poset apa pun, tidak ada pasangan dengan menutupi .
Pembahasan. Misalkan . Ambil . Refleksivitas memberi , dan hipotesis memberi . Jadi ada dengan , sehingga syarat "tidak ada " gagal. Jika , syarat pertama sudah gagal. Dalam kedua kasus, tidak menutupi , sehingga relasi penutup menurut definisi ini selalu kosong. Definisi yang benar (Definisi 4.4.14) memakai , sehingga kedua ujung dikecualikan.
Latihan 4.4.28. Misalkan dan perhatikan poset . Daftarkan unsur-unsurnya, pasangan penutupnya, pasangan tak sebanding, serta unsur minimal, maksimal, terkecil, dan terbesar. Uraikan diagram Hasse-nya dengan kata-kata.
Pembahasan. Unsurnya ada empat: , , , dan .
Tulis untuk bagian ketat dari , yaitu dan . Pasangan ketat ada lima:
- , , ;
- , .
Pasangan disela , sehingga bukan penutup. Empat pasangan lainnya adalah penutup. Sebagai contoh, penyela untuk harus berupa himpunan bagian sejati tak kosong dari , dan tidak ada himpunan seperti itu.
Satu-satunya pasangan tak sebanding adalah , karena tetapi , dan sebaliknya untuk .
adalah unsur terkecil, karena untuk setiap . adalah unsur terbesar. Menurut Proposisi 4.4.11, keduanya juga satu-satunya unsur minimal dan satu-satunya unsur maksimal.
Diagram Hasse-nya berbentuk belah ketupat. berada di bawah, dan sejajar di tengah, dan di atas. Ada empat ruas: –, –, –, dan –.
Latihan 4.4.29. Buktikan bahwa dalam poset terurut total, setiap unsur minimal adalah unsur terkecil. Simpulkan bahwa poset total memiliki paling banyak satu unsur minimal.
Pembahasan. Misalkan minimal dan . Karena urutannya total, atau .
- Jika , selesai.
- Jika dan , maka , bertentangan dengan minimalitas .
- Jika , maka menurut refleksivitas.
Dalam setiap kasus , jadi terkecil. Jika dan keduanya minimal, keduanya terkecil, sehingga menurut Proposisi 4.4.10.
Contoh 4.4.13 menunjukkan bahwa hipotesis "total" diperlukan: dan keduanya minimal, tetapi tak satu pun terkecil.
Latihan 4.4.30. Tunjukkan bahwa dalam , untuk tidak pernah berlaku . Mengapa hal ini menjelaskan pembatasan diagram Hasse pada poset berhingga?
Pembahasan. Misalkan di , dan ambil dengan aritmetika rasional yang dipinjam. Dari diperoleh , sehingga . Jadi menyela, dan tidak menutupi .
Akibatnya relasi penutup pada kosong. "Diagram" yang dibuat dengan aturan Definisi 4.4.16 hanya berupa titik tanpa ruas, sehingga tidak ada jalur naik sama sekali, padahal . Kesimpulan Proposisi 4.4.17 gagal untuk . Jadi hipotesis keberhinggaan dalam fakta tersebut sungguh diperlukan.
Latihan 4.4.31. Misalkan dengan sisi , , , dan . (a) Tunjukkan bahwa graf ini DAG. (b) Hitung keterjangkauan. (c) Tentukan sisi yang bukan sisi Hasse. (d) Daftarkan semua urutan pengerjaan linear.
Pembahasan.
(a) Lintasan didaftar habis menurut simpul awal:
- dari : tidak ada;
- dari : ;
- dari : , ;
- dari : , , , , .
Tidak ada lintasan yang kembali ke simpul awalnya, jadi graf ini DAG.
(b) Pasangan ketatnya ada enam:
Keenam pasangan ini mencakup semua pasangan simpul berbeda. Jadi poset keterjangkauannya terurut total.
(c) Sisi langsung bukan penutup, karena menyela . Sisi Hasse-nya adalah –, –, dan –. Membuang sisi tidak mengubah keterjangkauan, karena pasangan dan tetap diperoleh melalui .
(d) Karena urutannya total, posisi setiap tugas terpaksa:
- mendahului ketiga tugas lain, jadi berada di posisi ;
- mendahului dan , jadi berada di posisi ;
- mendahului .
Satu-satunya urutan adalah , dan tidak ada tugas yang boleh dikerjakan sejajar.
Latihan 4.4.32. Misalkan dengan himpunan sisi yang memuat tepat , , dan . (a) Apakah graf memuat gelung tunggal? (b) Apakah graf ini DAG? (c) Periksa irrefleksivitas dan antisimetri .
Pembahasan.
(a) Tidak ada sisi berbentuk , jadi tidak ada gelung tunggal.
(b) adalah siklus dengan panjang tiga, jadi graf ini bukan DAG.
(c) Siklus tersebut memberi , sehingga tidak irrefleksif. Penggalan dan memberi dan dengan . Jadi tidak antisimetri, sesuai Proposisi 4.4.21(d). Graf tanpa gelung tunggal belum tentu asiklik.
Latihan 4.4.33. Periksa poset kosong . (a) Mengapa ia poset? (b) Apakah ia terurut total? (c) Apakah ia memiliki unsur minimal atau unsur terkecil? (d) Apa diagram Hasse-nya?
Pembahasan.
(a) Ketiga aksioma berbentuk "untuk setiap ", sehingga berlaku secara vakum.
(b) Ya, secara vakum, karena tidak ada pasangan unsur yang perlu dibandingkan.
(c) Tidak. Setiap pengertian dalam Definisi 4.4.9 menuntut adanya unsur , dan tidak ada unsur seperti itu. Kontras ini penting. Pernyataan universal tentang benar secara vakum, sedangkan pernyataan keberadaan tentang salah.
(d) Diagram tanpa titik dan tanpa ruas.
Latihan 4.4.34. Misalkan urutan ketat pada . Buktikan bahwa asimetris. Lalu tunjukkan bahwa relasi pada simetris tetapi bukan urutan ketat.
Pembahasan. Jika dan , transitivitas memberi , bertentangan dengan irrefleksivitas. Jadi asimetris.
Relasi simetris karena memuat beserta kebalikannya . Dari dan , transitivitas akan menuntut , padahal . Jadi tidak transitif, sehingga bukan urutan ketat. Jika kita memaksakan transitivitas dengan menambahkan , irrefleksivitas gagal. Secara umum, relasi simetris yang memuat pasangan dengan tidak pernah menjadi urutan ketat, sebab ia akan melanggar asimetri.
Penutup Bab 4
Bab ini dimulai dari satu konstruksi, yaitu pasangan berurutan . Konstruksi ini membuat hasil kali dan relasi menjadi himpunan yang sah. Dari sana muncul dua keluarga relasi dengan peran berbeda.
- Relasi ekuivalensi (Unit 4.2–4.3) bersifat simetris. Relasi ini memecah himpunan menjadi kelas-kelas yang saling lepas, dan kelas-kelas itu membentuk himpunan kuosien. Aturan yang memakai wakil kelas hanya sah bila hasilnya tidak bergantung pada wakil yang dipilih.
- Urutan parsial (unit ini) bersifat antisimetri. Relasi ini menyusun unsur dalam tingkatan tanpa memaksa setiap pasangan sebanding. Untuk poset berhingga, diagram Hasse menyimpan seluruh relasi melalui penutup. Pada graf dependensi, urutan parsial muncul dari keterjangkauan, asalkan graf tidak memuat siklus.
Dalam bab ini beberapa kali muncul aturan yang dimaksudkan memasangkan setiap objek dengan tepat satu objek:
- proyeksi ke himpunan kuosien, yang memang memasangkan setiap dengan tepat satu kelas;
- aturan pada kelas yang didefinisikan melalui wakil, seperti penjumlahan yang memasangkan setiap pasangan kelas dengan satu kelas hasil, dan sah setelah diperiksa tidak bergantung pada wakil;
- penempatan setiap tugas pada satu posisi dalam urutan pengerjaan linear.
Ketiganya adalah relasi dengan sifat khusus: setiap unsur domain berelasi dengan tepat satu unsur kodomain. Sebaliknya, "aturan" gagal memenuhi sifat ini, sebab untuk modulus , kelas akan berelasi dengan dua bilangan berbeda, dan .
Bab 5 menjadikan sifat tersebut definisi fungsi. Di sana dibahas grafik fungsi sebagai himpunan pasangan, domain dan kodomain, injeksi dan surjeksi, serta peta maju dan peta balik. Dengan bahasa itu, pemeriksaan kesahan aturan pada kuosien dapat dibaca ulang sebagai pemeriksaan apakah suatu relasi memang fungsi. Daftar berhingga, yang dalam unit ini dipakai secara informal untuk lintasan dan urutan pengerjaan, memperoleh rumusan formalnya sebagai fungsi pada himpunan indeks.
Rujukan Bab 4
[R4-1] Richard Hammack. Book of Proof, edisi ketiga. Bagian 11.4 dan awal 11.5, halaman cetak 215–218. https://richardhammack.github.io/BookOfProof/Main.pdf
[R4-2] Alexander Brandt. Discrete Structures for Computing, bagian 2.2, "Relations". https://www.csd.uwo.ca/~abrandt5/teaching/DiscreteStructures/Chapter2/relations.html
[R4-3] Alexander Brandt. Discrete Structures for Computing, bagian 7.2, "Directed Graphs". https://www.csd.uwo.ca/~abrandt5/teaching/DiscreteStructures/Chapter7/directedgraphs.html
Bab terdekat
Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 5.
Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 3.