Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 48Lanjut
Deret Kuasa (Power Series)
Bab 48 dari 50 — Analisis Matematika dan Fondasi Rigor. Naskah draf lengkap dengan validasi terarah; belum telaah matematika independen seluruh buku.
17 menit
Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab
0%
Draf lengkap — Bab 48 dari 50
Validasi terarah dan integritas naskah telah diperiksa. Buku ini belum mendapat telaah matematika independen menyeluruh. Catatan status di dalam naskah merupakan riwayat versi.
48.1 Definisi Formal Deret Kuasa dan Jari-Jari Konvergensi
Penjelasan master untuk Bab 48: deret kuasa merepresentasikan fungsi yang rumit sebagai "polinomial tak hingga" yang mudah dihitung. Rumus master: uji rasio d'Alembert memberi jari-jari konvergensi
R=liman+1an.
Untuk deret ∑n!xn, jari-jari konvergensinya R=∞: deret itu konvergen untuk semua bilangan real x.
Deret kuasa adalah deret fungsi yang sukunya monomial an(x−c)n. Unit ini membuktikan sifat paling khas deret kuasa: himpunan titik konvergensinya selalu berupa interval yang berpusat di c, dan jari-jarinya ditentukan oleh koefisien saja. Rumus rasio master berlaku bila limitnya ada. Rumus Cauchy–Hadamard dengan limsup selalu berlaku. Perilaku di ujung interval tidak ditentukan oleh jari-jari, dan harus diperiksa tersendiri.
Prasyarat: Bab 30 (versi R1 Unit 30.1, dengan Definisi 30.1.1'); Unit 32.3 (uji rasio dan akar); Bab 33 (Leibniz); Unit 47.2 (uji M).
Lambang ∞ pada "R=∞" adalah label: deret konvergen di setiap titik real. ∞ bukan bilangan real (Definisi 26.3.10).
Definisi
Definisi 48.1.1 (Deret Kuasa)
Untuk barisan real (an)n∈N dan c∈R, deret kuasa berpusat di c adalah deret fungsi
n=0∑∞an(x−c)n,
dengan konvensi (x−c)0=1, termasuk di x=c. Bilangan an disebut koefisien.
Di x=c, deretnya selalu konvergen ke a0. Polinomial adalah deret kuasa yang koefisiennya nol sejak suatu indeks.
Definisi 48.1.2 (Jari-Jari Konvergensi)
Misalkan B={r≥0:(∣an∣rn)n≥0 terbatas}. Himpunan ini memuat 0, dan bersifat turun: bila r∈B dan 0≤r′≤r, maka r′∈B. Jari-jari konvergensinya adalah
R=supB,
dengan R=∞ sebagai label bila B tidak terbatas, yaitu B=[0,∞).
Definisi ini memakai aksioma supremum saja, tanpa pilihan, dan tidak memerlukan limit apa pun.
Teorema Utama
Teorema 48.1.3 (Interval Konvergensi)
Misalkan R jari-jari ∑an(x−c)n.
(a) Bila ∣x−c∣<R, deretnya konvergen mutlak. Untuk setiap ρ dengan 0≤ρ<R, deretnya konvergen seragam pada [c−ρ,c+ρ].
(b) Bila ∣x−c∣>R, dengan R real, deretnya divergen.
Bukti. (a) Tetapkan ρ<R. Pilih r secara eksplisit: r=2ρ+R bila R real, dan r=ρ+1 bila R=∞. Maka ρ<r<R, atau r sebarang bila R=∞. Karena r<supB, ada anggota B yang lebih besar dari r, sehingga r∈B karena B bersifat turun. Misalkan ∣an∣rn≤K untuk semua n. Untuk ∣x−c∣≤ρ:
∣an(x−c)n∣≤∣an∣rn(rρ)n≤K(rρ)n.
∑K(ρ/r)n adalah deret geometri dengan rasio <1. Uji M (Teorema 47.2.3) memberi konvergensi mutlak dan seragam pada [c−ρ,c+ρ]. Setiap x dengan ∣x−c∣<R termuat dalam interval seperti itu, dengan ρ=∣x−c∣.
(b) ∣x−c∣∈/B, sehingga (∣an∣∣x−c∣n) tidak terbatas. Suku-suku deret tidak menuju 0, sehingga deretnya divergen (Akibat 31.3.2). □
Jadi himpunan titik konvergensinya adalah salah satu dari (c−R,c+R), [c−R,c+R), (c−R,c+R], atau [c−R,c+R] bila 0<R<∞, {c} bila R=0, dan R bila R=∞. Keseragaman berlaku pada setiap interval tertutup di dalam (c−R,c+R), tetapi umumnya tidak pada seluruh (c−R,c+R) (Contoh 47.2.5(a)).
Teorema 48.1.4 (Cauchy–Hadamard)
Misalkan λ=limsupn→∞∣an∣1/n menurut Definisi 30.1.1', yaitu bilangan real ≥0 atau label +∞. Maka
R=λ1,
dengan konvensi label 01=∞ dan +∞1=0.
Bukti. Barisan ∣an∣1/n taknegatif, sehingga λ≥0 atau λ=+∞.
R≥λ1: misalkan 0<r dan rλ<1, dengan λ real. Ambil q dengan λ<q<r1, misalnya q=21(λ+r1). Menurut Definisi 30.1.1'(ii), dengan uN→λ<q, sejak suatu indeks ∣an∣1/n<q, sehingga ∣an∣rn<(qr)n<1. Jadi r∈B. Untuk λ=0, ini berlaku untuk setiap r>0, sehingga R=∞.
R≤λ1: misalkan r>0 dan rλ>1, termasuk λ=+∞. Ambil q dengan r1<q<λ. Ada tak hingga banyak n dengan ∣an∣1/n>q. Untuk λ real, ini Teorema 30.1.4(ii), yang diterapkan pada barisan yang terbatas di atas; untuk λ=+∞, barisannya tidak terbatas. Untuk n seperti itu, ∣an∣rn>(qr)n, dan qr>1, sehingga (qr)n tidak terbatas (Bernoulli). Jadi r∈/B, dan karena B bersifat turun, R≤r. Karena ini berlaku untuk setiap r>λ1, R≤λ1. Bila λ=+∞, setiap r>0 memenuhi, sehingga R=0. □
Teorema 48.1.5 (Rumus Rasio Master)
Misalkan an=0 untuk n≥n0, dan an+1an→L, dengan L real ≥0 atau L=+∞ sebagai label. Maka R=L.
Bukti. Untuk x=c, rasio dua suku berurutan adalah
∣an(x−c)n∣∣an+1(x−c)n+1∣=∣an/an+1∣∣x−c∣.
Bila ∣x−c∣<L, rasio ini menuju bilangan <1, termasuk 0 bila L=+∞. Teorema 32.3.1(c) memberi kekonvergenan mutlak, sehingga suku-sukunya menuju 0, terbatas, dan ∣x−c∣∈B. Jadi R≥L. Bila ∣x−c∣>L dengan L real, rasionya menuju bilangan >1, atau menuju +∞ bila L=0. Sejak suatu indeks rasionya ≥1, sehingga deretnya divergen (Teorema 32.3.1(b)). Andaikan R>L. Untuk x dengan L<∣x−c∣<R, Teorema 48.1.3(a) memberi kekonvergenan, padahal deretnya divergen. Jadi R≤L. □
Rumus rasio paling mudah dipakai, tetapi memerlukan bahwa limit rasionya ada. Bila limit itu tidak ada, Cauchy–Hadamard tetap berlaku (Contoh 48.1.8).
Contoh
Contoh 48.1.6 (Contoh Master)
Untuk ∑n≥0n!xn: an+1an=n!(n+1)!=n+1→+∞. Teorema 48.1.5 memberi R=∞, sehingga deret konvergen untuk setiap x∈R, ke exp(x) (Definisi 40.2.2). Ini sesuai dengan master.
"Konvergen untuk semua x" tidak berarti cepat untuk semua x. Di x=1, Contoh 27.3.10 memberi ∣e−E9∣<3,1⋅10−7 dengan sepuluh suku. Di x=10, suku-sukunya naik sampai n=9. Suku n=9 dan n=10 sama, yaitu 10!1010=36288001010≈2755,7, lalu suku-sukunya turun (Latihan 48.1-8). Untuk n≥20, rasio dua suku berurutan n+110≤21, sehingga sisanya paling banyak dua kali suku pertama yang dibuang. Jadi jauh lebih banyak suku diperlukan untuk ketelitian yang sama. Unit 49.2 membahas cara mengatasinya.
Contoh 48.1.7 (Ujung Interval Harus Diperiksa)
Untuk keempat deret pertama di bawah, R=1, karena rasio nn+1, n2(n+1)2, dan sejenisnya menuju 1. Perilaku di ujungnya berbeda-beda.
(a) ∑n≥0xn: di x=±1 suku-sukunya tidak menuju 0. Himpunan konvergensinya (−1,1).
(b) ∑n≥1nxn: di x=1, deret harmonik, divergen (Teorema 24.2.9). Di x=−1, deret berganti tanda, konvergen (Unit 33.1). Himpunan konvergensinya [−1,1).
(c) ∑n≥1n2xn: di x=±1, deretnya konvergen mutlak. Himpunan konvergensinya [−1,1].
(d) ∑n≥1n(−1)nxn: dengan substitusi x↦−x pada (b), himpunan konvergensinya (−1,1].
(e) ∑n≥0n!xn: an+1an=n+11→0, sehingga R=0. Deretnya hanya konvergen di x=0.
(f) ∑n≥1n3n(x−2)n: an+1an=n3(n+1)→3, sehingga R=3 dengan pusat 2. Di x=5, deretnya ∑n1, divergen. Di x=−1, deretnya ∑n(−1)n, konvergen. Himpunan konvergensinya [−1,5).
(a) an=2+(−1)n, yaitu 3,1,3,1,…. Rasio an+1an bergantian 3 dan 31, sehingga tidak mempunyai limit. Akan tetapi ∣an∣1/n bernilai 1 untuk n ganjil dan 31/n→1 untuk n genap (Contoh 26.3.8), sehingga λ=1 dan R=1.
(b) ∑m≥04mx2m, yaitu a2m=4−m dan a2m+1=0. Rasio tidak terdefinisi, karena separuh koefisiennya nol. ∣a2m∣1/(2m)=21 dan ∣a2m+1∣1/(2m+1)=0, sehingga λ=21 dan R=2. Pemeriksaan langsung: deret ini adalah deret geometri dengan rasio 4x2, yang konvergen tepat ketika ∣x∣<2.
Latihan
Latihan 48.1-1. Tentukan jari-jari dan himpunan konvergensinya: (a) ∑n≥1nxn; (b) ∑n≥1n2nxn; (c) ∑n≥1nnxn; (d) ∑n≥1nnxn.
Latihan 48.1-2. Tentukan jari-jari ∑n≥0(2n)!(n!)2xn.
Latihan 48.1-3. Misalkan ∑anxn mempunyai jari-jari R, dengan 0<R<∞. Buktikan bahwa ∑anx2n mempunyai jari-jari R.
Latihan 48.1-4. (Lemma Abel) Misalkan ∑anx0n konvergen untuk suatu x0=0. Buktikan, langsung dari Definisi 48.1.2, bahwa ∑anxn konvergen mutlak untuk setiap ∣x∣<∣x0∣.
Latihan 48.1-5. Untuk an=2+(−1)n, hitung ∑n≥0anxn dalam bentuk tertutup untuk ∣x∣<1, dan periksa nilainya di x=21 dengan jumlah parsial sampai n=5.
Latihan 48.1-6. Dengan Teorema 27.3.9, tentukan n terkecil yang menjamin ∣e−En∣<10−6, lalu bandingkan dengan Contoh 27.3.10.
Latihan 48.1-7. Buktikan bahwa ∑anxn, ∑∣an∣xn, dan ∑nanxn mempunyai jari-jari yang sama.
Latihan 48.1-8. Buktikan bahwa suku terbesar deret ∑n!10n adalah suku n=9 dan n=10, yang sama besar, dan bahwa exp(−10)<10−4. Jelaskan mengapa menjumlahkan ∑n!(−10)n langsung dengan aritmetika berpresisi terbatas tidak bijak, dan berikan cara yang lebih baik.
Solusi
Solusi 48.1-1. (a) n+1n→1, sehingga R=1. Di x=±1, ∣nxn∣=n→0. Himpunannya (−1,1).
(b) n2n(n+1)2n+1→2, sehingga R=2. Di x=2, deretnya ∑n1, divergen. Di x=−2, deretnya ∑n(−1)n, konvergen. Himpunannya [−2,2).
(c) ∣an∣1/n=n→+∞, sehingga λ=+∞ dan R=0. Himpunannya {0}.
(d) ∣an∣1/n=n1→0, sehingga R=∞. Himpunannya R. □
Solusi 48.1-2. an+1an=(2n)!((n+1)!)2(n!)2(2n+2)!=(n+1)2(2n+2)(2n+1)=n+12(2n+1)→4. Jadi R=4. Contohnya, n=10 memberi 1142≈3,82. □
Solusi 48.1-3. Koefisien bk dari ∑anx2n adalah b2n=an dan b2n+1=0. Barisan (∣bk∣sk) adalah barisan (∣an∣(s2)n) yang diselingi nol. Jadi barisan itu terbatas jika dan hanya jika s2∈Ba, dengan Ba himpunan Definisi 48.1.2 untuk (an). Jadi Bb={s≥0:s2∈Ba}, dan supBb=supBa=R, karena s↦s2 naik pada [0,∞). □
Solusi 48.1-4. Suku-suku deret yang konvergen menuju 0, sehingga terbatas (Teorema 31.3.1 dan Teorema 25.2.3). Jadi ∣x0∣∈B, dan R≥∣x0∣. Teorema 48.1.3(a) memberi kekonvergenan mutlak untuk ∣x∣<∣x0∣≤R. Bukti langsung: bila ∣anx0n∣≤K, maka ∣anxn∣≤Kx0xn, dan bandingkan dengan deret geometri. □
Solusi 48.1-5. ∑(2+(−1)n)xn=2∑xn+∑(−x)n=1−x2+1+x1, karena kedua deret geometri konvergen untuk ∣x∣<1 (Teorema 31.1.4). Di x=21: 4+32=314≈4,667. Jumlah parsial sampai n=5: 3+21+43+81+163+321=3296+16+24+4+6+1=32147≈4,594. Sisanya ≤∑n≥63⋅2−n=323≈0,094, konsisten dengan selisih ≈0,073. □
Solusi 48.1-6. Teorema 27.3.9 memberi e−En<n!n1. Untuk n=8: 40320⋅81≈3,1⋅10−6, belum cukup. Untuk n=9: 362880⋅91≈3,06⋅10−7<10−6. Jadi n=9 cukup, yaitu sepuluh suku k=0,…,9, sesuai Contoh 27.3.10. Taksiran ini hanya menjamin n=9 cukup. Untuk memastikan n=8 benar-benar tidak cukup, diperlukan batas bawah: e−E8≥9!1≈2,76⋅10−6>10−6. Jadi n=9 memang terkecil. □
Solusi 48.1-7. B untuk (∣an∣) sama dengan B untuk (an), karena definisinya hanya memakai ∣an∣. Untuk ∑nanxn: bila r∈Bna, maka ∣an∣rn≤n∣an∣rn untuk n≥1, sehingga r∈Ba. Jadi Rna≤Ra. Sebaliknya, untuk 0<ρ<r<Ra dengan r∈Ba, n∣an∣ρn≤Kn(rρ)n, dan nqn→0 untuk 0≤q<1 (Contoh 47.1.5, dengan n menggantikan n2), sehingga barisannya terbatas. Jadi ρ∈Bna untuk setiap ρ<Ra, dan Rna≥Ra. □
Solusi 48.1-8. Rasio suku 10n/n!10n+1/(n+1)!=n+110 bernilai >1 untuk n<9, =1 untuk n=9, dan <1 untuk n>9. Jadi suku naik sampai n=9, suku n=9 dan n=10 sama, yaitu 9!109≈2755,7, lalu suku turun. exp(10)=e10 (Teorema 40.2.8(a)), dan e>2,7 (Contoh 27.3.10). Jadi exp(10)>2,710. Perhitungannya: 2,72=7,29, 2,74=53,1441, 2,78>2824, sehingga 2,710>2824⋅7,29>20000>104. Akibatnya exp(−10)=exp(10)1<10−4 (Teorema 40.2.3). Penjumlahan langsung ∑n!(−10)n menjumlahkan suku berganti tanda berukuran sampai ≈2755 untuk memperoleh hasil <10−4. Dalam aritmetika dengan d angka signifikan, galat pembulatan setiap suku besar berorde 2755⋅10−d, dan galat itu tidak saling menghapus. Jadi hampir semua angka hasil dapat hilang. Cara yang lebih baik: hitung exp(10), dengan semua suku positif dan tanpa pembatalan, lalu ambil kebalikannya. Ini didasarkan pada identitas exp(−x)exp(x)=1 yang terbukti. Uraian ini adalah analisis galat sederhana, bukan klaim tentang perangkat tertentu. □
Ringkasan
Deret kuasa ∑an(x−c)n mempunyai jari-jari R=sup{r:(∣an∣rn) terbatas}. Deretnya konvergen mutlak, dan seragam pada interval tertutup, untuk ∣x−c∣<R, dan divergen untuk ∣x−c∣>R. Jari-jari itu sama dengan limsup∣an∣1/n1 (Cauchy–Hadamard) dan, bila limitnya ada, sama dengan lim∣an/an+1∣, yaitu rumus master. Untuk ∑n!xn, R=∞, sebagai label "konvergen di semua titik real". Perilaku di ujung interval harus diperiksa sendiri: keempat kemungkinan terjadi. Bila rasio tidak mempunyai limit, rumus limsup tetap berlaku. Untuk ketelitian numerik, "konvergen" berbeda dengan "cepat": ∑n!(−10)n mengalami pembatalan besar.
48.2 Diferensiasi dan Integrasi Suku demi Suku
Sebuah polinomial diturunkan dan diintegralkan suku demi suku. Unit ini membuktikan bahwa deret kuasa memperoleh hak yang sama di dalam interval konvergensinya. Deret turunan dan deret integral mempunyai jari-jari yang sama, dan konvergensinya seragam pada setiap interval tertutup di dalamnya. Teorema-teorema Bab 47 kemudian memberi kedua hasil itu. Akibatnya cukup jauh: fungsi yang dinyatakan oleh deret kuasa terdiferensialkan tak hingga kali, koefisiennya ditentukan oleh turunan-turunannya di pusat, dan representasinya tunggal. Unit ini juga memberi deret untuk ln(1+x) dan untuk fungsi A(x), yang di Bab 49 menjadi kunci perhitungan π.
Prasyarat: Unit 48.1; Unit 47.1–47.2; Bab 45.
Dalam unit ini, R>0 adalah jari-jari ∑an(x−c)n, dan I=(c−R,c+R), dengan I=R bila R=∞.
Jari-Jari Tidak Berubah
Lemma 48.2.1
Deret ∑n≥1nan(x−c)n−1 (deret turunan) dan ∑n≥0n+1an(x−c)n+1 (deret integral) mempunyai jari-jari R yang sama dengan ∑an(x−c)n.
Bukti. Tulis y=x−c. Untuk y=0, deret turunan konvergen di y jika dan hanya jika ∑nanyn konvergen di y, karena keduanya berselisih faktor tetap y. Jadi jari-jarinya sama dengan jari-jari ∑nanyn, yang dihitung dengan himpunan B pada Definisi 48.1.2.
Bila r∈Bna, maka ∣an∣rn≤n∣an∣rn untuk n≥1, sehingga r∈Ba. Jadi Rna≤R.
Sebaliknya, misalkan 0<ρ<R. Ambil r=2ρ+R, atau r=ρ+1 bila R=∞. Seperti pada bukti Teorema 48.1.3, r∈Ba, misalnya ∣an∣rn≤K. Maka n∣an∣ρn≤Kn(rρ)n. Barisan nqn, dengan 0≤q<1, menuju 0 menurut argumen rasio pada Contoh 47.1.5, sehingga terbatas. Jadi ρ∈Bna, dan Rna≥R.
Untuk deret integral, koefisiennya bn+1=n+1an dan b0=0. Deret turunannya adalah ∑(n+1)bn+1yn=∑anyn. Bagian pertama, yang diterapkan pada (bm), memberi bahwa jari-jari deret integral sama dengan R. □
Turunan dan Integral
Teorema 48.2.2 (Diferensiasi Suku demi Suku)
Fungsi f(x)=∑n≥0an(x−c)n terdiferensialkan di setiap x∈I, dan
f′(x)=n≥1∑nan(x−c)n−1.
Bukti. Tetapkan x∈I, dan pilih ρ dengan ∣x−c∣<ρ<R, misalnya ρ=2∣x−c∣+R, atau ρ=∣x−c∣+1 bila R=∞. Menurut Lemma 48.2.1 dan bukti Teorema 48.1.3(a), deret turunan memenuhi uji M pada J=[c−ρ,c+ρ]. Deret f konvergen di x0=c. Akibat 47.2.4(c) memberi bahwa f terdiferensialkan pada J, dengan turunan deret turunan. Karena x titik dalam J, turunan relatif terhadap J sama dengan turunan relatif terhadap I. □
Akibat 48.2.3 (Terdiferensialkan Tak Hingga Kali)
f mempunyai turunan semua orde pada I. Untuk k∈N,
f(k)(x)=n≥k∑n(n−1)⋯(n−k+1)an(x−c)n−k,
dan khususnya
ak=k!f(k)(c).
Bukti. Induksi pada k dengan Teorema 48.2.2. Setiap deret turunan berikutnya mempunyai jari-jari R (Lemma 48.2.1). Di x=c, semua suku dengan n>k bernilai nol, sehingga f(k)(c)=k!ak. □
Akibat 48.2.4 (Ketunggalan)
Bila ∑an(x−c)n=∑bn(x−c)n untuk semua x dalam suatu interval (c−δ,c+δ), δ>0, maka an=bn untuk semua n.
Bukti. Kedua deret konvergen pada interval itu, sehingga jari-jarinya ≥δ (Teorema 48.1.3(b)). Selisihnya adalah deret kuasa dengan jumlah nol pada (c−δ,c+δ), sehingga semua turunannya nol di c. Akibat 48.2.3 memberi an−bn=0. □
Teorema 48.2.5 (Integrasi Suku demi Suku)
Untuk x∈I:
∫cxf(t)dt=n≥0∑n+1an(x−c)n+1.
Bukti. Untuk x=c, deret f memenuhi uji M pada interval tertutup di antara c dan x (Teorema 48.1.3(a), dengan ρ=∣x−c∣). Akibat 47.2.4(b), dengan orientasi bila x<c, memberi integral suku demi suku. Juga ∫cx(t−c)ndt=n+1(x−c)n+1 (Teorema 45.2.1). Untuk x=c, kedua ruas 0. □
Contoh
Contoh 48.2.6 (Dari Deret Geometri)
Mulai dari 1−x1=∑n≥0xn pada (−1,1).
(a) Turunan: (1−x)21=∑n≥1nxn−1, sehingga ∑n≥1nxn=(1−x)2x. Di x=21: ∑2nn=1/41/2=2. Turunkan sekali lagi dan kalikan dengan x: ∑n2xn=(1−x)3x(1+x), sehingga ∑2nn2=1/8(1/2)(3/2)=6. Pemeriksaan jumlah parsial: 21+1+89+1+3225=32141≈4,41 untuk n≤5, dan sisanya positif.
(b) Integral, dengan x diganti −t: 1+t1=∑(−1)ntn pada (−1,1). Teorema 48.2.5 memberi, untuk ∣x∣<1:
ln(1+x)=∫0x1+tdt=n≥1∑n(−1)n+1xn,
dengan langkah pertama menurut Teorema 45.2.1 dan aturan rantai.
Di ujung x=1: deret di ruas kanan konvergen seragam pada [0,1] (Contoh 47.2.5(c)), sehingga jumlahnya S kontinu pada [0,1] (Akibat 47.2.4(a)). S(x)=ln(1+x) untuk 0≤x<1, dan kedua fungsi kontinu di 1. Jadi
S(1)=x→1−limS(x)=x→1−limln(1+x)=ln2.
Ini bukti ketiga bahwa 1−21+31−⋯=ln2, setelah Contoh 45.2.5 dan Latihan 47.2-5.
(c) Fungsi A. Dengan x diganti −t2: 1+t21=∑n≥0(−1)nt2n untuk ∣t∣<1. Tetapkan
A(x)=n≥0∑2n+1(−1)nx2n+1.
Jari-jarinya 1, menurut Lemma 48.2.1 atau Latihan 48.1-3. Teorema 48.2.2 memberi A′(x)=1+x21 untuk ∣x∣<1, dan A(0)=0. Pada [0,1], suku-suku 2n+1x2n+1 turun dalam n menuju 0, sehingga taksiran Leibniz memberi konvergensi seragam pada [0,1], dengan galat ≤2n+31. Jadi A kontinu pada [0,1], dan
A(1)=1−31+51−71+⋯.
Bab 49 membuktikan bahwa A(1)=4π, setelah π didefinisikan. Di sini A(1) hanyalah bilangan real, dengan 32≤A(1)≤1 menurut taksiran Leibniz.
Contoh 48.2.7 (Ujung Dapat Hilang atau Muncul)
(a) ∑n≥1n2xn konvergen di x=1, tetapi deret turunannya, ∑n≥1nxn−1, divergen di x=1. Diferensiasi dapat menghilangkan titik ujung.
(b) ∑n≥0xn divergen di x=−1, tetapi deret integralnya, ∑n+1xn+1, konvergen di x=−1, karena berganti tanda. Integrasi dapat menambah titik ujung.
Lemma 48.2.1 hanya menjamin bahwa jari-jarinya sama, tidak bahwa himpunan konvergensinya sama.
Contoh 48.2.8 (Persamaan Diferensial)
Cari deret kuasa f(x)=∑anxn dengan R>0, f′=f, dan f(0)=1. Teorema 48.2.2 memberi ∑(n+1)an+1xn=∑anxn. Akibat 48.2.4 memberi (n+1)an+1=an, dan a0=f(0)=1. Induksi memberi an=n!1. Jadi deret kuasa satu-satunya adalah exp. Bahkan di antara semua fungsi terdiferensialkan, exp adalah satu-satunya solusi: bila g′=g dan g(0)=1, maka gexp(−x) mempunyai turunan 0 dan bernilai 1 di 0 (Akibat 41.2.3). Dengan cara yang sama, f′′=−f, f(0)=0, dan f′(0)=1 memberi rekursi (n+2)(n+1)an+2=−an, dengan a0=0 dan a1=1. Hasilnya tepat deret sin (Definisi 40.2.9).
Latihan
Latihan 48.2-1. Buktikan ∑n≥13nn=43 dan ∑n≥13nn2=23.
Latihan 48.2-2. Tentukan deret kuasa (1−x)31 di sekitar 0 dan jari-jarinya.
Latihan 48.2-3. Buktikan bahwa ln1−x1+x=2∑k≥02k+1x2k+1 untuk ∣x∣<1. Dengan x=31, hitung ln2 dari lima suku pertama, dengan taksiran sisa yang eksplisit.
Latihan 48.2-4. Misalkan L(x)=∑n≥1n2xn. Buktikan bahwa L kontinu pada [−1,1], terdiferensialkan pada (−1,1), dan xL′(x)=−ln(1−x) untuk ∣x∣<1.
Latihan 48.2-5. Cari deret kuasa y dengan y′′=−y, y(0)=1, dan y′(0)=0. Buktikan bahwa deret itu tepat deret cos pada Definisi 40.2.9.
Latihan 48.2-6. Misalkan f(x)=∑anxn dengan R>0, dan f genap, yaitu f(−x)=f(x) pada (−R,R). Buktikan bahwa an=0 untuk setiap n ganjil.
Latihan 48.2-7. Dengan Contoh 48.2.6(c), hitung ∫01/21+x2dx sampai empat desimal, dengan galat yang dijamin.
Latihan 48.2-8. Untuk ∑n≥1nxn, tentukan himpunan konvergensi deret itu sendiri, deret turunannya, dan deret integralnya. Bandingkan dengan Contoh 48.2.7.
Solusi
Solusi 48.2-1. Contoh 48.2.6(a) dengan x=31: ∑3nn=(2/3)21/3=4/91/3=43, dan ∑3nn2=(2/3)3(1/3)(4/3)=8/274/9=23. Pemeriksaan: 31+92+91=32≈0,667<0,75, dengan sisa positif. □
Solusi 48.2-2. Turunkan ∑n≥0xn=1−x1 dua kali: (1−x)32=∑n≥2n(n−1)xn−2=∑m≥0(m+2)(m+1)xm. Jadi (1−x)31=∑m≥02(m+1)(m+2)xm, dengan jari-jari 1 (Lemma 48.2.1). Koefisiennya 1,3,6,10,…, yaitu bilangan segitiga. □
Solusi 48.2-3. Contoh 48.2.6(b) memberi ln(1+x)=∑n(−1)n+1xn dan ln(1−x)=−∑nxn untuk ∣x∣<1. Kurangkan, menurut Teorema 31.1.4: suku genap saling menghapus, dan suku ganjil menjadi dua kali, sehingga ln(1+x)−ln(1−x)=2∑k2k+1x2k+1. Teorema 40.2.6(b) memberi ln1−x1+x. Dengan x=31, 1−x1+x=2. Lima suku pertama:
31+811+12151+153091+1771471≈0,346573023,
dikalikan 2 memberi ≈0,693146046. Rasio dua suku berurutan <x2=91, sehingga sisanya ≤2⋅11(1/3)11⋅1−1/91=11⋅8⋅1771472⋅9≈1,155⋅10−6. Jadi 0,6931460<ln2<0,6931473. Lima suku memberi enam desimal, jauh lebih cepat daripada Latihan 47.2-5. □
Solusi 48.2-4. n2xn≤n21 pada [−1,1], sehingga uji M memberi kontinuitas pada [−1,1]. Jari-jarinya 1, sehingga Teorema 48.2.2 memberi L′(x)=∑n≥1nxn−1 untuk ∣x∣<1. Jadi xL′(x)=∑n≥1nxn=−ln(1−x), menurut Solusi 48.2-3. Di x=1, L′ tidak dijamin ada, karena deret turunannya divergen di sana. □
Solusi 48.2-5. y=∑anxn. Syarat y′′=−y dan Akibat 48.2.4 memberi (n+2)(n+1)an+2=−an, dengan a0=1 dan a1=0. Induksi memberi a2k=(2k)!(−1)k dan a2k+1=0. Ini tepat koefisien cos. Deretnya mempunyai R=∞, sehingga semua langkah sah di seluruh R. Sebaliknya, cos memenuhi syarat-syarat itu menurut Teorema 40.2.13: cos′′=−cos, cos0=1, dan cos′(0)=−sin0=0. □
Solusi 48.2-6. g(x)=f(−x)=∑(−1)nanxn juga deret kuasa dengan jari-jari R. g=f pada (−R,R), sehingga Akibat 48.2.4 memberi (−1)nan=an. Untuk n ganjil, −an=an, sehingga an=0. □
Solusi 48.2-7. Teorema 45.2.1 dan Contoh 48.2.6(c) memberi ∫01/21+x2dx=A(21)−A(0)=∑n≥0(2n+1)22n+1(−1)n. Suku-sukunya: 0,5; −0,0416667; 0,00625; −0,0011161; 0,0002170; −0,0000444; 0,0000094. Suku-suku ini turun, sehingga taksiran Leibniz berlaku. Jumlah sampai n=5 adalah ≈0,4636399, dengan galat ≤0,0000094. Jadi nilainya terletak di [0,4636399;0,4636494], dan ≈0,4636 sampai empat desimal. □
Solusi 48.2-8. Deret ∑nxn: [−1,1) (Contoh 48.1.7(b)). Deret turunannya, ∑xn−1: (−1,1), karena di x=−1 suku-sukunya tidak menuju 0. Deret integralnya, ∑n(n+1)xn+1: [−1,1], karena n(n+1)1 dapat dijumlahkan dan uji M berlaku pada [−1,1]. Ketiga deret mempunyai jari-jari 1, sesuai Lemma 48.2.1. Diferensiasi menghilangkan titik −1, dan integrasi menambah titik 1. □
Ringkasan
Deret turunan dan deret integral suatu deret kuasa mempunyai jari-jari yang sama dengan deret aslinya. Dengan uji M pada interval tertutup di dalam interval konvergensi, deret kuasa dapat diturunkan dan diintegralkan suku demi suku. Fungsi yang dinyatakannya terdiferensialkan tak hingga kali, dengan ak=k!f(k)(c), dan representasinya tunggal. Dari deret geometri diperoleh: ∑2nn=2, ∑2nn2=6, ln(1+x)=∑n(−1)n+1xn, bukti ketiga bahwa harmonik berganti tanda berjumlah ln2, rumus cepat ln2=2∑2k+13−(2k+1), dan fungsi A dengan A′=1+x21, yang dipakai untuk π di Bab 49. Titik ujung dapat hilang karena diferensiasi dan muncul karena integrasi. Persamaan f′=f dan f′′=−f menghasilkan kembali deret exp dan sin.