Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 46Lanjut
Integral Tak Wajar (Improper Integrals)
Bab 46 dari 50 — Analisis Matematika dan Fondasi Rigor. Naskah draf lengkap dengan validasi terarah; belum telaah matematika independen seluruh buku.
19 menit
Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab
0%
Draf lengkap — Bab 46 dari 50
Validasi terarah dan integritas naskah telah diperiksa. Buku ini belum mendapat telaah matematika independen menyeluruh. Catatan status di dalam naskah merupakan riwayat versi.
Penjelasan master untuk Bab 46: perluasan konsep integral ke domain tak berhingga atau ke fungsi yang tidak terbatas. Rumus master:
∫1∞x21dx=t→∞lim[−x1]1t=t→∞lim(−t1−(−1))=1.
Integral Riemann (Bab 43) hanya didefinisikan untuk fungsi terbatas pada interval tertutup dan terbatas. Lambang ∫1∞ karena itu memerlukan definisi baru. Lambang ∞ bukan bilangan real, sehingga tidak ada partisi [1,∞] dan tidak ada "jumlah Darboux sampai ∞". Definisinya adalah limit integral biasa. Rumus master tepat menunjukkan pola ini: hitung ∫1t, lalu ambil limit t→∞ dalam arti Definisi 35.2.5. Unit ini juga menutup pinjaman terakhir P32-INT, yaitu bagian (I3), sehingga uji integral Teorema 32.2.4 menjadi terbukti penuh.
Prasyarat: Bab 43–45; Definisi 35.2.5 dan 35.2.6; Teorema 29.2.1 (kriteria Cauchy); Unit 32.2.
Definisi
Definisi 46.1.1 (Integral Tak Wajar Jenis Pertama)
Misalkan a∈R, dan f:[a,∞)→R terintegralkan lokal, yaitu terintegralkan pada [a,t] untuk setiap t>a. Tulis F(t)=∫atf.
(a) ∫a∞f konvergen bila limt→+∞F(t)=L ada sebagai bilangan real. Dalam hal itu, ∫a∞f=L. Bila limit itu tidak ada, integralnya divergen.
(b) Bila F(t)→+∞ (Definisi 35.2.6), kita menulis ∫a∞f=+∞. Seperti pada Definisi 26.3.10, ini adalah label untuk perilaku divergen, bukan nilai real.
(c) ∫−∞bf didefinisikan serupa, dengan lims→−∞∫sbf.
(d) Untuk f terintegralkan lokal pada R, ∫−∞∞f konvergen bila ada c sehingga ∫−∞cf dan ∫c∞f keduanya konvergen. Nilainya adalah jumlah kedua integral itu, dan tidak bergantung pada c (Latihan 46.1-3).
Definisi (d) memerlukan dua limit yang terpisah, bukan satu limit simetris limt→∞∫−tt. Latihan 46.1-2 menunjukkan bahwa perbedaan ini nyata.
Proposisi 46.1.2 (Titik Dasar Tidak Berpengaruh)
Untuk a<a′, ∫a∞f konvergen jika dan hanya jika ∫a′∞f konvergen. Dalam hal itu,
∫a∞f=∫aa′f+∫a′∞f.
Bukti. Untuk t>a′, aditivitas memberi ∫atf=∫aa′f+∫a′tf. Kedua fungsi t berselisih konstanta, sehingga limitnya ada bersama-sama. □
Jadi kekonvergenan hanya ditentukan oleh perilaku f untuk x besar, seperti kekonvergenan deret hanya ditentukan oleh ekornya (Teorema 31.1.5).
Contoh Dasar
Contoh 46.1.3 (Contoh Master)
x21 kontinu pada [1,∞), sehingga terintegralkan lokal. G(x)=−x1 adalah antiturunannya, sehingga Teorema 45.2.1 memberi F(t)=1−t1. Untuk ε>0 dan t>M=ε1: ∣F(t)−1∣=t1<ε. Jadi ∫1∞x2dx=1, sesuai rumus master.
Bandingkan dengan Contoh 32.2.3. Di sana ∑k≥1k21 terletak di antara 1,6406 dan 1,6498. Integralnya, 1, lebih kecil dari deretnya, karena untuk fungsi turun, ∫kk+1f≤f(k).
Teorema 46.1.4 (Integral-p)
Untuk p∈R, ∫1∞x−pdx konvergen jika dan hanya jika p>1. Dalam hal itu, nilainya p−11. Untuk p≤1, ∫1∞x−pdx=+∞.
Bukti. Untuk r>0, x↦xr=exp(rlnx) naik tegas pada (0,∞) dan tak terbatas: untuk K>0 dan t>K1/r, tr>K (Teorema 40.2.8). Jadi tr→+∞ dan t−r=tr1→0 untuk t→+∞.
Untuk p=1, G(x)=1−px1−p memenuhi G′(x)=x−p (Teorema 40.2.8(d)), sehingga
F(t)=∫1tx−pdx=1−pt1−p−1.
Bila p>1, t1−p=t−(p−1)→0, sehingga F(t)→1−p−1=p−11. Bila p<1, t1−p→+∞ dan 1−p>0, sehingga F(t)→+∞. Untuk p=1, F(t)=lnt→+∞ (Teorema 45.2.4 dan Teorema 40.2.6(c)). □
Kasus p=1 adalah rumus master Unit 32.2: ∫1∞xdx=limt→∞lnt=+∞. Kini rumus itu terbukti, dengan +∞ sebagai label divergensi. Hasil ini sejalan dengan deret-p (Teorema 32.1.4 dan 40.2.8): ∑k−p dan ∫1∞x−p konvergen untuk nilai p yang sama. Unit berikut menjelaskan alasannya.
Integran Taknegatif dan Penutupan (I3)
Teorema 46.1.5 (Integran Taknegatif)
Misalkan f≥0 terintegralkan lokal pada [a,∞). Maka F naik, dan pernyataan berikut setara:
(i) ∫a∞f konvergen;
(ii) F terbatas di atas pada [a,∞);
(iii) barisan (F(n))n≥n0 terbatas di atas, untuk suatu bilangan bulat n0≥a.
Dalam hal itu, ∫a∞f=supt≥aF(t). Bila tidak, ∫a∞f=+∞.
Bukti. F naik: untuk s<t, F(t)−F(s)=∫stf≥0 (Teorema 44.2.5(a)).
(i)⇒(iii): limit L ada, sehingga F(t)≤L+1 untuk t besar. Untuk t yang lebih kecil, F(t) dibatasi oleh nilai F di titik yang lebih besar, karena F naik.
(iii)⇒(ii): untuk t≥n0, F(t)≤F(⌈t⌉). Untuk a≤t<n0, F(t)≤F(n0).
(ii)⇒(i): misalkan L=supF (aksioma supremum). Untuk ε>0, ada t0 dengan F(t0)>L−ε. Untuk t>t0, L−ε<F(t0)≤F(t)≤L. Jadi F(t)→L.
Bila F tidak terbatas: untuk setiap K, ada t0 dengan F(t0)>K, dan karena F naik, F(t)>K untuk semua t>t0. □
Teorema 46.1.6 (Penutupan P32-INT (I3) dan Uji Integral)
Misalkan f:[1,∞)→R positif dan turun, dan F(t)=∫1tf. Maka:
(a) (I3) ∫1∞f konvergen jika dan hanya jika (F(n))n≥1 terbatas.
(b) Uji integral, Teorema 32.2.4, berlaku tanpa pinjaman: ∑k≥1f(k) konvergen jika dan hanya jika ∫1∞f konvergen, dan ∫1n+1f≤∑k=1nf(k)≤f(1)+∫1nf.
(c) Bila konvergen, sisa RN+1=∑k=N+1∞f(k) memenuhi
∫N+1∞f≤RN+1≤∫N∞f.
Bukti. f terintegralkan lokal (Teorema 44.1.3). (a) adalah Teorema 46.1.5 dengan n0=1. Untuk (b), Gk=F(k) memenuhi (∗) Teorema 32.2.1 menurut (I2), yang sudah ditutup di Bab 44. Teorema 32.2.1(a),(b) dan bagian (a) di sini menyelesaikan (b). Untuk (c), Teorema 32.2.1(c) memberi limG−GN+1≤RN+1≤limG−GN. Di sini limG=∫1∞f, sehingga limG−GN=∫N∞f menurut Proposisi 46.1.2. □
Dengan teorema ini, seluruh pinjaman P32-INT tertutup: (I1) oleh Teorema 44.1.3, (I2) oleh Teorema 44.2.2 dan 44.2.5(b), dan (I3) di sini. Uji integral di Unit 32.2 kini menjadi teorema lengkap.
Contoh 46.1.7 (Deret di Ambang Batas)
f(x)=xlnx1 pada [2,∞) positif dan turun, karena xlnx naik dan positif. Substitusi φ=ln (Teorema 45.3.4), dengan f(u)=u1 pada [ln2,lnt], memberi
∫2txlnxdx=∫ln2lntudu=ln(lnt)−ln(ln2)→+∞.
Teorema 46.1.6, yang digeser ke [2,∞) dengan fk=f(k+1), memberi bahwa ∑k≥2klnk1 divergen. Pertumbuhannya sangat lambat. Teorema 46.1.6(b), yang digeser dengan cara yang sama, memberi untuk n≥2:
lnln(n+1)−lnln2≤k=2∑nklnk1≤2ln21+lnlnn−lnln2.
Contohnya, untuk n=106, lnlnn≈2,63, sehingga jumlah sejuta suku pertama masih kurang dari 2ln21+2,63+0,37<3,73, karena −lnln2≈0,367. Sebelum logaritma tersedia, Unit 31 memakai pengganti kd(k)1, dengan d(k) banyaknya digit biner. Kini versi aslinya terbukti. Sebaliknya, ∑k≥2k(lnk)21 konvergen (Latihan 46.1-6).
Kriteria Cauchy dan Konvergensi Mutlak
Teorema 46.1.8 (Kriteria Cauchy)
Misalkan f terintegralkan lokal pada [a,∞). ∫a∞f konvergen jika dan hanya jika untuk setiap ε>0 ada M≥a dengan
∫stf<εuntuk semua t>s>M.
Bukti. (⇒) Bila F(t)→L, ambil M dengan ∣F(t)−L∣<2ε untuk t>M. Maka ∣∫stf∣=∣F(t)−F(s)∣<ε.
(⇐) Barisan (F(n))n≥⌈a⌉ adalah barisan Cauchy, karena ∣F(n)−F(m)∣=∣∫mnf∣<ε untuk n>m>M. Teorema 29.2.1 memberi limit L. Misalkan ε>0, dan M dari hipotesis. Untuk t>M, ambil bilangan bulat n>max(t,M) dengan ∣F(n)−L∣<ε. Pilihan ini deterministik: misalnya n terkecil yang memenuhi. Maka ∣F(t)−L∣≤∣F(t)−F(n)∣+∣F(n)−L∣<2ε. □
Teorema 46.1.9 (Konvergensi Mutlak)
Misalkan f terintegralkan lokal pada [a,∞). Bila ∫a∞∣f∣ konvergen, maka ∫a∞f konvergen, dan ∫a∞f≤∫a∞∣f∣.
Bukti. ∣f∣ terintegralkan lokal (Teorema 44.2.5(c)). ∣∫stf∣≤∫st∣f∣, sehingga kriteria Cauchy untuk ∣f∣ memberi kriteria Cauchy untuk f. Ketaksamaannya berlaku untuk setiap t, sehingga juga di limit (Teorema 34.3.7). □
Integral yang konvergen tetapi tidak konvergen mutlak disebut konvergen bersyarat, sejajar dengan deret di Bab 33.
Contoh 46.1.10 (∫1∞xsinx, Konvergen Bersyarat)
Konvergen. Integrasi parsial pada [1,t], dengan u=x1 dan v=−cosx, memberi
∫1txsinxdx=cos1−tcost−∫1tx2cosxdx.
∣tcost∣≤t1→0. Integral terakhir konvergen mutlak, karena ∫1tx2∣cosx∣≤∫1tx2dx<1 (Teorema 46.1.5 dan 46.1.9). Jadi ruas kanan mempunyai limit untuk t→∞.
Tidak konvergen mutlak. Bukti ini tidak memakai π. Karena ∣sinx∣≤1, ∣sinx∣≥sin2x=21−cos2x (Akibat 40.2.12). Jadi
∫1tx∣sinx∣dx≥21lnt−21∫1txcos2xdx.
Integral terakhir konvergen untuk t→∞ dengan argumen yang sama: integrasi parsial dengan v=2sin2x. Jadi integral itu terbatas dalam t, sedangkan 21lnt→+∞. Teorema 46.1.5 memberi ∫1∞x∣sinx∣=+∞.
Latihan
Latihan 46.1-1. Tentukan kekonvergenan dan nilainya: (a) ∫0∞exp(−x)dx; (b) ∫1∞x−3/2dx; (c) ∫0∞xexp(−x)dx; (d) ∫0∞1+xdx.
Latihan 46.1-2. Buktikan bahwa ∫−∞∞xdx divergen menurut Definisi 46.1.1(d), walaupun ∫−ttxdx=0 untuk setiap t.
Latihan 46.1-3. Buktikan bahwa pada Definisi 46.1.1(d), kekonvergenan dan nilai ∫−∞∞f tidak bergantung pada pilihan c.
Latihan 46.1-4. Untuk n≥2, misalkan Tn(x)=max(0,1−n2∣x−n∣), dan f=∑n≥2Tn pada [1,∞). Buktikan bahwa f kontinu, ∫1∞f konvergen, tetapi f(n)=1 untuk setiap n≥2. Bandingkan dengan syarat perlu ak→0 untuk deret (Teorema 31.3.1).
Latihan 46.1-5. Misalkan ∫a∞f konvergen dan limx→∞f(x)=L ada. Buktikan bahwa L=0.
Latihan 46.1-6. Buktikan bahwa ∫2∞x(lnx)2dx=ln21, lalu simpulkan bahwa ∑k≥2k(lnk)21 konvergen, dengan batas atas eksplisit.
Latihan 46.1-7. Dengan Teorema 46.1.6(c) dan S10=∑k=110k31≈1,1975319, berikan selang yang memuat ∑k=1∞k31.
Latihan 46.1-8. Buktikan bahwa ∫0∞exp(−x2)dx konvergen, dengan nilai paling besar 1+e1.
Solusi
Solusi 46.1-1. (a) F(t)=1−exp(−t), dan 0<exp(−t)≤1+t1→0. Nilainya 1.
(b) Teorema 46.1.4 dengan p=23: nilainya 1/21=2.
(c) Integrasi parsial: F(t)=[−xexp(−x)]0t+∫0texp(−x)dx=−texp(−t)+1−exp(−t). Karena exp(t)≥1+t+2t2>2t2 untuk t>0, 0<texp(−t)<t2→0. Nilainya 1.
(d) F(t)=ln(1+t)→+∞: divergen. □
Solusi 46.1-2. Untuk sebarang c, ∫ctxdx=2t2−c2→+∞, sehingga ∫c∞xdx divergen. Definisi (d) gagal untuk setiap c. Limit simetris ∫−ttx=0 disebut nilai utama Cauchy. Nilai itu bukan integral tak wajar dalam arti buku ini, karena pergeseran kecil merusaknya: ∫−tt+1xdx=2(t+1)2−t2=t+21→+∞. □
Solusi 46.1-3. Misalkan c<c′. Menurut Proposisi 46.1.2, ∫c∞f konvergen jika dan hanya jika ∫c′∞f konvergen, dengan ∫c∞f=∫cc′f+∫c′∞f. Hal serupa berlaku di kiri: ∫−∞c′f=∫−∞cf+∫cc′f. Jumlahkan: ∫−∞cf+∫c∞f=∫−∞c′f+∫c′∞f. □
Solusi 46.1-4. Pendukung Tn adalah [n−n21,n+n21]. Untuk n≥2, n21≤41, sehingga pendukung-pendukung itu saling lepas. Jadi di setiap titik paling banyak satu suku tidak nol. Pada setiap interval terbatas, hanya berhingga banyak Tn yang tidak nol, dan masing-masing kontinu, sehingga f kontinu. ∫Tn adalah dua segitiga linear dengan alas n21 dan tinggi 1, yaitu 2⋅21⋅n21=n21, dihitung dengan Teorema 45.2.1 pada tiap potongan linear. Untuk t>1, ∫1tf≤∑n≥2n21≤∑n≥2n(n−1)1=1. Jadi F terbatas, dan Teorema 46.1.5 memberi kekonvergenan. Juga f(n)=Tn(n)=1. Berbeda dengan deret, kekonvergenan integral tidak mengharuskan integrannya menuju 0. □
Solusi 46.1-5. Andaikan L>0. Ada M dengan f(x)>2L untuk x>M. Untuk t>M+1, ∫M+1tf≥2L(t−M−1)→+∞. Padahal kriteria Cauchy (Teorema 46.1.8) membatasi ∣∫stf∣ untuk s,t besar. Kontradiksi. Kasus L<0 memakai −f. □
Solusi 46.1-6. Substitusi φ=ln pada [2,t], dengan f(u)=u−2 pada [ln2,lnt], memberi ∫2tx(lnx)2dx=ln21−lnt1→ln21. Integrannya positif dan turun pada [2,∞). Uji integral, yang digeser ke [2,∞), memberi kekonvergenan, dan ∑k=2nf(k)≤f(2)+∫2nf. Jadi jumlahnya paling besar 2(ln2)21+ln21≈1,041+1,443=2,484. □
Solusi 46.1-7. ∫N∞x−3dx=2N21, menurut Teorema 46.1.4. Dengan N=10: 2421≈0,004132≤R11≤2001=0,005. Jadi 1,201664≤∑k≥1k31≤1,202532. Nilai yang dikenal, sekitar 1,2020569, terletak di dalamnya. Nilai ini dicatat tanpa bukti. □
Solusi 46.1-8. Integrannya kontinu dan positif. Untuk x≥1, x2≥x, sehingga exp(−x2)≤exp(−x). Jadi untuk t>1:
F(t)≤∫011dx+∫1texp(−x)dx≤1+exp(−1).
Teorema 46.1.5 memberi kekonvergenan, dengan nilai paling besar 1+e1≈1,368. Nilai sebenarnya, 2π≈0,886, dicatat tanpa bukti dan tidak dipakai. □
Ringkasan
Integral tak wajar ∫a∞f didefinisikan sebagai limt→∞∫atf bila limit itu ada. ∞ tetap bukan bilangan, dan "=+∞" hanya label divergensi. Rumus master ∫1∞x−2=1 adalah contoh pertamanya. ∫1∞x−p konvergen tepat ketika p>1, sama dengan deret-p. Untuk integran taknegatif, kekonvergenan setara dengan keterbatasan ∫at, bahkan cukup pada bilangan bulat. Ini menutup bagian (I3) pinjaman P32-INT, sehingga uji integral menjadi teorema lengkap, dengan taksiran sisa yang dicontohkan pada ∑k−3 dan ∑klnk1. Kriteria Cauchy memberi konvergensi mutlak. ∫1∞xsinx konvergen bersyarat, dibuktikan tanpa π. Berbeda dengan deret, integral dapat konvergen walaupun integrannya tidak menuju 0.
46.2 Integral dari Fungsi Singular dan Uji Perbandingan
Unit 46.1 menangani domain yang tak terbatas. Unit ini menangani jenis kedua, yaitu integran yang tidak terbatas di dekat suatu titik, misalnya x1 di dekat 0. Definisinya kembali berupa limit: integralkan pada [s,b] yang menghindari titik singular, lalu ambil s→a+. Unit ini lalu membuktikan uji perbandingan untuk kedua jenis. Dengan uji itu, kekonvergenan sering dapat diputuskan tanpa menghitung integralnya, cukup dengan membandingkan integran terhadap pangkat x−p.
Prasyarat: Unit 46.1; Bab 45; Definisi 35.1.1 (limit sepihak); Teorema 34.2.5 (kriteria Cauchy untuk limit fungsi).
Definisi
Definisi 46.2.1 (Integral Tak Wajar Jenis Kedua)
Misalkan a<b, dan f:(a,b]→R terintegralkan pada [s,b] untuk setiap s∈(a,b). f boleh tidak terbatas di dekat a. ∫abf konvergen bila
s→a+lim∫sbf
ada sebagai bilangan real, dan nilainya adalah limit itu. Integral pada [a,b) dengan singularitas di b didefinisikan serupa, dengan limt→b−∫atf.
Bila ada beberapa titik bermasalah, misalnya singularitas di kedua ujung, singularitas di titik dalam, atau gabungan dengan domain tak terbatas, interval dipecah dengan titik-titik antara. Setiap bagian harus memuat paling banyak satu masalah, di salah satu ujungnya. Integralnya konvergen bila setiap bagian konvergen. Seperti pada Latihan 46.1-3, hasilnya tidak bergantung pada titik pemecah.
Proposisi 46.2.2 (Konsistensi dengan Integral Riemann)
(a) Bila f terintegralkan Riemann pada [a,b], maka lims→a+∫sbf=∫abf. Jadi definisi baru tidak mengubah nilai integral lama.
(b) Bila f terbatas pada (a,b] dan terintegralkan pada setiap [s,b], maka f, dengan nilai sebarang di a, terintegralkan Riemann pada [a,b].
Bukti. (a) Misalkan ∣f∣≤K. Maka ∫abf−∫sbf=∫asf≤K(s−a)→0 (Teorema 45.1.2).
(b) Misalkan ∣f∣≤K pada [a,b], termasuk nilai di a. Untuk ε>0, ambil s∈(a,b) dengan 2K(s−a)<2ε, dan partisi Q dari [s,b] dengan U−L<2ε. Untuk partisi P={a}∪Q, subinterval [a,s] menyumbang paling banyak 2K(s−a) pada U−L. Jadi U(f,P)−L(f,P)<ε. □
Jadi integral tak wajar jenis kedua hanya membawa hal baru untuk fungsi yang tidak terbatas.
Pangkat sebagai Pembanding
Teorema 46.2.3 (Integral-p di Nol)
Untuk p∈R, ∫01x−pdx konvergen jika dan hanya jika p<1. Dalam hal itu, nilainya 1−p1.
Bukti. Untuk p≤0, integrannya kontinu dan terbatas pada (0,1], sehingga Proposisi 46.2.2 berlaku. Untuk p=1:
∫s1x−pdx=1−p1−s1−p.
Untuk r>0, sr→0 bila s→0+: dengan t=s1, sr=t−r→0 bila t→+∞ (bukti Teorema 46.1.4 dan Proposisi 35.2.8). Bila p<1, s1−p→0, sehingga limitnya 1−p1. Bila p>1, s1−p=sp−11→+∞, sehingga integralnya +∞. Untuk p=1, ∫s1xdx=−lns→+∞. □
Perhatikan bahwa arah ketaksamaan terbalik dari Teorema 46.1.4. Di ∞, pangkat harus turun cukup cepat (p>1). Di 0, pangkat tidak boleh naik terlalu cepat (p<1). Akibatnya, ∫0∞x−pdx divergen untuk setiap p: bila p>1, bagian (0,1] divergen, dan bila p≤1, bagian [1,∞) divergen.
Contoh 46.2.4
(a) ∫01xdx=2, dengan p=21. Integrannya tidak terbatas, tetapi luas di bawahnya terhingga.
(b) ∫01lnxdx=−1. Antiturunannya xlnx−x, sehingga ∫s1lnxdx=−1−slns+s. Untuk melihat slns→0: dengan t=s1, ∣slns∣=tlnt. Latihan 45.2-3 memberi lnt=2lnt≤2(t−1)<2t untuk t≥1, sehingga tlnt<t2→0.
(c) Contoh 45.2.6, lanjutan. Untuk F(x)=x2sinx21, F′ tidak terbatas pada (0,1], sehingga ∫01F′ bukan integral Riemann. Sebagai integral tak wajar, integral itu konvergen. F′ kontinu pada setiap [s,1], sehingga Teorema 45.2.1 memberi ∫s1F′=F(1)−F(s)→F(1)−F(0)=sin1, karena ∣F(s)∣≤s2.
Uji Perbandingan
Dalam bagian ini, "integral tak wajar ∫I" berarti salah satu dari dua jenis, dengan satu titik bermasalah ω, yaitu ω=∞ untuk I=[a,∞) atau ω=a untuk I=(a,b]. Fungsinya terintegralkan pada setiap interval tertutup yang termuat di I.
Lemma 46.2.5 (Integran Taknegatif)
Bila f≥0 pada I, maka ∫If konvergen jika dan hanya jika integral-integral parsialnya terbatas di atas. Integral parsialnya adalah ∫atf untuk jenis pertama, atau ∫sbf untuk jenis kedua. Bila tidak terbatas, ∫If=+∞.
Bukti. Jenis pertama adalah Teorema 46.1.5. Untuk jenis kedua, G(s)=∫sbf naik ketika s turun menuju a, karena G(s)−G(s′)=∫ss′f≥0 untuk s<s′. Bila G terbatas, misalkan L=supa<s<bG(s). Untuk ε>0, ada s0 dengan G(s0)>L−ε, dan untuk a<s<s0, L−ε<G(s)≤L. Jadi G(s)→L untuk s→a+. Bila G tidak terbatas, argumen yang sama memberi G(s)→+∞. □
Teorema 46.2.6 (Uji Perbandingan)
Misalkan 0≤f≤g pada I.
(a) Bila ∫Ig konvergen, maka ∫If konvergen, dan 0≤∫If≤∫Ig.
(b) Bila ∫If=+∞, maka ∫Ig=+∞.
Bukti. Integral parsial f tidak melebihi integral parsial g (Teorema 44.2.5(a)), dan integral parsial g tidak melebihi ∫Ig, karena integral parsialnya naik menuju limitnya. Lemma 46.2.5 memberi (a), dan ketaksamaan nilai diperoleh di limit. (b) adalah kontraposisi (a). □
Teorema 46.2.7 (Uji Perbandingan Limit)
Misalkan f,g>0 pada I, dan g(x)f(x)→λ∈(0,∞) untuk x→ω. Maka ∫If dan ∫Ig konvergen bersama-sama atau divergen bersama-sama.
Bukti. Ada bagian J⊆I di dekat ω, yaitu J=[M,∞) atau J=(a,a+δ], tempat 2λ≤gf≤2λ, yaitu 2λg≤f≤2λg. Teorema 46.2.6, diterapkan dua arah dengan kelinearan, memberi kesetaraan kekonvergenan pada J. Sisa I∖J adalah interval tertutup tempat kedua fungsi terintegralkan biasa. Proposisi 46.1.2 dan padanannya untuk jenis kedua, yang diperoleh dengan aditivitas yang sama, menyelesaikan bukti. □
Pembanding standar adalah x−p: Teorema 46.1.4 di ∞, dan Teorema 46.2.3 di 0. Untuk singularitas di titik a selain 0, gunakan (x−a)−p, yang ditranslasikan (Latihan 45.3-3).
Konvergensi mutlak juga berlaku untuk jenis kedua. Kriteria Cauchy untuk G(s)=∫sbf di s→a+ adalah Teorema 34.2.5 dengan c=a. Bukti Teorema 46.1.9 berlaku kata demi kata. Jadi ∣f∣≤g dengan ∫Ig konvergen mengakibatkan bahwa ∫If konvergen mutlak.
Contoh 46.2.8
(a) ∫1∞x2+x+1dx konvergen, karena 0<x2+x+11≤x21. Nilainya di antara 0 dan 1.
(b) ∫01x+x3dx konvergen. Dengan g(x)=x−1/2: gf=1+x21→1 untuk x→0+. Gunakan Teorema 46.2.7 dan 46.2.3.
(c) ∫1∞x+1dx divergen. Dengan g(x)=x−1/2: gf=x+1x→1, dan p=21≤1.
(d) ∫01xexp(x)dx divergen, karena xexp(x)≥x1 untuk x>0.
(e) Fungsi Gamma. Untuk s∈R, Γ(s)=∫0∞xs−1exp(−x)dx konvergen jika dan hanya jika s>0. Pecah di 1.
Pada (0,1]: exp(−1)xs−1≤xs−1exp(−x)≤xs−1=x−(1−s). Teorema 46.2.3 dan 46.2.6 memberi bahwa bagian ini konvergen tepat ketika 1−s<1, yaitu s>0.
Pada [1,∞): ambil bilangan bulat m≥s+1. Karena semua suku deret exp(x) taknegatif untuk x≥0, exp(x)≥m!xm. Jadi xs−1exp(−x)≤m!xs−1−m≤x2m! untuk x≥1, karena s−1−m≤−2. Bagian ini selalu konvergen.
Latihan
Latihan 46.2-1. Tentukan kekonvergenannya, dengan alasan: (a) ∫01x−0,99dx; (b) ∫01x−x2dx; (c) ∫1∞x2lnxdx, beserta nilainya; (d) ∫01exp(x)−1dx.
Latihan 46.2-2. Buktikan bahwa ∫01xlnxdx=−41.
Latihan 46.2-3. Misalkan f(x)=sgn(x)∣x∣−1/3 untuk x=0. Buktikan bahwa ∫−11f konvergen dengan nilai 0, sedangkan ∫−11xdx divergen menurut definisi pemecahan di titik 0.
Latihan 46.2-4. Untuk s>0, buktikan bahwa Γ(1)=1 dan Γ(s+1)=sΓ(s). Simpulkan bahwa Γ(n+1)=n! untuk n∈N.
Latihan 46.2-5. Buktikan bahwa ∫01x1sinx1dx konvergen, tetapi tidak konvergen mutlak. (Petunjuk: substitusi x=u1 pada [s,1], lalu Contoh 46.1.10.)
Latihan 46.2-6. Misalkan f,g≥0 pada [1,∞), gf→0, dan ∫1∞g konvergen. Buktikan bahwa ∫1∞f konvergen. Tunjukkan dengan contoh bahwa kebalikannya salah.
Latihan 46.2-7. Tunjukkan bahwa syarat 0≤f pada Teorema 46.2.6 tidak dapat dibuang, dengan contoh f≤g pada [1,∞), ∫1∞g konvergen, tetapi ∫1∞f divergen.
Latihan 46.2-8. Buktikan bahwa ∫0∞x(1+x)dx konvergen, dengan nilai paling besar 4.
Solusi
Solusi 46.2-1. (a) Konvergen, karena p=0,99<1. Nilainya 0,011=100.
(b) Integrannya x−1/2(1−x)−1/2, singular di kedua ujung. Pecah di 21. Pada (0,21], (1−x)−1/2≤2, sehingga integran ≤2x−1/2, dan bagian ini konvergen (Teorema 46.2.3 dan 46.2.6). Pada [21,1), integran ≤2(1−x)−1/2. Untuk t<1, ∫1/2t(1−x)−1/2dx=[−21−x]1/2t≤2, sehingga bagian ini juga konvergen. Integralnya konvergen. Nilainya, π, dicatat tanpa bukti.
(c) 0≤x2lnx≤x22x=2x−3/2 untuk x≥1 (Contoh 46.2.4(b)), sehingga konvergen. Nilainya, dengan integrasi parsial: ∫1tx2lnx=[−xlnx]1t+∫1tx2dx=−tlnt+1−t1→1.
(d) Nilai rata-rata memberi exp(x)−1=exp(ξ)x≤ex untuk x∈(0,1]. Jadi integran ≥ex1, dan integralnya divergen, karena p=1. □
Solusi 46.2-2. Antiturunannya 2x2lnx−4x2. Jadi ∫s1xlnxdx=−41−2s2lns+4s2. Karena ∣s2lns∣=s⋅∣slns∣→0 (Contoh 46.2.4(b)), limitnya −41. Integrannya sebenarnya terbatas pada (0,1], karena xlnx→0, sehingga Proposisi 46.2.2(b) juga memberi keterintegralan Riemann. □
Solusi 46.2-3. Pecah di 0. ∫01x−1/3dx=2/31=23 (Teorema 46.2.3). Pada [−1,0), f(x)=−∣x∣−1/3, dan dengan substitusi x=−u (Latihan 45.3-3), ∫−1−sf=−∫s1u−1/3du→−23. Kedua bagian konvergen, dan jumlahnya 0. Untuk x1, bagian ∫01xdx sudah divergen, sehingga integral keseluruhannya divergen. Pembatalan simetris lims→0+(∫−1−s+∫s1)xdx=0 adalah nilai utama Cauchy, bukan integral tak wajar (bandingkan Solusi 46.1-2). □
Solusi 46.2-4. Γ(1)=∫0∞exp(−x)dx=1 (Solusi 46.1-1(a)). Untuk 0<ε<t, integrasi parsial dengan u=xs dan v=−exp(−x) memberi
Suku batasnya menuju 0. εs→0 karena s>0. tsexp(−t)→0, karena tsexp(−t)≤m!ts−m dengan m>s, seperti pada Contoh 46.2.8(e). Kedua integral konvergen (Contoh 46.2.8(e)), sehingga Γ(s+1)=sΓ(s). Induksi memberi Γ(n+1)=nΓ(n)=⋯=n!Γ(1)=n!. □
Solusi 46.2-5. Misalkan f(x)=x1sinx1, kontinu pada (0,1]. Untuk 0<s<1, terapkan Teorema 45.3.4 dengan φ(u)=u1 pada [1,s1], sehingga φ(1)=1, φ(s1)=s, dan φ′(u)=−u21:
karena f(u1)⋅u21=usinu⋅u21=usinu. Untuk s→0+, s1→+∞, dan ruas kanan konvergen menurut Contoh 46.1.10 (Proposisi 35.2.8). Dengan ∣f∣, perhitungan yang sama memberi ∫11/su∣sinu∣du→+∞. □
Solusi 46.2-6. Ada M dengan gf≤1 untuk x≥M, yaitu f≤g di sana. Teorema 46.2.6 pada [M,∞) dan Proposisi 46.1.2 menyelesaikan bukti. Kebalikannya salah: f=x21 dan g=x1 memenuhi gf=x1→0, ∫f konvergen, tetapi ∫g divergen. □
Solusi 46.2-7. f(x)=−x1≤0=g(x). ∫1∞g=0 konvergen, sedangkan ∫1tf=−lnt tidak mempunyai limit real. Rumusan yang benar untuk integran bertanda: ∣f∣≤g dengan ∫g konvergen memberi konvergensi mutlak. □
Solusi 46.2-8. Integrannya positif dan kontinu pada (0,∞), dengan dua titik bermasalah, yaitu 0 dan ∞. Pecah di 1. Pada (0,1], integran ≤x−1/2, dengan integral 2. Pada [1,∞), integran ≤x−3/2, dengan integral 2 (Teorema 46.1.4). Teorema 46.2.6 memberi kekonvergenan kedua bagian, dengan jumlah paling besar 4. Nilai sebenarnya, π, dicatat tanpa bukti dan tidak dipakai. Bilangan π baru didefinisikan di Bab 49 (penutupan P40-PI), dan unit ini tidak bergantung padanya. □
Ringkasan
Integral tak wajar jenis kedua, untuk integran yang tidak terbatas di dekat a, didefinisikan sebagai lims→a+∫sbf. Untuk fungsi yang terintegralkan Riemann, definisi ini memberi nilai yang sama. ∫01x−p konvergen tepat ketika p<1, kebalikan dari kasus ∞. Akibatnya, ∫0∞x−p selalu divergen. Uji perbandingan dan uji perbandingan limit memutuskan kekonvergenan dengan membandingkan integran terhadap pangkat, untuk kedua jenis integral tak wajar. Contoh yang dikerjakan: ∫01lnx=−1, integral turunan tak terbatas dari Contoh 45.2.6 bernilai sin1, fungsi Gamma dengan Γ(n+1)=n!, dan ∫01x1sinx1 konvergen bersyarat. Peringatannya: perbandingan memerlukan integran taknegatif, dan pembatalan simetris (nilai utama) bukan kekonvergenan.