Lompat ke konten

Cari di ARSTEMA

Ketik nama bab, istilah, gejala, atau alat.

    Kembali ke atlas
    Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 8Lanjut

    Konstruksi dan Klasifikasi Sistem Bilangan

    Bab 8 dari 50 — Analisis Matematika dan Fondasi Rigor. Naskah draf lengkap dengan validasi terarah; belum telaah matematika independen seluruh buku.

    120 menit

    Bagian yang sedang dibaca: Pembuka bab

    Draf lengkap — Bab 8 dari 50

    Validasi terarah dan integritas naskah telah diperiksa. Buku ini belum mendapat telaah matematika independen menyeluruh. Catatan status di dalam naskah merupakan riwayat versi.

    Unduh naskah lengkap asli (TXT) · Lihat sumber dan cakupan review

    Bab 8: Konstruksi dan Klasifikasi Sistem Bilangan

    Bab ini menjelaskan struktur Peano dan membangun bilangan bulat serta rasional melalui kelas ekuivalensi. Keberadaan struktur bilangan asli dan hukum yang belum diturunkan dinyatakan sebagai prasyarat; setiap operasi baru diperiksa agar tidak bergantung pada wakil. Setelah itu, bilangan rasional ditempatkan dalam bilangan real melalui embedding yang diasumsikan. Kerapatan memakai sifat Archimedes, sedangkan keberadaan akar positif dua dipinjam dari kelengkapan. Bukti bahwa tidak ada rasional berkuadrat dua berdiri sendiri dari kedua pinjaman analisis tersebut. Definisi, bukti, contoh, dan latihan dengan pembahasan lengkap menjaga perbedaan antara hasil yang diperoleh dan landasan yang masih diasumsikan.

    8.1 Himpunan Bilangan Asli N\mathbb{N} dan Aksioma Peano

    Motivasi

    Kita telah menulis N={0,1,2,… }\mathbb{N}=\{0,1,2,\dots\} dan memakai bilangan asli tanpa ragu. Bab 7 juga bekerja dengan prinsip induksi, prinsip urutan baik, dan teorema rekursi untuk himpunan ini. Namun tulisan {0,1,2,… }\{0,1,2,\dots\} memuat elipsis, dan tiga titik itu tidak menyatakan apa yang terjadi "seterusnya". Tulisan itu tidak menjelaskan mengapa barisan tersebut tidak berputar kembali ke 00, tidak bercabang, dan tidak memuat unsur "liar" yang tidak pernah dicapai dari 00.

    Unit ini memusatkan perhatian pada struktur di balik tulisan tersebut. Strukturnya terdiri atas satu unsur awal 00 dan satu operasi "langkah berikutnya" SS. Lima sifat sederhana, yaitu aksioma Peano, menangkap sifat-sifat yang kita harapkan dari N\mathbb{N}. Dari kelima sifat itu, bersama teorema rekursi, kita akan memperoleh tiga hal:

    1. akibat-akibat dasar, misalnya setiap bilangan tak nol mempunyai tepat satu pendahulu;
    2. jawaban atas pertanyaan "apakah N\mathbb{N} tunggal?", yaitu tunggal sampai isomorfisme;
    3. definisi penjumlahan dan perkalian melalui rekursi, beserta bukti hukum-hukum penjumlahan.

    Hasil-hasil ini menjadi landasan bagi konstruksi Z\mathbb{Z} dan Q\mathbb{Q} pada unit-unit berikutnya.

    Status fondasional unit ini

    Sebelum memberi definisi, kita perlu menegaskan apa yang diasumsikan dan apa yang dibuktikan. Unit ini tidak membangun N\mathbb{N} dari ketiadaan. Unit ini juga tidak menurunkan seluruh aritmetika dari aksioma Peano tanpa prasyarat.

    • N\mathbb{N} kerja. Bab 7 bekerja dengan sebuah himpunan N\mathbb{N} yang memuat 00, beserta penjumlahan ++, perkalian ⋅\cdot, dan urutan ≤\le. Sifat-sifat dasarnya dipakai sebagai prasyarat. Himpunan ini kita sebut N\mathbb{N} kerja, dan operasinya kita sebut operasi kerja. Di unit ini kita menetapkan S(n)=n+1S(n)=n+1 pada N\mathbb{N} kerja.
    • Keberadaan diasumsikan. Keberadaan struktur (N,0,S)(\mathbb{N},0,S) yang memenuhi aksioma Peano diterima sebagai prasyarat. Membangun himpunan semacam itu di dalam teori himpunan memerlukan landasan tambahan, khususnya aksioma ketakhinggaan, beserta suatu konstruksi eksplisit. Unit ini tidak melakukan konstruksi tersebut.
    • Teorema rekursi dipinjam. Bukti teorema rekursi di Unit 7.4 memakai fakta urutan dan aritmetika N\mathbb{N} kerja yang dipinjam. Ketika memakainya di sini, kita mewarisi prasyarat tersebut.
    • Operasi baru dibandingkan, bukan disusupkan. Penjumlahan dan perkalian akan didefinisikan ulang melalui rekursi dengan lambang baru ⊕\oplus dan ⊙\odot. Hukum-hukum ⊕\oplus akan dibuktikan hanya dari aksioma Peano, rekursi, dan persamaan definisional. Operasi kerja tidak dipakai dalam bukti-bukti itu. Setelahnya, Proposisi 8.1.24 memeriksa bahwa operasi kerja memenuhi nilai dasar dan persamaan langkah yang sama, sehingga ketunggalan rekursi memberi ⊕=+\oplus=+ dan ⊙=⋅\odot=\cdot. Dalam pembuktian hukum operasi baru, operasi kerja tidak dipakai; perbandingan eksplisit kedua operasi dilakukan pada Proposisi 8.1.24. Keberadaan solusi rekursi tetap mewarisi prasyarat aritmetika kerja dari Bab 7, seperti dijelaskan di atas.

    Dengan demikian, unit ini menyajikan fondasi relatif. Unit ini menunjukkan bahwa struktur (N,0,S)(\mathbb{N},0,S) beserta teorema rekursi sudah menentukan penjumlahan dan perkalian secara tunggal, dan bahwa hukum penjumlahan mengikuti dari aksioma Peano. Unit ini tidak mendeduksi semuanya dari nol.

    Sepanjang unit ini, setiap pernyataan diberi salah satu dari tiga status: definisi, dibuktikan, atau prasyarat dipinjam.

    Aksioma Peano

    Definisi 8.1.1 (Struktur Peano). Struktur Peano adalah tripel (M,e,T)(M,e,T) yang terdiri atas sebuah himpunan MM dan dua objek ee dan TT, yang memenuhi kelima syarat berikut.

    • (P1) e∈Me\in M.
    • (P2) T:M→MT:M\to M adalah fungsi.
    • (P3) e∉T[M]e\notin T[M], artinya tidak ada m∈Mm\in M dengan T(m)=eT(m)=e.
    • (P4) TT injektif: untuk semua m,m′∈Mm,m'\in M, jika T(m)=T(m′)T(m)=T(m'), maka m=m′m=m'.
    • (P5) Induksi untuk semua subhimpunan. Untuk setiap B⊆MB\subseteq M, jika e∈Be\in B dan T(m)∈BT(m)\in B untuk setiap m∈Bm\in B, maka B=MB=M.

    Unsur ee disebut unsur awal, dan T(m)T(m) disebut penerus mm.

    Untuk N\mathbb{N} kita menulis (N,0,S)(\mathbb{N},0,S). Tulisan N={0,1,2,… }\mathbb{N}=\{0,1,2,\dots\} selanjutnya hanya menjadi notasi informal bagi struktur ini. Tulisan itu bukan definisi.

    Prasyarat 8.1.2 (N\mathbb{N} kerja adalah struktur Peano). [Prasyarat dipinjam.] Dengan S(n)=n+1S(n)=n+1, tripel (N,0,S)(\mathbb{N},0,S) memenuhi (P1)–(P5).

    Sumber masing-masing syarat adalah sebagai berikut. (P1) dan (P2) berasal dari sifat N\mathbb{N} kerja. (P3) menyatakan n+1≠0n+1\ne 0, dan (P4) menyatakan bahwa n+1=m+1n+1=m+1 mengakibatkan n=mn=m; keduanya fakta aritmetika kerja yang dipinjam. (P5) adalah prinsip induksi yang dipakai di Bab 7, dengan status yang sama seperti di bab tersebut.

    Catatan 8.1.3 (Induksi semua subhimpunan versus skema orde pertama). Syarat (P5) mengkuantifikasi semua subhimpunan B⊆MB\subseteq M, yaitu semua unsur himpunan kuasa P(M)\mathcal{P}(M). Karena itu (P5) adalah satu pernyataan. Perumusan yang mengkuantifikasi subhimpunan seperti ini lazim disebut perumusan induksi orde kedua.

    Ada perumusan lain yang lazim dalam logika, yaitu skema induksi orde pertama. Pertama dipilih sebuah bahasa orde pertama, misalnya dengan lambang 00 dan SS, dan mungkin juga ++ dan ⋅\cdot. Kemudian, untuk setiap formula φ(x,yˉ)\varphi(x,\bar y) dalam bahasa itu, diambil satu aksioma:

    ∀yˉ [(φ(0,yˉ)∧∀x (φ(x,yˉ)→φ(S(x),yˉ)))→∀x φ(x,yˉ)].\forall \bar y\,\Big[\big(\varphi(0,\bar y)\wedge\forall x\,(\varphi(x,\bar y)\to\varphi(S(x),\bar y))\big)\to\forall x\,\varphi(x,\bar y)\Big].

    Skema ini adalah kumpulan aksioma, satu untuk tiap formula. Setiap aksiomanya hanya menjamin induksi bagi subhimpunan yang dapat didefinisikan oleh formula bahasa yang dipilih. Jadi skema ini membatasi himpunan yang boleh dipakai dalam induksi, sedangkan (P5) tidak.

    Kedua perumusan tersebut tidak sinonim. Bukti-bukti di unit ini, khususnya Teorema 8.1.11, menerapkan (P5) pada himpunan yang didefinisikan melalui fungsi uu atau melalui struktur lain MM. Objek-objek itu bukan lambang bahasa orde pertama yang dipilih. Oleh sebab itu, klaim keunikan di bawah berlaku untuk struktur yang memenuhi (P5). Buku ini tidak menarik kesimpulan apa pun tentang keunikan struktur yang hanya memenuhi skema orde pertama.

    Akibat langsung aksioma

    Proposisi 8.1.4 (Pendahulu tunggal). [Dibuktikan.] Untuk setiap n∈Nn\in\mathbb{N} dengan n≠0n\ne 0, terdapat tepat satu m∈Nm\in\mathbb{N} yang memenuhi S(m)=nS(m)=n. Selain itu, 00 tidak mempunyai pendahulu.

    Strategi. Keberadaan pendahulu dibuktikan dengan menerapkan (P5) pada himpunan yang memuat 00 dan semua penerus. Ketunggalannya diperoleh dari injektivitas.

    Bukti. Bagian kedua tepat sama dengan (P3).

    Keberadaan. Misalkan A={0}∪S[N]⊆NA=\{0\}\cup S[\mathbb{N}]\subseteq\mathbb{N}. Menurut definisi AA, 0∈A0\in A. Jika n∈An\in A, maka S(n)∈S[N]⊆AS(n)\in S[\mathbb{N}]\subseteq A. Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}. Jadi setiap n≠0n\ne 0 berada dalam S[N]S[\mathbb{N}], sehingga ada mm dengan S(m)=nS(m)=n.

    Ketunggalan. Jika S(m)=n=S(m′)S(m)=n=S(m'), maka m=m′m=m' menurut (P4). ■\blacksquare

    [Definisi.] Unsur tunggal tersebut disebut pendahulu nn. Perhatikan bahwa pendahulu didefinisikan setelah keberadaan dan ketunggalannya terbukti, tanpa memakai pengurangan.

    Definisi 8.1.5. 1=S(0)1=S(0), 2=S(1)2=S(1), 3=S(2)3=S(2), 4=S(3)4=S(3), 5=S(4)5=S(4), dan 6=S(5)6=S(5).

    Ketiga bilangan pertama saling berbeda:

    • 1≠01\ne 0 dan 2≠02\ne 0 menurut (P3), karena 1,2∈S[N]1,2\in S[\mathbb{N}].
    • 2≠12\ne 1, sebab S(1)=S(0)S(1)=S(0) akan memberi 1=01=0 menurut (P4), dan hal itu bertentangan dengan butir sebelumnya.

    Proposisi 8.1.6 (SS tidak mempunyai titik tetap). [Dibuktikan.] Untuk setiap n∈Nn\in\mathbb{N}, berlaku S(n)≠nS(n)\ne n.

    Bukti. Misalkan A={n∈N:S(n)≠n}A=\{n\in\mathbb{N}: S(n)\ne n\}.

    • Dasar. S(0)≠0S(0)\ne 0 menurut (P3). Jadi 0∈A0\in A.
    • Langkah. Misalkan n∈An\in A. Andaikan S(S(n))=S(n)S(S(n))=S(n). Menurut (P4), S(n)=nS(n)=n, dan hal ini bertentangan dengan n∈An\in A. Jadi S(n)∈AS(n)\in A.

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}. ■\blacksquare

    Aksioma tidak menyediakan "unsur terakhir". Menurut (P2), setiap nn mempunyai penerus S(n)∈NS(n)\in\mathbb{N}, dan menurut proposisi di atas, penerus itu berbeda dari nn. Lebih jauh, S:N→NS:\mathbb{N}\to\mathbb{N} injektif tetapi tidak surjektif, karena 0∉S[N]0\notin S[\mathbb{N}].

    Contoh 8.1.7 (Struktur yang gagal memenuhi aksioma). Pada setiap contoh berikut, huruf a,b,ca,b,c menyatakan objek yang saling berbeda.

    1. Hanya (P3) yang gagal. Ambil M={a}M=\{a\}, e=ae=a, dan T(a)=aT(a)=a.
      • (P1), (P2), dan (P4) berlaku.
      • (P5) berlaku, karena setiap B⊆MB\subseteq M yang memuat aa sama dengan MM.
      • (P3) gagal, karena T(a)=eT(a)=e.
    2. Hanya (P4) yang gagal. Ambil M={a,b}M=\{a,b\}, e=ae=a, T(a)=bT(a)=b, dan T(b)=bT(b)=b.
      • (P1) dan (P2) berlaku: a∈Ma\in M, dan TT terdefinisi pada aa dan bb dengan nilai di MM.
      • (P3) berlaku, karena T[M]={b}∌aT[M]=\{b\}\not\ni a.
      • (P5) berlaku: jika a∈Ba\in B dan BB tertutup, maka b=T(a)∈Bb=T(a)\in B, sehingga B=MB=M.
      • (P4) gagal, karena T(a)=T(b)T(a)=T(b) padahal a≠ba\ne b.
    3. Hanya (P5) yang gagal. Ambil M=N×{0,1}M=\mathbb{N}\times\{0,1\}, e=(0,0)e=(0,0), dan T(n,i)=(S(n),i)T(n,i)=(S(n),i).
      • (P1) dan (P2) berlaku: (0,0)∈M(0,0)\in M, dan (S(n),i)∈M(S(n),i)\in M untuk setiap (n,i)∈M(n,i)\in M.
      • (P3) berlaku: (S(n),i)=(0,0)(S(n),i)=(0,0) akan memberi S(n)=0S(n)=0.
      • (P4) berlaku: (S(n),i)=(S(m),j)(S(n),i)=(S(m),j) memberi S(n)=S(m)S(n)=S(m) dan i=ji=j, sehingga n=mn=m.
      • (P5) gagal. Himpunan B=N×{0}B=\mathbb{N}\times\{0\} memuat ee dan tertutup terhadap TT. Namun (0,1)∉B(0,1)\notin B, karena 1≠01\ne 0. Struktur ini memuat "salinan kedua" yang tidak pernah dicapai dari ee.
    4. Pemotongan berhingga gagal memenuhi (P2). Ambil M={a,b,c}M=\{a,b,c\}, e=ae=a, T(a)=bT(a)=b, dan T(b)=cT(b)=c, tanpa nilai untuk cc. Maka TT bukan fungsi M→MM\to M. Setiap pilihan nilai T(c)∈MT(c)\in M merusak syarat lain:
      • T(c)=aT(c)=a melanggar (P3);
      • T(c)=b=T(a)T(c)=b=T(a) melanggar (P4);
      • T(c)=c=T(b)T(c)=c=T(b) juga melanggar (P4).

    Rekursi dan keunikan sampai isomorfisme

    Prasyarat 8.1.8 (Teorema rekursi, bagian keberadaan). [Prasyarat dipinjam dari Teorema 7.4.1.] Misalkan XX sebuah himpunan, x0∈Xx_0\in X, dan g:X→Xg:X\to X sebuah fungsi. Maka terdapat fungsi r:N→Xr:\mathbb{N}\to X yang memenuhi

    r(0)=x0danr(S(n))=g(r(n))untuk semua n∈N.r(0)=x_0 \quad\text{dan}\quad r(S(n))=g(r(n)) \quad \text{untuk semua } n\in\mathbb{N}.

    Bukti di Unit 7.4 memakai fakta urutan dan aritmetika N\mathbb{N} kerja yang dipinjam. Bentuk di sini adalah kasus khusus Teorema 7.4.1 dengan fungsi langkah F(n,x)=g(x)F(n,x)=g(x) dan S(n)=n+1S(n)=n+1. Ketunggalan rr kita buktikan sendiri pada lema berikut.

    Lema 8.1.9 (Ketunggalan solusi rekursi). [Dibuktikan.] Misalkan XX, x0x_0, dan gg seperti pada Prasyarat 8.1.8. Jika r,r′:N→Xr,r':\mathbb{N}\to X keduanya memenuhi r(0)=r′(0)=x0r(0)=r'(0)=x_0, r(S(n))=g(r(n))r(S(n))=g(r(n)), dan r′(S(n))=g(r′(n))r'(S(n))=g(r'(n)) untuk semua nn, maka r=r′r=r'.

    Bukti. Misalkan A={n∈N:r(n)=r′(n)}A=\{n\in\mathbb{N}: r(n)=r'(n)\}.

    • Dasar. r(0)=x0=r′(0)r(0)=x_0=r'(0), sehingga 0∈A0\in A.
    • Langkah. Jika n∈An\in A, maka
    r(S(n))=g(r(n))=g(r′(n))=r′(S(n)),r(S(n))=g(r(n))=g(r'(n))=r'(S(n)),

    sehingga S(n)∈AS(n)\in A.

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}. ■\blacksquare

    Definisi 8.1.10 (Homomorfisme dan isomorfisme). Misalkan (M1,e1,T1)(M_1,e_1,T_1) dan (M2,e2,T2)(M_2,e_2,T_2) tripel dengan MiM_i himpunan, ei∈Mie_i\in M_i, dan Ti:Mi→MiT_i:M_i\to M_i.

    • Fungsi f:M1→M2f:M_1\to M_2 disebut homomorfisme jika f(e1)=e2f(e_1)=e_2 dan f(T1(m))=T2(f(m))f(T_1(m))=T_2(f(m)) untuk semua m∈M1m\in M_1.
    • Homomorfisme yang bijektif disebut isomorfisme.

    Jadi isomorfisme adalah bijeksi yang mempertahankan unsur awal dan penerus. Kasus terpenting di bawah adalah (M1,e1,T1)=(N,0,S)(M_1,e_1,T_1)=(\mathbb{N},0,S): fungsi f:N→Mf:\mathbb{N}\to M adalah homomorfisme jika f(0)=ef(0)=e dan f(S(n))=T(f(n))f(S(n))=T(f(n)) untuk semua n∈Nn\in\mathbb{N}.

    Teorema 8.1.11 (Setiap struktur Peano isomorfik dengan N\mathbb{N}). [Dibuktikan, relatif terhadap Prasyarat 8.1.2 dan 8.1.8.] Misalkan (M,e,T)(M,e,T) sebuah struktur Peano. Maka:

    • (a) terdapat tepat satu homomorfisme u:N→Mu:\mathbb{N}\to M;
    • (b) uu surjektif;
    • (c) uu injektif;
    • (d) invers u−1:M→Nu^{-1}:M\to\mathbb{N} adalah homomorfisme dari (M,e,T)(M,e,T) ke (N,0,S)(\mathbb{N},0,S), yaitu u−1(e)=0u^{-1}(e)=0 dan u−1(T(m))=S(u−1(m))u^{-1}(T(m))=S(u^{-1}(m)).

    Akibatnya, uu adalah satu-satunya isomorfisme dari (N,0,S)(\mathbb{N},0,S) ke (M,e,T)(M,e,T).

    Strategi. Rekursi dilakukan hanya pada N\mathbb{N} sebagai domain. Surjektivitas memakai (P5) pada MM. Injektivitas memakai induksi pada N\mathbb{N} dengan pernyataan yang diperkuat "untuk setiap mm". Kita tidak mengandaikan sejak awal bahwa kedua struktur isomorfik.

    Bukti.

    (a) Karena MM himpunan, e∈Me\in M, dan T:M→MT:M\to M fungsi, Prasyarat 8.1.8 dengan X=MX=M, x0=ex_0=e, dan g=Tg=T memberi fungsi u:N→Mu:\mathbb{N}\to M dengan u(0)=eu(0)=e dan u(S(n))=T(u(n))u(S(n))=T(u(n)). Jadi uu homomorfisme. Jika u′u' juga homomorfisme, maka uu dan u′u' adalah dua solusi rekursi yang sama, sehingga u=u′u=u' menurut Lema 8.1.9.

    (b) Misalkan B=u[N]⊆MB=u[\mathbb{N}]\subseteq M. Kita periksa kedua hipotesis (P5) pada MM.

    • e=u(0)∈Be=u(0)\in B.
    • Jika m∈Bm\in B, tulis m=u(n)m=u(n). Maka T(m)=T(u(n))=u(S(n))∈BT(m)=T(u(n))=u(S(n))\in B.

    Karena (M,e,T)(M,e,T) memenuhi (P5), kita peroleh B=MB=M.

    (c) Misalkan

    A={ n∈N:untuk setiap m∈N, u(n)=u(m)⇒n=m }.A=\{\,n\in\mathbb{N} : \text{untuk setiap } m\in\mathbb{N},\ u(n)=u(m) \Rightarrow n=m\,\}.

    Dasar: 0∈A0\in A. Ambil mm dengan u(0)=u(m)u(0)=u(m). Andaikan m≠0m\ne 0. Menurut Proposisi 8.1.4, m=S(k)m=S(k) untuk suatu kk. Maka e=u(0)=u(S(k))=T(u(k))∈T[M]e=u(0)=u(S(k))=T(u(k))\in T[M], dan hal ini bertentangan dengan (P3) pada MM. Jadi m=0m=0.

    Langkah. Misalkan n∈An\in A, dan ambil mm dengan u(S(n))=u(m)u(S(n))=u(m).

    • Jika m=0m=0, maka T(u(n))=u(S(n))=u(0)=eT(u(n))=u(S(n))=u(0)=e. Ini bertentangan dengan (P3) pada MM. Jadi kasus ini tidak mungkin.
    • Jika m≠0m\ne 0, tulis m=S(k)m=S(k) menurut Proposisi 8.1.4. Maka T(u(n))=T(u(k))T(u(n))=T(u(k)), sehingga u(n)=u(k)u(n)=u(k) menurut (P4) pada MM. Karena n∈An\in A, kita peroleh n=kn=k. Jadi S(n)=S(k)=mS(n)=S(k)=m.

    Dengan demikian S(n)∈AS(n)\in A. Menurut (P5) pada N\mathbb{N}, A=NA=\mathbb{N}, sehingga uu injektif.

    (d) Dari (b) dan (c), uu bijektif. Karena u(0)=eu(0)=e, kita peroleh u−1(e)=0u^{-1}(e)=0. Untuk m∈Mm\in M, misalkan n=u−1(m)n=u^{-1}(m). Maka u(S(n))=T(u(n))=T(m)u(S(n))=T(u(n))=T(m), sehingga u−1(T(m))=S(n)=S(u−1(m))u^{-1}(T(m))=S(n)=S(u^{-1}(m)).

    Terakhir, setiap isomorfisme adalah homomorfisme. Menurut (a), setiap isomorfisme N→M\mathbb{N}\to M sama dengan uu. ■\blacksquare

    Bagian (a) tidak memakai (P3)–(P5) pada MM. Untuk sebarang himpunan MM dengan e∈Me\in M dan T:M→MT:M\to M, tetap ada tepat satu homomorfisme N→M\mathbb{N}\to M. Aksioma pada MM baru diperlukan untuk menjamin bijektivitas.

    Akibat 8.1.12 (Dua struktur Peano sebarang). [Dibuktikan, relatif terhadap Prasyarat 8.1.2 dan 8.1.8.] Misalkan (M1,e1,T1)(M_1,e_1,T_1) dan (M2,e2,T2)(M_2,e_2,T_2) struktur Peano, dan ui:N→Miu_i:\mathbb{N}\to M_i isomorfisme dari Teorema 8.1.11. Maka h=u2∘u1−1h=u_2\circ u_1^{-1} adalah isomorfisme M1→M2M_1\to M_2, dan hh merupakan satu-satunya homomorfisme M1→M2M_1\to M_2. Khususnya, hh satu-satunya isomorfisme M1→M2M_1\to M_2.

    Bukti. hh bijektif sebagai komposisi dua bijeksi. Menurut Teorema 8.1.11(d),

    h(e1)=u2(u1−1(e1))=u2(0)=e2,h(e_1)=u_2(u_1^{-1}(e_1))=u_2(0)=e_2,

    dan

    h(T1(m))=u2(S(u1−1(m)))=T2(u2(u1−1(m)))=T2(h(m)).h(T_1(m))=u_2(S(u_1^{-1}(m)))=T_2(u_2(u_1^{-1}(m)))=T_2(h(m)).

    Jadi hh isomorfisme.

    Untuk ketunggalan, misalkan h′:M1→M2h':M_1\to M_2 homomorfisme. Maka h′∘u1:N→M2h'\circ u_1:\mathbb{N}\to M_2 adalah homomorfisme, karena

    h′(u1(0))=h′(e1)=e2danh′(u1(S(n)))=h′(T1(u1(n)))=T2(h′(u1(n))).h'(u_1(0))=h'(e_1)=e_2 \quad\text{dan}\quad h'(u_1(S(n)))=h'(T_1(u_1(n)))=T_2(h'(u_1(n))).

    Menurut Teorema 8.1.11(a) untuk M2M_2, h′∘u1=u2h'\circ u_1=u_2. Karena u1u_1 bijektif, h′=u2∘u1−1=hh'=u_2\circ u_1^{-1}=h. ■\blacksquare

    Contoh 8.1.13 (Struktur Peano yang bukan N\mathbb{N} secara literal). Misalkan M=N∖{0}M=\mathbb{N}\setminus\{0\}, e=1e=1, dan T(n)=S(n)T(n)=S(n) untuk n∈Mn\in M. Kita periksa kelima aksioma.

    • (P1) 1=S(0)≠01=S(0)\ne 0, sehingga 1∈M1\in M.
    • (P2) Untuk n∈Mn\in M, berlaku S(n)≠0S(n)\ne 0 menurut (P3) pada N\mathbb{N}. Jadi T:M→MT:M\to M.
    • (P3) Jika S(m)=1=S(0)S(m)=1=S(0), maka m=0∉Mm=0\notin M. Jadi 1∉T[M]1\notin T[M].
    • (P4) TT adalah pembatasan fungsi injektif SS, sehingga injektif.
    • (P5) Misalkan B⊆MB\subseteq M memuat 11 dan tertutup terhadap TT. Ambil C={0}∪BC=\{0\}\cup B. Maka 0∈C0\in C. Selanjutnya, S(0)=1∈B⊆CS(0)=1\in B\subseteq C, dan untuk n∈Bn\in B berlaku S(n)=T(n)∈B⊆CS(n)=T(n)\in B\subseteq C. Menurut (P5) pada N\mathbb{N}, C=NC=\mathbb{N}. Akibatnya M=N∖{0}⊆BM=\mathbb{N}\setminus\{0\}\subseteq B, sehingga B=MB=M.

    Ambil u=Su=S dengan kodomain MM. Fungsi ini terdefinisi sebagai fungsi N→M\mathbb{N}\to M, karena S(n)≠0S(n)\ne 0 menurut (P3), sehingga u(n)∈Mu(n)\in M untuk semua n∈Nn\in\mathbb{N}. Fungsi ini homomorfisme: u(0)=S(0)=1=eu(0)=S(0)=1=e dan u(S(n))=S(S(n))=T(u(n))u(S(n))=S(S(n))=T(u(n)). Menurut Teorema 8.1.11, homomorfisme tunggal ini adalah isomorfisme tunggal N→M\mathbb{N}\to M.

    Struktur ini isomorfik dengan (N,0,S)(\mathbb{N},0,S), tetapi himpunannya berbeda: 0∈N0\in\mathbb{N}, sedangkan 0∉M0\notin M. Unsur awalnya pun berbeda, yaitu 1≠01\ne 0.

    Catatan 8.1.14 (Isomorfik tidak berarti sama). Teorema 8.1.11 dan Akibat 8.1.12 tidak menyatakan bahwa dua struktur Peano mempunyai himpunan yang sama. Keduanya menyatakan bahwa ada tepat satu cara mencocokkan unsur-unsurnya sehingga unsur awal dan operasi penerus terpelihara. Dua "pengkodean" N\mathbb{N} yang berbeda di dalam teori himpunan dapat memuat unsur yang berlainan. Namun isomorfisme memindahkan unsur awal ke unsur awal dan penerus ke penerus. Karena itu, setiap konstruksi dalam unit ini yang hanya memakai unsur awal, penerus, dan rekursi dapat dipindahkan lewat isomorfisme. Itulah arti frasa "sampai isomorfisme", dan dalam arti inilah kita berbicara tentang "sang" himpunan bilangan asli.

    Akibat 8.1.15 (Rekursi pada struktur Peano sebarang). [Dibuktikan, relatif terhadap Prasyarat 8.1.2 dan 8.1.8.] Misalkan (M,e,T)(M,e,T) struktur Peano, XX himpunan, x0∈Xx_0\in X, dan g:X→Xg:X\to X. Maka ada tepat satu rM:M→Xr_M:M\to X dengan rM(e)=x0r_M(e)=x_0 dan rM(T(m))=g(rM(m))r_M(T(m))=g(r_M(m)) untuk semua m∈Mm\in M.

    Bukti.

    Keberadaan. Misalkan r:N→Xr:\mathbb{N}\to X fungsi dari Prasyarat 8.1.8, dan uu isomorfisme dari Teorema 8.1.11. Definisikan rM=r∘u−1r_M=r\circ u^{-1}. Menurut Teorema 8.1.11(d),

    rM(e)=r(0)=x0,r_M(e)=r(0)=x_0,

    dan

    rM(T(m))=r(S(u−1(m)))=g(r(u−1(m)))=g(rM(m)).r_M(T(m))=r(S(u^{-1}(m)))=g(r(u^{-1}(m)))=g(r_M(m)).

    Ketunggalan. Misalkan rMr_M dan rM′r'_M keduanya memenuhi persamaan itu, dan misalkan B={m∈M:rM(m)=rM′(m)}B=\{m\in M: r_M(m)=r'_M(m)\}. Maka e∈Be\in B, karena rM(e)=x0=rM′(e)r_M(e)=x_0=r'_M(e). Jika m∈Bm\in B, maka

    rM(T(m))=g(rM(m))=g(rM′(m))=rM′(T(m)),r_M(T(m))=g(r_M(m))=g(r'_M(m))=r'_M(T(m)),

    sehingga T(m)∈BT(m)\in B. Menurut (P5) pada MM, B=MB=M. ■\blacksquare

    Lema 8.1.16 sampai Proposisi 8.1.23 di bawah hanya memakai (P1)–(P5), keberadaan solusi rekursi (Prasyarat 8.1.8), dan ketunggalannya (Lema 8.1.9). Karena Akibat 8.1.15 memberi keberadaan dan ketunggalan rekursi pada sebarang struktur Peano, definisi dan bukti itu dapat diulang pada struktur Peano mana pun, dengan ee dan TT menggantikan 00 dan SS. Proposisi 8.1.24 membandingkan operasi baru dengan operasi kerja. Di luar rentang bukti 8.1.16–8.1.23, aritmetika kerja sudah muncul secara terbuka dalam definisi SS dan prasyarat 8.1.2 serta 8.1.8.

    Penjumlahan dan perkalian melalui rekursi

    Lema 8.1.16 (Keberadaan dan ketunggalan penjumlahan). [Dibuktikan.] Terdapat tepat satu fungsi F:N×N→NF:\mathbb{N}\times\mathbb{N}\to\mathbb{N} sehingga, untuk setiap a∈Na\in\mathbb{N}, fungsi b↦F(a,b)b\mapsto F(a,b) memenuhi nilai awal aa dan persamaan langkah dengan g=Sg=S.

    Bukti.

    Langkah 1: fungsi satu variabel. Untuk setiap a∈Na\in\mathbb{N}, terapkan Prasyarat 8.1.8 dengan kodomain X=NX=\mathbb{N}, nilai awal x0=ax_0=a, dan g=Sg=S. Kita peroleh fungsi ua:N→Nu_a:\mathbb{N}\to\mathbb{N} dengan

    ua(0)=adanua(S(b))=S(ua(b)).u_a(0)=a \quad\text{dan}\quad u_a(S(b))=S(u_a(b)).

    Menurut Lema 8.1.9, fungsi ini tunggal.

    Langkah 2: grafik dua variabel. Dengan aksioma pemisahan pada (N×N)×N(\mathbb{N}\times\mathbb{N})\times\mathbb{N} (Bab 3), bentuk

    G⊕={((a,b),c)∈(N×N)×N:ada v∈P(N×N) yang merupakan fungsi N→N, v(0)=a, ∀n∈N v(S(n))=S(v(n)), v(b)=c}.G_\oplus=\Big\{\big((a,b),c\big)\in(\mathbb{N}\times\mathbb{N})\times\mathbb{N} : \text{ada } v\in\mathcal{P}(\mathbb{N}\times\mathbb{N}) \text{ yang merupakan fungsi } \mathbb{N}\to\mathbb{N},\ v(0)=a,\ \forall n\in\mathbb{N}\ v(S(n))=S(v(n)),\ v(b)=c\Big\}.

    Himpunan kuasa P(N×N)\mathcal{P}(\mathbb{N}\times\mathbb{N}) juga berasal dari Bab 3. Di sini fungsi N→N\mathbb{N}\to\mathbb{N} diidentifikasi dengan grafiknya karena domain dan kodomain telah ditetapkan. Sesuai konvensi Bab 5, data lengkap fungsi ditulis (N,N,v)(\mathbb{N},\mathbb{N},v); vv dalam himpunan kuasa di atas adalah komponen grafiknya.

    Langkah 3: G⊕G_\oplus adalah grafik fungsi. Ambil (a,b)∈N×N(a,b)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}.

    • Ada keluaran. ((a,b),ua(b))∈G⊕\big((a,b),u_a(b)\big)\in G_\oplus, dengan saksi v=uav=u_a.
    • Keluaran tunggal. Misalkan ((a,b),c)\big((a,b),c\big) dan ((a,b),c′)\big((a,b),c'\big) di G⊕G_\oplus, dengan saksi vv dan v′v'. Keduanya solusi rekursi dengan x0=ax_0=a dan g=Sg=S, sehingga v=v′v=v' menurut Lema 8.1.9. Jadi c=v(b)=v′(b)=c′c=v(b)=v'(b)=c'.

    Maka G⊕G_\oplus adalah grafik sebuah fungsi F:N×N→NF:\mathbb{N}\times\mathbb{N}\to\mathbb{N} dengan F(a,b)=ua(b)F(a,b)=u_a(b). Fungsi ini memenuhi syarat lema. Jika F′F' juga memenuhinya, maka untuk tiap aa fungsi b↦F′(a,b)b\mapsto F'(a,b) dan uau_a adalah dua solusi rekursi yang sama, sehingga keduanya sama menurut Lema 8.1.9. Jadi F′=FF'=F. ■\blacksquare

    Definisi 8.1.17 (Penjumlahan). [Definisi.] a⊕ba\oplus b adalah keluaran tunggal F(a,b)F(a,b) dari Lema 8.1.16, yaitu a⊕b=ua(b)a\oplus b=u_a(b).

    Persamaan berikut bersifat definisional, artinya langsung berasal dari konstruksi:

    (J1)a⊕0=a,(J2)a⊕S(b)=S(a⊕b).\text{(J1)}\quad a\oplus 0=a, \qquad\qquad \text{(J2)}\quad a\oplus S(b)=S(a\oplus b).

    Sifat-sifat lain, termasuk 0⊕a=a0\oplus a=a, harus dibuktikan.

    Contoh 8.1.18. Perhitungan 2⊕22\oplus 2 hanya memakai (J1), (J2), dan Definisi 8.1.5:

    2⊕2=2⊕S(1)=(J2)S(2⊕1)=S(2⊕S(0))=(J2)S(S(2⊕0))=(J1)S(S(2))=S(3)=4.2\oplus 2=2\oplus S(1)\overset{(J2)}{=}S(2\oplus 1)=S(2\oplus S(0))\overset{(J2)}{=}S(S(2\oplus 0))\overset{(J1)}{=}S(S(2))=S(3)=4.

    Proposisi 8.1.19 (Hukum penjumlahan). [Dibuktikan dari (P1)–(P5), (J1), dan (J2) saja.] Untuk semua a,b,c∈Na,b,c\in\mathbb{N}:

    • (a) 0⊕a=a0\oplus a=a;
    • (b) S(a)⊕b=S(a⊕b)S(a)\oplus b=S(a\oplus b);
    • (c) a⊕1=S(a)a\oplus 1=S(a);
    • (d) komutatif: a⊕b=b⊕aa\oplus b=b\oplus a;
    • (e) asosiatif: (a⊕b)⊕c=a⊕(b⊕c)(a\oplus b)\oplus c=a\oplus(b\oplus c);
    • (f) pembatalan: jika a⊕c=b⊕ca\oplus c=b\oplus c, maka a=ba=b; jika c⊕a=c⊕bc\oplus a=c\oplus b, maka a=ba=b.

    Strategi. Setiap butir kecuali (c) dibuktikan dengan induksi pada variabel kanan, karena (J1) dan (J2) hanya memberi informasi tentang argumen kanan. Variabel lain dibiarkan sebarang tetapi tetap. Artinya, untuk setiap pilihan variabel itu, kita membuktikan bahwa himpunan yang bersangkutan sama dengan N\mathbb{N}.

    Bukti.

    (a) Misalkan A={a∈N:0⊕a=a}A=\{a\in\mathbb{N}: 0\oplus a=a\}.

    • Dasar. 0⊕0=00\oplus 0=0 menurut (J1).
    • Langkah. Jika a∈Aa\in A, maka 0⊕S(a)=(J2)S(0⊕a)=S(a)0\oplus S(a)\overset{(J2)}{=}S(0\oplus a)=S(a).

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}.

    (b) Tetapkan aa, dan misalkan Aa={b∈N:S(a)⊕b=S(a⊕b)}A_a=\{b\in\mathbb{N}: S(a)\oplus b=S(a\oplus b)\}.

    • Dasar. Menurut (J1) dua kali, S(a)⊕0=S(a)=S(a⊕0)S(a)\oplus 0=S(a)=S(a\oplus 0).
    • Langkah. Jika b∈Aab\in A_a, maka
    S(a)⊕S(b)=(J2)S(S(a)⊕b)=S(S(a⊕b))=(J2)S(a⊕S(b)).S(a)\oplus S(b)\overset{(J2)}{=}S(S(a)\oplus b)=S(S(a\oplus b))\overset{(J2)}{=}S(a\oplus S(b)).

    Menurut (P5), Aa=NA_a=\mathbb{N}.

    (c) a⊕1=a⊕S(0)=(J2)S(a⊕0)=(J1)S(a)a\oplus 1=a\oplus S(0)\overset{(J2)}{=}S(a\oplus 0)\overset{(J1)}{=}S(a).

    (d) Tetapkan aa, dan misalkan Aa={b∈N:a⊕b=b⊕a}A_a=\{b\in\mathbb{N}: a\oplus b=b\oplus a\}.

    • Dasar. a⊕0=(J1)a=(a)0⊕aa\oplus 0\overset{(J1)}{=}a\overset{(a)}{=}0\oplus a.
    • Langkah. Jika b∈Aab\in A_a, maka
    a⊕S(b)=(J2)S(a⊕b)=S(b⊕a)=(b)S(b)⊕a.a\oplus S(b)\overset{(J2)}{=}S(a\oplus b)=S(b\oplus a)\overset{(b)}{=}S(b)\oplus a.

    Menurut (P5), Aa=NA_a=\mathbb{N}.

    (e) Tetapkan aa dan bb, dan misalkan Aa,b={c∈N:(a⊕b)⊕c=a⊕(b⊕c)}A_{a,b}=\{c\in\mathbb{N}:(a\oplus b)\oplus c=a\oplus(b\oplus c)\}.

    • Dasar. (a⊕b)⊕0=(J1)a⊕b=(J1)a⊕(b⊕0)(a\oplus b)\oplus 0\overset{(J1)}{=}a\oplus b\overset{(J1)}{=}a\oplus(b\oplus 0).
    • Langkah. Jika c∈Aa,bc\in A_{a,b}, maka
    (a⊕b)⊕S(c)=(J2)S((a⊕b)⊕c)=S(a⊕(b⊕c))=(J2)a⊕S(b⊕c)=(J2)a⊕(b⊕S(c)).(a\oplus b)\oplus S(c)\overset{(J2)}{=}S((a\oplus b)\oplus c)=S(a\oplus(b\oplus c))\overset{(J2)}{=}a\oplus S(b\oplus c)\overset{(J2)}{=}a\oplus(b\oplus S(c)).

    Menurut (P5), Aa,b=NA_{a,b}=\mathbb{N}.

    (f) Misalkan A={c∈N:untuk semua a,b∈N, a⊕c=b⊕c⇒a=b}A=\{c\in\mathbb{N}: \text{untuk semua } a,b\in\mathbb{N},\ a\oplus c=b\oplus c\Rightarrow a=b\}.

    • Dasar. Jika a⊕0=b⊕0a\oplus 0=b\oplus 0, maka a=ba=b menurut (J1).
    • Langkah. Misalkan c∈Ac\in A dan a⊕S(c)=b⊕S(c)a\oplus S(c)=b\oplus S(c). Menurut (J2), S(a⊕c)=S(b⊕c)S(a\oplus c)=S(b\oplus c). Menurut (P4), a⊕c=b⊕ca\oplus c=b\oplus c. Karena c∈Ac\in A, kita peroleh a=ba=b. Jadi S(c)∈AS(c)\in A.

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}. Pembatalan kiri mengikuti dari pembatalan kanan dan (d): jika c⊕a=c⊕bc\oplus a=c\oplus b, maka a⊕c=b⊕ca\oplus c=b\oplus c, sehingga a=ba=b. ■\blacksquare

    Lema 8.1.20 (Keberadaan dan ketunggalan perkalian). [Dibuktikan.] Terdapat tepat satu fungsi H:N×N→NH:\mathbb{N}\times\mathbb{N}\to\mathbb{N} sehingga, untuk setiap a∈Na\in\mathbb{N}, fungsi b↦H(a,b)b\mapsto H(a,b) memenuhi nilai awal 00 dan persamaan langkah dengan g=gag=g_a, di mana ga(x)=x⊕ag_a(x)=x\oplus a.

    Bukti.

    Langkah 1: fungsi langkah. Untuk setiap a∈Na\in\mathbb{N}, fungsi ga:N→Ng_a:\mathbb{N}\to\mathbb{N} dengan ga(x)=x⊕ag_a(x)=x\oplus a terdefinisi baik: untuk setiap xx, pasangan (x,a)(x,a) berada di N×N\mathbb{N}\times\mathbb{N}, dan ⊕\oplus memberinya tepat satu keluaran di N\mathbb{N}.

    Langkah 2: fungsi satu variabel. Prasyarat 8.1.8 dengan X=NX=\mathbb{N}, x0=0x_0=0, dan g=gag=g_a memberi fungsi wa:N→Nw_a:\mathbb{N}\to\mathbb{N} dengan

    wa(0)=0danwa(S(b))=wa(b)⊕a.w_a(0)=0 \quad\text{dan}\quad w_a(S(b))=w_a(b)\oplus a.

    Menurut Lema 8.1.9, fungsi ini tunggal.

    Langkah 3: grafik dua variabel. Dengan pemisahan pada (N×N)×N(\mathbb{N}\times\mathbb{N})\times\mathbb{N}, bentuk

    G⊙={((a,b),c)∈(N×N)×N:ada v∈P(N×N) yang merupakan fungsi N→N, v(0)=0, ∀n∈N v(S(n))=v(n)⊕a, v(b)=c}.G_\odot=\Big\{\big((a,b),c\big)\in(\mathbb{N}\times\mathbb{N})\times\mathbb{N} : \text{ada } v\in\mathcal{P}(\mathbb{N}\times\mathbb{N}) \text{ yang merupakan fungsi } \mathbb{N}\to\mathbb{N},\ v(0)=0,\ \forall n\in\mathbb{N}\ v(S(n))=v(n)\oplus a,\ v(b)=c\Big\}.

    Langkah 4: G⊙G_\odot adalah grafik fungsi. Ambil (a,b)∈N×N(a,b)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}.

    • Ada keluaran. ((a,b),wa(b))∈G⊙\big((a,b),w_a(b)\big)\in G_\odot, dengan saksi v=wav=w_a.
    • Keluaran tunggal. Misalkan ((a,b),c)\big((a,b),c\big) dan ((a,b),c′)\big((a,b),c'\big) di G⊙G_\odot, dengan saksi vv dan v′v'. Keduanya solusi rekursi dengan x0=0x_0=0 dan g=gag=g_a, sehingga v=v′v=v' menurut Lema 8.1.9. Jadi c=v(b)=v′(b)=c′c=v(b)=v'(b)=c'.

    Maka G⊙G_\odot adalah grafik sebuah fungsi HH dengan H(a,b)=wa(b)H(a,b)=w_a(b), dan HH memenuhi syarat lema. Jika H′H' juga memenuhinya, maka untuk tiap aa fungsi b↦H′(a,b)b\mapsto H'(a,b) dan waw_a adalah dua solusi rekursi dengan x0=0x_0=0 dan g=gag=g_a, sehingga keduanya sama menurut Lema 8.1.9. Jadi H′=HH'=H. ■\blacksquare

    Definisi 8.1.21 (Perkalian). [Definisi.] a⊙ba\odot b adalah keluaran tunggal H(a,b)H(a,b) dari Lema 8.1.20, yaitu a⊙b=wa(b)a\odot b=w_a(b). Persamaan definisionalnya adalah

    (K1)a⊙0=0,(K2)a⊙S(b)=(a⊙b)⊕a.\text{(K1)}\quad a\odot 0=0, \qquad\qquad \text{(K2)}\quad a\odot S(b)=(a\odot b)\oplus a.

    Contoh 8.1.22. Perhitungan 2⊙22\odot 2:

    2⊙2=2⊙S(1)=(K2)(2⊙1)⊕2,2⊙1=2⊙S(0)=(K2)(2⊙0)⊕2=(K1)0⊕2=2.2\odot 2=2\odot S(1)\overset{(K2)}{=}(2\odot 1)\oplus 2,\qquad 2\odot 1=2\odot S(0)\overset{(K2)}{=}(2\odot 0)\oplus 2\overset{(K1)}{=}0\oplus 2=2.

    Langkah 0⊕2=20\oplus 2=2 memakai Proposisi 8.1.19(a), bukan (J1). Jadi 2⊙2=2⊕2=42\odot 2=2\oplus 2=4 menurut Contoh 8.1.18.

    Proposisi 8.1.23 (Sifat dasar perkalian). [Dibuktikan.] Untuk semua a,b∈Na,b\in\mathbb{N}:

    • (a) 0⊙a=00\odot a=0;
    • (b) a⊙1=aa\odot 1=a;
    • (c) jika a≠0a\ne 0 dan b≠0b\ne 0, maka a⊙b≠0a\odot b\ne 0.

    Bukti.

    (a) Misalkan A={a∈N:0⊙a=0}A=\{a\in\mathbb{N}: 0\odot a=0\}.

    • Dasar. 0⊙0=00\odot 0=0 menurut (K1).
    • Langkah. Jika a∈Aa\in A, maka 0⊙S(a)=(K2)(0⊙a)⊕0=(J1)0⊙a=00\odot S(a)\overset{(K2)}{=}(0\odot a)\oplus 0\overset{(J1)}{=}0\odot a=0.

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}.

    (b) a⊙1=a⊙S(0)=(K2)(a⊙0)⊕a=(K1)0⊕a=aa\odot 1=a\odot S(0)\overset{(K2)}{=}(a\odot 0)\oplus a\overset{(K1)}{=}0\oplus a=a, dengan langkah terakhir menurut Proposisi 8.1.19(a).

    (c) Menurut Proposisi 8.1.4, tulis b=S(k)b=S(k) dan a=S(j)a=S(j). Maka

    a⊙b=(K2)(a⊙k)⊕S(j)=(J2)S((a⊙k)⊕j)∈S[N],a\odot b\overset{(K2)}{=}(a\odot k)\oplus S(j)\overset{(J2)}{=}S\big((a\odot k)\oplus j\big)\in S[\mathbb{N}],

    sehingga a⊙b≠0a\odot b\ne 0 menurut (P3). ■\blacksquare

    Perbandingan dengan operasi kerja

    Proposisi 8.1.24 (Operasi baru sama dengan operasi kerja). [Dibuktikan dari Lema 8.1.9 dan prasyarat perbandingan di bawah.] Untuk semua a,b∈Na,b\in\mathbb{N} berlaku a⊕b=a+ba\oplus b=a+b dan a⊙b=a⋅ba\odot b=a\cdot b.

    Prasyarat perbandingan (dipinjam dari aritmetika kerja): a+0=aa+0=a; (a+b)+1=a+(b+1)(a+b)+1=a+(b+1); a⋅0=0a\cdot 0=0; a⋅(b+1)=a⋅b+aa\cdot(b+1)=a\cdot b+a. Selain itu, S(b)=b+1S(b)=b+1 menurut definisi SS pada N\mathbb{N} kerja.

    Bukti.

    Penjumlahan. Tetapkan aa. Fungsi pa(b)=a+bp_a(b)=a+b memenuhi pa(0)=a+0=ap_a(0)=a+0=a dan

    pa(S(b))=a+(b+1)=(a+b)+1=S(pa(b)).p_a(S(b))=a+(b+1)=(a+b)+1=S(p_a(b)).

    Fungsi ua(b)=a⊕bu_a(b)=a\oplus b memenuhi nilai awal dan persamaan langkah yang sama, yaitu (J1) dan (J2), dengan g=Sg=S. Menurut Lema 8.1.9, pa=uap_a=u_a. Karena aa sebarang, x⊕y=x+yx\oplus y=x+y untuk semua x,y∈Nx,y\in\mathbb{N}.

    Perkalian. Sekarang tetapkan aa. Fungsi qa(b)=a⋅bq_a(b)=a\cdot b memenuhi qa(0)=a⋅0=0q_a(0)=a\cdot 0=0 dan

    qa(S(b))=a⋅(b+1)=a⋅b+a=(a⋅b)⊕a=ga(qa(b)),q_a(S(b))=a\cdot(b+1)=a\cdot b+a=(a\cdot b)\oplus a=g_a(q_a(b)),

    dengan kesamaan ketiga menurut bagian penjumlahan, diterapkan pada x=a⋅bx=a\cdot b dan y=ay=a. Jadi qaq_a dan waw_a adalah solusi rekursi yang sama dengan x0=0x_0=0 dan g=gag=g_a. Menurut Lema 8.1.9, qa=waq_a=w_a. Karena aa sebarang, bagian perkalian terbukti. ■\blacksquare

    Perhatikan arah logisnya. Keberadaan ⊕\oplus dan ⊙\odot bersandar pada teorema rekursi beserta prasyaratnya. Hukum-hukum dalam Proposisi 8.1.19 dan 8.1.23 dibuktikan tanpa operasi kerja. Perbandingan eksplisit dengan operasi kerja dilakukan pada Proposisi 8.1.24; definisi SS dan prasyarat rekursi tetap membawa asumsi kerja yang telah dinyatakan. Mulai Unit 8.2 kita kembali menulis ++ dan ⋅\cdot.

    Catatan 8.1.25 (Rangkuman status untuk Unit 8.2).

    PernyataanStatus
    Keberadaan (N,0,S)(\mathbb{N},0,S) yang memenuhi (P1)–(P5)prasyarat dipinjam (8.1.2)
    Keberadaan solusi rekursiprasyarat dipinjam dari Unit 7.4 (8.1.8)
    Ketunggalan solusi rekursi; pendahulu tunggal; S(n)≠nS(n)\ne ndibuktikan (8.1.9, 8.1.4, 8.1.6)
    Keunikan N\mathbb{N} sampai isomorfismedibuktikan, relatif terhadap 8.1.2 dan 8.1.8 (8.1.11, 8.1.12)
    00 identitas penjumlahan; komutatif, asosiatif, pembatalan penjumlahandibuktikan (8.1.19)
    a⊙0=0=0⊙aa\odot 0=0=0\odot a; a⊙1=aa\odot 1=a; hasil kali dua bilangan tak nol tak noldibuktikan (8.1.21, 8.1.23); kesetaraan "positif" dengan "tak nol" termasuk pinjaman urutan
    ⊕=+\oplus=+ dan ⊙=⋅\odot=\cdotdibuktikan, relatif terhadap prasyarat perbandingan (8.1.24)
    Komutatif dan asosiatif perkalian; distributif; pembatalan perkalian oleh faktor tak nolprasyarat dipinjam untuk 8.2
    Urutan diskret dengan a≤ba\le b jika dan hanya jika ada k∈Nk\in\mathbb{N} dengan b=a+kb=a+kprasyarat dipinjam untuk 8.2

    Satu akibat kecil dapat dibuktikan langsung: bilangan kk dengan b=a+kb=a+k tunggal. Jika a+k=a+k′a+k=a+k', maka a⊕k=a⊕k′a\oplus k=a\oplus k' menurut Proposisi 8.1.24, sehingga k=k′k=k' menurut pembatalan kiri pada Proposisi 8.1.19(f).

    Kesalahan umum

    1. Memakai elipsis sebagai definisi. Tulisan {0,1,2,… }\{0,1,2,\dots\} tidak menyingkirkan struktur seperti Contoh 8.1.7(3). Yang menyingkirkannya adalah (P5).
    2. Menyamakan (P5) dengan skema orde pertama. Skema hanya menjamin induksi untuk himpunan yang dapat didefinisikan dalam bahasa yang dipilih. Teorema 8.1.11 memakai (P5) untuk himpunan yang didefinisikan melalui uu dan MM.
    3. Mendefinisikan pendahulu sebagai n−1n-1. Pengurangan belum tersedia. Pendahulu diperoleh dari Proposisi 8.1.4.
    4. Melemahkan pernyataan induksi pada bukti injektivitas. Jika mm ditetapkan sejak awal, langkah induksi memerlukan hipotesis untuk pasangan (n,k)(n,k) dengan kk pendahulu mm, dan pasangan itu tidak tercakup. Karena itu pernyataan induksi memuat "untuk setiap mm".
    5. Memakai komutativitas sebelum dibuktikan. Misalnya, menyimpulkan 0⊕a=a0\oplus a=a dari (J1). Persamaan (J1) hanya menyatakan a⊕0=aa\oplus 0=a.
    6. Menyimpulkan kesamaan dari isomorfisme. Contoh 8.1.13 isomorfik dengan N\mathbb{N}, tetapi himpunannya berbeda.
    7. Mengira barisan yang dipotong masih memenuhi aksioma. Contoh 8.1.7(4) memperlihatkan bahwa memotong barisan a,b,ca,b,c memaksa pelanggaran (P2), dan setiap cara menutupnya melanggar (P3) atau (P4).

    Latihan

    Latihan 8.1.26. Buktikan bahwa setiap n∈Nn\in\mathbb{N} dengan n≠0n\ne 0 dan n≠1n\ne 1 dapat ditulis sebagai n=S(S(k))n=S(S(k)) untuk tepat satu k∈Nk\in\mathbb{N}.

    Latihan 8.1.27. Buktikan bahwa S(S(n))≠nS(S(n))\ne n untuk semua n∈Nn\in\mathbb{N}.

    Latihan 8.1.28. Untuk setiap tripel berikut, tentukan aksioma (P1)–(P5) mana yang berlaku dan mana yang gagal. Huruf a,b,ca,b,c saling berbeda.

    • (a) M={a,b,c}M=\{a,b,c\}, e=ae=a, T(a)=bT(a)=b, T(b)=cT(b)=c, T(c)=aT(c)=a.
    • (b) M=NM=\mathbb{N}, e=1e=1, T=ST=S.
    • (c) M=NM=\mathbb{N}, e=0e=0, T(n)=S(S(n))T(n)=S(S(n)).

    Latihan 8.1.29. Misalkan M=N∖{0,1}M=\mathbb{N}\setminus\{0,1\}, e=2e=2, dan T(n)=S(n)T(n)=S(n) untuk n∈Mn\in M. Buktikan bahwa (M,e,T)(M,e,T) struktur Peano. Tentukan isomorfisme tunggal N→M\mathbb{N}\to M, lalu jelaskan mengapa isomorfisme itu bukan fungsi identitas dan mengapa M≠NM\ne\mathbb{N}.

    Latihan 8.1.30. Misalkan f:N→Mf:\mathbb{N}\to M bijeksi ke suatu himpunan MM. Definisikan e=f(0)e=f(0) dan T=f∘S∘f−1T=f\circ S\circ f^{-1}. Buktikan bahwa (M,e,T)(M,e,T) struktur Peano dan ff isomorfisme.

    Latihan 8.1.31. Tunjukkan di bagian mana bukti Teorema 8.1.11 menerapkan (P5) pada himpunan yang didefinisikan melalui uu atau MM. Jelaskan mengapa langkah itu tidak otomatis tersedia jika yang diasumsikan hanya skema induksi orde pertama.

    Latihan 8.1.32. Hitung 2⊕32\oplus 3 dan 3⊙23\odot 2 hanya dengan (J1), (J2), (K1), (K2), dan hasil yang sudah dibuktikan. Sebutkan dasar setiap langkah.

    Latihan 8.1.33. Buktikan untuk semua a,b∈Na,b\in\mathbb{N}:

    • (a) jika a⊕b=0a\oplus b=0, maka a=0a=0 dan b=0b=0;
    • (b) jika a⊕b=aa\oplus b=a, maka b=0b=0.

    Latihan 8.1.34. Buktikan 1⊙a=a1\odot a=a untuk semua a∈Na\in\mathbb{N} tanpa memakai komutativitas perkalian.

    Latihan 8.1.35. Misalkan ⊞:N×N→N\boxplus:\mathbb{N}\times\mathbb{N}\to\mathbb{N} sebarang fungsi dengan a⊞0=aa\boxplus 0=a dan a⊞S(b)=S(a⊞b)a\boxplus S(b)=S(a\boxplus b) untuk semua a,ba,b. Buktikan bahwa a⊞b=a⊕ba\boxplus b=a\oplus b untuk semua a,ba,b.

    Pembahasan

    Pembahasan Latihan 8.1.26.

    Keberadaan. Karena n≠0n\ne 0, Proposisi 8.1.4 memberi mm yang tunggal dengan n=S(m)n=S(m). Andaikan m=0m=0. Maka n=S(0)=1n=S(0)=1, dan ini bertentangan dengan hipotesis. Jadi m≠0m\ne 0, sehingga Proposisi 8.1.4 memberi kk dengan m=S(k)m=S(k). Akibatnya n=S(S(k))n=S(S(k)).

    Ketunggalan. Jika S(S(k))=S(S(k′))S(S(k))=S(S(k')), maka (P4) memberi S(k)=S(k′)S(k)=S(k'), lalu (P4) sekali lagi memberi k=k′k=k'.

    Pembahasan Latihan 8.1.27. Misalkan A={n∈N:S(S(n))≠n}A=\{n\in\mathbb{N}: S(S(n))\ne n\}.

    • Dasar. S(S(0))∈S[N]S(S(0))\in S[\mathbb{N}], sehingga S(S(0))≠0S(S(0))\ne 0 menurut (P3). Jadi 0∈A0\in A.
    • Langkah. Misalkan n∈An\in A, dan andaikan S(S(S(n)))=S(n)S(S(S(n)))=S(n). Menurut (P4), S(S(n))=nS(S(n))=n, dan ini bertentangan dengan n∈An\in A. Jadi S(n)∈AS(n)\in A.

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}.

    Pembahasan Latihan 8.1.28.

    (a) (P1) dan (P2) berlaku. (P3) gagal karena T(c)=a=eT(c)=a=e. (P4) berlaku karena nilai T(a)=bT(a)=b, T(b)=cT(b)=c, dan T(c)=aT(c)=a saling berbeda. (P5) berlaku: jika BB memuat aa dan tertutup, maka b=T(a)∈Bb=T(a)\in B dan c=T(b)∈Bc=T(b)\in B, sehingga B=MB=M.

    (b) (P1), (P2), dan (P4) berlaku. (P3) gagal karena 1=S(0)∈T[N]1=S(0)\in T[\mathbb{N}]. (P5) juga gagal. Himpunan B=N∖{0}B=\mathbb{N}\setminus\{0\} memuat 11, karena 1≠01\ne 0. Himpunan itu tertutup terhadap SS, karena S(n)≠0S(n)\ne 0. Namun 0∉B0\notin B, sehingga B≠NB\ne\mathbb{N}.

    (c) (P1) dan (P2) berlaku. (P3) berlaku karena S(S(n))∈S[N]S(S(n))\in S[\mathbb{N}] tidak sama dengan 00. (P4) berlaku karena TT adalah komposisi dua fungsi injektif. (P5) gagal. Ambil B=N∖{1}B=\mathbb{N}\setminus\{1\}. Maka 0∈B0\in B, karena 1≠01\ne 0. Selanjutnya, T(n)=1=S(0)T(n)=1=S(0) akan memberi S(n)=0S(n)=0 menurut (P4), dan ini bertentangan dengan (P3). Jadi T(n)≠1T(n)\ne 1 untuk semua nn, sehingga BB tertutup terhadap TT. Namun 1∉B1\notin B, sehingga B≠NB\ne\mathbb{N}.

    Pembahasan Latihan 8.1.29. Kita periksa kelima aksioma.

    • (P1) 2≠02\ne 0 dan 2≠12\ne 1 menurut uraian setelah Definisi 8.1.5. Jadi 2∈M2\in M.
    • (P2) Ambil n∈Mn\in M. Berlaku S(n)≠0S(n)\ne 0 menurut (P3). Andaikan S(n)=1=S(0)S(n)=1=S(0). Maka n=0n=0, padahal 0∉M0\notin M. Jadi S(n)∈MS(n)\in M.
    • (P3) Andaikan S(m)=2=S(1)S(m)=2=S(1). Maka m=1∉Mm=1\notin M. Jadi 2∉T[M]2\notin T[M].
    • (P4) TT adalah pembatasan fungsi injektif SS.
    • (P5) Misalkan B⊆MB\subseteq M memuat 22 dan tertutup terhadap TT. Ambil C={0,1}∪BC=\{0,1\}\cup B. Maka 0∈C0\in C. Selanjutnya, S(0)=1∈CS(0)=1\in C, S(1)=2∈B⊆CS(1)=2\in B\subseteq C, dan untuk n∈Bn\in B berlaku S(n)∈B⊆CS(n)\in B\subseteq C. Menurut (P5) pada N\mathbb{N}, C=NC=\mathbb{N}, sehingga M⊆BM\subseteq B dan B=MB=M.

    Ambil u(n)=S(S(n))u(n)=S(S(n)). Fungsi ini berkodomain MM: S(S(n))≠0S(S(n))\ne 0 menurut (P3), dan jika S(S(n))=1=S(0)S(S(n))=1=S(0), maka (P4) memberi S(n)=0S(n)=0, bertentangan dengan (P3). Jadi u(n)∈Mu(n)\in M. Fungsi ini homomorfisme: u(0)=S(1)=2=eu(0)=S(1)=2=e dan u(S(n))=S(S(S(n)))=T(u(n))u(S(n))=S(S(S(n)))=T(u(n)). Menurut Teorema 8.1.11, homomorfisme itu tunggal dan merupakan isomorfisme tunggal N→M\mathbb{N}\to M.

    Fungsi uu bukan identitas, karena u(0)=2≠0u(0)=2\ne 0. Himpunan MM juga berbeda dari N\mathbb{N}, karena 0∈N0\in\mathbb{N} tetapi 0∉M0\notin M. Kedua struktur isomorfik tetapi tidak sama secara literal.

    Pembahasan Latihan 8.1.30. Kita periksa kelima aksioma.

    • (P1) e=f(0)∈Me=f(0)\in M.
    • (P2) TT adalah komposisi fungsi f−1:M→Nf^{-1}:M\to\mathbb{N}, SS, dan ff, sehingga T:M→MT:M\to M.
    • (P3) Andaikan T(m)=eT(m)=e. Maka f(S(f−1(m)))=f(0)f(S(f^{-1}(m)))=f(0). Karena ff injektif, S(f−1(m))=0S(f^{-1}(m))=0, dan ini bertentangan dengan (P3) pada N\mathbb{N}.
    • (P4) TT adalah komposisi tiga fungsi injektif.
    • (P5) Misalkan B⊆MB\subseteq M memuat ee dan tertutup terhadap TT. Ambil A={n∈N:f(n)∈B}A=\{n\in\mathbb{N}: f(n)\in B\}. Maka 0∈A0\in A, karena f(0)=e∈Bf(0)=e\in B. Jika n∈An\in A, maka f(S(n))=f(S(f−1(f(n))))=T(f(n))∈Bf(S(n))=f(S(f^{-1}(f(n))))=T(f(n))\in B, sehingga S(n)∈AS(n)\in A. Menurut (P5) pada N\mathbb{N}, A=NA=\mathbb{N}. Akibatnya M=f[N]⊆BM=f[\mathbb{N}]\subseteq B, dengan kesamaan pertama karena ff surjektif.

    Terakhir, ff adalah homomorfisme bijektif: f(0)=ef(0)=e dan T(f(n))=f(S(n))T(f(n))=f(S(n)), seperti dihitung pada pemeriksaan (P5). Jadi ff isomorfisme.

    Pembahasan Latihan 8.1.31. Ada dua tempat.

    • Bukti surjektivitas, yaitu bagian (b), menerapkan (P5) pada MM untuk himpunan u[N]u[\mathbb{N}]. Himpunan itu didefinisikan melalui uu, yang bukan lambang bahasa {e,T}\{e,T\} atas MM.
    • Bukti injektivitas, yaitu bagian (c), menerapkan (P5) pada N\mathbb{N} untuk himpunan A={n∈N:∀m∈N (u(n)=u(m)⇒n=m)}A=\{n\in\mathbb{N}:\forall m\in\mathbb{N}\,(u(n)=u(m)\Rightarrow n=m)\}. Himpunan itu didefinisikan melalui uu dan unsur-unsur MM, yang bukan lambang bahasa {0,S}\{0,S\} atas N\mathbb{N}.

    Skema orde pertama hanya menyediakan aksioma induksi untuk formula bahasa yang dipilih. Karena itu, tanpa (P5), kita tidak berhak menyimpulkan u[N]=Mu[\mathbb{N}]=M atau A=NA=\mathbb{N} dari bukti ini.

    Pembahasan ini hanya menunjukkan bahwa bukti di atas tidak berlaku dengan skema saja. Pembahasan ini tidak membuktikan atau membantah keunikan struktur yang hanya memenuhi skema.

    Pembahasan Latihan 8.1.32.

    Penjumlahan.

    2⊕3=2⊕S(2)=(J2)S(2⊕2)=S(4)=5,2\oplus 3=2\oplus S(2)\overset{(J2)}{=}S(2\oplus 2)=S(4)=5,

    dengan 2⊕2=42\oplus 2=4 menurut Contoh 8.1.18 dan 5=S(4)5=S(4) menurut Definisi 8.1.5.

    Perkalian. Pertama, 3⊙1=33\odot 1=3 menurut Proposisi 8.1.23(b). Kemudian

    3⊙2=3⊙S(1)=(K2)(3⊙1)⊕3=3⊕3.3\odot 2=3\odot S(1)\overset{(K2)}{=}(3\odot 1)\oplus 3=3\oplus 3.

    Selanjutnya,

    3⊕3=3⊕S(2)=(J2)S(3⊕2).3\oplus 3=3\oplus S(2)\overset{(J2)}{=}S(3\oplus 2).

    Untuk 3⊕23\oplus 2:

    3⊕2=3⊕S(1)=(J2)S(3⊕1),3⊕1=S(3)=4,3\oplus 2=3\oplus S(1)\overset{(J2)}{=}S(3\oplus 1),\qquad 3\oplus 1=S(3)=4,

    dengan 3⊕1=S(3)3\oplus 1=S(3) menurut Proposisi 8.1.19(c). Jadi 3⊕2=S(4)=53\oplus 2=S(4)=5, dan

    3⊙2=S(5)=6.3\odot 2=S(5)=6.

    Pembahasan Latihan 8.1.33.

    (a) Andaikan b≠0b\ne 0. Tulis b=S(k)b=S(k) menurut Proposisi 8.1.4. Maka a⊕b=S(a⊕k)≠0a\oplus b=S(a\oplus k)\ne 0 menurut (J2) dan (P3), dan ini bertentangan dengan hipotesis. Jadi b=0b=0. Akibatnya 0=a⊕0=a0=a\oplus 0=a menurut (J1).

    (b) Menurut (J1), a⊕b=a=a⊕0a\oplus b=a=a\oplus 0. Pembatalan kiri pada Proposisi 8.1.19(f) memberi b=0b=0.

    Pembahasan Latihan 8.1.34. Misalkan A={a∈N:1⊙a=a}A=\{a\in\mathbb{N}:1\odot a=a\}.

    • Dasar. 1⊙0=01\odot 0=0 menurut (K1).
    • Langkah. Jika a∈Aa\in A, maka
    1⊙S(a)=(K2)(1⊙a)⊕1=a⊕1=S(a),1\odot S(a)\overset{(K2)}{=}(1\odot a)\oplus 1=a\oplus 1=S(a),

    dengan langkah terakhir menurut Proposisi 8.1.19(c).

    Menurut (P5), A=NA=\mathbb{N}.

    Pembahasan Latihan 8.1.35. Tetapkan aa. Fungsi b↦a⊞bb\mapsto a\boxplus b dan b↦a⊕bb\mapsto a\oplus b memenuhi nilai awal yang sama, yaitu aa. Keduanya juga memenuhi persamaan langkah yang sama dengan g=Sg=S. Menurut Lema 8.1.9, kedua fungsi itu sama. Karena aa sebarang, ⊞=⊕\boxplus=\oplus.

    Hal ini menegaskan bahwa (J1) dan (J2) menentukan penjumlahan secara tunggal. Argumen yang sama dipakai pada Proposisi 8.1.24.

    Bacaan lanjut

    • Gary Hardegree, Set Theory, Chapter 4, bagian 5, halaman tercetak 13–14. Sumber ini membahas nol, penerus, injektivitas penerus, dan induksi, serta membedakan skema induksi orde pertama dari perumusan orde kedua. https://courses.umass.edu/phil595s-gmh/extras/set%20theory/Set-Theory-Chap4.pdf

    8.2 Perluasan Menuju Bilangan Bulat Z\mathbb{Z} dan Rasional Q\mathbb{Q}

    A. Konstruksi bilangan bulat

    Di dalam N\mathbb{N}, persamaan x+3=1x+3=1 tidak mempunyai penyelesaian. Pengurangan a−ba-b hanya bermakna di N\mathbb{N} bila b≤ab\le a. Bagian ini membangun himpunan Z\mathbb{Z} yang memuat salinan N\mathbb{N}, dan di dalam Z\mathbb{Z} setiap unsur mempunyai lawan terhadap penjumlahan. Bahan bangunannya hanya N\mathbb{N} beserta penjumlahan, perkalian, dan urutannya.

    Gagasannya adalah memandang pasangan (a,b)(a,b) sebagai catatan formal untuk "aa dikurangi bb". Dua catatan (a,b)(a,b) dan (c,d)(c,d) seharusnya menyatakan bilangan yang sama bila a−b=c−da-b=c-d. Kesamaan itu belum boleh ditulis, karena pengurangan belum tersedia. Namun ia dapat ditulis ulang tanpa pengurangan sebagai a+d=b+ca+d=b+c. Rumusan inilah yang dipakai sebagai definisi.

    Sepanjang bagian ini, tiga tingkat objek dibedakan dengan tegas:

    1. pasangan wakil (a,b)∈N×N(a,b)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N};
    2. kelas [a,b][a,b], yaitu himpunan semua pasangan yang ekuivalen dengan (a,b)(a,b); kelas inilah unsur Z\mathbb{Z};
    3. bilangan bulat dalam notasi lazim, seperti −3-3 atau 22. Notasi ini baru dipakai setelah salinan N\mathbb{N} di dalam Z\mathbb{Z} diidentifikasi (Konvensi 8.2.19).

    Setiap butir diberi salah satu dari tiga status:

    • Definisi: objek atau notasi baru;
    • Hasil: pernyataan yang dibuktikan di sini;
    • Pinjaman: prasyarat yang dipakai tanpa diturunkan di bagian ini, dengan sumber statusnya disebut.

    A.0 Hukum bilangan asli yang dipakai

    Di sini N\mathbb{N} adalah struktur Peano (N,0,S)(\mathbb{N},0,S) dari Unit 8.1. Penjumlahan dan perkalian di N\mathbb{N} ditentukan oleh persamaan definisional

    a+0=a,a+S(b)=S(a+b),a⋅0=0,a⋅S(b)=a⋅b+a.a+0=a,\quad a+S(b)=S(a+b),\qquad a\cdot 0=0,\quad a\cdot S(b)=a\cdot b+a .

    Ditulis 1=S(0)1=S(0) dan abab untuk a⋅ba\cdot b. Angka 2,3,4,…2,3,4,\dots menyingkat S(1),S(2),S(3),…S(1),S(2),S(3),\dots. Kesamaan numerik seperti 2+3=52+3=5 atau 3⋅2=63\cdot2=6 diperoleh dengan menerapkan persamaan definisional di atas sejumlah berhingga kali.

    Dari 8.1 dipakai pula tiga fakta:

    • aksioma S(n)≠0S(n)\neq 0 untuk setiap nn;
    • hasil bahwa setiap n≠0n\neq 0 berbentuk n=S(m)n=S(m) untuk suatu mm;
    • perhitungan definisional n+1=n+S(0)=S(n+0)=S(n)n+1=n+S(0)=S(n+0)=S(n).

    Dibuktikan pada Unit 8.1 (Proposisi 8.1.19, kemudian diidentifikasi dengan operasi kerja pada Proposisi 8.1.24). Untuk semua a,b,c∈Na,b,c\in\mathbb{N}:

    • (N1) (a+b)+c=a+(b+c)(a+b)+c=a+(b+c);
    • (N2) a+b=b+aa+b=b+a;
    • (N3) a+0=a=0+aa+0=a=0+a;
    • (N4) jika a+c=b+ca+c=b+c, maka a=ba=b (pembatalan penjumlahan).

    Pinjaman (hukum aritmetika dasar N\mathbb{N} yang belum diturunkan). Untuk semua a,b,c∈Na,b,c\in\mathbb{N}:

    • (N5) (ab)c=a(bc)(ab)c=a(bc);
    • (N6) ab=baab=ba;
    • (N7) a(b+c)=ab+aca(b+c)=ab+ac;
    • (N8) urutan N\mathbb{N} total: a≤ba\le b atau b≤ab\le a. Di sini a≤ba\le b didefinisikan sebagai "ada k∈Nk\in\mathbb{N} sehingga b=a+kb=a+k".

    Beberapa akibat langsung dari daftar ini juga dipakai:

    • Distributivitas kanan (a+b)c=ac+bc(a+b)c=ac+bc diperoleh dari (N6) dan (N7).
    • 0⋅a=00\cdot a=0 diperoleh dari (N6) dan a⋅0=0a\cdot 0=0.
    • a⋅1=a⋅S(0)=a⋅0+a=0+a=aa\cdot 1=a\cdot S(0)=a\cdot 0+a=0+a=a menurut (N3), sehingga 1⋅a=a1\cdot a=a menurut (N6).

    Ditulis a<ba<b bila a≤ba\le b dan a≠ba\neq b.

    Konvensi penataan ulang. Karena (N1), (N2), dan (N5), tanda kurung dalam jumlah atau hasil kali di N\mathbb{N} dihilangkan. Hasil kali tiga faktor ditulis aceace.

    Setiap penataan ulang suku di bawah melibatkan paling banyak delapan suku. Karena itu, setiap penataan ulang merupakan rantai berhingga penerapan (N1), (N2), (N5), dan (N6) yang dapat ditulis eksplisit. Penataan ulang itu hanya menggunakan hukum N\mathbb{N}, tidak pernah hukum Z\mathbb{Z}.

    Hasil 8.2.1 (sifat urutan N\mathbb{N} yang diturunkan). Untuk semua a,b,c,k,l∈Na,b,c,k,l\in\mathbb{N}:

    • (a) 0≤a0\le a; relasi ≤\le refleksif, transitif, dan antisimetris;
    • (b) a≤ba\le b jika dan hanya jika a+c≤b+ca+c\le b+c; juga a<ba<b jika dan hanya jika a+c<b+ca+c<b+c;
    • (c) jika k≠0k\neq 0, maka 1≤k1\le k; selain itu a<ba<b jika dan hanya jika a+1≤ba+1\le b;
    • (d) jika k≠0k\neq 0 dan l≠0l\neq 0, maka kl≠0kl\neq 0;
    • (e) jika k+l=0k+l=0, maka k=0k=0 dan l=0l=0.

    Strategi. Setiap ketaksamaan diterjemahkan menjadi persamaan b=a+kb=a+k. Persamaan itu lalu diolah dengan (N1) sampai (N4) dan aksioma Peano. Butir (e) dibuktikan lebih dahulu karena dipakai pada (a).

    Bukti.

    (e) Andaikan l≠0l\neq0. Maka l=S(m)l=S(m) untuk suatu mm, sehingga k+l=S(k+m)≠0k+l=S(k+m)\neq0, kontradiksi. Jadi l=0l=0, dan k=k+0=k+l=0k=k+0=k+l=0.

    (a) Kita punya a=0+aa=0+a menurut (N3), jadi 0≤a0\le a. Dari a=a+0a=a+0 diperoleh a≤aa\le a.

    Untuk transitivitas, misalkan b=a+kb=a+k dan c=b+lc=b+l. Maka c=(a+k)+l=a+(k+l)c=(a+k)+l=a+(k+l) menurut (N1), jadi a≤ca\le c.

    Untuk antisimetri, misalkan b=a+kb=a+k dan a=b+la=b+l. Maka

    a+0=a=(a+k)+l=a+(k+l).a+0=a=(a+k)+l=a+(k+l).

    Menurut (N2), 0+a=(k+l)+a0+a=(k+l)+a. Lalu (N4) memberi k+l=0k+l=0, sehingga k=0k=0 menurut (e). Jadi b=a+0=ab=a+0=a.

    (b) Misalkan a≤ba\le b, yaitu b=a+kb=a+k. Maka b+c=(a+c)+kb+c=(a+c)+k menurut (N1) dan (N2), jadi a+c≤b+ca+c\le b+c.

    Sebaliknya, misalkan b+c=(a+c)+kb+c=(a+c)+k. Ruas kanan sama dengan (a+k)+c(a+k)+c, sehingga (N4) memberi b=a+kb=a+k.

    Untuk versi tegas, (N4) memberi a=ba=b jika dan hanya jika a+c=b+ca+c=b+c. Pernyataan ini digabung dengan versi tak tegas.

    (c) Jika k≠0k\neq 0, tulis k=S(j)=j+1=1+jk=S(j)=j+1=1+j; jadi 1≤k1\le k.

    Misalkan a<ba<b dan tulis b=a+kb=a+k. Maka k≠0k\neq0, sebab k=0k=0 memberi b=a+0=ab=a+0=a. Tulis k=1+jk=1+j. Maka b=(a+1)+jb=(a+1)+j menurut (N1), sehingga a+1≤ba+1\le b.

    Sebaliknya, misalkan b=(a+1)+j=a+S(j)b=(a+1)+j=a+S(j). Maka a≤ba\le b. Seandainya b=ab=a, maka a+0=a+S(j)a+0=a+S(j). Menurut (N2) dan (N4), 0=S(j)0=S(j), padahal ini mustahil. Jadi a<ba<b.

    (d) Tulis k=S(m)k=S(m) dan l=S(n)l=S(n). Maka

    kl=k⋅S(n)=kn+k=kn+S(m)=S(kn+m)≠0.■kl=k\cdot S(n)=kn+k=kn+S(m)=S(kn+m)\neq 0. \qquad\blacksquare

    A.1 Relasi ekuivalensi pada N×N\mathbb{N}\times\mathbb{N}

    Definisi 8.2.2. Untuk (a,b),(c,d)∈N×N(a,b),(c,d)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}, didefinisikan

    (a,b)∼(c,d)  ⟺  a+d=b+c.(a,b)\sim(c,d)\iff a+d=b+c .

    Definisi ini hanya memakai penjumlahan N\mathbb{N} dan kesamaan. Pengurangan tidak muncul.

    Hasil 8.2.3. Relasi ∼\sim adalah relasi ekuivalensi pada N×N\mathbb{N}\times\mathbb{N}.

    Strategi. Refleksivitas dan simetri langsung mengikuti dari (N2). Untuk transitivitas, kedua persamaan dijumlahkan sehingga muncul suku bersama dd. Suku itu lalu dibatalkan dengan (N4).

    Bukti.

    Refleksif. (a,b)∼(a,b)(a,b)\sim(a,b) karena a+b=b+aa+b=b+a menurut (N2).

    Simetris. Misalkan a+d=b+ca+d=b+c. Dengan (N2) dua kali,

    c+b=b+c=a+d=d+a.c+b=b+c=a+d=d+a.

    Jadi (c,d)∼(a,b)(c,d)\sim(a,b).

    Transitif. Misalkan (a,b)∼(c,d)(a,b)\sim(c,d) dan (c,d)∼(e,f)(c,d)\sim(e,f), yaitu a+d=b+ca+d=b+c dan c+f=d+ec+f=d+e. Maka

    (a+f)+d=(a+d)+f=(b+c)+f=b+(c+f)=b+(d+e)=(b+e)+d.(a+f)+d=(a+d)+f=(b+c)+f=b+(c+f)=b+(d+e)=(b+e)+d .

    Keterangan langkahnya:

    • langkah pertama dan kelima memakai (N1) dan (N2);
    • langkah ketiga memakai (N1);
    • langkah kedua dan keempat memakai kedua hipotesis.

    Pembatalan dd dengan (N4) memberi a+f=b+ea+f=b+e, yaitu (a,b)∼(e,f)(a,b)\sim(e,f). ■\blacksquare

    Definisi 8.2.4 (himpunan bilangan bulat). Untuk (a,b)∈N×N(a,b)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}, tulis [a,b][a,b] untuk kelas ekuivalensinya:

    [a,b]={(c,d)∈N×N:(c,d)∼(a,b)}.[a,b]=\{(c,d)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}:(c,d)\sim(a,b)\}.

    Untuk p=(a,b)p=(a,b) ditulis juga [p]=[a,b][p]=[a,b]. Didefinisikan

    Z={X∈P(N×N): ada (a,b)∈N×N dengan X=[a,b]}.\mathbb{Z}=\{X\in\mathcal{P}(\mathbb{N}\times\mathbb{N}):\ \text{ada }(a,b)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}\text{ dengan }X=[a,b]\}.

    Himpunan ini ada menurut aksioma pemisahan dan himpunan kuasa (Bab 3). Ia merupakan himpunan kuosien (N×N)/ ⁣∼(\mathbb{N}\times\mathbb{N})/\!\sim dalam arti Bab 4.

    Definisi ini tidak memilih wakil untuk setiap kelas. Suatu kelas adalah himpunan semua wakilnya.

    Pinjaman (Bab 4, hasil tentang kelas ekuivalensi). Untuk relasi ekuivalensi pada suatu himpunan berlaku tiga hal:

    • setiap kelas tidak kosong, karena (a,b)∈[a,b](a,b)\in[a,b];
    • [a,b]=[c,d][a,b]=[c,d] jika dan hanya jika (a,b)∼(c,d)(a,b)\sim(c,d);
    • jika (c,d)∈X(c,d)\in X dan XX suatu kelas, maka X=[c,d]X=[c,d].

    Hasil 8.2.5.

    • (a) [a,b]=[c,d][a,b]=[c,d] jika dan hanya jika a+d=b+ca+d=b+c.
    • (b) [a,b]=[a+n,b+n][a,b]=[a+n,b+n] untuk setiap n∈Nn\in\mathbb{N}.
    • (c) Kelas [0,0][0,0] tepat terdiri atas pasangan berkomponen sama: [0,0]={(n,n):n∈N}[0,0]=\{(n,n):n\in\mathbb{N}\}.

    Bukti.

    (a) Ini adalah hasil Bab 4 di atas, digabung dengan Definisi 8.2.2.

    (b) a+(b+n)=b+(a+n)a+(b+n)=b+(a+n) menurut (N1) dan (N2); lalu terapkan (a).

    (c) (a,b)∈[0,0](a,b)\in[0,0] jika dan hanya jika (a,b)∼(0,0)(a,b)\sim(0,0), yaitu a+0=b+0a+0=b+0. Menurut (N3), ini setara dengan a=ba=b. ■\blacksquare

    Contoh 8.2.6.

    • (i) [2,5]=[0,3][2,5]=[0,3], karena 2+3=5=5+02+3=5=5+0. Menurut Hasil 8.2.5(b) dan (N2), [0,3]=[n,n+3][0,3]=[n,n+3] untuk setiap nn. Jadi kelas ini memuat (0,3),(1,4),(2,5),(3,6),…(0,3),(1,4),(2,5),(3,6),\dots.
    • (ii) Kelas nol mempunyai tak hingga banyak wakil, misalnya (0,0)(0,0), (4,4)(4,4), dan (17,17)(17,17). Ketiganya merupakan wakil berbeda dari satu bilangan, bukan tiga bilangan.
    • (iii) [2,5]≠[5,2][2,5]\neq[5,2]. Syarat kesamaannya adalah 2+2=5+52+2=5+5, padahal 2+2=42+2=4, 5+5=105+5=10, dan 4≠104\neq 10.

    Pasangan (2,5)(2,5) dan (0,3)(0,3) adalah objek berbeda di N×N\mathbb{N}\times\mathbb{N}, tetapi kelasnya sama. Akibatnya, setiap operasi atau relasi pada Z\mathbb{Z} yang dirumuskan melalui wakil harus diperiksa bebas wakil terlebih dahulu.

    A.2 Operasi yang bebas wakil

    Hasil 8.2.7 (prinsip pendefinisian melalui wakil). Misalkan F:(N×N)×(N×N)→N×NF:(\mathbb{N}\times\mathbb{N})\times(\mathbb{N}\times\mathbb{N})\to\mathbb{N}\times\mathbb{N} adalah fungsi yang memenuhi

    p∼p′ dan q∼q′ ⟹ F(p,q)∼F(p′,q′).p\sim p'\ \text{dan}\ q\sim q'\ \Longrightarrow\ F(p,q)\sim F(p',q').

    Maka ada tepat satu fungsi ⊛:Z×Z→Z\circledast:\mathbb{Z}\times\mathbb{Z}\to\mathbb{Z} dengan [p]⊛[q]=[F(p,q)][p]\circledast[q]=[F(p,q)] untuk semua p,qp,q.

    Hal serupa berlaku untuk fungsi satu variabel G:N×N→N×NG:\mathbb{N}\times\mathbb{N}\to\mathbb{N}\times\mathbb{N} yang memenuhi p∼p′⇒G(p)∼G(p′)p\sim p'\Rightarrow G(p)\sim G(p').

    Bukti. Dengan pemisahan, bentuk

    Γ={((X,Y),W)∈(Z×Z)×Z: ada p∈X, q∈Y dengan F(p,q)∈W}.\Gamma=\{((X,Y),W)\in(\mathbb{Z}\times\mathbb{Z})\times\mathbb{Z}:\ \text{ada }p\in X,\ q\in Y\ \text{dengan}\ F(p,q)\in W\}.

    Γ\Gamma total. Ambil (X,Y)∈Z×Z(X,Y)\in\mathbb{Z}\times\mathbb{Z}. Kelas XX dan YY tidak kosong, jadi ada p∈Xp\in X dan q∈Yq\in Y. Maka ((X,Y),[F(p,q)])∈Γ((X,Y),[F(p,q)])\in\Gamma.

    Yang dipakai hanya keberadaan satu anggota untuk pasangan (X,Y)(X,Y) yang sedang ditinjau. Tidak ada fungsi pilihan atas semua kelas, sehingga aksioma pilihan tidak diperlukan.

    Γ\Gamma fungsional. Misalkan ((X,Y),W)((X,Y),W) dan ((X,Y),W′)((X,Y),W') di Γ\Gamma, dengan saksi p,qp,q dan p′,q′p',q'. Karena p,p′∈Xp,p'\in X, berlaku p∼p′p\sim p'; demikian pula q∼q′q\sim q'. Hipotesis memberi F(p,q)∼F(p′,q′)F(p,q)\sim F(p',q'). Karena F(p,q)∈WF(p,q)\in W dan F(p′,q′)∈W′F(p',q')\in W', kita peroleh

    W=[F(p,q)]=[F(p′,q′)]=W′.W=[F(p,q)]=[F(p',q')]=W'.

    Jadi Γ\Gamma adalah grafik suatu fungsi ⊛\circledast. Pasangan (([p],[q]),[F(p,q)])(([p],[q]),[F(p,q)]) termasuk Γ\Gamma dengan saksi p,qp,q, sehingga [p]⊛[q]=[F(p,q)][p]\circledast[q]=[F(p,q)].

    Untuk ketunggalan, setiap pasangan kelas berbentuk ([p],[q])([p],[q]). Karena itu, fungsi mana pun yang memenuhi rumus tersebut sama dengan ⊛\circledast.

    Untuk kasus satu variabel, bentuk dengan separasi

    Δ={(X,W)∈Z×Z:∃p∈X, G(p)∈W}.\Delta=\{(X,W)\in\mathbb{Z}\times\mathbb{Z}:\exists p\in X,\ G(p)\in W\}.

    Untuk setiap XX, ada p∈Xp\in X karena kelas tidak kosong; pasangan (X,[G(p)])(X,[G(p)]) berada dalam Δ\Delta, sehingga grafik total. Jika (X,W)(X,W) dan (X,W′)(X,W') mempunyai saksi p,p′∈Xp,p'\in X, maka p∼p′p\sim p', sehingga G(p)∼G(p′)G(p)\sim G(p') dan W=[G(p)]=[G(p′)]=W′W=[G(p)]=[G(p')]=W'. Jadi grafik bernilai tunggal. Fungsi bertipe (Z,Z,Δ)(\mathbb{Z},\mathbb{Z},\Delta) memenuhi rumus [p]↦[G(p)][p]\mapsto[G(p)]. Setiap fungsi yang memenuhi rumus itu sama pada semua kelas [p][p], sehingga tunggal. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.8 (penjumlahan bebas wakil). Jika (a,b)∼(a′,b′)(a,b)\sim(a',b') dan (c,d)∼(c′,d′)(c,d)\sim(c',d'), maka (a+c, b+d)∼(a′+c′, b′+d′)(a+c,\,b+d)\sim(a'+c',\,b'+d').

    Bukti. Hipotesisnya adalah a+b′=a′+ba+b'=a'+b dan c+d′=c′+dc+d'=c'+d. Maka

    (a+c)+(b′+d′)=(a+b′)+(c+d′)=(a′+b)+(c′+d)=(a′+c′)+(b+d).(a+c)+(b'+d')=(a+b')+(c+d')=(a'+b)+(c'+d)=(a'+c')+(b+d).

    Langkah pertama dan ketiga adalah penataan ulang dengan (N1) dan (N2). Langkah kedua memakai hipotesis. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.9 (negasi bebas wakil). Jika (a,b)∼(a′,b′)(a,b)\sim(a',b'), maka (b,a)∼(b′,a′)(b,a)\sim(b',a').

    Bukti. Dari a+b′=a′+ba+b'=a'+b dan (N2) diperoleh

    b+a′=a′+b=a+b′=b′+a.b+a'=a'+b=a+b'=b'+a.

    Ini tepat syarat (b,a)∼(b′,a′)(b,a)\sim(b',a'). ■\blacksquare

    Hasil 8.2.10 (perkalian bebas wakil). Untuk pasangan (a,b),(c,d)(a,b),(c,d) tulis

    P((a,b),(c,d))=(ac+bd, ad+bc).P\big((a,b),(c,d)\big)=(ac+bd,\ ad+bc).

    Dua pernyataan berlaku:

    • (i) jika (a,b)∼(a′,b′)(a,b)\sim(a',b'), maka P((a,b),(c,d))∼P((a′,b′),(c,d))P((a,b),(c,d))\sim P((a',b'),(c,d)) untuk setiap (c,d)(c,d);
    • (ii) jika (c,d)∼(c′,d′)(c,d)\sim(c',d'), maka P((a,b),(c,d))∼P((a,b),(c′,d′))P((a,b),(c,d))\sim P((a,b),(c',d')) untuk setiap (a,b)(a,b).

    Akibatnya, jika (a,b)∼(a′,b′)(a,b)\sim(a',b') dan (c,d)∼(c′,d′)(c,d)\sim(c',d'), maka P((a,b),(c,d))∼P((a′,b′),(c′,d′))P((a,b),(c,d))\sim P((a',b'),(c',d')).

    Strategi. Wakil diganti satu per satu. Pada setiap penggantian, suku-suku dikelompokkan agar faktor bersama c,dc,d (atau a,ba,b) dapat dikeluarkan dengan distributivitas di N\mathbb{N}. Hipotesis ∼\sim lalu dipakai di dalam kurung. Tidak ada pembatalan faktor.

    Bukti.

    (i) Hipotesisnya a+b′=a′+ba+b'=a'+b. Akibatnya juga b+a′=a′+b=a+b′b+a'=a'+b=a+b'. Harus ditunjukkan

    (ac+bd)+(a′d+b′c)=(ad+bc)+(a′c+b′d).(ac+bd)+(a'd+b'c)=(ad+bc)+(a'c+b'd).

    Dengan (N1), (N2), dan distributivitas kanan di N\mathbb{N}:

    (ac+bd)+(a′d+b′c)=(ac+b′c)+(bd+a′d)=(a+b′)c+(b+a′)d=(a′+b)c+(a+b′)d=a′c+bc+ad+b′d=(ad+bc)+(a′c+b′d).\begin{aligned} (ac+bd)+(a'd+b'c)&=(ac+b'c)+(bd+a'd)=(a+b')c+(b+a')d\\ &=(a'+b)c+(a+b')d=a'c+bc+ad+b'd=(ad+bc)+(a'c+b'd). \end{aligned}

    (ii) Hipotesisnya c+d′=c′+dc+d'=c'+d. Akibatnya juga d+c′=c′+d=c+d′d+c'=c'+d=c+d'. Harus ditunjukkan

    (ac+bd)+(ad′+bc′)=(ad+bc)+(ac′+bd′).(ac+bd)+(ad'+bc')=(ad+bc)+(ac'+bd').

    Dengan (N1), (N2), dan (N7):

    (ac+bd)+(ad′+bc′)=(ac+ad′)+(bd+bc′)=a(c+d′)+b(d+c′)=a(c′+d)+b(c+d′)=ac′+ad+bc+bd′=(ad+bc)+(ac′+bd′).\begin{aligned} (ac+bd)+(ad'+bc')&=(ac+ad')+(bd+bc')=a(c+d')+b(d+c')\\ &=a(c'+d)+b(c+d')=ac'+ad+bc+bd'=(ad+bc)+(ac'+bd'). \end{aligned}

    Akibat. Pernyataan (i) memberi P((a,b),(c,d))∼P((a′,b′),(c,d))P((a,b),(c,d))\sim P((a',b'),(c,d)). Pernyataan (ii), dengan (a′,b′)(a',b') di tempat (a,b)(a,b), memberi P((a′,b′),(c,d))∼P((a′,b′),(c′,d′))P((a',b'),(c,d))\sim P((a',b'),(c',d')). Transitivitas (Hasil 8.2.3) menggabungkan keduanya. ■\blacksquare

    Definisi 8.2.11 (operasi dan konstanta di Z\mathbb{Z}). Menurut Hasil 8.2.7 sampai 8.2.10, ada operasi tunggal pada Z\mathbb{Z} dengan

    [a,b]+[c,d]=[a+c, b+d],−[a,b]=[b,a],[a,b] [c,d]=[ac+bd, ad+bc].[a,b]+[c,d]=[a+c,\,b+d],\qquad -[a,b]=[b,a],\qquad [a,b]\,[c,d]=[ac+bd,\,ad+bc].

    Didefinisikan pula

    0Z=[0,0],1Z=[1,0].0_{\mathbb{Z}}=[0,0],\qquad 1_{\mathbb{Z}}=[1,0].

    Lambang ++ dan juxtaposisi di ruas kiri menyatakan operasi baru pada Z\mathbb{Z}. Di dalam kurung siku, lambang yang sama menyatakan operasi N\mathbb{N}. Jenis operand selalu menentukan maknanya: operand di ruas kiri berupa kelas, sedangkan operand di dalam kurung berupa bilangan asli.

    Contoh 8.2.12.

    (i) (−3)+5=2(-3)+5=2. Ambil wakil (0,3)(0,3) untuk "−3-3" dan (5,0)(5,0) untuk "55". Maka [0,3]+[5,0]=[5,3][0,3]+[5,0]=[5,3]. Karena 5+0=3+25+0=3+2, berlaku [5,3]=[2,0][5,3]=[2,0].

    Dengan wakil lain, yaitu (2,5)(2,5) dan (6,1)(6,1), diperoleh [2,5]+[6,1]=[8,6][2,5]+[6,1]=[8,6]. Kelas ini juga sama dengan [2,0][2,0], karena 8+0=6+28+0=6+2. Wakil berbeda memberi kelas hasil yang sama, sesuai Hasil 8.2.8.

    Penulisan −3-3, 55, dan 22 untuk kelas-kelas ini baru sah setelah Konvensi 8.2.19.

    (ii) Perkalian dengan wakil berbeda. Dengan wakil (2,5)(2,5) dan (1,3)(1,3):

    [2,5][1,3]=[2⋅1+5⋅3, 2⋅3+5⋅1]=[17,11].[2,5][1,3]=[2\cdot1+5\cdot3,\ 2\cdot3+5\cdot1]=[17,11].

    Dengan wakil (0,3)(0,3) dan (0,2)(0,2):

    [0,3][0,2]=[0⋅0+3⋅2, 0⋅2+3⋅0]=[6,0].[0,3][0,2]=[0\cdot0+3\cdot2,\ 0\cdot2+3\cdot0]=[6,0].

    Kedua kelas sama karena 17+0=11+617+0=11+6.

    A.3 Hukum aritmetika Z\mathbb{Z}

    Dalam butir A.3 sampai A.6, x=[a,b]x=[a,b], y=[c,d]y=[c,d], dan z=[e,f]z=[e,f] adalah unsur sebarang Z\mathbb{Z}. Wakilnya juga sebarang; ini sah karena semua operasi bebas wakil.

    Hasil 8.2.13 (hukum penjumlahan). Untuk semua x,y,z∈Zx,y,z\in\mathbb{Z}:

    • (a) x+y=y+xx+y=y+x;
    • (b) (x+y)+z=x+(y+z)(x+y)+z=x+(y+z);
    • (c) x+0Z=x=0Z+xx+0_{\mathbb{Z}}=x=0_{\mathbb{Z}}+x;
    • (d) x+(−x)=0Zx+(-x)=0_{\mathbb{Z}};
    • (e) jika x+y=0Zx+y=0_{\mathbb{Z}}, maka y=−xy=-x (lawan aditif tunggal);
    • (f) jika x+z=y+zx+z=y+z, maka x=yx=y.

    Bukti.

    (a) x+y=[a+c, b+d]=[c+a, d+b]=y+xx+y=[a+c,\,b+d]=[c+a,\,d+b]=y+x menurut (N2). Pasangan wakilnya sama persis.

    (b) (x+y)+z=[(a+c)+e, (b+d)+f]=[a+(c+e), b+(d+f)]=x+(y+z)(x+y)+z=[(a+c)+e,\,(b+d)+f]=[a+(c+e),\,b+(d+f)]=x+(y+z) menurut (N1).

    (c) x+0Z=[a+0, b+0]=[a,b]x+0_{\mathbb{Z}}=[a+0,\,b+0]=[a,b] dan 0Z+x=[0+a, 0+b]=[a,b]0_{\mathbb{Z}}+x=[0+a,\,0+b]=[a,b] menurut (N3).

    (d) x+(−x)=[a,b]+[b,a]=[a+b, b+a]x+(-x)=[a,b]+[b,a]=[a+b,\,b+a]. Menurut (N2), kedua komponennya sama. Jadi kelas ini adalah [0,0][0,0] menurut Hasil 8.2.5(c).

    (e) Gunakan (b), (c), dan (d):

    y=y+0Z=y+(x+(−x))=(y+x)+(−x)=0Z+(−x)=−x.y=y+0_{\mathbb{Z}}=y+(x+(-x))=(y+x)+(-x)=0_{\mathbb{Z}}+(-x)=-x .

    Langkah keempat memakai (a) dan hipotesis.

    (f) Rantai berikut memakai berturut-turut (c), (d), (b), hipotesis, (b), (d), dan (c):

    x=x+0Z=x+(z+(−z))=(x+z)+(−z)=(y+z)+(−z)=y+(z+(−z))=y+0Z=y.■x=x+0_{\mathbb{Z}}=x+(z+(-z))=(x+z)+(-z)=(y+z)+(-z)=y+(z+(-z))=y+0_{\mathbb{Z}}=y. \qquad\blacksquare

    Hasil 8.2.14 (hukum perkalian dan distributivitas). Untuk semua x,y,z∈Zx,y,z\in\mathbb{Z}:

    • (a) xy=yxxy=yx;
    • (b) (xy)z=x(yz)(xy)z=x(yz);
    • (c) x 1Z=x=1Z xx\,1_{\mathbb{Z}}=x=1_{\mathbb{Z}}\,x;
    • (d) x(y+z)=xy+xzx(y+z)=xy+xz dan (y+z)x=yx+zx(y+z)x=yx+zx.

    Bukti.

    (a) xy=[ac+bd, ad+bc]xy=[ac+bd,\,ad+bc] dan yx=[ca+db, cb+da]yx=[ca+db,\,cb+da]. Menurut (N6), ca=acca=ac dan db=bddb=bd. Menurut (N6) dan (N2), cb+da=bc+ad=ad+bccb+da=bc+ad=ad+bc. Jadi pasangan wakilnya sama.

    (b) Dari xy=[ac+bd, ad+bc]xy=[ac+bd,\,ad+bc], dengan distributivitas kanan dan (N5) di N\mathbb{N}:

    (xy)z=[(ac+bd)e+(ad+bc)f, (ac+bd)f+(ad+bc)e]=[ace+bde+adf+bcf, acf+bdf+ade+bce].(xy)z=\big[(ac+bd)e+(ad+bc)f,\ (ac+bd)f+(ad+bc)e\big] =\big[ace+bde+adf+bcf,\ acf+bdf+ade+bce\big].

    Dari yz=[ce+df, cf+de]yz=[ce+df,\,cf+de], dengan (N7) dan (N5):

    x(yz)=[a(ce+df)+b(cf+de), a(cf+de)+b(ce+df)]=[ace+adf+bcf+bde, acf+ade+bce+bdf].x(yz)=\big[a(ce+df)+b(cf+de),\ a(cf+de)+b(ce+df)\big] =\big[ace+adf+bcf+bde,\ acf+ade+bce+bdf\big].

    Komponen pertama kedua pasangan memuat suku yang sama, yaitu ace,bde,adf,bcface,bde,adf,bcf. Komponen kedua juga memuat suku yang sama, yaitu acf,bdf,ade,bceacf,bdf,ade,bce. Menurut (N1) dan (N2), kedua pasangan wakil sama, sehingga kelasnya sama.

    (c) x 1Z=[a,b][1,0]=[a⋅1+b⋅0, a⋅0+b⋅1]=[a+0, 0+b]=[a,b]x\,1_{\mathbb{Z}}=[a,b][1,0]=[a\cdot1+b\cdot0,\ a\cdot0+b\cdot1]=[a+0,\,0+b]=[a,b]. Bentuk 1Z x=x1_{\mathbb{Z}}\,x=x mengikuti dari (a).

    (d) Kita punya y+z=[c+e, d+f]y+z=[c+e,\,d+f]. Menurut (N7):

    x(y+z)=[a(c+e)+b(d+f), a(d+f)+b(c+e)]=[ac+ae+bd+bf, ad+af+bc+be].x(y+z)=\big[a(c+e)+b(d+f),\ a(d+f)+b(c+e)\big]=\big[ac+ae+bd+bf,\ ad+af+bc+be\big].

    Di pihak lain,

    xy+xz=[ac+bd, ad+bc]+[ae+bf, af+be]=[ac+bd+ae+bf, ad+bc+af+be].xy+xz=[ac+bd,\,ad+bc]+[ae+bf,\,af+be]=\big[ac+bd+ae+bf,\ ad+bc+af+be\big].

    Kedua pasangan menjadi sama setelah suku tengahnya ditukar dengan (N1) dan (N2). Distributivitas kanan mengikuti dari (a):

    (y+z)x=x(y+z)=xy+xz=yx+zx.■(y+z)x=x(y+z)=xy+xz=yx+zx. \qquad\blacksquare

    Hasil 8.2.15. 0Z≠1Z0_{\mathbb{Z}}\neq 1_{\mathbb{Z}}.

    Bukti. Menurut Hasil 8.2.5(a), [0,0]=[1,0][0,0]=[1,0] jika dan hanya jika 0+0=0+10+0=0+1, yaitu 0=1=S(0)0=1=S(0). Ini mustahil karena 00 bukan penerus. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.13 sampai 8.2.15 menyatakan bahwa (Z,+,⋅,0Z,1Z)(\mathbb{Z},+,\cdot,0_{\mathbb{Z}},1_{\mathbb{Z}}) adalah ring komutatif dengan satuan dan 0Z≠1Z0_{\mathbb{Z}}\neq1_{\mathbb{Z}}. Setiap hukumnya telah diperiksa melalui wakil, bukan disimpulkan dari nama "ring".

    Hasil 8.2.16 (akibat yang dipakai berulang). Untuk semua x,y∈Zx,y\in\mathbb{Z}:

    • (a) x 0Z=0Zx\,0_{\mathbb{Z}}=0_{\mathbb{Z}};
    • (b) x(−y)=−(xy)=(−x)yx(-y)=-(xy)=(-x)y;
    • (c) (−1Z) x=−x(-1_{\mathbb{Z}})\,x=-x;
    • (d) −(−x)=x-(-x)=x;
    • (e) −(x+y)=(−x)+(−y)-(x+y)=(-x)+(-y);
    • (f) (−x)(−y)=xy(-x)(-y)=xy.

    Bukti.

    (a) [a,b][0,0]=[a⋅0+b⋅0, a⋅0+b⋅0]=[0,0][a,b][0,0]=[a\cdot0+b\cdot0,\ a\cdot0+b\cdot0]=[0,0].

    (b) x(−y)=[a,b][d,c]=[ad+bc, ac+bd]x(-y)=[a,b][d,c]=[ad+bc,\ ac+bd], dan kelas ini sama dengan −[ac+bd, ad+bc]=−(xy)-[ac+bd,\ ad+bc]=-(xy). Bentuk kedua diperoleh dari Hasil 8.2.14(a):

    (−x)y=y(−x)=−(yx)=−(xy).(-x)y=y(-x)=-(yx)=-(xy).

    (c) Karena −1Z=[0,1]-1_{\mathbb{Z}}=[0,1],

    [0,1][a,b]=[0⋅a+1⋅b, 0⋅b+1⋅a]=[b,a]=−x.[0,1][a,b]=[0\cdot a+1\cdot b,\ 0\cdot b+1\cdot a]=[b,a]=-x.

    (d) −(−[a,b])=−[b,a]=[a,b]-(-[a,b])=-[b,a]=[a,b].

    (e) −(x+y)=−[a+c, b+d]=[b+d, a+c]=[b,a]+[d,c]=(−x)+(−y)-(x+y)=-[a+c,\,b+d]=[b+d,\,a+c]=[b,a]+[d,c]=(-x)+(-y).

    (f) (−x)(−y)=[b,a][d,c]=[bd+ac, bc+ad]=[ac+bd, ad+bc]=xy(-x)(-y)=[b,a][d,c]=[bd+ac,\ bc+ad]=[ac+bd,\ ad+bc]=xy menurut (N2). ■\blacksquare

    Definisi 8.2.17. Didefinisikan pengurangan x−y=x+(−y)x-y=x+(-y) untuk semua x,y∈Zx,y\in\mathbb{Z}.

    Pengurangan di Z\mathbb{Z} adalah operasi total. Berbeda dengan N\mathbb{N}, tidak diperlukan syarat bahwa pengurangnya tidak lebih besar.

    A.4 Penyisipan N\mathbb{N} ke dalam Z\mathbb{Z}

    Hasil 8.2.18. Fungsi i:N→Zi:\mathbb{N}\to\mathbb{Z} dengan i(n)=[n,0]i(n)=[n,0] memenuhi:

    • (a) ii injektif;
    • (b) i(m+n)=i(m)+i(n)i(m+n)=i(m)+i(n) dan i(mn)=i(m) i(n)i(mn)=i(m)\,i(n);
    • (c) i(0)=0Zi(0)=0_{\mathbb{Z}} dan i(1)=1Zi(1)=1_{\mathbb{Z}};
    • (d) [a,b]=i(a)−i(b)[a,b]=i(a)-i(b) untuk setiap (a,b)∈N×N(a,b)\in\mathbb{N}\times\mathbb{N}.

    Bukti.

    (a) Misalkan [m,0]=[n,0][m,0]=[n,0]. Maka m+0=0+nm+0=0+n, sehingga m=nm=n menurut (N3).

    (b) Untuk penjumlahan,

    i(m)+i(n)=[m+n, 0+0]=[m+n,0]=i(m+n).i(m)+i(n)=[m+n,\,0+0]=[m+n,0]=i(m+n).

    Untuk perkalian,

    i(m) i(n)=[m,0][n,0]=[mn+0⋅0, m⋅0+0⋅n]=[mn+0, 0+0]=[mn,0]=i(mn).i(m)\,i(n)=[m,0][n,0]=[mn+0\cdot0,\ m\cdot0+0\cdot n]=[mn+0,\ 0+0]=[mn,0]=i(mn).

    (c) Ini langsung dari definisi 0Z0_{\mathbb{Z}} dan 1Z1_{\mathbb{Z}}.

    (d) i(a)−i(b)=[a,0]+[0,b]=[a+0, 0+b]=[a,b]i(a)-i(b)=[a,0]+[0,b]=[a+0,\,0+b]=[a,b]. ■\blacksquare

    Fungsi ii tidak surjektif. Misalnya, [0,1]≠[n,0][0,1]\neq[n,0] untuk setiap nn. Kesamaan itu berarti 0+0=1+n0+0=1+n, yaitu n+1=0n+1=0, padahal n+1=S(n)≠0n+1=S(n)\neq0.

    Konvensi 8.2.19 (identifikasi). Mulai sekarang, unsur i(n)i(n) ditulis nn, sehingga 00 dan 11 menyatakan 0Z0_{\mathbb{Z}} dan 1Z1_{\mathbb{Z}}. Pernyataan "N⊆Z\mathbb{N}\subseteq\mathbb{Z}" berarti i[N]⊆Zi[\mathbb{N}]\subseteq\mathbb{Z}. Notasi −n-n menyatakan −i(n)=[0,n]-i(n)=[0,n].

    Kelas [n,0][n,0] adalah himpunan pasangan; konstruksi ini tidak mengasumsikan bahwa kelas tersebut identik secara literal dengan kode himpunan bagi nn. Inklusi yang digunakan adalah identifikasi melalui ii.

    Identifikasi ini sah karena Hasil 8.2.18 menjamin bahwa ii injektif serta mempertahankan 00, 11, penjumlahan, dan perkalian. Hasil 8.2.27 akan menambahkan bahwa ii juga mempertahankan urutan. Hasil 8.2.18(d) membenarkan bacaan intuitif [a,b]=a−b[a,b]=a-b.

    A.5 Bentuk bertanda, tanpa pembagi nol, dan pembatalan

    Hasil 8.2.20 (bentuk bertanda).

    • (a) Untuk setiap x∈Zx\in\mathbb{Z} ada k∈Nk\in\mathbb{N}, mungkin k=0k=0, dengan x=[k,0]x=[k,0] atau x=[0,k]x=[0,k].

    • (b) Untuk setiap x∈Zx\in\mathbb{Z}, tepat satu dari tiga hal berikut berlaku:

      • x=[k,0]x=[k,0] untuk suatu k∈Nk\in\mathbb{N} dengan k≠0k\neq0;
      • x=0x=0;
      • x=[0,k]x=[0,k] untuk suatu k∈Nk\in\mathbb{N} dengan k≠0k\neq0.

      Bilangan kk dalam kasus pertama atau ketiga tunggal.

    • (c) Akibatnya, Z=N∪{−k:k∈N}\mathbb{Z}=\mathbb{N}\cup\{-k:k\in\mathbb{N}\}, dan kedua bagian beririsan tepat di {0}\{0\}.

    Strategi. Keberadaan bentuk diperoleh dari totalitas (N8). Ketunggalannya diperoleh dari kriteria kesamaan kelas (Hasil 8.2.5(a)).

    Bukti.

    (a) Misalkan x=[a,b]x=[a,b]. Menurut (N8), b≤ab\le a atau a≤ba\le b.

    • Jika b≤ab\le a, tulis a=b+ka=b+k. Maka (a,b)∼(k,0)(a,b)\sim(k,0) karena a+0=b+ka+0=b+k, sehingga x=[k,0]x=[k,0].
    • Jika a≤ba\le b, tulis b=a+kb=a+k. Maka (a,b)∼(0,k)(a,b)\sim(0,k) karena a+k=b+0a+k=b+0, sehingga x=[0,k]x=[0,k].

    (b) Keberadaan. Menurut (a), x=[k,0]x=[k,0] atau x=[0,k]x=[0,k]. Jika k=0k=0, kedua bentuk sama dengan [0,0]=0[0,0]=0. Jika k≠0k\neq0, kita berada pada kasus pertama atau ketiga.

    Ketunggalan. Tiga kesamaan berikut diperiksa dengan Hasil 8.2.5(a):

    • [k,0]=[l,0][k,0]=[l,0] berarti k+0=0+lk+0=0+l, jadi k=lk=l;
    • [0,k]=[0,l][0,k]=[0,l] berarti 0+l=k+00+l=k+0, jadi k=lk=l;
    • [k,0]=[0,l][k,0]=[0,l] berarti k+l=0+0=0k+l=0+0=0, jadi k=l=0k=l=0 menurut Hasil 8.2.1(e).

    Kesamaan pertama dan kedua menunjukkan bahwa kk tunggal. Kesamaan ketiga, bersama kasus k=0k=0 atau l=0l=0 pada dua kesamaan pertama, menunjukkan bahwa ketiga kasus saling lepas.

    (c) Menurut (a) dan Konvensi 8.2.19, setiap xx sama dengan [k,0]=k[k,0]=k atau [0,k]=−k[0,k]=-k untuk suatu k∈Nk\in\mathbb{N}. Jika suatu unsur termasuk kedua bagian, maka [k,0]=[0,l][k,0]=[0,l] untuk suatu k,l∈Nk,l\in\mathbb{N}. Menurut butir ketiga ketunggalan, k=l=0k=l=0, sehingga unsur itu adalah 00. ■\blacksquare

    Bentuk bertanda memberi wakil kanonik (k,0)(k,0) atau (0,k)(0,k) bagi setiap kelas. Aksioma pilihan tidak diperlukan, karena wakil itu ditentukan secara tunggal. Namun wakil kanonik ini adalah hasil yang baru diperoleh di sini. Ia tidak dipakai untuk mendefinisikan operasi; operasi telah didefinisikan sebelumnya untuk wakil sebarang.

    Hasil 8.2.21 (aturan tanda dan ketiadaan pembagi nol). Untuk k,l∈Nk,l\in\mathbb{N}:

    [k,0][l,0]=[kl,0],[k,0][0,l]=[0,kl],[0,k][l,0]=[0,kl],[0,k][0,l]=[kl,0].[k,0][l,0]=[kl,0],\quad [k,0][0,l]=[0,kl],\quad [0,k][l,0]=[0,kl],\quad [0,k][0,l]=[kl,0].

    Akibatnya, untuk x,y∈Zx,y\in\mathbb{Z}, jika xy=0xy=0 maka x=0x=0 atau y=0y=0.

    Bukti. Keempat rumus dihitung dari definisi perkalian, dengan u⋅0=0⋅u=0u\cdot0=0\cdot u=0 dan (N3):

    [k,0][l,0]=[kl+0⋅0, k⋅0+0⋅l]=[kl,0],[k,0][0,l]=[k⋅0+0⋅l, kl+0⋅0]=[0,kl],[0,k][l,0]=[0⋅l+k⋅0, 0⋅0+kl]=[0,kl],[0,k][0,l]=[0⋅0+kl, 0⋅l+k⋅0]=[kl,0].\begin{aligned} [k,0][l,0]&=[kl+0\cdot0,\ k\cdot0+0\cdot l]=[kl,0],\\ [k,0][0,l]&=[k\cdot0+0\cdot l,\ kl+0\cdot0]=[0,kl],\\ [0,k][l,0]&=[0\cdot l+k\cdot0,\ 0\cdot0+kl]=[0,kl],\\ [0,k][0,l]&=[0\cdot0+kl,\ 0\cdot l+k\cdot0]=[kl,0]. \end{aligned}

    Sekarang misalkan xy=0xy=0. Menurut Hasil 8.2.20(a), tulis x=[k,0]x=[k,0] atau x=[0,k]x=[0,k], dan y=[l,0]y=[l,0] atau y=[0,l]y=[0,l], dengan k,l∈Nk,l\in\mathbb{N} yang boleh bernilai 00.

    Dalam keempat kasus, xyxy berbentuk [kl,0][kl,0] atau [0,kl][0,kl]. Menurut Hasil 8.2.5(a), kedua kelas itu sama dengan [0,0][0,0] jika dan hanya jika kl=0kl=0. Jadi kl=0kl=0.

    Pasangan (a,b) dan relasi a + d = b + cUntuk: Bab 8, Unit 8.2 bagian A (Definisi 8.2.2, Hasil 8.2.5, Contoh 8.2.6; operasi Hasil 8.2.8–8.2.10, Contoh 8.2.12, M08-01)

    Menurut kontraposisi Hasil 8.2.1(d), k=0k=0 atau l=0l=0. Karena itu x=0x=0 atau y=0y=0. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.22 (pembatalan perkalian). Jika d,x,y∈Zd,x,y\in\mathbb{Z}, d≠0d\neq0, dan dx=dydx=dy, maka x=yx=y.

    Bukti. Menurut Hasil 8.2.14(d), 8.2.16(b), dan 8.2.13(d),

    d(x−y)=dx+d(−y)=dx−dy=dy−dy=0.d(x-y)=dx+d(-y)=dx-dy=dy-dy=0.

    Karena d≠0d\neq0, Hasil 8.2.21 memberi x−y=0x-y=0. Dengan Hasil 8.2.13(c), (a), (d), dan (b),

    x=x+0=x+((−y)+y)=(x+(−y))+y=0+y=y.■x=x+0=x+((-y)+y)=(x+(-y))+y=0+y=y. \qquad\blacksquare

    Hipotesis d≠0d\neq0 tidak dapat dihapus: 0⋅2=0⋅50\cdot2=0\cdot5, padahal 2≠52\neq5.

    Bagian B memerlukan hasil ini untuk membuktikan transitivitas relasi pecahan. Karena hasil ini dibuktikan di Z\mathbb{Z}, ia tidak bergantung pada konstruksi Q\mathbb{Q}.

    Contoh 8.2.23.

    (i) Menurut aturan tanda keempat,

    (−3)(−2)=[0,3][0,2]=[6,0]=6.(-3)(-2)=[0,3][0,2]=[6,0]=6.

    Perhitungan yang sama dengan wakil lain sudah diberikan pada Contoh 8.2.12(ii).

    (ii) Kasus nol. Untuk x=[a,b]x=[a,b] sebarang,

    x⋅[4,4]=[a⋅4+b⋅4, a⋅4+b⋅4].x\cdot[4,4]=[a\cdot4+b\cdot4,\ a\cdot4+b\cdot4].

    Kedua komponennya sama, sehingga kelas ini adalah 00 menurut Hasil 8.2.5(c). Ini sesuai Hasil 8.2.16(a), meskipun wakil nol yang dipakai adalah (4,4)(4,4). Juga −0=−[0,0]=[0,0]=0-0=-[0,0]=[0,0]=0.

    A.6 Urutan pada Z\mathbb{Z}

    Definisi 8.2.24. Didefinisikan

    [a,b]≤Z[c,d]  ⟺  a+d≤c+b(urutan di N).[a,b]\le_{\mathbb{Z}}[c,d]\iff a+d\le c+b\quad(\text{urutan di }\mathbb{N}).

    Ditulis x<Zyx<_{\mathbb{Z}}y bila x≤Zyx\le_{\mathbb{Z}}y dan x≠yx\neq y.

    Hasil 8.2.25 (bebas wakil). Misalkan (a,b)∼(a′,b′)(a,b)\sim(a',b') dan (c,d)∼(c′,d′)(c,d)\sim(c',d'). Jika a+d≤c+ba+d\le c+b, maka a′+d′≤c′+b′a'+d'\le c'+b'.

    Karena ∼\sim simetris, implikasi sebaliknya juga berlaku. Jadi Definisi 8.2.24 menentukan relasi pada Z\mathbb{Z}, bukan sekadar relasi pada pasangan wakil.

    Bukti. Hipotesisnya a+b′=a′+ba+b'=a'+b dan c+d′=c′+dc+d'=c'+d. Tambahkan b′+d′b'+d' pada kedua ruas. Menurut Hasil 8.2.1(b),

    (a+d)+(b′+d′)≤(c+b)+(b′+d′).(a+d)+(b'+d')\le(c+b)+(b'+d').

    Ruas kiri ditata ulang dengan (N1) dan (N2), lalu hipotesis dipakai:

    (a+b′)+(d+d′)=(a′+b)+(d+d′)=(a′+d′)+(b+d).(a+b')+(d+d')=(a'+b)+(d+d')=(a'+d')+(b+d).

    Ruas kanan diolah dengan cara yang sama:

    (c+d′)+(b+b′)=(c′+d)+(b+b′)=(c′+b′)+(b+d).(c+d')+(b+b')=(c'+d)+(b+b')=(c'+b')+(b+d).

    Jadi (a′+d′)+(b+d)≤(c′+b′)+(b+d)(a'+d')+(b+d)\le(c'+b')+(b+d). Arah kebalikan Hasil 8.2.1(b) membatalkan b+db+d, sehingga a′+d′≤c′+b′a'+d'\le c'+b'. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.26. Relasi ≤Z\le_{\mathbb{Z}} adalah urutan total pada Z\mathbb{Z}, yaitu refleksif, antisimetris, transitif, dan setiap dua unsur dapat dibandingkan.

    Bukti.

    Refleksif. [a,b]≤Z[a,b][a,b]\le_{\mathbb{Z}}[a,b] karena a+b≤a+ba+b\le a+b.

    Antisimetris. Dari a+d≤c+ba+d\le c+b dan c+b≤a+dc+b\le a+d, antisimetri di N\mathbb{N} memberi a+d=c+b=b+ca+d=c+b=b+c. Jadi [a,b]=[c,d][a,b]=[c,d].

    Transitif. Misalkan a+d≤c+ba+d\le c+b dan c+f≤e+dc+f\le e+d. Tambahkan ff pada ketaksamaan pertama, dan bb pada ketaksamaan kedua. Menurut Hasil 8.2.1(b),

    a+d+f≤c+b+f=(c+f)+b≤(e+d)+b.a+d+f\le c+b+f=(c+f)+b\le(e+d)+b .

    Transitivitas di N\mathbb{N} dan penataan ulang memberi (a+f)+d≤(e+b)+d(a+f)+d\le(e+b)+d. Pembatalan dd dengan Hasil 8.2.1(b) memberi a+f≤e+ba+f\le e+b, yaitu [a,b]≤Z[e,f][a,b]\le_{\mathbb{Z}}[e,f].

    Total. Menurut (N8), a+d≤c+ba+d\le c+b atau c+b≤a+dc+b\le a+d. Ini berarti x≤Zyx\le_{\mathbb{Z}}y atau y≤Zxy\le_{\mathbb{Z}}x. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.27 (kompatibilitas dengan penjumlahan; penyisipan mempertahankan urutan). Untuk semua x,y,z∈Zx,y,z\in\mathbb{Z} dan m,n∈Nm,n\in\mathbb{N}:

    • (a) x≤Zyx\le_{\mathbb{Z}}y jika dan hanya jika x+z≤Zy+zx+z\le_{\mathbb{Z}}y+z; demikian pula untuk <Z<_{\mathbb{Z}};
    • (b) x≤Zyx\le_{\mathbb{Z}}y jika dan hanya jika 0≤Zy−x0\le_{\mathbb{Z}}y-x; demikian pula untuk <Z<_{\mathbb{Z}};
    • (c) i(m)≤Zi(n)i(m)\le_{\mathbb{Z}}i(n) jika dan hanya jika m≤nm\le n.

    Bukti.

    (a) Kita punya x+z=[a+e, b+f]x+z=[a+e,\,b+f] dan y+z=[c+e, d+f]y+z=[c+e,\,d+f]. Dengan (N1) dan (N2),

    (a+e)+(d+f)=(a+d)+(e+f)dan(c+e)+(b+f)=(c+b)+(e+f).(a+e)+(d+f)=(a+d)+(e+f)\qquad\text{dan}\qquad(c+e)+(b+f)=(c+b)+(e+f).

    Menurut Hasil 8.2.1(b), (a+d)+(e+f)≤(c+b)+(e+f)(a+d)+(e+f)\le(c+b)+(e+f) jika dan hanya jika a+d≤c+ba+d\le c+b.

    Untuk versi tegas, Hasil 8.2.13(f) dan substitusi memberi x+z=y+zx+z=y+z jika dan hanya jika x=yx=y.

    (b) Terapkan (a) dengan z=−xz=-x. Ruas kiri menjadi x+(−x)=0x+(-x)=0, dan ruas kanan menjadi y+(−x)=y−xy+(-x)=y-x.

    (c) [m,0]≤Z[n,0][m,0]\le_{\mathbb{Z}}[n,0] jika dan hanya jika m+0≤n+0m+0\le n+0, yaitu m≤nm\le n. ■\blacksquare

    Menurut Hasil 8.2.27(c), urutan Z\mathbb{Z} yang dibatasi pada salinan N\mathbb{N} sama dengan urutan N\mathbb{N}. Karena itu, mulai sekarang indeks pada ≤Z\le_{\mathbb{Z}} dan <Z<_{\mathbb{Z}} dihilangkan.

    Hasil 8.2.28 (unsur positif dan nonnegatif). Untuk x=[a,b]∈Zx=[a,b]\in\mathbb{Z}:

    • (a) 0≤x0\le x jika dan hanya jika b≤ab\le a, jika dan hanya jika x=[k,0]x=[k,0] untuk suatu k∈Nk\in\mathbb{N}. Jadi {x∈Z:0≤x}\{x\in\mathbb{Z}:0\le x\} tepat sama dengan salinan N\mathbb{N}.
    • (b) 0<x0<x jika dan hanya jika x=[k,0]x=[k,0] dengan k≠0k\neq0.
    • (c) x<0x<0 jika dan hanya jika x=[0,k]x=[0,k] dengan k≠0k\neq0.
    • (d) Untuk setiap xx, tepat satu dari x<0x<0, x=0x=0, dan 0<x0<x berlaku.

    Bukti.

    (a) [0,0]≤[a,b][0,0]\le[a,b] jika dan hanya jika 0+b≤a+00+b\le a+0, yaitu b≤ab\le a.

    Jika a=b+ka=b+k, maka [a,b]=[k,0][a,b]=[k,0], seperti pada bukti Hasil 8.2.20(a). Sebaliknya, [0,0]≤[k,0][0,0]\le[k,0] berarti 0≤k0\le k, dan ini benar menurut Hasil 8.2.1(a).

    (b) Untuk arah maju, (a) memberi x=[k,0]x=[k,0]. Karena x≠0=[0,0]x\neq0=[0,0], haruslah k≠0k\neq0.

    Untuk arah balik, (a) memberi 0≤[k,0]0\le[k,0]. Selain itu, [k,0]≠[0,0][k,0]\neq[0,0] karena k≠0k\neq0.

    (c) [a,b]≤[0,0][a,b]\le[0,0] jika dan hanya jika a+0≤0+ba+0\le0+b, yaitu a≤ba\le b. Jika b=a+kb=a+k, maka [a,b]=[0,k][a,b]=[0,k]. Selebihnya serupa dengan (b).

    (d) Ini mengikuti dari (b), (c), dan Hasil 8.2.20(b). ■\blacksquare

    Hasil 8.2.29 (perkalian dan urutan). Untuk x,y,z∈Zx,y,z\in\mathbb{Z}:

    • (a) jika 0<x0<x dan 0<y0<y, maka 0<xy0<xy;
    • (b) jika 0≤x0\le x dan 0≤y0\le y, maka 0≤xy0\le xy;
    • (c) jika x≤yx\le y dan 0≤z0\le z, maka xz≤yzxz\le yz;
    • (d) jika x<yx<y dan 0<z0<z, maka xz<yzxz<yz;
    • (e) jika 0<z0<z, maka x<yx<y jika dan hanya jika xz<yzxz<yz, dan x≤yx\le y jika dan hanya jika xz≤yzxz\le yz.

    Bukti.

    (a) dan (b): Menurut Hasil 8.2.28(a), tulis x=[k,0]x=[k,0] dan y=[l,0]y=[l,0]. Maka xy=[kl,0]xy=[kl,0] menurut Hasil 8.2.21, sehingga 0≤xy0\le xy. Jika k≠0k\neq0 dan l≠0l\neq0, maka kl≠0kl\neq0 menurut Hasil 8.2.1(d), sehingga 0<xy0<xy.

    (c) Menurut Hasil 8.2.27(b), 0≤y−x0\le y-x. Distributivitas dan Hasil 8.2.16(b) memberi

    (y−x)z=yz+(−x)z=yz−xz.(y-x)z=yz+(-x)z=yz-xz.

    Menurut (b), 0≤yz−xz0\le yz-xz. Menurut Hasil 8.2.27(b), ini berarti xz≤yzxz\le yz.

    (d) Dengan cara yang sama, 0<y−x0<y-x dan 0<z0<z. Maka (a) memberi 0<yz−xz0<yz-xz, sehingga xz<yzxz<yz menurut Hasil 8.2.27(b).

    (e) Arah maju adalah (c), dengan 0≤z0\le z, dan (d).

    Untuk arah balik versi tegas, misalkan xz<yzxz<yz tetapi bukan x<yx<y. Menurut totalitas (Hasil 8.2.26), y≤xy\le x. Maka (c) memberi yz≤xzyz\le xz. Bersama xz≤yzxz\le yz, antisimetri memberi xz=yzxz=yz, bertentangan dengan xz≠yzxz\neq yz.

    Untuk arah balik versi tak tegas, misalkan xz≤yzxz\le yz tetapi bukan x≤yx\le y. Menurut totalitas, y≤xy\le x, dan y≠xy\neq x karena x≤xx\le x. Jadi y<xy<x, sehingga (d) memberi yz<xzyz<xz. Bersama xz≤yzxz\le yz, antisimetri memberi xz=yzxz=yz, bertentangan dengan yz≠xzyz\neq xz. ■\blacksquare

    Hasil 8.2.30 (kediskretan). Untuk x,y∈Zx,y\in\mathbb{Z}, x<yx<y jika dan hanya jika x+1≤yx+1\le y. Khususnya:

    • jika x<yx<y, maka y−x≥1y-x\ge1;
    • tidak ada x∈Zx\in\mathbb{Z} dengan 0<x<10<x<1.

    Bukti.

    (⇒\Rightarrow) Misalkan x<yx<y. Rantai berikut memberi 1≤y−x1\le y-x:

    1. menurut Hasil 8.2.27(b), 0<y−x0<y-x;
    2. menurut Hasil 8.2.28(b), y−x=[k,0]y-x=[k,0] dengan k≠0k\neq0;
    3. menurut Hasil 8.2.1(c), 1≤k1\le k di N\mathbb{N};
    4. menurut Hasil 8.2.27(c), 1≤y−x1\le y-x di Z\mathbb{Z}.

    Tambahkan xx pada kedua ruas (Hasil 8.2.27(a)). Dengan Hasil 8.2.13,

    1+x≤(y+(−x))+x=y.1+x\le(y+(-x))+x=y.

    Jadi x+1≤yx+1\le y. Langkah 4 sekaligus membuktikan akibat pertama.

    (⇐\Leftarrow) Pertama, 0<10<1. Ini berlaku karena 1=[1,0]1=[1,0] dan 1=S(0)≠01=S(0)\neq0 di N\mathbb{N}, sehingga Hasil 8.2.28(b) dapat diterapkan.

    Tambahkan xx pada kedua ruas 0<10<1 (Hasil 8.2.27(a)); diperoleh x<x+1x<x+1. Bersama x+1≤yx+1\le y, transitivitas memberi x≤yx\le y.

    Seandainya x=yx=y, maka x+1≤xx+1\le x. Penambahan −x-x memberi 1≤01\le0. Bersama 0≤10\le1, antisimetri memberi 1=01=0, bertentangan dengan Hasil 8.2.15. Jadi x<yx<y.

    Akibat kedua. Misalkan 0<x0<x dan x<1x<1. Arah (⇒\Rightarrow) memberi 0+1≤x0+1\le x, yaitu 1≤x1\le x. Bersama x≤1x\le1, antisimetri memberi x=1x=1, bertentangan dengan x≠1x\neq1. ■\blacksquare

    Contoh 8.2.31.

    (i) −3<2-3<2. Syarat [0,3]≤[2,0][0,3]\le[2,0] adalah 0+0≤2+30+0\le2+3, dan ini benar. Kedua kelas berbeda menurut Hasil 8.2.20(b).

    Dengan wakil lain, yaitu (2,5)(2,5) dan (7,5)(7,5), syaratnya menjadi 2+5≤7+52+5\le7+5, yaitu 7≤127\le12. Ini juga benar, sesuai Hasil 8.2.25. Di sini (7,5)∼(2,0)(7,5)\sim(2,0) karena 7+0=5+27+0=5+2.

    (ii) Selisih

    2−(−3)=[2,0]+[3,0]=[5,0]=5≥1,2-(-3)=[2,0]+[3,0]=[5,0]=5\ge1,

    sesuai Hasil 8.2.30.

    A.7 Kesalahan umum

    1. Mendefinisikan ∼\sim dengan a−b=c−da-b=c-d. Pengurangan di N\mathbb{N} tidak terdefinisi untuk semua pasangan, padahal Z\mathbb{Z} justru dibangun untuk memberinya makna. Definisi semacam itu melingkar.
    2. Menganggap pasangan sebagai bilangan bulat. Pasangan (2,5)(2,5) dan (0,3)(0,3) berbeda, tetapi bilangan bulatnya sama. Setiap rumus yang memakai wakil harus diperiksa bebas wakil (lihat Latihan 8.2.35).
    3. Menyebut pemeriksaan wakil "jelas". Bebas wakil untuk perkalian memerlukan pengelompokan suku dan distributivitas N\mathbb{N} (Hasil 8.2.10). Langkah itu tidak boleh dilewati.
    4. Memakai hukum Z\mathbb{Z} untuk membuktikan dirinya. Bukti asosiativitas atau distributivitas Z\mathbb{Z} hanya boleh memakai (N1) sampai (N8), bukan "karena Z\mathbb{Z} ring".
    5. Membatalkan faktor di Z\mathbb{Z} terlalu dini. Pembatalan dx=dy⇒x=ydx=dy\Rightarrow x=y baru tersedia setelah Hasil 8.2.22, dan hanya untuk d≠0d\neq0.
    6. Membaca N⊆Z\mathbb{N}\subseteq\mathbb{Z} secara literal. Bilangan 3∈N3\in\mathbb{N} tidak diasumsikan identik secara literal dengan kelas [3,0][3,0]. Inklusinya adalah identifikasi melalui ii.

    A.8 Latihan

    Tingkat latihan:

    • dasar: 8.2.32, 8.2.33, 8.2.35, 8.2.39;
    • menengah: 8.2.34, 8.2.36, 8.2.38, 8.2.40;
    • lanjut: 8.2.37.

    Latihan 8.2.32 (dasar).

    • (a) Tunjukkan bahwa (3,8)(3,8), (0,5)(0,5), dan (12,17)(12,17) mewakili bilangan bulat yang sama, sedangkan (8,3)(8,3) tidak. Tentukan bentuk bertanda masing-masing.
    • (b) Buktikan bahwa [1,3]={(a,a+2):a∈N}[1,3]=\{(a,a+2):a\in\mathbb{N}\}.

    Pembahasan.

    (a) Periksa setiap pasangan dengan Definisi 8.2.2:

    • (3,8)∼(0,5)(3,8)\sim(0,5) karena 3+5=8=8+03+5=8=8+0.
    • (0,5)∼(12,17)(0,5)\sim(12,17) karena 0+17=17=5+120+17=17=5+12.
    • (8,3)≁(0,5)(8,3)\not\sim(0,5), karena 8+5=138+5=13, 3+0=33+0=3, dan 13≠313\neq3.

    Bentuk bertanda tiga pasangan pertama adalah [0,5]=−5[0,5]=-5. Untuk (8,3)(8,3), bentuk bertandanya [5,0]=5[5,0]=5, karena 8=3+58=3+5.

    (b) Menurut Definisi 8.2.2, (a,b)∈[1,3](a,b)\in[1,3] jika dan hanya jika a+3=b+1a+3=b+1. Karena 3=S(2)=2+13=S(2)=2+1, (N1) memberi

    a+3=(a+2)+1.a+3=(a+2)+1.

    Jadi syarat itu menjadi (a+2)+1=b+1(a+2)+1=b+1. Menurut (N4) dan substitusi, ini setara dengan b=a+2b=a+2.

    Latihan 8.2.33 (dasar; perhitungan dengan dua wakil). Hitung (−4)⋅3(-4)\cdot3 dan (−4)+(−4)(-4)+(-4) memakai wakil (0,4)(0,4) atau (1,5)(1,5) untuk −4-4, serta (3,0)(3,0) atau (5,2)(5,2) untuk 33. Periksa bahwa hasilnya sama.

    Pembahasan. Pertama, pastikan wakil-wakilnya sah:

    • (1,5)∼(0,4)(1,5)\sim(0,4) karena 1+4=5+01+4=5+0;
    • (5,2)∼(3,0)(5,2)\sim(3,0) karena 5+0=2+35+0=2+3.

    Perkalian dengan wakil pertama:

    [0,4][3,0]=[0⋅3+4⋅0, 0⋅0+4⋅3]=[0,12].[0,4][3,0]=[0\cdot3+4\cdot0,\ 0\cdot0+4\cdot3]=[0,12].

    Perkalian dengan wakil kedua:

    [1,5][5,2]=[1⋅5+5⋅2, 1⋅2+5⋅5]=[15,27].[1,5][5,2]=[1\cdot5+5\cdot2,\ 1\cdot2+5\cdot5]=[15,27].

    Kedua kelas sama karena 15+12=27=27+015+12=27=27+0. Hasilnya −12-12.

    Penjumlahan dengan wakil pertama memberi [0,4]+[0,4]=[0,8][0,4]+[0,4]=[0,8]. Dengan wakil kedua, [1,5]+[1,5]=[2,10][1,5]+[1,5]=[2,10]. Kedua kelas sama karena 2+8=10=10+02+8=10=10+0. Hasilnya −8-8.

    Latihan 8.2.34 (menengah; aljabar pengurangan). Buktikan bahwa untuk semua x,y,z∈Zx,y,z\in\mathbb{Z} berlaku:

    • (a) (x−y)+(y−z)=x−z(x-y)+(y-z)=x-z;
    • (b) x−y=0x-y=0 jika dan hanya jika x=yx=y;
    • (c) −(x−y)=y−x-(x-y)=y-x.

    Pembahasan.

    (a) Dengan Hasil 8.2.13(b), (a), (d), dan (c):

    (x+(−y))+(y+(−z))=x+(((−y)+y)+(−z))=x+(0+(−z))=x+(−z).(x+(-y))+(y+(-z))=x+\big(((-y)+y)+(-z)\big)=x+(0+(-z))=x+(-z).

    (b) Jika x−y=0x-y=0, bukti Hasil 8.2.22 sesudah langkah x−y=0x-y=0 memberi x=yx=y. Sebaliknya, jika x=yx=y, maka x−y=y+(−y)=0x-y=y+(-y)=0 menurut Hasil 8.2.13(d).

    (c) Menurut Hasil 8.2.16(e) dan (d),

    −(x+(−y))=(−x)+(−(−y))=(−x)+y=y−x.-(x+(-y))=(-x)+(-(-y))=(-x)+y=y-x.

    Langkah terakhir memakai Hasil 8.2.13(a).

    Latihan 8.2.35 (dasar; rumus yang tidak bebas wakil).

    • (a) Tunjukkan bahwa "[a,b]⊙[c,d]=[ac,bd][a,b]\odot[c,d]=[ac,bd]" tidak mendefinisikan operasi pada Z\mathbb{Z}.
    • (b) Tunjukkan bahwa "[a,b]⪯[c,d][a,b]\preceq[c,d] jika a≤ca\le c" tidak mendefinisikan relasi pada Z\mathbb{Z}.

    Pembahasan.

    (a) [1,0]=[2,1][1,0]=[2,1] karena 1+1=0+21+1=0+2. Ambil operand kedua (1,0)(1,0):

    • wakil (1,0)(1,0) menghasilkan (1⋅1, 0⋅0)=(1,0)(1\cdot1,\,0\cdot0)=(1,0);
    • wakil (2,1)(2,1) menghasilkan (2⋅1, 1⋅0)=(2,0)(2\cdot1,\,1\cdot0)=(2,0).

    Kedua hasil tidak ekuivalen, karena 1+0=11+0=1 dan 0+2=20+2=2, padahal 1≠21\neq2. Jadi satu pasangan kelas mendapat dua keluaran berbeda, dan syarat Hasil 8.2.7 gagal.

    (b) [0,0]=[5,5][0,0]=[5,5]. Ambil pembanding [1,0][1,0]:

    • wakil (0,0)(0,0) memberi 0≤10\le1, dan ini benar;
    • wakil (5,5)(5,5) memberi 5≤15\le1, dan ini salah.

    Untuk melihat bahwa 5≤15\le1 salah, perhatikan bahwa 1≤51\le5, karena 5=1+45=1+4. Jika juga 5≤15\le1, antisimetri memberi 1+0=1=5=1+41+0=1=5=1+4. Menurut (N2) dan (N4), 0=4=S(3)0=4=S(3), padahal ini mustahil.

    Latihan 8.2.36 (menengah; urutan). Buktikan:

    • (a) jika x<yx<y, maka −y<−x-y<-x;
    • (b) x⋅x≥0x\cdot x\ge0, dengan kesamaan jika dan hanya jika x=0x=0;
    • (c) −1<0<1-1<0<1.

    Pembahasan.

    (a) Tambahkan (−x)+(−y)(-x)+(-y) pada kedua ruas (Hasil 8.2.27(a), versi tegas). Menurut Hasil 8.2.13:

    • x+((−x)+(−y))=(x+(−x))+(−y)=−yx+((-x)+(-y))=(x+(-x))+(-y)=-y;
    • y+((−x)+(−y))=y+((−y)+(−x))=(y+(−y))+(−x)=−xy+((-x)+(-y))=y+((-y)+(-x))=(y+(-y))+(-x)=-x.

    Jadi −y<−x-y<-x.

    (b) Menurut Hasil 8.2.20(a), x=[k,0]x=[k,0] atau x=[0,k]x=[0,k] dengan k∈Nk\in\mathbb{N}, mungkin k=0k=0. Dalam kedua kasus, Hasil 8.2.21 memberi x⋅x=[kk,0]x\cdot x=[kk,0]. Kelas ini ≥0\ge0 menurut Hasil 8.2.28(a).

    Untuk kasus kesamaan, [kk,0]=0[kk,0]=0 jika dan hanya jika kk=0kk=0. Jika k=0k=0, maka kk=0⋅0=0kk=0\cdot0=0 menurut persamaan definisional. Sebaliknya, jika kk=0kk=0, maka k=0k=0 menurut kontraposisi Hasil 8.2.1(d). Akhirnya, k=0k=0 jika dan hanya jika x=[0,0]=0x=[0,0]=0.

    (c) 1=[1,0]1=[1,0] dengan 1≠01\neq0 di N\mathbb{N}, jadi 0<10<1 menurut Hasil 8.2.28(b). Selain itu −1=[0,1]-1=[0,1], jadi −1<0-1<0 menurut Hasil 8.2.28(c).

    Latihan 8.2.37 (lanjut; satuan Z\mathbb{Z}). Buktikan bahwa jika xy=1xy=1, maka x=y=1x=y=1 atau x=y=−1x=y=-1.

    Pembahasan. Pertama, x≠0x\neq0. Jika x=0x=0, maka xy=y⋅0=0≠1xy=y\cdot0=0\neq1 menurut Hasil 8.2.14(a), 8.2.16(a), dan 8.2.15. Dengan cara yang sama, y≠0y\neq0.

    Kasus 0<x0<x.

    Andaikan y<0y<0. Hasil 8.2.29(d) memberi

    yx<0⋅x=x⋅0=0.yx<0\cdot x=x\cdot0=0.

    Karena yx=xy=1yx=xy=1, diperoleh 1<01<0. Bersama 0<10<1 (Latihan 8.2.36(c)), antisimetri memberi 0=10=1, bertentangan dengan Hasil 8.2.15. Jadi bukan y<0y<0. Karena y≠0y\neq0, Hasil 8.2.28(d) memberi 0<y0<y.

    Menurut Hasil 8.2.30 dengan 00 di tempat xx, diperoleh 1≤x1\le x dan 1≤y1\le y.

    Andaikan x≠1x\neq1. Maka 1<x1<x. Hasil 8.2.30 memberi 1+1≤x1+1\le x. Di sini 1+1=i(1)+i(1)=i(1+1)=i(2)=21+1=i(1)+i(1)=i(1+1)=i(2)=2, karena 1+1=S(1+0)=S(1)=21+1=S(1+0)=S(1)=2 di N\mathbb{N}.

    Karena 0≤y0\le y, Hasil 8.2.29(c) memberi 2y≤xy=12y\le xy=1. Menurut Hasil 8.2.14(d) dan (c),

    2y=(1+1)y=y+y.2y=(1+1)y=y+y.

    Selanjutnya, dari 1≤y1\le y, Hasil 8.2.27(a) memberi dua ketaksamaan:

    • 1+1≤y+11+1\le y+1, dengan menambahkan 11;
    • 1+y≤y+y1+y\le y+y, dengan menambahkan yy.

    Karena y+1=1+yy+1=1+y, transitivitas memberi 2≤y+y2\le y+y. Jadi 2≤12\le1.

    Di pihak lain, menambahkan 11 pada 0<10<1 memberi 1<21<2. Antisimetri lalu memberi 1=21=2, bertentangan dengan 1<21<2. Karena itu x=1x=1, dan y=1⋅y=xy=1y=1\cdot y=xy=1.

    Kasus x<0x<0. Menurut Latihan 8.2.36(a), −0<−x-0<-x. Karena −0=−[0,0]=[0,0]=0-0=-[0,0]=[0,0]=0, diperoleh 0<−x0<-x.

    Menurut Hasil 8.2.16(f), (−x)(−y)=xy=1(-x)(-y)=xy=1. Kasus pertama, dengan −x-x dan −y-y di tempat xx dan yy, memberi −x=−y=1-x=-y=1. Menurut Hasil 8.2.16(d), x=−(−x)=−1x=-(-x)=-1 dan y=−1y=-1.

    Hasil 8.2.28(d) menjamin bahwa kedua kasus ini, bersama x≠0x\neq0, mencakup semua kemungkinan.

    Latihan 8.2.38 (menengah; salinan yang keliru). Misalkan h:N→Zh:\mathbb{N}\to\mathbb{Z} dengan h(n)=[0,n]h(n)=[0,n]. Tunjukkan bahwa hh injektif dan h(m+n)=h(m)+h(n)h(m+n)=h(m)+h(n), tetapi hh tidak mempertahankan perkalian. Jelaskan mengapa hh tidak boleh dipakai untuk mengidentifikasi N\mathbb{N} di dalam Z\mathbb{Z}.

    Pembahasan.

    • Injektif. [0,m]=[0,n][0,m]=[0,n] memberi 0+n=m+00+n=m+0, jadi m=nm=n.
    • Penjumlahan. [0,m]+[0,n]=[0+0, m+n]=[0,m+n][0,m]+[0,n]=[0+0,\,m+n]=[0,m+n].
    • Perkalian. Kita punya
    h(1)h(1)=[0,1][0,1]=[0⋅0+1⋅1, 0⋅1+1⋅0]=[1,0],h(1)h(1)=[0,1][0,1]=[0\cdot0+1\cdot1,\ 0\cdot1+1\cdot0]=[1,0],

    sedangkan h(1⋅1)=h(1)=[0,1]h(1\cdot1)=h(1)=[0,1]. Kedua kelas berbeda: syarat kesamaannya 1+1=0+01+1=0+0, padahal 1+1=S(1)≠01+1=S(1)\neq0.

    Identifikasi menuntut semua struktur dipertahankan: 00, 11, penjumlahan, perkalian, dan urutan. Penyisipan ii memenuhi semuanya (Hasil 8.2.18 dan 8.2.27(c)), sedangkan hh tidak.

    Latihan 8.2.39 (dasar; relasi yang gagal). Tunjukkan bahwa relasi "(a,b)≈(c,d)(a,b)\approx(c,d) jika a+c=b+da+c=b+d" bukan relasi ekuivalensi.

    Pembahasan.

    Tidak refleksif. (1,0)≉(1,0)(1,0)\not\approx(1,0), karena syaratnya 1+1=0+01+1=0+0, padahal 1+1=S(1)≠01+1=S(1)\neq0.

    Tidak transitif. (1,0)≈(0,1)(1,0)\approx(0,1) dan (0,1)≈(1,0)(0,1)\approx(1,0), karena 1+0=0+11+0=0+1. Namun (1,0)≉(1,0)(1,0)\not\approx(1,0).

    Relasi ini simetris, karena a+c=b+da+c=b+d setara dengan c+a=d+bc+a=d+b. Jadi simetri saja tidak menjamin relasi ekuivalensi. Rumus yang benar membandingkan secara silang, a+d=b+ca+d=b+c, bukan a+c=b+da+c=b+d.

    Latihan 8.2.40 (menengah; pembatalan).

    • (a) Buktikan pembatalan penjumlahan x+z=y+z⇒x=yx+z=y+z\Rightarrow x=y hanya dari definisi pada wakil, tanpa Hasil 8.2.13.
    • (b) Periksa melalui wakil bahwa [3,3]⋅[2,0]=[3,3]⋅[5,0][3,3]\cdot[2,0]=[3,3]\cdot[5,0], padahal [2,0]≠[5,0][2,0]\neq[5,0]. Jelaskan mengapa ini tidak bertentangan dengan Hasil 8.2.22.

    Pembahasan.

    (a) Hipotesisnya adalah (a+e, b+f)∼(c+e, d+f)(a+e,\,b+f)\sim(c+e,\,d+f), yaitu

    (a+e)+(d+f)=(b+f)+(c+e).(a+e)+(d+f)=(b+f)+(c+e).

    Penataan ulang dengan (N1) dan (N2) memberi

    (a+d)+(e+f)=(b+c)+(e+f).(a+d)+(e+f)=(b+c)+(e+f).

    Pembatalan dengan (N4) memberi a+d=b+ca+d=b+c, yaitu x=yx=y.

    (b) Hitung kedua hasil kali:

    [3,3][2,0]=[3⋅2+3⋅0, 3⋅0+3⋅2]=[6,6],[3,3][2,0]=[3\cdot2+3\cdot0,\ 3\cdot0+3\cdot2]=[6,6],[3,3][5,0]=[3⋅5+3⋅0, 3⋅0+3⋅5]=[15,15].[3,3][5,0]=[3\cdot5+3\cdot0,\ 3\cdot0+3\cdot5]=[15,15].

    Menurut Hasil 8.2.5(c), keduanya sama dengan [0,0][0,0].

    Di pihak lain, [2,0]≠[5,0][2,0]\neq[5,0]. Syarat kesamaannya adalah 2+0=0+52+0=0+5, padahal 2≠52\neq5: jika 2=5=2+32=5=2+3, maka (N2) dan (N4) memberi 0=3=S(2)0=3=S(2), mustahil.

    Hal ini tidak bertentangan dengan Hasil 8.2.22. Menurut Hasil 8.2.5(c), [3,3]=0[3,3]=0, sehingga hipotesis d≠0d\neq0 tidak terpenuhi. Wakil (3,3)(3,3) hanya menyamarkan fakta bahwa faktornya adalah nol. Bukti Hasil 8.2.22 gagal tepat pada langkah d(x−y)=0⇒x−y=0d(x-y)=0\Rightarrow x-y=0.

    A.9 Prasyarat yang telah terbukti untuk bagian B

    Bagian B, yaitu konstruksi Q\mathbb{Q}, dapat memakai fakta-fakta berikut tentang Z\mathbb{Z}. Semuanya telah dibuktikan dari prasyarat Peano, persamaan definisional, serta hukum (N1) sampai (N8) dalam A.0 dan hasil kuosien Bab 4. Pinjaman pada A.0 tetap dinyatakan terbuka.

    1. Struktur ring. (Z,+,⋅,0,1)(\mathbb{Z},+,\cdot,0,1) adalah ring komutatif dengan satuan, dan 0≠10\neq1 (Hasil 8.2.13 sampai 8.2.15). Selain itu berlaku x⋅0=0x\cdot0=0 dan x(−y)=−(xy)x(-y)=-(xy) (Hasil 8.2.16(a)–(b)).
    2. Sifat negasi. −(−x)=x-(-x)=x, −(x+y)=(−x)+(−y)-(x+y)=(-x)+(-y), dan (−x)(−y)=xy(-x)(-y)=xy (Hasil 8.2.16(d)–(f)).
    3. Tanpa pembagi nol. Dari xy=0xy=0 diperoleh x=0x=0 atau y=0y=0. Jadi hasil kali dua penyebut tak nol tetap tak nol (Hasil 8.2.21).
    4. Pembatalan perkalian. Jika d≠0d\neq0 dan dx=dydx=dy, maka x=yx=y (Hasil 8.2.22).
    5. Penyisipan N\mathbb{N}. Fungsi i:N→Zi:\mathbb{N}\to\mathbb{Z} injektif dan mempertahankan 00, 11, ++, ⋅\cdot, dan ≤\le. Salinan N\mathbb{N} tepat sama dengan {x∈Z:x≥0}\{x\in\mathbb{Z}:x\ge0\} (Hasil 8.2.18, 8.2.27(c), dan 8.2.28(a)).
    6. Bentuk bertanda dan trikotomi (Hasil 8.2.20 dan 8.2.28(d)).
    7. Urutan. Urutan Z\mathbb{Z} total dan kompatibel dengan penjumlahan (Hasil 8.2.26 dan 8.2.27).
    8. Perkalian dan urutan. Hasil kali dua bilangan positif adalah positif. Perkalian dengan bilangan nonnegatif mempertahankan urutan (Hasil 8.2.29(a)–(d)).
    9. Pembatalan faktor positif. Jika 0<z0<z, perkalian dengan zz mempertahankan sekaligus mencerminkan << dan ≤\le (Hasil 8.2.29(e)). Fakta ini diperlukan untuk membuktikan bahwa urutan Q\mathbb{Q} bebas wakil.
    10. Kediskretan. Jika x<yx<y, maka x+1≤yx+1\le y. Tidak ada bilangan bulat di antara 00 dan 11 (Hasil 8.2.30).

    B. Konstruksi bilangan rasional

    Di Z\mathbb Z, persamaan bx=abx=a dengan b≠0b\neq 0 umumnya tidak mempunyai penyelesaian. Misalnya, 2x=12x=1 tidak mempunyai penyelesaian di Z\mathbb Z. Bagian ini membangun himpunan Q\mathbb Q yang memuat salinan Z\mathbb Z. Di Q\mathbb Q, setiap unsur bukan nol mempunyai invers perkalian.

    Gagasannya sama dengan Bagian A. Sebuah "pecahan" mula-mula dicatat sebagai pasangan (a,b)(a,b), yaitu pembilang dan penyebut. Pasangan-pasangan yang seharusnya menyatakan bilangan yang sama dikumpulkan dalam satu kelas ekuivalensi. Pasangan itu sendiri belum merupakan bilangan; yang menjadi bilangan adalah kelasnya.

    Status prasyarat. Bagian ini memakai tiga jenis bahan, dan ketiganya dibedakan dengan tegas.

    1. Hasil yang telah dibuktikan di Bagian A.

      • Fungsi pada kelas ditentukan melalui grafik berpembatas, tanpa aksioma pilihan (8.2.7).
      • Z\mathbb Z adalah ring komutatif berunit dengan 0≠10\neq 1, dan invers tambahnya tunggal (8.2.13–15).
      • Aturan tanda: x0=0x0=0, x(−y)=−(xy)=(−x)yx(-y)=-(xy)=(-x)y, −(−x)=x-(-x)=x, (−x)(−y)=xy(-x)(-y)=xy (8.2.16).
      • Pengurangan di Z\mathbb Z: x−y=x+(−y)x-y=x+(-y) (8.2.17).
      • Embedding i:N→Zi:\mathbb N\to\mathbb Z. Setiap integer tepat satu dari positif, nol, atau negatif, dan integer negatif berbentuk −k-k dengan k>0k>0 (8.2.18–20).
      • Ketiadaan pembagi nol: xy=0⇒x=0xy=0\Rightarrow x=0 atau y=0y=0 (8.2.21).
      • Pembatalan faktor bukan nol: dx=dydx=dy dan d≠0⇒x=yd\neq 0\Rightarrow x=y (8.2.22).
      • Urutan total ≤Z\le_{\mathbb Z}. Translasi mempertahankan dan mencerminkan <<, dan ii mempertahankan serta mencerminkan urutan (8.2.24–28).
      • Hasil kali dua bilangan positif adalah positif. Jika z>0z>0, maka x<y  ⟺  xz<yzx<y\iff xz<yz (8.2.29).
      • Tidak ada integer di antara 00 dan 11 (8.2.30).

      Hasil-hasil Bagian A bergantung pada hukum N\mathbb N yang sebagian dipinjam (N5–N8). Status pinjaman itu diwarisi oleh semua yang dibangun di sini.

    2. Bahan teori himpunan. Bahan ini meliputi pemisahan dan himpunan kuasa (Bab 3), kelas ekuivalensi dan himpunan kuosien (Bab 4), serta fungsi sebagai grafik (Bab 5). Dari Bab 4 dipakai dua fakta: [x]=[y][x]=[y] jika dan hanya jika x∼yx\sim y, dan dua kelas yang memuat unsur-unsur yang saling berelasi adalah sama.

    3. Definisi dan hasil baru. Semua hukum aritmetika Q\mathbb Q dibuktikan di bawah dengan menghitung di Z\mathbb Z. Tidak ada hukum Q\mathbb Q yang dipakai untuk membuktikan dirinya sendiri.

    Bagian ini tidak memakai aksioma pilihan.


    Pasangan pecahan dan relasi kesamaan

    Definisi 8.2.41 (pasangan pecahan). Didefinisikan

    Z∗={ b∈Z:b≠0 },D=Z×Z∗.\mathbb Z^{\ast}=\{\,b\in\mathbb Z : b\neq 0\,\},\qquad D=\mathbb Z\times\mathbb Z^{\ast}.

    Himpunan Z∗\mathbb Z^\ast diperoleh dengan pemisahan dari Z\mathbb Z, sehingga D⊆Z×ZD\subseteq \mathbb Z\times\mathbb Z. Pada DD didefinisikan relasi

    (a,b)∼Q(c,d):⟺ad=bc.(a,b)\sim_{\mathbb Q}(c,d)\quad:\Longleftrightarrow\quad ad=bc .

    Penyebut nol tidak dilarang belakangan; penyebut nol sudah dikecualikan sejak DD dibentuk. Akibatnya, setiap pernyataan tentang (a,b)∈D(a,b)\in D membawa hipotesis b≠0b\neq 0.

    Teorema 8.2.42. Relasi ∼Q\sim_{\mathbb Q} adalah relasi ekuivalensi pada DD.

    Strategi. Refleksivitas dan simetri hanya memerlukan komutativitas perkalian di Z\mathbb Z. Transitivitas memerlukan pembatalan, dan faktor yang dibatalkan harus dijamin bukan nol. Faktor itu adalah penyebut tengah dd.

    Bukti. Ambil (a,b),(c,d),(e,f)∈D(a,b),(c,d),(e,f)\in D. Jadi b,d,f≠0b,d,f\neq 0.

    Refleksif. Karena perkalian di Z\mathbb Z komutatif, ab=baab=ba. Jadi (a,b)∼Q(a,b)(a,b)\sim_{\mathbb Q}(a,b).

    Simetris. Andaikan ad=bcad=bc. Maka cb=bc=ad=dacb=bc=ad=da, sehingga (c,d)∼Q(a,b)(c,d)\sim_{\mathbb Q}(a,b).

    Transitif. Andaikan ad=bcad=bc dan cf=decf=de. Dengan asosiativitas dan komutativitas perkalian di Z\mathbb Z,

    d(af)=(ad)f=(bc)f=b(cf)=b(de)=d(be).d(af)=(ad)f=(bc)f=b(cf)=b(de)=d(be).

    Karena d≠0d\neq 0, pembatalan 8.2.22 menghasilkan af=beaf=be. Jadi (a,b)∼Q(e,f)(a,b)\sim_{\mathbb Q}(e,f). □\square

    Catatan tentang faktor yang dibatalkan. Dari ad=bcad=bc dan cf=decf=de, orang mudah tergoda untuk "membagi dengan cc". Langkah itu tidak sah, karena cc boleh nol, dan bukti di atas tidak memerlukannya. Kasus c=0c=0 tetap tercakup: ad=0ad=0 dengan d≠0d\neq 0 memberi a=0a=0 menurut 8.2.21; dengan cara yang sama, de=0de=0 memberi e=0e=0. Jadi af=0=beaf=0=be, sesuai dengan bukti umum.

    Contoh 8.2.43 (mengapa penyebut nol dikecualikan). Andaikan relasi yang sama dipakai pada seluruh Z×Z\mathbb Z\times\mathbb Z. Maka:

    • (1,0)(1,0) berelasi dengan (0,0)(0,0), karena 1⋅0=0⋅01\cdot 0=0\cdot 0;
    • (0,0)(0,0) berelasi dengan (0,1)(0,1), karena 0⋅1=0⋅00\cdot 1=0\cdot 0;
    • tetapi (1,0)(1,0) tidak berelasi dengan (0,1)(0,1), karena 1⋅1=1≠0=0⋅01\cdot 1=1\neq 0=0\cdot 0.

    Jadi transitivitas gagal. Di titik inilah bukti 8.2.42 memerlukan d≠0d\neq 0.

    Definisi 8.2.44 (bilangan rasional). Untuk (a,b)∈D(a,b)\in D, tulis

    [(a,b)]Q={(c,d)∈D:(a,b)∼Q(c,d)},Q={[(a,b)]Q:(a,b)∈D}.[(a,b)]_{\mathbb Q}=\{(c,d)\in D : (a,b)\sim_{\mathbb Q}(c,d)\}, \qquad \mathbb Q=\{[(a,b)]_{\mathbb Q} : (a,b)\in D\}.

    Setiap kelas adalah subhimpunan DD, sehingga Q\mathbb Q diperoleh dengan pemisahan dari himpunan kuasa P(D)\mathcal P(D). Unsur Q\mathbb Q disebut bilangan rasional.

    Mulai sekarang ditulis

    ab  :=  [(a,b)]Q((a,b)∈D).\frac ab \;:=\; [(a,b)]_{\mathbb Q}\qquad((a,b)\in D).

    Garis pecahan di sini adalah nama kelas, bukan pembagian di Z\mathbb Z; di Z\mathbb Z tidak tersedia operasi pembagian yang menghasilkan integer untuk setiap pembilang dan setiap penyebut bukan nol. Notasi ini juga berbeda dari [a,b][a,b] di Bagian A, yang menyatakan kelas pasangan bilangan asli. Menurut Bab 4,

    ab=cd  ⟺  ad=bc.(K)\frac ab=\frac cd \iff ad=bc. \tag{K}

    Karena relasinya refleksif, (a,b)∈ab(a,b)\in\frac ab.

    Lema 8.2.45 (mengganti wakil). Misalkan (a,b)∈D(a,b)\in D.

    • (a) Jika k∈Zk\in\mathbb Z dan k≠0k\neq 0, maka (ka,kb)∈D(ka,kb)\in D dan ab=kakb\dfrac ab=\dfrac{ka}{kb}.
    • (b) (−a,−b)∈D(-a,-b)\in D dan ab=−a−b\dfrac ab=\dfrac{-a}{-b}.
    • (c) Setiap bilangan rasional mempunyai wakil dengan penyebut positif.

    Bukti.

    (a) Karena k≠0k\neq0 dan b≠0b\neq 0, berlaku kb≠0kb\neq 0 menurut 8.2.21. Dengan asosiativitas dan komutativitas, a(kb)=k(ab)=(ka)ba(kb)=k(ab)=(ka)b. Jadi (K) berlaku.

    (b) Kita tunjukkan dulu −b≠0-b\neq 0. Berlaku −0=0-0=0, karena 0+0=00+0=0 dan invers tambah tunggal (8.2.13–15). Jadi, jika −b=0-b=0, maka b=−(−b)=−0=0b=-(-b)=-0=0, suatu kontradiksi. Selanjutnya, menurut 8.2.16, a(−b)=−(ab)=−(ba)=b(−a)a(-b)=-(ab)=-(ba)=b(-a), sehingga (K) berlaku.

    (c) Ambil sebarang ab\frac ab. Jika b>0b>0, tidak ada yang perlu dilakukan. Jika tidak, maka bb negatif karena b≠0b\neq 0. Menurut 8.2.20, b=−kb=-k untuk suatu k>0k>0. Maka −b=−(−k)=k>0-b=-(-k)=k>0 (8.2.16), dan menurut (b), ab=−a−b\frac ab=\frac{-a}{-b}. □\square

    Contoh 8.2.46.

    (i) 12=24=−1−2\tfrac12=\tfrac24=\tfrac{-1}{-2}. Berlaku 1⋅4=4=2⋅21\cdot 4=4=2\cdot 2 dan 1⋅(−2)=−2=2⋅(−1)1\cdot(-2)=-2=2\cdot(-1). Menurut (K), ketiga kelas itu sama.

    (ii) Wakil berbeda tidak berarti bilangan berbeda. Sebagai unsur DD, pasangan (1,2)(1,2) dan (2,4)(2,4) berbeda karena komponen pertamanya berbeda. Namun keduanya anggota kelas yang sama, sehingga menyatakan satu bilangan rasional. Pertanyaan "apakah dua pecahan sama" selalu dijawab dengan (K), bukan dengan membandingkan komponen.

    (iii) Kelas nol. Untuk sebarang b,d≠0b,d\neq 0 berlaku 0⋅d=0=b⋅00\cdot d=0=b\cdot 0, sehingga 0b=0d\frac0b=\frac0d. Jadi 01=05=0−7=⋯\frac01=\frac05=\frac0{-7}=\cdots. Ketiga pasangan (0,1)(0,1), (0,5)(0,5), dan (0,−7)(0,-7) adalah wakil berbeda dari kelas nol yang sama.

    Lema 8.2.47 (kelas nol). Untuk (a,b)∈D(a,b)\in D:

    • (a) ab=01\dfrac ab=\dfrac01 jika dan hanya jika a=0a=0;
    • (b) jika ab=a′b′\dfrac ab=\dfrac{a'}{b'}, maka a=0  ⟺  a′=0a=0\iff a'=0.

    Dengan kata lain, sifat "pembilang nol" tidak bergantung pada wakil.

    Bukti.

    (a) Menurut (K), ab=01\frac ab=\frac01 jika dan hanya jika a⋅1=b⋅0a\cdot 1=b\cdot 0. Karena a⋅1=aa\cdot1=a dan b⋅0=0b\cdot0=0 (8.2.13–16), syarat ini setara dengan a=0a=0.

    (b) Andaikan ab′=a′bab'=a'b.

    • Jika a=0a=0, maka a′b=0⋅b′=0a'b=0\cdot b'=0. Karena b≠0b\neq 0, 8.2.21 memberi a′=0a'=0.
    • Jika a′=0a'=0, maka ab′=0⋅b=0ab'=0\cdot b=0. Karena b′≠0b'\neq 0, diperoleh a=0a=0. □\square

    Operasi pada wakil dan ketidakbergantungan pada wakil

    Definisi 8.2.48 (operasi pada wakil). Untuk (a,b),(c,d)∈D(a,b),(c,d)\in D didefinisikan

    s((a,b),(c,d))=(ad+bc,  bd),p((a,b),(c,d))=(ac,  bd),n(a,b)=(−a,  b).s\big((a,b),(c,d)\big)=(ad+bc,\;bd),\qquad p\big((a,b),(c,d)\big)=(ac,\;bd),\qquad n(a,b)=(-a,\;b).

    Domain. Karena b≠0b\neq 0 dan d≠0d\neq 0, menurut 8.2.21 berlaku bd≠0bd\neq 0. Jadi ss dan pp memetakan D×DD\times D ke DD. Penyebut n(a,b)n(a,b) adalah b≠0b\neq 0, sehingga nn memetakan DD ke DD.

    Lema 8.2.49 (kompatibilitas). Misalkan (a,b)∼Q(a′,b′)(a,b)\sim_{\mathbb Q}(a',b') dan (c,d)∼Q(c′,d′)(c,d)\sim_{\mathbb Q}(c',d'), yaitu

    ab′=a′bdancd′=c′d.ab'=a'b \quad\text{dan}\quad cd'=c'd .

    Maka

    • s((a,b),(c,d))∼Qs((a′,b′),(c′,d′))s((a,b),(c,d))\sim_{\mathbb Q}s((a',b'),(c',d')),
    • p((a,b),(c,d))∼Qp((a′,b′),(c′,d′))p((a,b),(c,d))\sim_{\mathbb Q}p((a',b'),(c',d')), dan
    • n(a,b)∼Qn(a′,b′)n(a,b)\sim_{\mathbb Q}n(a',b').

    Strategi. Untuk setiap operasi, periksa (K) pada kedua pasangan hasil. Ruas kiri disusun ulang sampai faktor ab′ab' dan cd′cd' muncul, lalu kedua hipotesis disubstitusikan.

    Bukti. Semua perhitungan berlangsung di Z\mathbb Z dan hanya memakai 8.2.13–16.

    Jumlah. Harus ditunjukkan (ad+bc)(b′d′)=(bd)(a′d′+b′c′)(ad+bc)(b'd')=(bd)(a'd'+b'c').

    (ad+bc)(b′d′)=(ab′)(dd′)+(bb′)(cd′)(distributif, asosiatif, komutatif)=(a′b)(dd′)+(bb′)(c′d)(hipotesis)=(bd)(a′d′)+(bd)(b′c′)(asosiatif, komutatif)=(bd)(a′d′+b′c′)(distributif).\begin{aligned} (ad+bc)(b'd') &= (ab')(dd') + (bb')(cd') && \text{(distributif, asosiatif, komutatif)}\\ &= (a'b)(dd') + (bb')(c'd) && \text{(hipotesis)}\\ &= (bd)(a'd') + (bd)(b'c') && \text{(asosiatif, komutatif)}\\ &= (bd)(a'd'+b'c') && \text{(distributif).} \end{aligned}

    Produk. Harus ditunjukkan (ac)(b′d′)=(bd)(a′c′)(ac)(b'd')=(bd)(a'c').

    (ac)(b′d′)=(ab′)(cd′)=(a′b)(c′d)=(bd)(a′c′).(ac)(b'd')=(ab')(cd')=(a'b)(c'd)=(bd)(a'c').

    Negasi. Harus ditunjukkan (−a)b′=b(−a′)(-a)b'=b(-a'). Menurut 8.2.16,

    (−a)b′=−(ab′)=−(a′b)=−(ba′)=b(−a′).(-a)b'=-(ab')=-(a'b)=-(ba')=b(-a').

    □\square

    Teorema 8.2.50 (operasi pada Q\mathbb Q). Terdapat fungsi tunggal

    +:Q×Q→Q,⋅:Q×Q→Q,−:Q→Q+:\mathbb Q\times\mathbb Q\to\mathbb Q,\qquad \cdot:\mathbb Q\times\mathbb Q\to\mathbb Q,\qquad -:\mathbb Q\to\mathbb Q

    sehingga untuk semua (a,b),(c,d)∈D(a,b),(c,d)\in D:

    ab+cd=ad+bcbd,ab⋅cd=acbd,−ab=−ab.\frac ab+\frac cd=\frac{ad+bc}{bd},\qquad \frac ab\cdot\frac cd=\frac{ac}{bd},\qquad -\frac ab=\frac{-a}{b}.

    Strategi. Rumus di atas baru menjadi definisi yang sah jika hasilnya hanya bergantung pada kelas, bukan pada wakil yang ditulis. Hal ini dijamin oleh Lema 8.2.49. Fungsi kemudian direalisasikan sebagai grafik yang dibentuk dengan pemisahan, mengikuti pola 8.2.7.

    Bukti. Dengan pemisahan, bentuk tiga grafik berikut.

    G+={((X,Y),W)∈(Q×Q)×Q:∃(a,b)∈X ∃(c,d)∈Y  (ad+bc,bd)∈W},G⋅={((X,Y),W)∈(Q×Q)×Q:∃(a,b)∈X ∃(c,d)∈Y  (ac,bd)∈W},G−={(X,W)∈Q×Q:∃(a,b)∈X  (−a,b)∈W}.\begin{aligned} G_+&=\Big\{\big((X,Y),W\big)\in(\mathbb Q\times\mathbb Q)\times\mathbb Q : \exists (a,b)\in X\ \exists (c,d)\in Y\ \ (ad+bc,bd)\in W\Big\},\\ G_\cdot&=\Big\{\big((X,Y),W\big)\in(\mathbb Q\times\mathbb Q)\times\mathbb Q : \exists (a,b)\in X\ \exists (c,d)\in Y\ \ (ac,bd)\in W\Big\},\\ G_-&=\Big\{(X,W)\in\mathbb Q\times\mathbb Q : \exists (a,b)\in X\ \ (-a,b)\in W\Big\}. \end{aligned}

    Kita periksa G+G_+ terlebih dahulu, kemudian kedua grafik lain secara eksplisit. Kompatibilitas yang diperlukan tersedia pada Lema 8.2.49.

    Total. Ambil X,Y∈QX,Y\in\mathbb Q. Menurut definisi Q\mathbb Q, terdapat (a,b),(c,d)∈D(a,b),(c,d)\in D dengan X=abX=\frac ab dan Y=cdY=\frac cd. Menurut refleksivitas, (a,b)∈X(a,b)\in X dan (c,d)∈Y(c,d)\in Y. Pasangan (ad+bc,bd)(ad+bc,bd) adalah unsur DD (8.2.48), dan ia termuat dalam W=ad+bcbdW=\frac{ad+bc}{bd}. Jadi ((X,Y),W)∈G+((X,Y),W)\in G_+.

    Tunggal. Andaikan ((X,Y),W)((X,Y),W) dan ((X,Y),W′)((X,Y),W') keduanya anggota G+G_+. Misalkan yang pertama disaksikan oleh (a,b)∈X(a,b)\in X, (c,d)∈Y(c,d)\in Y, dan yang kedua oleh (a′,b′)∈X(a',b')\in X, (c′,d′)∈Y(c',d')\in Y.

    • Kedua wakil XX berelasi dengan wakil penentu XX. Menurut simetri dan transitivitas (8.2.42), (a,b)∼Q(a′,b′)(a,b)\sim_{\mathbb Q}(a',b'). Dengan cara yang sama, (c,d)∼Q(c′,d′)(c,d)\sim_{\mathbb Q}(c',d').
    • Menurut Lema 8.2.49, (ad+bc,bd)∼Q(a′d′+b′c′,b′d′)(ad+bc,bd)\sim_{\mathbb Q}(a'd'+b'c',b'd').
    • Pasangan pertama terletak di WW dan pasangan kedua di W′W'. Dua kelas yang memuat unsur-unsur yang saling berelasi adalah sama, sehingga W=W′W=W'.

    Jadi G+G_+ adalah grafik suatu fungsi Q×Q→Q\mathbb Q\times\mathbb Q\to\mathbb Q.

    Rumus. Ambil (a,b),(c,d)∈D(a,b),(c,d)\in D. Pada bagian "total" telah ditunjukkan bahwa ((ab,cd),ad+bcbd)∈G+\big((\frac ab,\frac cd),\frac{ad+bc}{bd}\big)\in G_+. Menurut ketunggalan, nilai fungsi di (ab,cd)(\frac ab,\frac cd) adalah ad+bcbd\frac{ad+bc}{bd}.

    Ketunggalan fungsi. Setiap X,Y∈QX,Y\in\mathbb Q mempunyai wakil, sehingga fungsi lain yang memenuhi rumus yang sama mempunyai nilai yang sama di setiap titik.

    Perkalian. Untuk setiap X,YX,Y, ambil (a,b)∈X(a,b)\in X dan (c,d)∈Y(c,d)\in Y. Pasangan (ac,bd)(ac,bd) berada di DD, sehingga kelas W=acbdW=\frac{ac}{bd} memberi ((X,Y),W)∈G⋅((X,Y),W)\in G_\cdot. Untuk dua pilihan saksi, bagian produk pada Lema 8.2.49 menjamin bahwa pasangan hasil ekuivalen, sehingga kelas keluaran sama. Jadi grafik total dan bernilai tunggal. Refleksivitas menempatkan pasangan wakil pada kelas masing-masing, sehingga nilai fungsi tepat acbd\frac{ac}{bd}. Karena setiap X,YX,Y mempunyai wakil, rumus ini juga menentukan fungsi secara tunggal.

    Negasi. Untuk setiap XX, ambil (a,b)∈X(a,b)\in X. Pasangan (−a,b)∈D(-a,b)\in D memberi (X,−ab)∈G−(X,\frac{-a}{b})\in G_-. Dua saksi dalam XX ekuivalen; bagian negasi pada Lema 8.2.49 memberi pasangan hasil yang ekuivalen, sehingga kelas keluaran tunggal. Refleksivitas memberi rumus nilai, dan karena setiap XX mempunyai wakil, rumus itu menentukan fungsi secara tunggal.

    Argumen ini hanya memakai instansiasi eksistensial di dalam satu bukti, bukan pemilihan wakil secara serentak untuk semua kelas. Karena itu aksioma pilihan tidak diperlukan. □\square

    Karena operasinya bebas wakil, dalam setiap perhitungan berikut kita boleh memakai wakil mana saja dari kelas yang terlibat.

    Contoh 8.2.51 (perhitungan dan pemeriksaan wakil).

    (i) Jumlah dengan wakil (1,2)(1,2):

    12+13=1⋅3+2⋅12⋅3=56.\frac12+\frac13=\frac{1\cdot3+2\cdot1}{2\cdot3}=\frac56 .

    Jumlah dengan wakil lain, (2,4)(2,4):

    24+13=2⋅3+4⋅14⋅3=1012.\frac24+\frac13=\frac{2\cdot 3+4\cdot 1}{4\cdot 3}=\frac{10}{12}.

    Karena 10⋅6=60=12⋅510\cdot 6=60=12\cdot 5, menurut (K) berlaku 1012=56\frac{10}{12}=\frac56. Hasilnya sama, sesuai Teorema 8.2.50.

    (ii) Produk dengan wakil (1,2)(1,2): 12⋅13=1⋅12⋅3=16\dfrac12\cdot\dfrac13=\dfrac{1\cdot1}{2\cdot3}=\dfrac16.

    Produk dengan wakil (2,4)(2,4): 24⋅13=212\dfrac24\cdot\dfrac13=\dfrac2{12}. Karena 2⋅6=12=12⋅12\cdot 6=12=12\cdot 1, berlaku 212=16\frac2{12}=\frac16.

    Contoh 8.2.52 (operasi palsu). Pada pasangan berpenyebut positif, definisikan

    (a,b)⋆(c,d)=(a+c,  b+d).(a,b)\star(c,d)=(a+c,\;b+d).

    Karena b+d>0b+d>0, hasilnya anggota DD. Dengan pembatasan ini, kegagalan yang muncul murni berupa kegagalan bebas wakil.

    • Wakil (1,2)(1,2) dan (1,3)(1,3) memberi (2,5)(2,5).
    • Wakil (2,4)(2,4) dan (1,3)(1,3), untuk operand yang sama, memberi (3,7)(3,7).

    Namun 2⋅7=14≠15=5⋅32\cdot 7=14\neq 15=5\cdot 3, sehingga 25≠37\frac25\neq\frac37. Jadi tidak ada fungsi ⋆:Q×Q→Q\star:\mathbb Q\times\mathbb Q\to\mathbb Q yang memenuhi ab⋆cd=a+cb+d\frac ab\star\frac cd=\frac{a+c}{b+d} untuk semua wakil berpenyebut positif; syarat ketunggalan dalam bukti 8.2.50 gagal. Rumus yang tampak masuk akal pada pasangan belum tentu mendefinisikan operasi pada kelas.


    Nol, satu, dan invers

    Definisi 8.2.53. Didefinisikan 0Q=010_{\mathbb Q}=\dfrac01 dan 1Q=111_{\mathbb Q}=\dfrac11.

    Berlaku 0Q≠1Q0_{\mathbb Q}\neq 1_{\mathbb Q}. Menurut (K), 01=11\frac01=\frac11 berarti 0⋅1=1⋅10\cdot 1=1\cdot 1, yaitu 0=10=1 di Z\mathbb Z. Ini bertentangan dengan 8.2.15.

    Menurut Lema 8.2.47(a), ab=0Q\frac ab=0_{\mathbb Q} jika dan hanya jika a=0a=0.

    Lema 8.2.54 (invers perkalian terdefinisi baik). Misalkan Q∗={x∈Q:x≠0Q}\mathbb Q^\ast=\{x\in\mathbb Q: x\neq 0_{\mathbb Q}\}. Terdapat fungsi tunggal (⋅)−1:Q∗→Q∗(\cdot)^{-1}:\mathbb Q^\ast\to\mathbb Q^\ast sehingga

    (ab)−1=bauntuk setiap (a,b)∈D dengan ab≠0Q.\Big(\frac ab\Big)^{-1}=\frac ba\qquad\text{untuk setiap }(a,b)\in D\text{ dengan }\frac ab\neq 0_{\mathbb Q}.

    Strategi. Ada dua hal yang harus diperiksa. Pertama, (b,a)(b,a) harus anggota DD untuk setiap wakil, sehingga pembilang aa tidak boleh nol pada wakil mana pun. Kedua, hasilnya harus bebas wakil.

    Bukti.

    Domain. Ambil x∈Q∗x\in\mathbb Q^\ast dan sebarang wakil (a,b)∈x(a,b)\in x. Maka x=ab≠0Qx=\frac ab\neq 0_{\mathbb Q}, sehingga a≠0a\neq 0 menurut 8.2.47(a). Jadi (b,a)∈D(b,a)\in D untuk setiap wakil (a,b)(a,b) dari xx.

    Kelas hasil bukan nol. Pembilang bb dari (b,a)(b,a) bukan nol karena (a,b)∈D(a,b)\in D. Menurut 8.2.47(a), ba≠0Q\frac ba\neq 0_{\mathbb Q}.

    Bebas wakil. Jika ab′=a′bab'=a'b, maka ba′=a′b=ab′=b′aba'=a'b=ab'=b'a, yaitu (b,a)∼Q(b′,a′)(b,a)\sim_{\mathbb Q}(b',a').

    Grafik. Ambil G−1={(X,W)∈Q∗×Q∗:∃(a,b)∈X (b,a)∈W}G_{-1}=\{(X,W)\in\mathbb Q^\ast\times\mathbb Q^\ast:\exists(a,b)\in X\ (b,a)\in W\}. Untuk setiap X∈Q∗X\in\mathbb Q^\ast, ada (a,b)∈X(a,b)\in X, dan pemeriksaan domain di atas memberi kelas W=ba∈Q∗W=\frac ba\in\mathbb Q^\ast; jadi (X,W)∈G−1(X,W)\in G_{-1} dan grafik total. Bila dua saksi (a,b),(a′,b′)∈X(a,b),(a',b')\in X memberi keluaran W,W′W,W', bebas wakil yang baru dibuktikan memberi W=ba=b′a′=W′W=\frac ba=\frac{b'}{a'}=W'. Grafik bernilai tunggal. Refleksivitas memberi nilai invers sesuai rumus. Setiap XX mempunyai wakil, sehingga setiap fungsi yang memenuhi rumus tersebut mempunyai nilai yang sama di seluruh domain dan karenanya tunggal. □\square

    Untuk kelas nol, "rumus" ba\frac ba akan menghasilkan pasangan seperti (5,0)(5,0) dari wakil (0,5)(0,5). Pasangan (5,0)(5,0) bukan unsur DD. Karena itu 0Q0_{\mathbb Q} sengaja dikecualikan dari domain.

    Teorema 8.2.55 (hukum aritmetika Q\mathbb Q). Untuk semua x=abx=\frac ab, y=cdy=\frac cd, z=efz=\frac ef di Q\mathbb Q, dengan b,d,f≠0b,d,f\neq 0, berlaku:

    HukumRumus
    (a)asosiativitas penjumlahan(x+y)+z=x+(y+z)(x+y)+z=x+(y+z)
    (b)komutativitas penjumlahanx+y=y+xx+y=y+x
    (c)identitas penjumlahanx+0Q=xx+0_{\mathbb Q}=x
    (d)invers penjumlahanx+(−x)=0Qx+(-x)=0_{\mathbb Q}
    (e)asosiativitas perkalian(xy)z=x(yz)(xy)z=x(yz)
    (f)komutativitas perkalianxy=yxxy=yx
    (g)identitas perkalianx⋅1Q=xx\cdot 1_{\mathbb Q}=x
    (h)invers perkalianjika x≠0Qx\neq 0_{\mathbb Q}, maka x⋅x−1=1Qx\cdot x^{-1}=1_{\mathbb Q}
    (i)distributivitasx(y+z)=xy+xzx(y+z)=xy+xz dan (y+z)x=yx+zx(y+z)x=yx+zx
    (j)nol berbeda dari satu0Q≠1Q0_{\mathbb Q}\neq 1_{\mathbb Q}

    Strategi. Hitung kedua ruas dengan wakil (a,b)(a,b), (c,d)(c,d), (e,f)(e,f) dan rumus 8.2.50. Setiap penyebut yang muncul adalah hasil kali faktor-faktor bukan nol, sehingga bukan nol menurut 8.2.21. Ada dua kemungkinan:

    • Jika kedua pasangan hasil menjadi sama setelah hukum ring Z\mathbb Z diterapkan, kelasnya sama.
    • Jika tidak, kesamaan kelas diperiksa dengan (K) atau Lema 8.2.45(a).

    Hanya hukum Z\mathbb Z yang dipakai. Penulisan adfadf dan sejenisnya sah karena perkalian di Z\mathbb Z asosiatif dan komutatif.

    Bukti.

    (a) Asosiativitas penjumlahan. Ruas kiri:

    (ab+cd)+ef=ad+bcbd+ef=(ad+bc)f+(bd)e(bd)f=adf+bcf+bdebdf.\Big(\frac ab+\frac cd\Big)+\frac ef=\frac{ad+bc}{bd}+\frac ef=\frac{(ad+bc)f+(bd)e}{(bd)f}=\frac{adf+bcf+bde}{bdf}.

    Ruas kanan:

    ab+(cd+ef)=ab+cf+dedf=a(df)+b(cf+de)b(df)=adf+bcf+bdebdf.\frac ab+\Big(\frac cd+\frac ef\Big)=\frac ab+\frac{cf+de}{df}=\frac{a(df)+b(cf+de)}{b(df)}=\frac{adf+bcf+bde}{bdf}.

    Kedua pasangan sama, dengan penyebut bdf≠0bdf\neq 0.

    (b) Komutativitas penjumlahan. cd+ab=cb+dadb\dfrac cd+\dfrac ab=\dfrac{cb+da}{db}. Menurut komutativitas di Z\mathbb Z, pasangan (cb+da, db)(cb+da,\,db) sama dengan (ad+bc, bd)(ad+bc,\,bd).

    (c) Identitas penjumlahan. Dengan x⋅1=xx\cdot 1=x, x0=0x0=0, dan x+0=xx+0=x di Z\mathbb Z:

    ab+01=a⋅1+b⋅0b⋅1=a+0b=ab.\frac ab+\frac01=\frac{a\cdot1+b\cdot0}{b\cdot1}=\frac{a+0}{b}=\frac ab.

    (d) Invers penjumlahan. ab+−ab=ab+b(−a)bb\dfrac ab+\dfrac{-a}{b}=\dfrac{ab+b(-a)}{bb}. Menurut 8.2.16, b(−a)=−(ba)=−(ab)b(-a)=-(ba)=-(ab), sehingga pembilangnya ab+(−(ab))=0ab+(-(ab))=0. Pasangan hasil (0,bb)(0,bb) tidak perlu sama dengan (0,1)(0,1). Namun bb≠0bb\neq0, sehingga menurut Lema 8.2.47(a) kelasnya adalah 0Q0_{\mathbb Q}.

    Pecahan sebagai kelas dan larangan penyebut nolUntuk: Bab 8, Unit 8.2 bagian B (Definisi 8.2.41, Contoh 8.2.43, Lema 8.2.45; M08-02)

    (e) Asosiativitas perkalian. Ruas kiri adalah (ac)e(bd)f\dfrac{(ac)e}{(bd)f} dan ruas kanan a(ce)b(df)\dfrac{a(ce)}{b(df)}. Kedua pasangan sama dengan (ace,bdf)(ace,bdf).

    (f) Komutativitas perkalian. cd⋅ab=cadb=acbd\dfrac cd\cdot\dfrac ab=\dfrac{ca}{db}=\dfrac{ac}{bd}, menurut komutativitas di Z\mathbb Z.

    (g) Identitas perkalian. ab⋅11=a⋅1b⋅1=ab\dfrac ab\cdot\dfrac11=\dfrac{a\cdot1}{b\cdot1}=\dfrac ab.

    (h) Invers perkalian. Jika ab≠0Q\frac ab\neq0_{\mathbb Q}, maka a≠0a\neq0 dan

    ab⋅ba=abba.\frac ab\cdot\frac ba=\frac{ab}{ba}.

    Penyebut ba≠0ba\neq 0 menurut 8.2.21. Pasangan (ab,ba)(ab,ba) tidak perlu sama dengan (1,1)(1,1). Namun (ab)⋅1=ab=ba=(ba)⋅1(ab)\cdot 1=ab=ba=(ba)\cdot 1, sehingga menurut (K) berlaku abba=11=1Q\frac{ab}{ba}=\frac11=1_{\mathbb Q}. Tidak ada pembagian integer yang dipakai.

    (i) Distributivitas. Ruas kiri:

    ab(cd+ef)=ab⋅cf+dedf=a(cf+de)b(df)=acf+adebdf.\frac ab\Big(\frac cd+\frac ef\Big)=\frac ab\cdot\frac{cf+de}{df}=\frac{a(cf+de)}{b(df)}=\frac{acf+ade}{bdf}.

    Ruas kanan:

    ab⋅cd+ab⋅ef=acbd+aebf=(ac)(bf)+(bd)(ae)(bd)(bf).\frac ab\cdot\frac cd+\frac ab\cdot\frac ef=\frac{ac}{bd}+\frac{ae}{bf}=\frac{(ac)(bf)+(bd)(ae)}{(bd)(bf)} .

    Dengan hukum ring Z\mathbb Z, pembilang ruas kanan sama dengan b(acf)+b(ade)=b(acf+ade)b(acf)+b(ade)=b(acf+ade), dan penyebutnya sama dengan b(bdf)b(bdf). Pasangan (b(acf+ade), b(bdf))\big(b(acf+ade),\,b(bdf)\big) tidak perlu sama dengan pasangan ruas kiri. Namun b≠0b\neq 0, sehingga Lema 8.2.45(a) dengan k=bk=b memberi

    b(acf+ade)b(bdf)=acf+adebdf.\frac{b(acf+ade)}{b(bdf)}=\frac{acf+ade}{bdf}.

    Distributivitas kanan diperoleh dari distributivitas kiri dan (f):

    (y+z)x=x(y+z)=xy+xz=yx+zx.(y+z)x=x(y+z)=xy+xz=yx+zx.

    (j) Sudah ditunjukkan setelah Definisi 8.2.53.

    Bentuk kiri 0Q+x=x0_{\mathbb Q}+x=x, 1Qx=x1_{\mathbb Q}x=x, dan x−1x=1Qx^{-1}x=1_{\mathbb Q} diperoleh dari (c), (g), (h) bersama (b) dan (f). □\square

    Daftar (a)–(j) memuat hukum-hukum yang akan dipakai untuk mendefinisikan medan pada Bab 9. Akibat umum dari hukum-hukum itu, misalnya ketunggalan invers, tidak dibahas di sini.

    Proposisi 8.2.56 (nol tidak mempunyai invers). Untuk setiap y∈Qy\in\mathbb Q berlaku 0Q⋅y=0Q0_{\mathbb Q}\cdot y=0_{\mathbb Q}. Akibatnya, tidak ada y∈Qy\in\mathbb Q dengan 0Q⋅y=1Q0_{\mathbb Q}\cdot y=1_{\mathbb Q}.

    Bukti. Tulis y=cdy=\frac cd. Maka

    01⋅cd=0⋅c1⋅d=0d=0Q\frac01\cdot\frac cd=\frac{0\cdot c}{1\cdot d}=\frac0d=0_{\mathbb Q}

    menurut 8.2.47(a). Jika ada yy dengan 0Qy=1Q0_{\mathbb Q}y=1_{\mathbb Q}, maka 0Q=1Q0_{\mathbb Q}=1_{\mathbb Q}. Ini bertentangan dengan 8.2.55(j). □\square

    Definisi 8.2.57 (pengurangan dan pembagian). Untuk x,y∈Qx,y\in\mathbb Q, didefinisikan x−y:=x+(−y)x-y:=x+(-y). Untuk y≠0Qy\neq 0_{\mathbb Q}, didefinisikan x÷y:=x⋅y−1x\div y:=x\cdot y^{-1}.

    Untuk y=0Qy=0_{\mathbb Q}, pembagian tidak didefinisikan. Jika hukum lapangan dengan 0≠10\neq1 dipertahankan, invers nol tidak dapat ditambahkan: menurut 8.2.56, tidak ada unsur Q\mathbb Q yang dapat berperan sebagai 0Q−10_{\mathbb Q}^{-1}.


    Embedding Z→Q\mathbb Z\to\mathbb Q

    Teorema 8.2.58. Fungsi j:Z→Qj:\mathbb Z\to\mathbb Q dengan j(a)=a1j(a)=\dfrac a1 injektif, dan untuk semua a,c∈Za,c\in\mathbb Z berlaku

    j(a+c)=j(a)+j(c),j(ac)=j(a)j(c),j(−a)=−j(a),j(0)=0Q,j(1)=1Q.j(a+c)=j(a)+j(c),\quad j(ac)=j(a)j(c),\quad j(-a)=-j(a),\quad j(0)=0_{\mathbb Q},\quad j(1)=1_{\mathbb Q}.

    Bukti. Karena 1≠01\neq 0, berlaku (a,1)∈D(a,1)\in D, sehingga jj terdefinisi.

    Injektif. Jika a1=c1\frac a1=\frac c1, maka menurut (K), a⋅1=1⋅ca\cdot 1=1\cdot c, yaitu a=ca=c.

    Operasi. Setelah hukum identitas di Z\mathbb Z (8.2.13–15) diterapkan, pasangan-pasangan berikut sama:

    j(a)+j(c)=a⋅1+1⋅c1⋅1=a+c1,j(a)j(c)=ac1⋅1=ac1,−j(a)=−a1=j(−a).j(a)+j(c)=\frac{a\cdot1+1\cdot c}{1\cdot1}=\frac{a+c}1, \qquad j(a)j(c)=\frac{ac}{1\cdot1}=\frac{ac}{1}, \qquad -j(a)=\frac{-a}{1}=j(-a).

    Nol dan satu. j(0)=01j(0)=\frac01 dan j(1)=11j(1)=\frac11 sesuai Definisi 8.2.53. □\square

    Akibatnya, dengan 8.2.17 dan 8.2.57,

    j(a−c)=j(a+(−c))=j(a)+j(−c)=j(a)+(−j(c))=j(a)−j(c).j(a-c)=j(a+(-c))=j(a)+j(-c)=j(a)+(-j(c))=j(a)-j(c).

    Komposisi j∘i:N→Qj\circ i:\mathbb N\to\mathbb Q, dengan n↦i(n)1n\mapsto \frac{i(n)}{1}, injektif karena merupakan komposisi dua fungsi injektif. Komposisi ini juga mempertahankan 00, 11, ++, dan ⋅\cdot, karena ii (8.2.18–19) dan jj masing-masing mempertahankannya.

    Proposisi 8.2.59 (notasi pecahan sebagai pembagian). Untuk (a,b)∈D(a,b)\in D berlaku

    ab=j(a)÷j(b).\frac ab=j(a)\div j(b).

    Bukti. Karena b≠0b\neq 0, berlaku j(b)=b1≠0Qj(b)=\frac b1\neq0_{\mathbb Q} (8.2.47(a)). Dengan wakil (b,1)(b,1), Lema 8.2.54 memberi j(b)−1=1bj(b)^{-1}=\frac1b. Maka

    j(a)⋅j(b)−1=a1⋅1b=a⋅11⋅b=ab.j(a)\cdot j(b)^{-1}=\frac a1\cdot\frac1b=\frac{a\cdot1}{1\cdot b}=\frac ab.

    □\square

    Jadi setiap bilangan rasional adalah hasil bagi dua integer di dalam Q\mathbb Q. Notasi ab\frac ab, yang semula hanya nama kelas, ternyata selaras dengan pembagian di Q\mathbb Q.

    Catatan 8.2.60 (identifikasi, bukan inklusi literal). Integer [m,n][m,n] adalah himpunan pasangan bilangan asli, sedangkan a1\frac a1 adalah himpunan pasangan integer. Konstruksi tidak mengasumsikan bahwa keduanya identik secara literal; yang digunakan adalah embedding. Karena itu penulisan

    N⊆Z⊆Q\mathbb N\subseteq\mathbb Z\subseteq\mathbb Q

    berarti identifikasi: integer aa disamakan dengan j(a)j(a), dan bilangan asli nn disamakan dengan j(i(n))j(i(n)).

    Identifikasi ini sah karena jj dan j∘ij\circ i injektif dan mempertahankan operasi (8.2.58). Akibatnya, perhitungan dengan aa di Z\mathbb Z dan perhitungan dengan j(a)j(a) di Q\mathbb Q memberi hasil yang bersesuaian. Pernyataan ini tidak mengklaim apa pun tentang kode himpunan.

    Mulai sekarang, bila tidak menimbulkan kerancuan, ditulis 00, 11, dan aa untuk 0Q0_{\mathbb Q}, 1Q1_{\mathbb Q}, dan j(a)j(a).


    Urutan pada Q\mathbb Q: definisi dan bebas wakil

    Subbagian ini mengerjakan empat hal:

    • mendefinisikan urutan pada Q\mathbb Q;
    • membuktikan bahwa definisi itu bebas wakil (8.2.62);
    • membuktikan trikotomi dan kecocokan dengan jj (8.2.63);
    • membuktikan transitivitas sebagai latihan berpembahasan lengkap (Latihan 8.2.72).

    Kecocokan urutan dengan penjumlahan dan perkalian, yaitu hukum medan terurut, tidak dibuktikan di sini dan tidak boleh dianggap telah tersedia; teori urutan dibahas pada Bab 10. Hukum urutan yang dipakai di bawah hanyalah hukum urutan Z\mathbb Z dari Bagian A.

    Definisi 8.2.61. Dengan pemisahan dari Q×Q\mathbb Q\times\mathbb Q, definisikan x<Qyx<_{\mathbb Q}y jika dan hanya jika terdapat (a,b)∈x(a,b)\in x dan (c,d)∈y(c,d)\in y dengan b>0b>0, d>0d>0, dan ad<bcad<bc di Z\mathbb Z. Definisikan pula x≤Qyx\le_{\mathbb Q}y jika dan hanya jika x<Qyx<_{\mathbb Q}y atau x=yx=y.

    Menurut Lema 8.2.45(c), setiap kelas mempunyai wakil berpenyebut positif. Lema 8.2.62 di bawah menunjukkan bahwa, jika x<Qyx<_{\mathbb Q}y, maka ad<bcad<bc berlaku untuk setiap pasangan wakil berpenyebut positif. Jadi dalam perhitungan boleh dipakai wakil berpenyebut positif mana saja.

    Lema 8.2.62 (bebas wakil). Misalkan (a,b)∼Q(a′,b′)(a,b)\sim_{\mathbb Q}(a',b') dan (c,d)∼Q(c′,d′)(c,d)\sim_{\mathbb Q}(c',d') dengan b,b′,d,d′>0b,b',d,d'>0. Maka

    ad<bc  ⟺  a′d′<b′c′.ad<bc\iff a'd'<b'c'.

    Strategi. Kalikan ketaksamaan dengan faktor positif yang sesuai, lalu substitusikan kedua hipotesis kesamaan.

    Bukti. Menurut 8.2.29, b′d′>0b'd'>0 dan bd>0bd>0, karena hasil kali dua bilangan positif adalah positif. Dengan 8.2.29 untuk faktor positif z=b′d′z=b'd',

    ad<bc  ⟺  (ad)(b′d′)<(bc)(b′d′).ad<bc\iff (ad)(b'd')<(bc)(b'd').

    Dengan hipotesis ab′=a′bab'=a'b dan cd′=c′dcd'=c'd, kedua ruas dapat ditulis ulang:

    (ad)(b′d′)=(ab′)(dd′)=(a′b)(dd′)=(a′d′)(bd),(ad)(b'd')=(ab')(dd')=(a'b)(dd')=(a'd')(bd),(bc)(b′d′)=(cd′)(bb′)=(c′d)(bb′)=(b′c′)(bd).(bc)(b'd')=(cd')(bb')=(c'd)(bb')=(b'c')(bd).

    Jadi ad<bc  ⟺  (a′d′)(bd)<(b′c′)(bd)ad<bc\iff (a'd')(bd)<(b'c')(bd). Menurut 8.2.29 dengan faktor positif z=bdz=bd, syarat terakhir setara dengan a′d′<b′c′a'd'<b'c'. □\square

    Proposisi 8.2.63.

    • (a) Untuk x,y∈Qx,y\in\mathbb Q, tepat satu dari x<Qyx<_{\mathbb Q}y, x=yx=y, y<Qxy<_{\mathbb Q}x berlaku.
    • (b) Untuk a,c∈Za,c\in\mathbb Z berlaku j(a)<Qj(c)  ⟺  a<cj(a)<_{\mathbb Q}j(c)\iff a<c.

    Bukti.

    (a) Ambil wakil (a,b)∈x(a,b)\in x dan (c,d)∈y(c,d)\in y dengan b,d>0b,d>0. Wakil seperti itu ada menurut 8.2.45(c). Menurut Lema 8.2.62 dan (K):

    • x<Qy  ⟺  ad<bcx<_{\mathbb Q}y\iff ad<bc;
    • x=y  ⟺  ad=bcx=y\iff ad=bc;
    • y<Qx  ⟺  cb<day<_{\mathbb Q}x\iff cb<da, yaitu bc<adbc<ad.

    Kesimpulan menyusul dari trikotomi << di Z\mathbb Z: untuk integer adad dan bcbc, tepat satu dari ad<bcad<bc, ad=bcad=bc, bc<adbc<ad berlaku. Trikotomi ini diperoleh dari totalitas dan antisimetri ≤Z\le_{\mathbb Z} (8.2.24–28).

    (b) Wakil (a,1)(a,1) dan (c,1)(c,1) berpenyebut positif. Menurut definisi dan Lema 8.2.62, j(a)<Qj(c)j(a)<_{\mathbb Q}j(c) jika dan hanya jika a⋅1<1⋅ca\cdot 1<1\cdot c, yaitu a<ca<c. □\square

    Contoh 8.2.64 (normalisasi penyebut diperlukan). Bilangan −1∈Q-1\in\mathbb Q dapat diwakili oleh (−1,1)(-1,1) maupun (1,−1)(1,-1), karena (−1)(−1)=1=1⋅1(-1)(-1)=1=1\cdot1. Bandingkan bilangan ini dengan 0=010=\frac01 memakai uji ad<bcad<bc tanpa syarat tanda penyebut:

    • Dengan wakil (−1,1)(-1,1), uji itu menjadi (−1)⋅1<1⋅0(-1)\cdot 1<1\cdot 0, yaitu −1<0-1<0. Ini benar.
    • Dengan wakil (1,−1)(1,-1), uji itu menjadi 1⋅1<(−1)⋅01\cdot 1<(-1)\cdot 0, yaitu 1<01<0. Ini salah.

    Tanpa syarat penyebut positif, uji itu bergantung pada wakil, karena perkalian dengan penyebut negatif membalik arah ketaksamaan. Inilah sebabnya Definisi 8.2.61 hanya memakai wakil berpenyebut positif, dan Lema 8.2.62 mensyaratkan b,b′,d,d′>0b,b',d,d'>0.


    Kesalahan umum

    1. Membatalkan faktor yang mungkin nol. Dalam bukti transitivitas, cc tidak boleh dibatalkan. Yang dibatalkan adalah d≠0d\neq0 (8.2.42).
    2. Mengira wakil adalah bilangan. Sebagai pasangan, (1,2)≠(2,4)(1,2)\neq(2,4), tetapi 12=24\frac12=\frac24. Kesamaan bilangan rasional diuji dengan (K).
    3. Menganggap rumus pada wakil otomatis mendefinisikan operasi. Contoh 8.2.52 menunjukkan bahwa hal ini bisa gagal. Setiap operasi memerlukan pemeriksaan bebas wakil seperti Lema 8.2.49. Jika penyebut boleh negatif, rumus ⋆\star bahkan dapat menghasilkan penyebut nol: (1,1)(1,1) dan (1,−1)(1,-1) memberi (2,0)∉D(2,0)\notin D.
    4. Menulis (ab)−1=ba\left(\frac ab\right)^{-1}=\frac ba tanpa syarat. Invers hanya terdefinisi untuk kelas bukan nol. Hanya dengan syarat itu setiap wakil mempunyai pembilang bukan nol (8.2.54).
    5. Menerima suatu hukum Q\mathbb Q tanpa memeriksa pasangan hasil. Pada (d), (h), dan (i) Teorema 8.2.55, kedua pasangan hasil tidak harus sama. Kesamaan kelasnya memerlukan (K) atau Lema 8.2.45(a).
    6. Mengartikan Z⊆Q\mathbb Z\subseteq\mathbb Q sebagai inklusi literal. Yang dimaksud adalah identifikasi melalui jj (8.2.60).
    7. Membandingkan pecahan dengan ad<bcad<bc tanpa menormalkan penyebut (8.2.64).

    Latihan

    Latihan 8.2.65. Tunjukkan bahwa −36=1−2=−12\dfrac{-3}{6}=\dfrac{1}{-2}=\dfrac{-1}{2}, lalu tentukan wakil dengan penyebut positif.

    Pembahasan. Periksa (K) untuk setiap pasangan kelas.

    • (−3)(−2)=6=6⋅1(-3)(-2)=6=6\cdot 1, sehingga −36=1−2\frac{-3}6=\frac1{-2}.
    • 1⋅2=2=(−2)(−1)1\cdot 2=2=(-2)(-1), sehingga 1−2=−12\frac1{-2}=\frac{-1}2.

    Wakil (−3,6)(-3,6) dan (−1,2)(-1,2) sudah berpenyebut positif. Wakil (1,−2)(1,-2) diubah menurut Lema 8.2.45(b) menjadi (−1,2)(-1,2).

    Latihan 8.2.66. Hitung 34+−56\dfrac34+\dfrac{-5}{6} dan 34⋅−56\dfrac34\cdot\dfrac{-5}{6}. Periksa hasil jumlah dengan memakai wakil (6,8)(6,8) untuk 34\frac34.

    Pembahasan.

    Jumlah.

    34+−56=3⋅6+4⋅(−5)4⋅6=18−2024=−224.\frac34+\frac{-5}6=\frac{3\cdot 6+4\cdot(-5)}{4\cdot 6}=\frac{18-20}{24}=\frac{-2}{24}.

    Karena (−2)⋅12=−24=24⋅(−1)(-2)\cdot 12=-24=24\cdot(-1), berlaku −224=−112\frac{-2}{24}=\frac{-1}{12}.

    Produk.

    34⋅−56=3⋅(−5)4⋅6=−1524.\frac34\cdot\frac{-5}6=\frac{3\cdot(-5)}{4\cdot6}=\frac{-15}{24}.

    Karena (−15)⋅8=−120=24⋅(−5)(-15)\cdot 8=-120=24\cdot(-5), berlaku −1524=−58\frac{-15}{24}=\frac{-5}{8}.

    Pemeriksaan jumlah dengan wakil (6,8)(6,8).

    68+−56=6⋅6+8⋅(−5)8⋅6=−448.\frac68+\frac{-5}6=\frac{6\cdot6+8\cdot(-5)}{8\cdot6}=\frac{-4}{48}.

    Karena (−4)⋅12=−48=48⋅(−1)(-4)\cdot12=-48=48\cdot(-1), berlaku −448=−112\frac{-4}{48}=\frac{-1}{12}. Hasilnya sama.

    Latihan 8.2.67 (kasus nol). Untuk (a,b)∈D(a,b)\in D dan d≠0d\neq 0, buktikan ab+0d=ab\dfrac ab+\dfrac0d=\dfrac ab langsung dari definisi, tanpa memakai 8.2.55(c). Mengapa pasangan hasilnya tidak perlu sama dengan (a,b)(a,b)?

    Pembahasan. Menurut definisi,

    ab+0d=ad+b⋅0bd=adbd=dadb.\frac ab+\frac0d=\frac{ad+b\cdot0}{bd}=\frac{ad}{bd}=\frac{da}{db}.

    Menurut Lema 8.2.45(a) dengan k=d≠0k=d\neq0, kelas ini sama dengan ab\frac ab.

    Pasangan (ad,bd)(ad,bd) umumnya berbeda dari (a,b)(a,b); misalnya, d=2d=2 memberi (2a,2b)(2a,2b). Yang dituntut hanyalah kesamaan kelas. Kesamaan kelas inilah yang menjamin bahwa 0d\frac0d bertindak sebagai nol untuk setiap d≠0d\neq0, sesuai fakta bahwa semua 0d\frac0d adalah kelas yang sama.

    Latihan 8.2.68 (pembagian nol). Jelaskan mengapa 30\dfrac30 tidak menyatakan unsur Q\mathbb Q. Jelaskan juga mengapa invers bagi 00 tidak dapat "ditambahkan" tanpa melanggar hukum 8.2.55.

    Pembahasan. Pasangan (3,0)(3,0) bukan unsur D=Z×Z∗D=\mathbb Z\times\mathbb Z^\ast, sehingga kelas [(3,0)]Q[(3,0)]_{\mathbb Q} tidak ada.

    Untuk bagian kedua, andaikan dalam suatu sistem yang memenuhi hukum (a)–(j) terdapat yy dengan 0⋅y=10\cdot y=1. Dari (c) dan (i) diperoleh

    0⋅y=(0+0)y=0y+0y.0\cdot y=(0+0)y=0y+0y.

    Tambahkan −(0y)-(0y) pada kedua ruas, lalu gunakan (a), (c), dan (d); diperoleh 0y=00y=0. Akibatnya 1=01=0, yang bertentangan dengan (j). Di Q\mathbb Q sendiri, hal ini sudah ditunjukkan langsung pada 8.2.56.

    Latihan 8.2.69. Hitung (2−6)−1\left(\dfrac{2}{-6}\right)^{-1} memakai wakil (2,−6)(2,-6) dan memakai wakil (−1,3)(-1,3). Periksa bahwa hasilnya sama.

    Pembahasan. Kedua wakil memang berasal dari kelas yang sama, karena 2⋅3=6=(−6)(−1)2\cdot 3=6=(-6)(-1). Pembilang keduanya, 22 dan −1-1, bukan nol, sesuai Lema 8.2.47(b).

    • Wakil (2,−6)(2,-6) memberi −62\frac{-6}{2}.
    • Wakil (−1,3)(-1,3) memberi 3−1\frac{3}{-1}.

    Karena (−6)(−1)=6=2⋅3(-6)(-1)=6=2\cdot 3, kedua kelas hasil sama. Keduanya juga sama dengan −31=j(−3)\frac{-3}{1}=j(-3), karena (−6)⋅1=−6=2⋅(−3)(-6)\cdot 1=-6=2\cdot(-3).

    Latihan 8.2.70. Tunjukkan bahwa rumus (a,b)⊕(c,d):=(a+c, bd)(a,b)\oplus(c,d):=(a+c,\,bd) pada DD tidak mendefinisikan operasi pada Q\mathbb Q.

    Pembahasan. Rumus ini selalu menghasilkan unsur DD, karena bd≠0bd\neq0. Masalahnya terletak pada bebas wakil.

    • Wakil (1,1)(1,1) dan (1,1)(1,1) memberi (2,1)(2,1).
    • Wakil (2,2)(2,2) dan (1,1)(1,1) memberi (3,2)(3,2).

    Operand pertamanya sama, karena 11=22\frac11=\frac22. Namun 2⋅2=4≠3=1⋅32\cdot2=4\neq3=1\cdot3, sehingga 21≠32\frac21\neq\frac32. Jadi tidak ada fungsi pada Q×Q\mathbb Q\times\mathbb Q yang memenuhi rumus ini untuk semua wakil.

    Latihan 8.2.71 (tanpa pembagi nol). Buktikan bahwa untuk x,y∈Qx,y\in\mathbb Q berlaku xy=0Qxy=0_{\mathbb Q} jika dan hanya jika x=0Qx=0_{\mathbb Q} atau y=0Qy=0_{\mathbb Q}.

    Pembahasan. Tulis x=abx=\frac ab dan y=cdy=\frac cd. Maka xy=acbdxy=\frac{ac}{bd} dengan bd≠0bd\neq0. Menurut Lema 8.2.47(a),

    xy=0Q  ⟺  ac=0.xy=0_{\mathbb Q}\iff ac=0 .

    Menurut 8.2.21 untuk satu arah dan 8.2.16 (x0=0x0=0) untuk arah sebaliknya, ac=0ac=0 jika dan hanya jika a=0a=0 atau c=0c=0. Menurut 8.2.47(a) lagi, ini berarti x=0Qx=0_{\mathbb Q} atau y=0Qy=0_{\mathbb Q}.

    Latihan 8.2.72 (transitivitas urutan). Buktikan: jika x<Qyx<_{\mathbb Q}y dan y<Qzy<_{\mathbb Q}z, maka x<Qzx<_{\mathbb Q}z.

    Pembahasan. Ambil wakil x=abx=\frac ab, y=cdy=\frac cd, z=efz=\frac ef dengan b,d,f>0b,d,f>0. Ini sah menurut 8.2.45(c), dan menurut 8.2.62 wakil yy yang sama dapat dipakai pada kedua hipotesis. Hipotesisnya menjadi ad<bcad<bc dan cf<decf<de.

    1. Kalikan ad<bcad<bc dengan f>0f>0 (8.2.29): adf<bcfadf<bcf.
    2. Kalikan cf<decf<de dengan b>0b>0: bcf<bdebcf<bde.
    3. Menurut transitivitas << di Z\mathbb Z: adf<bdeadf<bde, yaitu (af)d<(be)d(af)d<(be)d.
    4. Karena d>0d>0, arah sebaliknya pada 8.2.29 memberi af<beaf<be, yaitu x<Qzx<_{\mathbb Q}z.

    Pada setiap langkah, faktor yang dipakai adalah penyebut, yang positif, bukan pembilang cc yang tandanya tidak diketahui.

    Latihan 8.2.73. Tunjukkan bahwa j(6)÷j(4)=32j(6)\div j(4)=\dfrac32. Mengapa hasil ini tidak bertentangan dengan fakta bahwa tidak ada integer qq dengan 4q=64q=6?

    Pembahasan. Menurut 8.2.59, j(6)÷j(4)=64j(6)\div j(4)=\frac64. Karena 6⋅2=12=4⋅36\cdot 2=12=4\cdot 3, berlaku 64=32\frac64=\frac32.

    Pembagian ini dilakukan di Q\mathbb Q, tempat j(4)j(4) mempunyai invers 14\frac14. Bilangan 32\frac32 tidak berada dalam citra jj. Untuk melihatnya, andaikan 32=q1\frac32=\frac q1 untuk suatu q∈Zq\in\mathbb Z.

    • Menurut (K), 3=2q3=2q.
    • Karena 2<3<42<3<4 di Z\mathbb Z (salinan urutan N\mathbb N, 8.2.28), berlaku 2⋅1<2q<2⋅22\cdot1<2q<2\cdot2.
    • Karena 2>02>0, arah "jika dan hanya jika" pada 8.2.29 memberi 1<q<21<q<2.
    • Translasi dengan −1-1 (8.2.24–28) memberi 0<q−1<10<q-1<1. Ini bertentangan dengan 8.2.30.

    Akibatnya, juga tidak ada integer qq dengan 4q=64q=6. Jika ada, maka 2(2q)=2⋅32(2q)=2\cdot 3, dan pembatalan faktor 2≠02\neq0 (8.2.22) memberi 2q=32q=3, yang baru saja ditunjukkan mustahil. Jadi persamaan 4x=64x=6 tidak terselesaikan di Z\mathbb Z, tetapi terselesaikan di Q\mathbb Q.

    Latihan 8.2.74. Tunjukkan bahwa −ab=a−b-\dfrac ab=\dfrac{a}{-b}. Kemudian turunkan −a−b=ab\dfrac{-a}{-b}=\dfrac ab dari −(−x)=x-(-x)=x.

    Pembahasan. Menurut definisi, −ab=−ab-\frac ab=\frac{-a}{b}. Menurut (K), −ab=a−b\frac{-a}{b}=\frac{a}{-b}, karena (−a)(−b)=ab=ba(-a)(-b)=ab=ba (8.2.16).

    Dengan definisi negasi dua kali dan −(−a)=a-(-a)=a di Z\mathbb Z,

    −(−ab)=−−ab=−(−a)b=ab.-\Big(-\frac ab\Big)=-\frac{-a}{b}=\frac{-(-a)}{b}=\frac ab.

    Di sisi lain, dengan bagian pertama lalu definisi negasi,

    −(−ab)=−a−b=−a−b.-\Big(-\frac ab\Big)=-\frac{a}{-b}=\frac{-a}{-b}.

    Jadi −a−b=ab\frac{-a}{-b}=\frac ab. Ini cara kedua untuk memperoleh Lema 8.2.45(b).


    Menuju 8.3

    Konstruksi ini menghasilkan Q\mathbb Q dengan dua sifat utama. Pertama, Q\mathbb Q memenuhi seluruh hukum 8.2.55 dan memuat salinan Z\mathbb Z melalui jj. Kedua, untuk a,b∈Qa,b\in\mathbb Q dengan b≠0b\neq0, persamaan bx=abx=a mempunyai penyelesaian x=a÷bx=a\div b.

    Setiap langkah konstruksi diturunkan dari hukum Z\mathbb Z. Hukum Z\mathbb Z itu sendiri bertumpu pada struktur Peano yang diasumsikan dan pada hukum N\mathbb N yang sebagian dipinjam.

    Persamaan berbentuk lain, misalnya persamaan kuadrat, belum tentu terselesaikan di Q\mathbb Q. Hal ini belum dibuktikan di sini dan akan dibahas pada unit-unit berikutnya. Unit 8.3 menempatkan Q\mathbb Q di dalam R\mathbb R, yang di sana dipakai sebagai prasyarat pinjaman dari bab-bab berikutnya. Pertanyaan yang dibawa dari bagian ini adalah: apa yang masih kurang pada Q\mathbb Q, dan fakta mana yang memerlukan landasan di luar hukum aritmetika yang telah dibuktikan di sini?

    8.3 Kerapatan (Density) Bilangan Rasional di R\mathbb{R}

    Motivasi

    Pada 8.2, Z\mathbb{Z} dibangun dari N\mathbb{N}, lalu Q\mathbb{Q} dibangun dari Z\mathbb{Z}. Setiap perluasan itu menambahkan unsur baru. Sekarang kita bertanya ke arah sebaliknya: seberapa "padat" letak Q\mathbb{Q} di dalam sistem bilangan real R\mathbb{R} yang lebih besar? Unit ini menjawab bahwa di antara dua bilangan real yang berbeda selalu ada bilangan rasional. Jadi tidak ada selang terbuka tak kosong di R\mathbb{R} yang luput dari Q\mathbb{Q}.

    Hasil ini menuntut kecermatan dalam dua hal. Pertama, R\mathbb{R} belum dikonstruksi dalam buku ini, sehingga setiap sifat R\mathbb{R} yang kita pakai harus diberi status pinjaman. Kedua, bukti kerapatan bergantung pada sifat Archimedes. Sifat itu tidak dapat diturunkan dari aksioma medan terurut saja; ia diturunkan dari kelengkapan pada Bab 11. Karena itu hasil unit ini bersyarat: kerapatan terbukti apabila prasyarat di bawah dipenuhi.

    Agar tidak bentrok dengan notasi pasangan berurutan dari 8.2, selang terbuka tidak ditulis (x,y)(x,y). Kita menulis

    Jx,y={z∈R:x<z<y}.J_{x,y}=\{z\in\mathbb{R} : x<z<y\}.

    Status prasyarat

    Prasyarat 8.3.1 (pinjaman: R\mathbb{R} sebagai medan terurut yang memuat salinan Q\mathbb{Q}). Kita mengandaikan R\mathbb{R} adalah medan terurut. Aksioma medan dibahas pada Bab 9 dan aksioma urutan pada Bab 10. Kita juga mengandaikan ada fungsi injektif φ:Q→R\varphi:\mathbb{Q}\to\mathbb{R} yang memenuhi tiga syarat berikut:

    • φ(1)=1\varphi(1)=1;
    • φ\varphi mempertahankan penjumlahan dan perkalian;
    • φ\varphi mempertahankan urutan, yaitu a<ba<b jika dan hanya jika φ(a)<φ(b)\varphi(a)<\varphi(b).

    Embedding N→Z→Q\mathbb{N}\to\mathbb{Z}\to\mathbb{Q} dari 8.2 mempertahankan operasi dan urutan. Bersama φ\varphi, kita mengidentifikasi N\mathbb{N}, Z\mathbb{Z}, dan Q\mathbb{Q} dengan citranya di R\mathbb{R}. Dengan identifikasi ini, urutan N\mathbb{N} dan Z\mathbb{Z} sesuai dengan urutan R\mathbb{R}. Inklusi N⊆Z⊆Q⊆R\mathbb{N}\subseteq\mathbb{Z}\subseteq\mathbb{Q}\subseteq\mathbb{R} dibaca melalui identifikasi tersebut, bukan sebagai kesamaan literal kode himpunan.

    Sifat medan terurut yang dipakai adalah sebagai berikut. Untuk semua a,b,c∈Ra,b,c\in\mathbb{R}:

    1. tepat satu dari a<ba<b, a=ba=b, b<ab<a berlaku, dan << transitif; akibatnya, jika a≤ba\le b dan b<cb<c, maka a<ca<c;
    2. jika a<ba<b, maka a+c<b+ca+c<b+c;
    3. jika a<ba<b dan c>0c>0, maka ac<bcac<bc;
    4. 1>01>0, dan jika a>0a>0, maka a−1>0a^{-1}>0.

    Jika c>0c>0, maka c−1>0c^{-1}>0 menurut sifat 4. Menerapkan sifat 3 dengan faktor c−1c^{-1} memberi arah kebalikannya. Jadi, untuk c>0c>0, berlaku a<ba<b jika dan hanya jika ac<bcac<bc.

    Dari φ(1)=1\varphi(1)=1 dan sifat perkalian diperoleh, untuk n∈Z∖{0}n\in\mathbb{Z}\setminus\{0\},

    φ(n) φ(1/n)=φ(n⋅1/n)=φ(1)=1,\varphi(n)\,\varphi(1/n)=\varphi(n\cdot 1/n)=\varphi(1)=1,

    sehingga φ(1/n)=φ(n)−1\varphi(1/n)=\varphi(n)^{-1}. Dengan demikian, untuk m∈Zm\in\mathbb{Z}, rasional m/nm/n dari 8.2 berpadanan dengan m⋅n−1m\cdot n^{-1} di R\mathbb{R}, dan kedua penulisan dapat dipertukarkan.

    Dari Hasil 8.2.30 dipakai pula diskretnya Z\mathbb{Z}: jika m,m′∈Zm,m'\in\mathbb{Z} dan m<m′m<m', maka m′−mm'-m adalah integer positif, sehingga m′−m≥1m'-m\ge 1, yaitu m≤m′−1m\le m'-1. Dari Proposisi 8.1.4 dipakai fakta bahwa setiap k∈Nk\in\mathbb{N} dengan k≠0k\ne0 mempunyai tepat satu pendahulu pp, dengan k=S(p)=p+1k=S(p)=p+1. Akibatnya k≥1k\ge1.

    Prasyarat 8.3.2 (pinjaman: sifat Archimedes). Untuk setiap t∈Rt\in\mathbb{R} ada n∈Nn\in\mathbb{N} dengan n>tn>t.

    Sifat ini akan diturunkan dari kelengkapan R\mathbb{R} pada Bab 11. Sifat ini bukan akibat Prasyarat 8.3.1: ada medan terurut yang memuat salinan Q\mathbb{Q} tetapi tidak Archimedes. Fakta itu dicatat tanpa bukti dalam unit ini, dan contohnya berada di luar cakupan unit ini.

    Sebagai pembanding, Jiří Lebl, Basic Analysis, bagian 1.2 (https://www.jirka.org/ra/html/sec_setofreals.html), memuat sifat Archimedes dan kerapatan Q\mathbb{Q} dalam Theorem 1.2.4. Lebl memakai N={1,2,3,… }\mathbb{N}=\{1,2,3,\dots\}, sedangkan buku ini memakai N\mathbb{N} yang memuat 00. Karena itu, setiap kali indeks positif diperlukan, syarat n≥1n\ge1 diturunkan secara eksplisit, seperti pada Langkah 2 Teorema 8.3.4 dan Pembahasan 8.3.9. Sebaliknya, pada Langkah 1 Lema 8.3.3 nilai h=0h=0 diperbolehkan.

    Lema pembulatan

    Kita belum mempunyai fungsi "floor" (⌊⋅⌋\lfloor\cdot\rfloor). Fungsi itu tidak boleh diasumsikan, karena keberadaannya justru perlu dibuktikan.

    Lema 8.3.3 (pembulatan). Untuk setiap t∈Rt\in\mathbb{R} ada tepat satu m∈Zm\in\mathbb{Z} dengan

    m−1≤t<m.m-1\le t<m .

    Strategi. Kita ingin memilih "integer terkecil yang melampaui tt". Prinsip urutan baik (WOP), Teorema 7.3.3–7.3.4 hanya berlaku pada bagian tak kosong dari N\mathbb{N}. Prinsip itu tidak berlaku pada sembarang bagian Z\mathbb{Z}; Z\mathbb{Z} sendiri tidak mempunyai unsur terkecil, sebab untuk setiap m∈Zm\in\mathbb{Z} berlaku m−1<mm-1<m. Karena itu, tt lebih dahulu digeser oleh suatu h∈Nh\in\mathbb{N} agar menjadi positif. Kemudian WOP diterapkan di N\mathbb{N}, dan hasilnya digeser kembali.

    Bukti keberadaan.

    Langkah 1 (pergeseran). Terapkan Prasyarat 8.3.2 pada −t-t. Diperoleh h∈Nh\in\mathbb{N} dengan h>−th>-t. Menambahkan tt pada kedua ruas (sifat 2) memberi t+h>0t+h>0.

    Langkah 2 (WOP). Bentuk

    K={k∈N:k>t+h}.K=\{k\in\mathbb{N} : k>t+h\}.

    Himpunan ini dibentuk dengan pemisahan dari N\mathbb{N} (Bab 3), sehingga K⊆NK\subseteq\mathbb{N}. Prasyarat 8.3.2 yang diterapkan pada t+ht+h memberi K≠∅K\neq\varnothing. Oleh WOP, KK mempunyai unsur terkecil kk terhadap urutan N\mathbb{N}, yang sesuai dengan urutan R\mathbb{R} menurut Prasyarat 8.3.1.

    Langkah 3 (k≥1k\ge1). Dari k>t+h>0k>t+h>0 diperoleh k>0k>0, jadi k≠0k\neq0. Menurut 8.1, kk mempunyai pendahulu tunggal p∈Np\in\mathbb{N} dengan k=p+1k=p+1. Di Z\mathbb{Z} berlaku p=k−1p=k-1. Jadi k≥1k\ge1 dan k−1∈Nk-1\in\mathbb{N}.

    Tanpa Langkah 1, kesimpulan ini dapat gagal. Untuk t=−5/2t=-5/2, misalnya, unsur terkecil {k∈N:k>t}\{k\in\mathbb{N}:k>t\} adalah 00, padahal 0−1∉N0-1\notin\mathbb{N}.

    Langkah 4 (minimalitas). Karena 1>01>0, berlaku k−1<kk-1<k. Seandainya k−1∈Kk-1\in K, maka KK memuat unsur yang lebih kecil dari kk, bertentangan dengan pemilihan kk. Jadi k−1∉Kk-1\notin K. Karena k−1∈Nk-1\in\mathbb{N}, ini berarti k−1>t+hk-1>t+h tidak berlaku. Menurut trikotomi (sifat 1), k−1≤t+hk-1\le t+h. Bersama k∈Kk\in K diperoleh

    k−1≤t+h<k.k-1\le t+h<k .

    Langkah 5 (geser kembali). Ambil m=k−h∈Zm=k-h\in\mathbb{Z}. Menambahkan −h-h pada setiap ruas (sifat 2) memberi m−1≤t<mm-1\le t<m.

    Bukti ketunggalan. Misalkan m,m′∈Zm,m'\in\mathbb{Z} memenuhi m−1≤t<mm-1\le t<m dan m′−1≤t<m′m'-1\le t<m'. Andaikan m<m′m<m'. Diskretnya Z\mathbb{Z} memberi m≤m′−1m\le m'-1, sehingga

    m≤m′−1≤t<m.m\le m'-1\le t<m .

    Ini menghasilkan m<mm<m, mustahil. Kasus m′<mm'<m ditolak dengan argumen yang sama setelah peran mm dan m′m' ditukar. Menurut trikotomi, m=m′m=m'. ■\blacksquare

    Catatan. Setelah Lema 8.3.3 terbukti, kita boleh mendefinisikan ⌊t⌋:=m−1\lfloor t\rfloor := m-1, tetapi definisi itu tidak diperlukan dalam unit ini. Perhatikan pula bahwa hh bergantung pada tt, sedangkan mm tidak bergantung pada pilihan hh. Dua pilihan hh yang berbeda menghasilkan integer yang memenuhi syarat yang sama, sehingga keduanya sama menurut ketunggalan.

    Teorema kerapatan

    Teorema 8.3.4 (kerapatan Q\mathbb{Q} di R\mathbb{R}). Dengan Prasyarat 8.3.1 dan 8.3.2, untuk setiap x,y∈Rx,y\in\mathbb{R} dengan x<yx<y ada q∈Qq\in\mathbb{Q} dengan x<q<yx<q<y.

    Strategi. Selang Jx,yJ_{x,y} mungkin terlalu sempit untuk memuat integer. Kalikan semuanya dengan n∈Nn\in\mathbb{N} yang cukup besar sehingga selisih ny−nxny-nx melebihi 11. Selang yang panjangnya lebih dari 11 memuat integer mm, dan Lema 8.3.3 menunjukkan integer mana yang dapat diambil. Setelah itu bagi kembali dengan nn. Arah ketaksamaan tetap terjaga karena n>0n>0.

    Bukti.

    Langkah 1. Dari x<yx<y dan sifat 2 diperoleh y−x>0y-x>0. Jadi y−x≠0y-x\ne0, dan menurut sifat 4, 1y−x>0\dfrac{1}{y-x}>0.

    Mencari rasional di sela yang sempitUntuk: Bab 8, Teorema kerapatan (Teorema 8.3.4, Contoh 8.3.5; M08-03)

    Langkah 2. Menurut Prasyarat 8.3.2, ada n∈Nn\in\mathbb{N} dengan n>1y−xn>\dfrac{1}{y-x}. Karena 1y−x>0\dfrac{1}{y-x}>0, transitivitas memberi n>0n>0. Jadi n≠0n\ne0, dan menurut 8.1, n≥1n\ge1. Kalikan n>1y−xn>\dfrac1{y-x} dengan y−x>0y-x>0 (sifat 3):

    n(y−x)>1,yaitunx+1<ny.n(y-x)>1,\qquad\text{yaitu}\qquad nx+1<ny .

    Langkah 3. Terapkan Lema 8.3.3 pada t=nxt=nx. Diperoleh m∈Zm\in\mathbb{Z} dengan m−1≤nx<mm-1\le nx<m. Menambahkan 11 pada m−1≤nxm-1\le nx memberi m≤nx+1m\le nx+1. Bersama Langkah 2:

    nx<m≤nx+1<ny.nx<m\le nx+1<ny .

    Langkah 4. Karena n∈Zn\in\mathbb{Z} dan n≠0n\ne0, pasangan (m,n)(m,n) berada di domain Z×(Z∖{0})\mathbb{Z}\times(\mathbb{Z}\setminus\{0\}) dari 8.2. Jadi q:=m/n∈Qq:=m/n\in\mathbb{Q}, dan menurut Prasyarat 8.3.1, q=m⋅n−1q=m\cdot n^{-1} di R\mathbb{R}. Dari n>0n>0 dan sifat 4 diperoleh n−1>0n^{-1}>0. Kalikan nx<mnx<m dan m<nym<ny dengan n−1n^{-1} (sifat 3):

    x<mndanmn<y.x<\frac mn\qquad\text{dan}\qquad \frac mn<y .

    Jadi x<q<yx<q<y. ■\blacksquare

    Tanda xx dan yy. Bukti tidak memakai anggapan apa pun tentang tanda xx, yy, atau mm. Jika xx negatif, maka nxnx negatif, dan Lema 8.3.3 tetap berlaku karena pergeseran hh menangani tt negatif. Integer mm dapat negatif, nol, atau positif. Satu-satunya tanda yang diperlukan adalah n>0n>0, yang dijamin oleh Langkah 2.

    Contoh 8.3.5. Ambil x=−13x=-\tfrac13 dan y=−14y=-\tfrac14.

    • Selisihnya y−x=−14+13=112>0y-x=-\tfrac14+\tfrac13=\tfrac1{12}>0, sehingga 1y−x=12\dfrac1{y-x}=12. Pilih n=24>12n=24>12. Maka nx=−8nx=-8, ny=−6ny=-6, dan n(y−x)=2>1n(y-x)=2>1.
    • Lema 8.3.3 untuk t=−8t=-8 meminta m−1≤−8<mm-1\le-8<m, sehingga m=−7m=-7. Mengikuti konstruksi lema: pilih h=9>8h=9>8, sehingga t+h=1t+h=1. Maka K={k∈N:k>1}K=\{k\in\mathbb{N}:k>1\} mempunyai unsur terkecil k=2k=2, dan m=2−9=−7m=2-9=-7.
    • Rantai ketaksamaannya adalah −8<−7≤−7<−6-8<-7\le-7<-6. Jadi q=−724q=-\tfrac7{24}.

    Pemeriksaan melalui perkalian positif. Karena 24>024>0, sifat 3 berlaku dua arah. Jadi −13<−724-\tfrac13<-\tfrac7{24} setara dengan −8<−7-8<-7, yang benar. Demikian pula, −724<−14-\tfrac7{24}<-\tfrac14 setara dengan −7<−6-7<-6, yang benar.

    Kriteria perkalian silang. Misalkan a,c∈Za,c\in\mathbb{Z} dan b,d∈Zb,d\in\mathbb{Z} dengan b,d>0b,d>0. Maka bd>0bd>0, dan perkalian dua arah dengan bdbd memberi

    ab<cd  ⟺  ad<cb\frac ab<\frac cd \iff ad<cb

    di R\mathbb{R}, karena ab−1⋅bd=ada b^{-1}\cdot bd=ad dan cd−1⋅bd=cbc d^{-1}\cdot bd=cb. Kriteria ini sejalan dengan urutan Q\mathbb{Q} pada 8.2 untuk penyebut positif. Untuk contoh di atas:

    • −13<−724-\tfrac13<-\tfrac7{24} karena (−1)⋅24=−24<−21=3⋅(−7)(-1)\cdot24=-24<-21=3\cdot(-7);
    • −724<−14-\tfrac7{24}<-\tfrac14 karena (−7)⋅4=−28<−24=24⋅(−1)(-7)\cdot4=-28<-24=24\cdot(-1).

    Mengapa ketaksamaan n>1y−xn>\frac1{y-x} harus tegas. Dengan n=12n=12 diperoleh n(y−x)=1n(y-x)=1, bukan >1>1. Maka nx=−4nx=-4, Lema 8.3.3 memberi m=−3m=-3, dan q=−312=−14=yq=-\tfrac3{12}=-\tfrac14=y. Bilangan ini tidak terletak tegas di antara xx dan yy.

    Tak hingga banyak rasional di setiap selang

    Teorema 8.3.4 hanya menjamin satu saksi. Klaim bahwa setiap selang memuat tak hingga banyak rasional memerlukan bukti tersendiri.

    Akibat 8.3.6. Jika x<yx<y, ada fungsi injektif ψ:N→Q∩Jx,y\psi:\mathbb{N}\to\mathbb{Q}\cap J_{x,y}. Khususnya, untuk setiap M∈NM\in\mathbb{N}, bilangan ψ(i)\psi(i) dengan 0≤i≤M0\le i\le M adalah rasional di Jx,yJ_{x,y} yang saling berbeda.

    Bukti.

    Dua saksi. Teorema 8.3.4 memberi q1∈Qq_1\in\mathbb{Q} dengan x<q1<yx<q_1<y. Teorema yang sama, diterapkan pada q1<yq_1<y, memberi q2∈Qq_2\in\mathbb{Q} dengan q1<q2<yq_1<q_2<y. Tulis d=q2−q1d=q_2-q_1. Maka d∈Qd\in\mathbb{Q} dan d>0d>0.

    Definisi ψ\psi. Untuk k∈Nk\in\mathbb{N}, definisikan

    ψ(k)=q1+dk+2.\psi(k)=q_1+\frac{d}{k+2}.

    Penyebutnya sah karena k+2=1+(k+1)≥1+1>0k+2=1+(k+1)\ge 1+1>0, sehingga k+2≠0k+2\neq0. Jadi ψ(k)∈Q\psi(k)\in\mathbb{Q}, karena Q\mathbb{Q} tertutup terhadap operasinya dan pembagian dengan unsur tak nol.

    Letak ψ(k)\psi(k). Dari k+2>1k+2>1 dan perkalian dengan (k+2)−1>0(k+2)^{-1}>0 diperoleh 0<1k+2<10<\dfrac1{k+2}<1. Kalikan dengan d>0d>0:

    0<dk+2<d.0<\dfrac d{k+2}<d .

    Jadi q1<ψ(k)<q1+d=q2q_1<\psi(k)<q_1+d=q_2. Karena x<q1x<q_1 dan q2<yq_2<y, diperoleh x<ψ(k)<yx<\psi(k)<y.

    Injektivitas. Jika ψ(k)=ψ(l)\psi(k)=\psi(l), maka dk+2=dl+2\dfrac d{k+2}=\dfrac d{l+2}. Kalikan kedua ruas dengan (k+2)(l+2)d−1(k+2)(l+2)d^{-1}; langkah ini sah karena d≠0d\ne0. Diperoleh l+2=k+2l+2=k+2. Menambahkan −2-2 pada kedua ruas memberi l=kl=k di R\mathbb{R}. Karena embedding N→R\mathbb{N}\to\mathbb{R} injektif, l=kl=k di N\mathbb{N}. Bagian "khususnya" langsung mengikuti dari injektivitas ini.

    Kesimpulan. Kita memakai fakta bahwa setiap himpunan yang menerima injeksi dari N\mathbb{N} tidak berhingga. Fakta ini berasal dari pembahasan himpunan berhingga dan di sini dipinjam. Dengan fakta itu, Q∩Jx,y\mathbb{Q}\cap J_{x,y} tak hingga. ■\blacksquare

    Konstruksi ψ\psi eksplisit: setelah q1q_1 dan q2q_2 ditetapkan, tidak ada pilihan berulang. Jadi bukti ini tidak memerlukan aksioma pilihan.

    Arah logis antara Archimedes dan kerapatan

    Proposisi 8.3.7 (arah sebaliknya; tidak dipakai di atas). Misalkan FF medan terurut yang memuat salinan Q\mathbb{Q} seperti pada Prasyarat 8.3.1. Jika untuk setiap x<yx<y di FF ada q∈Qq\in\mathbb{Q} dengan x<q<yx<q<y, maka FF memenuhi sifat Archimedes.

    Bukti. Ambil t∈Ft\in F. Kerapatan pada t<t+1t<t+1 memberi q∈Qq\in\mathbb{Q} dengan t<q<t+1t<q<t+1. Normalisasikan wakilnya sehingga q=a/bq=a/b dengan a∈Za\in\mathbb{Z}, b∈Zb\in\mathbb{Z}, dan b>0b>0 (8.2). Maka b≥1b\ge1 karena Z\mathbb{Z} diskret.

    • Kasus a≤0a\le 0. Karena b−1>0b^{-1}>0, berlaku q=a b−1≤0q=a\,b^{-1}\le0. Jadi t<q≤0<1t<q\le0<1. Ambil n=1n=1.
    • Kasus a>0a>0. Maka aa adalah integer positif, sehingga a∈Na\in\mathbb{N} (8.2). Dari 1≤b1\le b dan a>0a>0 diperoleh a≤aba\le ab. Kalikan dengan b−1>0b^{-1}>0 untuk memperoleh q=ab−1≤aq=a b^{-1}\le a. Jadi t<at<a. Ambil n=an=a. ■\blacksquare

    Bukti Lema 8.3.3 dan Teorema 8.3.4 hanya memakai sifat 1–4, embedding Q\mathbb{Q} yang mempertahankan operasi dan urutan, diskretnya Z\mathbb{Z}, WOP di N\mathbb{N}, dan sifat Archimedes. Karena itu, keduanya berlaku untuk setiap FF seperti di atas yang Archimedes. Jadi, di dalam medan terurut yang memuat salinan Q\mathbb{Q}, kedua sifat itu setara.

    Dalam unit ini, arah yang dipakai adalah Archimedes ⇒\Rightarrow kerapatan, dengan Archimedes berstatus pinjaman dari Bab 11. Pembuktian Archimedes pada Bab 11 harus bertumpu pada kelengkapan, bukan pada Teorema 8.3.4. Jika tidak, penalarannya melingkar.

    Kesalahan umum

    1. Mengandaikan ⌊t⌋\lfloor t\rfloor ada. Keberadaan dan ketunggalan integer pembulat adalah isi Lema 8.3.3, bukan anggapan awal.
    2. Menerapkan WOP pada bagian Z\mathbb{Z}. Bagian tak kosong dari Z\mathbb{Z} tidak selalu mempunyai unsur terkecil; Z\mathbb{Z} sendiri contohnya. Himpunan {k∈Z:k>t}\{k\in\mathbb{Z}:k>t\} memang mempunyai unsur terkecil, tetapi fakta itu adalah isi Lema 8.3.3, bukan akibat langsung WOP. Itulah sebabnya diperlukan pergeseran hh.
    3. Melupakan k≥1k\ge1. Tanpa t+h>0t+h>0, unsur terkecil KK bisa 00, sehingga k−1k-1 tidak berada di N\mathbb{N}.
    4. Memilih nn dengan n(y−x)=1n(y-x)=1. Ketaksamaan harus tegas; lihat Contoh 8.3.5 dengan n=12n=12.
    5. Membagi dengan nn tanpa menyebut n>0n>0. Pembagian dengan bilangan negatif membalik arah ketaksamaan, dan n=0n=0 tidak sah sebagai penyebut.
    6. Mengandaikan mm positif. Untuk x<0x<0, mm dapat negatif, seperti m=−7m=-7 pada Contoh 8.3.5.
    7. Menyebut kerapatan sebagai akibat aksioma medan terurut saja. Tanpa sifat Archimedes, yang di sini dipinjam dari kelengkapan, bukti ini tidak berjalan.

    Latihan

    Latihan 8.3.8. Dengan metode bukti Teorema 8.3.4, tentukan q∈Qq\in\mathbb{Q} dengan −57<q<−23-\tfrac57<q<-\tfrac23, lalu periksa kedua ketaksamaannya.

    Latihan 8.3.9. Misalkan ε∈R\varepsilon\in\mathbb{R} dan ε>0\varepsilon>0. Buktikan bahwa ada q∈Qq\in\mathbb{Q} dengan 0<q<ε0<q<\varepsilon. Tunjukkan pula bahwa qq dapat dipilih berbentuk 1/n1/n dengan n∈Nn\in\mathbb{N} dan n≥1n\ge1.

    Latihan 8.3.10. Jelaskan mengapa Teorema 8.3.4 mensyaratkan x<yx<y. Tunjukkan apa yang terjadi bila x=yx=y, dan di bagian mana bukti teorema gagal.

    Latihan 8.3.11. Misalkan x<yx<y di R\mathbb{R}.

    • (a) Buktikan x<x+y2<yx<\frac{x+y}2<y.
    • (b) Buktikan bahwa jika x,y∈Qx,y\in\mathbb{Q}, maka x+y2∈Q\frac{x+y}2\in\mathbb{Q}.
    • (c) Jelaskan mengapa untuk x,yx,y real, x+y2\frac{x+y}2 belum tentu rasional, sehingga (a) tidak membuktikan Teorema 8.3.4.

    Latihan 8.3.12. Jelaskan mengapa Teorema 8.3.4 tidak menyatakan bahwa setiap bilangan real rasional.

    Pembahasan

    Pembahasan 8.3.8. Ambil x=−57x=-\tfrac57 dan y=−23y=-\tfrac23.

    Memilih nn. Selisihnya y−x=−1421+1521=121>0y-x=-\tfrac{14}{21}+\tfrac{15}{21}=\tfrac1{21}>0, sehingga 1y−x=21\dfrac1{y-x}=21. Pilih n=22n=22. Maka

    nx=−1107,ny=−443,n(y−x)=2221>1.nx=-\tfrac{110}7,\qquad ny=-\tfrac{44}3,\qquad n(y-x)=\tfrac{22}{21}>1.

    Menentukan mm. Terapkan Lema 8.3.3 pada t=−1107t=-\tfrac{110}7. Pilih h=16>1107h=16>\tfrac{110}7, sehingga t+h=27>0t+h=\tfrac27>0. Himpunan K={k∈N:k>27}K=\{k\in\mathbb{N}:k>\tfrac27\} mempunyai unsur terkecil k=1k=1, karena 0∉K0\notin K. Maka m=1−16=−15m=1-16=-15. Periksa syarat lema:

    • m−1=−16=−1127≤−1107m-1=-16=-\tfrac{112}7\le-\tfrac{110}7;
    • −1107<−1057=−15-\tfrac{110}7<-\tfrac{105}7=-15.

    Rantai ketaksamaan. Karena nx+1=−1037nx+1=-\tfrac{103}7, berlaku

    −1107<−15≤−1037<−443.-\tfrac{110}7<-15\le-\tfrac{103}7<-\tfrac{44}3 .

    Ketaksamaan terakhir benar karena −30921<−30821-\tfrac{309}{21}<-\tfrac{308}{21}. Jadi q=−1522q=-\tfrac{15}{22}.

    Pemeriksaan. Dengan kriteria perkalian silang pada Contoh 8.3.5 (penyebut positif):

    • −57<−1522-\tfrac57<-\tfrac{15}{22} karena (−5)⋅22=−110<−105=7⋅(−15)(-5)\cdot22=-110<-105=7\cdot(-15);
    • −1522<−23-\tfrac{15}{22}<-\tfrac23 karena (−15)⋅3=−45<−44=22⋅(−2)(-15)\cdot3=-45<-44=22\cdot(-2).

    Pilihan nn yang gagal. Sebagai pembanding, n=21n=21 memberi nx=−15nx=-15, sehingga m=−14m=-14 dan q=−1421=−23=yq=-\tfrac{14}{21}=-\tfrac23=y. Pilihan ini gagal karena n(y−x)=1n(y-x)=1 tidak lebih besar dari 11.

    Pembahasan 8.3.9.

    Cara pertama. Terapkan Teorema 8.3.4 pada x=0x=0 dan y=εy=\varepsilon; syarat 0<ε0<\varepsilon dipenuhi.

    Cara kedua (bentuk 1/n1/n). Karena ε>0\varepsilon>0, berlaku ε−1>0\varepsilon^{-1}>0. Prasyarat 8.3.2 memberi n∈Nn\in\mathbb{N} dengan n>ε−1n>\varepsilon^{-1}. Transitivitas memberi n>0n>0, sehingga n≥1n\ge1 dan n−1>0n^{-1}>0. Kalikan n>ε−1n>\varepsilon^{-1} dengan ε>0\varepsilon>0 untuk memperoleh nε>1n\varepsilon>1. Kalikan lagi dengan n−1>0n^{-1}>0 untuk memperoleh ε>n−1\varepsilon>n^{-1}. Jadi q=1/nq=1/n memenuhi 0<q<ε0<q<\varepsilon.

    Syarat n≥1n\ge1 penting karena n=0n=0 tidak dapat menjadi penyebut. Di sini n≥1n\ge1 dijamin oleh n>0n>0, bukan oleh anggapan bahwa N\mathbb{N} dimulai dari 11.

    Pembahasan 8.3.10.

    Kasus x=yx=y. Andaikan ada zz dengan x<z<xx<z<x. Transitivitas memberi x<xx<x, bertentangan dengan trikotomi. Jadi Jx,x=∅J_{x,x}=\varnothing, dan tidak ada qq, rasional atau bukan, yang memenuhi syarat. Pernyataan teorema salah untuk x=yx=y.

    Di mana bukti gagal. Pada Langkah 1, y−x=0y-x=0 tidak mempunyai invers, sehingga 1y−x\frac1{y-x} tidak terdefinisi. Lebih jauh, tidak ada nn dengan n⋅0>1n\cdot0>1, sebab n⋅0=0<1n\cdot 0=0<1.

    Kasus x>yx>y. Selang Jx,yJ_{x,y} juga kosong, dengan argumen transitivitas yang sama. Untuk dua real berbeda, teorema diterapkan pada yang lebih kecil dan yang lebih besar di antara keduanya. Jadi hipotesis x<yx<y tepat seperlunya.

    Pembahasan 8.3.11.

    (a) Dari 1>01>0 diperoleh 2=1+1>02=1+1>0, sehingga 2≠02\ne0 dan 2−1>02^{-1}>0. Menambahkan xx pada x<yx<y memberi 2x<x+y2x<x+y. Menambahkan yy pada x<yx<y memberi x+y<2yx+y<2y. Kalikan keduanya dengan 2−1>02^{-1}>0:

    x<x+y2<y.x<\frac{x+y}2<y.

    (b) Jika x,y∈Qx,y\in\mathbb{Q}, maka x+y∈Qx+y\in\mathbb{Q} dan 2∈Q∖{0}2\in\mathbb{Q}\setminus\{0\}, sehingga x+y2∈Q\frac{x+y}2\in\mathbb{Q}. Jadi di antara dua rasional selalu ada rasional, dan bukti ini tidak memerlukan sifat Archimedes.

    (c) Untuk x,yx,y real, (a) hanya menghasilkan bilangan real di antara keduanya, sedangkan kerapatan Q\mathbb{Q} menuntut saksi rasional. Contoh kegagalan memerlukan bilangan irasional, sehingga kita memakai rujukan maju yang bukan bagian bukti unit ini. Misalkan r>0r>0 dengan r2=2r^2=2. Keberadaan rr dipinjam dari kelengkapan R\mathbb{R}, dan r∉Qr\notin\mathbb{Q} dibuktikan pada 8.4. Ambil x=0x=0 dan y=2ry=2r. Maka x<yx<y dan x+y2=r∉Q\frac{x+y}2=r\notin\mathbb{Q}.

    Karena titik tengah dua real belum tentu rasional, bukti Teorema 8.3.4 tidak memakai titik tengah. Bukti itu membangun saksi m/nm/n yang rasional sejak awal. Rujukan maju ini tidak melingkar: bukti 8.4 bahwa tidak ada rasional berkuadrat 22 memakai urutan baik pada penyebut dan paritas, tanpa Teorema 8.3.4.

    Pembahasan 8.3.12. Teorema 8.3.4 berbentuk

    ∀x,y∈R  (x<y⇒∃q∈Q  (x<q<y)).\forall x,y\in\mathbb{R}\;\bigl(x<y\Rightarrow\exists q\in\mathbb{Q}\;(x<q<y)\bigr).

    Teorema ini berbicara tentang selang: setiap selang terbuka tak kosong memuat sedikitnya satu rasional. Pernyataan "Q=R\mathbb{Q}=\mathbb{R}" berbentuk ∀z∈R  (z∈Q)\forall z\in\mathbb{R}\;(z\in\mathbb{Q}) dan berbicara tentang titik.

    Dari teorema memang diperoleh bahwa setiap z∈Rz\in\mathbb{R} dapat didekati: untuk setiap ε>0\varepsilon>0 ada q∈Qq\in\mathbb{Q} dengan z<q<z+εz<q<z+\varepsilon, yaitu dengan menerapkan teorema pada z<z+εz<z+\varepsilon. Namun, rasional yang dekat dengan zz tidak harus sama dengan zz.

    Pernyataan pertama tidak mengakibatkan yang kedua. Dengan pinjaman keberadaan rr seperti pada Pembahasan 8.3.11(c) dan hasil 8.4, R\mathbb{R} memenuhi Teorema 8.3.4 sekaligus memuat r∉Qr\notin\mathbb{Q}. Seandainya kerapatan mengakibatkan Q=R\mathbb{Q}=\mathbb{R}, kita memperoleh r∈Qr\in\mathbb{Q}, bertentangan dengan 8.4.

    Kita telah melihat bahwa Q\mathbb{Q} menyusup ke setiap celah R\mathbb{R}. Tidak ada selang terbuka tak kosong tanpa rasional. Bahkan, menurut Akibat 8.3.6, setiap selang memuat rasional yang saling berbeda sebanyak apa pun yang kita minta, dan dengan fakta himpunan berhingga yang dipinjam di sana, tak hingga banyaknya. Namun, Latihan 8.3.12 menunjukkan bahwa kerapatan saja tidak memutuskan apakah setiap titik real rasional.

    Unit berikutnya menjawab pertanyaan itu secara negatif. Di sana dibuktikan bahwa tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya 22. Bersama keberadaan real positif rr dengan r2=2r^2=2, yang dipinjam dari kelengkapan, diperoleh bahwa R\mathbb{R} memuat bilangan di luar Q\mathbb{Q}. Jadi Q\mathbb{Q} rapat di R\mathbb{R}, tetapi tidak memenuhi R\mathbb{R}.

    8.4 Bukti Klasik Ketidakrasionalan 2\sqrt{2}

    Unit ini membuktikan bahwa tidak ada bilangan rasional yang kuadratnya sama dengan 22. Hasil ini sering diringkas sebagai "2\sqrt{2} irasional". Ringkasan itu sebenarnya menggabungkan dua pernyataan dengan status yang berbeda:

    1. Tidak ada q∈Qq \in \mathbb{Q} dengan q2=2q^2 = 2.
    2. Ada r∈Rr \in \mathbb{R} dengan r>0r > 0 dan r2=2r^2 = 2.

    Pernyataan (1) hanya membicarakan Q\mathbb{Q}, dan seluruh buktinya diberikan dalam unit ini. Pernyataan (2) membicarakan R\mathbb{R}. Pernyataan ini tidak muncul dari simbol akar, dan juga tidak muncul dari aksioma medan terurut. Keberadaan rr dipinjam dari sifat kelengkapan R\mathbb{R}, yang baru dibahas kemudian. Kalimat "2\sqrt{2} irasional" baru bermakna setelah kedua pernyataan tersedia, ditambah ketunggalan akar positif yang juga dibuktikan di sini.

    Status bahan dalam unit ini

    Definisi baru: bilangan irasional dan notasi c\sqrt{c} untuk akar positif tunggal.

    Definisi yang dinyatakan ulang agar notasinya tetap: keterbagian, bilangan genap, dan bilangan ganjil di Z\mathbb{Z}.

    Hasil yang dibuktikan:

    • ketunggalan akar kuadrat positif;
    • lema paritas;
    • keberadaan wakil dengan penyebut positif;
    • keberadaan wakil dengan penyebut positif terkecil beserta sifat tereduksinya;
    • tidak adanya q∈Qq \in \mathbb{Q} dengan q2=2q^2 = 2;
    • sifat salinan Q\mathbb{Q} di R\mathbb{R} terhadap negasi dan invers;
    • akibat-akibat dari hasil di atas.

    Prasyarat pinjaman dan hasil terdahulu:

    • (P1) R\mathbb{R} adalah medan terurut yang memuat salinan Q\mathbb{Q}. Artinya, ada pemetaan injektif φ:Q→R\varphi : \mathbb{Q} \to \mathbb{R} yang mempertahankan 00, 11, penjumlahan, perkalian, dan urutan. Setelah identifikasi melalui φ\varphi, kita menulis Q⊆R\mathbb{Q} \subseteq \mathbb{R}. Fakta ini dipinjam dari pembahasan berikutnya, sama seperti pada 8.3.
    • (P2) Keberadaan akar. Ada r∈Rr \in \mathbb{R} dengan r>0r > 0 dan r2=2r^2 = 2. Fakta ini dipinjam dari kelengkapan R\mathbb{R}. Sebagai pembanding, Jiří Lebl, Basic Analysis, bagian 1.2, Example 1.2.3 (https://www.jirka.org/ra/html/sec_setofreals.html), membuktikan keberadaan akar positif 22 memakai supremum. Teori supremum tidak diuraikan di sini.
    • (P3) Hasil dari 8.2:
      • Z\mathbb{Z} adalah ring komutatif tanpa pembagi nol. Hukum pembatalan berlaku: jika d≠0d \neq 0 dan dx=dydx = dy, maka x=yx = y.
      • Akibat hukum ring: −(dx)=d(−x)-(dx) = d(-x).
      • Urutan Z\mathbb{Z} total, sehingga trikotomi berlaku, dan urutan itu kompatibel dengan penjumlahan.
      • 0<10 < 1.
      • Integer positif tepat berupa kelas [k,0][k,0] dengan k>0k > 0. Karena itu integer tak negatif diidentifikasi dengan N\mathbb{N} melalui embedding ii, dan integer positif dengan unsur positif N\mathbb{N}.
      • Hasil kali dua integer positif adalah positif. Akibatnya, jika d>0d > 0 dan x≥0x \geq 0, maka dx≥0dx \geq 0. Kasus x=0x = 0 berasal dari d⋅0=0d \cdot 0 = 0.
      • Urutan Z\mathbb{Z} diskret: jika e>0e > 0, maka e≥1e \geq 1.
      • Q\mathbb{Q} adalah medan dengan kelas a/ba/b untuk (a,b)∈Z×(Z∖{0})(a,b) \in \mathbb{Z} \times (\mathbb{Z} \setminus \{0\}). Kesamaan kelas: a/b=c/da/b = c/d jika dan hanya jika ad=bcad = bc. Perkalian kelas: (a/b)(c/d)=(ac)/(bd)(a/b)(c/d) = (ac)/(bd).
    • (P4) Prinsip urutan baik (WOP) untuk bagian tak kosong N\mathbb{N}, Teorema 7.3.3–7.3.4, dengan prasyarat fondasionalnya.

    Sifat Archimedes tidak dipakai dalam unit ini. Satu-satunya pengecualian adalah penutup, yang memakai kerapatan dari 8.3.


    Definisi dasar

    Definisi 8.4.1. Misalkan d,a∈Zd, a \in \mathbb{Z}.

    • dd membagi aa jika ada c∈Zc \in \mathbb{Z} dengan a=dca = dc.
    • aa genap jika 22 membagi aa, yaitu jika ada k∈Zk \in \mathbb{Z} dengan a=2ka = 2k.
    • aa ganjil jika ada k∈Zk \in \mathbb{Z} dengan a=2k+1a = 2k + 1.
    • Bilangan real xx disebut irasional jika x∉φ[Q]x \notin \varphi[\mathbb{Q}], yaitu jika xx tidak berada dalam salinan Q\mathbb{Q} di dalam R\mathbb{R}.

    Lambang 22 berarti 1+11 + 1 di setiap sistem:

    • di Z\mathbb{Z}, 2=[2,0]2 = [2,0];
    • di Q\mathbb{Q}, 22 berarti 2/12/1;
    • di R\mathbb{R}, 2=1+1=φ(1/1)+φ(1/1)=φ(2/1)2 = 1 + 1 = \varphi(1/1) + \varphi(1/1) = \varphi(2/1), karena φ\varphi mempertahankan 11 dan penjumlahan.

    Dengan cara yang sama, 4=1+1+1+1=φ(4/1)4 = 1 + 1 + 1 + 1 = \varphi(4/1) di R\mathbb{R}.


    Ketunggalan akar kuadrat positif

    Proposisi 8.4.2. Misalkan c∈Rc \in \mathbb{R}. Paling banyak ada satu r∈Rr \in \mathbb{R} dengan r>0r > 0 dan r2=cr^2 = c.

    Domain dan hipotesis. Proposisi ini hanya memakai aksioma medan terurut (P1). Proposisi ini tidak menyatakan bahwa akar itu ada.

    Strategi. Ubah selisih kuadrat menjadi hasil kali. Kemudian gunakan fakta bahwa faktor tak nol mempunyai invers.

    Bukti. Misalkan r,s>0r, s > 0 dan r2=s2=cr^2 = s^2 = c. Dengan distributivitas dan komutativitas perkalian,

    (r−s)(r+s)=r2+rs−sr−s2=r2−s2=c−c=0.(r - s)(r + s) = r^2 + rs - sr - s^2 = r^2 - s^2 = c - c = 0.

    Karena r>0r > 0, kompatibilitas urutan dengan penjumlahan memberi r+s>0+s=sr + s > 0 + s = s. Karena s>0s > 0, diperoleh r+s>0r + s > 0. Jadi r+s≠0r + s \neq 0, dan (r+s)−1(r+s)^{-1} ada. Kalikan kedua ruas dengan (r+s)−1(r+s)^{-1}:

    r−s=(r−s)(r+s)(r+s)−1=0⋅(r+s)−1=0.r - s = (r - s)(r + s)(r + s)^{-1} = 0 \cdot (r + s)^{-1} = 0.

    Jadi r=sr = s. ■\blacksquare

    Definisi 8.4.3 (notasi c\sqrt{c}). Misalkan c∈Rc \in \mathbb{R} mempunyai akar positif, yaitu ada r>0r > 0 dengan r2=cr^2 = c. Menurut Proposisi 8.4.2, akar positif itu tunggal, dan kita menuliskannya c\sqrt{c}. Menurut (P2), syarat ini dipenuhi oleh c=2c = 2, sehingga 2\sqrt{2} terdefinisi.

    Tanpa (P2) atau bukti keberadaan lain, belum dijamin bahwa simbol 2\sqrt{2} menunjuk suatu bilangan real; Proposisi 8.4.2 sendiri hanya menjamin ketunggalan.

    Catatan. Pembatasan tanda diperlukan untuk klaim ketunggalan ini. Bilangan −2-\sqrt{2} juga memenuhi (−2)2=2(-\sqrt{2})^2 = 2. Argumen di atas tidak berlaku untuk pasangan 2\sqrt{2} dan −2-\sqrt{2}, karena jumlah keduanya 00.


    Lema paritas

    Lema 8.4.4 (paritas; bandingkan Lema 6.3.4 dan Teorema 6.3.5). Untuk setiap a∈Za \in \mathbb{Z} berlaku:

    • (i) aa genap atau aa ganjil;
    • (ii) aa tidak sekaligus genap dan ganjil;
    • (iii) jika a2a^2 genap, maka aa genap.

    Strategi.

    • Bagian (i): induksi pada N\mathbb{N}, lalu perluasan ke integer negatif.
    • Bagian (ii): diskretnya urutan Z\mathbb{Z}.
    • Bagian (iii): kontradiksi, dengan memakai (i) dan (ii).

    Bukti.

    (i) Pada bagian ini, n∈Nn \in \mathbb{N} dibaca melalui embedding ii dari 8.2. Di N\mathbb{N} berlaku S(n)=n+1S(n) = n + 1, dan ii mempertahankan penjumlahan. Karena itu i(S(n))=i(n)+1i(S(n)) = i(n) + 1, dan langkah induksi dari nn ke S(n)S(n) dapat ditulis n↦n+1n \mapsto n + 1. Bentuk

    A={n∈N:ada k∈Z dengan n=2k atau n=2k+1}.A = \{n \in \mathbb{N} : \text{ada } k \in \mathbb{Z} \text{ dengan } n = 2k \text{ atau } n = 2k + 1\}.
    • Dasar. 0=2⋅00 = 2 \cdot 0, jadi 0∈A0 \in A.

    • Langkah. Misalkan n∈An \in A.

      • Jika n=2kn = 2k, maka n+1=2k+1n + 1 = 2k + 1.
      • Jika n=2k+1n = 2k + 1, maka n+1=2k+2=2(k+1)n + 1 = 2k + 2 = 2(k + 1).

      Dalam kedua kasus, n+1∈An + 1 \in A.

    Jadi AA memuat 00 dan tertutup terhadap penerus. Menurut induksi, A=NA = \mathbb{N}. Akibatnya, setiap integer a≥0a \geq 0 genap atau ganjil.

    Sekarang misalkan a<0a < 0. Menurut (P3), −a>0-a > 0, sehingga −a-a adalah salinan suatu unsur N\mathbb{N}. Unsur itu berada di AA.

    • Jika −a=2k-a = 2k, maka a=−(2k)=2(−k)a = -(2k) = 2(-k).
    • Jika −a=2k+1-a = 2k + 1, maka a=−2k−1=2(−k−1)+1a = -2k - 1 = 2(-k - 1) + 1.

    Menurut trikotomi, setiap aa memenuhi a≥0a \geq 0 atau a<0a < 0, sehingga (i) berlaku untuk semua aa.

    (ii) Andaikan a=2k=2j+1a = 2k = 2j + 1. Dengan distributivitas, 2m=12m = 1 untuk m=k−jm = k - j. Menurut trikotomi dan diskretnya Z\mathbb{Z}, berlaku m≤0m \leq 0 atau m≥1m \geq 1.

    • Jika m≤0m \leq 0, maka 2m=m+m≤0+0=0<12m = m + m \leq 0 + 0 = 0 < 1.
    • Jika m≥1m \geq 1, maka 2m=m+m≥1+1=22m = m + m \geq 1 + 1 = 2. Selain itu, 2=1+1>0+1=12 = 1 + 1 > 0 + 1 = 1, sehingga 2m>12m > 1.

    Kedua kasus bertentangan dengan 2m=12m = 1.

    (iii) Misalkan a2a^2 genap, dan andaikan aa tidak genap. Menurut (i), aa ganjil, misalnya a=2k+1a = 2k + 1. Maka

    a2=4k2+4k+1=2(2k2+2k)+1,a^2 = 4k^2 + 4k + 1 = 2(2k^2 + 2k) + 1,

    sehingga a2a^2 ganjil. Menurut (ii), a2a^2 tidak genap. Ini kontradiksi. ■\blacksquare

    Catatan. Bagian (iii) adalah kebalikan dari implikasi yang mudah, yaitu "aa genap mengakibatkan a2a^2 genap". Bukti utama memerlukan arah (iii).


    Penyebut positif dan pecahan tereduksi

    Frasa "tanpa mengurangi keumuman, misalkan a/ba/b tereduksi" bukanlah bukti. Dua lema berikut menunjukkan bahwa wakil seperti itu memang ada. Keduanya tidak memakai teorema keberadaan FPB (gcd) dan tidak memakai aksioma pilihan.

    Lema 8.4.5 (penyebut positif). Setiap q∈Qq \in \mathbb{Q} mempunyai wakil (a,b)(a,b) dengan b>0b > 0.

    Bukti. Misalkan q=a/bq = a/b dengan b≠0b \neq 0. Menurut trikotomi urutan Z\mathbb{Z}, tepat satu dari b>0b > 0 atau b<0b < 0 berlaku.

    • Jika b>0b > 0, wakil (a,b)(a,b) sudah memenuhi syarat.
    • Jika b<0b < 0, maka −b>0-b > 0. Pasangan (−a,−b)(-a, -b) berada di Z×(Z∖{0})\mathbb{Z} \times (\mathbb{Z} \setminus \{0\}), dan pasangan ini ekuivalen dengan (a,b)(a,b) karena
    a(−b)=−(ab)=−(ba)=b(−a).a(-b) = -(ab) = -(ba) = b(-a).

    Jadi q=(−a)/(−b)q = (-a)/(-b) dengan penyebut positif. ■\blacksquare

    Lema 8.4.6 (penyebut positif terkecil). Misalkan q∈Qq \in \mathbb{Q}, dan bentuk

    Bq={ b∈N:b>0 dan ada a∈Z dengan q=a/b }.B_q = \{\, b \in \mathbb{N} : b > 0 \text{ dan ada } a \in \mathbb{Z} \text{ dengan } q = a/b \,\}.

    Di sini b∈Nb \in \mathbb{N} dibaca melalui salinannya di Z\mathbb{Z}. Maka:

    • (a) BqB_q mempunyai unsur terkecil b0b_0.
    • (b) Untuk setiap a0∈Za_0 \in \mathbb{Z} dengan q=a0/b0q = a_0/b_0, tidak ada d∈Zd \in \mathbb{Z} dengan d≥2d \geq 2 yang membagi a0a_0 dan b0b_0 sekaligus.
    • (c) Untuk a0a_0 seperti pada (b), satu-satunya pembagi bersama positif dari a0a_0 dan b0b_0 adalah 11.

    Secara khusus, 22 tidak membagi a0a_0 dan b0b_0 sekaligus.

    Domain dan hipotesis. BqB_q adalah bagian dari N\mathbb{N} yang dibentuk dengan aksioma pemisahan. WOP dipakai pada bagian N\mathbb{N} ini, bukan pada sembarang bagian Z\mathbb{Z} (lihat Latihan 8.4.11).

    Bukti.

    (a) Menurut Lema 8.4.5, qq mempunyai wakil dengan penyebut positif. Penyebut ini adalah salinan suatu unsur positif N\mathbb{N} (P3), sehingga Bq≠∅B_q \neq \varnothing. Menurut WOP (P4), BqB_q mempunyai unsur terkecil b0b_0.

    Karena b0∈Bqb_0 \in B_q, ada pembilang a0∈Za_0 \in \mathbb{Z} dengan q=a0/b0q = a_0/b_0. Kita mengambil satu saksi seperti itu. Ini hanya satu pengambilan dari satu himpunan tak kosong, sehingga aksioma pilihan tidak diperlukan.

    (b) Andaikan ada d≥2d \geq 2 yang membagi a0a_0 dan b0b_0. Tulis a0=dca_0 = dc dan b0=deb_0 = de dengan c,e∈Zc, e \in \mathbb{Z}. Integer ee inilah yang sering ditulis "b0/db_0/d". Penulisan itu hanya bermakna sebagai integer yang memenuhi b0=deb_0 = de, bukan sebagai kelas di Q\mathbb{Q}.

    1. e>0e > 0. Andaikan e≤0e \leq 0. Maka −e≥0-e \geq 0. Karena d≥2>0d \geq 2 > 0, berlaku d(−e)≥0d(-e) \geq 0 (P3). Jadi b0=de=−(d(−e))≤0b_0 = de = -(d(-e)) \leq 0, bertentangan dengan b0>0b_0 > 0.
    2. e<b0e < b_0. Karena d−2≥0d - 2 \geq 0 dan e>0e > 0, berlaku (d−2)e≥0(d - 2)e \geq 0, yaitu de−2e≥0de - 2e \geq 0. Jadi b0=de≥2eb_0 = de \geq 2e. Karena e>0e > 0, berlaku 2e=e+e>0+e=e2e = e + e > 0 + e = e. Jadi b0>eb_0 > e.
    3. c/ec/e adalah wakil qq. Karena e≠0e \neq 0, pasangan (c,e)(c, e) sah. Perkalian silang memberi
    a0e=(dc)e=c(de)=c b0,a_0 e = (dc)e = c(de) = c\, b_0,

    sehingga a0/b0=c/ea_0/b_0 = c/e.

    Dari langkah 1–3, e∈Bqe \in B_q dan e<b0e < b_0. Ini bertentangan dengan minimalitas b0b_0.

    (c) Misalkan d>0d > 0 membagi a0a_0 dan b0b_0. Karena urutan diskret, d≥1d \geq 1. Menurut (b), tidak berlaku d≥2d \geq 2, sehingga d<2d < 2. Maka 2−d>02 - d > 0, jadi 2−d≥12 - d \geq 1, dan akibatnya d≤1d \leq 1. Dengan demikian d=1d = 1. Sebaliknya, 11 membagi kedua bilangan karena a0=1⋅a0a_0=1\cdot a_0 dan b0=1⋅b0b_0=1\cdot b_0. ■\blacksquare

    Catatan tentang tanda. Lema ini tidak membuat anggapan apa pun tentang tanda a0a_0. Pembilang boleh positif, negatif, atau nol.

    Sebagai contoh, ambil q=0q = 0.

    • Karena 0=0/10 = 0/1, berlaku 1∈Bq1 \in B_q.
    • Setiap unsur BqB_q positif, sehingga bernilai ≥1\geq 1. Jadi b0=1b_0 = 1.
    • Jika d≥2d \geq 2 dan 1=de1 = de, maka e>0e > 0 seperti pada langkah 1. Akibatnya e≥1e \geq 1, sehingga 1=de≥2e≥21 = de \geq 2e \geq 2. Ini mustahil.

    Jadi untuk q=0q = 0, wakil 0/10/1 memenuhi (b) meskipun 00 dibagi oleh setiap integer.


    Teorema utama

    Teorema 8.4.7. Tidak ada q∈Qq \in \mathbb{Q} dengan q2=2q^2 = 2.

    Domain dan hipotesis. Seluruh pernyataan berada di dalam Q\mathbb{Q}. Prasyarat (P2) tidak dipakai.

    Strategi. Gunakan kontradiksi. Ambil wakil dengan penyebut positif terkecil (Lema 8.4.6), turunkan a2=2b2a^2 = 2b^2, lalu terapkan paritas dua kali.

    Bukti. Andaikan ada q∈Qq \in \mathbb{Q} dengan q⋅q=2/1q \cdot q = 2/1.

    Langkah 1: memilih wakil. Menurut Lema 8.4.6, ada a∈Za \in \mathbb{Z} dan b∈Zb \in \mathbb{Z} dengan b>0b > 0, q=a/bq = a/b, dan bb adalah unsur terkecil BqB_q.

    Langkah 2: memperoleh a2=2b2a^2 = 2b^2. Menurut definisi perkalian di Q\mathbb{Q},

    q⋅q=a⋅ab⋅b.q \cdot q = \frac{a \cdot a}{b \cdot b}.

    Pasangan (a2,b2)(a^2, b^2) sah karena b≠0b \neq 0 dan Z\mathbb{Z} tidak mempunyai pembagi nol, sehingga b2≠0b^2 \neq 0. Kesamaan kelas a2/b2=2/1a^2/b^2 = 2/1 berarti a2⋅1=b2⋅2a^2 \cdot 1 = b^2 \cdot 2, yaitu

    a2=2b2.a^2 = 2b^2.

    Langkah 3: aa genap. Persamaan a2=2b2a^2 = 2b^2 menunjukkan bahwa a2a^2 genap, dengan saksi b2∈Zb^2 \in \mathbb{Z}. Menurut Lema 8.4.4(iii), aa genap. Tulis a=2ka = 2k dengan k∈Zk \in \mathbb{Z}.

    Langkah 4: bb genap. Substitusi memberi a2=(2k)2=2(2k2)a^2 = (2k)^2 = 2(2k^2). Dari Langkah 2 diperoleh 2(2k2)=2(b2)2(2k^2) = 2(b^2). Karena 2≠02 \neq 0, hukum pembatalan di Z\mathbb{Z} (P3) memberi

    b2=2k2.b^2 = 2k^2.

    Jadi b2b^2 genap. Menurut Lema 8.4.4(iii), bb genap. Tulis b=2lb = 2l dengan l∈Zl \in \mathbb{Z}.

    Langkah 5: l>0l > 0. Andaikan l≤0l \leq 0. Maka b=2l=l+l≤0+0=0b = 2l = l + l \leq 0 + 0 = 0, bertentangan dengan b>0b > 0. Jadi l>0l > 0.

    Langkah 6: kontradiksi. Sekarang 22 membagi a=2ka = 2k dan juga membagi b=2lb = 2l. Ini bertentangan langsung dengan Lema 8.4.6(b) untuk d=2d = 2.

    Kontradiksi yang sama juga dapat diperoleh langsung dari minimalitas:

    • (2k)l=k(2l)(2k)l = k(2l), sehingga q=a/b=k/lq = a/b = k/l;
    • l>0l > 0 menurut Langkah 5;
    • b−l=2l−l=l>0b - l = 2l - l = l > 0, sehingga l<bl < b.

    Jadi l∈Bql \in B_q dan l<bl < b, bertentangan dengan minimalitas bb.

    Dengan demikian pengandaian q2=2q^2 = 2 salah. ■\blacksquare

    Semua tanda pembilang tercakup.

    • Bukti tidak pernah mengandaikan a>0a > 0.
    • Lema 8.4.4 berlaku untuk setiap integer. Karena itu Langkah 3 sah untuk aa positif, negatif, maupun a=0a = 0.
    • Kasus a=0a = 0 tidak memerlukan penanganan khusus, karena argumen umum tetap menghasilkan kontradiksi.
    • Satu-satunya pembatasan tanda ada pada penyebut, dan pembatasan itu dijamin oleh Lema 8.4.5.

    Akibat 8.4.8. Dengan prasyarat (P1) dan (P2), bilangan real 2\sqrt{2} irasional. Bilangan −2-\sqrt{2} juga irasional.

    Bukti. Andaikan 2=φ(q)\sqrt{2} = \varphi(q) untuk suatu q∈Qq \in \mathbb{Q}. Karena φ\varphi mempertahankan perkalian,

    φ(q⋅q)=φ(q)φ(q)=(2)2=2=φ(2/1).\varphi(q \cdot q) = \varphi(q)\varphi(q) = (\sqrt{2})^2 = 2 = \varphi(2/1).

    Karena φ\varphi injektif, q⋅q=2/1q \cdot q = 2/1. Ini bertentangan dengan Teorema 8.4.7.

    Bukti untuk −2-\sqrt{2} sama, karena (−2)2=2(-\sqrt{2})^2 = 2. ■\blacksquare

    Lema 8.4.9 (φ\varphi mempertahankan negasi dan invers). Untuk setiap t∈Qt \in \mathbb{Q} berlaku φ(−t)=−φ(t)\varphi(-t) = -\varphi(t). Jika t≠0t \neq 0, maka φ(t)≠0\varphi(t) \neq 0 dan φ(t−1)=φ(t)−1\varphi(t^{-1}) = \varphi(t)^{-1}.

    Bukti.

    • Negasi. φ(−t)+φ(t)=φ(−t+t)=φ(0)=0\varphi(-t) + \varphi(t) = \varphi(-t + t) = \varphi(0) = 0. Tambahkan −φ(t)-\varphi(t) pada kedua ruas untuk memperoleh φ(−t)=−φ(t)\varphi(-t) = -\varphi(t).
    • Invers. Untuk t≠0t \neq 0, invers t−1t^{-1} ada di Q\mathbb{Q} (P3), dan
    φ(t)φ(t−1)=φ(tt−1)=φ(1)=1.\varphi(t)\varphi(t^{-1}) = \varphi(t t^{-1}) = \varphi(1) = 1.

    Jika φ(t)=0\varphi(t) = 0, ruas kiri sama dengan 00, padahal 1≠01 \neq 0. Jadi φ(t)≠0\varphi(t) \neq 0. Kalikan kedua ruas dengan φ(t)−1\varphi(t)^{-1} untuk memperoleh φ(t−1)=φ(t)−1\varphi(t^{-1}) = \varphi(t)^{-1}. ■\blacksquare

    Catatan (mengapa (P2) harus dipinjam). Pandang himpunan φ[Q]⊆R\varphi[\mathbb{Q}] \subseteq \mathbb{R} dengan urutan yang diwarisi dari R\mathbb{R}.

    • Himpunan ini memuat 0=φ(0)0 = \varphi(0) dan 1=φ(1)1 = \varphi(1).
    • Himpunan ini tertutup terhadap penjumlahan dan perkalian, karena φ(s)+φ(t)=φ(s+t)\varphi(s) + \varphi(t) = \varphi(s + t) dan φ(s)φ(t)=φ(st)\varphi(s)\varphi(t) = \varphi(st).
    • Himpunan ini tertutup terhadap negasi dan invers unsur tak nol, menurut Lema 8.4.9.

    Aksioma medan terurut lainnya, yaitu komutativitas, asosiativitas, distributivitas, trikotomi, transitivitas, dan kompatibilitas urutan, berbentuk "untuk semua unsur". Aksioma-aksioma itu tetap berlaku ketika dibatasi pada bagian R\mathbb{R} ini. Jadi φ[Q]\varphi[\mathbb{Q}] adalah medan terurut.

    Menurut Teorema 8.4.7 dan injektivitas φ\varphi, seperti pada bukti Akibat 8.4.8, tidak ada unsur φ[Q]\varphi[\mathbb{Q}] yang kuadratnya 22. Kesimpulannya, aksioma medan terurut saja tidak dapat menjamin (P2). Diperlukan asumsi tambahan untuk menjamin keberadaan akar; dalam buku ini jaminan itu diperoleh dari kelengkapan R\mathbb{R}.

    Gagasan pembuktiannya adalah mengambil supremum suatu himpunan yang dibatasi oleh syarat "kuadratnya kurang dari 22". Rinciannya ditunda. Sebagai pembanding, Lebl, Example 1.2.3, membuktikan keberadaan akar ini memakai supremum.


    Kesalahan umum

    1. Memakai 2\sqrt{2} sebelum statusnya jelas. Contohnya: "Andaikan 2=a/b\sqrt{2} = a/b", padahal keberadaan 2\sqrt{2} belum dinyatakan. Teorema 8.4.7 dirumuskan tanpa 2\sqrt{2}. Simbol itu baru dipakai setelah (P2) dan Proposisi 8.4.2.
    2. "Misalkan a/ba/b tereduksi" tanpa justifikasi. Bukti di atas memerlukan Lema 8.4.6, yang memakai WOP pada penyebut positif.
    3. Membagi integer sebelum keterbagian diperiksa. Ekspresi "e=b/de = b/d" hanya bermakna sebagai integer ee yang memenuhi b=deb = de. Kelas pecahan b/db/d di Q\mathbb{Q} adalah objek yang berbeda.
    4. Menganggap ekspansi desimal sebagai bukti. Menampilkan 1,41421356…1{,}41421356\ldots sampai berapa pun digit tidak membuktikan ketidakrasionalan (lihat Latihan 8.4.16).
    5. Menggeneralisasi berlebihan. Tidak semua akar kuadrat irasional (lihat Latihan 8.4.12).
    6. Lupa membuktikan l>0l > 0. Tanpa l>0l > 0, ll tidak berada dalam BqB_q, sehingga argumen minimalitas tidak berlaku.

    Latihan dan pembahasan

    Latihan 8.4.10 (memeriksa langkah paritas). Pada bukti Teorema 8.4.7:

    • (a) Tunjukkan bahwa a2=2b2a^2 = 2b^2 diperoleh dari q2=2q^2 = 2 hanya melalui perkalian silang, tanpa membagi oleh b2b^2 di Z\mathbb{Z}.
    • (b) Sebutkan saksi bahwa a2a^2 genap.
    • (c) Mengapa implikasi "aa genap mengakibatkan a2a^2 genap" tidak cukup?
    • (d) Sebutkan syarat yang membolehkan pembatalan pada 2(2k2)=2b22(2k^2) = 2b^2.

    Pembahasan.

    • (a) q2=a2/b2q^2 = a^2/b^2 dan 2=2/12 = 2/1. Kesamaan kelas berarti a2⋅1=b2⋅2a^2 \cdot 1 = b^2 \cdot 2, dan di sini tidak terjadi pembagian integer. Syarat b2≠0b^2 \neq 0 hanya diperlukan agar (a2,b2)(a^2, b^2) merupakan pasangan yang sah. Syarat itu dijamin oleh tidak adanya pembagi nol.
    • (b) Saksinya adalah b2b^2, karena a2=2⋅b2a^2 = 2 \cdot b^2.
    • (c) Yang diketahui adalah "a2a^2 genap", dan yang ingin disimpulkan adalah "aa genap". Itu adalah arah Lema 8.4.4(iii), yang dibuktikan melalui (i), (ii), dan kontradiksi. Implikasi pada soal bergerak dari aa ke a2a^2, sehingga tidak memberi informasi yang dibutuhkan.
    • (d) Hukum pembatalan di Z\mathbb{Z} berlaku untuk faktor tak nol (P3), dan 2≠02 \neq 0.

    Latihan 8.4.11 (peran b>0b > 0). Misalkan q=1/2q = 1/2, dan bentuk

    B′={ b∈Z∖{0}:ada a∈Z dengan q=a/b }.B' = \{\, b \in \mathbb{Z} \setminus \{0\} : \text{ada } a \in \mathbb{Z} \text{ dengan } q = a/b \,\}.
    • (a) Tunjukkan bahwa B′B' tidak mempunyai unsur terkecil.
    • (b) Tunjukkan di mana bukti Lema 8.4.6 dan Teorema 8.4.7 memakai b>0b > 0.

    Pembahasan.

    (a) Ambil sembarang b∈B′b \in B' dengan saksi aa. Misalkan m≠0m \neq 0. Karena m,b≠0m, b \neq 0 dan Z\mathbb{Z} tidak mempunyai pembagi nol (P3), berlaku mb≠0mb \neq 0, sehingga pasangan (ma,mb)(ma, mb) sah. Selain itu, a(mb)=b(ma)a(mb) = b(ma), sehingga a/b=(ma)/(mb)a/b = (ma)/(mb). Jadi mb∈B′mb \in B'.

    • Jika b>0b > 0, ambil m=−2m = -2. Maka −2b∈B′-2b \in B' dan −2b<0<b-2b < 0 < b.
    • Jika b<0b < 0, ambil m=2m = 2. Maka 2b∈B′2b \in B' dan 2b−b=b<02b - b = b < 0, sehingga 2b<b2b < b.

    Dalam kedua kasus ada unsur B′B' yang lebih kecil daripada bb. Jadi B′B' tidak mempunyai unsur terkecil. Hal ini tidak bertentangan dengan WOP, karena WOP berlaku untuk bagian N\mathbb{N}, sedangkan B′B' memuat integer negatif yang tidak terbatas ke bawah.

    (b) Syarat b>0b > 0 dipakai di tiga tempat:

    • untuk menempatkan penyebut di N\mathbb{N}, sehingga WOP dapat diterapkan;
    • pada Lema 8.4.6(b), langkah 1, untuk menyimpulkan e>0e > 0;
    • pada Teorema 8.4.7, Langkah 5, untuk menyimpulkan l>0l > 0.

    Tanpa b>0b > 0, kesimpulan e<be < b dapat gagal, sehingga argumen minimalitas tidak dapat dijalankan. Contohnya, b=−2b = -2, d=2d = 2, dan e=−1e = -1 memenuhi b=deb = de, tetapi e=−1>−2=be = -1 > -2 = b.


    Latihan 8.4.12 (4\sqrt{4} bukan irasional).

    • (a) Buktikan bahwa 44 mempunyai akar positif di R\mathbb{R}, tanpa memakai (P2), dan bahwa 4=2\sqrt{4} = 2.
    • (b) Jalankan argumen Teorema 8.4.7 untuk q2=4q^2 = 4, lalu tunjukkan langkah yang gagal.

    Pembahasan.

    (a) Pertama, tunjukkan bahwa 1>01 > 0 di R\mathbb{R}. Andaikan 1<01 < 0. Maka −1>0-1 > 0, sehingga (−1)(−1)=1>0(-1)(-1) = 1 > 0 karena hasil kali dua unsur positif adalah positif. Ini kontradiksi. Karena 1≠01 \neq 0, trikotomi memberi 1>01 > 0. Akibatnya, 2=1+1>0+1=1>02 = 1 + 1 > 0 + 1 = 1 > 0.

    Di Q\mathbb{Q} berlaku (2/1)(2/1)=4/1(2/1)(2/1) = 4/1. Karena φ\varphi mempertahankan perkalian,

    22=φ(2/1)φ(2/1)=φ(4/1)=4.2^2 = \varphi(2/1)\varphi(2/1) = \varphi(4/1) = 4.

    Jadi 22 adalah akar positif dari 44. Menurut Definisi 8.4.3 dan Proposisi 8.4.2, 4\sqrt{4} terdefinisi dan 4=2=φ(2/1)\sqrt{4} = 2 = \varphi(2/1). Jadi 4\sqrt{4} rasional. Keberadaannya diperoleh dari saksi eksplisit, bukan dari kelengkapan.

    (b) Ambil a/ba/b dengan b>0b > 0 minimum. Persamaan q2=4q^2 = 4 memberi a2=4b2=2(2b2)a^2 = 4b^2 = 2(2b^2), sehingga aa genap. Tulis a=2ka = 2k. Maka 4k2=4b24k^2 = 4b^2, dan pembatalan faktor 4≠04 \neq 0 memberi k2=b2k^2 = b^2.

    Persamaan k2=b2k^2 = b^2 tidak memuat faktor 22 yang memaksa bb genap. Jadi Langkah 4 tidak dapat dijalankan, dan tidak ada kontradiksi. Memang q=2/1q = 2/1 memenuhi semua syarat: 1∈Bq1 \in B_q dan setiap unsur BqB_q bernilai ≥1\geq 1, sehingga b0=1b_0 = 1. Kemudian a0=2a_0 = 2 dan k=1=bk = 1 = b. Bilangan 22 membagi a0a_0, tetapi tidak membagi b0b_0.

    Pelajarannya: bentuk argumen saja tidak membuktikan apa pun tanpa langkah paritas yang benar-benar berlaku.


    Latihan 8.4.13. Buktikan bahwa 1+21 + \sqrt{2} irasional.

    Pembahasan. Gunakan bukti dengan kontradiksi (Bab 6). Andaikan 1+2=φ(p)1 + \sqrt{2} = \varphi(p) untuk suatu p∈Qp \in \mathbb{Q}. Menurut Lema 8.4.9 dan karena φ(1)=1\varphi(1) = 1,

    2=φ(p)−1=φ(p)+φ(−1)=φ(p+(−1)),\sqrt{2} = \varphi(p) - 1 = \varphi(p) + \varphi(-1) = \varphi(p + (-1)),

    dengan p+(−1)∈Qp + (-1) \in \mathbb{Q}. Jadi 2\sqrt{2} rasional, yang bertentangan dengan Akibat 8.4.8.


    Latihan 8.4.14. Misalkan r∈Qr \in \mathbb{Q} dan r≠0r \neq 0. Buktikan bahwa φ(r)2\varphi(r)\sqrt{2}, yang ditulis r2r\sqrt{2}, irasional.

    Pembahasan. Andaikan φ(r)2=φ(p)\varphi(r)\sqrt{2} = \varphi(p) untuk suatu p∈Qp \in \mathbb{Q}. Karena r≠0r \neq 0, Lema 8.4.9 memberi φ(r)≠0\varphi(r) \neq 0 dan φ(r)−1=φ(r−1)\varphi(r)^{-1} = \varphi(r^{-1}). Kalikan kedua ruas dengan φ(r)−1\varphi(r)^{-1}:

    2=φ(r−1)φ(p)=φ(r−1p),\sqrt{2} = \varphi(r^{-1})\varphi(p) = \varphi(r^{-1}p),

    dengan r−1p∈Qr^{-1}p \in \mathbb{Q}. Ini bertentangan dengan Akibat 8.4.8.

    Kasus khusus r=−1r = -1 memberi kembali irasionalitas −2-\sqrt{2}.


    Latihan 8.4.15 (kasus r=0r = 0). Tunjukkan bahwa hipotesis r≠0r \neq 0 pada Latihan 8.4.14 tidak dapat dihapus.

    Pembahasan. Untuk r=0r = 0 berlaku φ(0)2=0⋅2=0=φ(0)\varphi(0)\sqrt{2} = 0 \cdot \sqrt{2} = 0 = \varphi(0), yang rasional. Bukti Latihan 8.4.14 gagal tepat pada langkah yang memerlukan r−1r^{-1}, karena 00 tidak mempunyai invers. Jika 0⋅x=10 \cdot x = 1, maka 0=10 = 1, padahal 0≠10 \neq 1. Jadi pernyataan "hasil kali rasional dengan irasional selalu irasional" salah tanpa syarat r≠0r \neq 0.


    Latihan 8.4.16 (desimal bukan bukti). Seseorang menulis: "2=1,41421356237…\sqrt{2} = 1{,}41421356237\ldots dan digitnya tidak berulang, jadi 2\sqrt{2} irasional." Jelaskan kekurangannya.

    Pembahasan.

    • Tampilan berhingga digit tidak menunjukkan apa pun tentang digit selanjutnya. Pola berulang bisa saja muncul sesudahnya, dan pengamatan berhingga tidak dapat menyingkirkan kemungkinan itu.
    • Argumen tersebut memakai dua hal yang belum tersedia di sini:
      • teori ekspansi desimal bilangan real, yang bergantung pada kelengkapan dan limit;
      • teorema bahwa bilangan rasional tepat mempunyai ekspansi yang akhirnya berulang.
    • Bukti yang sah adalah Teorema 8.4.7 bersama Akibat 8.4.8. Bukti itu hanya memakai aritmetika Z\mathbb{Z} dan Q\mathbb{Q}, WOP, dan paritas, ditambah (P1)–(P2) untuk menyebut 2\sqrt{2}.

    Penutup: rapat, tetapi tidak penuh

    Unit 8.3 membuktikan, dengan meminjam sifat Archimedes, bahwa Q\mathbb{Q} rapat di R\mathbb{R}: di antara dua real yang berbeda selalu ada bilangan rasional. Unit ini, dengan meminjam keberadaan akar dari kelengkapan (P2), menunjukkan bahwa ada real yang tidak rasional, yaitu 2\sqrt{2}.

    Kedua fakta itu saling melengkapi. Misalkan ε>0\varepsilon > 0, dan ambil x=2−εx = \sqrt{2} - \varepsilon serta y=2+εy = \sqrt{2} + \varepsilon. Karena y−x=ε+ε>0y - x = \varepsilon + \varepsilon > 0, hipotesis x<yx < y dari kerapatan terpenuhi. Kerapatan memberi q∈Qq \in \mathbb{Q} dengan

    2−ε<q<2+ε.\sqrt{2} - \varepsilon < q < \sqrt{2} + \varepsilon.

    Namun menurut Akibat 8.4.8, q≠2q \neq \sqrt{2} untuk setiap pilihan seperti itu. Bilangan rasional dapat mendekati 2\sqrt{2} sedekat apa pun, tetapi tidak ada yang sama dengannya.

    Jadi kerapatan tidak berarti Q\mathbb{Q} mengisi R\mathbb{R}. Teorema 8.4.7 menunjukkan bahwa Q\mathbb{Q}, meskipun merupakan medan, tidak memuat akar kuadrat dari 22. Akar itu ada di R\mathbb{R} karena kelengkapan R\mathbb{R}, yaitu pinjaman (P2).

    Pada pembahasan kelengkapan di Bab 11, dapat diperiksa bahwa argumen supremum yang menjamin (P2) hanya memakai kelengkapan dan sifat medan terurut. Setelah itu diperiksa, Teorema 8.4.7 menunjukkan bahwa Q\mathbb{Q} tidak lengkap. Unit ini belum membuktikan kesimpulan tersebut. Unit ini hanya memakai satu akibat kelengkapan, yaitu (P2), dengan label pinjaman yang eksplisit.

    Rujukan Bab 8

    [R8-1] Gary Hardegree. Set Theory, Chapter 4, bagian 5, halaman tercetak 13–14: struktur Peano dan induksi. https://courses.umass.edu/phil595s-gmh/extras/set%20theory/Set-Theory-Chap4.pdf

    [R8-2] Jiří Lebl. Basic Analysis, bagian 1.2, The set of real numbers: Example 1.2.3 untuk akar positif dua melalui supremum; Theorem 1.2.4 untuk Archimedes dan kerapatan. https://www.jirka.org/ra/html/sec_setofreals.html

    Bab terdekat

    BerikutnyaAksioma Lapangan (Field Axioms) Bilangan Riil

    Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 9.

    SebelumnyaInduksi Matematika dan Rekursi

    Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 7.