Ketakteranhimpunan dan Argumen Diagonal Cantor
Bab 22 dari 50 — Analisis Matematika dan Fondasi Rigor. Naskah draf lengkap dengan validasi terarah; belum telaah matematika independen seluruh buku.
Validasi terarah dan integritas naskah telah diperiksa. Buku ini belum mendapat telaah matematika independen menyeluruh. Catatan status di dalam naskah merupakan riwayat versi.
Unduh naskah lengkap asli (TXT) · Lihat sumber dan cakupan reviewBab 22: Ketakteranhimpunan dan Argumen Diagonal Cantor
22.1 Argumen Diagonal Cantor
Bab 21 memperlihatkan banyak himpunan tak hingga yang ternyata terhitung: , , , bahkan himpunan bilangan aljabar. Wajar untuk menduga bahwa setiap himpunan tak hingga dapat dicacah, asal caranya cukup cerdik. Georg Cantor membantah dugaan itu dengan argumen diagonal: suatu metode pembuktian dengan kontradiksi yang menunjukkan bahwa daftar terhitung mana pun pasti melewatkan sesuatu. Penjelasan master menyebutnya metode untuk menunjukkan bahwa himpunan bilangan riil tidak dapat didaftar sebagai barisan terhitung.
Unit ini menyajikan argumen itu dalam bentuk paling bersih, pada himpunan semua barisan biner, tanpa kerumitan representasi desimal. Unit 22.2 menerapkannya pada dan , dan Unit 22.3 mengabstraksikannya menjadi Teorema Cantor tentang himpunan kuasa.
Prasyarat: Bab 21 (terhitung, Teorema 21.1.3); fungsi dan barisan (Bab 5, Bab 7); pembuktian dengan kontradiksi (Bab 6).
Himpunan Barisan Biner
Definisi 22.1.1
adalah himpunan semua fungsi , yaitu barisan tak hingga dengan setiap . Dua barisan sama jika dan hanya jika sama di setiap indeks (kesamaan fungsi, Bab 5).
Teorema dan Argumennya
Teorema 22.1.2 (Diagonal Cantor)
Tidak ada surjeksi . Akibatnya, tak terhitung.
Bukti. Misalkan sebarang fungsi. Tulis , yaitu barisan ke- dalam daftar. Definisikan barisan oleh
Untuk setiap , , karena untuk . Jadi dan berbeda di indeks , sehingga . Karena ini berlaku untuk setiap , tidak berada dalam peta , dan tidak surjektif.
Akibat: bila terhitung, ia tak kosong (memuat barisan nol), sehingga ada surjeksi menurut Teorema 21.1.3(c), kontradiksi.
Nama "diagonal" berasal dari gambarnya. Tuliskan daftar sebagai baris-baris tabel tak hingga:
Barisan dibaca sepanjang diagonal tebal, dengan setiap entri dibalik. Ia berbeda dari baris ke- tepat di kolom ke-.
Tiga ciri logis argumen ini:
- Konstruktif relatif terhadap daftar. Untuk setiap daftar yang diberikan, barisan yang terlewat ditulis secara eksplisit. Bukti ini tidak memakai aksioma pilihan.
- Bentuknya "untuk setiap ada ", yaitu negasi "ada yang surjektif". Pertukaran kuantor di sini disengaja: bergantung pada .
- Argumen ini tidak bergantung pada urutan daftar atau pada keterhitungan apa pun selain indeks .
Contoh 22.1.3 (Diagonal untuk Daftar Konkret)
Misalkan adalah barisan yang bernilai tepat di indeks kelipatan , dan di indeks lainnya. Contohnya, dan . Entri diagonal bernilai jika dan hanya jika . Untuk : , sehingga entrinya . Untuk : , sehingga , dan entrinya . Jadi , dan untuk setiap : misalnya , dan .
Variasi
Akibat 22.1.4
Untuk setiap himpunan dengan paling sedikit dua anggota, (semua barisan dengan nilai di ) tak terhitung.
Bukti. Ambil di . Untuk , definisikan bila , dan bila . Maka untuk setiap . Pada kasus pertama, . Pada kasus kedua, .
Bila hanya mempunyai satu anggota, hanya memuat satu barisan konstan, sehingga terhitung. Syarat "paling sedikit dua anggota" adalah syarat yang benar-benar diperlukan.
Proposisi 22.1.5 (Barisan Biner yang Akhirnya Nol)
Himpunan yang berisi barisan biner yang hanya mempunyai berhingga banyak entri adalah terhitung. Akibatnya, komplemennya tak terhitung.
Bukti. Barisan ditentukan oleh himpunan hingga . Pemetaan ini injektif ke himpunan subhimpunan hingga , yang terhitung (Latihan 21.3-6). Komplemennya tak terhitung karena gabungan dua himpunan terhitung terhitung (Teorema 21.3.1).
Proposisi ini menunjukkan bahwa argumen diagonal tidak sekadar menemukan satu barisan yang terlewat. Hampir semua barisan, dalam arti kardinalitas, berada di luar setiap himpunan terhitung.
Kesalahan Umum
Menerapkan argumen diagonal pada atau pada tidak menghasilkan kontradiksi. Untuk daftar rasional yang ditulis dalam desimal, mengubah digit ke- dari menghasilkan bilangan real yang berbeda dari setiap . Namun bilangan itu tidak harus rasional, sehingga tidak ada kontradiksi dengan keterhitungan . Argumen diagonal berhasil tepat ketika objek hasil konstruksi dijamin anggota himpunan yang sedang ditinjau. Pada hal itu jelas. Pada diperlukan kehati-hatian dengan ekspansi ganda (Unit 22.2).
Latihan
Latihan 22.1-1. Untuk daftar untuk semua , tentukan barisan diagonal dan periksa bahwa tidak berada dalam daftar.
Latihan 22.1-2. Untuk yang bernilai tepat di indeks dan di lainnya, tentukan .
Latihan 22.1-3. Buktikan Akibat 22.1.4 untuk . Barisan diagonal mana yang Anda gunakan?
Latihan 22.1-4. Buktikan bahwa tak hingga dengan injeksi eksplisit dari .
Latihan 22.1-5. Buktikan bahwa untuk setiap , ada tak hingga banyak barisan yang tidak berada dalam peta .
Latihan 22.1-6. Mengapa argumen diagonal tidak membuktikan bahwa pada Proposisi 22.1.5 tak terhitung? Tunjukkan langkah yang gagal pada daftar barisan di .
Latihan 22.1-7. Buktikan bahwa , himpunan semua barisan bilangan asli, tak terhitung.
Latihan 22.1-8. Buktikan bahwa jika tak terhitung dan , maka tak terhitung. Simpulkan bahwa himpunan semua fungsi tak terhitung.
Solusi
Solusi 22.1-1. untuk semua , sehingga . Barisan ini berbeda dari barisan nol di setiap indeks.
Solusi 22.1-2. , sehingga untuk semua , dan adalah barisan nol. Untuk setiap , .
Solusi 22.1-3. Dengan dan : bila , dan bila tidak. Pilihan lain yang juga sah: bila , dan bila . Pilihan ini dipakai di Unit 22.2.
Solusi 22.1-4. dengan tepat bila . Untuk , .
Solusi 22.1-5. Peta terhitung (Akibat 21.1.4(b)). Bila komplemennya berhingga, akan terhitung (Teorema 21.3.1), kontradiksi. Jadi komplemennya tak hingga. Bahkan tak terhitung, dengan alasan yang sama.
Solusi 22.1-6. Bila mendaftar , barisan diagonal berbeda dari setiap , tetapi tidak harus anggota . Barisan mungkin mempunyai tak hingga banyak entri . Misalnya, untuk daftar yang semua entri diagonalnya , . Jadi tidak ada kontradiksi.
Solusi 22.1-7. , lalu gunakan Latihan 22.1-8. Alternatifnya, Akibat 22.1.4 dengan .
Solusi 22.1-8. Bila terhitung, subhimpunannya terhitung (Akibat 21.1.4(a)), kontradiksi. Fungsi adalah subhimpunan himpunan fungsi , setelah barisan biner dipandang sebagai barisan real.
Ringkasan
Argumen diagonal Cantor: untuk setiap daftar barisan biner, barisan yang membalik entri diagonal berbeda dari setiap baris, sehingga tak terhitung. Argumen ini konstruktif relatif terhadap daftar, tanpa aksioma pilihan, dan berlaku untuk barisan bernilai di himpunan dengan paling sedikit dua anggota. Himpunan terhitung hanyalah bagian kecil dari . Argumen ini gagal, sebagaimana mestinya, pada himpunan terhitung, karena objek diagonal tidak harus anggota himpunan itu. Unit 22.2 menerapkannya pada bilangan real.
22.2 Ketakteranhimpunan Interval Terbuka dan
Unit 22.1 membuktikan bahwa himpunan barisan biner tak terhitung. Unit ini membuktikan hasil utama Cantor untuk analisis: interval , dan karenanya , tak terhitung. Kita memberi dua bukti. Bukti pertama adalah argumen diagonal pada ekspansi desimal, yang memerlukan kehati-hatian karena satu bilangan dapat mempunyai dua ekspansi (); Unit 12.4 menyediakan bentuk kanonik yang tunggal. Bukti kedua memakai interval bersarang (Unit 12.2) tanpa desimal sama sekali, dan memperlihatkan bahwa yang sesungguhnya bekerja adalah kelengkapan . Setelah itu, setiap interval tak degenerat terbukti berbijeksi dengan , dan berbijeksi dengan .
Prasyarat: Unit 22.1; Unit 12.4 (Teorema 12.4.6, Lemma 12.4.7, Teorema 12.4.8, Korolari 12.4.10); Unit 12.2 (Teorema 12.2.4); Bab 21; Teorema 7.4.1.
Bukti Pertama: Diagonal Desimal
Untuk , ekspansi kanonik (Korolari 12.4.10) mempunyai bagian bulat , karena memberi . Tulis ekspansi itu , dengan sifat tidak berekor sembilan. Ekspansi itu tunggal, sehingga digit-digit adalah fungsi dari .
Teorema 22.2.1 ( Tak Terhitung)
Tidak ada surjeksi . Jadi tak terhitung.
Bukti. Misalkan sebarang, . Definisikan digit-digit
dan sebagai nilai string (Definisi 12.4.3).
(i) . Pemotongan pertama memberi . Untuk batas atas, setiap , sehingga setiap pemotongan tidak melebihi pemotongan yang sama dari string , yang bernilai (Latihan 22.2-2). Jadi adalah batas atas semua pemotongan , dan .
(ii) String kanonik: semua digitnya atau , sehingga tidak ada ekor sembilan. Menurut ketunggalan bentuk kanonik (Korolari 12.4.10), digit kanonik adalah tepat .
(iii) untuk setiap . Digit kanonik ke- dari adalah , yang berbeda dari menurut definisi. Dua bilangan dengan digit kanonik berbeda adalah bilangan berbeda, karena ekspansi kanonik adalah fungsi dari bilangan.
Jadi tidak berada dalam peta .
Mengapa digit dan , bukan aturan sederhana "tambah satu"? Aturan yang dapat menghasilkan digit atau berisiko menghasilkan string berekor sembilan, misalnya . String semacam itu bernilai sama dengan string lain, , sehingga "berbeda digit" tidak lagi menjamin "berbeda bilangan". Dengan digit dan , string diagonal dijamin kanonik, dan ketunggalan menyelesaikan argumen.
Bukti Kedua: Interval Bersarang
Teorema 22.2.2 (Bukti Tanpa Desimal)
Untuk setiap barisan bilangan real dan setiap interval dengan , ada dengan untuk semua .
Bukti. Definisikan dengan rekursi (Teorema 7.4.1) interval dengan . Mulai dengan . Untuk interval dengan dan bilangan , tetapkan sepertiga kiri dan sepertiga kanan . Keduanya saling lepas, karena . Langkahnya: pilih bila , dan bila . Pada kasus kedua karena . Aturan ini deterministik, dan interval terpilih tidak memuat .
Tetapkan sebagai hasil langkah pada dengan , dan sebagai hasil langkah pada dengan . Maka:
- ;
- setiap tutup, tak kosong, dan terbatas, dengan panjang ;
- .
Teorema 12.2.4 (setelah pergeseran indeks seperti pada Unit 14.3) memberi di semua . Untuk setiap , dan , sehingga . Juga .
Akibat 22.2.3
Setiap interval dengan tak terhitung, dan demikian pula , , , sinar, dan .
Bukti. Untuk , Teorema 22.2.2: tidak ada barisan yang memuat semua anggotanya. Interval terbuka memuat , yang tak terhitung, sehingga tak terhitung (Latihan 22.1-8). Bentuk lain memuat suatu interval tutup tak degenerat.
Bukti kedua memperlihatkan peran kelengkapan. Di , interval bersarang dapat beririsan kosong (Contoh 12.2.12, Latihan 12.3-8), dan memang terhitung. Ketakterhitungan adalah gejala kelengkapan, sama seperti keberadaan .
Bijeksi Antarinterval dan dengan
Proposisi 22.2.4
(a) Untuk , adalah bijeksi .
(b) adalah bijeksi , dengan invers .
Bukti. (a) Fungsi naik tegas, karena , dengan invers . Peta adalah menurut translasi dan penskalaan urutan.
(b) , karena dan penyebutnya positif. Jadi bernilai di . Untuk , , sehingga terdefinisi.
Periksa . Tulis . Karena dan bertanda sama (penyebut positif), , dan . Maka .
Periksa . Dengan , dan , sehingga .
Kedua komposisi identitas, sehingga bijeksi (Bab 5).
Jadi , seluruh garis yang tak terbatas, berbijeksi dengan interval terbatas , dan karenanya dengan lewat (a). Panjang tidak mempengaruhi kardinalitas. Bab 23 merumuskan "berbijeksi" sebagai kesetaraan kardinalitas, dan Teorema Schröder–Bernstein akan memberi juga tanpa bijeksi eksplisit.
Akibat-Akibat
Akibat 22.2.5
(a) tak terhitung, dan setiap interval tak degenerat memuat tak terhitung banyak bilangan irasional.
(b) Ada bilangan real transenden.
Bukti. (a) Bila terhitung, maka terhitung (Teorema 21.3.1), bertentangan dengan Akibat 22.2.3. Ini memperkuat Teorema 11.4.8, yang hanya memberi tak hingga banyak.
(b) Bilangan aljabar terhitung (Contoh 21.3.4(c)), sedangkan tidak.
Latihan
Latihan 22.2-1. Untuk daftar , , (cukup tiga digit pertama), tentukan tiga digit pertama dari bilangan diagonal . Ekspansi kanonik: , , .
Latihan 22.2-2. Buktikan bahwa string bernilai , dengan cara seperti Proposisi 12.4.11, lalu simpulkan bahwa bilangan diagonal pada Teorema 22.2.1 kurang dari .
Latihan 22.2-3. Jelaskan dengan contoh mengapa aturan " bila , dan bila " dapat gagal menghasilkan bilangan baru.
Latihan 22.2-4. Untuk dan , jalankan dua langkah pertama konstruksi Teorema 22.2.2 dan tuliskan dan .
Latihan 22.2-5. Buktikan bahwa , , dan tak terhitung.
Latihan 22.2-6. Hitung , , , dan untuk Proposisi 22.2.4(b). Tuliskan bijeksi eksplisit .
Latihan 22.2-7. Buktikan bahwa himpunan yang berisi bilangan di yang ekspansi desimal kanoniknya (setelah koma) hanya memakai digit dan adalah tak terhitung.
Latihan 22.2-8. Buktikan bahwa jika terhitung, maka rapat di : setiap interval dengan memuat titik di luar .
Solusi
Solusi 22.2-1. , sehingga . , sehingga . : , karena dan kuadrat naik tegas pada bilangan positif. Dengan Proposisi 12.4.4 dan ketunggalan ekspansi kanonik, tiga digit pertamanya , sehingga digit ketiganya dan . Jadi . , karena digit pertama dan berbeda dan ekspansinya kanonik.
Solusi 22.2-2. , dengan identitas teleskopik Lemma 12.4.2 dikalikan . Supremumnya , dengan argumen Proposisi 12.4.11. Untuk bilangan diagonal, , sehingga setiap pemotongannya paling banyak pemotongan , dan .
Solusi 22.2-3. Aturan itu dapat menghasilkan digit terus-menerus. Bila setiap , misalnya untuk semua , maka untuk semua dan . String diagonal itu tidak kanonik, dan bilangannya keluar dari interval.
Solusi 22.2-4. dan . tidak memuat , sehingga . Langkah berikutnya dengan : tidak memuat , sehingga . Konstruksi ini terus memilih sepertiga kiri, dan , yang memang tidak berada dalam daftar .
Solusi 22.2-5. Akibat 22.2.3. .
Solusi 22.2-6. . . . . Bijeksi : , yaitu komposisi dengan bijeksi dari ke , yang naik tegas dengan invers .
Solusi 22.2-7. Pemetaan dari ke yang mengirim barisan ke nilai string adalah injeksi. String-string itu kanonik, sehingga barisan yang berbeda memberi bilangan berbeda (Korolari 12.4.10), dan nilainya di . Karena tak terhitung (Teorema 22.1.2, dengan indeks digeser), tak terhitung (Latihan 21.1-8).
Solusi 22.2-8. tak terhitung (Akibat 22.2.3). Bila , maka terhitung (Akibat 21.1.4(a)), kontradiksi.
Ringkasan
tak terhitung, dibuktikan dua kali. Bukti pertama memakai diagonal desimal, dengan digit dan agar string diagonal kanonik, dan ketunggalan bentuk kanonik dari Unit 12.4. Bukti kedua memakai interval bersarang sepertiga tanpa desimal, dan memperlihatkan bahwa ketakterhitungan adalah gejala kelengkapan. Setiap interval tak degenerat dan tak terhitung. Bijeksi aljabar memasangkan dengan . Bilangan irasional dan bilangan transenden tak terhitung banyaknya. Unit 22.3 mengabstraksikan argumen diagonal menjadi Teorema Cantor.
22.3 Teorema Cantor: Kuasa Himpunan Kuasa Selalu Lebih Besar
Argumen diagonal pada Unit 22.1 menunjukkan bahwa barisan biner terlalu banyak untuk dicacah oleh . Unit ini mengabstraksikan argumen itu: untuk setiap himpunan , himpunan kuasanya , yaitu himpunan semua subhimpunan , selalu "lebih besar" daripada . Untuk himpunan berhingga dengan anggota, mempunyai anggota. Contoh master: anggota memberi subhimpunan. Teorema Cantor menyatakan bahwa ketaksamaan tetap berlaku untuk himpunan tak hingga. Akibatnya tidak ada "ketakhinggaan terbesar": , , , dan seterusnya, makin lama makin besar.
Untuk menyatakan "lebih besar" secara tepat tanpa mendahului Bab 23, unit ini memakai bahasa fungsi: berarti ada injeksi , dan berarti ada injeksi tetapi tidak ada bijeksi. Teori kardinal yang lengkap, termasuk sifat antisimetri (Schröder–Bernstein), dibahas pada Bab 23.
Prasyarat: Unit 22.1; Bab 20 (himpunan hingga, Teorema 20.1.9); himpunan kuasa dan separasi (Bab 3); fungsi (Bab 5).
Himpunan Kuasa Himpunan Berhingga
Teorema 22.3.1
Jika hingga dengan , maka hingga dengan .
Bukti. Induksi pada .
Basis : , dengan kardinalitas .
Langkah: misalkan , ambil , dan tulis dengan (Teorema 20.1.9(a)). Subhimpunan terbagi dua secara saling lepas: yang tidak memuat , yaitu tepat , dan yang memuat , yaitu . Pemetaan adalah bijeksi bagian kedua, dengan invers . Hipotesis induksi dan Teorema 20.1.9(a) memberi .
Contoh 22.3.2 (Contoh Master)
Untuk , kedelapan subhimpunannya adalah , , , , , , , dan . Jadi . Dengan bukti di atas: subhimpunan ada , dan setiap subhimpunan adalah salah satunya atau salah satunya ditambah .
Untuk setiap , (induksi: ; jika , maka ). Jadi untuk himpunan berhingga, sudah terlihat dari hitungan.
Teorema Cantor
Teorema 22.3.3 (Cantor)
Untuk setiap himpunan , tidak ada surjeksi .
Bukti. Misalkan sebarang. Definisikan dengan separasi
Andaikan untuk suatu . Bila , maka menurut definisi , , kontradiksi. Bila , maka memenuhi syarat keanggotaan , sehingga , kontradiksi. Kedua kemungkinan mustahil, sehingga tidak berada dalam peta .
Ini adalah argumen diagonal dalam bentuk abstrak. Bandingkan dengan Teorema 22.1.2. Bila dan subhimpunan dikodekan sebagai barisan biner, dengan tepat bila , maka dikodekan oleh , persis barisan diagonal. Himpunan "berbeda dari pada unsur " untuk setiap .
Akibat 22.3.4 ()
Untuk setiap himpunan :
(a) adalah injeksi , sehingga ;
(b) tidak ada bijeksi , sehingga .
Bukti. (a) memberi (Bab 3). (b) Bijeksi adalah surjeksi, sehingga Teorema 22.3.3 berlaku.
Hubungan dengan dan
Proposisi 22.3.5
(a) , yang mengirim ke fungsi indikatornya untuk dan untuk , adalah bijeksi.
(b) tak terhitung.
Bukti. (a) Inversnya , yang terdefinisi dengan separasi. Kedua komposisi adalah identitas: subhimpunan ditentukan oleh anggotanya (ekstensionalitas), dan barisan ditentukan oleh nilainya.
(b) Teorema 22.3.3 dengan , atau (a) bersama Teorema 22.1.2.
Hubungan dengan : pemetaan nilai string desimal dengan adalah injeksi (Solusi 22.2-7). Arah sebaliknya, injeksi , diberikan oleh . Fungsi ini injektif karena kerapatan : jika , ada rasional di antara keduanya, dan rasional itu termasuk himpunan untuk tetapi tidak untuk . Lalu berbijeksi dengan lewat pencacahan . Dengan Teorema Schröder–Bernstein (Bab 23.2), kedua injeksi ini akan memberi bijeksi .
Hierarki Tak Hingga
Dengan menerapkan Akibat 22.3.4 berulang kali:
Setiap langkah memberi himpunan yang tidak dapat dipasangkan secara bijektif dengan himpunan sebelumnya, sedangkan injeksi ke arah naik selalu ada. Tidak ada himpunan yang "paling besar". Akibat logis yang penting: tidak ada himpunan yang memuat semua himpunan. Seandainya ada, , karena setiap anggota adalah himpunan. Fungsi dengan bila (selalu benar, karena semua anggota adalah himpunan) akan surjektif, bertentangan dengan Teorema 22.3.3. Himpunan dalam bukti Cantor untuk ini adalah , yaitu himpunan Russell. Penalaran ini selaras dengan cara teori himpunan aksiomatik (Bab 3) menolak "himpunan semua himpunan".
Latihan
Latihan 22.3-1. Tuliskan semua subhimpunan dan yang memuat . Berapa banyaknya, dan bagaimana hubungannya dengan bukti Teorema 22.3.1?
Latihan 22.3-2. Buktikan untuk semua , dan untuk .
Latihan 22.3-3. Untuk dan , , , tentukan pada bukti Teorema Cantor dan periksa bahwa untuk setiap .
Latihan 22.3-4. Untuk dengan , tentukan .
Latihan 22.3-5. Buktikan Proposisi 22.3.5(a) secara lengkap.
Latihan 22.3-6. Buktikan bahwa himpunan semua subhimpunan tak hingga dari tak terhitung.
Latihan 22.3-7. Buktikan bahwa adalah injeksi . Di mana kerapatan dipakai?
Latihan 22.3-8. Buktikan bahwa tidak ada surjeksi untuk setiap himpunan , dengan meniru Teorema 22.1.2, tanpa memakai himpunan kuasa.
Solusi
Solusi 22.3-1. Untuk : dan , yaitu . Untuk : subhimpunan ditambah , sebanyak . Ini bagian kedua dalam bukti, yang berbijeksi dengan .
Solusi 22.3-2. : Contoh 22.3.2. untuk : basis ; langkah , karena .
Solusi 22.3-3. , sehingga . , sehingga . , sehingga . Jadi . Periksa: , , dan .
Solusi 22.3-4. , karena . Jadi , dan memang untuk setiap , karena .
Solusi 22.3-5. Lihat bukti Proposisi 22.3.5(a): dan .
Solusi 22.3-6. Subhimpunan hingga dari terhitung (Latihan 21.3-6). Bila subhimpunan tak hingga juga terhitung, akan terhitung (Teorema 21.3.1), bertentangan dengan Proposisi 22.3.5(b).
Solusi 22.3-7. Jika , kerapatan (Teorema 11.3.11) memberi dengan . Maka termasuk himpunan untuk dan tidak termasuk himpunan untuk , sehingga himpunannya berbeda. Kerapatan dipakai tepat di langkah itu.
Solusi 22.3-8. Untuk , definisikan . Maka untuk setiap , sehingga . Bukti ini setara dengan Teorema 22.3.3 lewat fungsi indikator.
Ringkasan Unit 22.3 dan Penutup Bab 22
Himpunan berhingga dengan anggota mempunyai subhimpunan; contoh master . Teorema Cantor: tidak ada surjeksi dari ke , dengan himpunan diagonal sebagai saksinya. Jadi untuk setiap , berhingga atau tidak. berbijeksi dengan barisan biner dan tak terhitung. Hierarki ketakhinggaan tidak mempunyai puncak, dan tidak ada himpunan semua himpunan.
Bab 22 secara keseluruhan:
- 22.1: argumen diagonal;
- 22.2: dan tak terhitung, dengan dua bukti;
- 22.3: Teorema Cantor.
Bab 23 merumuskan teori kardinalitas: kesetaraan, Schröder–Bernstein, dan aksioma pilihan.
Bab terdekat
Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 23.
Urutan baca menurut rak: Matematika — Analisis dan Fondasi Rigor · Bab 21.